Menara Pantai Pandasari

DSC05895

Holla readers 🙂

Jadi dua minggu yang lalu aku ke tempatnya mbah kakung di Bantul, tepatnya di Sanden. Sebenarnya hampir setiap ke mbah kakung, bulek atau paklek di sana selalu ngajak ke pantai yang memang jaraknya enggak jauh sama sekali.

Berhubung kelihatannya pantai selatan itu sama aja, kali ini ada Pantai Pandasari yang letaknya di Bantul, di sana ada sebuah Menara. Dan di tulisan waktu itu, aku cuma bahas sedikit tentang menaranya, ya soalnya waktu itu terlalu pagi ke sana, belum buka. Huhu kalian bisa baca di sini.

DSC05898

Nah kali ini, takdir, waktu, dan senyum-senyum jalang merestui aku buat naik ke Menara itu. Tiket masuk seharga Rp 5000/orang dewasa, anak kecil enggak perlu bayar, tapi kriteria anak kecilnya itu enggak tahu patokannya sampai umur berapa.

DSC05901.JPG

pemandangan dari tangga ke (lupa), bikin semakin semangat naik ke atas

Menurutku penarikan tiket di depan pintu masuk Menara itu seharusnya dikasih tiket fisik dan dengan tiket fisik itu dapat menjamin keselamatan (asuansi) si pengunjung bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Waktu itu aku sama bulek dan tiga sepupu laki-laki, Uang masuk sudah dibayar ke bapak-bapak berkacamata berbadan besar itu. Kita semua mulanya pede untuk naik ke sana, tapi pas tangga pertama si Novan ketakutan buat naik, akhirnya bulek juga nggak mungkin ikut naik. Jadi Cuma aku, mas wahyu, dan Zezen saja yang naik.

DSC05947.JPG

Pada akhirnya cuma aku yang benar-benar sampai puncak Menara itu, berhubung sore, angin kencang banget bertiup dari arah laut ke daratan, tubuhku didorong-dorong angin, sampai gemetar aku di sana. Tentu saja sudah jelas, pemandangan di sana luar biasa bagus.

DSC05906.JPG

Bagi kalian yang mau ke sini, pastikan bahwa kalian tidak takut ketinggian, dan kuat untuk naik tangga. Juga tidak boleh sembrono, pelan-pelan aja naiknya, nanti juga sampai, jangan terburu-buru.

Oya Pemilihan waktu, dan juga pakaian kalian untuk naik ke atas Menara juga perlu diperhatikan. Anginnya kenceng banget guys.

Segitu aja tulisannya, siapa tahu ada yang nyasar ke sini, tapi ini masih suasana liburan enggak sih?

See you next post 🙂

DSC05928.JPG

ini pakai self timer ToT, kasihan enggak ada yang fotoin audhina.huhuhu

 

Iklan

Sebuah Rumah Pohon Impian

tree-house-google-old-lyme-11

Kelak nanti kita menikah.

Aku ingin punya rumah dengan halaman yang meski kecil, di sana ada pohon yang cukup besar dan kuat, yang bisa mendirikan rumah pohon di sana.

Biar kamu yang membangunnya, dan aku yang mengecatnya.

Mungkin ini sangat curang, tapi aku tidak pandai dalam urusan membentuk sebuah bangunan, bisa-bisa tidak kokoh nantinya.

Kita tidak akan mengganggu sarang burung pipit yang sedang bahagia itu, kita cuma akan memindahkan ke ranting yang ada di atap rumah pohon kita.

Aku akan di sana bila aku sedang sedih, kemudian menangis. Kemudian kamu datang dan aku menangis di pelukanmu, setelah semuanya mereda, kita akan sebentar diam dan minum teh di sana, lalu turun setelah semuanya terlihat sudah membaik.

Aku akan menghampirimu saat kamu juga di sana, kecuali mungkin ketika kita sedang bertengkar, dan kamu yang memenangkan tempat itu terlebih dahulu.

Dan ketika mungkin kita sudah tak lagi mampu bersikap kekanakan lagi. Rumah itu akan menjadi ramai oleh anak kita beserta teman-temannya.

Mungkin beberapa kali kita akan kerepotan memperbaiki kerusakan di sana sini, tapi semoga pohon itu kuat untuk menopangnya.

Begitu saja juga aku bahagia.

 

Catatan saat menulis di atap kamar kos dan melihat pohon dan burung pipit di atasnya.

Daw|Jogja, 22.7.17

Explore Kota Jogja dengan Trans Jogja

Holla readers. Kabar baik kan?, jangan lupa bersyukur ya. 🙂

Kali ini aku akan cerita tentang Jogja.

Jogja tidak pernah membosankan kalau kalian tidak sendirian, karena kalau sendirian agak menyedihkan.

Akses wisata di area Jogja Kota sangat mudah karena ada Trans Jogja, dan lebih mudah lagi kalau kalian pakai kendaraan pribadi. #yaiyalah, selalu andalkan Google Maps :D, karena walau pakai Trans Jogja dengan tarif yang super murah Rp 3.500 itu, kemungkinan suka salah transit atau lupa transit dulu. Yak itu berulang kali aku alami. Dan kalau kalian nanya orang, kalian bakal ditunjukkan arah menggunakan arah mata angin, Lor..Kidul..Wetan..Kulon. Dan sampai sekarang meski dulu kecilnya aku di Jogja, aku lupa mana Timur…Barat…Selatan..Utara.

Aroooh!!

Oke gampangnya gini, kalian tanya aja deh ke petugas yang jaga di halte. :D, dan perhatikan dengan baik petunjuk dan opsinya. Banyak tempat yang kalian bisa akses dengan Trans Jogja. 🙂

 .

#1 Taman Pintar

Halte di depan Universitas Atma Jaya adalah halte terdekat dari lokasiku. Petugas di sana bilang, bus nomor 1B yang harus aku naiki untuk bisa sampai Taman Pintar, Aku tidak begitu lama menunggu karena katanya jumlah Bus nomor 1B itu banyak, sekitar 10 menit saja, busnya datang, busnya nyaman, waktu itu tidak begitu banyak yang ada di dalamnya. Jalanan awalnya lancar, lalu tidak begitu lancar, dan Aku merasa Jogja berubah … uhukk macet dan banyak hotel di mana-mana.

Aku turun di Halte seberang Taman Pintar. Seusai turun kemudian menyeberang, sampailah aku di Taman Pintar. Hohoho (‘ o ‘)

Aku mengunjungi sahabatku di Taman Pintar, karena dia merupakan seorang Pemandu di sana, aku bisa gratis masuk ke dalam. Hehehe. Walau kalian enggak masuk ke dalam, di area halaman Taman Pintar ada taman dan wahana bermain air untuk anak-anak yang secara gratis bisa kalian kunjungi. Taman Pintar itu bukanya pukul (lupa) dan tutup pukul 16.00 WIB. Tarif masuknya juga enggak tahu, karena setiap kali ke sini aku di bawa sama sahabatku .XD.hehe

Aku bisa nonton di Planetarium tanpa beli tiket. Hohoho dan kalau mau tahu pertunjukan di sana indahnya bukan main.

#2 Titik 0 Km Jogja

DSC05860

Kalau mau ke Titik 0 Km, dari Taman Pintar, cuma butuh jalan kaki aja buat ke sana, ini serius, enggak jauh sama sekali. Aku sampai sana sudah sore. Dan menurutku lokasi ini lebih romantik dan ciamik jika saat malam.

Di sana ramai, juga banyak bule-bule yang lagi backpackeran, dan putih-putih gitu kulitnya (helloooww audhina apaa sih bahas kulit). Nah kalau kalian pengin ke Jl.Malioboro, dari sini juga bisa jalan kaki mungkin sekitar 12 menit. Aku berpendapat bahwa Jogja lebih enak kalau dinikmati sambil jalan pelan-pelan. Hu um gitu…

#3 Benteng Vredeburg

DSC05864

Ini juga tinggal jalan kaki aja deh dari Km 0, jalan terus ajalah pokoknya, haduh ini tulisan enggak berfaedah banget, iya soalnya yang nulis enggak paham arah mata angin. Ehehe . Berhubung udah tutup bentengnya, ya cuma bisa foto depannya aja.

Nah sehabis itu aku pulang. Aku naik Trans Jogja di halte  tepat depan Taman Pintar, lalu tanya ke petugas di sana, kalau mau balik ke Babarsari, Sleman naik yang mana. Aku harus naik 1A, kemudian transit dulu di Halte Janti Selatan. Nah….saudara-saudara, Aku lupa transit dan ke bawa sampai Halte Airport Adi Sutjipto. Hhhhh malang sekali, mana sepanjang dari Halte Janti Selatan ke Halte Airport Adi Sutjipto itu macetnya bikin haus banget. Huhuh

Lantas aku turun di sana, baru deh aku naik 1B. Andai saja aku enggak lengah, aku bisa lebih cepat sampai kosan.hhhhh jangan sampai kalian mengalaminya, pokoknya.

Oya Trans Jogja  jurusan 1A itu kalian bisa ke Candi Prambanan guys. Ya aku belum ke sana, mungkin lain waktu.

Oke gitu aja postingan kali ini, semoga kalian bisa bijak merencanakan liburan ke Jogja. #halah.

Irit-iritlah di Jogja, cari tahu dulu, apakah lokasi tujuan kalian itu masih bisa dijangkau pakai Trans Jogja dulu, dibanding dengan ojek online atau taxi online, dll

Segitu aja yah. See you next post. 🙂

Kamu Di mana?

DSC05800

“Audhina kamu di mana?”

“Aku di Jogja.”

“Ngapain jauh-jauh amat ke sana?”

“Mau kabur, aja.”

“Kenapa?”

“Mmmm, ya kabur gitu aja.”

***

Holla readers? Kangen nggak sama aku? he he he he #ketawagaring.

Yak seperti yang kalian sudah baca, aku lagi kabur nih ke Jogja. Dan ternyata kabur bukan alasan yang tepat buat meninggalkan masalah.

Aku bagai mayat yang berjalan-jalan di sini, meski begitu aku akan coba menuliskan perjalananku selama di Jogja ini. Kota yang katanya penuh rindu dan pulang.

Tentu saja banyak yang kangen aku, kan?

Maksudku, gini….

Sudah sepuluh tahun lebih aku enggak pulang ke Jogja, eh….enggak ding, lebih tepatnya ke Desa Kandangan. Ternyata banyak yang kangen sama Audhina Novia SIlfi. Kalau kalian kangen sama aku enggak?

Ya pokoknya aku yang kangen kalian, aku sudah susah sekali bisa nimbrung ngobrol sama kalian terutama di grup WA (Obrolin Santai maupun Serius).

Audhina lagi kehilangan arah. 🙂

See you next post.

Ramadhan 20 : Hari Peringatan Kematian Seorang Ayah yang Selama ini Ternyata Sangat Amat Dicintai Anak Perempuannya yang Lumayan Tangguh Untuk Tidak Menangis, Sesaat

DSC00202

 

/1/

Ada.

Ayah Terbang.

Ke Langit.

Malam tadi.

/2/

Tidak pernah ada wajah Ayah di mana-mana.

Mungkin bunga tidur itu belum tiba.

Mungkin saat sudah kangen-kangennya.

/3/

Dua tahun, hari-hari mengeras di dinding-dinding rumah.

Jarang ada tangisan di dalam ruang-ruang itu.

Mereka menyimpannya bukan di otak, tapi di hati.

 

Daw|Sukabumi,15.06.17

Dia Cuma Lelah

boy-2205733_1920

pixabay.com|coyot |Juraj Varga

 

Aku mengenal seorang sebatang kara
Seperti bunga tulip di antara ketiadaan makna
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit menjadi buronan rasa bersalah dunia
Apa betul “bahasa alam,bahasa ibu, mereka sama?”

Dia berjalan jauh dan terus berjalan, juga tidak peduli sesak di dadanya
Aku rasa dia bukan sebatang kara yang tidak kukenal
Dia punya banyak kawan yang jadi adiknya
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit merindukan ibu sepanjang hidup

Suatu ketika dia berhenti berjalan, dan bergumam-gumam

“Aku bukan orang salah, cuma kalian yang begitu merasa bersalah, di ketiadaan ini
siapa yang mengalah?, bukan aku dan bukan juga adik-adikku, tidak masalah begitu lama aku hidup tanpa ibu
asal kalian tahu aku mengenal ibu lain yaitu iba, Segenggam iba yang begitu menguliti ketiadaanku ini.
Cuma kalian yang sering salah mengerti, aku cuma mau hidup biasa, kalian anggap saja aku punya ibu
dan juga seorang ayah yang masih hidup. Aku cuma begitu lelah, itu saja.”

Anggap saja dia begitu bahagia
Anggap saja dia begitu damai
Biarkan saja dia terus berjalan
Biarkan saja dia tetap berjalan

Sukabumi|Daw|25.05.17

Ramadhan 01: Pelukan Masjid Agung Sukabumi untuk Para Musafir

DSC05446

17.00 WIB, keinginan tertimbun dan terus tertimbun, tapi akhirnya aku berlari ke sana. Masjid dengan kubah terindah di Sukabumi. Aku pikir tidak ada salahnya mencari bahan tulisan-Buka puasa di tempat ini.

17.45 WIB, beberapa pengurus masjid membagikan takjil kepada siapa saja yang melangkahkan kaki ke dalamnya. Mereka hangat.

Sayang sekali terlalu terlambat aku sampai di sini, hingga ceramah yang dapat aku dengar tidak lain hanyalah ujaran sang penceramah supaya semangat berpuasa selama sebulan ini.

DSC05436
Aku tidak begitu tertarik dengan es buah dan juga nasi kotak, padahal masih banyak tersedia bila aku mau mengambilnya. Aku rasa takjil sudah cukup mengenyangkan untuk perut kecil ini.

17.46 WIB, adzan maghrib berkumandang untuk Sukabumi. Aku suka suasana di sini, takjilnya juga enak. Meski aku bukan musafir, aku cuma mau memberitahu kepada para musafir yang datang ke Sukabumi bahwa di sini ada masjid yang akan memberimu pelukan hangat.

Taman Bunga Nusantara Cianjur

DSC05110

Holla readers

Aku mau nyeritain tentang perjalanan wisata ke Taman Bunga Nusantara Cianjur. Pas tanggal 01 Mei 2017. Iya iya ini cerita sebenarnya udah basi banget, tapi nggak papalah ya.

Oke ini mau ngelantur sebentar,kalau mau di-skip juga boleh.

Pagi hari itu, aku sebenarnya enggak ada rencana sama sekali mau kemana-mana, intinya mau tidur aja gitu di rumah, di otak sih siang itu pengin makan mie sambil nonton stok film di laptop. Eh mendadak pas pukul 09.00 WIB, enggak tahu kenapa diri ini pengin banget jalan-jalan, kalian pasti pernah mengalami kayak gini. Nah berhubung wisata sekitar Kota Sukabumi ini kelihatannya udah aku kunjungi semua, dan yang muncul di pikiran ya cuman ke Cianjur, di sana ada Taman Bunga, oke akhirnya aku cari temen buat nemenin. Nah Adikku yang nemenin ke Curug Cibereum Selabintana waktu itu lagi masa tenang mau UN SMP jadi aku juga enggak tega deh ngajak dia, takutnya semua materi yang dia persiapkan mendadak hilang semua, ketinggalan di tempat wisata. Dalam situasi seperti ini aku berterimakasih pada diri sendiri karena memiliki sekian “lumayan” relasi yang bisa diajak main. (lumayan he…..he) #garing

Sebenernya banyak yang bisa di ajak di Cianjur, tapi pengin ketemu Kak Ratna, dia temen di grup nulis gitu, ya walau grup nulisnya lagi vakum, soalnya masing-masing sibuk, dan mungkin pada punya grup nulis barunya masing-masing. Aku hubungi tuh si Kak Ratna, dan dia dalam keadaan lagi PMS, tapi akhirnya dia bilang gini “ke sini aja, Au, siapa tahu nanti aku udah sembuh.” Aku nggak mikir panjang langsung ngeiyain aja, terus ngasih perhatian sedikit supaya dia biar minum obat analgesik.

Pukul 10.00 WIB

Iya kenapa aku lama amat ya mandi sama dandan doang?, soalnya aku belum sarapan, terus belum manasin motor, kasihan si merah kalau langsung dipakai jalan jauh, takutnya mogok terus nggak ada yang bantu dorong gimana?.

Aku udah bawel banget bilang ke Kak Ratna, aku bakal sampai jam setengah 11-an lah, dan dia harus udah di tempat janjian pokoknya. Aku sebanarnya udah dikasih tahu sama Kak Ratna, “Kamu dari pertigaan itu jangan belok, pokoknya lurus aja!”, eh aku ngeyel, aku ngerasa kayak déjà vu gitu sama jalanannya (dulu pernah ke Cianjur soalnya), dan beneran aja salah tempat, akhirnya aku kesasar, nanya ke polisi 2 kali, terus sempet hampir mau memasuki “jalanan satu arah” tetep aja nyasar. Aku beneran bodoh banget, terus Kak Ratna udah marah-marah di chat. Katanya “setengah jam apanya?”, awalnya aku enggak mau tanya dulu ke Kak Ratna jalan yang bener, tapi akhirnya ngabarin. “Kak aku nyasar.” Aku berhenti dulu di suatu tempat dan ternyata tempat janjiannya itu kelewatan udah berkali-kali . Oke fix ini aku bodoh banget.

Kita ketemu, dan Kak Ratna ngomel (enggak ding), dia cuma ngulangin kata-katanya aja di chat. “Aku kan udah bilang, jangan belok!”. Lha iyalah jadinya nyasar. Aku cengar-cengir ajalah, masang wajah tanpa dosa.

Kita mampir dulu ke minimarket, beli air sama cemilan buat di sana nanti.

Oke langsung ke Inti cerita

Sekitar pukul 11.00 WIB, kita berangkat, Kak Ratna udah apal tempatnya, dia pernah ke Taman Bunga Nusantara). Bagi kalian yang belum pernah ke sini, bisa Tanya ke Google Maps (Dan berdoa juga supaya nggak nyasar).

Mata kita memandang ke arah Cibodas, kelihatan langitnya hitam, pertanda mau hujan. Aku lupa mau ngingetin Kak Ratna buat bawa jas hujan, aku cuma ngingetin dia berkali-kali buat bawa helm sendiri.

Dan bener aja, sekitar pukul 12.30 WIB, padahal tinggal sekitar 5 Km lagi lah, tapi hujan akhirnya betulan turun dengan lebatnya, seolah ngejek kita berdua, karena kita pakai rok (nggak nyambung). Oke kita ikut neduh di depan tempat tukang jahit, aku kekeuh pengin nunggu sampai hujan reda, tapi Kak Ratna bilang, ini hujannya enggak bakal berhenti, aku juga setuju sih, sempet kita cek Google Cuaca, iya itu hujan belum bakal berhenti sampai jam 15.00 WIB, nah akhirnya melalui diskusi yang puanjaaang, aku pakai jas hujan, Kak Ratna mau lepasin rok dia, dan untung dia pakai celana panjang di dalam, maksudnya biar nggak basah semuanya.

Hujannya ngajak bercanda gitu, pas lumayan reda kita berangkat lagi, eh belum lama hujannya deras lagi, aku kasihan ke Kak Ratna, dia kan nggak pakai jas hujan. Asli ngeselin banget, guys. Eh enggak..nggak boleh gitu. Hujan itu rahmat Allah.

Akhirnya kita neduh lagi, kata Kak Ratna sebentar lagi juga sampai, 1 Km lagi. Oke pas hujannya lumayan reda, kita maksain lagi buat menerjang hujan. Dan betapa bodohnya aku, itu ada lubang besar di jalanan enggak kelihatan karena ada genangannya, motornya ya udah terlanjur menerjang itu lubang, beruntung enggak jatuh. Asli aku kaget banget. Kak Ratna untung enggak kenapa-napa. Kok rintangannya gini amat yak. Huhuh -.- tanganku lumayan sakit gitu karena nahan  distraksi itu.

Akhirnya sampai juga ke lokasi wisata dan tempat parkirnya enggak ada yang indoor, yaudah dehlah, dan aku udah putus harapan banget, lha iya orang baju basah kuyub banget, Kita langsung menuju ke toilet buat benahin semuanya. Pokoknya riweuh bangetlah. Hhhhhh

Pas kita udah ngerasa lumayan rapih walau basah, kita sholat dzuhur dulu, selesai sholat ternyata cuaca akhirnya cerah. Aku girang banget. Dan mulailah kita menjelajahi Taman Bunga Nusantara Cianjur

Kita beli tiket dulu, kita pilih tiket yang biasa Rp40.000 /1 orang, ada tiket Dotto Train atau Garden Tram yang harganya kalau nggak salah Rp50.000, jadi kalian bisa ngelilingi Taman Bunga dibawa sama kereta, hehe aku sempat foto sama kereta.

DSC05120

Lebih detail mengenai harga tiket bisa cek ke websitenya aja, kalian bisa cari di google. Nah kurang lebih begini harga tiketnya diambil dari website resmi Taman Bunga Nusantara Cianjur. tiket masuk (usia 4 tahun ke atas) Rp 40.000 | Tiket Dotto Trains Rp 50.000| Tiket Garden Tram Rp 50.000| Parkir Motor Rp 10.000| Parkir Mobil Rp 15.000| Parkir Minibus Rp 20.000| Parkir Bus Rp 25.000| Tiket Wara Wiri Rp 5.000|

Taman Bunga Nusantara ini menurut info wikipedia adalah sebuah taman bunga seluas 35 hektare yang terletak dekat Gunung Gede Pangrango dan Kebun Teh Bogor dengan jarak tempuh sekitar 2,5 – 3 jam perjalanan dari Jakarta.

Begitu masuk, kita langsung disambut sama berwarna-warni bunga, dan ada semacam sungai gitu. Ada begitu banyak patung berbagai macam karakter binatang, yang paling menonjol sih ikon Taman Bunga nya, patung bunga Burung Merak.

DSC05194

sebenarnya enggak mau ngelihatin ini foto, langitnya mendung, diambilnya pas mau pulang.hiks

DSC05159

Matahari yang tadi dimusuhin sama hujan akhirnya datang buat ngeringin baju aku sama Kak Ratna. Percayalah, baju kita sampai kering lagi karena lama banget ngelilingin ini Taman Bunga. Sebetulnya kita dikasih semacam buku brosur berisi apa aja sih yang ada di dalam Taman Bunga itu, aku juga pengin banget ngejelasin lebih detail, tapi (ToT) brosurnya kehujanan dan udah aku buang karena rusak.

Taman yang pertama kita kunjungi adalah Taman Mawar, di sepanjang jalan menuju taman-taman itu juga ada bunga-bunga lain, aku yang udah punya cita-cita lama pengin foto sama bunga matahari, akhirnya histeris ketika bunga berkelopak kuning dengan sari berwarna coklat pekat itu menampakkan diri di sudut mataku, Kak Ratna sempat malu gitu karena aku terlalu senang.hahahah maaf ya Kak.

IMG-20170501-WA0051

Ngomong-ngomong, begitu buaaanyak pasangan yang lagi memilih pacaran ke Taman Bunga ini, berasa jomblo ngenes banget gitu, untung ada Kak Ratna yang bisa aku gandeng, meski dia agak jijik gitu.#enggakding.

Setelah ke Taman Mawar, kita ke Taman Amerika, Lalu ke Taman Dahlia, terus…terus hujan datang lagi. Huweeeeng (ToT)

Kita kejebak di Taman Dunia Anak gitu, di sana ada wahananya(nggak jalan karena hujan), ya cuma numpang foto doang pas hujan reda, sama di sana ada mushola, kita sholat ashar dulu.

IMG-20170501-WA0044

Akhirnya hujan lumayan reda, kita melanjutkan ke Taman Jepang terus tempat terakhir kita yaitu  menara, yang dari atasnya kita bisa lihat sebuah Labirin di bawah. Ya…ya..ada banyak Taman yang aku lewatin, tapi cuma Taman-taman yang tadi itu yang punya kesan lumayan di pikiran.

Kalian kalau mau ke tempat ini, sebaiknya cek dulu prakiraan cuaca hari itu, iya bakal sia-sia kalau hujan. hasil fotonya bakal jelek-jelek. ToT

Akhirnya pukul 17.00 WIB,kita memutuskan buat pulang, sebenarnya masih kurang puas, tapi hari udah sore, dan lumayan mendung. Dan badan juga udah capek, aku bayangin bawa motor buat pulang ke rumahnya bakal bisa nggak ya, ini sebenernya pengalaman pertama bawa ini motor sejauh ini. Sebelum-sebelumnya ya cuma dibonceng, dan ternyata ngeboncengin sejauh ini lumayan bikin remuk badan.hahaha

Taman udah sepi banget, cuma tinggal beberapa pasangan aja, dan sempat aku sama Kak Ratna dimintain tolong buat ngefotoin mereka.hahaha

Sampai di parkiran motor, obrolan masih seputar pasangan yang minta tolong fotoin tadi, Kak Ratna udah sibuk pakai masker dan helm, dan aku awalnya dengan tenang meriksa tas buat ambil kunci motor, eh nggak ada, terus beralih ke sisi lainnya, juga nggak ada, lalu periksa kantong jaket, enggak ada juga, dan kepanikan mulai terjadi, kalian yang mungkin baca dari awal artikel ini dengan seksama, jadi pas kita sampai ke tempat parkiran, keadaan kita beneran lagi ribet banget, dan aku ternyata mungkin dengan tledornya menjatuhkan itu kunci motor. Kak Ratna nyaranin buat periksa lagi pelan-pelan, tetap nggak ada. Di otak kita masing-masing nyari jalan keluar. Kak Ratna bilang

“Mending kita tanya satpam dulu, Au.”

Oke akhirnya aku cepat-cepat ke loket parkiran

 “Pak, nemuin kunci motor nggak?”

Terus akhirnya si bapak itu bilang buat ke satpam atas. Oh maksudnya satpam di pos jaga di atas, aku buru-buru ke sana, dan ketemu sama satpannya, dan ngejelasinlah aku dengan kekacauan pikiran yang sangat amat jelas itu.

Pak Satpamnya nanyain STNK, terus dilihatlah, STNK motor ini pakai nama ibu, kelihatannya pak Satpam berusaha nenangin aku, tapi aku sangat amat panik banget, Kak Ratna juga kelihatan lumayan panik.

“Dari Sukabumi tho, emang ada daerah namanya Cikole?” Tanya Pak Satpam setelah negilhat alamat di STNK

“Ada pak.” ekspresiku mungkin udah enggak banget

“Kenapa bisa ilang kuncinya?”Kata Satpamnya

“Kan tadi pas sampai sini hujan gede, Pak. Kita riweuh gitu Pak, kayaknya kuncinya jatuh.”

“Oooh Sukabumi juga ada kata “riweuh” ya.” Si Pak Satpam sempet-sempetnya deh bercanda . Sementara itu aku udah kalang kabut banget di dalam kepala, kalau misalnya nggak ketemu gimana, apa harus gini terus gitu (ya pokoknya gitulah)

Kita dan Pak Satpam jalan menuju tempat parker motorku, dan emang tinggal motor aku doang di sana.

Di sana Pak Satpam minta keterangan lebih lanjut detail tentang gimana kira-kira hilangnya itu kunci motor. Aku langsung nyerita panjang lebar

“Kan kita sampai sini tuh pas hujan gede, Pak. Terus aku lepasin dulu jas hujan, kuncinya aku taruh di sini (nunjukin tas), terus jas hujannya aku masukin ke bagasi, habis itu aku ambil payung di tas, terus udah deh lupa enggak tahu itu kunci, soalnya habis itu kita ke toilet pak.”

Si Pak Satpamnya kayak nahan ketawa gitu”Terus gimana lagi?”

Kak Ratna yang awas dan perhatian sama ekspresi itu Pak Satpam langsung bilang gini “Pak…kuncinya ada kan, Pak?”

Si Pak Satpam ketawa, sambil gerak-gerakin tangan “Biar dia nyerita dulu.”

Terus aku ikutan histeris “Aaaah…Pak, gimana ini kuncinya di mana?”

Kata Pak Satpam yang berubah kembali ke wajah bijaknya ngejelasin bahwa…tadaaaa (Kunci keluar dari kantong celananya) Petugas kebersihan nemuin itu kunci jatuh di sekitaran motor ini, terus kata Pak Satpam, dia nemuin 20 kunci motor hari ini. Astagaaaaaaa dan salah satunya kunci motor oweee. ToT (nangis bahagia)

Pak Satpam ngingetin kita mengenai “uang terimakasih” yang nanti bisa disampaikan ke orang yang nemu itu kunci motor, aku ngasih sekadarnya. Yang jelas aku berterimakasih banget sama yang nemuin kunci motorku, bayangin kalau misalnya itu kunci motor nggak ketemu, ongkos pakai kendaraan umum lebih mahal coy. Setelah pamit sama Pak Satpam akhirnya sekitar pukul 17.50, kita pulang dengan perasaan campur aduk, dan sepanjang 1 Km jalanan menuju pulang obrolan masih berputar sekitar insiden hilang kunci motor tadi.

Pada akhirnya kejadian yang memalukan itu bisa diketawain juga.

Pokoknya kalian jangan sampai tledor. Terus jangan kehilangan fokus karena terlalu senang sampai di tempat wisata.

Yah anggap ajalah aku ini lagi apes banget.

Oke gitu aja cerita yang mungkin sangat berlebihan ini. Terimakasih sudah mau-maunya baca sampai beres. Terimakasih juga yang Cuma lihatin fotonya aja, terimakasih dan terimakasih, guys.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. See You.

Pemuda Penangis (Puisi)

crying-in-the-shadows-michal-madison
Crying Blue Boy Painting By Rita Drolet

 Pemuda Penangis

Dunia di kepalanya seakan kapas yang melayang terbang

Matanya sunyi

Menimbang semua waktu yang tak pernah kembali

Mengimbangi semua langkah kaki

Seorang pemuda yang dia anggap bahagia

Tapi capek

Dia nangis

Cuma bisa nangis

Panas kopi di mejanya

Jadi dingin

Membisu

Dia bilang : “Aku menyerah”

Pemuda itu melirik masa bodoh dan berteriak

Pergi sana! Siapa Kamu?

Dasar gelandangan dekil

Pengganggu

Dia nangis lagi

Nangis terus

Menyupahi niat awal yang menggebu-gebu

Terpaku lagi pada kaki yang tersobek jalanan

Terseok-seok kembali lagi diam, kaku

Cuma ingin lepas dari ribuan jenis beban

Juga lepas dari bahagia yang mungkin

Bisa jadi, memang bukan miliknya

Dia memang tidak pernah bisa dipahami

Beberapa bahasa

Mungkin saja bahasa alam dan Ibu saja

Dan kelak dia bahagia sungguhan

Sukabumi|20.05.2017|Audhinadaw

Aku Sedang Belajar Mendekap (Puisi)

universe-1044107_1280

Aku Sedang Belajar Mendekap

Semesta kehilangan hening doa ibu

Dan aku tidak punya lagi logika bahagia

Aku begitu bosan beredar bersama bunga-bunga api itu

Lantaran semuanya menjadi abu seluruhnya

Ibu, ada kumbang berbadan hitam yang mendekap ilalang itu

Jangan cemburu

Sebab akar ilalang mendekap tanahmu juga

Menyampaikan dekapan kumbang itu

Aku sudah pasrah belajar mendekap siapa saja

Ibu

Aku

Sedang belajar mendekap hati seseorang

Tapi jika itu tidak cukup

Maka aku akan belajar membakar semua hati

Jadi jangan menangis

Ibu

Biar saja semua jadi abu

Hilang

Dengan begitu

Akulah ahli menghilangkan sesuatu

Maaf Ibu, Aku lelah belajar mendekap

Sukabumi, 17.05.17|Daw