Di Dekapan Lupa-Luka (Cerpen)

Di Dekapan Lupa-Luka

Oleh : Audhinadaw

Mungkin ini sudah pagi, saya lupa ternyata tiga hari berlalu begitu saja, tirai-tirai rumah ini rapat-rapat menutup semua celah masuk cahaya. Pagi ini terasa bau aspal menyengat menusuk-nusuk hidung, suara-suara riuh terdengar membisingkan. Alat-alat perbaikan jalan itu begitu membuat saya kesal. Suara umpatan kasar dari mulut-mulut pekerja itu sangat bau seperti rokok dan kopi yang menyatu, tapi kombinasi kali ini tidak menghangatkan sama sekali. Ah sial… sepertinya saya benar-benar harus keluar rumah, mencari tempat yang tidak berisik. Perkiraannya perbaikan jalan itu memakan waktu seminggu. Saya jadi sedikit ingat kejadian itu, yang meninggalkan banyak lubang di jalanan itu. Rasanya baru kemarin melihatnya, namun saya sudah terlanjur lupa, kalau diingat malah membuat kepala saya pening dan perut rasanya mual dan ingin muntah.

Saya lapar, tiga hari kemarin mi instan memenuhi lambung, hari ini mungkin harus makan nasi. Suara di luar sana tambah bising saja, kendaraan-kendaraan jadi antri lewat jalanan itu. Bau bensin yang jadi asap di udara itu menambah pusing hidung ini saja. Baiklah kelihatannya saya harus masak makanan yang baunya enak untuk hidung saya.

Bangun dari kasur ini seolah membenarkan bahwa kali ini saya pantas hidup. Sepertinya saya masih sehat dan baik-baik saja, dapur itu bersih, hanya area wastafel saja yang begitu kotor, bekas panci dan mangkuk dengan bekas saus dan minyak yang memenuhi seluruh permukaannya. Sepertinya kebutuhan tenggorokan lebih mendesak, haus meradang ke otak menyalakan sumbu di mata. 20 menit begitu lama berkutat di dapur, nasi dan sayur bayam saja yang tersedia di kedua mangkuk di atas meja itu. Bawang putih dan bawang merah masing-masing satu siung yang tadi saya uleg seolah menjadi makhluk berukuran nano meter dalam sop bayam itu.

Mengapa tidak dibuat begitu sederhana saja hidup ini, setengah mati mengejar yang tak pasti sampai waktu habis dan lupa menikmati, sungguh menyedihkan sekali saya ini. Nasi, Bayam, dan Airnya bikin saya melek. Cuma lima menit tanpa bengong, semuanya tandas masuk ke dalam perut. Habis itu rumah saya jadikan rapih, baru kemudian tubuh saya sendiri yang saya jadikan bersih dan rapih. Ketika kancing terakhir paling bawah kemeja ini masuk ke lubangnya, terdengar suara pintu rumah saya diketuk begitu memburu.

“Permisi…Kak…Permisi !”

“Kak, ada di dalam kan?”

“Ini Raka !”

Pintu itu saya buka, kemudian anak laki-laki bertubuh tinggi itu menatap saya sejenak dengan mata berwarna coklatnya.

“Hahahaha.” Dia terkekeh, seolah mendapati hiburan yang pantas bikin ketawa.

“Kenapa kamu ketawa?”

Dia tidak menjawab langsung beringsut masuk ke dalam rumah. Katanya “Ini ada makanan dari Ibu, katanya khawatir sama Kakak, tiga hari tidak keluar rumah kayak orang depresi.”

 “Oh…” Saya menerima rantang penuh masakan Ibu.

“Gitu aja tanggapan kakak?” Raka menatap heran mensejajari mata saya, tubuhnya sudah sepantar dengan saya.

“Iya nanti dimakan, bilangin makasih ke Ibu ya, kamu enggak sekolah?”

Raka menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tamu, lalu menjelaskan, hari ini sedang libur sekolah, saya tidak tahu libur kenapa, lalu Raka bilang Ibu khawatir tentang saya yang harus jadi saksi kejadian beberapa hari yang lalu itu, takutnya saya trauma.

“Enggak tuh, Kakak enggak trauma.”

“Ya terserahlah, yang penting Raka sudah sampaikan omongan Ibu ya. Raka juga disuruh nginep di sini, kata Ibu suruh nemenin, Kakak.”

“Hmmm…”

Mata coklat itu terbuka-tertutup beberapa kali menunggu jawaban ataupun kepastian dari saya

“Hari ini Kakak ada urusan keluar, mau ikut?”

“Enggak mau ah, aku di sini saja, pulangnya kapan?”

“Nanti malam.”

“Bagus kalau gitu, aku bisa main game sama baca komik-komik kakak, kan. Boleh, kan?”

Saya mendengus, ada-ada saya anak ini, tidak ada selain mengangguk untuk jawabannya.

***

Perut saya penuh sekali, masakan ibu saya paksakan memasuki sisa rongga di lambung. Hari ini saya memutuskan untuk datang menemuinya, sebab mimpi tadi malam ada dia yang limbung sepanjang malam merangkai cerita sedih dan suram. Wanita itu saya harap sekarang sedang baik-baik saja. Keadaan di luar rumah begitu riuh sekali sama seperti bau-baunya yang juga riuh. Buru-burulah saya memasuki mobil dan pergi ke tujuan yang tubuh dan hati saya inginkan. Beberapa orang sekitar rumah menengoki mobil saya. Dan saya putuskan menyapa mereka.

“Bu?” kemudian saya tersenyum

“Eh Mas Angga, kabar baik, kan?”

“Baik kok Bu. Mari Bu.”

“Mari…”

Masing-masing dari kita saling tersenyum, ya hanya begitu saja kalimatnya sampai tiga orang yang lainnya.

Saya begitu merasa bersalah, pura-pura lupanya saya ini malah bersembunyi dan benar-benar jadi pecundang. Seolah saya baru sadar bahwa hilang dari tiga hari itu sudah bikin semuanya semakin berkelindan. Benang-benang kemungkinan itu seolah jadi simpul-simpul mati yang susah diurainya. Tiga hari kemarin itu saya hanya mengelak saja, membereskan diri saya dulu, kalau tidak begitu bisa semakin banyak permasalahan di depan nanti. Serba salah memang, semoga orangtua dan adik-adik saya berhenti mencemaskan saya mulai hari ini.

Tiba-tiba muncullah pertanyaan bahaya di awang-awang, apa mungkin saya rindu dia, atau dia, atau dia?. Begitu saja sadar betapa berengseknya saya di hadapan ketiga wanita itu. Yang satu mengajari saya mengarsir dengan benar, sampai marah-marah karena malah membuat gerakan pensil horizontal kemudian vertikal sehingga arsirannya begitu berantakan. Yang kedua bisa juga kusebut yang satu juga, dia punya gigi kelinci dan jago membuat masakan berbahan wortel terutamanya. Saya jadi benci wortel karena terlalu sering makan bersamanya. Yang ketiga bisa juga saya sebut yang satu juga, dia satu-satunya yang mengharapkan saya mati atau hilang sama sekali dari Bumi tanpa mati atau kejadian apapun, yang penting saya hilang.

Kali ini saya menemui wanita yang ketiga itu, yang meringkuk nyenyak di lantai dinginnya karena selalu kegerahan. Kata Raka sebelum saya pergi, wanita itu sudah jauh membaik, dan Raka kembali pura-pura acuh dengan semua hal yang berkaitan dengan saya. Dia tahu semua tentang saya, tapi bungkam saja, pura-pura memperlakukan saya normal-normal saja.

Saya telah sampai di bangunan bercat kuning gading itu, terakhir ke sini sebulan yang lalu, cat lamanya berwarna putih. Aromanya tetap sama, angin menggiring aroma daun cemara dan buah pinus serta bau cat itu ke dalam tubuh saya. Satpam bangunan itu kenal saya, dan dia menanyai kabar. Di lutut kanannya ada bekas putih seperti kapur, mungkin baru saja dia bersimpuh mengambil sesuatu di lantai kotor. Dari mulutnya menguar bau kopi yang khas, mungkin kopi instan warung.

“Mas Angga kenapa baru ke sini?”

“Hehe… sedang sedikit sibuk, Pak.”

“Mbak Intan lagi dijemur di lapangan sayap kanan, Pak.”

“Makasih ya, Pak.”

“Sama-sama, Mas.”

Saya lekas ke sana, hati saya biasa-biasa saja, tidak ada ketakutan akan amukannya lagi. Sepuluh meter dari tempat didudukkannya Intan, saya berhenti sejenak, menatapnya yang terpejam karena ngantuk dan keenakan karena hangat sinar matahari pagi. Wajahnya kecil, bulu matanya panjang dan lentik. Tak jauh dari sana, saya kenal wanita yang kira-kira kepala empat yang menunggui Intan. Dia Bu Diah salah satu perawat di sini. Saya mulai mendekat. Bu Diah hampir saja menyuarakan nama saya, tapi tidak jadi karena saya beri isyarat untuk berdiam, pelan-pelan Bu Diah pergi dan saya menunggui Intan yang masih tertidur di kursinya. Wanita ini benar-benar membuat saya gila, kapan saya mulai sayang padanya? Saya tidak tahu.

Saya ke sini karena kangen dia. Dan ingin melupakan wanita penyuka wortel yang ikut mati di jalanan depan rumah tiga hari yang lalu itu. Tentang wanita yang sukanya marah-marah itu, sepertinya sudah lama saya tidak lagi menginginkannya. Kemudian tiba-tiba Intan bersuara

“Bu Diah…mataharinya sudah tidak hangat lagi, boleh Intan masuk saja?” masih dengan mata terpejam dia bertanya.

“Bu Diah…” tidak kunjung dapat jawaban, Dia pun membuka matanya, dan tepat sekali tubuh saya yang pertama dia tangkap.

“Kamu?”

Kita saling berpandangan, dia gegas berdiri

“Sejak kapan? Bu Diah mana?” Dia agak panik

“Kenapa kamu belum mati juga?”

Wangi tubuhnya kombinasi harum rumah sakit jiwa dan matahari pagi, saya memeluknya dan dia terus saja meronta sambil menangis sampai lelah melawan, dan pasrah saja saya peluk. Dia tertidur, lalu saya bopong tubuh itu kembali ke kamarnya.

Terus-terusan saya berusaha meyakinkan bahwa saya memang menyayanginya, tapi mungkin saja salah, atau malah justru dia hanya pelampiasan saja, atau hanya kangen saja. Selalu saja saya berharap dia lekas sembuh dan saya janji tidak akan lagi meninggalkannya.

                                                                                    -Selesai-      

Yang Memintamu Menjadi Kopi (Cerpen)

 

Yang Memintamu Menjadi Kopi

Oleh : Audhindaw

coffee-bean-1497510_1280

Tiba-tiba kau tertawa sendiri di tengah-tengah kesunyian taman itu, karena menyadari bahwa ada seseorang yang ngomel karena di dalam cerpenmu ada kata “seperlima detik”

“Apa yang salah dengan itu?” kau semakin cekikikan setelah mendengarnya menjelaskan, bahwa detik itu tidak ada seperlimanya.

“Kalau aku tuliskan, sepermili detik, bagaimana?” lantas terkekeh lagi, kau seolah sedang berdebat dengan pohon.

Di taman itu kau hanya sendirian, padahal ada bangku, ada patung kingkong dan rumput di sana, tapi itu benda mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa kau memang sedang sendirian, kau sebenarnya ke taman karena ingin tidur, tapi perempuan itu malah mengganggumu, jadi setelah dia mengomel, kau hanya bisa bertanya hal-hal yang tidak perlu, karena sudah pasti dia bilang iya. Namun mendengar perempuan itu mengomel, kau berpikir bahwa dia sedang kelaparan, dan memilih sarapan kangen denganmu.

“Sudah makan?”

Dan benar saja dia belum makan, kau nyengir karena tahu betul perempuan itu hanya kangen denganmu

“Yasudah makan dulu, hari ini aku ingin tidur banyak, besok aku hubungi lagi.”

“Ya, sampai jumpa.”

Kalau saja patung kingkong disamping ayunan itu dapat dihidupkan mungkin saja kau sudah duduk di punggungnya lari ke hutan dan tidur di sana, dan mungkin mati diterkam harimau.

***

Pagi itu seharusnya kau diarak ke perpustakaan oleh dirimu sendiri, tapi acara arak-arakan itu batal sebab kau malas. Kali ini kau sendiri yang kesal, dan baru menyadari bahwa kekesalan perempuan itu kepadamu ternyata tidak enak disimpan lama-lama.

Kau melemparkan buku kumpulan cerpen itu setelah membaca satu cerpen yang endingnya benar-benar membuatmu dongkol, benar-benar ingin marah sendiri karena cerita menggantung begitu benar-benar membuatmu gemas sendiri. Kau melirik sekitarmu, di ruangan 4 x 6 m, kamar kosanmu  sunyi, hanya pikiranmu yang mendadak riuh karena pertanyaan, mengapa si penulis bikin cerpen menggantung begitu, bagaimana nasib si A, bagaimana si B bisa begitu, bagaimana lanjutan C dan D, dan seterusnya. Kau bangkit dari kasurmu, iseng mencium ketiakmu sendiri.

“Astaga!” ternyata baunya asam sekali, kau melirik jam dinding, masih lama sampai liburan ini akan berakhir tepat tengah malam nanti.

Malas-malasan kau menikmati sisa libur kerjamu ini, rasanya hambar sekali menulis cerpen baru  sepanjang satu halaman, dan sudah kering ide. Kau kesal, memilih makan mie instan dua bungkus dan tambah lagi buat satu bungkus ketika tahu bahwa kau lupa makan kemarin, menganggap bahwa itu adalah hutang mie kepada perutmu.

Seharusnya, cabai rawit di mie instan itu kau tambah sampai meledakkan isi perutmu, tapi urung, karena tidak mau besok kerja tapi bolak-balik ke WC karena diare.

Kau masih kepikiran dengan cerpen menyebalkan itu, endingnya membuatmu ingin pergi menemui penulisnya, lalu menamparnya. Tapi mengingat kau juga tidak pandai buat cerpen, kau mengurungkan niatmu. Dihadapan televisi kau melamun setelah selesai makan mie instan pedas itu. Ingat betul harus menghubungi perempuan itu. Bisa-bisa dia mengomel lagi.

“iya aku sudah bangun.”

“iya sudah sangat kenyang, yasudah selamat bekerja.”

Ternyata perempuanmu sedang sibuk bekerja, dan itu malah mengingatkanmu pada bau ketiakmu yang kau hirup sebelum makan mie instan, akhirnya kau mandi juga, kali ini lebih awal dari biasanya.

Setelah mandi, rencananya kau akan menyelesaikan cerpen yang baru satu halaman tadi ditemani buah dari keluarga Caricaceae dan minum dari umbi keluarga Zingiberaceae.

Bekerja sebagai ahli botani rasanya salah, dan memang bukan pekerjaanmu, pekerjaanmu hanya membersihkan tempat penelitian. Seharusnya hidupmu sudah rapih, sebab kau tak pernah terlalu masalah bila kamarmu kotor, meski tahu dari selingkungan kerjamu orang berotak cerdas semua, bahwa seharusnya kau membersihkan kamarmu juga, dan menyelesaikan cerpen-cerpenmu.

***

Sebenarnya menulis—bagimu adalah kesia-siaan yang tak mungkin berujung bahagia, kau hanya terus-terusan menyugesti bahwa menulis lebih baik dari pada menjadi babu di laboratorium botani, berharap sukses dari menulis, sedangkan dikritik sedikit saja kau sudah ogah-ogahan, dan sesak napas enggan menulis selama beberapa minggu ke depan. Cuma perempuan itu yang terus-terusan memberikanmu bahan bacaan agar kau segera melecutkan ide-ide ke dalam tulisan-tulisan setengah jadi.

Tapi apa lacur, kau memang sedang kehilangan semangat menulismu karena kritikan pedas yang kau terima terhadap tulisan terakhirmu itu, sebab itulah kau selalu menulis tulisan yang selalu setengah jadi.

***

Hari ini kau gajian, kau pulang ke rumah. Sepertinya kau rindu rumah, rindu ibumu terutama. Sampai dirumah kau langsung bercerita

Bu, ada yang memintaku untuk menjadi Kopi.

Katanya kalau aku jadi Kopi, mungkin aku bisa jadi seniman

Konon seniman tidak pernah tidur, Bu

“yang tidak pernah tidur itu Tuhan, bukan seniman!” ekspresi ibumu serba bingung

Ibumu mengeleng-geleng, lama tidak pulang, anaknya semakin aneh saja keinginanya, pikir ibumu begitu. Sesudah itu, Ibumu bertanya, siapa yang memintamu menjadi kopi.

“Perempuanku yang memintanya, Bu.” Kau menjawab penuh keraguan. Sebenarnya memang betul, perempuan itu memintamu menjadi Kopi. Katanya kopi itu dekat dengan menjadi penulis, kesimpulan sesungguhnya dia ingin kau menjadi penulis sesegera mungkin, lalu sukses jadi penulis, dan kaya dari menulis, dan melamarnya, dan menikahinya, kemudian hidup bahagia.

Ibumu menggeleng-geleng. Katanya, jangan terlalu berharap banyak dari menulis, suksesnya akan lama. Jadi sekarang Ibuku memintaku menjadi pegawai negeri, biar gajiannya pasti. Kau terkekeh, sama susahnya, dari babu ke pegawai negeri maupun dari babu ke penulis.

Jadi akhirnya Kau tetap menunaikan keinginan perempuanmu, dia yang memintamu menjadi Kopi.

-Selesai-

Bunga yang Berkeringat (Cerpen)

rose-729509_1280

Bunga yang Berkeringat

Oleh : Audhinadaw

Demikianlah hari ini berakhir, kami menemui bunga itu berkeringat karena kelelahan. Dia berbau asam persis seperti ketiak manusia, lebih menjijikkan ketimbang bunga bangkai yang langka itu. Kata Big Bos, kita harus fokus pada pekerjaan kami, tapi malam ini dan kemungkinan sampai esok tiba, kami akan terheran-heran dengan bunga yang berkeringat itu.

***

Bunga itu berada di ruangan kerjaku, setiap minggu oleh seorang fresh graduation selalu saja kami akan menemui bunga berbeda di dekat jendela itu. Iseng kami silih berganti bertanya padanya, mengapa bisa tiap minggu bunga itu berbeda. Katanya “Aku tidak pernah mengganti bunga itu, dia berubah warna sendiri, dan berubah-ubah wanginya.” Jawabanya pun tidak pernah berubah, orang-orang berkerut kening, enggan berpikir khayal. Lantas kami bertanya padanya, mengapa dia selalu mengambil bunga itu tiap sabtu pagi, dan setelah itu berada di tempatnya lagi, bunga itu tak lagi sama. Katanya “Bunga itu pemalu, dia hanya perlu tempat sendiri sebentar saja untuk merubah diri.” penjelasannya diiringi dengan gesture yang meyakinkan kami, orang-orang tetap saja berkerut kening. Mengapa juga kami hilang fokus cuma karena bunga dan seorang fresh graduation yang belum kutahu namanya siapa.

Semakin hari kami mulai bosan membahas tentang bunga itu, dan banyak hipotesa yang kami ciptakan, salah satunya adalah seorang fresh graduation ini adalah penggila tanaman, dan mungkin saja punya kerabat yang memiliki toko tanaman. Setelah beberapa minggu berlalu, kami sudah lama tak melihatnya menyentuh bunga itu dan mengembalikan bunga itu dalam keadaan berbeda, bunga itu tetap pada bentuk dan wangi yang sama, asal keadaannya tidak merugikan, kami tetap tak masalah bila seorang fresh graduation itu penggila bunga.

Suatu ketika setelah dua bulan dengan pekerjaan yang selalu begitu saja tiap harinya, dan bunga itu mulai layu, aku kini penasaran bertanya padanya, mengapa sudah tidak mengurusi bunga itu, dan dia hanya menatapku kemudian menatap tumpukan tugas yang mulai dekat deadline, kemudian menatapku lagi, oke aku paham, dia sudah mulai tahu tugasnya di perusahaan ini, mulai tahu tekanan pekerjaannya, mulai tahu bagaimana seharusnya dia bekerja. Lalu aku meleos pergi, dan dia meminum kopi yang tinggal setengah cangkirnya itu.

Setiap dua minggu sekali divisi kami selalu mengadakan makan bersama, termasuk dengan pekerja baru, kata Big Boss hal ini dilakukan agar kualitas kerja kami dan kerja sama kami semakin baik. Ini sudah makan malam kelima bersama si pekerja baru itu, awal mulanya dia sangat amat semangat, tidak jauh berbeda saat ketika mengubah bunga itu.

Kini dia banyak murungnya, tentu saja bukan hanya aku yang perhatian, semua juga memberi penilaian kerjanya, meski semakin hari malah semakin murung tapi kerjanya tetap tuntas. Disaat kami selesai makan malam, dia terlihat pucat pasi, padahal dia melahap makanan paling banyak diantara semuanya. Sete;ah semua saling berpamitan untuk pergi, dia sempat berjalan namun kemudian jatuh pingsan, Semua panik dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit setelah bantuan minyak kayu putih tak membangunkannya. Hanya aku dan tiga orang saja yang membawanya ke rumah sakit, semua terlihat khawatir padanya. Dia masih belum sadar juga. Di UGD dia ditangani, dan aku mengambil ponsel di saku celananya, mencari tahu kerabat dekat di kontaknya. Kami berdiskusi mengelilingi aku yang memegang ponsel, aku menggeleng, kemudian mengalihkan ponsel itu ke yang lain. Yang lainnya pun sama saja, menggeleng dan terdiam.

“hanya ada kontak rekan kerja saja?”

“ah yang benar saja anak itu tak memiliki teman atau keluarga?”

Kami menggeleng

Kami memeriksa pesan, di sana ada satu nomor tak bernama, yang selalu mengiriminya ucapan selamat pagi dan tak pernah mendapat jawaban darinya. Aku meringis dan sumringah kembali. Bagaimana jika menghubungi nomor itu saja, semua menyetujui. Ternyata seorang perempuan di ujung percakapan sana, suaranya menguarkan bau mawar, aku sedikit tersedak karena baunya terlalu wangi. Aku menyuruhnya segera datang ke rumah sakit sebab kami tidak bisa lebih lama lagi menungguinya hingga siuman.

***

Malam itu kami pulang lima menit sebelum tengah malam, perempuan yang entah apa hubungannya dengan di pekerja baru itu ternyata perlu waktu lama untuk sampai ke rumah sakit, benar saja ketika dia datang, tubuhnya memang berbau mawar, membuat kami semua tersenyum kepadanya, dan membimbingnya keruangan UGD, dan memasrahkan si pekerja baru itu padanya. Kami sepenuhnya percaya, dan lupa betulan untuk menanyakan dia siapa untuk yang masih pingsan.

Ke esokan paginya, empat orang yang mengantar orang pingsan itu semua kesiangan, jangan tanya lagi, itu termasuk aku. Lari terbirit-birit memasuki kantor, dan lega betul Big Bos belum datang, tapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar, tugas sudah menumpuk, wajah-wajah cemberut karena kami terlambat segera membuat otak memacu lekas bergerak.

“Hai semua!” seruan itu datang mengagetkan

Itu suara si pekerja baru, kami terbengong menatapnya. Dia dalam keadaan baik. Sekilas tadi aku mendapati bunga itu kembali segar, meski tidak pada kondisi yang berbeda—pada bentuk dan bau yang sama. Kami silih berganti mendekatinya, bertanya keadaannya, dan mengapa malah masuk kerja. Dia hanya tersenyum, katanya sambil guyon, dia pingsan karena lupa makan sepanjang hari kemarin. Kami tertawa dan bersyukur, wajahnya sumringah. Tawa kami terhenti karena hentakan kaki Big Boss yang melangkah masuk. Semua kembali bekerja, mengejar target.

Aku sempat menangkap bau semerbak dari bunga itu, wanginya menggetarkan keseluruhanku. Si pekerja baru itu, beranjak berdiri mengambil air putih, kemudian kembali, lantas pergi lagi sambil memboyong bunga itu, setelah kembali lagi tak kutemui bunga itu lagi. Mungkinkah dia membuangnya?.

***

Jam istirahat kami telah tiba, seperti biasa. Aku memang berkelompok dengan tiga orang yang mengantar si pekerja baru itu ke rumah sakit. Di tempat sampah tak jauh dari ruangan kami, bunga itu di sana. Tak salah lagi, itu bunga yang selalu berubah. Aku memberhentikan langkah, dan bergumam

“Bukankah ini?”

Aku meraihnya, memandanginya, keadaannya tidak apa-apa.

“Kenapa dibuang, ya?”

“Siapa yang buang?”

“Kenapa bunga ini berembun?”

Ketiga orang itu akhirnya mengiyakan bahwa aku akan membawa bunga itu kembali, sebelumnya aku membawanya serta saat makan di kantin, bersenda gurau sambil menghabiskan makan siang, lantas lima menit sebelum jam istirahat selesai kami bergegas kembali ke ruangan kerja. Aku meletakkan bunga itu di jendela lain bukan di tempat asalnya, pikirku supaya si pekerja baru tidak membuangnya lagi.

***

Sore tiba, langit sudah hampir mati. Perlahan satu persatu di ruangan pulang ke rumah, belum untuk kami berempat, kami terpaksa harus pulang lebih lambat, sebab tadi pagi kami terlambat. Si pekerja baru itu juga sama, mengingat dia lebih telambat dari kami. Aku sedikit meregangkan tubuhku, menyeruput kopi yang tinggal setengah gelas, lalu menggerakkan mata, dan menangkap bunga itu berembun, dan setelah lama kutahu itu bukan berembun, tapi berkeringat—bunga itu berkeringat. Cukup beberapa detik saja, kami semua menangkap bau keringat menusuk hidung, kami saling meringis jijik, dan mencium ketiak sendiri, tidak bukan aku atau mereka tentunya.

“Siapa yang mengambil bunga ini lagi?”tanya si pekerja baru, aku mengangkat tangan, semua pandangan menatap silih bergantian aku-bunga-dan si pekerja baru.

“Bunga ini memang aneh, itu mengapa aku membuangnya.”dia mendelik marah

“Dan aku berdoa agar perempuan itu tidak akan hadir lagi dihidupku.”

Dia bergegas membuang bunga itu ke tempat sampah jauh dari kami, tempat sampah dekat divisi lain yang sudah pulang semua orang-orangnya.

Kami menciptakan khayalan akan hal ini, bagaimana bisa bunga itu berkeringat?, dan menggabungkan segala hal yang kami dapat beberapa minggu sebelumnya, bunga itu tidak berembun, bunga itu berkeringat, bunga itu suka si pekerja baru, dan menuntutnya terlalu banyak, dan hampir saja dia mati. Apa perempuan yang setiap pagi mengirim pesan itu adalah bunga itu.

Si pekerja baru kembali ke ruangan, kami bergegas menyelesaikan pekerjaan. Sejak awal bunga itu dan si pekerja baru adalah hal yang aneh, kami memutuskan untuk melupakan sekarang juga. Setelah semua selesai, kami mengajaknya pulang bersama kami, dan tidak akan membahas tentang bunga itu lagi. Memutuskan untuk lebih mengenalnya, ternyata dia tinggal jauh dari kantor. Padahal sudah beberapa bulan dia bekerja bersama kami, tapi kami tidak tahu fakta apapun tentangnya selain dia berkemungkinan gila.

-Selesai-

 

Ada Angka Lain Selain Nol (Cerpen)

Membuat cerpen selalu saja mendadak, aku selalu ketakutan dengan kalimat-kalimat yang ada di otakku, takut hilang, cuma perlu nulis dan akhirnya lega, silakan dibaca bila rela beberapa menit habis untuk sekadar membaca tulisanku ini 🙂

Ada Angka Lain Selain Nol

Oleh : Audhinadaw

Lusa kota ini benar-benar akan menghilang, kata penjaga mercusuar itu. Di pesisir pantai ini, ia juga salah seorang yang patut di percayai meski kadang omongannya sedikit ngelantur. Mungkin kali ini aku pergi ke tempatnya terlalu pagi, sebab itulah kutemui dia mabuk dan ruang jaganya penuh kulit kacang dan dua botol kosong red wine. Dia hidup dengan uang yang terkumpul dari pengunjung pantai, yang kadang iseng ingin naik mercusuar juga, lantas dia menarik uang lebih banyak untuk itu. Betapa aku tidak akan berhenti meringis miris sebab laki-laki tua sepertinya ini malah dipercayai orang-orang. Aku bukan salah satu dari yang mempercayainya sebab aku benci dia. Entah kenapa pagi ini aku malah ditarik langkahnya menuju ke sini, mungkin aku rindu melihat cahaya pagi dari atas sini, banyak pagi yang kulewati di rumah dan mataharinya tertutup, rumahku dipantati mercusuar. Hanya sesekali saja biar badanku segar melihat matahari pagi bukan pantat mercusuar.

“Mengapa kemari?” dia masih sempoyongan berdiri dari kursi, aku mendelik namun dia hirau.

“Tak usah pedulikan aku, aku cuma sebentar di sini, dan janji tidak akan mengganggumu.”

“Baiklah, terserah kau saja gadis aneh!” Dia kembali menjatuhkan diri ke kursi dan tertidur.

Lusa kota ini akan menghilang, hanya dari beberapa pandang saja, hanya pada pandanganku saja. Mungkin aku akan kangen dengan pantat mercusuar ini, dan tentu saja akan teramat kangen dengan cahaya matahari dari atas mercusuar ini.

“Pak Tua, aku percaya padamu bila kota ini menghilang lusa.”

Aku bergumam masih menatap jauh ke ujung horizon lautan. Burung-burung sedang berangkat menuju ke arah selatan, mungkin burung walet atau mungkin merpati, aku tidak sedemikian penasaran dengan yang disajikan pesisir pantai ini, pohon cemara bukan tembakau memenuhi pandangan ke bawahku, di atas pasir pantai itu sedang ada dua anak laki-laki yang sibuk bermain siapa paling banyak menangkap anak kepiting, di sisi berbeda seorang ayah tengah menyuapi anak perempuannya sambil kelihatan berusaha membujuk supaya segera menghabiskan yang disuapkannya, dari sini kulihat bermacam hal tapi aku tidak akan terlalu peduli.

“Setidaknya hanya menghilang dari pandanganmu saja esok, namun lusa kau beruntung”ucapnya yang ternyata tidak tidur sungguhan.

Aku tertawa getir. Bau lautan menyihir sepagi ini, aku menengok ke arah barat, kulihat menhir mawar yang menjulang dan khas sekali, mudah sekali mengenali siapa pemilknya, itu menhir dari halaman rumah penjaga mercusuar yang tengah menatapku sinis. Anginnya kecang sekali, aku tidak mengenakan baju tebal, biasanya aku akan tahan tapi ternyata tidak.

cloves-1367675_960_720

“Pulanglah jika kau mau, akupun tidak pernah menghalangimu, kan?”

Aku mengangguk, kali ini menatap matanya yang merah, kombinasi kurang tidur dan alkohol yang mengacaukan sistem metabolismenya. Aku tertawa getir lagi, jeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi lusa, ketika kota ini menghilang, ketika kompetisi mengumpulkan anak kepiting menghilang, ketika tidak mungkin lagi anak perempuan kecil itu mencerna makanannya, ketika menhir luar biasa indah itu menghilang.

“Aku janji akan menjaga mercusuar ini, untukmu.”Dia tertawa menggelikan, seperti pemabuk

“Ini memang tugasmu, Pak Tua!”Aku melotot

Dia melambai-lambaikan tangan “Ah baiklah aku mengalah.” Lalu dia berkata dengan lebih serius

“Ada angka lain selain nol, wahai gadis pemarah.”

Tentu saja aku tahu itu, dan itu bisa apa saja, angka apa saja. Kekelaman dalam mata yang mendadak teduh itu membuatku diam dan ingin memperhatikannya, bahwa hidup ini dari nol tapi setelah itu bisa satu kemudian dua, tapi tidak menutup kemungkin nol kemudian tiga, tapi aku benci tiga. Lelaki di hadapanku ini memang melantur dan ucapannya malah sering dipercayai orang-orang. Dan ternyata aku malah lama-lama juga mulai percaya, setidaknya bukan kepercayaan saklek, hanya sekadar penjunjung semangatku saja.

“Sampai kapan diam di sini?, kau tidak mencari anak kepiting dengan sepupumu itu?”

Aku menggeleng, tapi malah beranjak menuruni anak tangga, sudah bosan berada di atas, perutku mulai kembung dan baru ingat belum sarapan.

“Baiklah gadis aneh, selamat jalan, hat-hati dengan hatimu.”

Cih…siapa yang aneh, aku merutukinya, dan setelah umpatan itu aku malah sadar bahwa aku dan dia sama-sama anehnya.

***

Ada angka lain selain nol….

Aku tidak akan menganggapnya sebagai ayahku, tidak mungkin pabila ibu bilang itu tidak perlu kulakukan. Satu-satunya yang akan kuakui adalah menhir mawar miliknya itu, dan apabila dia mati aku akan segera mengakui itu adalah menhirku. Itu bukan tanaman lagi tapi sudah jadi pohon mawar, sebab tersatukan dengan pohon linden, mawar melilitnya sampai kepuncaknya, dan semakin melilit sendiri membentuk menhir.

Ibu dan aku esok akan pergi dari kota ini, meninggalkan semua saudara di sini. Seharusnya pagi tadi menjadi perpisahan manis antara aku dan Pak Tua itu, tapi mungkin akan sama saja, mau manis atau pahit, perpisahan tetap pahit.

Malam itu aku nyenyak tertidur, sebab sepanjang hari aku kelelahan meladeni nakalnya sepupu-sepupuku, aku bahkan tidak menikmati malam dan segala macam bentuk perenungan malam ini, malam terakhir di kota ini. Hanya suara angin saja yang mengantar tidurku.

“Bukankah hanya kamu yang menginginkan aku hilang, Nak?”

“Oh tentu saja Ibumu juga menginginkan aku menghilang juga, Nak?.”

Dia tersenyum, kemudian aku terbangun dan tenggorokanku kering sekali, baiklah aku hanya perlu minum segelas air saja lalu tidur lagi, ini masih malam.

***

“Ini akan mudah sekali.”optimis ibu ketika menaikkan barang terakhir ke dalam mobil, kemudian berhadapan denganku, dia memegangi kedua bahuku, lalu tersenyum.

Baiklah ayo kita lakukan, Bu. Apa saja asal dengamu Bu, aku akan selalu tersenyum demi kamu, Bu. Percayalah. Aku tidak akan menceritakan mimpi yang kudapat tadi malam, dia muncul sebabnya karena aku merasa bersalah sedikit, hanya sedikit-teramat sedikit merasa bersalah.

Sudah jauh hari kami berpamitan dengan siapa saja yang kami kenal di kota ini, kami hanya perlu pergi saja hari ini, tak usah cemas.

Ketika kami segera berangkat, tiba-tiba lelaki tua itu mencegat kami, sudah tidak heran lagi bila dia goyah untuk melepaskan tanpa minta dipamiti. Kami segera turun, mengalahkan beberapa ego yang tertancap di seluruh bagian otak.

Dia tersenyum, membawakan sebuket mawar putih. Dia menghampiriku, meraih tanganku.

“Nak…”kemudian tersenyum

“Maaf…”kemudian berlinang

“Nak….”lantas akupun memeluknya erat lalu menangis deras

“Ayah janji akan merawat apa yang kamu ingin tetap lihat bila kau kembali.”

Ibu hanya bisa mengelus punggungku, berusaha keras untuk tidak menangis. Setelah beberapa menit saja tangis itu meledak, kemudian aku menerima sebuket mawar itu dan kalimat “Ada angka lain selain nol” darinya, aku dan Ibu tetap meninggalkan kota ini, meninggalkan dia di sini. Setidaknya sedikit manis dari perpisahan yang pahit itu kudapat kali ini. Dia tersenyum dan menepuk bahuku lembut, rela kami pergi.

Aku melihatnya melambaikan tangan sampai kami menghilang dari pandangannya. Semoga saja dia bahagia sebab aku menangis karenanya, Ayah.

-Selesai-

Daw|Sukabumi,30 Agustus 2016|9.08 pm

 

Rattus rattus (Cerpen)

Rattus rattus

Oleh : Audhina Novia Silfi

 angel-1210970_640

Kamu ditemani selembar kertas HVS, pensil dan asbak, niat awalmu adalah menulis beberapa kata namun akhirnya membentuk sebuah kalimat. Sembari mengisap rokok yang tinggal setengah batang lagi. Sepanjang siang Kamu merutuki nasibmu sendiri. Teman yang Kamu sukai sejak SMA tiba-tiba memberikan ucapan selamat pagi melalui pesan singkat.

“Pagi Rinai, Semoga harimu menyenangkan.” Dia adalah pemberitahuan favoritmu hari ini, yang selalu sukses membuatmu tersenyum senang sekaligus kecut. Kamu agak rindu berlaku judes terhadap lawan jenis, maka tanpa pikir panjang Kamu pun hanya membalasnya dengan beberapa kata saja.

“Pagi juga”. Kemudian harapanmu lantas kandas.

Pesannya datang lagi, kali ini mungkin pesan siaran. Panjang dan menjemukan, matamu dan senyummu padam.

“Oh MLM!” ucapmu kesal.

Meski dienyahkan, suka tetap suka.

Kertas HVS itu akhirnya penuh akan keluh kesahmu sepanjang hari. Benda memuakkan yang disebut jam dinding itu terus saja mengejekmu, seolah Kamu harus bergegas tidur dan segera mengunci kembali lemari perasaan yang Kamu buka lagi itu. Kamu pun melihat keadaan sekitar, hanya ada dua kursi, satu meja, kasur dan selimut biru kucel, yang lainnya anggap saja tidak ada. Kamu menghela napas, bosan dengan kegiatan sepanjang hari tadi, dan akan terus terulang sepanjang Kamu masih hidup.

Puntung-puntung rokok berceceran di lantai, Kamu peminum alkohol, syukurlah bukan pemabuk. otakmu kurang waras, hidupmu juga kurang waras. Kamu ingat bahwa besok hari libur, berjalan ke dapur membawa gelas kosong, lantas berharap di dapur Kamu temukan air dan juga pikiran warasmu. Kamu berpikir bahwa tadi saat di kamar, galon masih terisi penuh di dapur. Sialnya kosong, tenggorokanmu kering, Kamu ingat betul kali ini harus minum air putih setidaknya tiga gelas untuk menetralisir alkohol, supaya ginjalmu tak meringis.

Namun harapanmu kandas kemudian menyerah dan berbalik ke kamar lagi. Di antara sekat kamar dan dapur, ruangan itu tempat membaca favoritmu. Rattus rattus sedikit menghambat jalanmu menuju kasur apek itu, terhenyak dan merutuk

“Dasar curut !”  kedua kakimu refleks loncat, beruntung lantai tidak licin.

Rencanamu masih sama seperti pagi tadi, bersikap masa bodoh terhadap segala hal, Kamu terus mengucapkan kata itu “Masa Bodoh” nyatanya bukan itu yang Kamu lakukan, masa bodoh adalah hal yang Kamu dambakan, sebab Kamu bukan makhluk apatis. Kamu berjalan begitu gontai sambil menggaruk-garuk pantat, matamu masih kuat sadar, namun otakmu sudah malas sadar. Kamu duduk di meja kerjamu, menyentuh kertas HVS penuh coretan tadi. Mengenang kembali pagi saat tetangga baru tersenyum menatapmu ketika Kamu membuang sekantong sampah ke depan rumah.

“Sudah bangun Kak ?” Kamu mengangguk heran, karena sadar. Penampakanmu tak ubahnya seperti tikus rumah yang lima kali mondar-mandir di depanmu sedari tadi.

“Kita baru pindah Kak.” lelaki kebapakkan itu nyengir diiringi tatapan heran

dua anak laki-laki manis yang  tengah bermain air dari selang cuci mobil.

“Semoga lingkungan kompleks perumahan ini cocok buat keluarga bapak , ya” lantas Kamu ingin segera pergi, malas ditanya lain hal lagi.

“Tante Rinai, besok malam datang kerumah Drey ya, kak ? kita makan bersama.” ucap anak laki-laki ompong itu sambil iseng kepada adiknya.

Kamu tidak punya pilihan untuk menggeleng, Kamu iyakan saja ajakan tersebut dan bergegas ke kamar mandi. Perutmu tidak kompromi dengan pizza busuk yang mungkin sudah berkali-kali diinjak Rattus rattus. Kemudian kehidupanmu stagnan lagi, bekerja dan makan, bekerja dan minum, bekerja dan berbicara. Kamu memutuskan untuk minta maaf besok pagi, karena malam ini tidak menyanggupi datang ke rumah keluarga bahagia itu.

***

Pagi ini Kamu merasa sebagai reinkarnasi puntung rokok yang Kamu isap tadi malam, Kamu tidur karena lelah dan bangun karena bosan. Perutmu tidak meronta, dan Kamu bersyukur karena tidak harus sarapan pagi. Kamu malas mandi.

Rutinitasmu di hari libur ini hanya akan membuang sampah berisi botol alkohol, bungkus pizza, bungkus rokok, dan puntung-puntung rokok, serta abunya. Penampilanmu tak akan melebihi Rattus rattus si tikus rumahan, Meski Kamu masih merasa cantik saat bangun tidur, namun gigimu dan baumu enggan menyetujui pendapat otakmu itu.

Usiamu sudah cocok untuk membangun sebuah keluarga bahagia, namun sayang Kamu enggan, Kamu terpaku di depan rumahmu, mengamati keluarga kecil bahagia itu tengah membenahi taman.

“Kak Rinai sudah bangun.” ucap perempuan itu kemudian tersenyum dan Kamu menyeringai, karena bingung.

“Nanti makan malam di rumah kami ya, kak?” ajaknya ramah

“Maaf ya tadi malam nggak sempat datang, semoga nanti malam bisa

datang.”

Keluarga itu menatap ramah dan tersenyum, mengisyaratkan bahwa rumah keduamu adalah mereka. Kamu jeri pada dirimu sendiri, mungkin usiamu setara dengan perempuan itu, namun melihat begitu jauhnya perbedaan penampilan dan keadaanmu, Kamu memang sangat menyedihkan. Mereka saling mengamini doa, sedangkan Kamu hanya tikus yang mengamini doamu.

Meski aku memang tikus rumahan, namun aku tak mau disebut tikus. Aku memang tidak penting, tapi aku adalah saksi seluruh hidupmu. Sejak aku masih di susui ibu yang kini telah kabur dari rumah ini, aku harap dia tidak digondol anjing kompleks, lebih baik hamil lagi di tempat lain. Maka sampai saat ini mungkin hanya nyamuk yang mengamini doa-doa ku.

Kamu terus saja hidup menunggu untuk lelaki yang dulu tinggal bersamamu di rumah ini, semenjak tak Kamu temui lelaki itu di kamar, atau di berbagai tempat manapun, Kamu masih belum sadar bahwa lelaki itu tidak akan pernah kembali, karena memang sudah mati. Kalau saja ibumu dan tiga adikmu di sini, mungkin mengemis pada harapan tidak akan Kamu lakukan seperti sekarang. Iya….aku paham betul Kamu kehilangan semangatmu, dan aku tak sanggup membangkitkanmu

Lihatlah saja bajuku, bulu putih yang lumayan bersih tetapi tetap berbau khas tikus ini yang menyelimuti tubuhku, Kamu saja melotot begitu melihatku mondar-mandir sebanyak lima kali tadi malam. Hobiku adalah makan pizza yang walau Kamu sisakan namun akan Kamu makan nanti setelah beberapa hari, itu mengapa Kamu sempat kena dysentri.

Sebenarnya lelaki yang Kamu dapati dia menawarkan MLM itu tidak Kamu cinta, Kamu selalu saja ingin kelihatan menjadi wanita bila berhadapan dengan lelaki itu, maka aku tak akan setuju bila Kamu masih memikirkannya. Kamu lebih pantas menjadi Rinai yang selalu sanggup menghujam bumi secara lembut.

***

            Kamu tak mau kelihatan main-main di hadapan keluarga bahagia itu, Kamu kenakan baju sopan, yang cocok untuk sebuah makan malam keluarga. Drey sudah menunggumu sambil meringis, menampakkan ompongnya. Perasaanmu mungkin sangat bahagia, aku putuskan untuk mengikutimu sampai rumah tetanggamu itu, sekalian aku akan mengunjungi sepupuku di rumah itu.

“Tante Rinai cantik ya Mah.”ucap Drey sembari menggelendoti mamahnya “Iya cantik sekali.” wanita itu menjawab tulus sembari mengusap wajah

belepotan Drey karena coklat yang dia makan.

“Mari masuk kak, Mas Teguh dan Alex sudah nggak sabar mau makan, yuk Kak.”

Kamu memang tampak menjadi seorang wanita sekarang, namun batinmu buas. Otakmu terlanjur sesak oleh sesuatu yang tidak pernah Kamu ketahui, Kamu terlalu bosan dengan hidup menyendirimu ini, Kamu masih pada pendirianmu, menjadi Rinai yang aneh walau memasuki lingkungan keluarga kecil bahagia ini. Semakin lama Kamu malah semakin muak memimpikan sebuah kelurga kecil bahagia, batinmu selalu saja berontak. Memangnya salah bila seorang perempuan mapan memilih hidup sendiri sampai mati.

Keluarga ini tiba-tiba saja mengingatkanmu untuk pulang ke rumah orang tuamu, terakhir kali bertemu dengan mereka ketika ulang tahun ibumu tahun lalu dan bukannya Kamu yang memberi hadiah, malah ibumu yang menghadiahimu selimut biru yang sekarang berwarna biru kucel di kamarmu itu.

Kamu kagum dengan keadaan rumah itu, bersih walau ada dua anak bandel di dalamnya, perempuan dan laki-laki itu pandai merawat rumah ini. Kamu diperlakukan apa adanya, senyummu akhirnya tampak ikhlas, untuk pertama kalinya, mungkin Kamu melupakan segala hal tentang laki-laki yang sudah Kamu hapal baunya itu. Alex dan Drey terus saja saling iseng, Kamu senang melihat dua anak itu.

Sepupuku bilang semenjak keluarga itu pindah ke rumah ini, kenyamanan bangsa Rittus rittus sangat terancam, meski begitu mereka tidak terlalu kejam, tidak sengaja memburu, tetapi menunggu sampai terperangkap. Bukankah memang seharusnya tikus diburu, karena tingkat perkembangbiakkan mereka sangat cepat sekali. Maka memang aku dilahirkan berani, karena aku sudah tahu, mati itu tak terduga.

Kamu beralih ke ruang keluarga, Sambil menonton televisi dan makan cemilan, Kamu sudah tidak canggung lagi, Kamu sepenuhnya lupa akan kesedihanmu, Kamu sepenuhnya kembali menemukan motivasimu. Ketika malam semakin larut dan bahan obrolan sudah sangat membosankan dan kedua anak itu sudah mengucek-ngucek mata, Kamu memilih untuk segera pamit. Namun tiba-tiba perempuan itu mengucapkan hal yang tidak terduga.

“Kak.” panggilnya sebelum Kamu beranjak pergi, dia memegangi kedua bahumu sorot matanya menembus ke dalam pikiranmu.

“Kita ada buat Kamu, jangan segan datang kalau perlu bahagia ya, kak.” Kemudian tersenyum, Kamu masih terdiam bingung dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja hadir kembali.

Kemudian dia melanjutkan “Kak Rinai mau ikut ziarah ke makam Ragat

esok hari tidak?”

Kamu tiba-tiba dengan cepat memutar segala sesuatu yang berhubungan dengan nama itu, Ragat, lelaki yang dulu tinggal bersamamu. Kamu menitihkan air mata, tidak paham, mengapa tiba-tiba saja mengingat secara cepat semua kenangan itu.

“Iya Kak, aku adiknya Kak Ragat.” Dia menjawab tanpa Kamu minta kemudian memelukmu dengan erat, Kamu menangis tertahan di bahunya sampai basah, dan Ia menceritakan semuanya kepadamu, mengenai persepsi negatifmu terhadap lelaki yang tiba-tiba saja mati itu.

Aku ingin melihatmu lebih dekat karena khawatir, maka aku putuskan untuk berlari dari bawah sofa menuju bawah lemari di ruang tamu tak jauh dari Kamu yang sedang duduk bersama perempuan itu. Tapi sial ada perangkap di bawah meja yang aku lewati sebelum sampai ke lemari itu, papan kayu tipis yang di lapisi lem super kuat, napasku terengah-engah berusaha melepaskan diri, sialan buluku menempel, bila aku semakin meronta, maka semakin kuat perangkap itu membuatku kesakitan, lem itu sangat berbau menyengat, Sepupuku panik melihat aku semakin tidak berdaya, dia mencarikan bantuan, semua keluarganya, tapi mungkin aku memang sudah waktunya mati, maka aku mati dengan keadaan lega, karena Rinai telah memiliki orang-orang yang mampu membahagiakannya kembali. Bukan seperti aku yang memimpikan ingin membahagiakanmu tapi tidak bisa, aku hanya mampu mengamini doa-doa mu saja. Selamat tinggal Rinai.

 

-Selesai-

Terinspirasi dari cerpen Rico De Coro-Filosopi Kopi (Dewi Dee Lestari)

Titip Ini Untuk Dia

Hallo readers :D, ini cerpen absurd yang mainstream nya minta ampun, namanya juga blog “pembuangan” yak :D. Nikmati guys 🙂

Titip ini untuk Dia

Oleh : Audhina Novia Silfi

 

6a00d8341bf6d653ef0148c8773179970c-450wi.jpg

Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi.

***

“Kan memang seharusnya begitu kan? Kau yang di beri amanah untuk melaksanakan permintaan terakhirnya, jangan pernah terlintas berpikir pergi dari sini kalau kau tak mau dia bangkit dari kubur atau malah menggetayangi tiap malammu. Sekarang pergi cepat ke belakang, banyak patung yang harus kau selesaikan, ayoh yang semangat. Apa susahnya semangat.”dia terduduk lagi, sementara aku membongkok jalan sambil masih begitu sangat mengkal. Keinginan yang sederhana dalam otakku terlampau tinggi dalam otaknya. Kalau malam ini juga aku selesaikan pesanan patung-patung cupid ini mungkin aku bisa merajuknya lagi, kan orang rajin patut di beri imbal. Berharapnya begitu, tapi apa iya bisa?.

Kalau saja surat wasiat sialan itu tak memilihku untuk tetap disini mungkin aku sudah di Prancis sekarang. Ibu bilang aku harus membantu Jo memajukan bisnis pahat memahat ini, Kakak yang sialannya juga dengan senang hati menindasku secara halus begini. Tapi alasanku bertahan bukan wasiat itu, aku bisa saja kabur seusai pemakaman ibu. Dia pemilik tatapan sendulah yang membuatku tak goyahnya diam di studio seni ini. Dia yang berkulit putih langsat dan gigi kelinci serta lesung pipitnya yang sangat manis terdiam duduk di tubir jendela kamar atas rumah kuno jaman belanda itu. Kau Rinai, alasanku yang sederhana untuk betah memahat dan mencuri pandang ke arahmu yang selalu membaca buku di sana. Dua bulan lalu dia memangku Bumi Manusia. Sebulan berlalu kemudian kulihat dia kusyuk membaca Anak Semua Bangsa. Dan detik ini pukul 13.00, buku ketiga dalam tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer tengah asik dia baca, aku tebak pasti dia tidak akan mampu menghabiskan buku tebal berjudul Jejak Langkah itu dalam sebulan. Sungguh aku ingin mendekatinya dan menyapanya, “hey manis apa kabar?” Begitulah akan aku sapa dia. Pasti dia akan tersenyum sangat manis. Ah aku seorang pemimpi ulung yang tak tau diri.

***

Jo selalu mengajakku jalan jalan mengitari kompleks perumahan ini pagi hari, ibu masih terbaring nyenyak setelah di bius oleh dokter. Jo bilang Ibu terguncang jiwanya setelah ditinggal ayah yang lebih dahulu pergi.

“Kau tak usah semakin muram begitu, bukankah kau akan ke Prancis?

Aku menghela nafas berat, langkah Jo kuimbangi.

“Aku mendukungmu kuliah disana?”

Ku jawab dengan anggukan saja. Malas menanggapi celotehnya. Rinai yang dahulu kecil mungil dan sering kali memintaku menggendongnya sekarang tengah duduk anggun di teras bersama ibunya, Mevrouw Fey. Keduanya semacam lukisan bergerak, indah untuk di nikmati.

“Hush jangan melihat mereka seperti melihat lukisan, mereka benda hidup. Lihatlah Mevrow tengah melotot ke arahmu.

Aku terhenyak, benar saja ucapan Jo. Aku di pelototi ibunya sampai matanya mungkin akan keluar dari rongganya. Kami meepercepat langkah menjauh dari rumah itu, padahal Rinai sama sekali tidak terganggu akan adanya pribumi yang memerhatikannya. Dia kusyuk membaca Bumi Manusia.

***

Patung cupid pesanan dokter yang merawat ibu sudah aku selesaikan. Masih banyak lagi, kali ini aku mau istirahat sejenak, duduk menekur menghadap jendela yang mengarahkan pandanganku ke sebuah berlian yang tengah duduk membaca itu.

“Ini ada kue dari Mevrow Fey. Kau belum makan bukan?”Jo masuk membawa piring bening dengan kue di atasnya.

“Dari tadi seharusnya kau bawakan ini untukku, aku sangat amat kelaparan.”

Jo terbahak melihatku bersungut-sungut.

Dia taruh klapertart itu di atas meja kecil dari kayu jati itu. Aku beranjak mencuci tanganku dulu.

“Kau bilang dari Mevrow?kau serius? Yang rumahnya memantati rumah kita ini bukan?”

Aku berjalan mendekati Jo yang tengah asik memerhatikan patung hasil pahatanku. Dia tidak ada tanda tanda untuk menjawab, maka aku pukul bahunya.

“Iya…memang Mevrow yang mana lagi?”

“Siapa yang mengantarkan kue itu?”

“Pembantunya, mana mungkin tuannya sendiri, sudahlah pertanyaanmu aneh sekali. Cepat makan lalu selesaikan tugasmu. Kau kalah gesit denganku, lihatlah kedalam studioku, lebih banyak tinimbang yang sudah kau selesaikan.”

Lagi-lagi di suruh gesit, harusnya aku bertukar studio dengannya, aku banyak melamun menatap Rinai, aku pegang tengkukku, mengaku bersalah. Jo menepuk nepuk bahuku selayak mengibaskan kotoran dari sana, kemudian berjalan pergi keluar dari studio ini.

Kemana Rinai? Dia sudah tidak duduk di sana. Jam berapa ini? Oh pantas saja, pukul 14.00 dia tak mungkin betah membaca lebih dari satu jam di sana.

Aku segera lahap kue itu, ukurannya setengah loyang. Sebelum aku berhenti mengunyah suapan pertama, Jo datang lagi, kali ini tergesa gesa air mukanya terlihat tegang.

“Ada apa Jo?”aku berdiri dan menunggu jawaban.

“Kau ada hubungan apalagi dengan Rinai? Kenapa bodyguard keluarganya datang kemari dan menanyakan keberadaanmu, kau buat masalah apa?”Jo masih tegang

Tenggorokanku kering sekali rasanya, aku telan ludah masih belum licin rasanya. Jo menarikku kedepan rumah untuk segera menemui orang dengan kumis bapang itu. Aku gemetar ketakutan, terakhir berurusan dengan orang tinggi besar berkulit hitam dan mata senantiasa melotot itu saat aku ketahuan memandangi Rinai di depan teras. Beruntung sekali saat ini aku bisa melihatnya puas puas di jam 13.00 .

Aku sampai di ancam akan di pecut bila terus memandangi Rinai. Nah sekarang ini aku sangat kebingungan, kali ini apa ulahku?

Jo menempel padaku menemui orang itu.

“Menjauh Jo, kau ini kenapa?”

Dia tak menggubris.

Lelaki itu duduk takzim, kami mendekatinya sangat pelan berjalan, takut mengganggu singa tertidur.

“Tuan!” Serunya cepat berdiri dan tersenyum padaku, kami dibuat bingung, teramat bingung

“Ada keperluan apa kau kemari? Kan aku tak buat kesalahan?”

Kemudian aku menelan ludah yang seadanya dalam rongga mulut, tenggorokanku kering sekali, kaki gemetaran. Jo masih berdiri di sampingku, mengamati situasi.

“Tidak tuan, tak ada kesalahan yang tuan buat.”

“Lalu ada apa kau kemari?”aku tengok di pinggangnya ada sarung bedil yang mungkin saja siap meletupkan peluru ke badanku ini.

“Tidak tuan, saya kemari ingin memberikan surat dari Noni.”

Patah patah aku ambil surat beramplop putih itu. Jo masih was was siap tau pistol itu di tarik laki laki bertubuh tinggi besar itu dan menembak mati kami berdua.

“Noni juga bilang sama saya, bukunya masih belum selesai di baca. Beberapa bulan lagi baru bisa di kembalikan”

Ketakutanku pada lelaki ini perlahan menghilang.

“Tugas saya sudah selesai, mari tuan.”dia membongkok bongkok, suatu kejadian yang langka sekali, baru kulihat dia begitu sopannya.

Jo masih mengamati orang itu ssmpai benar-benar menghilang, aku sibuk dalam pikiranku sendiri. Aku bringsut masuk ke studioku, Jo tak mencegahku. Aku ingin cepat membaca surat darinya.

Begini bunyi surat itu

Untuk Ghofar,

Terimakasih atas pinjaman 4 buku ini, aku sengaja duduk di tubir jendela kamar atas itu demi agar kau melihatku yang memang benar benar mrmbaca, kan banyak orang butuh bukti?, mungkin kau juga menginginkannya. Ku dengar kau akan melanjutkan kuliah di Perancis? Kau akan belajar seni lukis disana?.

Ghofar…

Aku baru pertama kali mengirim surat begini. Aku ingin memberitahumu, bulan depan aku harus segera ke Amsterdam, kuliah disana. Ayahku bilang aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran. Ghofar, izinkan aku membawa empat buku ini, setelah semua selesai aku janji akan mengembalikannya, mungkin bersamaan saat aku pulang liburan. Ghofar aku tau kau kehilangan semangat ketika ibumu meninggal. Maaf Ghofar..tapi aku rasa kau tak selemah itu. Aku harap kau bisa segera berangkat ke Perancis.

Sejak kecil kau memang selalu menjadi pelindungku, kau jangan takut pada mata galak Mama ku. Kalau semua pada takut dan menjauhiku bagaimana bisa aku berkembang. Beruntung kau punya jiwa tak gentar, kau berani memberiku pinjam bacaan ini melalui pembantuku.

Sekali lagi terimakasih, padahal aku tak pernah meminta, tapi kau memang mengerti kebutuhanku, semenjak Mama melarangku dekat dekat dengan pribumi, aku berhenti meminjam buku padamu. Beruntung aku punya kau Ghofar. Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi dari hidupku Ghofar. Kalau waktu bisa mempertemukan kau dan ku suatu saat nanti aku akan sangat bersyukur. Ghofar semoga kau bisa melanjutkan kuliah ke Perancis. Oya apakah kau menikmati kue klapertart buatanku itu?

Sekian saja surat ini.

Nb: aku kesulitan menuntaskan Jejak Langkah yang tebal ini, bagaimana bisa aku segera menyentuh Rumah Kaca, ya Tuhan.

 

Aku tak henti hentinya tersenyum membaca surat itu, dia memang selalu bisa membuatku begini bahagianya. Terimakasih Rinai.

Aku sebentar lagi akan kehilangan dia mulai bulan depan, dan tiap hari yang membosankan tidak ada obatnya, biasanya aku dapat melihatmu di tubir itu. Ya mungkin aku dan kau harus berjalan berjauhan. Aku harap aku bisa berjalan beriringan denganmu kelak, lihat saja aku 10 tahun nanti. Biar sekarang ini aku yang yatim piatu dan sedang berjuang mengumpulkan uang untuk pergi ke Perancis. Mungkin nanti aku bisa beriringan dengan kau Rinai.

 

-Selesai-

BREATHAKING

Nah kalau tadi cerpennya bertema rindu kepada ayah, kalau yang ini temanya #BagunCinta, gue kasih tau guys, cerpen ini sempet ikut lomba di grup titik temu, bekerja sama dengan penerbit super kecenya pak Edi Mulyono (Diva Press), gue lupa gue masuk berapa besar. Ahiya gue masuk 50 besar, pesertanya 250-an, ah gue lupa. jadi akhirnya cuman di pilih 20 besar (nantinya di bukukan menjadi kumcer), dan cerpen ini tumbang kalah. :D. nggak papa gue udah bangga kok. kalian yang mau baca silahkan 😀

 

BREATHTAKING

Oleh : Audhina Novia Silfi

mengintip-kemegahan-pohon-wisteria-berusia-144-tahun-di-jepang

            Dia lagi-lagi jatuh cinta pada pohon itu, Tiap musim semi hari ke tujuh. Aku selalu menemukanya duduk diam di bangku itu sendiri. Selalu saja terlihat muram memikirkan seseorang. Aku hanya menyelami lamunannya , seolah akulah yang di pikirkannya. Breathtaking wisteria Jepang selalu menggodaku untuk melamun. Aku sesekali melayani pelanggan yang memesan aneka kopi dengan atau tanpa kue-kue dengan resep asal Perancis itu.

***

            Merah muda lautan di daratan Jepang. Pun aku ini sama dengannya, penggemar musim semi. Kalau saja aku tidak bekerja mungkin aku sudah mangkir melesat mengganggunya yang duduk diam itu. Tiap pukul empat sore ketika angin bertiup menggoyangkan dahan Breathtaking itu.

Suatu ketika tak ku jumpai dia di bangku itu. Pikiranku ini membuatku selalu ingin mengetahui yang sedang di pikirkan laki-laki itu, salah memang, namun penasaran iya. Dan ku jumpai dia duduk di bangku lain sekitar pohon lainnya. Dapat ku duga, dia pasti memikirkan kekasihnya. Aku malah berharap dia tak pernah memiliki kekasih. Dan apa daya dia harus rela jadi milikku. Ku hela pelan nafasku, pelanggan sudah berangsur surut, Selalu tak lebih dari 13 menit dia terdiam mengagumi lalu sisanya merenung menatap kertas putih dan pensil. Sudah ku duga sejak awal pasti dia pelukis, namun entah mengapa aku ragu dengan tebakanku sendiri ini. Matanya hitam, rambut selalu pendek rapih tak ku lihat sedetikpun dia berpakaian ala anak muda Jepang kebanyakan. Layaknya secreat admire, selalu pula di menit ke 3 saat aku mengagumi betapalah gagahnya dia, pelanggan mengagetkanku memesan Mochacino dan Robusta. Kemudian di menit ke 5 Manager pasti menegurku agar fokus. Lalu Pada menit Ke 10 masih tetap ku curi detik untuk melihatnya yang masih kukuh di bangku itu. Betapalah malang nasibnya bila dia harus jadi milikku. Aku hela nafasku lagi dan terus lagi.

Hari ini, banyak pelanggan datang bersama pasangan, mungkin mereka memahami arti merah muda Breathaking, akibatnya agak membludak juga kedai ini.

“Mo, dapatkah kau tidak diam terus begitu?”

Aku terperenjat, lagi-lagi ada yang mengeluh karena aku tak segesit hari biasa, ini akibat memerhatikannya. Lagi pula mengapa aku memikirkan dia, bukan suatu yang manfaat. Lihatlah Manager melotot begitu sampai bola matanya hampir-hampir meloncat dari rongga.

***

Semalam aku pulang lebih telat dari biasanya. Manager memanggilku menghadapnya. Aku memijat-mijat keningku. Pening sekali di ceramahi begitu panjang lebarnya. Dan pagi ini aku memilih memakai lebih banyak bedak di bawah kelopak mata yang terlalu kembung kantungnya. Upaya ku untuk memperpantas diri berlanjut, mengharapkan si pemilik mata berbinar itu menyapaku dengan tatapan tajamnya.

Kedai belum di buka, Haruka yang membawa kuncinya. Terpaksa aku harus menunggu lama di bangku depan Kedai. Setidaknya ada waktu untuk sedikit memejamkan mata, lalu lalang orang dengan kesibukan masing-masing aku acuhkan saja. Jepang selalu begini, dingin.

“Ayoh masuk!”Seru Haruka mengagetkanku sambil menyentuh bahuku.

Mataku mengerjap-ngerjap, lalu menguap. Aku betulkan posisi syal ku, baru ku sadari Lelaki itu tengah asik duduk di bangku seberang, masih sibuk mengguratkan pensil di atas kertas. Sejenak aku menatapnya

“Ayoh masuk..”

“Baik..”

“Betapa lelahya aku tadi malam, Manager memarahiku.”ujarnya dengan suara tertahan, Aku tengok wajah Haruka lalu urung, wajahnya terlihat kusut.

“Aku pikir hanya aku saja yang di ceramahinya..”

“Kau tak tahu saja Mo, Dia memanggilku setelah kau pergi.”

Aku Baru sadar, ternyata kemarin malam masih ada Haruka di dapur bersama Dua orang kokinya sedang membereskan peralatan, dan mempersiapkan adonan untuk esok hari. Aku menghembuskan nafas, mengepul-mengepul putih di udara. Kami tiba di ruang ganti baju. Baru kami saja yang datang.

“Andai dia tahu, betapa sulitnya mati-matian membuat kue sempurna yang dia mau.”

“Andai dia tahu, bahwa melayani pelanggan itu tak semudah bicara pada kucing.”Aku tertawa singkat

Haruka, gadis itu Chef di Kedai kue ini, Chef lainnya Tochiotome dia pekerja part time. Setelah kami berpakaian kerja kami bergegas menuju tempat masing-masing. Aku harus mempersiapkan etalase agar bersih dan uang kembalian di mesin kasir. Selanjutya harus bersih-bersih sambil tak lepaskan pandanganku pada lelaki pemilik mata sendu yang tiap pagi ada di bangku itu.

Para pelanggan tahu betul Kedai ini memang sudah buka tapi kue yang hangat masih dalam oven, maka mereka selalu datang tepat waktu saat kue-kue itu di angkat dari oven. Satu jam kemudian,

“Kue datang Mo.”Wajah Haruka berseri-seri di ikuti para pelanggan yang mulai berdatangan.

Tochiotome datang langsung menuju dapur membantu Haruka dan Koki yang tadi beriringan datang 10 menit setelah aku dan Haruka tiba.

“Butuh bantuanku Mo?”Aku mengerjap kaget, Haruka ada di sampingku.

Tanpa perlu aku jawab, Haruka sudah melayani pesanan pelanggan. Kedai kecil ini memang kekurangan pekerja namun pemiliknya enggan menambah lagi. Ya sudah jadinya kami saling bantu saja.

Saat aku selesai melayani Ibu dengan anak satu itu, rasanya ingin sekali berteriak dan loncat, dia pria yang ku pikir memang bukan orang Jepang itu masuk, dia yang selalu membawa peralatan untuk menggambar mengambil duduk di salah satu bangku dalam ruangan kedai ini yang sudah sesak oleh pelanggan. Sesekali menengok kiri kanannya yang tengah makan dengan lahapnya kue buatan Haruka. Kemudian aku baru melihatnya tersenyum begitu.

“Hey, Mo!”Aku kaget bukan main, Haruka memukul bahuku

Ada pelanggan yang menunggu untuk di layani

“Maaf..”Aku membungkuk

Aku berusaha segesit angin untuk melayani pelanggan, beberapa detik tadi langkahku terhenti sebab orang itu. Lengah sekali aku ini. Setengah jam berlalu orang itu tak kunjung memesan, kedai masih ramai. Angin begitu dingin menyusup kedalam kedai, padahal penghangat ruangan masih optimal bekerja.

“Monica San, cobalah untuk fokus teliti dan gesit.”

“Baik.”Aku membungkuk malu.

Di saat seperti ini perutku tak mau kompromi. Lapar rasanya, jam istirahat masih sejam lagi. Dia menghampiri etalase, setelah aku melayani pelanggan yang lebih awal di etalase, dia tersenyum menatapku.

“Aku ingin kopi Mochacino.”

“Kue nya tuan?”

“Apa saja, yang penting enak.”

“Baik kalau begitu aku sarankan kue ini tuan.”Dia mengangguk kemudian membayar totalnya.

Kemudian kembali ketempat duduknya. Badanku yang amat gempal ini, memang sudah ku maksimalkan untuk bergerak gesit. Setengah jam berlalu Manager datang, Pria berumur sekitar 60 tahun itu tak pernah sekalipun tersenyum. Meleos begitu saja masuk ke ruangan yang kami sebut neraka. Haruka masih membantuku melayani pelanggan. Tochiotome dan kedua koki itu masih sibuk di dapur. Harum kopi bercampur wangi tepung dan backing powder memenuhi ruangan. Tunggu sebentar, Manager mengerikan itu berbelok arah, menghampiri seseorang di salah satu meja. Menghampiri laki-laki yang memiliki mata berbinar itu. Aku masih agak ketimpang, melayani pelanggan sambil curi-curi pandang ke arah mereka.

Wajah Manager terlihat semakin tak enak rasa, dia menarik paksa orang itu yang tadinya sedang asik menyesap kopi, namun anehnya orang itu tidak berontak, keadaan tetap terkendali para pelanggan masih sibuk berbincang sambil menikmati kopi dan kue. Mereka keluar dari Kedai sederhana ini. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang tengah terjadi. Pikiranku macam-macam.

“Monica-San, kelihatannya kau harus diet sedikit saja. Aku perhatikan gerakmu melambat dari waktu ke waktu.”Ucap Haruka kemudian tertawa ramah, maksudnya menasehati

“Baiklah.”Aku jawab singkat saja, dia juga salah satu atasan di Kedai ini

Lagi pula keinginanku untuk diet sampai kurus sudah aku tancapkan di ubun-ubun sejak melihat laki-laki pemilik mata berbinar itu musim semi tahun lalu. Betapalah tak beruntungnya dia bila dia jadi milikku. Setelah percakapan singkat itu Manager dengan langkah cepat menuju ruangannya. Aku bertanya pada Haruka, dia hanya menganggkat kedua bahu.

***

            Tiga jam penuh pelanggan akhirnya mulai lenggang, Haruka kembali ke dapur. Sebenarnya dari tadi Haruka mondar-mandir dapur-etalase. Tochiotome hanya bekerja untuk 5 jam saja, selanjutnya dia ke tempat kedai miliknya sendiri, kata Haruka dia anak dari teman dekat Manager, di peruntukkan untuk membantu saja.

“Monica-San, ini satu untukmu.”Satu kue hangat yang harum di berikan untukku, Akhirnya makan juga

“Terimakasih Haruka.”Aku tersenyum, langsung lahap menghabiskan kue itu.

Pelanggan sama sekali tidak ada setelah 10 menit berangsur. Aku desak Haruka agar mau bercerita, aku tahu dia tahu segalanya. Aku tahu betul Haruka menyimpan banyak rahasia.

“Aku bisa mati berdiri bila kau tak menceritakan hal itu Haruka, tolonglah aku yang penasaran ini.” Aku merajuk terus, Haruka terdiam sesaat seolah menimbang, baiknya dia ceritakan padaku atau tidak,

“Mungkin nanti malam ketika kedai tutup. Tapi jangan sampai kau menyesal mendengarnya, dan jangan sampai kau umbar ceritaku nanti.”bisiknya dekat telingaku

“Benarkah? Tentu saja Haruka, aku dapat di percaya.”Senyumku mengembang sampai mau meledak

***

Statistika pelanggan turun naik sejak siang sampai malam, aku harus rela mabuk kelelahan melayani berbagai macam sifat pelanggan, Setelah aku serahkan penghasilan seluruhnya hari ini kepada Manager, aku cepat-cepat meminta Haruka segera bercerita, dia juga telah selesai membuat adonan, Dua koki itu sudah pulang.

Aku sudah siap mendengarkan, kami berhadapan. Haruka pelan memulai, ini baru mulai namun sudah membuat sesak dada, lama-lama benar-benar sesak. Haruka menepuk bahuku.

“Kau suka padanya Mo?”

Aku mengangguk. Ya ampun bagaimana bisa? Baru saja aku bertekad mengecilkan badanku ini demi laki-laki itu, ternyata begini jadinya. Harapanku terlampau tinggi. Aku masih sesak, Haruka pergi ke ruang ganti, aku masih merutuki nasib.

Ucapan Haruka tentang laki-laki itu masih terngiang-ngiang

“Namanya Hasby, dia Islam. Bukan orang biasa kebanyakan di Jepang, Ibunya Indonesia, Manager galak itu ayahnya. Kabar bilang, dia berkali-kali menolak anaknya setelah mempunyai agama, entahlah Mo, nah Mo Apa kau menyukainya?”

-Selesai-

Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Halo readers :D, ini cerpen pertama malam ini, ini cerpen sebenarnya sengaja di buat untuk mengenang seorang Ayah, kalau kalian mengikuti kisah blog ini, berarti kalian tahu si penulis udah yatim, pas lagi benar-benar kangen beliau, gue bikin cerpen ini, dan berakhir di blog pembuangan ini, karena kalah saing :D. Tapi, tulisan tetap tulisan, biar blog ini tau perkembangan menulisku.hahaha. Selamat membaca 🙂

Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Oleh : Audhina Novia Silfi

 DSC02210.JPG

Untuk membujuk diri agar bahagia sendiri, dan jatuh cinta sendiri, lalu rindu sendiri

Aku memaknai jatuhnya menjadi suatu sensasi yang luar biasa, memaknai betapa indahnya kala setiap malam dia menjemputku dari tempat kerja. Memaknai rinai pertama, hujan pertama, desiran angin usik pertama di bulan Juli. Setiap kenangan itu hanya aku pingsankan biar hilang begitu saja. Namun itu setahun lalu, kini aku korek kembali dengan repotnya kenangan yang membuat sesak dada itu.

Andai saja aku kenal dengan pemilik rumah itu, yang di depannya ada taman dan tumbuh pohon dengan banyak bunga kamboja merah, di bawah pohon itu dia selalu menungguku hingga terkantukpun hirau. Andai aku tak pernah bilang bahwa aku ingin kabur dari rumah dan mengekost saja sebab ada suatu padang bulu yang saat itu tak dapat aku pahami, karena pikiran sudah terkontaminasi dengan dendam masa kecil karena kurang urus.

“Vay, tinggallah saja di sini toh hotel ini memang sedang butuh tamu, kau lihat kamar seluruhnya kosong.”Jo selalu begitu, padahal kamar hotel tinggal sisa dua, dan selalu di kosongkan hanya buatku. Ah dia sahabat yang aneh, mengorbankan pelanggan yang tadinya ingin menyewa kamar, lalu urung setelah Jo dengan wajah garangnya bilang, hotel sudah penuh, padahal hampir keluar dari mulut resepsionis gemuk namun cantik itu, bahwa kamar masih tersedia.

Demi agar tak menyia-nyiakan ajakan Jo, aku pilih saja ajakan dia, ketimbang ajakan hatiku yang bilang Pergi kemudian datang ke Gang itu. Kalau hati gundah yang dapat aku lakukan hanya curhat kepada Jo, ya walau seringnya aku tetap dianggap adik perempuannya, bukan sebagai sahabat masa kecilnya.

Tadi aku sempat berandai, bisa kenal dengan pemilik rumah itu. Ya supaya aku dapat bicara banyak tentang orang yang setiap malam menjemputku itu, dan aku akan berusaha memodalinya uang untuk memasang CCTV, agar dia menaruhnya tepat di depan gerbang dan CCTV itu merekamnya yang tengah duduk di bawah pohon kamboja itu. Biar logika selalu menang. Aku membiarkan kenangan yang aku buat-buat supaya hatiku lega. Namun sebenarnya sama saja.

“Memangnya kalau pemilik rumah itu benar-benar memasang CCTV, kau tidak akan menangis bila melihat kenangan tiap malam itu?”Jo mengkerutkan keningnya, bingung sendiri.

Kami duduk di Cafe Bar, salah satu tempat favoritku di dalam hotel milik keluarga Jo ini. Aku menyesap terus kopi ku, Jo masih menunggu.

“Sepertinya aku tidak akan menangis aku akan tertawa dan tersenyum, karena bersyukur. Sempat mempunyai seseorang yang begitu kuatnya menunggu setengah jam atau bahkan satu jam demi menjemputku dengan payung merah hati bila hujan sedang mengolok karena aku tidak memiliki kendaraan.”

Bahkan aku rindu betapa gagahnya dia berjalan di belakangku, membesarkan hatiku agar kuat jalan terus kedepan, walau jarak anatara gang dan rumah setengah kilometer. Tiap hujan yang ku maknai sangat amat indah. Sungai di bawah jembatan itu bahkan malu malu mendahuluiku. Aku menontoni sungai dari atas. Dan bilang banyak cita masa depanku. Aku terlalu gelisah untuk dapat memahami, terlalu gagu untuk percaya bahwa banyak hal yang sebenarnya tak mungkin dapat aku gapai walau sekuat apapun berlari mengejarnya. Namun sosok yang selalu berjalan di belakangku itu selalu menerangi jalanku dan bicara dalam bahasa lain, memotivasiku dengan berjalan terlebih dahulu. Ketikaku sedang terenyuh dengan lenggokan para air yang sedang Permisi sambil tersenyum menatapku. Aku rindu sungai itu dan berhenti sejenak untuk merenung. Walau hanya setahun, namun aku rasa itu setahun di kali dengan hari-hari yang telah terlewat tanpanya.

“Kāu tahu Vey, hidup ini sebenarnya mudah, Cuma kitanya sendiri yang bikin ribet. Pastikan saja jika kau diam di tempat, mungkin kau akan hidup stagnan, ya tapi hidup penuh kesyukuran. Tapi ya kodratnya manusia memang terus memenuhi nafsu dunianya to.”

Aku tadinya ingin mengangguk namun aku urungkan saja niat muliaku itu, toh yang hidup pahit bukan Jo. Dia sudah terbiasa menyesap manis diantara pahit kopi. Tangan tangan luwes pianis itu memainkan nada-nada yang membuatku mengantuk, Tadinya Jo akan memesankan minuman kesukaannya, minuman yang konon bisa membuat hidup indah dalam sekejap. Dari pada di burui kegelisahan karena memang pasti aku dengan halus akan menolaknya, Jo dengan senang hati menyediakan kopi se teko peuh.

Aku membujuk diri agar menumpahkan segala isi hatiku kehadapan Jo malam ini, walau membuat jarak diantara kita akan becek-becek, Masalahnya memang sudah sangat klasik, uang, masa depan, dan bahagia. Di susul 9 huruf BAGAIMANA?.

“Jadi bagaimana?”

Ku lirik sosok Jo yang gagah kebapak-bapakan di usia dini kembali meletakkan cangkir kopinya. Mengelus pipinya dengan ibu-jari, mungkin menimbang. Sesaat tadi aku berpikir ingin menjadi ibu dari jari-jariku saja, Jo membenahi posisi duduknya. Cafe Bar ini sangat amat membuatku ngantuk, nah memang lebih baik tertidur di meja Café ketimbang tidur di kamar gratis pemberian Jo itu.

“Kāu tahu Vey, aku bukan jago dalam urusan macam ini, setidaknya Dira bersedia mencintaiku, entahkah karena dia sejenak juga sempat menimbang, wajahku pas-pasan sih, tapi setidaknya aku cukup materi untuk bermasa depan dengannya, entah walau mungkin cerai.”Dia ngeri membayangkan kata-katanya sendiri, bergidik sendiri. Lalu kembali keposisi awal duduknya tadi.

“Vey, sudah waktunya kamu menjauh dari kenangan.”

Aku mengangguk saja, apakah dia mabuk kopi. Tidak. Dia Jo memang selalu begitu anehnya menasehatiku, Kebapakan di usia dini. Gayanya memang semacam bos perlente, Cuma aku masih bingung, mengapa kumisnya selalu begitu berantakannya, mengacaukan wajah manisnya saja, baiknya di cukur habis saja. Oh Dira adalah wanita paling bahagia sekarang, Siapapun akan kagum pada pasangan sederhana kelihatannya, dan emas di dalamnya, lihat siapa yang begitu kokoh hebat, siapa lagi kalau bukan Jo si sok tahu, yang anehnya selalu aku mintai pendapat. Sudahlah dia satu-satunya sahabatku.

Aku ini semacam jelaga di dalam dapur, mengusik kecerahan aura Jo. Namun aku sudah biasa di pandang begitu. Sudah sangat terbiasa.

“gelombang laut saja jatuh cinta pada pantai, dia selalu mencuri agar terus dekat dengan sang pantai.”

“Memanglah harusnya begitu. Mencari dan menemukan. Begitu makasudmu Jo?”

“Tidak, aku hanya ingin dia datang, aku ini pemakna sejati Jo. Tidak akan membuat susunan indah yang sudah aku tanda tangani sebelum aku di lahirkan menjadi serumit urusan yang aku paksakan akhir-akhir ini.”

Aku kehabisan air kopi, ku sambar kue yang centil kelihatan dari penampilannya itu. Aku habisi kecentilannya dalam sekali lahap. Jo mendesis.

“Vey, kue mahal. Maknai tiap kunyahanmu. Ini mengapa Tuhan menyuruh seseorang menciptakan sendok kecil ini.”

Jo menyosorkan sendok yang tadi telah dia isi sepotong kecil kue miliknya. Aku sudah menelan habis kueku. Giliran menyambar saja apa yang di sodorkan kepadaku, Jo menyuapiku.

Aku menggeleng

“Sudahlah Jo, aku ini pemakna sejati. Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel.”

“Apa lagi kombinasi yang mengalahkan kombinasi tragis pembujukan diriku untuk tidak merutuki begitu tragisnya nasibku.”Sejenak menghilanglah beban bersama dentingan piano.

Sedetik tadi, café ini tinggal aku dan Jo. Pianis sudah pamit undur diri. Tinggal aku, Jo, lampu temaram, dan wangi kopi, serta dingin.

Teko diantara cangkir kami di isi penuh, Kami bertekad begadang.

Berlarut malam semakin lama semakin terasa lama saja, terlalu banyak hening ketimbang mengoceh. Jo sedari tadi mengisi selalu penuh cangkir kopiku, entah kopi apa yang sejak tadi aku minum, apa mungkin pagi nanti aku tak dapat memejamkan mata, karena over dosis caffein, hey memang over dosis caffein begitu ya? Sudah jangan di buat rumit, ini hidup nikmati saja. Seperti aku menikmati betapa kosongnya aku ketika malam pertama tanpanya berjalan di belakangku, menerangi tiap langkah jalanku, tak membiarkan aku jatuh tersungkur.

Kini aku biarkan Jo giliran curhat. Bulan depan dia akan menikah dengan Dira. Aku mengangguk-angguk sangat amat setuju, Jo sudah aku anggap kakak laki-laki ku sendiri. Langit malam mungkin cemburu kepadaku yang memiliki Jo yang perhatian. Aku siap mandiri sebulan lagi.

Aku sudah mandiri sejak orang itu tak ada lagi di belakangku, namun belum sepenuhnya sebab Jo menawarkan begitu banyaknya kebijaksanaan dewasa usia dininya itu kepadaku.

“Uah Vay, kau ini. Aku tidak menawarkan semua kue ku, mengapa malah kau habiskan.”Jo menunduk sedih lalu urung, kemudian meringis, kami tertawa. Seolah memang ini hair terakhir bersama Jo.

Jo merengkuh bahuku, kemudian menepuk pelan berkali-kali di punggungku.

“Kāu memang gadis kuat yang ku kenal, terus begini saja, aku senang melihatnya.”

Sejenak aku melihatnya tersenyum, lalu menlanjutkan “Malam ini keluarkan saja, buka saja bendungan itu, lepaskan dan isakkan saja, toh hanya aku yang melihat, biar sampai becekpun meja ini.”

Aku tersenyum getir kemudian perlahan menangis. Betapa hati masih sulit menerima. Aku rindu Ayah. Dapatkah kau datang sejenak kedalam mimpiku Ayah!, aku ingin pamit untuk mencari laki-laki yang setidaknya sama sepertimu.

MATA KEMARAU

Hallo readers apa kabar, kali ini aku bakal posting cerpen. Kalau bukan karena untuk tantangan Kampus Fiksi #FragmenKemarau, mungkin aku masih pingsankan seluruh ide-ideku. Ya dari pada banyak omong. Mari membaca o(^^o)
Mata Kemarau
Oleh : Audhina Novia Silfi

Ranting pohon jati di pinggiran jalan itu seolah bicara kepadaku, apa yang tengah kau tunggu? Katanya, dan mungkin akan ku jawab, seseorang yang mampu melihatku. Kini ranting terlalu jauh dari daun yang telah jatuh. Aku sekarang bukan aku yang dulu, jangan bahas mengenai hal itu dahulu, tentang kehilangan dan tak pernah di temukan. Terlalu asikan melamun di atas sini, jangan-jangan mandor sudah siap memarahiku. Aku bergegas turun dari atap bangunan yang sudah 40% selesai ini.
“Ini siapa yang Welder disini?”benar saja dia mencari-cari Weldernya.
“Anu bos..saya tidak tahu.”
Aku menghampiri pria yang paling gemuk dan perutnya buncit itu tengah bersidekap dan menatap tajam.
“Saya bos, ini tinggal sedikit lagi. Akan segera saya buat laporannya.”
“Kau ini bisa gesit tidak kerjanya? Katanya welder berpengalaman. Selesaikan sebelum sore ini berakhir.”
Matanya semakin melotot, wajahnya seperti hendak meledak, mengingat betapa banyak anak buahnya yang juga malas-malasan akibat keterlambatan gaji.
Embusan angin di atas sini seolah membekukan keseluruhan milikku, termasuk hatiku, maupun simpatiku. Ya ampun aku benar-benar lapar.
***
Malam semakin larut, aku sudah berada di tempat yang lebih mirip dengan tempat pengungsian. Ruangan 7 x 7 ini di isi oleh 5 pekerja bangunan. Tadi sore karena tidak sama sekali di antara kita membawa uang, solusi utamanya adalah gopreng habah, entah mengapa tindakan mencari tumpangan di bak truk di sebut begitu. Kini kita sibuk masing-masing, sudah lelah dengan segala hal tentang bangunan 40% jadi itu.
Seperempat sore sebelum kami pulang, aku dan kawanku memilih sejenak merokok dan melamun. Tiap sekitar pukul 17.00 aku selalu memperhatikan gadis itu. Walau terlihat kecil dari jarak ini, namun seolah aku tak asing dengannya. Sampai-sampai aku mengetahui jadwal pakaian yang dia kenakan. Seolah memang aku ini kurang kerjaan, sangat kurang kerjaan.
Dengkuran teman seperjuanganku mengusik lamunanku. Di tempat ini, hanya ada kipas angin dan manusia. Dan bila di jelaskan lebih jauh maka menjadi, kipas, angin, manusia, dan seseorang yang tengah kesepian. Aku mendelik ke arah tubuh-tubuh kekar yang sudah tidur nyenyak. Saatnya aku mencari udara segar, sudah menjadi kebiasaan tak bisa tidur sebelum jam 11 malam. Rokok, kopi, dan pikiran linglungku.
“Hey, sejak kapan Mas Yon di sini sendirian?”Teman yang aku ikut bawa dalam perjalanan mencari uang ini akhirnya menghampiri.
“Memangnya penting?”
Aku berhenti menghisap rokok, aku lirik ke arahnya namun urung.
“Sedang apa di sini? Masih bingung cara agar bisa berkenalan dengannya?”
“Ah sudahlah, kali ini aku malas membahas yang itu, ini lebih penting dari kelihatannya.”
Dia sudah duduk di sampingku, seolah dia memang di takdirkan bersahabat denganku sejak dari kandung, sehati dan sejiwa.
“Memangnya apa?”
“Kalau terus di proyek ini mungkin uang kita akan habis saat gajian nanti. Aku tadi siang sempat bertanya pada mbak-mbak penjaga warteg itu, utangku sampai 600 ribu, belum kopi dan rokok tiap hari begini.” Aku mengusap-usap keningku. Pikiran malas memikirkan uang, namun selalu terlintas begitu saja.
“Ini bukan Mas Yon yang saya kenal, tumben sekali memikirkan uang?”Dia menepuk punggungku
Benar katanya, kali ini aku sangat berubah, tak lebih dari sekedar orang putus asa yang pikirannya tentang uang terus menerus. Kelihatannya memang aku harus segera pindah proyek setelah menerima gaji nanti. Yang kalau di hitung mungkin hanya sisa 500 ribu, ah sudahlah malas sekali berhitung.
“Jadi bagaimana dengan gadis yang selalu Mas Yon tatapi tiap sore itu?”
Ini perkara yang bersisihan, kali ini aku juga tengah malas membahas hal itu. Aku diamkan saja si Rae, dan akhirnya ikut ngopi dan merokok.
***
Tak hanya sekali ini aku menemukan mandor pelit seperti mandor di tempat ini, daripada mengeluh tak kunjung ada hasil, baiknya aku bergegas memulai pekerjaanku.  Orang bilang ketika jatuh cinta, seseorang akan menjadi semangat. Dan ku pikir aku tidak sedang jatuh cinta. Mungkin sekedar kagum dengan gadis itu. Atau jatuh cinta yang tertunda. Istirahat nanti aku akan mencoba mencari keberadaan gadis itu, aku yakin dia bekerja di rumah sakit tepat depan bangunan yang sedang aku kerjakan ini. Rae belum tahu hal ini, dia Welder di bagian lain dari bangunan, sepertinya aku akan mengajak anak itu untuk menemaniku, betapa ciutnya nyaliku.
Aku bekerja di bawah pengawasan pengganti mandor, entah hari ini mandor gendut itu tak muncul dan bersidekap sok tangguh.
“Mas Yon mari makan.”teriak Rae mengusik tugasku yang belum juga kelar.
“Duluan saja Rae, nanti aku menyusul.”Aku mengibas mengusirnya
“Yasudah saya duluan.”
***
Tadinya aku ingin mengajak Rae, namun sepertinya jiwaku benar-benar tangguh, aku mendatangi tempat itu. Rumah sakit ini sangat luas, aku saja yang bodoh dan nekat, mengapa tidak menunggu saja dia lewat seperti tiap sore di lakukan, namun saat sore hari aku masih terjebak dengan proyek yang harus aku kerjakan, aku duduk sejenak di bangku taman bawah pohon beringin, pasti orang-orang yang melihatku bingung. Mengingat betapa kumal dan pakaianku benar-benar kotor.
Benar saja satpam menegurku, dia kira aku pekerja bangunan rumah sakit.
“Kau seharusnya tengah bekerja di gedung baru ruang VIP itu bukan?”
Aku menggeleng, “Saya bukan pekerja bangunan Pak.”Menggeleng penuh tenaga
Satpam itu akhirnya pergi, memilih tak peduli lagi.
Beberapa detik setelah Satpam itu pergi, aku jadi ingat pekerjaanku, aku lantas berlari menyusuri jalanan rumah sakit yang tengah padat ini. Di tengah ke terburuanku ini, aku menabrak kursi roda kemudian benar-benar terjatuh karena lantai licin. Ya ampun, aku segera bangun, kemudian melihat yang ada di kursi roda. Kemudian bergegas minta maaf kepada pasien yang ada di kursi roda
“Pak maafkan saya pak, saya terlalu terburu-buru.” Aku tak memandang siapa yang berada di depanku
“Yon? Kau Lion Welder anak buahku bukan?”Nada suaranya sedikit menyentak
Aku semakin kaget saja dengan kejadian siang bolong ini
“Pak Mandor? Pak maafkan saya pak.”
Dia menatapku semakin sarkas saja, aku tidak tahu dia sedang sakit, kepalanya di bebat perban. Aku tengah menunggu jawabanya.
“Yon kembalilah ke proyek, kau welder berbakat. Dan sementara itu aku juga minta maaf pabila aku terlalu galak, dan aku minta do’a dari kalian semua anak buahku.”
Aku melemaskan otot dan jantungku, ternyata tidak seseram yang aku bayangkan. Aku mengangguk takzim, bingung sekali harus mengatakan apa. Suasana agak mengeras begini rasanya, aku sejenak tadi menjauhkan fokus dari mandorku itu, beralih kepada suster yang mendorong kursi roda mandorku itu.
“Yon kau mau apa lagi? Cepatlah bekerja kembali.”
“Baik Pak.”
Aku sekarang enggan menjauh, lihatlah perempuan yang tengah berada di belakang mandorku ini. Yang sedari tadi aku cari-cari.
“Awas kau berani lirik anak ku Yon!”
Aku terperenjat, hal bodoh macam apa ini?, ada banyak hal yang bisa di kaitkan, mengapa perempuan ini ber bapak seperti mandorku ini. Perempuan itu tersenyum menatapku, wajahnya semakin teduh bila dia tersenyum begitu. Aku tak tahu sama sekali yang aku rasakan saat ini.
“Yon jangan coba-coba kataku.”
Aku mengangguk, kemudian pamit dan berjanji akan mendo’akannya cepat sembuh. Aku berjalan seperti terhuyung kesana kemari, rasanya seolah khayalanku musnah begitu saja.
***
“Mas Yon kenapa, di perhatikan dari tadi seperti kebanyakan pikiran saja.”
Dia menghampiriku, seperti biasa sebelum benar-benar akan pulang kami duduk di atap gedung. Aku terus saja menghisap rokokku.
“Rae, aku lupa menceritakan hal ini, kau tahu apa yang aku lakukan tadi siang?”Aku meliriknya
“Tak mengerti sama sekali.”
“Aku menemui perempuan itu di rumah sakit, hanya saja satpamnya terlalu galak.”
“Maksudnya Mas?”
“Sepertinya kita harus mendo’akan Bos Mandor segera sembuh.”
“Mas Yon semakin meracau saja, kurang kopi sepertinya ya Mas?”
Aku memilih bungkam saja, malas menjelaskan kepada Rae. Benar kata mata kemarau, lupakan kemudian menangislah bersama hujan. Benar pula pabila aku terlalu cepat menyerah.
Rae menyerahkan sebungkus rokok kepadaku,
“Sepertinya Mas Yon kurang rokok juga, silahkan ambil punya saya.”
Aku nyengir lalu menepuk punggungnya.
Selesai

KOTA ES DAN EROPA

2015, aku ingin banyak menulis di sini sekiranya bermanfaat atau tidak sama sekali, setidaknya aku menulis.
Berikut cerpen pertama di Biru Pupus ini. Aku masih mengagumi kota es-Sukabumi, yang nampak selalu dingin di pagi hari.

KOTA ES DAN EROPA
Oleh : Audhina Novia Silfi

Dia tergolek lemas semacam kapas berpilin berukuran micro (µ) ,semalam Rin tidur di kamarnya. Dia bilang sedang ingin bertapa. Angin menelusup masuk lewat kisi-kisi jendela kamar berukuran 4×5 meter itu. Pagi ini Rin terbangun melihat wajah gadis itu yang terantuk sendu. Matanya berkantung hebat.

***

Tiga tahun berlalu, wajahnya semakin lusuh tersolek debu. Rin berjalan di koridor ini seminggu sekali.
Memangnya angin bisa bicara?, lantas apa yang musti di jawab?. Luka tertoreh jelas di sana, di batu besar bukit kecil itu. Biarlah dia meminum wine itu sampai puas. Sampai tak bisa mengamuk lagi. Mengingatnya membuat Rin semakin menohokkan luka kepada batu itu. Menusuki batu dengan paku besi sampai puas tiada ampun membuatnya lega. Memangnya Batu bisa bicara? Lalu Rin harus menjawab nestapa?. Kalau memang ketika paku tertancap di batu keras itu. Rin bersumpah akan memanggil namanya.
Dia seharusnya menemani Rin di bukit itu. Mengamuk bersama pada tanah liat terpijak. Tania, gadis itu terus saja melolong jika wine sudah setetes dari botol. Membuat Rin bising lalu menangis. Hujan Desember ini semakin menjadi saja, tanah terpijak itu licin karenanya. Kalau saja Tania disana, dia bisa meluncur bersama.
Rin bermata sipit itu semakin menyipit. Rinai menetes mengalir di wajahnya.
“Jangan disipit-sipit begitu, kau ini si sipit.”
Suara itu mengubun lagi seketika saat dia tergelincir karena kantuk dari batu itu.
Matahari ikut tergelincir dari singgahnya. Rin bergegas pergi dari bukit itu. Membawa kecewa karena Tania tak bersamanya.

***

“Kalau tahu begini mending aku masuk siang!”Sungut-sungut wanita berpakaian serba putih itu kepada kawannya.
“Sudahlah, lagi pula tak semerah lipstick kan.”Ucap yang satunya menghibur.
Rin tertunduk, mengira pasti Tania menumpahkan wine lagi ke badan wanita itu.

***

Tubuh semampai indah itu terkulai lemah. Di ruangan itu sendiri cukup luas bak ruang penjara. Bedanya Tania di ikat rantai. Dia tak segan menumpahkan isi lambungnya bila kenyang karena wine. Rin meratapi betapa salahnya hari ini, hanyakah karena itu dia harus mengorbankan Tania yang sekarang gila wine itu. Selalu tertunduk semakin dalam ketika memasuki ruang sekap Tania.
Lihat, gadis berkulit putih pemilik mata kejora itu masih saja berantakan, lantai merah dimana-mana. Terus saja begitu, melolongkan namanya yang tak asing lagi. Mata sipit itu mengalirkan rinai lagi, kemudian dia memilih segera meraih rambut Tania untuk di jamahinya, di sibak-sibak sampai wajah manisnya itu tertampak.
Usanglah sudah harapan untuk sama-sama mengarungi indahnya kehidupan kelak. Tania oh Tania, batin Rin masih mengkal. Akhirnya tak tahan juga, Dia berteriak.
“Tan, tunggulah disini. Akan ku bawa bocah biadab itu kemari.” Dia mengelus pipi merona itu kemudian berlari keluar dari ruangan terkutuk itu sambil menepis rinai yang membasahi pipinya.

***

Januari jelas menempel di tembok tiga tahun lalu
“Kini giliranmu Rin.”ucap Tania, kemudian menutup mulut menahan tawa.
“Tidak mau, jikalau kau mau meminum ini sampai habis dalam seteguk, aku baru mengindahkan apa maumu itu.”
Tania agak terperangah mendengar kalimat itu meluncur dengan lancarnya dari Rin. Apa boleh buat, Tania merangsek mengambil botol itu. Matanya tajam melirik, ingin membuktikan bahwa dia mampu mengambil tantangan demi agar Rin melaksanakan gilirannya.
Giliran bodoh, mengencani lelaki bernama Robert, pria keturunan Belanda-Inggris yang telah lama diam di kota es ini. Hanya untuk mendapatkan gombalan yang kata Tania sangat manis mendayu-dayu.
Rin melongo, di fikirnya sedang ada anjing laut yang tak lebih sedang meneguk habis bir itu. Rin menggeleng lemas. Ternyata Tania tak main-main, ingin memperkenalkan aku pada si Belanda-Inggris itu. Ya sudahlah, dengan hati mengkal Rin masih kikuk melihat Tania sejenak condong ke kanan lalu ke kiri kemudian jatuh lalu berdiri lagi.
“Pergilah sana menemui James, dia telah menunggu sejak lama kedatanganmu.”ucapnya patah-patah. Nama lelaki itupun salah ucap benar-benar melenceng.
Rin mengkal dan lesu. Baiklah dia berganti pakaian dan sedikitpun tak bersolek namun gayanya ini natural tetap manis, dia acuhkan Tania yang sedang mabuk berat di ranjang Rin.
“Cih..kalau bukan karena Tania, aku malas menemuinya.”Rin sepanjang jalan tak habis-habisnya mengumpat diri sendiri, apa gunanya jika harus pada akhirnya malah dia yang menemui lelaki itu.
Dan inilah awal kebobrokan itu. Rin datang ke tempat yang pelatarannya penuh dengan mobil bergaya dan beberapa motor besar terpakir necis. Mobilnya terpakir diantara yang lainnya. Penuh sesal merambati seluruh tubuhnya, Ia berjalan dengan malasnya ke dalam Les Trois, Coffeshop bergaya Eropa.
Benar saja inilah awal kebobrokan itu. Robert mantan suami Tania itu sedang menungguinya. Tania sudah benar-benar gila. Ia hendaki Rin berkencan paksa dengan segumpal daging besar yang sedang menatap kagum kearah Rin. Ini sudah benar-benar tak sebanding dengan tantangan Rin yang dahulu, saat Januari tahun lalu, dia hanya menginginkan Tania memanjat tebing terjal gunung belakang rumah untuk mendapatkan bunga berwarna ungu yang mudah layu yang entah apa namanya, sekarang Rin benar-benar menyesal telah melangkahkan kaki di ruangan yang sejatinya hangat oleh hembusan kopi segala rupa dan beberapa bau backing powder kue menusuki hidung. Tapi entahlah gadis bermata sipit ini memilih tak mengindahkan bau yang mengenyangkan itu, matanya tertutup pelupuk setengah, memilih memandangi lantai berternit gaya eropa di bawah kaki semampainya.
“Rin!”panggil gagah lelaki itu menyilahkan segala ruang dan waktu hanya untuk Rin bermata sipit dan pipi meronanya.
Ramai ruangan itu tak membuatnya malu berteriak memanggil Rin, suaranya berat gagah terkulum. Rin malas melangkah lagi. Robert menarik tangan Rin. Demi apa?, “Aku harus mengencani raksasa ini? Yang benar saja Tan, Lihat kau menjadikan aku tumbal.”
Kakinya terus melangkah. “Baiklah kalau maumu begini Tan, aku akan laksanakan apa maumu, untuk segera melenyapkan Robert dari Kota Es ini.” Hatinya terus saja berbicara fasih kesal.
Di persilahkannya Rin duduk di kursi yang begitu indahnya berplitur khas Eropa itu. Tania, entah apa yang sedang dia pikirkan, bukankah ini malah menjadi jalan jembatan rapuh untuk persahabatan lamanya dengan Rin.
“Betapa terkejutnya aku Rin.”Ucapnya semangat dalam Belanda
Mata abunya menatapi Rin si sipit yang sendu. Pasrah dengan tantangan Tania, terang saja semua ruang dan waktu coffeshop ini di peruntukkan Robert seluruhnya. Dia pemiliknya.
Di hantarkanlah dua cangkir berisi kopi robusta dan red velvet menyusul.
“Aku sangat bingung, apakah kau bersedia aku ajak ke Belanda bulan depan?, dan selamanya di Belanda?”Ucapnya patah patah dalam bahasa Indonesia
Rin masih mengkal, namun terperenjat juga. Apa-apaan pula daging besar ini langsung terus terang begitu, sama sekali tak mengindahkan kacaunya pikiran Rin saat ini. Dia menatap tajam mata abu-abu itu. Namun sekejap kemudian dia tembuskan pandangan entah kemana pikirannya mengembang.
“Baiklah.”Ucapnya lembut penuh arti lain dari artinya
“Benarkah kau bersedia?”Robert mengulum senyuman
Tangan Rin yang semula tertaruh di meja di jamahi Robert.

***

Kenangan itu mengelayuti pikirannya, langkahnya cepat beradu pada jalan setapak itu menuju panti asuhan. Sebulan kemudian tetang cerita itu. Akhirnya Robert pergi ke Belanda tanpa Rin. Dia sengaja meninggalkan Robert, dengan segala daya upaya memohon pada petugas penjaga pintu masuk yang melarang untuk Rin meninggalkan pesawat. Lalu melarikan diri pulang ke kota es. Tania terbahak saat itu, puas atas hasil kerja Rin.
“Aku bahkan tak lebih dari se ekor putri duyung! Menghilang seperti buih”serunya galak
“Tan mengapa kau inginkan Robert kembali ke Eropa?”
Mereka bersitegang ketika itu di ruang tengah rumah Tania.
“Biar kenangan ikut kembali ke Eropa, aku lebih suka Kota Es.

***

Setengah tahun berlalu Tania seolah telapak tangan yang mudah di bolak balik. Mentalnya memang tidak beres setelah menikah dengan Robert si lelaki berbadan tegap besar itu. Dan di tambah dia stress dalam pekerjaan kemudian hobinya yang amat nista itu. Apadaya dia menginginkan Robert kembali ke Kota Es ini.
Jiwanya terguncang, jauh kedalam dalamnya.
Hanya tempat serba cat putih luas inilah Rin dapat mengadu sepuasnya. Pada para pengasuhnya ketika belum di adopsi.
Rin tak akan pernah bisa mengembalikan Robert kembali. Mungkin bila lelaki itu sendiri yang nanti rindu Kota Es dan tiba-tiba kembali.

***

Aku pasrah apa yang akan terjadi pada Tania, kakak pemilik senyum manis itu. Dan segala daya upaya telah ku pikirkan namun tak ada terlaksana, mungkin bila Robert kembali dia obat yang akan menyembuhkan Tania. Walau sikapnya benar-benar berubah setiap saat, namun Nampak semian dari Robert masih mengakar kedalam jiwanya, Aku patah arang.
Rin diam dan terus diam, mengamati perawat membersihkan tubuh semampai Tania, dan beberapa lainnya membersihkan “kandang” itu.
Ditatapinya wajah Tania lamat-lamat oleh Rin, entah apa yang terpikir keluar dari mereka berdua.
“Kau jangan terus muram Rin, aku sedih.”
Kalimat pertama sepanjang tiga tahun dia di rawat di “kandang” itu.
Lalu bibirnya tertarik, tersenyum begitu manisnya.
Tubuh telanjangnya itu masih di urusi perawat
Betapalah rinai bahagia mengalir di wajah Rin, disambarnya tubuh Tania dan mereka sama-sama tersenyum.

-Selesai-