Di Dekapan Lupa-Luka (Cerpen)

Di Dekapan Lupa-Luka

Oleh : Audhinadaw

Mungkin ini sudah pagi, saya lupa ternyata tiga hari berlalu begitu saja, tirai-tirai rumah ini rapat-rapat menutup semua celah masuk cahaya. Pagi ini terasa bau aspal menyengat menusuk-nusuk hidung, suara-suara riuh terdengar membisingkan. Alat-alat perbaikan jalan itu begitu membuat saya kesal. Suara umpatan kasar dari mulut-mulut pekerja itu sangat bau seperti rokok dan kopi yang menyatu, tapi kombinasi kali ini tidak menghangatkan sama sekali. Ah sial… sepertinya saya benar-benar harus keluar rumah, mencari tempat yang tidak berisik. Perkiraannya perbaikan jalan itu memakan waktu seminggu. Saya jadi sedikit ingat kejadian itu, yang meninggalkan banyak lubang di jalanan itu. Rasanya baru kemarin melihatnya, namun saya sudah terlanjur lupa, kalau diingat malah membuat kepala saya pening dan perut rasanya mual dan ingin muntah.

Saya lapar, tiga hari kemarin mi instan memenuhi lambung, hari ini mungkin harus makan nasi. Suara di luar sana tambah bising saja, kendaraan-kendaraan jadi antri lewat jalanan itu. Bau bensin yang jadi asap di udara itu menambah pusing hidung ini saja. Baiklah kelihatannya saya harus masak makanan yang baunya enak untuk hidung saya.

Bangun dari kasur ini seolah membenarkan bahwa kali ini saya pantas hidup. Sepertinya saya masih sehat dan baik-baik saja, dapur itu bersih, hanya area wastafel saja yang begitu kotor, bekas panci dan mangkuk dengan bekas saus dan minyak yang memenuhi seluruh permukaannya. Sepertinya kebutuhan tenggorokan lebih mendesak, haus meradang ke otak menyalakan sumbu di mata. 20 menit begitu lama berkutat di dapur, nasi dan sayur bayam saja yang tersedia di kedua mangkuk di atas meja itu. Bawang putih dan bawang merah masing-masing satu siung yang tadi saya uleg seolah menjadi makhluk berukuran nano meter dalam sop bayam itu.

Mengapa tidak dibuat begitu sederhana saja hidup ini, setengah mati mengejar yang tak pasti sampai waktu habis dan lupa menikmati, sungguh menyedihkan sekali saya ini. Nasi, Bayam, dan Airnya bikin saya melek. Cuma lima menit tanpa bengong, semuanya tandas masuk ke dalam perut. Habis itu rumah saya jadikan rapih, baru kemudian tubuh saya sendiri yang saya jadikan bersih dan rapih. Ketika kancing terakhir paling bawah kemeja ini masuk ke lubangnya, terdengar suara pintu rumah saya diketuk begitu memburu.

“Permisi…Kak…Permisi !”

“Kak, ada di dalam kan?”

“Ini Raka !”

Pintu itu saya buka, kemudian anak laki-laki bertubuh tinggi itu menatap saya sejenak dengan mata berwarna coklatnya.

“Hahahaha.” Dia terkekeh, seolah mendapati hiburan yang pantas bikin ketawa.

“Kenapa kamu ketawa?”

Dia tidak menjawab langsung beringsut masuk ke dalam rumah. Katanya “Ini ada makanan dari Ibu, katanya khawatir sama Kakak, tiga hari tidak keluar rumah kayak orang depresi.”

 “Oh…” Saya menerima rantang penuh masakan Ibu.

“Gitu aja tanggapan kakak?” Raka menatap heran mensejajari mata saya, tubuhnya sudah sepantar dengan saya.

“Iya nanti dimakan, bilangin makasih ke Ibu ya, kamu enggak sekolah?”

Raka menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tamu, lalu menjelaskan, hari ini sedang libur sekolah, saya tidak tahu libur kenapa, lalu Raka bilang Ibu khawatir tentang saya yang harus jadi saksi kejadian beberapa hari yang lalu itu, takutnya saya trauma.

“Enggak tuh, Kakak enggak trauma.”

“Ya terserahlah, yang penting Raka sudah sampaikan omongan Ibu ya. Raka juga disuruh nginep di sini, kata Ibu suruh nemenin, Kakak.”

“Hmmm…”

Mata coklat itu terbuka-tertutup beberapa kali menunggu jawaban ataupun kepastian dari saya

“Hari ini Kakak ada urusan keluar, mau ikut?”

“Enggak mau ah, aku di sini saja, pulangnya kapan?”

“Nanti malam.”

“Bagus kalau gitu, aku bisa main game sama baca komik-komik kakak, kan. Boleh, kan?”

Saya mendengus, ada-ada saya anak ini, tidak ada selain mengangguk untuk jawabannya.

***

Perut saya penuh sekali, masakan ibu saya paksakan memasuki sisa rongga di lambung. Hari ini saya memutuskan untuk datang menemuinya, sebab mimpi tadi malam ada dia yang limbung sepanjang malam merangkai cerita sedih dan suram. Wanita itu saya harap sekarang sedang baik-baik saja. Keadaan di luar rumah begitu riuh sekali sama seperti bau-baunya yang juga riuh. Buru-burulah saya memasuki mobil dan pergi ke tujuan yang tubuh dan hati saya inginkan. Beberapa orang sekitar rumah menengoki mobil saya. Dan saya putuskan menyapa mereka.

“Bu?” kemudian saya tersenyum

“Eh Mas Angga, kabar baik, kan?”

“Baik kok Bu. Mari Bu.”

“Mari…”

Masing-masing dari kita saling tersenyum, ya hanya begitu saja kalimatnya sampai tiga orang yang lainnya.

Saya begitu merasa bersalah, pura-pura lupanya saya ini malah bersembunyi dan benar-benar jadi pecundang. Seolah saya baru sadar bahwa hilang dari tiga hari itu sudah bikin semuanya semakin berkelindan. Benang-benang kemungkinan itu seolah jadi simpul-simpul mati yang susah diurainya. Tiga hari kemarin itu saya hanya mengelak saja, membereskan diri saya dulu, kalau tidak begitu bisa semakin banyak permasalahan di depan nanti. Serba salah memang, semoga orangtua dan adik-adik saya berhenti mencemaskan saya mulai hari ini.

Tiba-tiba muncullah pertanyaan bahaya di awang-awang, apa mungkin saya rindu dia, atau dia, atau dia?. Begitu saja sadar betapa berengseknya saya di hadapan ketiga wanita itu. Yang satu mengajari saya mengarsir dengan benar, sampai marah-marah karena malah membuat gerakan pensil horizontal kemudian vertikal sehingga arsirannya begitu berantakan. Yang kedua bisa juga kusebut yang satu juga, dia punya gigi kelinci dan jago membuat masakan berbahan wortel terutamanya. Saya jadi benci wortel karena terlalu sering makan bersamanya. Yang ketiga bisa juga saya sebut yang satu juga, dia satu-satunya yang mengharapkan saya mati atau hilang sama sekali dari Bumi tanpa mati atau kejadian apapun, yang penting saya hilang.

Kali ini saya menemui wanita yang ketiga itu, yang meringkuk nyenyak di lantai dinginnya karena selalu kegerahan. Kata Raka sebelum saya pergi, wanita itu sudah jauh membaik, dan Raka kembali pura-pura acuh dengan semua hal yang berkaitan dengan saya. Dia tahu semua tentang saya, tapi bungkam saja, pura-pura memperlakukan saya normal-normal saja.

Saya telah sampai di bangunan bercat kuning gading itu, terakhir ke sini sebulan yang lalu, cat lamanya berwarna putih. Aromanya tetap sama, angin menggiring aroma daun cemara dan buah pinus serta bau cat itu ke dalam tubuh saya. Satpam bangunan itu kenal saya, dan dia menanyai kabar. Di lutut kanannya ada bekas putih seperti kapur, mungkin baru saja dia bersimpuh mengambil sesuatu di lantai kotor. Dari mulutnya menguar bau kopi yang khas, mungkin kopi instan warung.

“Mas Angga kenapa baru ke sini?”

“Hehe… sedang sedikit sibuk, Pak.”

“Mbak Intan lagi dijemur di lapangan sayap kanan, Pak.”

“Makasih ya, Pak.”

“Sama-sama, Mas.”

Saya lekas ke sana, hati saya biasa-biasa saja, tidak ada ketakutan akan amukannya lagi. Sepuluh meter dari tempat didudukkannya Intan, saya berhenti sejenak, menatapnya yang terpejam karena ngantuk dan keenakan karena hangat sinar matahari pagi. Wajahnya kecil, bulu matanya panjang dan lentik. Tak jauh dari sana, saya kenal wanita yang kira-kira kepala empat yang menunggui Intan. Dia Bu Diah salah satu perawat di sini. Saya mulai mendekat. Bu Diah hampir saja menyuarakan nama saya, tapi tidak jadi karena saya beri isyarat untuk berdiam, pelan-pelan Bu Diah pergi dan saya menunggui Intan yang masih tertidur di kursinya. Wanita ini benar-benar membuat saya gila, kapan saya mulai sayang padanya? Saya tidak tahu.

Saya ke sini karena kangen dia. Dan ingin melupakan wanita penyuka wortel yang ikut mati di jalanan depan rumah tiga hari yang lalu itu. Tentang wanita yang sukanya marah-marah itu, sepertinya sudah lama saya tidak lagi menginginkannya. Kemudian tiba-tiba Intan bersuara

“Bu Diah…mataharinya sudah tidak hangat lagi, boleh Intan masuk saja?” masih dengan mata terpejam dia bertanya.

“Bu Diah…” tidak kunjung dapat jawaban, Dia pun membuka matanya, dan tepat sekali tubuh saya yang pertama dia tangkap.

“Kamu?”

Kita saling berpandangan, dia gegas berdiri

“Sejak kapan? Bu Diah mana?” Dia agak panik

“Kenapa kamu belum mati juga?”

Wangi tubuhnya kombinasi harum rumah sakit jiwa dan matahari pagi, saya memeluknya dan dia terus saja meronta sambil menangis sampai lelah melawan, dan pasrah saja saya peluk. Dia tertidur, lalu saya bopong tubuh itu kembali ke kamarnya.

Terus-terusan saya berusaha meyakinkan bahwa saya memang menyayanginya, tapi mungkin saja salah, atau malah justru dia hanya pelampiasan saja, atau hanya kangen saja. Selalu saja saya berharap dia lekas sembuh dan saya janji tidak akan lagi meninggalkannya.

                                                                                    -Selesai-      

Rattus rattus (Cerpen)

Rattus rattus

Oleh : Audhina Novia Silfi

 angel-1210970_640

Kamu ditemani selembar kertas HVS, pensil dan asbak, niat awalmu adalah menulis beberapa kata namun akhirnya membentuk sebuah kalimat. Sembari mengisap rokok yang tinggal setengah batang lagi. Sepanjang siang Kamu merutuki nasibmu sendiri. Teman yang Kamu sukai sejak SMA tiba-tiba memberikan ucapan selamat pagi melalui pesan singkat.

“Pagi Rinai, Semoga harimu menyenangkan.” Dia adalah pemberitahuan favoritmu hari ini, yang selalu sukses membuatmu tersenyum senang sekaligus kecut. Kamu agak rindu berlaku judes terhadap lawan jenis, maka tanpa pikir panjang Kamu pun hanya membalasnya dengan beberapa kata saja.

“Pagi juga”. Kemudian harapanmu lantas kandas.

Pesannya datang lagi, kali ini mungkin pesan siaran. Panjang dan menjemukan, matamu dan senyummu padam.

“Oh MLM!” ucapmu kesal.

Meski dienyahkan, suka tetap suka.

Kertas HVS itu akhirnya penuh akan keluh kesahmu sepanjang hari. Benda memuakkan yang disebut jam dinding itu terus saja mengejekmu, seolah Kamu harus bergegas tidur dan segera mengunci kembali lemari perasaan yang Kamu buka lagi itu. Kamu pun melihat keadaan sekitar, hanya ada dua kursi, satu meja, kasur dan selimut biru kucel, yang lainnya anggap saja tidak ada. Kamu menghela napas, bosan dengan kegiatan sepanjang hari tadi, dan akan terus terulang sepanjang Kamu masih hidup.

Puntung-puntung rokok berceceran di lantai, Kamu peminum alkohol, syukurlah bukan pemabuk. otakmu kurang waras, hidupmu juga kurang waras. Kamu ingat bahwa besok hari libur, berjalan ke dapur membawa gelas kosong, lantas berharap di dapur Kamu temukan air dan juga pikiran warasmu. Kamu berpikir bahwa tadi saat di kamar, galon masih terisi penuh di dapur. Sialnya kosong, tenggorokanmu kering, Kamu ingat betul kali ini harus minum air putih setidaknya tiga gelas untuk menetralisir alkohol, supaya ginjalmu tak meringis.

Namun harapanmu kandas kemudian menyerah dan berbalik ke kamar lagi. Di antara sekat kamar dan dapur, ruangan itu tempat membaca favoritmu. Rattus rattus sedikit menghambat jalanmu menuju kasur apek itu, terhenyak dan merutuk

“Dasar curut !”  kedua kakimu refleks loncat, beruntung lantai tidak licin.

Rencanamu masih sama seperti pagi tadi, bersikap masa bodoh terhadap segala hal, Kamu terus mengucapkan kata itu “Masa Bodoh” nyatanya bukan itu yang Kamu lakukan, masa bodoh adalah hal yang Kamu dambakan, sebab Kamu bukan makhluk apatis. Kamu berjalan begitu gontai sambil menggaruk-garuk pantat, matamu masih kuat sadar, namun otakmu sudah malas sadar. Kamu duduk di meja kerjamu, menyentuh kertas HVS penuh coretan tadi. Mengenang kembali pagi saat tetangga baru tersenyum menatapmu ketika Kamu membuang sekantong sampah ke depan rumah.

“Sudah bangun Kak ?” Kamu mengangguk heran, karena sadar. Penampakanmu tak ubahnya seperti tikus rumah yang lima kali mondar-mandir di depanmu sedari tadi.

“Kita baru pindah Kak.” lelaki kebapakkan itu nyengir diiringi tatapan heran

dua anak laki-laki manis yang  tengah bermain air dari selang cuci mobil.

“Semoga lingkungan kompleks perumahan ini cocok buat keluarga bapak , ya” lantas Kamu ingin segera pergi, malas ditanya lain hal lagi.

“Tante Rinai, besok malam datang kerumah Drey ya, kak ? kita makan bersama.” ucap anak laki-laki ompong itu sambil iseng kepada adiknya.

Kamu tidak punya pilihan untuk menggeleng, Kamu iyakan saja ajakan tersebut dan bergegas ke kamar mandi. Perutmu tidak kompromi dengan pizza busuk yang mungkin sudah berkali-kali diinjak Rattus rattus. Kemudian kehidupanmu stagnan lagi, bekerja dan makan, bekerja dan minum, bekerja dan berbicara. Kamu memutuskan untuk minta maaf besok pagi, karena malam ini tidak menyanggupi datang ke rumah keluarga bahagia itu.

***

Pagi ini Kamu merasa sebagai reinkarnasi puntung rokok yang Kamu isap tadi malam, Kamu tidur karena lelah dan bangun karena bosan. Perutmu tidak meronta, dan Kamu bersyukur karena tidak harus sarapan pagi. Kamu malas mandi.

Rutinitasmu di hari libur ini hanya akan membuang sampah berisi botol alkohol, bungkus pizza, bungkus rokok, dan puntung-puntung rokok, serta abunya. Penampilanmu tak akan melebihi Rattus rattus si tikus rumahan, Meski Kamu masih merasa cantik saat bangun tidur, namun gigimu dan baumu enggan menyetujui pendapat otakmu itu.

Usiamu sudah cocok untuk membangun sebuah keluarga bahagia, namun sayang Kamu enggan, Kamu terpaku di depan rumahmu, mengamati keluarga kecil bahagia itu tengah membenahi taman.

“Kak Rinai sudah bangun.” ucap perempuan itu kemudian tersenyum dan Kamu menyeringai, karena bingung.

“Nanti makan malam di rumah kami ya, kak?” ajaknya ramah

“Maaf ya tadi malam nggak sempat datang, semoga nanti malam bisa

datang.”

Keluarga itu menatap ramah dan tersenyum, mengisyaratkan bahwa rumah keduamu adalah mereka. Kamu jeri pada dirimu sendiri, mungkin usiamu setara dengan perempuan itu, namun melihat begitu jauhnya perbedaan penampilan dan keadaanmu, Kamu memang sangat menyedihkan. Mereka saling mengamini doa, sedangkan Kamu hanya tikus yang mengamini doamu.

Meski aku memang tikus rumahan, namun aku tak mau disebut tikus. Aku memang tidak penting, tapi aku adalah saksi seluruh hidupmu. Sejak aku masih di susui ibu yang kini telah kabur dari rumah ini, aku harap dia tidak digondol anjing kompleks, lebih baik hamil lagi di tempat lain. Maka sampai saat ini mungkin hanya nyamuk yang mengamini doa-doa ku.

Kamu terus saja hidup menunggu untuk lelaki yang dulu tinggal bersamamu di rumah ini, semenjak tak Kamu temui lelaki itu di kamar, atau di berbagai tempat manapun, Kamu masih belum sadar bahwa lelaki itu tidak akan pernah kembali, karena memang sudah mati. Kalau saja ibumu dan tiga adikmu di sini, mungkin mengemis pada harapan tidak akan Kamu lakukan seperti sekarang. Iya….aku paham betul Kamu kehilangan semangatmu, dan aku tak sanggup membangkitkanmu

Lihatlah saja bajuku, bulu putih yang lumayan bersih tetapi tetap berbau khas tikus ini yang menyelimuti tubuhku, Kamu saja melotot begitu melihatku mondar-mandir sebanyak lima kali tadi malam. Hobiku adalah makan pizza yang walau Kamu sisakan namun akan Kamu makan nanti setelah beberapa hari, itu mengapa Kamu sempat kena dysentri.

Sebenarnya lelaki yang Kamu dapati dia menawarkan MLM itu tidak Kamu cinta, Kamu selalu saja ingin kelihatan menjadi wanita bila berhadapan dengan lelaki itu, maka aku tak akan setuju bila Kamu masih memikirkannya. Kamu lebih pantas menjadi Rinai yang selalu sanggup menghujam bumi secara lembut.

***

            Kamu tak mau kelihatan main-main di hadapan keluarga bahagia itu, Kamu kenakan baju sopan, yang cocok untuk sebuah makan malam keluarga. Drey sudah menunggumu sambil meringis, menampakkan ompongnya. Perasaanmu mungkin sangat bahagia, aku putuskan untuk mengikutimu sampai rumah tetanggamu itu, sekalian aku akan mengunjungi sepupuku di rumah itu.

“Tante Rinai cantik ya Mah.”ucap Drey sembari menggelendoti mamahnya “Iya cantik sekali.” wanita itu menjawab tulus sembari mengusap wajah

belepotan Drey karena coklat yang dia makan.

“Mari masuk kak, Mas Teguh dan Alex sudah nggak sabar mau makan, yuk Kak.”

Kamu memang tampak menjadi seorang wanita sekarang, namun batinmu buas. Otakmu terlanjur sesak oleh sesuatu yang tidak pernah Kamu ketahui, Kamu terlalu bosan dengan hidup menyendirimu ini, Kamu masih pada pendirianmu, menjadi Rinai yang aneh walau memasuki lingkungan keluarga kecil bahagia ini. Semakin lama Kamu malah semakin muak memimpikan sebuah kelurga kecil bahagia, batinmu selalu saja berontak. Memangnya salah bila seorang perempuan mapan memilih hidup sendiri sampai mati.

Keluarga ini tiba-tiba saja mengingatkanmu untuk pulang ke rumah orang tuamu, terakhir kali bertemu dengan mereka ketika ulang tahun ibumu tahun lalu dan bukannya Kamu yang memberi hadiah, malah ibumu yang menghadiahimu selimut biru yang sekarang berwarna biru kucel di kamarmu itu.

Kamu kagum dengan keadaan rumah itu, bersih walau ada dua anak bandel di dalamnya, perempuan dan laki-laki itu pandai merawat rumah ini. Kamu diperlakukan apa adanya, senyummu akhirnya tampak ikhlas, untuk pertama kalinya, mungkin Kamu melupakan segala hal tentang laki-laki yang sudah Kamu hapal baunya itu. Alex dan Drey terus saja saling iseng, Kamu senang melihat dua anak itu.

Sepupuku bilang semenjak keluarga itu pindah ke rumah ini, kenyamanan bangsa Rittus rittus sangat terancam, meski begitu mereka tidak terlalu kejam, tidak sengaja memburu, tetapi menunggu sampai terperangkap. Bukankah memang seharusnya tikus diburu, karena tingkat perkembangbiakkan mereka sangat cepat sekali. Maka memang aku dilahirkan berani, karena aku sudah tahu, mati itu tak terduga.

Kamu beralih ke ruang keluarga, Sambil menonton televisi dan makan cemilan, Kamu sudah tidak canggung lagi, Kamu sepenuhnya lupa akan kesedihanmu, Kamu sepenuhnya kembali menemukan motivasimu. Ketika malam semakin larut dan bahan obrolan sudah sangat membosankan dan kedua anak itu sudah mengucek-ngucek mata, Kamu memilih untuk segera pamit. Namun tiba-tiba perempuan itu mengucapkan hal yang tidak terduga.

“Kak.” panggilnya sebelum Kamu beranjak pergi, dia memegangi kedua bahumu sorot matanya menembus ke dalam pikiranmu.

“Kita ada buat Kamu, jangan segan datang kalau perlu bahagia ya, kak.” Kemudian tersenyum, Kamu masih terdiam bingung dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja hadir kembali.

Kemudian dia melanjutkan “Kak Rinai mau ikut ziarah ke makam Ragat

esok hari tidak?”

Kamu tiba-tiba dengan cepat memutar segala sesuatu yang berhubungan dengan nama itu, Ragat, lelaki yang dulu tinggal bersamamu. Kamu menitihkan air mata, tidak paham, mengapa tiba-tiba saja mengingat secara cepat semua kenangan itu.

“Iya Kak, aku adiknya Kak Ragat.” Dia menjawab tanpa Kamu minta kemudian memelukmu dengan erat, Kamu menangis tertahan di bahunya sampai basah, dan Ia menceritakan semuanya kepadamu, mengenai persepsi negatifmu terhadap lelaki yang tiba-tiba saja mati itu.

Aku ingin melihatmu lebih dekat karena khawatir, maka aku putuskan untuk berlari dari bawah sofa menuju bawah lemari di ruang tamu tak jauh dari Kamu yang sedang duduk bersama perempuan itu. Tapi sial ada perangkap di bawah meja yang aku lewati sebelum sampai ke lemari itu, papan kayu tipis yang di lapisi lem super kuat, napasku terengah-engah berusaha melepaskan diri, sialan buluku menempel, bila aku semakin meronta, maka semakin kuat perangkap itu membuatku kesakitan, lem itu sangat berbau menyengat, Sepupuku panik melihat aku semakin tidak berdaya, dia mencarikan bantuan, semua keluarganya, tapi mungkin aku memang sudah waktunya mati, maka aku mati dengan keadaan lega, karena Rinai telah memiliki orang-orang yang mampu membahagiakannya kembali. Bukan seperti aku yang memimpikan ingin membahagiakanmu tapi tidak bisa, aku hanya mampu mengamini doa-doa mu saja. Selamat tinggal Rinai.

 

-Selesai-

Terinspirasi dari cerpen Rico De Coro-Filosopi Kopi (Dewi Dee Lestari)

MATA KEMARAU

Hallo readers apa kabar, kali ini aku bakal posting cerpen. Kalau bukan karena untuk tantangan Kampus Fiksi #FragmenKemarau, mungkin aku masih pingsankan seluruh ide-ideku. Ya dari pada banyak omong. Mari membaca o(^^o)
Mata Kemarau
Oleh : Audhina Novia Silfi

Ranting pohon jati di pinggiran jalan itu seolah bicara kepadaku, apa yang tengah kau tunggu? Katanya, dan mungkin akan ku jawab, seseorang yang mampu melihatku. Kini ranting terlalu jauh dari daun yang telah jatuh. Aku sekarang bukan aku yang dulu, jangan bahas mengenai hal itu dahulu, tentang kehilangan dan tak pernah di temukan. Terlalu asikan melamun di atas sini, jangan-jangan mandor sudah siap memarahiku. Aku bergegas turun dari atap bangunan yang sudah 40% selesai ini.
“Ini siapa yang Welder disini?”benar saja dia mencari-cari Weldernya.
“Anu bos..saya tidak tahu.”
Aku menghampiri pria yang paling gemuk dan perutnya buncit itu tengah bersidekap dan menatap tajam.
“Saya bos, ini tinggal sedikit lagi. Akan segera saya buat laporannya.”
“Kau ini bisa gesit tidak kerjanya? Katanya welder berpengalaman. Selesaikan sebelum sore ini berakhir.”
Matanya semakin melotot, wajahnya seperti hendak meledak, mengingat betapa banyak anak buahnya yang juga malas-malasan akibat keterlambatan gaji.
Embusan angin di atas sini seolah membekukan keseluruhan milikku, termasuk hatiku, maupun simpatiku. Ya ampun aku benar-benar lapar.
***
Malam semakin larut, aku sudah berada di tempat yang lebih mirip dengan tempat pengungsian. Ruangan 7 x 7 ini di isi oleh 5 pekerja bangunan. Tadi sore karena tidak sama sekali di antara kita membawa uang, solusi utamanya adalah gopreng habah, entah mengapa tindakan mencari tumpangan di bak truk di sebut begitu. Kini kita sibuk masing-masing, sudah lelah dengan segala hal tentang bangunan 40% jadi itu.
Seperempat sore sebelum kami pulang, aku dan kawanku memilih sejenak merokok dan melamun. Tiap sekitar pukul 17.00 aku selalu memperhatikan gadis itu. Walau terlihat kecil dari jarak ini, namun seolah aku tak asing dengannya. Sampai-sampai aku mengetahui jadwal pakaian yang dia kenakan. Seolah memang aku ini kurang kerjaan, sangat kurang kerjaan.
Dengkuran teman seperjuanganku mengusik lamunanku. Di tempat ini, hanya ada kipas angin dan manusia. Dan bila di jelaskan lebih jauh maka menjadi, kipas, angin, manusia, dan seseorang yang tengah kesepian. Aku mendelik ke arah tubuh-tubuh kekar yang sudah tidur nyenyak. Saatnya aku mencari udara segar, sudah menjadi kebiasaan tak bisa tidur sebelum jam 11 malam. Rokok, kopi, dan pikiran linglungku.
“Hey, sejak kapan Mas Yon di sini sendirian?”Teman yang aku ikut bawa dalam perjalanan mencari uang ini akhirnya menghampiri.
“Memangnya penting?”
Aku berhenti menghisap rokok, aku lirik ke arahnya namun urung.
“Sedang apa di sini? Masih bingung cara agar bisa berkenalan dengannya?”
“Ah sudahlah, kali ini aku malas membahas yang itu, ini lebih penting dari kelihatannya.”
Dia sudah duduk di sampingku, seolah dia memang di takdirkan bersahabat denganku sejak dari kandung, sehati dan sejiwa.
“Memangnya apa?”
“Kalau terus di proyek ini mungkin uang kita akan habis saat gajian nanti. Aku tadi siang sempat bertanya pada mbak-mbak penjaga warteg itu, utangku sampai 600 ribu, belum kopi dan rokok tiap hari begini.” Aku mengusap-usap keningku. Pikiran malas memikirkan uang, namun selalu terlintas begitu saja.
“Ini bukan Mas Yon yang saya kenal, tumben sekali memikirkan uang?”Dia menepuk punggungku
Benar katanya, kali ini aku sangat berubah, tak lebih dari sekedar orang putus asa yang pikirannya tentang uang terus menerus. Kelihatannya memang aku harus segera pindah proyek setelah menerima gaji nanti. Yang kalau di hitung mungkin hanya sisa 500 ribu, ah sudahlah malas sekali berhitung.
“Jadi bagaimana dengan gadis yang selalu Mas Yon tatapi tiap sore itu?”
Ini perkara yang bersisihan, kali ini aku juga tengah malas membahas hal itu. Aku diamkan saja si Rae, dan akhirnya ikut ngopi dan merokok.
***
Tak hanya sekali ini aku menemukan mandor pelit seperti mandor di tempat ini, daripada mengeluh tak kunjung ada hasil, baiknya aku bergegas memulai pekerjaanku.  Orang bilang ketika jatuh cinta, seseorang akan menjadi semangat. Dan ku pikir aku tidak sedang jatuh cinta. Mungkin sekedar kagum dengan gadis itu. Atau jatuh cinta yang tertunda. Istirahat nanti aku akan mencoba mencari keberadaan gadis itu, aku yakin dia bekerja di rumah sakit tepat depan bangunan yang sedang aku kerjakan ini. Rae belum tahu hal ini, dia Welder di bagian lain dari bangunan, sepertinya aku akan mengajak anak itu untuk menemaniku, betapa ciutnya nyaliku.
Aku bekerja di bawah pengawasan pengganti mandor, entah hari ini mandor gendut itu tak muncul dan bersidekap sok tangguh.
“Mas Yon mari makan.”teriak Rae mengusik tugasku yang belum juga kelar.
“Duluan saja Rae, nanti aku menyusul.”Aku mengibas mengusirnya
“Yasudah saya duluan.”
***
Tadinya aku ingin mengajak Rae, namun sepertinya jiwaku benar-benar tangguh, aku mendatangi tempat itu. Rumah sakit ini sangat luas, aku saja yang bodoh dan nekat, mengapa tidak menunggu saja dia lewat seperti tiap sore di lakukan, namun saat sore hari aku masih terjebak dengan proyek yang harus aku kerjakan, aku duduk sejenak di bangku taman bawah pohon beringin, pasti orang-orang yang melihatku bingung. Mengingat betapa kumal dan pakaianku benar-benar kotor.
Benar saja satpam menegurku, dia kira aku pekerja bangunan rumah sakit.
“Kau seharusnya tengah bekerja di gedung baru ruang VIP itu bukan?”
Aku menggeleng, “Saya bukan pekerja bangunan Pak.”Menggeleng penuh tenaga
Satpam itu akhirnya pergi, memilih tak peduli lagi.
Beberapa detik setelah Satpam itu pergi, aku jadi ingat pekerjaanku, aku lantas berlari menyusuri jalanan rumah sakit yang tengah padat ini. Di tengah ke terburuanku ini, aku menabrak kursi roda kemudian benar-benar terjatuh karena lantai licin. Ya ampun, aku segera bangun, kemudian melihat yang ada di kursi roda. Kemudian bergegas minta maaf kepada pasien yang ada di kursi roda
“Pak maafkan saya pak, saya terlalu terburu-buru.” Aku tak memandang siapa yang berada di depanku
“Yon? Kau Lion Welder anak buahku bukan?”Nada suaranya sedikit menyentak
Aku semakin kaget saja dengan kejadian siang bolong ini
“Pak Mandor? Pak maafkan saya pak.”
Dia menatapku semakin sarkas saja, aku tidak tahu dia sedang sakit, kepalanya di bebat perban. Aku tengah menunggu jawabanya.
“Yon kembalilah ke proyek, kau welder berbakat. Dan sementara itu aku juga minta maaf pabila aku terlalu galak, dan aku minta do’a dari kalian semua anak buahku.”
Aku melemaskan otot dan jantungku, ternyata tidak seseram yang aku bayangkan. Aku mengangguk takzim, bingung sekali harus mengatakan apa. Suasana agak mengeras begini rasanya, aku sejenak tadi menjauhkan fokus dari mandorku itu, beralih kepada suster yang mendorong kursi roda mandorku itu.
“Yon kau mau apa lagi? Cepatlah bekerja kembali.”
“Baik Pak.”
Aku sekarang enggan menjauh, lihatlah perempuan yang tengah berada di belakang mandorku ini. Yang sedari tadi aku cari-cari.
“Awas kau berani lirik anak ku Yon!”
Aku terperenjat, hal bodoh macam apa ini?, ada banyak hal yang bisa di kaitkan, mengapa perempuan ini ber bapak seperti mandorku ini. Perempuan itu tersenyum menatapku, wajahnya semakin teduh bila dia tersenyum begitu. Aku tak tahu sama sekali yang aku rasakan saat ini.
“Yon jangan coba-coba kataku.”
Aku mengangguk, kemudian pamit dan berjanji akan mendo’akannya cepat sembuh. Aku berjalan seperti terhuyung kesana kemari, rasanya seolah khayalanku musnah begitu saja.
***
“Mas Yon kenapa, di perhatikan dari tadi seperti kebanyakan pikiran saja.”
Dia menghampiriku, seperti biasa sebelum benar-benar akan pulang kami duduk di atap gedung. Aku terus saja menghisap rokokku.
“Rae, aku lupa menceritakan hal ini, kau tahu apa yang aku lakukan tadi siang?”Aku meliriknya
“Tak mengerti sama sekali.”
“Aku menemui perempuan itu di rumah sakit, hanya saja satpamnya terlalu galak.”
“Maksudnya Mas?”
“Sepertinya kita harus mendo’akan Bos Mandor segera sembuh.”
“Mas Yon semakin meracau saja, kurang kopi sepertinya ya Mas?”
Aku memilih bungkam saja, malas menjelaskan kepada Rae. Benar kata mata kemarau, lupakan kemudian menangislah bersama hujan. Benar pula pabila aku terlalu cepat menyerah.
Rae menyerahkan sebungkus rokok kepadaku,
“Sepertinya Mas Yon kurang rokok juga, silahkan ambil punya saya.”
Aku nyengir lalu menepuk punggungnya.
Selesai

Radio In Love

Radio In Love

Penulis Audhina Novia Silfi

Sukabumi, 11 Juni 2014

Ini Sudah yang ke tujuh kalinya Lola meradang kepada Piko, agar Piko menemaninya mendengarkan radio kesayangannya. Dan sudah Piko bilang kepadanya bahwa Piko juga tak menyukai radio bahkan televisi.

“Piko..loe itu kurang updet atau apa sih? Loe nggak pernah dengerin radio bahkan nggak pernah nonton televisi, ini zaman modern plis deh.”Gerutu Lola di belakang punggung Piko

Sedangkan Piko sibuk menggerakkan mulutnya mengikuti setiap perkataan Lola yang keluar dari mulutnya. Sampai detik ini Piko yang terkenal kutu buku namun gaul abis itu bisa dihitung sejak dia lahir berapa kali menonton televisi atau mendengarkan radio. Aneh memang, tapi Piko ini adalah seorang cewek yang sangat mencintai buku, tepatnya novel.

Siang itu mereka bertemu di sebuah foodcourt untuk saling berkangen-kangen setelah satu tahun mereka berpisah menggeluti dunia perkuliahan di luar kota. Lola yang memang sudah mengerti betapa anehnya sifat sahabatnya itu, akhirnya mengalah.

“Piko…jadi kita marahan nih?kita kan baru ketemu lagi?”rajuk Lola

“Ampun deh kamu ini nggak pernah berubah ya.”ucap Piko akhirnya tersenyum

Karena sudah setahun tak bertemu akhirnya mereka kesana kemari menjelajahi ingatan mereka tentang masa SMA dulu.

“Inget nggak dulu loe pernah naksir seseorang?”sambung Lola sambil menggodai Piko yang berubah pink di wajahnya.

“Apa-an sih loe, loe juga pernah naksir sama dia kan?”serang Piko seketika

“Dan akhirnya kita memilih ngelupain dia, supaya kita tetap bersahabat.”Kenang Lola

Piko hanya berdehem ria, Sambil terus membaca buku yang baru saja dia beli.

Dahulu saat mereka duduk di bangku SMA, pernah suatu ketika naksir sama cowok idaman satu SMA, bernama Jo, kepanjangannya iJo, eh bukan tapi Joni.

Matahari semakin kentara di atas sana, sampai debu jalanan menguap bersama angin kota. Mereka masih bersiteru dengan saling mengede rasakan kedua belah pihak tentang Jo di koridor kelas XII IPA 1. Padahal saat itu Jo sudah mempunyai tambatan hati, sudah resmi pacaran sehari yang lalu. Tetap saja bencana bagi ceweknya Jo, karena memiliki pacar seantero sekolah mengidaminya, hanya para ceweknya saja lho nggak termasuk para cowok. Piko dan Lola juga tahu diri lah, hanya sebatas naksir tanpa lebih lagi, karena kalau terlalu tinggi kadar naksirnya bisa-bisa sesak dada saat melihat Jo bersama pacarnya.

Piko yang tak terlalu antusias tiap Jo liwat didepannya lebih mementingkan buku…buku dan buku. Lola yang kadar naksirnya tinggi hanya bisa memble tiap kali Jo liwat depannya. Tahu tidak! Piko sebenarnya cewek tipenya Jo lho, kebetulan Jo suka cewek pendiam tapi gaul. Suatu hari Jo menegur Piko di perpustakaan. Piko yang nggak ada keahlian menyembunyikan kesukaannya pada cowok idola seantero SMA itu hanya bisa tersenyum, rasanya susah sekali bertanya kepadanya.

Di lain waktu, inilah yang membuat Lola keranjingan menjadi hobi mendengarkan radio. Ehemm Jo salah satu penyiar di Radio sekolah.

Pernah suatu hari dia memberanikan diri merequest lagu dengan pesan singkat dan dibumbui rasa kagumnya terhadap Jo. Piko yang kutu buku ternyata diam-diam juga memasang telinga bila Lola sangat antusias mendengarkan radio. Bukan lumrah bila Piko mendengarkan radio, dia hanya diam-diam memasang telinga saja.

Siang semakin meradang, mereka berdua masih asik masing-masing di foodcourt.

Bukan juga hal yang menarik bila kisah ini di ceritakan. Piko masih membaca buku miliknya sedangkan Lola mendengarkan Radio yang ternyata Jo sekarang jadi penyiar di salah satu radio kota yang terkenal. Maka semakin antusiaslah Lola.

“Piko, buset ya. Ini cowok suaranya makin kece badai.”

“Loe, biasa aja kali, suaranya tetep sama aja.”

Lola manyun semakin manyun sudah bibir tipisnya itu.

“La..gue ada keperluan lain nih, loe mau ikut nggak?”

“Kemana gitu?kayak orang sibuk aja, paling ke komunitas buku? Atau komunitas penulis? atau mau ke kantor redaksi?gue tau lah.”

“Sok tau loe, mau ikut nggak?”tawar Piko terdengar misterius.

Lola akhirnya nurut mengikut saja. Di perjalanan menuju tempat tujuan Piko, yang mengikuti malah manyun manyun, sambil menebak pasti ketempat yang nggak asik.

“Lola, loe mau ikut masuk nggak?”Tanya Piko

Sedangkan yang ditanya hanya bisa melongo, melihat Piko masuk ketempat tujuannya. Piko Oh My God. Lola terkejut setengah mati melihat tempat apa yang ternyata di tuju Piko sedari tadi.

“Lola..loe sehatkan?”

Karena tak kunjung mingkem akhirnya Piko menarik tangan Lola untuk ikut masuk.

Di ruangan kaca itu Lola bisa melihat sesuatu yang tak pernah dia lihat setahun silam, sedangkan Piko sibuk menemui seseorang memberikan suatu naskah cerita.

“Piko…”lirih Lola memanggil

“itu…”lanjut Lola

“Apa? Iya itu Jo.”ucap Piko sepele.

Lola bukan main terkejut, ternyata sahabatnya itu selama ini sudah semakin akrab saja dengan Jo.

“jangan salah sangka dulu, gue nggak terlalu akrab sama dia.”

“gue cuma nulis naskah cerita buat satu program gitu deh di sini, udah sejak setahun lalu, barengan sama Jo yang masuk sini sebagai penyiar. Gue suka ngirim cerita lewat e-mail.”

“gimana?loe senengkan ketemu dia?”

Yang diajak ngobrol hanya bisa melongo melihat di dalam ruang kaca itu. Jo yang saat itu menyadari ada seseorang memperhatikannya, lantas melirik dan menyadari itu Lola. Lalu melambaikan tangan sambil tersenyum. Lola melayang ke udara, penampilan Jo semakin kece saja.

“Pikooooo…bantu gue..”sibuk Lola mencari pegangan

Sedangkan Piko hanya menggeleng-geleng.

“Piko..tau nggak? si Jo, dari bulan lalu nanyain loe tuh, kayaknya kangen.”sindir Kak Malik salah satu penyiar juga yang sedang nongkrong disana.

“Ah elo, liat tuh temen gue bisa-bisa bunuh gue.”

Kak Malik, Piko, dan Lola saling bersitatap kemudian tertawa.

***

Rencananya Piko dan Lola akan menghabiskan waktu liburan semester ini di Kota kelahiran mereka ini, jadi semakin antusiaslah Lola mencari info tentang Jo.

“Piko..loe jahat banget, kok nggak ngasih kabar kalau jadi penulis naskah lepas radio itu?”

“enggak perlu deh kayaknya, bisa-bisa loe semakin negative pikirannya.”

Lola hanya mengangguk-angguk.

Sore ini mereka berencana mengunjungi SMA, berdua saja. Memutari seluruh ruangan SMA, semua masih sama seperti tahun lalu. Piko yang sedang antusias mengenang SMA terganggu dengan Lola yang malah antusias dengan segala tentang Jo.

“Piko…loe tau nggak? Jo udah ada cewek belum?”Sambil tersenyum, eh bukan tapi lebih mirip menyeringai tajam.

Piko menghindarkan wajah. “dia udah ada pacar kayaknya, baru aja kemarin gue sempat liat dia jalan sama cewek.”

Lemas sudah Lola seketika.

“Janganlah terlalu sedih La, memangnya kamu mau hidup dalam masa lalu terus, kamu ini harusnya sudah bisa melupakan Jo.”ucap Piko menasehati.

“OK! Lagi pula aku hanya sekedar kagum kok.”ucap Lola lemas

“gue tau banget loe. Makannya jangan mikirin cinta melulu. Ini nih korban dari TV sama Radio.”ucap Piko tertawa

Angin sore menjemput daun di lapangan basket. Mereka berdua sedang melamun di tepinya, yang satu terlihat gelisah, dan yang satu masih berharap Jo untuknya.

Ini sudah satu tahun, Piko masih tak mau memberi tahu Lola suatu hal yang penting ini.

Piko selalu mengurungkan niatnya, namun mungkin ini adalah waktu yang tepat. Semakin lama jika di rahasiakan semakin besar pula resikonya.

“La..gue mau kasih tau loe.”Piko menelan ludah

“kasih tau aja kali, kayak orang awam aja loe?”santai Lola membenahi duduknya

“loe tau nggak, gue paling nggak suka kalau loe sedih?”Tanya Piko sungkan

“iya itu udah tentu tau.”Lola semakin penasaran saja dengan tatapan Piko yang berbeda dari biasanya.

“gue nggak mau loe sedih, ini cuma masa lalu La.”ucap Piko masih takut memberi tahu

“terus apa?”

“gue pernah di jodohin sama Jo!eh tapi jangan marah dulu, gue tolak kok, lagian ortu gue kolot banget masih main jodoh-jodohan segala.”Jelas Piko lalu tertawa

Lola hanya bisa mengangguk, dan melongo tanpa ada perkataan lagi. Semakin dalam sudah dia menenggelamkan kepalanya dalam tundukan. Lola merenungi suatu hal yang sangat penting, ini sangat menyangkut Piko. Ternyata apa yang selama ini Lola takuti kenyataan sudah, Lola sudah mengira bahwa Jo lama sayang sama Piko. Dulu Lola pernah di titipi surat cinta dari Jo, intinya Lola disuruh memberikannya kepada Piko. Dan sampai sekarang Piko tak tahu Jo pernah memberi surat, itu karena Lola menyembunyikannya, Lola saat itu dimakan api cemburu pada sahabatnya itu. Piko yang semakin tak mengerti dengan diamnya Lola, lantas bertanya.

“loe marah?”Tanya Piko khawatir.

Lola menggeleng lemas. Ternyata sahabatnya itu melebihi apa yang dia kira selama ini, selalu menjaga perasaannya bila Jo diam-diam malah melirik Piko. Selalu mengalihkan perhatian Lola bila Jo sedang memperhatikan Piko. Itu semua demi Lola.

Piko saat malam perjodohannya sebelum keberangkatan esok paginya untuk berkuliah di luar kota. Hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, Piko mentah-mentah menolak perjodohan itu, Jo yang saat itu tersenyum melihat Piko, berubah muram tak karuan, Piko benar-benar tak mau bersama Jo. Maka tuntas sudah Piko melindungi perasaan sahabatnya itu. Walau semakin pupus sudah Piko menggapi Jo, yang diam-diam sangat dia kagumi.

Lola yang sore itu semakin bingung saja, kalut oleh rasa bersalah.

“gue juga nggak mau kalau loe sedih.”Dengus Lola

Lola menyambar tubuh Piko untuk di peluk, banjirlah air mata Lola.

“hey..ada apa sih La?gue jadi bingung.”Tanya Piko semakin takut

“makasih Piko.”ucap Lola tersedu

Mungkin ini garis-garis takdir itu. Lola tak mungkin berani mengungkapkan hal tersebut sore itu juga. Maka langit sore indah itu di habiskan oleh Lola menangis memeluk Piko.

-Selesai-

Mas Cool Bag 3

 

 

Gambar

Hallo semua pasti pada nunggu Mas Cool Bagian 3 ya?hehehe bener nggak?enggak ya

:D,terimakasih yang udah setia baca di blog ini.Selamat membaca 🙂

 

Mas Cool Bag 3

 

 

            Hari Senin itu seluruh siswa SMA Melati dan semua guru,beserta staf SMA Melati sudah bersiap berbaris rapih,mereka yang kebanyakan tak mau mengikuti upacara,hanya bisa memilih barisan paling belakang sambil menyempatkan untuk mengobrol.Kala itu Melsya dan Mona berada di barisan paling depan,tahu mengapa?karena salah satu diantara petugas upacaranya adalah Hans,Iya cowok keturunan belanda itu.nampak muncul kesenangaan yang amat dalam di wajah Melsya saat Hans membawa teks UUD 45,dan menyempatkan untuk sedikit melirik keberadaan Melsya di barisan paling depan.

“Mel…jangan ngeliatin Hans terus..”Mona memperhatikan gelagat Melsya.

“sirik aja loe mah Mon…sirik ya Jhonatan nggak satu sekolah sama elo.”Melsya meledek Mona yang sudah tidaklagi galau.

“ya gitu deh.”Mona menimpal dengan santainya.

Pemimpin Upacara sudah memasuki lapangan,dan Upacara dimulai dengan cukup hikmat,Melsya hanya memandangi wajah Hans.saat Upacara semakin berlanjut akhirnya Pembacaan Pembukaan UUD 45,Melsya begitu semangat memandangi Hans dan mendengarkan betapa lantangnya suara Hans membaca tiap barisnya.

“Cie…cie..”Mona berbisik dengan amat pelan

“ih elo..”Melsya membalas dengan senyuman tanda gembira kepada Mona

Upacara terus berlanjut dan Melsya tak dapat mengalihkan pandangannya dari Hans.hanya melihat Hans saja hati Melsya melayang keudara bagaimana jika dia tersenyum kepadanya mungkin Melsya akan pingsan seketika ditempat.Melsya sangat kagum dengannya walau memang Melsya tahu saat itu Hans hanya berpura-pura tak bisa mengerjakan PR Matematika,Hans kan murid terpandai di kelasnya,mungkin hal itu sudah di sadari Melsya,saat itu Hans hanya mencari alasan saja untuk mengembalikan Novel yang terbawa olehnya.

Saat itu Upacara telah berakhir semua siswa SMA Melati berhamburan menuju kelas masing-masing karena hujan datang tiba-tiba,padahal semua siswa mengharapkan bahwa hujan turun sebelum Upacara berlangsung,ternyata Alam tidak mendukung do’a mereka.disaat bersamaan Hans dan Melsya berpapasan.Hans ingin menuju kelasnya begitupun Melsya.saat tu Melsya hanya tertunduk lesu tanpa mengetahui siapa sebenarnya yang menghalangi jalannya,Hans juga tidak menyadari itu adalah Melsya.saat mereka ingin mengalah mereka bersamaan bergeser ke kanan,lalu bersamaan bergeser kekiri.Melsya yang geram lalu mendongakkan kepalanya.

“Heh…loe tu ya….”Melsya terpaku melihat wajah Hans begitu dekat tak pernah sedekat saat itu.Melsya meringis malu.

“eh elo Mel?Sory maafin gue…kamu duluan deh yang jalan..”Hans mempersilahkan Melsya dengan memberi jalan untuk Melsya

Melsya tak mampu berkata-kata apapun,lagi pula saat itu Melsya sedang terburu-buru.

“Mel…hati-hati lantai licin..”Hans memperingatkan Melsya setelah berlalu dari hadapannya

“Oke Hans..”Melsya sedikit menatap Hans lalu tersenyum begitu juga dengan Hans

Di kelas menunggu guru datang Melsya senyum-senyum seperti orang gila.Mona yang memang teman sebangku Melsya mulai khawatir.

“woy…loe dari dulu hobynya ngelamun…kesambet baru tau rasa..”Mona tersenyum kecut menatap Melsya.lalu mereka tertawa

“loe lagi mikirin Hans ya…ayo ngaku?”Mona membaca pikiran Melsya

“loe tau aja Mon…darimana loe tau?”ditanya malah berbalik nanya begitulah Melsya

“gue kan calon psikolog Mel,kayak nggak tau aja?”

“apaan coba psikolog?”

Suara tawa mereka membahana di ruangan kelas,namun tak apa untung saja guru belum datang.padahal gurunya terkenal sadis lho.dia bernama Ibu Morin guru B.Indonesia yang paling keren dan asli sangat judes,bagaimana tidak saat itu padahal berada di ruang kelas namun Ibu Morin tetap keukeuh memakai kacamata jengkol hitam,gayanya juga sangat modis dan terkenal judes bila melihat muridnya tidak berpakaian rapih.dengan tegar menghadapi Ibu Morin yang super judes semuanya merapihkan baju yang keluar dan bersiap karena sudah melihat kedatangan Ibu Morin dari kejauhan dengan kacamata jengkolnya.

“Pagi anak-anak?”

Ibu Morin memasuki kelas dan menatap satu persatu penampilan semua siswa di kelasnya.satu satunya anak yang sedang melamun dan terlihat bahagia di panggil kedepan

“Kamu…kedepan..”

“Saya bu?”ucap anak itu

“Siapa nama kamu?”

“Saya Melsya bu…”Melsya tertunduk pasrah,kelas begitu hening.Mona memberi isyarat.sambil menunjuk baju Melsya

“Baju loe Mel…Baju loe…”hanya menggerakkan bibir tanpa mengeluarkan suara.

Ibu Morin menatapi Melsya dari bawah keatas,lalu berkata

“Anak-anak jangan seperti dia ya,berpakaian sembrono tidak rapih,ibu tidak suka…untuk hari ini saya maklumi silahkan duduk kembali dan rapihkan bajumu.”

Suara “huuuuuuuuuu….!”mengiringi Melsya duduk kembali di bangkunya

Malu setengah mati kala itu Melsya hanya tertunduk lemas.kepasrahan membawa derita

“elo sih ngelamun lagi tadi…”Mona menyalahkan tindak tanduk Melsya

“nah elo nggak ngasih tau gue?”

Mereka saling menyalahkan namun tak mengapa suasana berubah dingin setelah pelajaran dimulai.tak bersabar menunggu usainya pelajaran B.Indonesia,Melsya dan Mona hanya bisa membuat diri sendiri terhibur dengan menatapi penampilan gurunya,tindakan buruk jangan ditiru,OK!.setelah menghadapi dengan sabar,cobaan itu hilang,bel berbunyi menandakan berganti mata pelajaran yang lain yaitu Matematika,kali ini gurunya baik dia Pak Ajang wataknya ngemong sehingga pelajaran berjalan lancar dan usai dengan mulus.akhirnya waktu istirahat yang sangat dinanti tiba,Melsya dan Mona bergegas menuju kantin.

“Gila gue pusing banget sama PR yang Pak Ajang kasih.”Melsya melepas pening sambil meraih sendok untuk memakan semangkuk Bakso hangat dihadapannya

“ah..udah gampang itu mah,tinggal minta diajarin si Hans aja..”Mona memberi solusi

Melsya yang kaget,tersedak dengan kuah Bakso yang memaksa keluar.

“Minum…minum…”tangan Melsya mencari-cari gelas berisi air

“yaeleh emang kenapa sih loe?”Mona memberi Minuman yang sudah terlebih dahulu datang

“ya gue sih pengennya gitu…tapi masa cewek agresif banget?”Melsya memupuskan seketika harapannya

Melsya memang cewek yang pandai namun terlalu sering merendah.

“loe sama Hans itu sama-sama pinter,jadi nggak masalah kalau loe duluan yang agresif.”Mona mulai menyusul memakan Bakso yang akhirnya datang.

“gue mau makan dulu…soal ini kita bahas pulang sekolah.”Melsya memakan Baksonya dengan sangat lahab sambil berharap Hans datang juga ke kantin

            Di lapangan basket Hans selalu menyempatkan untuk bermain Basket bersama Keno dan yang lainnya.Banyak sekali cewek yang memang sudah di ketahui Melsya,ada beberapa dari mereka sudah menembak Hans duluan namun untungnya sampai sekarang Hans masih terlihat sendiri,namun terkadang selalu ada saja celah yang di terobos oleh cewek-cewek gatel itu membuat semakin tipis saja kesempatan Melsya untuk sekedar semakin dekat saja,namun untung saja di luar sekolah Melsya mempunyai banyak peluang bertemu Hans bahkan Hans lah yang memulainya,dan Melsya tak perlu repot mencari celah dari antara cewek yang memang suka pada Hans.Bila cinta memang harus di kejar mengapa tidak?tapi jangan lupa untuk lebih mengingat tentang harga diri dan keberanian.

***

Mata memang melihat Hans namun tak berani menampakkan diri,Melsya melangkah gontai berdampingan dengan Mona menuju Perpustakaan Kota setelah pulang sekolah untuk mencari sedikit ketenangan untuk mengerjakan PR Matematika.memang banyak hal yang belum diketahui Melsya mengenai Hans namun setidaknya Melsya berusaha mengetahuinya.Mona sangat muak melihat Melsya seperti memikirkan jutaan uang hilang.

“Mel loe kenapa sih?”Mona hanya bisa bertanya

“Mon…elo…maksud gue!menurut loe..gue pantes nggak sih dapetin Hans?”tanya ragu datang dari hati Melsya yang begitu jujur.

“yaelah Hans lagi…udah loe nggak usah khawatir biar gue yang nanganin.OK?”

“Maksud loe apa Mon?”Melsya kebingungan dengan jawaban Mona yang menyuruhnya jangan khawatir dan dia akan mengatasinya

Mona tidak menjawab pertanyaan Melsya…akhirnya setelah bagi Melsya begitu lelah menempuh jarak yang dekat dengan rasa kalut dihati memang berpengaruh besar.sampai juga di Perpustakaan Kota.

Di sana mereka bisa sedikit serius mengerjakan PR Matematika,karena bila di rumah mereka malah sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.sambil sesekali memukul mukul kan alat tulis kekepala dan setelah menemukan jalan lalu berkata “Ahaaaa…”Begitupun untuk soal-soal selanjutnya.Untuk soal yang terakhir yang sengaja mereka lewatkan.soalnya panjang dan pertanyaannya banyak sekali..mulai kelelahan berfikir akhirnya mereka merefresh otak dengan membaca buku yang dianggap memang menarik untuk anak sesusia mereka.akhirnya menyadari bahwa otaknya memang benar-benar mentok dan menemui jalan buntu tak bisa segera menyelesaikan PR Matematika.akhirnya mereka menyerah lalu bergegas pulang kerumah karena hujan akan turun lagi.Melsya mengharapkan hari itu akan datang,saat Hans bersimpuh dan memohon cintanya.Mona dan Melsya dengan semangat menuju masing-masing rumah.

Tak seperti biasa,Hans tidak mengirimkan satu pesanpun hari itu Melsya sangat menunggu datangnya pesan singkat di handphonenya dari Hans.

Ragu datang dalam nalar Melsya.dia ingin menanyakan bagaimana cara mengerjakan soal Matematika yang belum selesai di kerjakan,terlihat gundah malam itu mengambil handphone lalu meletakkannya kembali seperti itu selanjutnya terus menerus,hingga lelah Melsya berharap nanti bisa bertemu Hans langsung,Melsya tertidur lelap di kamarnya.

***

Ke esokan harinya,Melsya kembali bersemangat.Dia kangen menggunakan scooter nya,lalu dengan senangnya mengendarai scooter itu dengan perasaan gembira seolah melupakan hal yang tak perlu di fikirkan kemarin.

Di sekolah,saat itu Hans kebingungan karena semakin banyak cewek yang mengaguminya,berusaha mencari solusi kepada Keno.

“Bro…gue pusing nih makin lama makin banyak cewek yang nge fans sama gue..”

“Cie elah nge fans?kayak artis aja loe..”

“Gue serius nih..loe bisa cariin solusi nggak?”Hans merangkul pundak Keno yang saat itu mereka berjalan berdampingan di koridor menuju kantin.

“makannya cepet tembak si Melsya,biar cewek-cewek yang nggak jelas itu nyingkir dari elo.”Keno hanya bisa memberi solusi alakadarnya

Hans tak bisa berkata-kata saat Keno memberi solusi seperti itu

“woy…kenapa loe Hans?nggak berani?”Keno menggoda Hans

“bukan sih…gue kan baru aja kenal sama dia…butuh waktu lagi…”

“gue bakal dukung keputusan loe.”

Akhirnya sampai juga di kantin,dengan cepat Hans dan Keno menyerbu makanan yang ada di kantin,mereka sering tidak sarapan di rumah.untung saja para fans Hans belum datang,maka sejenak Hans bisa santai.

Sesampainya di sekolah,Melsya memarkirkan scooternya lalu bergegas beranjak menuju ruang kelas,Mona memberi pesan singkat sebelum Melsya berangkat sekolah saat itu.

“Mel,loe kalau udah sampai sekolah buruan ke kelas gue ada kabar bagus.”

Setelah bergegas cepat,dan akhirnya sampai di kelas Melsya hanya menemui ruangan kosong di kelasnya.

“Mana si Mona…busyet deh gue udah ngebut tadi di jalan.”Kesal Melsya

Melsya hanya sendirian di kelas memasang wajah bad mood karena menunggu Mona datang.dia hanya bisa melihat ke arah lapangan membayangkan Hans ada di sana,karena saat Hans bermain basket dia Nampak semakin gagah.tak di sangka-sangka ada dua orang yang lewat di depan kelasnya sambil tertawa bersama-sama membicarakan sesuatu.Mereka adalah Hans dan Keno yang sudah selesai dengan urusan kantin.Melsya hanya ternganga melihat kejadian tadi seolah saat Hans lewat dunia Melsya serasa di slow motion.

“Ya ampun rejeki di pagi hari.”Melsya yang tadinya kesal menunggu kehadiran Mona berubah sumringah

Tak lama setelah itu Hans kembali berjalan menuju kelas Melsya karena menyadari keberadaan Melsya di sana.Melsya sama sekali tak menyadari suara langkah kaki yang mengintainya.Hans melongok di depan pintu kelas Melsya.terlihat di sana Melsya hanya tersenyum-senyum sendirian.

“Kok senyum-senyum sendiri…ngelamunin gue ya?”

Kedatangan Hans mengagetkan Melsya.lalu hanya bisa terpana dan merasa malu.Hans mulai mendekat dan duduk di bangku kosong di sebelah Melsya.

Berusaha menyadarkan diri agar tak malu.Melsya pun mulai berkata

“eh elo Hans..pagi amat?”

“harusnya gue kali yang nanya kayak gitu.loe tumben pagi amat?”Hans membalik pertanyaan

“gue kan bawa scooter,takut macet di jalan..kalau loe ngapain pagi amat ke sekolah?”Melsya biasa saja tak canggung lagi di depan Hans,karena Hans menyesuaikan diri dengan Melsya.

“gue tiap hari emang berangkat pagi kali.eh tumben loe nggak di anter sama sopir loe itu..?”Hans bertanya sambil tertawa geli mengingat kejadian saat pertama kali bertemu Melsya

“ogah…males gue.elo pasti inget waktu itu ya?”Melsya mengingatkan kejadian waktu itu.

“iyalah..masa gue bisa lupa sama muka cengong loe waktu bingung gue pergokin loe maling di kantin.”Hans meledeki Melsya

“ye gue nggak maling kali.”Tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian saat itu.

Lalu setelah selesai tertawa mereka hanya saling diam.lalu Hans menyadari sudah terlampau lama dia di kelas Melsya,dan akhirnya

“Mel..gue ke kelas ya…daaaaaa.”Hans terburu-buru keluar dari kelas Melsya

“OK!”Melsya mengangguk dan tersenyum.

Sesaat setelah Hans keluar dari kelasnya..suara teman-temannya menggelegar.

“Cie…Hans..pacaran ya sama Melsya?”

Pertanyaan itu memberondongi Hans yang berusaha cepat pergi kekelasnya.ternyata mereka mengintip momen kebersamaan Hans dan Melsya.Mona dan Keno juga ada di sana.tak dapat di pikir namun bisa di terka,Keno dan Mona bekerjasama untuk membuat gossip ini.

Saat itu Mona sebenarnya setelah Hans memasuki kelas Melsya,dia sudah sampai ke sekolah dan berlari ke kelas,namun Keno mencegah Mona.

“Heh..mau kemana loe?”Keno menghalangi jalan Mona

“ya mau ke kelas lah,mau kemana lagi?”Mona bingung ada cowok dengan baju kusut menghalangi jalannya

“loe Mona kan?temennya si Melsya?”Keno bertanya kepada Mona

Mona hanya mengangguk pelan

“Jangan dulu kekelas gue ada rencana bagus.”Keno membisikkan suatu hal di telinga Mona

“Ide bagus tuh.”

Akhirnya mereka bergegas mencari teman-teman yang lainnya untuk melihat ke kelas,membuat gossip bahwa Hans dan Melsya pacaran.

Setelah Hans pergi..Melsya kebingungan dengan hal itu.dan mengira pasti Mona pelakunya

“loe ya pasti yang ngerencanain ini?”Melsya malu tidak karuan

Mona hanya mengangguk dan tersenyum sadis.

“gue nyuruh loe dateng pagi soalnya gue udah nyelesain PR Matematika,di bantu sama guru privat gue kemarin sore.”

“nah loe kenapa malah dateng telat?”Melsya menyergap Mona dengan tanya mati

“um…gue…gue kejebak macet..hehe,”Mona menyembunyikan hal itu untuk tidak di ketahui Melsya bagaimana dan mengapa bisa Mona membuat gossip besar itu.

Setelah kejadian itu Melsya malu bila bertemu dengan Hans,begitu juga dengan Hans,namun sepertinya keaadan sudah mendukung agar mereka cepat memulai suatu hubungan pacaran.dan setelah gossip itu semakin hangat di bicarakan fans Hans menelan kekecewaan dan menjauh dari Hans,ada untungnya juga untuk Hans.lalu kapankah Hans bisa berani menyatakan cintanya,sepertinya Hans sudah merasakan bulir cinta mengalir dalam tubuhnya.Cinta itu pengorbanan,harus di kejar.

Mas Cool Bag 2

Ini dia Bagian yang ke dua,kali ini Mona yang akan lebih mendominasi Bagian dua.Selamat Membaca.Jangan bosan bosan ya!!! 🙂

Mas Cool Bag 2

            Mona sedang pusing mikirin Jhonatan yang tiba-tiba marah gara-gara si Mona telat dateng ke acara ulang tahun Jhonatan.ya namanya juga pacaran apa-apa di jadikan masalah.kali ini bukan galau lagi tapi galau banget.

“Mel,gue lagi berantem nih sama Jho.:(!”Mona mengirim WhatApp pada Melsya

            “lho kok bisa?”tanya Melsya

            “kamu lagi di mana Mon?”

            “gue juga ada cerita sama loe.”

“Gue ada di rumah,kesini aja Mel.gue lagi galau nih:( !

            Saat itu sebenenar-benarnya Melsya sedang bersama dengan Hans.namun merasa ada sehabatnya yang sedang membutuhkan bantuannya.Melsya langsung meminta di antarkan oleh Hans ke rumah Mona.namun Melsya tidak menyarankan Hans untuk singgah di rumah Mona nanti.Hans menancap gas untuk segera sampai tujuan yang di minta Melsya.

“Hans makasih banyak ya loe mau nganterin gue?”ucapan terimakasih Melsya amat mempunyai makna yang jelas dengan tatapannya

“iya nggak masalah kok.ngomong-ngomong,ini rumah Mona?”tanya Hans pada Melsya

“iya ini rumahnya si Mona,yaudah ya Hans gue masuk dulu.Makasih banyak Bye!”sambil terburu-buru masuk kerumah Mona,Melsya sempat memberi salam perpisahan pada Hans.

“Bye.”sambil melambaikan tangan Hans membalas lambaian tangan Melsya

Derungan motor matic Hans perlahan jauh dari telinga.akhirnya Hans pulang dengan bergembira hati.tak di sadari Hans mengingat sesuatu yang harusnya di berikan kepada Melsya.

“ya ampun novel ini kan punya si Melsya.kebawa deh sama gue.besok aja deh gue balikin!”Hans baru menyadari novel yang di beli Melsya bersamanya tadi terbawa olehnya

Di kamar Mona yang serba Pink.perlahan hentakan kaki Melsya mendekati tubuh Mona yang saat itu terlihat tertunduk lesu sambil memeluk boneka teddy bear nya.

“Mon,loe kenapa?”Melsya menyentuh tangan Melsya

Apakah Mona tertidur karena kehabisan air mata dan lelah,entahlah.

Mata Mona perlahan membuka,samar-samar melihat wajah Melsya di hadapannya

“Mel?udah lama loe di sini?”Mona bertanya dengan lemasnya kepada Melsya

“Baru aja dateng kok Mon.loe kenapa sih kok galau nya kayak begini?”Melsya heran.ternyata Mona yang sangat amat cerewet bisa juga menjadi galau maksimal seperti itu.

Hati-hati galau bisa melanda anda yang sedang Jomblo.

“yaiyalah Mel yang namanya galau itu kayak gini.”Mona ketus menjawab Melsya

“aduh jelek banget ya kalau loe lagi galau,udah jangan sedih Mona sayang!”Melsya mencoba mendinginkan suasana

“Mel!”Mona susah sekali ingin bicara keburu malah nangis duluan

“Mel!”Mona sudah mulai mengeluarkan air mata lagi.dan Melsya bersabar mendengar lanjutan kata yang keluar dari mulut Mona.

“gue lagi berantem nih sama Jho.gara-gara gue telat dateng.”Mona tak sanggup lagi bicara

“ya ampun Cuma gara-gara telat dateng?,mungkin Jho lagi bad mood banget hari itu jadi dia marah sama kamu,nggak papa kali Mon,kalau misalnya Jhonatan memang benar-benar sayang sama loe,dia juga nanti baikan lagi sama loe.”Melsya menenangkan hati Mona yang sedang kalut.

“tapi dari kemarin Jho nggak ngehubungi gue,gue telephon malah di reject.”lanjut Mona sambil menangis

“positive thinking aja Mon,mungkin aja dia lagi nggak punya pulsa atau HP nya jatuh ke got.mungkin aja kan?”Melsya selalu saja berusaha membuat tersenyum Mona

10 menit kemudian setelah Melsya mengeluarkan jurus nasehat nya,dia mulai capek menyakinkan Mona bahwa Jhonatan sebenarnya juga ingin baikan lagi.Saat itu keduanya saling diam.Mona mulai berhenti menangis karena kecapek-an nangis melulu.dan Melsya tertidur pulas di ranjang empuk milik Mona.Mona yang kebingungan saat itu ikut tertidur menyusul Melsya.untung saja besok hari Minggu,sekolah libur.

***

Pagi harinya,mata Mona bengkak.sekarang giliran galau gara-gara mata bengkak.maklum Mona adalah cewek yang amat perfeksionis.Melsya yang baru saja bangun,melihat Mona di depan cermin berkaca diri dengan begitu dekat mempermasalahkan mata bengkaknya.

“Mel mata gue,kok jadi kayak mata Panda?”Mona bertanya pada Melsya

“nggak tau,awas ya kalau loe nangis lagi?”Melsya kecapek-an semalam tadi tidurnya nyenyak sekali.dan Mona sekarang mulai semangat kembali.Melsya sepertinya memiliki sebuah ide bagus.Udara pagi ini sangat mendukung,hujan pun mulai mengalah pada matahari dan Minggu pagi begini baik jika di manfaatkan.

“Mon,loe punya celana training 2 kan?”dengan semangat bertanya kepada Mona

Mona sedari tadi sibuk di depan cermin meratapi mata bengkaknya yang tak kunjung berubah.dengan memberikan sedikit anggukan kecil mengisyaratkan jawaban “Iya!” dari Mona.

“Kita lari pagi yuk,mumpung ujan udah berenti?”tetap saja ajakan Melsya di hiraukan oleh Mona

Tak sabar melihat Mona yang terlihat amat lesu dan kusut,Melsya menarik Mona untuk segera menunjukkan dimana letak celana training itu berada.

“sabar dong Mel,gue kan lagi galau.”dengan sedikit menatap sinis kearah Melsya

“galau itu bukan hal yang bisa loe pake buwat alasan tau?”nampaknya Melsya enggan kalah dari Mona.

Setengah jam kemudian matahari sudah mulai terik namun masih bersahabat sekitar pukul 08.00 akhirnya mereka siap untuk berlari-lari mengelilingi kota Sukabumi yang indah dan asri namun sekarang sudah banyak RUKO yang di bangun di kawasan per-Kotaan ini,namun tetap saja pohon yang hijau selalu memperindah setiap sudut Kota walau sekarang, RUKO mulai mendominasi.

“ayo dong semangat.loe jangan lesu gitu dong Mon!”Melsya kesal sekali dengan kelakuan Mona yang tak kunjung berubah

Tanpa sepengetahuan Mona,Melsya dengan sigap menghubungi Jhonatan ,melalui SMS.

“Jho,loe bisa bantu gue nggak?scooter gue mogok nih!”Berbohong demi kebaikan memang wajar

Sedikit lama Melsya menunggu balasan dari Jhonatan,sambil berusaha menghibur Mona yang nampak tak bergairah berlari pagi

“bisa Mel,mogok di mana?nanti gue ke sana.”balas Jhonatan lewat SMS

Jhonatan siswa SMK Otomotif ,jadi tentu saja bisa menangani motor mogok milik Melsya.

“Jl.Siliwangi Jho.”Melsya melancarkan rencana menemukan Mona dengan Jhonatan

Masalah selalu datang begitu saja.namun bila Cinta yang membuat suatu hal tersebut datang maka keduanya harus saling mengerti bukan saling menyalahkan.Mona baru saja pacaran sebulan namun rintangan cepat sekali datang,bagaimanakah dengan Melsya dan Hans mereka baru sebulan juga berteman dekat.

Sedikit berlari-lari kecil Melsya mengajak Mona untuk bersemangat agar segera sampai ke Jl.Siliwangi.Semoga saja rencana Melsya berhasil.

“Mel,tumben banget loe milih jalan ini?”Mona menyadari ada yang janggal

“gue lagi pengen aja kesini,lagian apa salahnya kan?”Melsya tersenyum menyembunyikan kebohongan kecilnya.

Dari kejauhan Melsya sudah melihat kedatangan Jhonatan,lalu bagaimana cara menemukan Mona dengan Jhonatan.

“Jho,gue ada di deket Cafe GP!”dengan cepat Melsya mengirim SMS pada Jhonatan,lalu Melsya berusaha menempatkan Mona di depan Cafe GP.

“Mon,loe tunggu sini ya?gue mau beli minum dulu,jangan kemana-mana.”

“gue ikut loe aja ya?”Mona bingung mengapa Melsya ingin membeli minum saja,sampai meninggalkan Mona di depan Cafe yang belum buka.

“jangan,loe  di sini aja.”Melsya berlari-lari meninggalkan Mona.

Jhonatan akhirnya berada tepat di depan Café tersebut,lalu Mona sangat terkejut dengan kedatangan Jho disana.Jhonatan baru sadar betul setelah agak lama memandangi Mona di sana.lalu siapa yang akan memulainya.sepertinya keduanya sangat malu-malu kucing.

Melsya memperhatikan dari jauh,mereka saling berdiam diri.tetapi Melsya ingat ucapan Mona waktu itu.saat dia dan pacarnya marahan,mereka hanya bisa saling berhubungan lewat SMS untuk baikan lagi.Setelah agak lama Jhonatan mendekati Mona dan mengajaknya pergi dari sana.

“Mel,sialan loe ngerjain gue,tapi makasih.:D!”Mona mengirimkan SMS kepada Melsya

Melsya yang bengong karena di tinggalin sama keduanya,akhirnya pasrah saja

“sialan,gue yang jadi galau sekarang,masa gue lari sendirian?”akhirnya Melsya dengan semangat melanjutkan acara lari paginya,walau sendirian namun tetap harus di nikmati.

***

            Dengan langkah gontai Melsya akhirnya pulang sampai rumah dengan lelahnya.untung saja orang tuanya sudah mengetahui kemana perginya Melsya tadi malam,jadi tak ada masalah setelah Melsya pulang pukul 10.30 pagi itu.Melsya terdiam di ruang tamu.

“Mel,gimana kabar Mona?mamah lama nggak ketemu sama dia?”ucap mamahnya sambil mendekati Melsya yang Nampak lelah

“dia baik-baik aja kok mah,nggak berubah tetep cerewet kayak dulu!”sambil tertawa geli Melsya memberikan kabar Mona.

“bagus deh kalau gitu,kamu mau makan nggak?”

“makan sama apa mah?”

“sate ayam,itu makanan kesukaan kamu kan?”

“iya,hehe,tapi Melsya mau mandi lagi deh,bau keringet nih.”

Setelah membersihkan diri dari keringat yang bercucuran,Melsya menyamber Sate 30 tusuk,dan di habiskan semuanya oleh Melsya,rakus sekali dia.

Tak lama kemudian Melsya kekenyangan,setelah itu akhirnya Melsya memasuki kamar tidur nyamannya,sambil berbaring di kasur kesayangannya.hingga menyadari bahwa novel yang dibeli kemarin sepertinya terlupakan,Melsya panic mencari novel tersebut.sudah dia cari di bawah kasur,di atas lemari dan di dalam celengan*yang ini enggak ding*,tak kunjung menemukannya akhirnya Melsya galau memikirkan novelnya.

***

Tresno Jalaran Soko Kulino itu kata orang jawa yang artinya rasa cinta bisa timbul karena terbiasa.

Hans sepertinya  mulai tertarik dengan Melsya namun belum ada getar cinta yang menariknya kepada Melsya.Novel milik Melsya di pegang terus menerus oleh Hans,seperti memikirkan sesuatu,Hans terdiam di ruang tamu bersama temannya Keno.

“loe kenapa sih Hans?”Keno mulai curiga sepertinya Hans lagi galau,

sepertinya galau sedang melanda semua orang.

“enggak lah,gue lagi males aja maen game.”Hans tetap berusaha menutupi perasaannya,lalu apa sebenarnya yang dirasakan Hans yang sebetulnya

“loe suka ya sama Melsya?”Keno menggoda Hans yang Nampak terganggu.

“nggak tau juga ya Ken,gue tu sebenernya suka sam melsya,tapi kok nggak ada gregetnya kalau gue lagi deket sama dia gitu.”Hans berterus terang

“mungkin loe belum bener-bener suka tuh sama tu cewek?”

“iya kali ya.”Hans mulai sadar bahwa cinta itu harus ada prosesnya.

Hans mulai dari sekarang akan menunjukkan bahasa tubuhnya kepada Melsya,menunjukkan bahwa dia menyukainya.

“Ken loe gue tinggal dulu ya,gue mau ketemu sama Melsya.”Hans Nampak sangat semangat mengejar Melsya

“Oke sob,sukses ya bro?”Keno tetap asik sendirian main game sendirian.

Sambil bersiap diri,Hans sempat menghubungi Melsya

“Hallo?”Melsya menjawab telephone Hans

“mel,gue tunggu loe di Café let.ajarin gue PR matematika ya?”

“tapi gue…”Belum sempat memberikan alasan Hans memotong kata-kata Melsya

“udah,pokoknya gue tunggu loe di Café let.byeee!”

Biiiiiipppppppppp.Hans menutup percakapan itu lalu Melsya panik,harus pakai baju apa,tas apa,dan sepatu yang mana?,Melsya mengerutu tiada habisnya

“Hih,tu anak,kalau bukan cowok yang gue suka nggak bakalan deh gue sepanik ini.”

“bukannya di jemput malah nyuruh gue dateng sendirian kesana,Aneh!”

Bagaimana pertemuan Melsya dengan Hans di Café let?Cafe let adalah Café yang menyediakan macam olahan bakso,sedangkan Melsya tak menyukai Bakso.

Dengan sukses Melsya berdandan cantik dengan setelan dress pendek bewarna kuning cerah,dengan rambut terurai panjang.saat itu Hans sudah berada duluan di Café let.akhhirnya Melsya mendekati tempat duduk Hans dengan pipi yang merona.

“Hey Mel!”Hans menanggapi kedatangan Melsya dengan senyuman.

“maaf ya gue ngedadak banget nyuruh loe dateng ke sini?” Hans merasa bersalah.

“nggak papa kok,oya katanya mau di ajarin matematika?”Melsya berusaha menghangatkan suasana.detak jantung nya berdesir kencang karena berhadapan dengan Hans.

“itu mah entar aja deh Mel,kita pesen makanan dulu yuk?”Hans membelokkan pembicaraan

Pelayan datang kearah meja mereka.namun Melsya terdiam seketika

“Mel loe mau pesen apa?”tanya Hans

“gue mau minum aja deh,jus Alpukat ya?”Melsya berusaha menyembunyikan ketidak sukaannya terhadap makanan yang bernama Bakso.

“loe nggak mau makan?”tanya Hans penasaran

“enggak deh Hans.hehe!”Melsya benar-benar berusaha sopan dihadapan Hans.dan berusaha menyembunyikan dengan rapih perasaan yang sangat dalam kepada Mas Cool.

Sepertinya bukan hanya Melsya yang memendam rasa itu,tidak ada istilah Cinta bertepuk sebelah tangan diantara Hans dan Melsya,lagi pula kalau tangan sebelah mana bisa bertepuk,pokonya mereka sedang benar-benar bahagia bertemu kembali secara Intens.

“mbk kita pesen jus Alpukat dua.”Hans mengimbangi Melsya

Mereka berdua hanya bisa saling berdiam diri saja tak bisa memulai pembicaraan.alasan Hans mengajak Melsya ketemuan karena dia ingin sekali mengenali lebih jauh tentang Melsya.

“Mel gue ada sesuatu nih buat loe.”Hans mengeluarkan novel yang terbawa olehnya,rupanya alasan yang sebenarnya mengembalikan Novel yang terbawa olehnya

“ya ampun ada di elo,masih baik-baik aja nih,makasih banyak Hans?”Melsya senang sekali akhirnya dia bisa juga memegang novel yang telah lama dia inginkan

“iya sama-sama,sori Mel.hehe!”Hans bersalah membawa novel Melsya itu

“iya nggak papa,udah sini mana soal matematika yang susah?”dengan agak songong Melsya berlaga bisa mengajari Hans soal matematika yang di berikan oleh ibu Milda

Hans mengeluarkan buku PR matematikanya lalu Melsya berusaha memberi solusi,karena Ibu Milda itu pantang memberi PR yang sama di setiap kelas,maka akhirnya Melsya harus bersusah payah juga untuk mengajari Hans,karena Melsya dan Hans kan beda kelas.semoga saja Melsya tidak pingsan karena pusing berhadapan dengan matematika dan sekaligus berhadapan dengan Mas Cool yang super Cool itu.

Mas Cool Bag 1

Readers,ini adalah Cerbung pertama yang ku gue buat,ini adalah bagian yang pertama,hari ini gue cuma baru posting yang bagian 1 dan 2,jadi tunggu saja yang selanjutnya,gue bakal terusin sampai Bagian 5 :D,do’akan saya #Semangat #Menyerah tidak akan.hehehe:D.Selamat menikmati.semoga kalian suka.

Mas Cool Bag 1

Koridor SMA Melati sangat ramai hari Selasa itu.Seluruh penghuninya keluar kelas dengan senangnya karena mendengar bel berbunyi.Tetapi tak lama menikmati kemerdekaan,begitu melihat langit yang meneteskan hujan mereka berkeluh kesah,saat itu cuaca begitu buruk.
Serentak semua siswa mengeluarkan jurusnya menghubungi sopir-sopir nya,beda dengan Melsya.Cewek penghuni SMA Melati ini cuek dan tidak begitu peduli dengan air hujan.

“Mel,loe kok nggak nelphone sopir loe sih?”Tanya Mona

“Harus ya?”ucap Melsya dengan sedikit tertawa

“hello!liat tuh ujan,kalau kulit kita kena air ujan nanti bisa rusak terus usaha gue sia-sia dong,terus……”belum sempat Mona menyelesaikan kata kata nya,Melsya memotong

“Terus!gue harus bilang WOW gitu,sambil gangnam style di atas gedung gitu?”ledek Melsya

Mona kesal dengan jawaban sekenanya Melsya.sementara Melsya malah begitu girang melihat sahabatnya cemberut
Sopir Mona telah tiba dihadapan nya,menjemput dengan sembari memegang payung warna pink.Mona senang akhirnya bisa pulang juga.
“Mel serius loe nggak mau ikut sama gue?”Mona mengajak Melsya untuk pulang dengannya

“nggak deh Mon,gue kan bawa scooter,masa Iya gue tinggalin di sekolah!”tolak Melsya dengan pintarnya

“yaudah deh!kalau gitu gue duluan ya Mel?”Mona menutup kaca mobilnya
“da-daaa Mona!”

Entah kenapa Melsya senang sekali menjahili Mona,Sahabat baik nya sedari SMP,aneh nya sih Mona nggak pernah memasalahkan kejahilaan Melsya.

“hahahahaha,dasar si Mona mau aja gue bo’ongin,hari ini gue kan nggak bawa scooter gue!”tawa nya mengikik dengan puas nya.

Melsya berlarian menuju Kantin yang sepi,menghiraukan tetesan air hujan yang begitu mengganggu.Dia lebih suka melewati jalan keluar SMA Melati dari kantin,menghindari Sopir nya yang sudah otomatis selalu menjemputnya di setiap harinya.maklum Melsya hanya ingin bebas satu hari saja dari genggaman orang tua nya walaupun agak sulit.Tujuan nya saat itu pergi ke arena game di sebuah Mall dan melepaskan sejenak kepenatannya sehari penuh tadi.saat Melsya akan melewati pagar dengan memperlambat aksinya dan mengendap.sesosok cowok begitu serius memperhatikan tingkah Melsya.Dia menepuk bahu Melsya

“heh!loe maling ya?”dengan sedikit heran bertanya
Dan itu membuat Melsya kaget

“ya bukanlah,liat dong seragam gue, gue orang sini!”Balas Melsya dengan serius.walau sedikitnya rasa risih mengganggu nya

“kalau loe bukan maling terus ngapain loe ngendap-ngendap gitu?”Tanya cowok itu dengan penasaran

“ah elo pengen tau aja Kepo amat sih,emang siapa sih loe?”Melsya bingung kenapa dia harus menjawab setiap pertanyaan cowok itu.

“haha,loe juga Kepo kali!yaudah sana pergi tuh sopir loe udah jemput loe tuh!”dia menasehati Melsya sambil menunjuk kearah Sopir Melsya yang datang menjemputnya

“HAH?So-so-pir gue!”dengan kaget nya Melsya melihat orang yang di tunjuk cowok itu.

“ih elo ya!gara-gara loe.AWAS loe nanti!”Melsya begitu marah karena usaha nya menghindari sopir nya gagal total.

Kalah cepat dengan seseorang itu memang menyebalkan,apalagi kalah dengan sopir sendiri
Dari aura gelap dengan cepat Melsya merubah auranya menjadi cerah di hadapan sopir nya

“eh bapak kemana aja,kenapa baru dateng,saya udah lama lho di sini nungguin jemputan bapak?”ucap Melsya dengan manisnya

“maaf non,bapak kejebak macet!”

“oooo gitu!” Melsya memakluminya,sambil menggerakkan matanya memutar
Melsya menengok kearah belakang,mencari cowok itu,yang ternyata sudah tidak berada di situ lagi.agak bingung Melsya menatap keseluruh penjuru Kantin mencari keberadaan cowok itu.Dan tidak menemukannya.

“non,mari kita pulang!”

“Iya pak!”sambil tersenyum pahit dia mengikuti Sopir nya menuju mobil nya lalu pulang dengan hati hampa karena rencananya gagal karena cowok tadi.

Baca lebih lanjut

AnnaBella

Hay readers,gimana tetap semangatkan hari ini.oya kali ini gue mau nge posting cerpen yang ku anggap sedih sih,tapi nggak tau juga nih,coba gimana menurut kalian.selamat membaca.:D

AnnaBella

            Sedari tadi lelaki tambun dengan rambut yang kribo itu mengayun ayunkan selendang yang dia mainkan dengan gemulainya,di iringi musik yang berasal dari orkes yang mengiringinya sepanjang dia menari.make up tebal nya seolah menutupi wajah aslinya.Orang orang semakin ramai saja banyak anak kecil di sana,tetapi yang dia harap harap bersama teman-temannya,tidak di dapatnya.Sungguh kejamnya dunia ini.

            Bel sekolah berbunyi di iringi dengan kegembiraan mereka yang dari tadi memang harap harap cemas menunggunya maklum saja awan mulai gelap dan menangis,dan sebentar lagi kota akan terguyur hujan lebat yang menyebabkan banjir bandang.Tahu kan kota Jakarta.Kota metropolitan yang mungkin patut di sebut megapolitan,bukan karena apa-apanya,tetapi karena penduduknya yang amat banyak.Jakarta memang hebat.

“Asna,gue ikut loe ya,Ok!jangan protes dan jangan nanya-nanya!”

Olive memaksa Asna menghantarnya sampai rumah,gadis populer yang tidak tahu malu.Dan tapi harus di akui dia adalah perempuan yang cantik.

“Tapi Liv,gue nggak bisa nganterin loe lagi!”Sergap Asna sambil segera memakai helm lalu bersiap meninggalkan Olive.

Asna hanya bisa menolak Olive mentah-mentah dengan itu Asna bisa lepas dari genggaman Olive.Asna adalah lelaki yang memiliki paras yang amat elok dan tampan,tapi dia bukan lelaki popular yang selalu menginginkan tahta teratas,dia hanya kebetulan jadi popular karena Asna adalah lelaki idaman Olive.

Tanpa peduli ocehan Olive.Asna melesat cepat dengan motor kesayangannya.tepatnya vespa kesayangannya,Walau amat tampan tapi tetap rendah hati memakai vespa butut warisan ayahnya.padahal sudah jelas lelaki popular di sekolah pasti memiliki motor yang amat gagah,motor matic atau apalah itu yang semacam motor balap mungkin.Gosip bilang Asna adalah anak saudagar kaya.ya itulah mereka yang selalu ingin tahu kehidupan orang saja,hanya sekedar ingin tahu.

Olive tanpa tahu apa itu “malu”,menghentakkan kakinya dan membalikkan badannya sehingga berlalu dari sana di ikuti sahabatnya Lara dan Oxel.ada ada saja ulah Olive,ingin di puja mati matian oleh banyak lelaki dan perempuan,Ingat Olive di dunia ini tidak ada yang sempurna.Amat kasian sekali mereka sudah tiga tahun ini harus menjadi pendamping Olive,yang harus selalu memuji setiap gerak geriknya.

Jadi apa yang di sebut pengorbanan persahabatan,memuji habis habisan teman kita yang amat hebat,atau bekorban nyawa saat teman kita,butuh nyawa pengganti?.Ya suatu hari nanti akan kita ketahui.

Hari ini akan cepat berlalu,Olive termangu di jendela rumahnya,sebenarnya Olive adalah anak yang baik.tetapi hanya saja keadaan lah yang membuat dirinya menjadi sekarang saat ini.teman temannya lah yang mendorong nya untuk tetap menjadi seorang yang angkuh dan menjengkelkan.Bukan kah jika manusia di beri sugesti seperti misalnya”Kamu baik deh”,pasti Dia akan terus melakukan kebaikan.Kebahagiaan adalah suatu pilihan,dan Hidup akan terus mengalir indah bila kita dapat melihat kebahagiaan itu.dan pada akhirnya hari yang amat menyakitkan untuk Olive berakhir dengan cepat,Fajar menjemput sore,dan bejana pengharapan resmi di tutup.

1311

            Asna,sudah pagi pagi buta buru buru berangkat sekolah.Dia tahu betul Olive pasti minta di jemput olehnya,dengan itu Asna berangkat pagi pagi buta.Terlalu pagi bagi seorang siswa tentunya.ayam pun masih belum berkokok.tetapi Asna belum sampai sekolah dia masih dalam perjalanan,mungkin nanti pukul 05.30 pagi sudah sampai sekolah.

            Olive hari ini tak berminat mengganggu Asna,mungkin Dia sadar diri.Olive hanya tinggal dengan Ayahnya di rumah yang sepi dan besar.Tentang mamahnya,sangat sulit di jelaskan.Saat sarapan pagi Olive berbincang dengan Ayahnya.
“Ayah kemarin kenapa pulang telat,Olive sendirian di rumah?”Tanya Olive dengan pertanyaan mati kepada Ayahnya

“Maaf,kemarin ayah harus lembur,Biar kita bisa tetap bahagia.”

“Bahagia gimana?bergelimang harta itu bukan bahagia Ayah!”Olive hanya akan bahagia bila Mamah nya bersama mereka.Olive sedih bukan kepalang

Olive pergi begitu saja pergi dari meja makannya.Ayahnya tak dapat berkata apapun itu melihat anaknya marah menggoyahkan pikirannya.

Di dunia yang fana ini,manusia tidak akan bisa lepas dari yang namanya masalah,makanya kita harus hadapi masalah dengan penuh pengorbanan dan keberanian.

“Hello Girl,apa kabar hari ini?”sapa Olive pada Lara dan Oxel

“Is a Good day!”jawab mereka dengan gembira sekali,lalu menyatukan tangan dan mengucapkan salam Sahabat.

“Kalau aku mati aku harap diantara kalian ada di samping ku”

Hal yang aneh,tetapi itulah mereka.tetapi berbeda dari biasa Olive memasang wajah yang jarang di lihat oleh orang orang di sekitar sekolah,Raut wajahnya begitu sedih.Olive memeluk Lara dan Oxel.

“Loe kok nangis Live!”sanggah Lara

“Kamu kenapa Live,ayolah jangan kayak gini,ini bukan Olive yang kita kenal?”Oxel berusaha membuka hati Olive untuk berbicara.

“Kalau loe ada masalah jangan sungkan bicara sama kita!”Lara berbicara dari dalam hati sambil mengelus elus punggung Olive.Setelah agak lama Olive melepaskan pelukan dari sahabatnya.

“Gue,mau tanya sama kalian,tapi harus jawab jujur.”Olive seolah ingin benar-benar tahu apa yang mereka pikirkan

“Kalau gue memang sahabat kalian,apa kalian memang anggap gue sahabat kalian?”

Olive masih mengusap usap pipinya karena derasnya air mata yang keluar

Lara dan Oxel hanya tertawa terbahak bahak saja.mendengar Olive bertanya seperti itu,bukan seperti biasanya.

“tunggu deh,loe ngapain nanya gitu?”Oxel bertanya sambil menahan tawanya

“ya….kan gue Cuma mau tau aja,apa salah ya?”Olive kehilangan separuh nyawanya sepertinya.

Akhirnya mereka berhenti bertanya lagi,lalu menjawab pertanyaan yang di sodorkan Olive,

“Kita itu tulus Live,berteman sama elo!”Sahut Lara

“Harusnya jangan nanya kayak gitu lagi,udah jelas kita sahabat.ya walau banyak yang bilang kita Cuma ngincer harta loe doang,tapi sebenernya enggak.”

“Bener kata Oxel,Kita sayang sama loe Live.”Mereka berpelukan,dan Olive dengan kencangnya menangis.dan banyak orang melihat ke arah mereka.Ternyata mereka bukan pendamping yang kita bayangkan,mereka adalah nyawa Olive itu sendiri

“Thanks ya guys?”Olive masih menangis tersedu di pelukan Lara dan Oxel.

            Hari ini adalah hari yang spesial untuk Asna,Dia berulang tahun,Olive tentu tak mau mempersembahkan hal yang percuma dan dia pasti memberi hadiah mahal.Olive diam diam mengikuti Asna dari belakang sepanjang perjalanan Olive menatap kearah vespa yang di kendarai oleh Asna,sempat pula terjadi kehilangan jejak saat mengikuti Asna,tapi ajaibnya sopir Olive adalah sopir yang handal jadi pasti bisa mengejar Asna lagi.Setelah rintangan di jalan terlewati akhirnya Olive mengetahui kediaman Asna,

“Pak pak,stop di sini dulu!”

Namun tak sejelas yang di kira Olive.Rumah Asna adalah rumah sederhana dan di depan rumah Asna ada Baliho sederhana bertuliskan”Menerima Pesanan untuk Paket Ulang Tahun,Semua Umur”.tertera pula nomor handphone yang dapat di hubungi.Olive penasaran,ternyata benar itu nomor handphone Asna.Menatap dari kejauhan Olive tak mau mendekat jauh lagi dari sana.Sedari tadi hanya mengamati gerak gerik yang terjadi di depan rumah Asna,akhirnya ada orang yang keluar dari Rumah itu.

“Lho kok malah badut sih yang keluar,Asna nya mana!Apa di rumah dia lagi ada pesta ulang tahun Asna?”

“Ah nggak mungkin deh,masa Jasa melayani diri sendiri?”Olive mengoceh tak habis habis.Sopirnya mulai bosan menunggu juragannya.

“Eh eh bentar,gue kok berasa pernah liat tu badut ya,nah lho kok malah naik vespanya Asna?”Tanya lagi tanya lagi,Olive penasaran bukan main.sepeninggalan badut dengan motor vespa Asna,Olive hanya bisa berfikir sederhana saja”Mungkin itu teman Asna.”

“Non kenapa ngomong sendiri,non nggak minat pulang ya?ini udah sore lho.Tumben nggak luluran jam segini Non?”Sopirnya tahu betul kebiasaannya,lalu menggodainya agar cepat pulang,sepertinya dia sudah lelah.

“Ah bapak tau aja,ngintipin saya ya.weeeee parah nih?”

“e-enggak Non suwer.”

“Yaudahlah pak,kita  pulang aja.lagian udah sore.”

Di perjalanan,Olive malah terngiang ngiang wajah badut itu,lalu menatapi kado untuk Asna penuh penuh,Untung dia sudah mengucapkan selamat ulang tahun lewat pesan singkat,ya tapi pesan singkat yang bertepuk sebelah tangan alias nggak ada jawaban.

Sesampainya di rumah,Olive hanya ingin tahu saja sebenarnya badut itu siapa?kalau melihat Baliho tertuliskan seperti itu apa yang di tawarkan adalah “Badut Pesta?”lalu nomor handphone yang tertera di sana?

“Berarti Asna adalah badut itu?”

Olive bertarung dengan fikiran dan hati nurani.Jika benar dia mencintai Asna maka apapun keadaan Asna akan di terima baik apa adanya oleh nya.tapi itu bila dia berfikir dan merasakan dengan hatinya.namun bila dia hanya menginginkan seorang Asna dengan fisiknya dan harta nya maka Olive tentu akan membuang jauh jauh perasaan cintanya kepada Asna.

“Kok gue jadi begini ya?”

“Apa gue baru merasakan cinta yang sesungguhnya?”
“Gue cinta sama Asna.”

Cinta bukan tentang harta atau apapun itu,cinta adalah hal alami yang dibantu oleh takdir.dan cinta adalah pertemuan yang abadi antara dua insan.

1311

“yah?”Olive membuka perbincangan

“ya apa Live?”seolah melupakan kejadian kemarin Ayah Olive sudah bersikap biasa lagi

“Ayah maukan maafin Olive?”

“memangnya kamu salah apa sih?”

Tanya kok balik nanya ya?,um hal yang paling indah adalah ketika dia yang di buat jengkel dan marah akan memaafkan kita dengan mudahnya.

Olive terdian saja tak bisa menjawab.

“iya Live.Ayah udah maafin kok.lagian juga sebenarnya kan Ayah yang salah.jadi maafin Ayah juga ya Live?”

Olive tersenyum manis penuh kebahagiaan lalu menganguk untuk Ayahnya.

“Yah,pokoknya Olive janji bakal ngebahagiain Ayah!”

“Bagus kalau gitu,jangan ingkar janji ya?”

“siap yah.”kepala Olive di usap Oleh Ayahnya dengan penuh rasa sayang.lalu mereka untuk pertama kalinya berangkat Kerja dan Sekolah bersama-sama,Ayahnya yang mengantar Olive.

Sebelum turun dari mobil Olive bersalaman dengan Ayahnya,Hari yang sangat indah.Olive turun dari mobil dan sebelum Ayahnya pergi Olive bertanya serius.

“yah tunggu sebentar.”Olive sedang gusar akhir akhir ini dan dia berusaha menutupi itu

“Apa lagi Live?”Ayahnya terlihat buru-buru.

“Um…am..!”Olive bergumam sejenak

“Yah boleh kan Olive jenguk mamah?”dengan mimik sedikit takut Olive menunggu jawaban “iya” dari ayahnya.

Namun entah mengapa ayah Olive terlihat begitu sedih dengan wanita yang Ia cintai itu.

“Sebenarnya ayah juga kangen sama mamah kamu,Kalau gitu nanti akhir pekan kita jenguk mamah!”Raut wajahnya seolah menyegar

“iya Yah,Oke yah!”Olive tak menyangka ayahnya bakal berbicara begitu.

“daaaaa ayah!”

Senyum ayahnya adalah obat rindu kepada sang mamah.Tak seperti biasa sampai sekolah mem-Bully mereka kaum yang lemah,tetapi itu bukan Olive,Dia hanya cewek centil yang baik kok,bukan yang seperti biasa terbayangkan.Canda ria di sekolah saat istirahat melepaskan sejanak beban pelajaran itu cukup membantu me refresh kan pikiran.Dan yang paling menyegarkan untuk Olive adalah melihat Asna.

“Asna.Heyyy!”Olive dengan semangatnya menyapanya dengan senyuman hangat Olive

“Hey Live?ada apa?”Asna agak tidak nyaman bila dekat dengan Olive.maklum lah Asna tidak menyukai Olive,tapi bukankah jahat bila mengacuhkan lawan jenis yang agresif.

“Asna gue Cuma mau bilang kalau gueee,gueee!”Belum sempat Olive menyelesaikannya.Perempuan cantik muncul dari kejauhan.

“Asnaaaa,gue udah nemuin jawaban dari kuis Ibu Ida di Laboratorium Bahasa tadi!”Semakin mendekat Asna,dia memelankan langkahnya.

“Oh,hay Live?”

“Hay,Sabrina.”

“Jadi apa jawabannya?”Asna begitu antusias bertanya pada Sabrina,Sahabat yang begitu dia kagumi sejak dulu.

“sebentar sebelum loe ngejelasin itu!Live tadi loe mau ngomong apa ya?”

Asna menatap dalam dalam di mata Olive.

“ummmm!”Olive membatalkan tekadnya setelah melihat Asna dan Sabrina malah menatapinya.

“entar aja deh.Byeee!”Olive begitu kacau,lari ,menjauhi mereka berdua adalah solusi yang handal.tentu tahu kan apa yang akan di katakan Olive,gila saja seorang perempuan menyatakan cinta kepada seorang pria dan di depan umum.We O We,WOW.

            Di dalam ruang kelas yang sepi,Olive merenungi hal apa yang tadi hampir dia lakukan.Lara dan Oxel mendekatinya.

“Live,loe tau nggak tentang suatu hal yang mungkin loe belum tau itu?”

“apa gitu yang gue nggak tau.semua yang ada di sekolah ini gue tau semuanya,tentang loe yang suka sama Dimas,tentang Oxel yang sekarang pacaran sama Rezki,lalu apa yang gue nggak tau?”

“Tentang Asna Live?”Oxel menjawab pertanyaan Olive.

“ya hampir semua gue tau tentang kehidupan dia,dia kan seorang…”Olive hampir saja keceplosan

“Pangeran loe?”Lara meledek Olive.

“Iya!”Sedikit meringis menatap Oxel

“Jadi loe bener-bener nggak tau ya rupanya?”Oxel gemes dengan Olive.

“Apa sih?”

“Asna itu pacaran sama si Sabrina,masa loe nggak tau?”Lara sepertinya membuat Olive menangis.

“Huwaaaaaa…nggak mungkin.” Agak berlebihaan Olive menangisi kenyataan itu.

“Maafin kita ya Live,kita nggak ngasi tau kamu lebih awal dari ini.”Lara merasa bersalah.

“itu bener Live,mereka baru aja jadian,belum lama ini.”Oxel hanya dapat berkata jujur terus terusan

“Tapi gue suka sama Asna!”Olive baku dengan pendiriannya.

“Mulai saat ini loe harus belajar berusaha terima kenyataan Live.”Lara memberi solusi

“udah gue duga sih ,dan nggak mungkin Asna itu suka sama gue,cinta gue bertepuk sebelah tangan,.dan itu menyakitkan.”sambil menangis tersedu Olive menangis terus menerus di pelukan mereka lagi dan kali ini gara gara cowok.

Tak semudah yang memang kita ketahui.Jika melupakan seseorang itu sulit tapi yang membuat sulit itu diri kita sendiri.Maka suatu hari nanti diri kita juga bisa membantu kita melupakan orang tersebut.Sadarilah betapa hebatnya kita.Perlahan Kamu akan melupakan Asna Live,bersabar lah untuk hari itu,di saat karma membantumu.

1311

 “mah,aku kembali mah,gimana kabar mamah,baik bukan?mah kamu tahu kan kalau aku sayang sama mamah lebih dari apapun itu,tahu kan?.mah Olive sekarang sudah tumbuh dewasa.mah Olive janji akan hidup dengan penuh semangat seperti yang mamah bilang dulu,mah Olive bawain bunga Lili kesukaan mamah,Olive tahu mamah nggak suka kan sama bunga warna putih,tapi mamah pernah bilang bunga warna putih yang hanya mamah suka itu bunga ini bunga Lili.Mah Olive kangen sama Mamah.Olive pengen nyusul mamah,mah aku kangen mamah.”

Selanjutnya Olive tak sanggup berkata kata lagi,hanya dapat menangis pilu menatapi pusara mamahnya saja.

“Live..mamah mu bisa sedih kalau kamu nangis di sini,sudah lah mamah kamu udah tenang di sana.”Ayahnya mendekat bersama Olive di sana.

AnnaBella

 Lahir Tgl:12-10-1980

Wafat Tgl:13-11-2005

“yang terpenting jangan tinggalin Ayah sendiri di sini.”

-Selesai-