Aku Sedang Belajar Mendekap (Puisi)

universe-1044107_1280

Aku Sedang Belajar Mendekap

Semesta kehilangan hening doa ibu

Dan aku tidak punya lagi logika bahagia

Aku begitu bosan beredar bersama bunga-bunga api itu

Lantaran semuanya menjadi abu seluruhnya

Ibu, ada kumbang berbadan hitam yang mendekap ilalang itu

Jangan cemburu

Sebab akar ilalang mendekap tanahmu juga

Menyampaikan dekapan kumbang itu

Aku sudah pasrah belajar mendekap siapa saja

Ibu

Aku

Sedang belajar mendekap hati seseorang

Tapi jika itu tidak cukup

Maka aku akan belajar membakar semua hati

Jadi jangan menangis

Ibu

Biar saja semua jadi abu

Hilang

Dengan begitu

Akulah ahli menghilangkan sesuatu

Maaf Ibu, Aku lelah belajar mendekap

Sukabumi, 17.05.17|Daw

Tidur (Puisi)

c360_2015-06-05-06-02-54-587

Tak ada yang hilang kecuali kamu

Tak ada yang tinggal kecuali mimpiku

Di batas timbunan mimpi dan nyata,di mana kamu?

Aku kehilangan kantukku, mungkin esok aku akan kesiangan merindukanmu.

Kupikir kau pingsan, dengan harapan akan tersadar

Ternyata kau tidur panjang, pura-pura

Dan menjauh dariku.

Aku pamit ingin bersatu dengan malam, juga menjauh darimu

Selamat malam

Daw| Sukabumi, 18 November 2016

Terus (Puisi)

Terus

people-692005_1280

Tolong ketatkanlah apa saja yang terbatas padamu

Sepertinya ketakutan ini mengganggu

Padahal hanya lindap yang mungkin kau hirau

Tolong jangan jadi munafik

Lari jauh dan sulit dikejar

Garis lurus itu bisa saja berubah

Siapa saja

Tapi izinkanlah seseorang hina ini yang mengubahmu

Tak dapatkah balas sedikit bahagia kali ini?

Ternyata hening terluka terus

Dan riuh adalah sayang

Tolong ketatkanlah apa saja yang terbatas

Terus saja begitu

Audhinadaw| Sukabumi, 15 Oktober 2016

 

Menjauhi Logika (Puisi)

image

Tiba-tiba aku penasaran
Pada apa yang kaki pijak
Pada apa yang hidung cium
Pada apa yang paru proses

Tiba-tiba hari menjadi berwarna
Pekat, cerah dan pastel
Warna pastel mengerumuni akal
Warna pekat mencacah rindu
Warna cerah membumbui doa

Malaikat di rumah sering berbohong
Bau tak berwarna
Lantas mengapa bau cinta adalah cerah?

Daw, Mei 2016

Gadis Buta Hujan (Puisi)

wp-1461851585544.jpg

Kepada hujan yang riuh namun menciptakan sunyi tak tau diri
Gadis buta tak tau arah
Mendengar dan mencumbui bau sampai memori
Pekat….

Pekat….
Ming….ming..ming…
Dengung sayap kumbang tanduk di radius 10 meter
Mengerjap…mengerjap..

Kau bisa mendengarnya?
Atas persetujuanmu ming…ming…ming..kumbang dari arah utara menyuapimu
Sesuap nasi masuk mulutmu
Lezatkah?

Kunyah…kunyah…kunyah
Esok lusa kau mau bermain hujan
Air merambati seluruh indra perabamu..dingin..basah sampai dalaman
Berhenti…

Kau menantang langit..
Keterlaluan…
Bau hujan..air..dan kesepian
Warnanya apa?
Kau tahu?

Kau menggeleng…jatuh terduduk dan menangis
Menggeleng…
Belum cukup adil bagimu
Kau kedinginan….menggigil..

Aku akan berkisah tentang ricik hujan yang begitu licik datang selalu beramai-ramai
Tentang tanah yang menemukan belahan jiwanya
Tentang keluarga cacing yang bersuka cita
Tentang manusia kehausan yang terharu datangnya hujan

Kau…
Kau…
Hanya kau yang bersedih
Rengkuh kuat-kuat apa yang ada di sekitar, bisakah kau rasakan?
Kau pilu..kau pilu.
Hujan akan datang lagi lain waktu.
Bersabarlah hingga batas akhir

Daw (Sukabumi, April 2016)

Diatas Nyata

Diatas Nyata

 

Murka sangat murka

Zaman memang pemberi sugesti

Monster besar itu taka da ampun

Mereka sudah kepala tiga

 

Hembus hembus nafas masih merekah

Namun pemberontak alam itu masih juga

Masih juga bergulir

Mengeruk…..

 

Membobrokkan gundukan gagah itu

Dahulu rindang kini meradang

Dahulu sunyi kini terperinci

Ini lebih diatas nyata

 

Audhina Novia Silfi (Desember,2013)

Rintik Titik

 
Image
Rintik Titik
 

Karya : Audhina Novia Silfi

Sudah ku dongakkan ke atas langit

Mata ini belum juga melihat cahaya.

Dimana sebenarnya arah itu?

Kakiku melangkah seribu

Seperti biasa lalu ku dongakkan lagi

Mata ini sama sekali tak melihatnya

Rintik….

Titik……dan jamak

Oh….

Langit-Nya kembali bercahaya

Puisi

Karena Aku Malu

terlarut gelombang
ke dasar dan ke permukaan
semakin lama semakin menggila saja
kebohongan itu adalah

aku tak pernah menilik
apa yang aku ucapkan
bila saja kamu tahu
aku ingin kamu mendengar

aku kecup kata itu dari hati tanpa cacat
aku fiksikan perasaan ini
karena aku malu
Jangan kira aku takut Bersamamu

Dari dulu

tenggelamkan aku dalam tersesatnya hati ini
menujumu sangat berarti dan sulit
sempat ku berfikir kita bukan takdir itu
maaf kan aku

aku relakan kau bersama nya saja
ku tak sanggup tersiksa dalam ingatan itu
lalu dia datang seperti musim semi yang ku harapkan
kau memang cinta sejati yang telah lama ku nanti

aku akan membenci diriku bila dia yang baru
pergi lagi meniggalkan aku
aku cinta kamu
sejak dari dulu sahabat

Ini

aku bisa menemui mu
tapi aku akan menghindarimu
sebelum menemuimu!
aku mencintaimu apa adanya

bahkan aku lupa
berapa kali ucapkan kalimat ini “aku mencintaimu”
kamu ini siapa?
kenapa malah membuatku

setiap malam harus mempimpikanmu
rasa hati tak pernah salah dan
setiap saat nanti
aku akan membencimu

Harapan

sendu manis mengalun alun lembut
tanpa pamrih kebahagiaan
merah bercampur biru seakan merona dengan indahnya
nampaknya kau malu malu
melodi seakan semakin indah menyambutmu
terlalu dini untuk ku harus menempuh jalanan ini
ingatkan ku aku semangat karena mu

By audhina Posted in Puisi Dengan kaitkata