Semesta Cinta

div-litstex1

Tema hari keempat :

Bagaimana definisi “cinta” menurutmu?

Ola hola readers, ngasih tahu aja nih, aku nulis ini dalam keadaan yang lagi enggak sinkron. Aku putuskan membuat jawaban luka saja. Cinta itu luka.

Tiba-tiba langsung dijewer sama para pasangan bahagia dan diteriaki

“Tahu apa loe soal cinta, Hah?”

Maaf om dan tante sekalian, enggak jadi kalau gitu.

Cinta itu kumpulan cerita yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan sedang terjadi.

Cinta enggak pernah salah tapi harapanlah yang salah, makanya kembali berharap sama Tuhan, itu awal cinta semesta —bahasa semesta.

Menerjemahkan bahasa semesta tidak sulit, dia ada kalau bersyukur.

Semesta punya cerita, ada cerita senang maupun sedih, kalau sedih seperti patah hati itu tetap cinta, tapi cinta yang tersakiti. Tapi tetap saja itu namanya cinta.

Cinta itu semesta kebersyukuran. Tidak ada cinta yang salah, ganti sedikit sudut pandangnya saja. Karena cinta juga tergantung sudut pandang.

Mau Bumi atau Bulan?

ballerina-1156351_1920

Holla readers 😀

Masih sisa empat hari lagi, blog ini akan dipenuhi curhatan-curhatan bertema dari Tantangan Menulis @KampusFiksi dan @basabasistore, terimakasih yang sudah mau-maunya mampir ke blog ini.

Tema hari ketiga, 13 Maret 2017

Kira—kira bagaimana perasaanmu jika kamu mempunyai anak, sementara anak tersebut tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan?

Okey readers, hari ketiga ini temanya “nganu” sekali ya. Sebelumnya aku tahu sebuah perasaan seorang ibu yang berharap pada hasil USG, dan pada hari kelahiran, bayinya tidak sesuai dengan hasil USG. Yap, seorang ibu itu adalah Tanteku. Anak pertamanya cowok, nah pas kehamilan anak kedua(lima tahun yang lalu) hasil USG sesuai harapan, tanteku dan suaminya menginginkan anak cewek, semua keluarga juga pengin bayi cewek. Aku ingat sehari setelah ulang tahunku, subuh-subuh suaminya tante menelfon ke ibuku kasih kabar bahwa anaknya sudah lahir dengan selamat, bayinya sehat, dan jenis kelaminnya cowok. Aku ikut bangun dengar kabar itu, kok aku langsung ketawa. —,— jadi anak tanteku dua-duanya cowok yang gemesin. Kata tanteku walau bukan cewek, perasaan tanteku tetap bahagia, tetap sayang sama bayinya, keluarga besar juga sayang sama anak kedua tanteku ini, sekarang dia udah lima tahun, bawel, dan lebih aktif daripada kakaknya.

Nah mungkin kira-kira perasaanku akan sedikit robok seperti tanteku namun segala sudah termaktub, perasaan ibu mana yang tidak terobati oleh sosok bayi baru lahirnya.

Kelak…aku akan menamsilkan dua nama untuk bayi cewek dan cowok, seperti mungkin Bumi atau Bulan? kelahiran bayiku nanti akan menjadi sebuah kejutan yang menyenangkan, sebaiknya begitu.

Aku enggak pandai buat tulisan yang keibuan. Semoga jawaban ini cukup untuk hari ketiga ini. Hehehe tulisanku tidak panjang-panjang kan. Terimakasih sudah mau-maunya baca, see you next post 😀

Negara di Bawah Nol Derajat Celcius

iceland-1904295_1920

Hari kedua, tanggal 12 Maret 2017

Tema :

Jelaskan sebuah tempat terjauh yang ingin kamu kunjungi. Boleh tempat yang bahkan tidak ada di dalam peta.

 

Begitu membaca tema ini, otakku langsung melesapkan pemikiran ke jari-jari tanganku, udah tentu aja  itu Iceland alias Islandia, Negara yang memiliki kawasan 40 ribu mil dengan suhu rata-ratanya -5oC.

Kenapa Iceland?

Karena di sana memungkinkan untuk bisa menyaksikan Salju dan Aurora Borealis. Kalau baca-baca di blog para traveller sih tempat paling favorit di Iceland untuk menyaksikan Aurora Borealis itu ada di Gullfoss Waterfall, sebuah air terjun raksasa yang membeku membentuk pilar-pilar es yang menakjubkan. Iceland punya pemandangan-pemandangan tumpukan-tumpukan salju yang mungkin bisa menghipnotis, sayangnya aku belum pernah ke sana.

31698502820_d9d65590d5_b

Kenapa justru tempat-tempat impian yang ada di otak ini susah buat di wujudkan, ya? mengendap sampai pemilik impian itu mati. Aku suka kagum sama para traveller, kalau di dunia wordpress ini aku kagum sama seorang backpacker yaitu mbak winny yang ajaib banget, dia bisa mewujudkan impian-impiannya. Kalian bisa baca-baca tulisan perjalanan-perjalanan dia di blognya, klik di sini

Awalnya aku juga mau nulis Planet B612 milik Pangeran Cilik sebagai tempat impianku, tapi aku udah ke Planet itu seminggu yang lalu, iya kali ini kalian harus percaya kalau aku ketemu sama Pangeran Cilik, dan cuma sebentar saja di sana, karena enggak mau ngebantuin dia membersihkan Planetnya dari tanaman baobab.ehehehe capek soalnya. Dan di sana enggak ada salju ataupun Aurora Borealis.

Jadi kapan bisa meilhat Aurora Borealis?

Aku udah sering bisa melihatnya di gambar-gambar di google tangkapan para fotografer. Melihat secara langsungnya nanti saja tahun depan. Udah Aaminin aja ya.

Jadi tempat impian kalian di mana?

Kenapa ingin ke sana?

Ngetawain Cinta Monyet

DSC04990

Holla readers. Ada yang kangen gue nggak? uhuk kali ini pakai “aku” ahh. Iya labil banget emang ini blog. Apa kabar semua? jadi ada yang mau nanya enggak aku kemana tiga minggu enggak ngeposting apa-apa? enggak ada ya? ehehehe.

Oke jadi tiga minggu kemarin itu, aku lagi enggak mau aja nulis, lagi enggak ada ide, lagi . . . ya kalau diterusin juga bakal banyak lagi alasannya, alasannya ya malas, hu um itu aja. #laluditimpuk #ditendang #dibuangkeantartika

Kalian pasti pernahlah mengalami yang namanya nulis apapun itu berasa hambar, dan nyawa tulisannya enggak ada, daripada nulis dipaksain, aku milih buat enggak nulis.hahahaha

Sebelum makin enggak jelas ini postingan, mulai hari ini sampai tujuh hari ke depan, blog ini akan mempostingan tulisan yang diikut sertakan di Tantangan Menulis @KampusFiksi. Dan untuk selanjutnya, semoga aja aku tetap nulis seminggu satu postingan di blog ini. Aamin

Okay ! \(-ㅂ-)/

Tema hari pertama, tanggal 11 Maret 2017

Ceritakan kisah yang kerap teringat tentang “cinta monyet” yang kamu alami sewaktu kecil

Ehem.. sejujurnya tema ini berat buatku, tema CINTA itu berat. Kalau rindu aku suka.

Berhubung ini temanya, aku berusaha keras ingat-ingat, siapa sih yang dulu aku cintai diam-diam?, sewaktu kecil berarti pas SD?. Kayaknya yang itu, iya anak laki-laki yang selalu juara 1 dari kelas 1 sampai kelas 6 SD, yang jutek, tapi cool, lalu ingat kok seleraku yang begini ya sampai sekarang.huhuhu. Dia itu ya yang paling mendinganlah di antara semua cowok di kelas.

Langsung aja ke kisah yang aku ingat, dulu aku bisa gambar, kalau kata mbah kakung sama mamak, gambarku ini luar biasa bagus, ho’oh tentu aja itu bohong. Tapi anehnya aku jadi perwakilan lomba menggambar kategori putri antar SD sekabupaten Sleman, dan yang mewakili kategori menggambar putra itu anak laki-laki jutek tapi cool itu. Lokasi lombanya dijadikan satu. Pas udah selesai lomba, aku berdua sama dia jalan kaki buat kumpul lagi ke parkiran mobil yang bawa kita ke tempat ini, iya gitu aja aku seneng apalagi diajak ngobrol. Ya ampun kasihan banget ini kisah, tuh kan garing banget.

(╯°□°)╯︵(\ .o.)\

Dia ini pintar, kalau bisa ngalahin dia di satu pelajaran apapun itu dan ngeliat muka dia yang kecewa karena kalah itu  ada kepuasan tersendiri, iya cinta monyet itu beda tipis juga sama benci. Intinya aku ini berusaha muncul ke permukaan biar dia tahu aku ada, dan biar dia mikirin aku. #plak

Aku selalu pengin ngomong sama dia, tapi dia pendiam, dan kelihatan susah digapai, aku di Bumi dia di Matahari. Ya pokoknya gitulah ….

Kisah itu udah lama banget, semua udah berubah. Karena tema ini aku jadi ingat teman-teman SD ku, kita udah lama pengin reuni, tapi sekarang aku jauh di sini, di Sukabumi. Dia si anak laki-laki jutek tapi cool ini sekarang enggak jutek lagi, dia ramah dan rasa cinta itu udah enggak tahu kemana, ya namanya juga cinta monyet, cinta yang asal-asalan.

Btw, aku jadi kangen monyet peliharaan mbah kakung di Bantul, tapi udah mati. huaaaaaa (╥╯﹏╰╥)

Makasih sudah mau-maunya baca postingan ini. See you next post 😀

Kamu Hujan ? (Monolog)

Kamu Hujan?

13669533_1163621950376786_6129963145992436029_o

 

Kamu Hujan?

Bukan?

Kamu yakin?

…….

Iya

//

Saya lupa, telah lama meninggalkan kamu di belakang

Padahal kamu yang sakit, kan?

Kamu yang sakit, kan?

Tidak?

Kamu yang kesepian, kan?

Tidak?

Seharusnya kamu yang terpuruk

Bukan?

Di sini ada saya, yang ternyata sakit dan kesepian

//

Jangan lupakan saya

Aku tidak pernah melupakanmu

Jangan pergi dari saya

Aku tidak pernah mencoba pergi

Jangan lukai saya

Ini luka belum mengering

Jangan perihkan ini

//

Kamu Hujan?

Mengapa kamu menangis deras?

//

Tapi kenapa kau sudah membahagia?

//

Kamu Hujan?

Iya?

…..

Iya

//

Saya sayang kamu

Dan kamu adalah kamu

Dan saya adalah saya

Dan kita adalah sakit

 

Daw|Sukabumi, 09.02.2017|8.01 PM

Rainy Days Are The Best Day

adult-1851312_1920

Hari ini

Pagi tadi saya kuyub, dan kuyu. Badan saya dibungkus jas hujan kuning, Motor saya melaju pelan-pelan, tapi sialnya melaju pelan karena hujan dan sebab lain adalah truk sampah. Jalanan menggenang hujan, bukan hujan deras beserta angin. Tidak! ini sangat menyebalkan, saya baru kemarin steam motor.

“Kok bisa-bisanya mereka ketawa?” pikir saya melihat ke bak truk yang sudah penuh sampah itu

Tak lama kemudian, ada celah untuk nyalip, dan walau pakai jas hujan, tetap saja ada air hujan yang nakal, merembes ke dalam pakaian.

***

Hari kemarin

14494678_1049016338541093_4626795354480431689_n

Saya sedang autis, jatuh cinta yang mati-matian kepada hujan. Membuat puisi tentang hujan, memotret hujan, bermimpi hujan, mengenang hujan, dan tentunya kamu nyempil dikenangan itu

Saya menikmati kopi lebih sentimental

Makan mie instan lebih mengharukan, karena rasanya menjadi luar biasa enak

Makan wafer coklat lebih membahagiakan, karena rasanya menjadi lebih manis

***

Hari kemarin lusa,

16387025_1860897454188847_5145594045662602729_n

Saya awalnya stres, karena laporan praktikum menumpuk, kemudian hujan datang secara curang karena main keroyokan. Perasaan saya dikeroyokin hujan sangat menggembirakan, tapi begitu stres hilang dan laporannya selesai, kok saya malah patah semangat menulis (cerpen, puisi, dll) ?

Ternyata definisi hilang semangat menulis saya ini ada banyak :

  1. Malas menulis
  2. Tidak mengizinkan diri sendiri menulis bebas
  3. Tidak mengizinkan diri sendiri membuat kesalahan
  4. Lupa rasanya dicinta #abaikan

Pada akhirnya, hujan adalah sebuah kebahagiaan 🙂

Menamsilkan Kehadiranmu

butterfly-1600324_1920

Kini keadaan terlalu cengeng untuk dimintai alasan, Hingga segala desik gerakmu seolah teromantisir dengan mudahnya.  Semuanya terlalu mudah membuat beberapa harapan untuk menjadi menyerah. Entah menyerahkan pada apa mau takdir atau mau hati.

Kini kita lupa, bahwa menggugat keadaan, sama saja melawan arus. Lupa juga, bahwa banyak yang hidup pantas mati, dan banyak yang mati masih pantas hidup. Hingga akhirnya kita sadar, kita sudah membuang energi sia-sia. Seharusnya sudah sejak lama kita menyerah, dan mencari celah-celah dari sedikit gerimis senja, nanti dibaliknya ada pelangi, pelangi di malam hari.

Jadi kita menyerah bersamaan?

Atau aku dulu? Baru kamu?

Atau kamu dulu?, Baru aku?

***

Menamsilkan kehadiranmu tak cukup semalaman tanpa tidur dan kopi.

Menamsilkan kehadiranmu harus cukup tidur, dan dengan jernih memikirkannya.

Kata seorang sahabat padaku

“Apa kau tidak merasa ada yang berubah setelah dia hadir?”

Terangkum jelas, bila seseorang dihadirkan bukan sia-sia di suatu keadaan, dan ternyata terlalu sering menamsilkan kehadiran seseorang, membuat perasaan tercabik-cabik, perih, ngilu, dan ingin kabur saja.

Sepertinya pilihan kedua yang terpilih dalam keadaan ini, Kamu menyerah duluan, baru aku.

Kamera Kodak Punya Bapak

Yap…betul sekali.

Aku lagi kangen sama almarhum bapak, enggak tahu bagaimana kalau bapak masih ada, mungkin hidupku lebih seru dari sekarang ini, tapi enggak tahu juga.

Ibuk minggu kemarin bongkar-bongkar gudang, ada kamera kodak ini nyempil di antara semuanya. Aku nanya ke Ibuk.

“Buk, ini kamera yang dipakai buat ngejepret foto yang mana?”

“Itu yang kamu diajak ke MONJALI..”

“Hmmm..itu tho.”

Lantas aku ngubek-ngubek tumpukan album foto. Dan foto-foto yang diabadikan dengan kamera kodak ini udah berjamur.

DSC04969.JPG

Iya enggak jelas fotonya, itu aku waktu kecil, lagi lari-lari di halaman MONJALI. Ternyata enggak cuma pas ke MONJALI doang foto yang diabadikan pakai kamera kodak ini. Foto-foto sama mbah kakung sama mbah putri Bantul juga ada.

dsc04966Dan yang utama ada fotoku sama almarhum bapak. waktu itu ibu sama bapak kunjugan tahunan ke Yogyakarta. Iya dari kecil aku emang tinggal sama Mbah Kakung Sleman, sama Mamak. Ibu sama Bapak ada di Sukabumi, cuma setahun sekali ngunjungi aku.

Sekarang aku lagi kangen sama bapak, kangen dimarahi gara-gara piring yang habis dipakai dibiarin di wastafel, enggak langsung dicuci.

Kangen dipelototi gara-gara berantem sama adek, kangen dijemput pulang kerja, kangen wajah dia yang sumringah pas pulang kerja bawa somay, bawa sate, atau bawa pecel lele.hahahaha.

Kuyakin, Allah emang udah milih bapak untuk dijemput bukan tanpa alasan, juga itu memang sudah takdir.

Kuyakin, Allah lebih tahu akan hal-hal yang fana di dunia ini. Kewajibanku cuma ikhlas dan terus sabar menjalani hidup di dunia ini.

Duh iya…ya..postingan ini sebenarnya biar enggak kosong ini Blog, aku minggu kemarin sibuk nyelesaiin laporan praktikum yang naudzubillah banyaknya, alhamdulillah sekarang udah kelar, dan kembali ke Biru Pupus.

Karena otaknya lagi enggak seimbang, sebab otak kiri terus dari kemarin-kemarin yang dipakai, sekarang ini lagi pemanasan lagi buat bikin otak kanannya melek. Oke see you next post, readers 🙂

dsc04964

Siapa yang Suruh Menunggu?

red-668969_1920.jpg

Kepada dirimu yang keras kepala,

Aku ingin tahu, mengapa seorang gadis seperti kamu duduk termangu begitu?. Ah…sayangnya kamu tidak bisa menggapai apapun sekarang, nanti, dan selamanya.  Sudah kukatakan, kamu tidak usah repot-repot menunggu, silakan pergi sekarang juga bila kau mau, aku telah kasihan bila lama-lama kamu di sini.

Mengapa seorang gadis seperti kamu mengharapkanku dengan keras kepala begitu?. Ah…kuberi tahu sekarang, sekarang ini dan selamanya aku tidak berencana menyukaimu atau bahkan mencintaimu.

Mengapa kamu menuntut begitu banyak dariku? Sedangkan aku tidak sedikitpun berniat menumbuhkan apapun di ladangmu?

Siapa yang menyuruhmu menungguku?

Dirimu sendiri ?

Aku tidak bermaksud menghinakan apapun yang kamu tawarkan, aku manusia tahu diri, segala yang kamu tawarkan mungkin saja semua hal yang telah kamu pertimbangkan lama-lama dengan kesungguhan.

Maafkan aku…

Kamu tidak perlu kasihan padaku

Pula…sungguhan tidak perlu untuk mepedulikanku

Hapus saja semua hal baik yang kamu bayang-bayang mengenai aku. Kamu hanya jatuh cinta kepada khayalanmu saja. Pikirkan dulu dirimu, mengapa begitu menyukaiku, tanpa tahu sebagianku? atau seluruhku?

Seluruhku adalah keikhlasan mencintai. Kau boleh ambil apa saja pelajaran patah hati dariku ini, dari aku laki-laki yang begitu seringnya mengeluhkan dunia ini.

Selamat malam, Aku belum pernah sedikitpun mencintaimu.

Explore Sukabumi, Curug Cibereum, Selabintana 06 Januari 2017

Explore Sukabumi, Curug Cibereum, Selabintana 06 Januari 2017

Hai Readers 🙂

Apa kabar?, Selamat Tahun Baru 2017, ya? Ehehe telat ya ucapannya, iya gak papa kan?. Semoga di tahun baru ini, wishlist yang udah tertunda di tahun-tahun sebelumnya bisa kesampaian ya. Aamin. Tahun ini jangan bikin wishlist panjang-panjang, nanti kelelahan menuhinnya. Good Luck readers 🙂

Oke kali ini, gue bakal mengawali 2017 di Biru Pupus dengan postingan jalan-jalan alakadarnya ke salah satu air terjun di Sukabumi. Yap betul sekali, Curug Cibereum, Selabintana.

Ada yang ingat atau pernah baca postingan gue mengenai perjalanan gue yang ke Curug Cibereum, Cibodas? Kalau belum baca coba klik di sini. Jadi Curug Cibereum yang ada di Ciboadas dan Selabintana ini saudaraan, guys. Kata bapak-bapak penjaga tiket, bilang gini air terjunnya punggung-punggungan, gue enggak tahu itu bener apa enggak. Tapi fakta yang gue temuin berdasarkan perbandingan kedua Curug Cibereum berbeda tempat ini adalah Curug yang ada di Selabintana jauh lebih tinggi daripada Curug yang ada di Cibodas. Langsung aja gue ceritain perjalanan gue ke sana.

Kamis, 06 Januari 2017

Curug Cibereum, Selabintana ini juga berada di kawasan TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), lebih tepatnya Curug Cibereum berada tak jauh dari Pondok Halimun (tempat perkemahan).  Enam tahun yang lalu gue udah pernah ke sini, dan medannya emang amazing banget.  Kali ini gue ngetrip bareng adik gue, yap betul, ini adalah perjalanan pertama bareng itu bocah. Kita cuma bawa minum 3 botol, nasi sama ayam. Gue khawatir sih bawa nasi sama ayam, takutnya nasinya habis dimakan ayam #krik..krik..krik

Pukul 09.00 WIB kita menuju ke Pondok Halimun, enggak terlalu lama dari pusat kota. Jalannya juga mudah, tinggal lurus aja ke arah Selabintana, lalu belok ke arah Pondok Halimun, sampai mentok jalannya, ya gitulah pokoknya, kalian bisa cari tahu lokasi tepatnya di google maps.

DSC04738.JPG

Masuk ke sana di tarik uang Rp 8000/1 motor beda lagi kalau jalan kaki dari gerbang ke pintu masuk menuju tracking Curug Cibereum Cuma Rp 3000/orang, tapi ya jauh guys, mending pakai kendaraan, dari gerbang masuk ini, masih jauh lagi ke tempat parkir kendaraan. Harus melewati perkebunan teh yang luas dulu.

Sampai di parkiran motor, gue masrahin motor dulu ke bapak-bapak penjaganya, enggak berlama-lama, kita langsung memulai perjalanan yang cuma berdua doang ini. Jadi sebenarnya sudah ada gerbang resmi penarikan uang tiket masuk, arahnya ke kiri, tapi gue ngebawa adik gue buat pakai jalan kanan, toh sama aja, nanti di pos satu juga ada orang yang narik tiket juga. Jarak ke Curug Cibereum dari area parkir adalah 2 Km lebih.

dsc04739

Kalau lewat kanan, kita bisa nemuin tempat lapang yang bisa di pakai tempat kemah, setelah melalui tempat lapang ini jalanan yang di tempuh memang ngeri sih, jalanannya rimbun, dan bisa bikin kesasar, Kita dua kali salah belok, soalnya jalanannya kecil, dan lumayan tertutup semak-semak, sempat gue mau narik adik gue buat balik ke tempat asal buat jalan ke tempat resmi itu, tapi enggak jadi, soalnya gue berkeyakinan, ini jalan udah benar, soalnya enam tahun yang lalu gue sama temen-temen SMP gue juga lewat sana, asli seram, tapi enggak lama dari sana, kita juga ketemu jalanan yang resmi kok, batu-batuan yang tersusun rapih menuntun kita menuju ke Curug Cibereum. Yap dari sana jalanan nanjak terus, bikin frustasi yang jarang olah raga. Adik gue untungnya anak pramuka teladan yang enggak manja, jadi enggak ngerepotin, malah gue yang sering minta berhenti dan minum sebentar. BTW kalian jangan ikut-ikutan lewat jalanan mengerikan itu ya, ya tapi kalian bisa menikmati lapangan luas sih, tapi jangan ya.

Setengah jam lebih perjalanan nanjak terus akhirnya kita sampai di pos satu ketinggian 1320 mdpl, di sana di tanyain, udah bayar tiket belum di bawah. Kalau belum belum berarti mesti bayar di sana.

dsc04754

Harga tiketnya Rp 16.000/satu orang. Gue biasanya foto tiket di sana, tapi lupa, ini gue fotoin tiketnya baru aja.

dsc04899

Oya di pos ini, kita bisa nemuin sinyal, kata bapak penjaga pos, di pos ini emang ada sinyal, tapi ke atas lagi bakal susah sinyal.

Di pos ini, kita agak lama berhentinya, soalnya lelah banget, di tambah lihat tanjakan berikutnya tambah lemas. Huahaha. Kalau dibandingin perjalanan gue ke beberapa Curug lainnya, kayak gini

Curug Sawer < Curug Cibereum, Cibodas < Curug Cibereum, Selabintana

Curug Cibereum, Selabintana emang yang paling mantap dari yang lain, sejauh ini.

Okay sekitar 10 menit berhenti, akhirnya kita memutuskan buat segera melanjutkan perjalanan,

dsc04756

Beberapa kali berhenti, kita berhenti di bukan pos bayangan, tapi duduk aja ngedeprok di jalan, soalnya capek, adik gue sempat kegigit pacet tapi enggak kenapa-napa, pacetnya lansung bisa lepas. Jadi kalau mau ke Curug gini,bagusnya pakai sepatu plus kaos kaki panjang guys, pacet mengintai soalnya. Hehe

dsc04751

Jalanan masih nanjak terus, ngarep banget ada turunan, atau jalanan datar. Dan benar aja, jalanan datar sama jalanan turun itu ada sekitar 500 meter sebelum Curug Cibereum.

Kalau kaki dipakai nanjak terus kemudian tiba-tiba dipakai jalanan turunan, lututnya jadi lemas, dan patut waspada.

dsc04760

Nah Curug Cibereum, Selabintana ini memang lucu banget, sebelum benar-benar sampai ke sana, kita harus melalui tanjakan yang beneran beda dari sebelum-sebelumnya, ada air yang bikin licin batu-batunya, jadi harus memastikan pijakan kita yang benar, jadi asik semacam ujian sebelum hadiah.

Yap akhirnya sampai juga. Dan betulan indah banget Curug ini. Curug Cibereum memiliki ketinggian 60 meter. Destinasi yang enggak jauh dari pusat kota tapi emang perlu perjuangan sedikit (what dikit?) ini, wajib kalian kunjungi kalau kalian di Sukabumi.

c1fdzngukaieplx

Di sana belum banyak orang, sekitar pukul 10.30 WIB, Kita memutuskan buat duduk dulu di salah satu batu besar, lalu foto-foto, dan diam menikmati jatuhnya air dari atas Curug itu enggak bosan-bosan,  kemudian kita menepi dulu ke tempat duduk semen yang ada payonnya, kita makan bekal dari rumah dulu.

DSC04817.JPG

Nah sehabis makan, kita buka sepatu buat nyeburin diri ke air mengalir di bawah Curug, dan asli dinginnya itu beda, lebih dingin ketimbang Curug yang lainnya, entah perasaan aja atau beneran.

Puas main air, ada tukang bakso kulub yang akhirnya datang jualan di sana, kita beli 10.000 dapat empat biji bakso, dan lumayan enak, pas kita makan bakso orang-orang berdatangan, Curug semakin ramai, meski enggak seramai Curug Cibereum, Cibodas.

DSC04850.JPG

Pukul 12.00 WIB kita akhirnya memutuskan buat pulang. Meski sebenarnya masih pengin lama-lama di sana, padahal udah mulai ramai orang, tapi harus cepat-cepat pulang, di sana enggak ada tempat buat sholat, adanya cuma toilet yang enggak jauh dari air terjun, dan tempatnya bersih, airnya melimpah. hehehe Yap kita pulang, dan perjalanan lebih mudah daripada keberangkatan.

img_20170105_115531

Gue kasih tahu rahasia, kalian tahu kan tadi gue bilang, gue pernah ke sini 6 tahun yang lalu, itu pas gue lulus SMP, dan merayakan kelulusan ke Curug ini, dan sebelum tracking sejak awal salah satu dari rombongan gue bawa pilok, emang sengaja buat coret-coret baju, nanti pas sampai Curug. Iya tindakan yang sangat buruk. Tapi gue enggak ikutan, nah sebelum menemukan tanah lapang rumput hijau itu, ada beberapa bangunan warung, nah pas waktu itu si Kharisma bikin tulisan gede-gede pakai pilok, tulisannya D’Angela Kids 14.06.10,

yap dan hari itu pas gue turun, gue masih menemukan tulisan itu. Nah anehnya tulisan itu, enggak kebaca pas berangkat, dan malah adik gue yang ngeuh sama tulisan itu, katanya gini “Ini Apa?” Soalnya pas malam gue nyeritain kejadian itu ke dia sama Ibu sama nenek. Huahaha, gue seneng banget masih bisa nemuin itu tulisan. Dan kalian tahu tindakan vandalisme tidak boleh dilakukan di manapun itu, maklumi ya waktu itu geng SMP gue masih piyik-piyik. :D. Ohiya, petugas waktu itu berhasil menyita salah satu pilok kita kok, ehehehe meski tetap coret-coret pakai 3 pilok lainnya yang enggak kesita. Pokoknya jangan ditiru ya.

Ini perjalanan pertama bareng adik, gue acungi jempol buat dia, soalnya dia beneran kuat, dan enggak manja. Curug Cibereum, Selabintana lebih punya kesan mendalam, entah kenapa. Mungkin gue lagi frustasi, dan menemukan hiburan.

Kalian ingat kan, tadi gue sempat sebut perkebunan teh, yap, kita emang memutuskan buat foto di sana sepulang dari Curug, enggak lama sih, soalnya badan udah lelah.

dsc04888

Oke guys. Semoga kalian kepincut sama postingan ini, dan berniat mengunjungi Sukabumi. Dan masih banyak tempat lain yang belum gue kunjungi di Sukabumi. Terimakasih sudah mau-maunya baca 🙂 See you next post.