Perjalanan Mendaki Merbabu 3142 mdpl (26 – 27 Agustus 2017)

Holla readers (o.o)9

Seperti yang sudah kalian tahu (yang tahu aja sih), aku selama Juli-Agustus 2017 bertapa di Jogja, dalam rangka menemukan seorang guru dalam hal menulis #enggakding.

Nah ketika guru yang aku inginkan sudah didapatkan aku dapat bonus diajak nanjak Gunung Merbabu yang ada di Magelang itu lho, guys. Hu um, aku awalnya galau gitu, mau ikut apa enggak. Tapi cuy, kesempatan enggak datang dua kali. Berbekal keril, sepatu, sleeping bag, matras yang dipinjamin sama yang ngajak, aku berangkat menjemput matahari pagi dari puncak Merbabu. Hoho \(o.o)/

Jadi siapa yang ngajak aku nanjak. Dia adalah Abu Bakar Arozi Prionggo, salah satu temen waktu sekolah SD. Komunitasnya PALAGAN (Pecinta Alam Seyegan) yang waktu itu mengagendakan mendaki gunung. Kemudian terbentuklah tim Newbie PALAGAN di WA yang bakal mendaki Merbabu, di dalamnya ada delapan orang : Aku, Mbak Tarita, Ade (cewek), Taufik, Jafar, Vandi, Sokip, Abu.

Kita mendaki Merbabu via Selo.

Pas malam mereka ribut di WA, katanya mau kumpul jam 07.00 WIB di rumah mbak Tarita di daerah Turi. Meh! Sudah dapat diduga saudara-saudara, ngaret!. Abu pengin banget sampai tempat camp nanti bisa lihat sunset, ya apa boleh buat, kenyataannya kita baru kumpul jam 09.00 WIB. Kita pakai motor berkendara ke Pos Awal Merbabu.

Patut diketahui guys, aku diboncengin Abu dalam keadaan cemas sebab owe bawa kerilnya Abu yang beratnya mayaallah ToT. Jadi kalau si Abu nge gas mendadak, badan owe kebanting keril. Kita sempat break dulu, ada yang belum sarapan, jadi makan dulu. Kalau nggak salah (ya tapi pasti salah sih ini) pukul 12.30 WIB kita sampai basecamp Merbabu.

IMG_20170826_132335[1]

mas okip, vandi, mbak tarita, mbak ade, aku, taufik, jafar, abu

Di jalan sekitar 2 Km lagi dari pos daftar kita semua dimintai uang Rp 5000 per motor, kemudian di Posnya ditarik uang Rp 5.000, terus diminta nunjukin KTP, terus sambil pegang KTP, muka kita difoto sama si penjaganya. Enggak paham owe. Lalu pas banget di pintu masuk utama kita ditarikin uang Rp 1000 untuk asuransi jiwa, jadi totalnya per orang bayar Rp 11.000.

DSC07594

Kita mulai start mendaki pukul 13.42 WIB, medannya awalnya ramah tapi kemudian berpasir ToT, yang aku ketahui dari perjalanan via Selo ini, jalannya emang santai tapi muter-muter.

DSC07036

Pos Satu

Kemudian kita sampailah di pos satu pukul 15.08 WIB, dan dipertemukan dengan sekumpulan moyet yang mintain cemilan, yang paling mereka suka madusari.

DSC07033

Kita nggak lama istirahat, Medannya mulai sulit karena kering berpasir, yang justru lebih gampang bikin jatuh. Aku sama Vandi sampai pos 2 duluan pukul 16.06 WIB Di pos 2 kita bisa lihat puncak yang merupakan pos 3 (watu tulis).

Perjalanan menuju pos 3 ini kita udah bisa nemuin bunga edelweis. Angin makin terasa memeluk dingin, aku sama vandi udah sampai duluan di watu tulis pukul 16.44 WIB, yang lainnya baru sampai pos 2, aku enggak tahu kenapa, rasanya lebih melelahkan mendaki Merbabu daripada Gunung Gede. Hhhhhh. Iya pengalaman mendakiku enggak banyak, tapi aku seterooong kok.

DSC07045

Pos Tiga : Watu Tulis/ Batu Tulis

Di watu tulis aku sama vandi nyari spot yang enggak terlalu banyak anginnya, tapi ya piye, anginnya dari semua penjuru, asli dingin banget, si vandi kelaperan, dia makan keroket, aku makan wafer coklat.

Di Watu Tulis/Batu Tulis sudah banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda di sana, di Watu Tulis ada bukit teletubies, kalau ambil foto di sana juga oke, guys.

Guys… perjalanan sesungguhnya dimulai dari watu tulis menuju sabana 1, medannya naudzubillah susah. Berpasir, pijakan minim ToT. kalau angin datang harus siap tutup mata, meski begitu debu tetep aja berhasil menyelinap. Aku pulang-pulang belekan XD.

Entah kenapa, anginnya dingin banget. Guys sunset sekitar jam 17.57 WIB. Pokoknya akhirnya itu aku malah barengan sama si Abu, soalnya pas aku sama Vandi udah lumayan jalan menuju sabana 1, yang lainnya baru sampai watu tulis, dan dia milih buat turun lagi. Hhhhhh

Dan aku nungguin nangkring di sebuah batu besar sambil kedinginan, aslinya aku takut banget kena hipotermia ToT.

Pas beberapa saat sebelum akhirnya sampai sabana 1, matahari tenggelam, dan Masya’allah indah, di sana aku disuruh Abu pakai dua lapis jaket, aku enggak tau kenapa badanku menggigil banget, kemudian kita mulai jalan lagi, dan itu pengalaman pertamaku tracking pas udah gelap.

DSC07050

Sampai di sabana 1 kita kerjasama pasang tenda. Anginnya di sisi manapun tetap kencang. Di sela-sela pasang tenda aku selalu lihat langit. Kalau kabut lagi nggak lewat, langitnya bersih banget, bintangnya buanyaaak banget. Milky way di depan mata, Terharu banget. Beberapa kali juga lihat bintang jatuh.

Kemudian pas ditengah perjalanan pasang tenda, anak-anak yang lain sampai juga. Setelah kemudian 3 tenda berhasil didirikan, semuanya tepar.

Aku seneng banget mbak Tarita sama mbak Ade bisa sampai sabana 1, kita tidur di satu tenda, karena kelaperan langsung makan roti tawar sama meses.

Oya guys.

Aku, Abu, sama Mbak Tarita bertekad melihat sunrise di puncak Triagulasi. Abu bilang kita harus mulai nanjak jam 03.30 WIB. Dan guys bukannya si Abu yang bangunin kita, tapi justru aku yang bangunin Abu. Tahu nggak guys, aku enggak bisa tidur, padahal sleeping bag ku tebal, aku kedinginan, menggigil, kagak bisa tidur sama sekali, tapi rapopo, aku tetap sehat walafiat.

Dan inilah tracking malam-malam yang ssssangat enggak bisa dilupain, Kita bertiga mulai meninggalkan tenda pukul 02.50 WIB. Masing-masing bawa senter sendiri, dan berkali-kali takjub kalau lihat pemandangan di bawah, bertaburan lampu-lampu, bagus banget. Sampai sabana 2 pukul 15.33 WIB, ada beberapa tenda yang rusak karena diterpa angin, kayaknya mereka langsung ngungsi ke tetangganya, ya habisnya mereka malah mendirikan tenda di lapang luas sabana 2, bagusnya cari space yang dikelilingi pohon-pohon ataupun edelweiss, biar anginnya bisa sedikit terhalau.

DSC07058

entah tangan aku yang gemetar apa anginnya yang nampar-nampar badanku?. Heh sama aja. Sabana 2

Ok kita masih jalan bareng-bareng sampai di watu lumpang pukul 03.56 WIB. Dan asal kalian tahu, medannya enggak kelihatan sama sekali pas malam begini, kita mendaki barengan, bisa dibilang, watu lumpang ini pos terakhir sebelum puncak, dan tanjakannya mantap, aku sampai mau nangis, soalnya mau berhenti juga bingung.

DSC07060

ini plang sampai jatuh karena anginnya asli kenceng banget.

Mbak Tarita sama Abu barengan tertinggal, aku duluan karena aku menjejak jalan yang benar, jadi itu jalanannya pasir dan susah pijakan dan pegangan apalagi. Aku sebenernya mau nungguin Abu sama mbak Tarita tapi bingung, kalau aku diam lama sendi-sendi ku bisa beku, jadi aku beranikan diri buat naik terus. Pada akhirnya nemu rombongan pendaki solo yang bersedia bareng sama aku. Aku mengingat ibu sepanjang jalan menuju puncak, Allah juga. \(ToT)/

Entahlah, mungkin karena pengalaman mendaki pertamaku pakai jasa, jadi pas bareng sama temen-temen yang kebanyakan seumuran begini jadi agak was-was, aku juga sadar sih kayaknya aku terlalu egois jalan lebih dulu di depan, padahal kalaupun nungguin juga mungkin enggak akan jadi soal. ToT

Ok balik ke topik. Singkat cerita pukul 05.00 WIB sampai puncak 3142 mdpl (Puncak Triagulasi) dan menunggu sunrise sambil kedinginan.

sunrise

sunrise dari puncak merbabu :’)

Abu sama mbak tarita belum sampai, aku yakin mereka baik-baik aja, Abu udah 2 kali ke Merbabu.

Aku di puncak ini bareng pendaki dari solo. mas-masnya pada baik, mereka nawarin minum sama makanan, terus salah satu dari mereka ngasih syal biar aku lebih hangat, dan aku enggak sedikitpun tahu wajah, nama, atau apapun dari mereka. Gelaaaaaaap banget.

Pukul 05.04 WIB, cahaya matahari sudah muncul, sungguh indah banget, Abu sama mbak tarita sampai dan seketika ceria, oya di otakku udah kepikiran langsung balikin syal, tapi kok bingung, masnya yang mana, yaudah akhirnya aku bawa aja itu syal. Jadi bila mungkin masnya yang ngasih pinjem syal ke aku, maafkan saya mas saya enggak balikin syalnya, btw syalnya udah kucuci, buat kenang-kenangan.wahahaha.

IMG_20170827_054044

Sekita pukul 06.30 WIB, Abu ngajak aku sama mbak tarita ke puncak yang satunya lagi dengan ketinggian 3139 mdpl (puncak kenteng songo). Mana yang paling indah sudut pandangnya?. Semuanya indah, dua-duanya bagus.

Di kedua puncak ini, aku paling senang menatap Merapi :). Padang luas membentang, angin bertiup kencang, langit biru bersih, edelweis mekar di mana-mana dan ah indah sekali, luhur sekali.

DSC07157

menatap Merapi dari Merbabu

Kita enggak lama di Kenteng Songo, kemudian mulai turun, sepanjang jalan turun kita ber HAH?, ternyata emang medannya susah banget, ber OH ini tho yang dilewati tadi tu, PANTESAN!

Bagi kalian yang mau mendaki Merbabu, sebaiknya bukan saat musim kemarau, entah musim apa yang bagus buat naik gunung, aku enggak tahu.

Lalu, kalau bisa bawa jaket dua, kalau emang satu jaketpun sudah tebal juga enggak papa, dan yang utama jangan memaksakan diri, juga sebaiknya kompak dengan teman seperjalanan kalian, saling peduli juga. Jangan sepelekan mendaki gunung, bawa barang yang memang seharusnya di bawa. Gitu aja guys.

Aku, Mbak Tarita sama Abu menuju Sabana 2 bebarengan. Padang luas yang tadi malam dilewati sekarang begiru jelas, luas dan ah susah dijelaskan.

Akhirnya aku, Abu, sama mbak Tarita balik lagi ke camp di sabana 1.

Dan langsung bikin indomie goreng. Mbak Ade jadi kuncen di tenda, dia udah berubah segar dari kemarin. Mas Jafar sama Mas Sokip ternyata naik puncak juga, mungkin sekitar pukul 06.00 WIB pas kita masih di puncak.

 

IMG_20170827_110706[1]

Setelah semuanya sudah kumpul (Mas Jafar sama Mas Sokip udah sampai camp lagi) dan kenyang, kita bongkarin tenda. Dan kita memang menyangka, perjalanan turun ke watu tulis akan sangat sulit. Ahh sensai luar biasa. Tapi akhirnya kita semua sampai basecamp dengan selamat semua sekitar pukul 16.30 WIB

Terimakasih untuk Abu, Vandi, Jafar, Mas Sokip, Taufik, Mbak Ade, Mbak Tarita yang sudah menjadi teman perjalanan mengagumkan ini. Semoga kita bisa ketemu lagi, melakukan perjalanan bersama lagi 🙂

Iklan

Explore Kota Jogja dengan Trans Jogja

Holla readers. Kabar baik kan?, jangan lupa bersyukur ya. 🙂

Kali ini aku akan cerita tentang Jogja.

Jogja tidak pernah membosankan kalau kalian tidak sendirian, karena kalau sendirian agak menyedihkan.

Akses wisata di area Jogja Kota sangat mudah karena ada Trans Jogja, dan lebih mudah lagi kalau kalian pakai kendaraan pribadi. #yaiyalah, selalu andalkan Google Maps :D, karena walau pakai Trans Jogja dengan tarif yang super murah Rp 3.500 itu, kemungkinan suka salah transit atau lupa transit dulu. Yak itu berulang kali aku alami. Dan kalau kalian nanya orang, kalian bakal ditunjukkan arah menggunakan arah mata angin, Lor..Kidul..Wetan..Kulon. Dan sampai sekarang meski dulu kecilnya aku di Jogja, aku lupa mana Timur…Barat…Selatan..Utara.

Aroooh!!

Oke gampangnya gini, kalian tanya aja deh ke petugas yang jaga di halte. :D, dan perhatikan dengan baik petunjuk dan opsinya. Banyak tempat yang kalian bisa akses dengan Trans Jogja. 🙂

 .

#1 Taman Pintar

Halte di depan Universitas Atma Jaya adalah halte terdekat dari lokasiku. Petugas di sana bilang, bus nomor 1B yang harus aku naiki untuk bisa sampai Taman Pintar, Aku tidak begitu lama menunggu karena katanya jumlah Bus nomor 1B itu banyak, sekitar 10 menit saja, busnya datang, busnya nyaman, waktu itu tidak begitu banyak yang ada di dalamnya. Jalanan awalnya lancar, lalu tidak begitu lancar, dan Aku merasa Jogja berubah … uhukk macet dan banyak hotel di mana-mana.

Aku turun di Halte seberang Taman Pintar. Seusai turun kemudian menyeberang, sampailah aku di Taman Pintar. Hohoho (‘ o ‘)

Aku mengunjungi sahabatku di Taman Pintar, karena dia merupakan seorang Pemandu di sana, aku bisa gratis masuk ke dalam. Hehehe. Walau kalian enggak masuk ke dalam, di area halaman Taman Pintar ada taman dan wahana bermain air untuk anak-anak yang secara gratis bisa kalian kunjungi. Taman Pintar itu bukanya pukul (lupa) dan tutup pukul 16.00 WIB. Tarif masuknya juga enggak tahu, karena setiap kali ke sini aku di bawa sama sahabatku .XD.hehe

Aku bisa nonton di Planetarium tanpa beli tiket. Hohoho dan kalau mau tahu pertunjukan di sana indahnya bukan main.

#2 Titik 0 Km Jogja

DSC05860

Kalau mau ke Titik 0 Km, dari Taman Pintar, cuma butuh jalan kaki aja buat ke sana, ini serius, enggak jauh sama sekali. Aku sampai sana sudah sore. Dan menurutku lokasi ini lebih romantik dan ciamik jika saat malam.

Di sana ramai, juga banyak bule-bule yang lagi backpackeran, dan putih-putih gitu kulitnya (helloooww audhina apaa sih bahas kulit). Nah kalau kalian pengin ke Jl.Malioboro, dari sini juga bisa jalan kaki mungkin sekitar 12 menit. Aku berpendapat bahwa Jogja lebih enak kalau dinikmati sambil jalan pelan-pelan. Hu um gitu…

#3 Benteng Vredeburg

DSC05864

Ini juga tinggal jalan kaki aja deh dari Km 0, jalan terus ajalah pokoknya, haduh ini tulisan enggak berfaedah banget, iya soalnya yang nulis enggak paham arah mata angin. Ehehe . Berhubung udah tutup bentengnya, ya cuma bisa foto depannya aja.

Nah sehabis itu aku pulang. Aku naik Trans Jogja di halte  tepat depan Taman Pintar, lalu tanya ke petugas di sana, kalau mau balik ke Babarsari, Sleman naik yang mana. Aku harus naik 1A, kemudian transit dulu di Halte Janti Selatan. Nah….saudara-saudara, Aku lupa transit dan ke bawa sampai Halte Airport Adi Sutjipto. Hhhhh malang sekali, mana sepanjang dari Halte Janti Selatan ke Halte Airport Adi Sutjipto itu macetnya bikin haus banget. Huhuh

Lantas aku turun di sana, baru deh aku naik 1B. Andai saja aku enggak lengah, aku bisa lebih cepat sampai kosan.hhhhh jangan sampai kalian mengalaminya, pokoknya.

Oya Trans Jogja  jurusan 1A itu kalian bisa ke Candi Prambanan guys. Ya aku belum ke sana, mungkin lain waktu.

Oke gitu aja postingan kali ini, semoga kalian bisa bijak merencanakan liburan ke Jogja. #halah.

Irit-iritlah di Jogja, cari tahu dulu, apakah lokasi tujuan kalian itu masih bisa dijangkau pakai Trans Jogja dulu, dibanding dengan ojek online atau taxi online, dll

Segitu aja yah. See you next post. 🙂

Gambar

Ini Sukabumi, Jawa Barat

Ini Sukabumi, Jawa Barat

Hallohallo! apa kabar dihari terakhir Tahun 2013 ini, esok hari sudah berganti menjadi Tahun 2014, Bumi kita semakin tua saja ya.
Makin tua dan Makin Macet, Makin Semrawut deh Bumi nya. Apa bener suatu hari nanti Indonesia bakal menemukan pemimpin yang di sebut-sebut sebagai Ksatria Piningit?. Gimana ya saya bingung. Jadi teringat percakapan saya dengan bapak saya.

Me : “Pak, mau milih mana nih?”, sambil menyaksikan iklan eh bukan tapi
kampanye di TV
Bapak : “Hah,mbelgedes(1) semua”
Ibu : (Hanya tertawa)
Me : “emang kenapa?”
Bapak : “Cuma janji doang, nanti juga abis kepilih langsung masing-masing
Ibu : “Cari duit mah cari duit, masing-masing jadinya.”
Me :(bengong)

Karena saya sangat inisiatif sekali dengan PEMILU tahun depan itu jadinya saya galau sejak dini #eh enggak ding.
Ya sudah semoga saja Indonesia bisa menemukan Pemimpin Sejati, yang tidak memperkaya diri, yang tidak banyak janji, yang tidak neko-neko, tapi ono (read: ada)
Maaf bila tulisan saya ini sangat terlihat sok taunya,hehe

NB:
(1) Omong Kosong