Membangun Istanah di Langit

beach-832346_1920

Tema hari ke enam, 16 Maret 2017:

“Tulis dan jelaskan sesuatu/seseorang yang kamu pernah atau bahkan sedang merasa sangat kehilangannya.”

 

Blog ini sudah lumayan penuh dengan cerita seorang anak perempuan yang ditinggal ayahnya meninggal atau seorang cucu yang ditinggal kakeknya meninggal, jadi mungkin kali ini akan aku ceritakan kejadian kehilangan yang lain saja.

Akan kuceritakan kisah seseorang yang ditinggal nikah sahabatnya. Sebulan sebelum dia mengajukan permohonan resignnya, aku sudah kalang kabut hatinya, padahal dia masih janji ada sampai sebulan ke depan, rasa-rasanya akan sangat berbeda bila dia tidak ada nanti. Dia akhirnya memilih menerima lamaran laki-laki yang pertama datang ke rumah, tapi sedikit di hati kecilnya dia ingin juga menerima lamaran laki-laki kedua yang datang ke rumah.

Dia ini sosok wanita cantik yang baik hati, tidak sombong, agak boros, dan susah diet.

Dia resign dan aku hampa, kita semua hampa tanpa ada dia di sini, sisa tiga bulan lagi, dia sibuk  mempersiapkan hari pernikahannya, dia masih suka datang mengunjungi kami.

Seharusnya aku ikut bahagia, kan? Iya aku bahagia sungguhan karena dia akhirnya menikah dengan laki-laki yang akhirnya bisa dia sayangi sebulan sebelum menikah, iya dia belum move on dari mantannya yang datang terlambat ke rumah.

Pernikahannya berjalan lancar, dia resmi menjadi seorang istri untuk suaminya. Tapi aku kenapa jadi sedih. Seolah dia akan pergi jauh sekali. Dan memang benar seminggu setelah pernikahannya, dia diculik suaminya untuk tinggal selamanya di kota lain untuk membangun istanah di langit, dan pada akhirnya mereka memiliki anak laki-laki yang tampan.

Komunikasi kami dengannya perlahan-lahan mulai hilang. Dia sekarang seorang wanita yang utuh, dia menikah dan memiliki anak.

Jarak dan waktu selalu saja menang memisahkan sesama manusia, pada akhirnya salah satu kalah dan yang lainnya bahagia duluan. Cuma soal waktu saja yang kalah bisa juga menyusul bahagia, juga membangun istanah di langit.

Waktu juga mendukung untuk melupakan kesedihan, jadi waktu tidak melulu sebagai musuh. Orang-orang datang dan pergi seiring perputaran Bumi terhadap Matahari, meninggalkan kenangan yang melekat ataupun kenangan yang mudah dilupa. Tidak ada yang jadi sia-sia di kehidupan ini.

Salam buatmu Teh Riska, Suami, dan Anak Laki-laki tampanmu, kami kangen kamu. Kapan ke Sukabumi?