Menyerah (Puisi)

56806c9bc8061d4f1961ed90d740ae1a

Picture : Renee Nault

Menyerah

akar resah berderet-deret
hujan deras keras kepala
dihitung kebosanan mati rasa
batang berongga berkemelut sesak
barangkali warnanya putih rusak
tersedak perih
lukisan duri berbagai makna
dan nanti bunganya mekar juga
lalu bagimu layu tidak pernah ada
dari lorong gerimis jalanan ada yang datang
sehabis pertigaan
tersesat
berputar balik dan tidak kembali lagi
barangkali menyerah
sekarang di keberadaan ini diam saja
bagai pemuda hilang arah
mati rasa

Sukabumi, 14 Januari 2018

Iklan

Pasar Malam Mati Rasa

IMG20180101204803.jpg

Mungkin saja tidak bertujuan adalah pilihan terbaik untuk patah hati. Tapi nantinya kebahagiaan tidak terencana adalah hadiah luar biasa. Kali ini seseorang memulai semua hal yang dia mampu, merengek menyibukkan diri supaya waktu tidak pernah terasa lama. Sekarang dia begitu merencanakan kesulitan dan secara tidak sadar dia juga merencanakan kebahagiaan yang konon nantinya dia akan bilang “wow, luar biasa, ini takdir yang baik sekali.”

Menjadi munafik berkali-kali. Sampai pada kiranya dia kesulitan mengingat hal-hal super remeh, termasuk cintanya yang katanya tahun lalu tidak bisa dia lupakan, nyatanya dia pelupa,

Mereka bilang dia bersembunyi di dalam kata-kata, nyatanya tidak. dia mengumbar semuanya lewat kata-kata.

Jadi mereka tidak merasainya karena memang bukan perasa.

Barangkali pasar malam yang tidak berpengunjung yang ia datangi kemarin merupakan kesialan, tidak ada yang beroperasi kecuali mesin arum manis, padahal dia bersemangat ingin naik bianglala yang warna-warni itu. Akhirnya dia menyerah untuk tidak merencanakan sebuah kebahagiaan, dia kini diam-diam punya rencana bahagia di sudut-sudut sarafnya.

By audhina Posted in Narasi

Untuk Lelaki Bajingan

9b108268973679c098dd16865806af75--watercolor-art-anime-art

Pinterest : Kelogloops

 

Banyak hal luput dari pandanganmu ketika seolah dunia beredar di dekatmu, lalu ketika itu kamu menggores-gores benda tajam di permukaan perasaan orang-orang. Demikianlah caramu berbantahan dengan segala macam ketulusan. Namun betapa beruntungnya kamu disayangi orang-orang itu, yang susah lupa mengenai goresan-goresan yang telah kamu ukir. Kamu terlalu beruntung, mengapa harus demikian?

Lelaki bajingan sepertimu, meski nanti kamu mati, doa-doa baik akan tetap ada bagimu. Jiwa-jiwa lapang dada itu memberimu maaf tanpa diminta. Yang selalu mengherankan adalah semua waktu yang sedang kamu gunakan menjadi seperti bom waktu di kemudian nanti. Kebanyakan lelaki bajingan tidak merasa bersalah akan kekacauan di sekitarnya, menjadikan hal-hal itu lumrah dan biasa saja.

Lelaki bajingan sepertimu, apa bisa menghayati turunnya hujan?

Karena kiranya kepalamu tak pernah lengang mengelabui jejak-jejak tetesan hujan—tak tahu diri. Di tepi-tepi kebosanan, engkau pergi memenuhi ruang-ruang penuh itu beraroma sunyi bajingan.

Alih-alih merasa bersalah, Lelaki bajingan sepertimu datang lagi dan merengkuh lagi, memaksa menjadi bagianmu lagi.

Semoga tidak banyak yang menyumpahimu, semoga cuma aku saja. Tidurlah, selamat malam.

Sembarangan!

23594535_520337711659553_4446609607535624192_n

photo by instagram : Rebecca Ninig (@ni_nig)

Apa kalian punya satu kata saja yang sangat ingin kalian dengar dari seseorang. Dengan satu kata itu saja kalian bisa langsung mengingatnya?. Aku ada, dan kata itu adalah “Sembarangan ! “ yang otomatis aku mendengar kata itu dari suara seseorang di kepalaku. Padahal kata “Sembarangan!” ini menuntut permohonan maaf, kan ya ?. Aku justru cengar-cengir aja gitu. Dan sampai saat ini kalau meréka ulang suara itu aku cengar-cengir sendiri nggak jelas. Dan ini justru bahaya bagi kelangsungan hidupku. Ngoahahah.

Jadi seberapa hebat kalian meréka ulang suara seseorang di kepala?, kalau aku tidak terlalu hebat. Mungkin yang terjadi di kepala adalah intonasi suara yang sangat amat ingin didengarkan, itu mengapa meréka ulang suara justru membunuh ekspektasi – terlalu tinggi, bahkan akan sulit tergapai. Jadi adakah solusi agar kebiasaan saat rindu seseorang dengan meréka ulang suara di kepala itu?, jawabanya belum ada di aku. Soalnya aku juga masih tersiksa dengan kebiasaan itu. Walah!

Kalau kata Bang Fadel. “Move on dhin, walau cuma sejengkal!” (nah ini kalimat aku dengar dengan suaranya raditya dika) XD, soalnya aku belum pernah kopdaran sama si raja kopdar ini.

Jadi kalau gitu caranya adalah menginterupsi suara-suara itu dengan suara lain. Kalau kalian punya list lagu yang malah justru bikin meréka ulang suara seseorang di kepala, jadi gantilah list lagumu, ya aku juga baru nyadar sih, bahwa ada banyak sekali lagu-lagu bagus di dunia ini. Ehemmm, baiklah, saatnya bergeser sejengkal demi sejengkal. ngoahahaha.

Udah gitu aja tulisan enggak penting kali ini, see you next post 🙂

Melihat Sukabumi dari Bukit Karang Para

DSC07891.JPG

Holla Readers (o.o)9

Selamat Tahun Baru 2018 🙂 Aku kok ngerasa biasa aja ya dengan pergantian Tahun ini. Sebab ada yang hilang yaitu sepotong dari jiwaku eaaaaa. untuk meminimalisir kekecewaan yang berlebihan, aku enggak akan bikin resolusi kayak yang orang lain. XD

Okay ! Jadi kemarin itu hari pertama di tahun baru.ehehe, karena ingin menjadi seorang kapiten kakak yang baik, aku nganterin itu bocah ke Karang Para, tempat wisata yang bisa melihat Kota Sukabumi dari ketinggian. Adikku pengin banget ke sana sudah sejak lama, dan aku bilang aku nggak minat ke Karang Para, entahlah. Jadi kita berangkat jam 09.00 WIB dari rumah pakai motor. Kita ngandelin arahan dari google maps. Gini guys, aku pikir adikku itu pengin ke Karang Numpang (aku kan udah pernah ke sana, makannya males nganter dia ke sana), dan mungkin takdir berkata lain, padahal direction nya udah jelas Karang Numpang, eh ternyata kita di bawa berputar-putar dan tanganku pegal, dan sampailah kita jam 10.00 WIB ke Karang Para. Oya dari gapura berwarna hijau penunjuk masuk Karang Para, jalanan jadi berjerawat dan najak (sungguh lumayan sulit), ini ujian buat tangan kecilku sama ban motor. Mobil juga bisa masuk langsung kok. Di sana ramai. Uhuk XD aku kurang suka tempat ramai, itu kenapa aku suka Karang Numpang.

DSC07864

Karena hari libur terakhir, di sana ada banyak keluarga dan dua sejoli yang sedang kasmaran. Begitu masuk area Karang Para, ada panggung hiburan yang waktu itu band nya mainin lagu dangdut. Duh berasa di mana gitu. Lalu ada banyak pedagang, juga ada Café, lengkap guys. Kalian juga bisa camping di sana, sebab ada yang sewain tenda.

Masuk ke sana satu motor Rp 5000, ini udah termasuk uang parkir Rp 2000 , lalu tiket masuk seharga Rp 3000 per orang, murah kan. Meski aku kurang suka tempat ramai. Karang Para ini lumayan indah di beberapa sisi. Oya ada flying fox.

Karang Para ini area yang terbuka sekali, jadi panasnya terasa saat siang menjelang. Mungkin waktunya kurang tepat, seharusnya ke tempat seperti ini jam 6-7 pagi atau jam 4-5 sore, pas mataharinya lagi malu-malu. Kita berfoto di beberapa spot yang bagus. Menurutku tempat ini bisa jadi romantis kalau tidak ramai. karena sudah puas ambil foto, kita memutuskan untuk pulang. Dan dengan super kehati-hatian.

Gitu aja guys. Terimakasih yang sudah mau-maunya baca. Semoga berminat mengunjungi Sukabumi. 🙂 See you next post

DSC07832.JPG

Aku Menemukan Malaikat

Sudah dua bulan ini aku menemukan Aurora Aksnes dan aku jatuh cinta sama lagu-lagunya. Berikut tiga lagu yang aku suka diantara semua lagu yang aku suka dari Aurora Aksnes  rieut sugan XD

  1. Murder Song (5,4,3,2,1)

Lagu ini yang pertama banget aku denger, dan aku jadi ikutan depresi dengerin lagu ini. Kayak ngasih tahu akan kepasrahan aja gitu, dan aku dengerinnya sambil lihat video klip nya, lihat ekspresi dia, dan bahasa tubuhnya. Aurora Aksnes ToT greget banget.

  1. Runaway

Yang aku rasa sepertinya lagu ini mengenai move on dari suatu permasalahan, dan rasa kesal, dan lagu ini tentang pulang ke suatu tempat yang seharusnya. Aku lagi-lagi suka sama video klipnya, meski banyak yang bilang gerakan Aurora ini absurd, tapi malah justru itu yang bikin lagunya semakin bernyawa.

  1. Running With The Wolves

Nah kalau lagu ini entah kenapa bikin aku semangat, kayak ngasih kekuatan gitu. Kalau lagi bersih-bersih rumah sambil denger lagu ini bisa nambah cepet nyapunya.ehe

Udah gitu aja, aku Cuma mau ngasih tahu, kalau aku menemukan malaikat, dan itu adalah Aurora Aksnes. 🙂

Seorang Laki-laki Sebaiknya Menemukan Dirinya Dulu, Sebelum Menemukan Wanitanya

bouquet-1463562_1280

by congerdesign on pixabay.com

Seorang Laki-laki yang belum menemukan dirinya sendiri akan menghancurkan setiap wanita yang dia datangi. Mengapa harus minta bantuan orang lain jika diri sendiri bisa?. Mengapa terus mencari bila diri sendiripun belum ketemu?.

Ada benarnya juga bila wanita bisa membantu laki-laki yang belum menemukan dirinya sendiri ini, tapi kenapa harus tega begitu bila sendiripun sebenarnya bisa?.

Mengapa harus dengan jalan menyakiti, kalau tanpa jalan itupun bisa?

Tahukan tentang waktu?, rahasia semesta dan sang penciptanya, waktu akan membantu menemukan diri sendiri. Sabar, ikhlas, tawakal 🙂

Perjalanan Mendaki Merbabu 3142 mdpl (26 – 27 Agustus 2017)

Holla readers (o.o)9

Seperti yang sudah kalian tahu (yang tahu aja sih), aku selama Juli-Agustus 2017 bertapa di Jogja, dalam rangka menemukan seorang guru dalam hal menulis #enggakding.

Nah ketika guru yang aku inginkan sudah didapatkan aku dapat bonus diajak nanjak Gunung Merbabu yang ada di Magelang itu lho, guys. Hu um, aku awalnya galau gitu, mau ikut apa enggak. Tapi cuy, kesempatan enggak datang dua kali. Berbekal keril, sepatu, sleeping bag, matras yang dipinjamin sama yang ngajak, aku berangkat menjemput matahari pagi dari puncak Merbabu. Hoho \(o.o)/

Jadi siapa yang ngajak aku nanjak. Dia adalah Abu Bakar Arozi Prionggo, salah satu temen waktu sekolah SD. Komunitasnya PALAGAN (Pecinta Alam Seyegan) yang waktu itu mengagendakan mendaki gunung. Kemudian terbentuklah tim Newbie PALAGAN di WA yang bakal mendaki Merbabu, di dalamnya ada delapan orang : Aku, Mbak Tarita, Ade (cewek), Taufik, Jafar, Vandi, Sokip, Abu.

Kita mendaki Merbabu via Selo.

Pas malam mereka ribut di WA, katanya mau kumpul jam 07.00 WIB di rumah mbak Tarita di daerah Turi. Meh! Sudah dapat diduga saudara-saudara, ngaret!. Abu pengin banget sampai tempat camp nanti bisa lihat sunset, ya apa boleh buat, kenyataannya kita baru kumpul jam 09.00 WIB. Kita pakai motor berkendara ke Pos Awal Merbabu.

Patut diketahui guys, aku diboncengin Abu dalam keadaan cemas sebab owe bawa kerilnya Abu yang beratnya mayaallah ToT. Jadi kalau si Abu nge gas mendadak, badan owe kebanting keril. Kita sempat break dulu, ada yang belum sarapan, jadi makan dulu. Kalau nggak salah (ya tapi pasti salah sih ini) pukul 12.30 WIB kita sampai basecamp Merbabu.

IMG_20170826_132335[1]

mas okip, vandi, mbak tarita, mbak ade, aku, taufik, jafar, abu

Di jalan sekitar 2 Km lagi dari pos daftar kita semua dimintai uang Rp 5000 per motor, kemudian di Posnya ditarik uang Rp 5.000, terus diminta nunjukin KTP, terus sambil pegang KTP, muka kita difoto sama si penjaganya. Enggak paham owe. Lalu pas banget di pintu masuk utama kita ditarikin uang Rp 1000 untuk asuransi jiwa, jadi totalnya per orang bayar Rp 11.000.

DSC07594

Kita mulai start mendaki pukul 13.42 WIB, medannya awalnya ramah tapi kemudian berpasir ToT, yang aku ketahui dari perjalanan via Selo ini, jalannya emang santai tapi muter-muter.

DSC07036

Pos Satu

Kemudian kita sampailah di pos satu pukul 15.08 WIB, dan dipertemukan dengan sekumpulan moyet yang mintain cemilan, yang paling mereka suka madusari.

DSC07033

Kita nggak lama istirahat, Medannya mulai sulit karena kering berpasir, yang justru lebih gampang bikin jatuh. Aku sama Vandi sampai pos 2 duluan pukul 16.06 WIB Di pos 2 kita bisa lihat puncak yang merupakan pos 3 (watu tulis).

Perjalanan menuju pos 3 ini kita udah bisa nemuin bunga edelweis. Angin makin terasa memeluk dingin, aku sama vandi udah sampai duluan di watu tulis pukul 16.44 WIB, yang lainnya baru sampai pos 2, aku enggak tahu kenapa, rasanya lebih melelahkan mendaki Merbabu daripada Gunung Gede. Hhhhhh. Iya pengalaman mendakiku enggak banyak, tapi aku seterooong kok.

DSC07045

Pos Tiga : Watu Tulis/ Batu Tulis

Di watu tulis aku sama vandi nyari spot yang enggak terlalu banyak anginnya, tapi ya piye, anginnya dari semua penjuru, asli dingin banget, si vandi kelaperan, dia makan keroket, aku makan wafer coklat.

Di Watu Tulis/Batu Tulis sudah banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda di sana, di Watu Tulis ada bukit teletubies, kalau ambil foto di sana juga oke, guys.

Guys… perjalanan sesungguhnya dimulai dari watu tulis menuju sabana 1, medannya naudzubillah susah. Berpasir, pijakan minim ToT. kalau angin datang harus siap tutup mata, meski begitu debu tetep aja berhasil menyelinap. Aku pulang-pulang belekan XD.

Entah kenapa, anginnya dingin banget. Guys sunset sekitar jam 17.57 WIB. Pokoknya akhirnya itu aku malah barengan sama si Abu, soalnya pas aku sama Vandi udah lumayan jalan menuju sabana 1, yang lainnya baru sampai watu tulis, dan dia milih buat turun lagi. Hhhhhh

Dan aku nungguin nangkring di sebuah batu besar sambil kedinginan, aslinya aku takut banget kena hipotermia ToT.

Pas beberapa saat sebelum akhirnya sampai sabana 1, matahari tenggelam, dan Masya’allah indah, di sana aku disuruh Abu pakai dua lapis jaket, aku enggak tau kenapa badanku menggigil banget, kemudian kita mulai jalan lagi, dan itu pengalaman pertamaku tracking pas udah gelap.

DSC07050

Sampai di sabana 1 kita kerjasama pasang tenda. Anginnya di sisi manapun tetap kencang. Di sela-sela pasang tenda aku selalu lihat langit. Kalau kabut lagi nggak lewat, langitnya bersih banget, bintangnya buanyaaak banget. Milky way di depan mata, Terharu banget. Beberapa kali juga lihat bintang jatuh.

Kemudian pas ditengah perjalanan pasang tenda, anak-anak yang lain sampai juga. Setelah kemudian 3 tenda berhasil didirikan, semuanya tepar.

Aku seneng banget mbak Tarita sama mbak Ade bisa sampai sabana 1, kita tidur di satu tenda, karena kelaperan langsung makan roti tawar sama meses.

Oya guys.

Aku, Abu, sama Mbak Tarita bertekad melihat sunrise di puncak Triagulasi. Abu bilang kita harus mulai nanjak jam 03.30 WIB. Dan guys bukannya si Abu yang bangunin kita, tapi justru aku yang bangunin Abu. Tahu nggak guys, aku enggak bisa tidur, padahal sleeping bag ku tebal, aku kedinginan, menggigil, kagak bisa tidur sama sekali, tapi rapopo, aku tetap sehat walafiat.

Dan inilah tracking malam-malam yang ssssangat enggak bisa dilupain, Kita bertiga mulai meninggalkan tenda pukul 02.50 WIB. Masing-masing bawa senter sendiri, dan berkali-kali takjub kalau lihat pemandangan di bawah, bertaburan lampu-lampu, bagus banget. Sampai sabana 2 pukul 15.33 WIB, ada beberapa tenda yang rusak karena diterpa angin, kayaknya mereka langsung ngungsi ke tetangganya, ya habisnya mereka malah mendirikan tenda di lapang luas sabana 2, bagusnya cari space yang dikelilingi pohon-pohon ataupun edelweiss, biar anginnya bisa sedikit terhalau.

DSC07058

entah tangan aku yang gemetar apa anginnya yang nampar-nampar badanku?. Heh sama aja. Sabana 2

Ok kita masih jalan bareng-bareng sampai di watu lumpang pukul 03.56 WIB. Dan asal kalian tahu, medannya enggak kelihatan sama sekali pas malam begini, kita mendaki barengan, bisa dibilang, watu lumpang ini pos terakhir sebelum puncak, dan tanjakannya mantap, aku sampai mau nangis, soalnya mau berhenti juga bingung.

DSC07060

ini plang sampai jatuh karena anginnya asli kenceng banget.

Mbak Tarita sama Abu barengan tertinggal, aku duluan karena aku menjejak jalan yang benar, jadi itu jalanannya pasir dan susah pijakan dan pegangan apalagi. Aku sebenernya mau nungguin Abu sama mbak Tarita tapi bingung, kalau aku diam lama sendi-sendi ku bisa beku, jadi aku beranikan diri buat naik terus. Pada akhirnya nemu rombongan pendaki solo yang bersedia bareng sama aku. Aku mengingat ibu sepanjang jalan menuju puncak, Allah juga. \(ToT)/

Entahlah, mungkin karena pengalaman mendaki pertamaku pakai jasa, jadi pas bareng sama temen-temen yang kebanyakan seumuran begini jadi agak was-was, aku juga sadar sih kayaknya aku terlalu egois jalan lebih dulu di depan, padahal kalaupun nungguin juga mungkin enggak akan jadi soal. ToT

Ok balik ke topik. Singkat cerita pukul 05.00 WIB sampai puncak 3142 mdpl (Puncak Triagulasi) dan menunggu sunrise sambil kedinginan.

sunrise

sunrise dari puncak merbabu :’)

Abu sama mbak tarita belum sampai, aku yakin mereka baik-baik aja, Abu udah 2 kali ke Merbabu.

Aku di puncak ini bareng pendaki dari solo. mas-masnya pada baik, mereka nawarin minum sama makanan, terus salah satu dari mereka ngasih syal biar aku lebih hangat, dan aku enggak sedikitpun tahu wajah, nama, atau apapun dari mereka. Gelaaaaaaap banget.

Pukul 05.04 WIB, cahaya matahari sudah muncul, sungguh indah banget, Abu sama mbak tarita sampai dan seketika ceria, oya di otakku udah kepikiran langsung balikin syal, tapi kok bingung, masnya yang mana, yaudah akhirnya aku bawa aja itu syal. Jadi bila mungkin masnya yang ngasih pinjem syal ke aku, maafkan saya mas saya enggak balikin syalnya, btw syalnya udah kucuci, buat kenang-kenangan.wahahaha.

IMG_20170827_054044

Sekita pukul 06.30 WIB, Abu ngajak aku sama mbak tarita ke puncak yang satunya lagi dengan ketinggian 3139 mdpl (puncak kenteng songo). Mana yang paling indah sudut pandangnya?. Semuanya indah, dua-duanya bagus.

Di kedua puncak ini, aku paling senang menatap Merapi :). Padang luas membentang, angin bertiup kencang, langit biru bersih, edelweis mekar di mana-mana dan ah indah sekali, luhur sekali.

DSC07157

menatap Merapi dari Merbabu

Kita enggak lama di Kenteng Songo, kemudian mulai turun, sepanjang jalan turun kita ber HAH?, ternyata emang medannya susah banget, ber OH ini tho yang dilewati tadi tu, PANTESAN!

Bagi kalian yang mau mendaki Merbabu, sebaiknya bukan saat musim kemarau, entah musim apa yang bagus buat naik gunung, aku enggak tahu.

Lalu, kalau bisa bawa jaket dua, kalau emang satu jaketpun sudah tebal juga enggak papa, dan yang utama jangan memaksakan diri, juga sebaiknya kompak dengan teman seperjalanan kalian, saling peduli juga. Jangan sepelekan mendaki gunung, bawa barang yang memang seharusnya di bawa. Gitu aja guys.

Aku, Mbak Tarita sama Abu menuju Sabana 2 bebarengan. Padang luas yang tadi malam dilewati sekarang begiru jelas, luas dan ah susah dijelaskan.

Akhirnya aku, Abu, sama mbak Tarita balik lagi ke camp di sabana 1.

Dan langsung bikin indomie goreng. Mbak Ade jadi kuncen di tenda, dia udah berubah segar dari kemarin. Mas Jafar sama Mas Sokip ternyata naik puncak juga, mungkin sekitar pukul 06.00 WIB pas kita masih di puncak.

 

IMG_20170827_110706[1]

Setelah semuanya sudah kumpul (Mas Jafar sama Mas Sokip udah sampai camp lagi) dan kenyang, kita bongkarin tenda. Dan kita memang menyangka, perjalanan turun ke watu tulis akan sangat sulit. Ahh sensai luar biasa. Tapi akhirnya kita semua sampai basecamp dengan selamat semua sekitar pukul 16.30 WIB

Terimakasih untuk Abu, Vandi, Jafar, Mas Sokip, Taufik, Mbak Ade, Mbak Tarita yang sudah menjadi teman perjalanan mengagumkan ini. Semoga kita bisa ketemu lagi, melakukan perjalanan bersama lagi 🙂

Mengakui Gadis itu Sebagai Pacarku (Cerpen)

Hallo Novemberku 🙂

Aku belum pernah baca buku dengan judul “Pacarku Memintaku Jadi Matahari” buku dengan judul nyentrik banget, aku terinspirasi dari judul buku itu. Isi dari cerpen ini jauh berbeda dari buku yang keren itu, ini cuma cerpen amatiran. Silakan yang mau-maunya baca 🙂

Mengakui Gadis itu Sebagai Pacarku

girl-2150484_1280

Kelopak terakhir bunga matahari itu mengering, menyusul yang lainnya, dia kelopak ke 20 dari bagian bunga itu. Gadis itu merasa terlambat membuatnya hidup kembali, dari awal dia sudah terlambat datang, Cuma lalat-lalat yang patah hati menemaninya dalam sekaratnya. Kemudian gadis itu datang seolah menjadi seorang dermawan yang memungut bunga itu dari sekaratnya.

Menyakitkan sekali mungkin perasaan bunga itu, seharusnya gadis itu tidak perlu datang, bukan? Awalnya bunga itu sudah sangat pasrah akan kesekaratannya itu. Jadi mengapa gadis itu datang?

Setelah aku bertanya padanya, dia masih saja tidak menyurutkan senyuman dermawan itu.

“Aku merasa aku tidak boleh diam saat dia sekarat.” Jawabnya masih melihat bangkai bunga itu

“Kamu tidak tahu, kan?” Gadis berambut sebahu itu menatapku dengan tatapan begitu polos, membuatku tidak jadi mempertahankan argumenku. Matanya masih begitu bening.

“Bunga itu mendadak mempunyai sebuah harapan. Tapi tidak mungkin lagi untuk hidup!”

Dia masih menatapku, tidak merubah ekspresinya, meski tadi aku membentaknya. Dia menjauhiku satu langkah, lalu berjongkok kemudian memainkan tanah. Dari arah barat angin bertiup kencang, hawa yang dibawanya begitu menyedihkan. Apa mungkin para kakek dan para nenek serta para buyut bunga itu begitu sangat menderitanya, hingga menghantuiku melalui angin dari tenggelamnya matahari?

“Apa salahnya menghibur?” gadis itu mendapatkan jawaban atas kemarahanku

“Kamu salah, seharusnya diamkan saja, dia mungkin sudah mencapai titik kepasrahannya.”

“Jadi aku sepenuhnya, salah?”

Aku merasa sebenarnya salah, tidak ada yang salah atas kehadiran gadis ini. Tapi aku tidak mau kalah dari gadis ini, sebab dia tidak seharusnya di sini.

“Iya kamu salah, kamu salah sejak kehadiranmu di dunia ini!”

Aku merasa salah mengucapkan kalimat tadi. Sebenci itukah aku kepadanya. Jangan-jangan aku malah sebaliknya.

“Kalau begitu, bagaimana dengan kamu? Kamu sepenuhnya benar dengan kehadiranmu di dunia ini?”

“I-iya … tentu saja!” aku berkacak pinggang.

Gadis itu semakin terpuruk dengan posisi jongkoknya, dan terciptalah lukisan-lukisan di tanah. Dia menggambar sekelompok bunga matahari yang memiliki wajah tersenyum. Gadis itu kemudian menjauh pergi, dan meninggalkan aku dengan segala kesalahanku.

***

Pagi itu angin bertiup-tiup lembut, tapi rasa bersalahku sangat kasar, bunga itu sudah mati dan kering sekali. Tidak sama sekali aku memiliki niat untuk menguburkan bunga itu. Sebab pagi ini aku punya ide gila, aku ingin mengakui gadis itu sebagai pacarku. Tapi sudah sampai tengah hari ini, gadis itu belum juga datang, lelah sekali menatap halaman luas itu dari tempat duduk kayu ini, mataku juga jengah sebab aku melihat hanya dari celah tirai. Aku memutuskan untuk membuat air jahe, padahal cuaca sangat panas. Aku tidak sanggup minum air dingin, nanti rasa bersalahku muncul tiba-tiba. Aku meminum air jahe itu sambil berjalan menuju tempat mengintip. Tak kusangka, bunga itu sedang dikuburkan oleh gadis itu. Aku mau menemuinya, tapi aku pengecut. Namun kakiku berjalan jauh dari rumah, sambil masih membawa cangkir berisi air hangat jahe. Aku tegap berdiri, tersenyum memandangi gadis itu, yang kutatap menangis tersedu, tangan dan bajunya kotor oleh tanah, dan perasaanku tetap sama biasanya.

“Kamu sedih?” Aku berjongkok, dan menatap wajah gadis itu

“Tentu saja aku kan manusia!” ucapnya terbata-bata karena tersendat air mata yang keluar. Dia mengusap pipinya dengan punggung tangan.

“Kalau lancar, kamu akan menemui bunga matahari itu lagi tiga bulan lagi.” Aku menumpahkan air jahe itu ke atas pusara si bunga matahari. Gadis itu menatapku bingung

“Kamu mau tidak jadi pacarku?”

Dia menatapku dengan mata kuyunya

“Tentu saja tidak mau.”

Ternyata ideku memang menyebalkan sekali, kemudian aku memilih kembali ke rumah saja.

“Kalau berubah pikiran nanti kasih tahu aku, ya?” Aku tersenyum

Dia kemudian pergi lagi.

***

Aku memang plin-plan, jadi bila besoknya lagi aku membenci gadis itu, tolong maklumi saja. Tapi kini aku sudah mengakuinya sebagai pacarku seutuhnya. Sore itu pada bulan ke tiga setelah gadis itu pergi sambil menangis, anak-anak dandelion beterbangan mengusik kenyamananku duduk di teras rumah, mereka nyasar ke wajahku, mereka pikir bisa hidup di atas wajahku.

Seperti kataku tiga bulan lalu, bunga matahari tumbuh dari bibit-bibit dari bunga matahari mati yang ditangisi gadis itu. Aku harap pacarku itu datang lagi, biar aku bisa lihat wajahnya tersenyum sambil membelai-belai segerombolan bunga matahari kecil itu. Aku sudah mencoba mengobrol dengan segerombol bunga matahari itu, mereka bilang masih ingat dengan gadis itu. Mereka kangen.

Tak lama kemudian gadis itu akhirnya datang, tapi tidak sendiri, dia bersama dengan seorang laki-laki, dan mereka berjalan bersama sesekali tersenyum karena sebuah obrolan lucu. Mereka membawa botol berisi minuman, dan mereka sudah tepat berada di depanku.

“Kamu siapa?” aku bertanya pada laki-laki itu

“Aku pacarnya.” Dia tidak ragu menunjuk gadis itu

“Tapi, aku juga pacarnya, sudah tiga bulan kita jadian.”

“Heh?”gadis itu heran, tapi tidak panik

Kita bertiga saling tatap menatap. Segerombol bunga matahari itu berteriak kesenangan karena gadis itu datang, dia langsung menciumi mereka satu persatu, kemudian dia menyirami mereka dengan air yang dia bawa itu. Kemudian mereka segera pergi setelah berjanji kepada segerombolan bunga itu bahwa mereka akan datang lagi.

“Kamu tidak menyirami aku, juga?”

Mereka berdua berbalik lagi

“Kamu harus segera sadar dan sembuh, aku bukan pacarmu.” Gadis itu kemudian lekas berlalu bersama lelakinya

Aku tidak merasa sedih, aku tersenyum dan mengikhlaskannya, dengan begitu aku akan tenang.

-Selesai-

Jauh (Puisi)

 

Dia mungkin saja terluka di mana-mana
Tapi aku tidak bisa apa-apa
Aku jauh
Aku jauh
Aku ingin berada di dekatnya
Tapi Dia jauh
Dia jauh
Jauh
Jauh

Sukabumi, 27.09.17

By audhina Posted in Puisi