Di Dekapan Lupa-Luka (Cerpen)

Di Dekapan Lupa-Luka

Oleh : Audhinadaw

Mungkin ini sudah pagi, saya lupa ternyata tiga hari berlalu begitu saja, tirai-tirai rumah ini rapat-rapat menutup semua celah masuk cahaya. Pagi ini terasa bau aspal menyengat menusuk-nusuk hidung, suara-suara riuh terdengar membisingkan. Alat-alat perbaikan jalan itu begitu membuat saya kesal. Suara umpatan kasar dari mulut-mulut pekerja itu sangat bau seperti rokok dan kopi yang menyatu, tapi kombinasi kali ini tidak menghangatkan sama sekali. Ah sial… sepertinya saya benar-benar harus keluar rumah, mencari tempat yang tidak berisik. Perkiraannya perbaikan jalan itu memakan waktu seminggu. Saya jadi sedikit ingat kejadian itu, yang meninggalkan banyak lubang di jalanan itu. Rasanya baru kemarin melihatnya, namun saya sudah terlanjur lupa, kalau diingat malah membuat kepala saya pening dan perut rasanya mual dan ingin muntah.

Saya lapar, tiga hari kemarin mi instan memenuhi lambung, hari ini mungkin harus makan nasi. Suara di luar sana tambah bising saja, kendaraan-kendaraan jadi antri lewat jalanan itu. Bau bensin yang jadi asap di udara itu menambah pusing hidung ini saja. Baiklah kelihatannya saya harus masak makanan yang baunya enak untuk hidung saya.

Bangun dari kasur ini seolah membenarkan bahwa kali ini saya pantas hidup. Sepertinya saya masih sehat dan baik-baik saja, dapur itu bersih, hanya area wastafel saja yang begitu kotor, bekas panci dan mangkuk dengan bekas saus dan minyak yang memenuhi seluruh permukaannya. Sepertinya kebutuhan tenggorokan lebih mendesak, haus meradang ke otak menyalakan sumbu di mata. 20 menit begitu lama berkutat di dapur, nasi dan sayur bayam saja yang tersedia di kedua mangkuk di atas meja itu. Bawang putih dan bawang merah masing-masing satu siung yang tadi saya uleg seolah menjadi makhluk berukuran nano meter dalam sop bayam itu.

Mengapa tidak dibuat begitu sederhana saja hidup ini, setengah mati mengejar yang tak pasti sampai waktu habis dan lupa menikmati, sungguh menyedihkan sekali saya ini. Nasi, Bayam, dan Airnya bikin saya melek. Cuma lima menit tanpa bengong, semuanya tandas masuk ke dalam perut. Habis itu rumah saya jadikan rapih, baru kemudian tubuh saya sendiri yang saya jadikan bersih dan rapih. Ketika kancing terakhir paling bawah kemeja ini masuk ke lubangnya, terdengar suara pintu rumah saya diketuk begitu memburu.

“Permisi…Kak…Permisi !”

“Kak, ada di dalam kan?”

“Ini Raka !”

Pintu itu saya buka, kemudian anak laki-laki bertubuh tinggi itu menatap saya sejenak dengan mata berwarna coklatnya.

“Hahahaha.” Dia terkekeh, seolah mendapati hiburan yang pantas bikin ketawa.

“Kenapa kamu ketawa?”

Dia tidak menjawab langsung beringsut masuk ke dalam rumah. Katanya “Ini ada makanan dari Ibu, katanya khawatir sama Kakak, tiga hari tidak keluar rumah kayak orang depresi.”

 “Oh…” Saya menerima rantang penuh masakan Ibu.

“Gitu aja tanggapan kakak?” Raka menatap heran mensejajari mata saya, tubuhnya sudah sepantar dengan saya.

“Iya nanti dimakan, bilangin makasih ke Ibu ya, kamu enggak sekolah?”

Raka menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tamu, lalu menjelaskan, hari ini sedang libur sekolah, saya tidak tahu libur kenapa, lalu Raka bilang Ibu khawatir tentang saya yang harus jadi saksi kejadian beberapa hari yang lalu itu, takutnya saya trauma.

“Enggak tuh, Kakak enggak trauma.”

“Ya terserahlah, yang penting Raka sudah sampaikan omongan Ibu ya. Raka juga disuruh nginep di sini, kata Ibu suruh nemenin, Kakak.”

“Hmmm…”

Mata coklat itu terbuka-tertutup beberapa kali menunggu jawaban ataupun kepastian dari saya

“Hari ini Kakak ada urusan keluar, mau ikut?”

“Enggak mau ah, aku di sini saja, pulangnya kapan?”

“Nanti malam.”

“Bagus kalau gitu, aku bisa main game sama baca komik-komik kakak, kan. Boleh, kan?”

Saya mendengus, ada-ada saya anak ini, tidak ada selain mengangguk untuk jawabannya.

***

Perut saya penuh sekali, masakan ibu saya paksakan memasuki sisa rongga di lambung. Hari ini saya memutuskan untuk datang menemuinya, sebab mimpi tadi malam ada dia yang limbung sepanjang malam merangkai cerita sedih dan suram. Wanita itu saya harap sekarang sedang baik-baik saja. Keadaan di luar rumah begitu riuh sekali sama seperti bau-baunya yang juga riuh. Buru-burulah saya memasuki mobil dan pergi ke tujuan yang tubuh dan hati saya inginkan. Beberapa orang sekitar rumah menengoki mobil saya. Dan saya putuskan menyapa mereka.

“Bu?” kemudian saya tersenyum

“Eh Mas Angga, kabar baik, kan?”

“Baik kok Bu. Mari Bu.”

“Mari…”

Masing-masing dari kita saling tersenyum, ya hanya begitu saja kalimatnya sampai tiga orang yang lainnya.

Saya begitu merasa bersalah, pura-pura lupanya saya ini malah bersembunyi dan benar-benar jadi pecundang. Seolah saya baru sadar bahwa hilang dari tiga hari itu sudah bikin semuanya semakin berkelindan. Benang-benang kemungkinan itu seolah jadi simpul-simpul mati yang susah diurainya. Tiga hari kemarin itu saya hanya mengelak saja, membereskan diri saya dulu, kalau tidak begitu bisa semakin banyak permasalahan di depan nanti. Serba salah memang, semoga orangtua dan adik-adik saya berhenti mencemaskan saya mulai hari ini.

Tiba-tiba muncullah pertanyaan bahaya di awang-awang, apa mungkin saya rindu dia, atau dia, atau dia?. Begitu saja sadar betapa berengseknya saya di hadapan ketiga wanita itu. Yang satu mengajari saya mengarsir dengan benar, sampai marah-marah karena malah membuat gerakan pensil horizontal kemudian vertikal sehingga arsirannya begitu berantakan. Yang kedua bisa juga kusebut yang satu juga, dia punya gigi kelinci dan jago membuat masakan berbahan wortel terutamanya. Saya jadi benci wortel karena terlalu sering makan bersamanya. Yang ketiga bisa juga saya sebut yang satu juga, dia satu-satunya yang mengharapkan saya mati atau hilang sama sekali dari Bumi tanpa mati atau kejadian apapun, yang penting saya hilang.

Kali ini saya menemui wanita yang ketiga itu, yang meringkuk nyenyak di lantai dinginnya karena selalu kegerahan. Kata Raka sebelum saya pergi, wanita itu sudah jauh membaik, dan Raka kembali pura-pura acuh dengan semua hal yang berkaitan dengan saya. Dia tahu semua tentang saya, tapi bungkam saja, pura-pura memperlakukan saya normal-normal saja.

Saya telah sampai di bangunan bercat kuning gading itu, terakhir ke sini sebulan yang lalu, cat lamanya berwarna putih. Aromanya tetap sama, angin menggiring aroma daun cemara dan buah pinus serta bau cat itu ke dalam tubuh saya. Satpam bangunan itu kenal saya, dan dia menanyai kabar. Di lutut kanannya ada bekas putih seperti kapur, mungkin baru saja dia bersimpuh mengambil sesuatu di lantai kotor. Dari mulutnya menguar bau kopi yang khas, mungkin kopi instan warung.

“Mas Angga kenapa baru ke sini?”

“Hehe… sedang sedikit sibuk, Pak.”

“Mbak Intan lagi dijemur di lapangan sayap kanan, Pak.”

“Makasih ya, Pak.”

“Sama-sama, Mas.”

Saya lekas ke sana, hati saya biasa-biasa saja, tidak ada ketakutan akan amukannya lagi. Sepuluh meter dari tempat didudukkannya Intan, saya berhenti sejenak, menatapnya yang terpejam karena ngantuk dan keenakan karena hangat sinar matahari pagi. Wajahnya kecil, bulu matanya panjang dan lentik. Tak jauh dari sana, saya kenal wanita yang kira-kira kepala empat yang menunggui Intan. Dia Bu Diah salah satu perawat di sini. Saya mulai mendekat. Bu Diah hampir saja menyuarakan nama saya, tapi tidak jadi karena saya beri isyarat untuk berdiam, pelan-pelan Bu Diah pergi dan saya menunggui Intan yang masih tertidur di kursinya. Wanita ini benar-benar membuat saya gila, kapan saya mulai sayang padanya? Saya tidak tahu.

Saya ke sini karena kangen dia. Dan ingin melupakan wanita penyuka wortel yang ikut mati di jalanan depan rumah tiga hari yang lalu itu. Tentang wanita yang sukanya marah-marah itu, sepertinya sudah lama saya tidak lagi menginginkannya. Kemudian tiba-tiba Intan bersuara

“Bu Diah…mataharinya sudah tidak hangat lagi, boleh Intan masuk saja?” masih dengan mata terpejam dia bertanya.

“Bu Diah…” tidak kunjung dapat jawaban, Dia pun membuka matanya, dan tepat sekali tubuh saya yang pertama dia tangkap.

“Kamu?”

Kita saling berpandangan, dia gegas berdiri

“Sejak kapan? Bu Diah mana?” Dia agak panik

“Kenapa kamu belum mati juga?”

Wangi tubuhnya kombinasi harum rumah sakit jiwa dan matahari pagi, saya memeluknya dan dia terus saja meronta sambil menangis sampai lelah melawan, dan pasrah saja saya peluk. Dia tertidur, lalu saya bopong tubuh itu kembali ke kamarnya.

Terus-terusan saya berusaha meyakinkan bahwa saya memang menyayanginya, tapi mungkin saja salah, atau malah justru dia hanya pelampiasan saja, atau hanya kangen saja. Selalu saja saya berharap dia lekas sembuh dan saya janji tidak akan lagi meninggalkannya.

                                                                                    -Selesai-      

Aku Janji Enggak Akan Bawa Hati Lagi

IMG_20151015_220735.jpg

Aku janji, aku tidak akan bawa-bawa hatiku lagi, biar hatinya aku simpan di kulkas saja, supaya besok pagi bisa dibuat semur, kecapnya banyak biar manis.

Aku janji, aku tidak akan bersikap bodoh lagi, biar wajahku tetap berada di tempatnya, ya kukira memang kemarin aku bodoh sekali, enggak tahu kalau sekarang?

Aku janii, mataku akan memandang ke depan terus, biar yang menuntunku yang memperhatikan ke bawah biar aku tidak kesandung.

Aku janji, aku tidak akan bertanya-tanya di mana keberadaannya, sedang apa, dan bagaimana, biar aku juga dapat perhatian dari diriku sendiri

Aku janji, besok dan seterusnya aku akan banyak tersenyum, soalnya sebentar lagi dua ribu tujuh belas

Iya itu aja ya, anggap aja ini puisi, hidup harus banyak dibercandain.

Selamat malam, jangan berdoa buat mimpiin aku ya, aku capek harus datang ke mimpimu tiap malam, soalnya masih banyak orang request buat mimpi bareng aku, udah ya?, good night 🙂

NB : Baru kelar baca novel, Dilan 1991