Batas (Puisi)

Mungkin saja saat ini tuan sedang terlempar ke tepian paling aman,

Sedangkan semesta memilih masygul kepada saya, lalu batas menjadi buih di akhir minggu

Tanpa Batas, empasan paling kaku menjemput tuan kepada saya

Pada Senin pagi, saya sedekat ini dengan tuan

Lalu batas mengada-ada menjadi kaku

Dan saya percaya, bahwa tuan tidak sedang berbahagia

Tetapi tidak juga meminta saya untuk memiliki Tuan

Sehingga kini musim memilih batas untuk memiliki saya

Dan tuan terlempar lagi ke tepian paling aman, dan selamanya.

Audhinadaw

7.11.18

Iklan

Dirimu adalah Ketiadaan yang Salah (Puisi)

Dirimu adalah Ketiadaan yang Salah

Oleh : Audhinadaw

Dirimu adalah ketiadaan yang salah

Dimamah luka yang menjadi aku

Kamu itu lukaku

Ketiadanmu adalah bunuh diriku

Kerinduanku adalah kebodohanku

Sejajar dengan menginginkan neraka sepanjang kehidupanku

 

Kering di hujan Juni ini mengolok

Dengan kerapatan dingin, dan aku butuh tidur

Jalanan terpijak landai berusaha menjelaskan

Tentang kasihannya keadaanku

Yang meraba-raba banyak warna merah muda yang bermacam-macam

Yang memastikan bahwa dunia ini bukan tempat bermain.

 

Hati yang patah tidak lekas sembuh

Aku bilang sudah tidak ada lagi Dia hari ini

Aku berbohong

Belum ada dia sebelum kamu

By audhina Posted in Puisi

Aku Sedang Berantakan

 

Aku lupa bahwa kamu berantakan di permukaan

Dan aku berantakan di kedalaman yang tidak terlihat

Apa mungkin aku terlalu berpikir terlalu acak, sehingga hadirmu yang sebenarnya sistematis itu akhirnya terkubur paksa

Dan bagai mayat hidup yang meronta keluar

Jadi apa fungsi pergiku ini jika aku memintamu kembali

Maka dari itu aku diam saja, menganggap semua ini cuma sementara penyesalan

Dan tidak ada di antara kita untuk mendatangi satu sama lain lagi (Sudah)

Tidak ada jilid kedua untuk berakhir pada ketiadaamu lagi!

By audhina Posted in Puisi

Menyerah (Puisi)

56806c9bc8061d4f1961ed90d740ae1a

Picture : Renee Nault

Menyerah

akar resah berderet-deret
hujan deras keras kepala
dihitung kebosanan mati rasa
batang berongga berkemelut sesak
barangkali warnanya putih rusak
tersedak perih
lukisan duri berbagai makna
dan nanti bunganya mekar juga
lalu bagimu layu tidak pernah ada
dari lorong gerimis jalanan ada yang datang
sehabis pertigaan
tersesat
berputar balik dan tidak kembali lagi
barangkali menyerah
sekarang di keberadaan ini diam saja
bagai pemuda hilang arah
mati rasa

Sukabumi, 14 Januari 2018

Jauh (Puisi)

 

Dia mungkin saja terluka di mana-mana
Tapi aku tidak bisa apa-apa
Aku jauh
Aku jauh
Aku ingin berada di dekatnya
Tapi Dia jauh
Dia jauh
Jauh
Jauh

Sukabumi, 27.09.17

By audhina Posted in Puisi

Rindu (Puisi)

.

Mendung bersapa rindu

Riuh mengguman dekat telinga

Ibu menasihatinya

Mi instan tak baik untuk dimakan

Seminggu awan tidak ada

Ternyata tertinggal di pasar malam

Dimakan gadis kecil berambut merah muda

.

Salah bila aku mendengus kesal

Padahal malam ini begitu sakral

Ada rindu yang malah menjadikan ini amarah panjang

Bodoh sekali

 

Daw|Jogja, 31 Agustus 2017

Ramadhan 20 : Hari Peringatan Kematian Seorang Ayah yang Selama ini Ternyata Sangat Amat Dicintai Anak Perempuannya yang Lumayan Tangguh Untuk Tidak Menangis, Sesaat

DSC00202

 

/1/

Ada.

Ayah Terbang.

Ke Langit.

Malam tadi.

/2/

Tidak pernah ada wajah Ayah di mana-mana.

Mungkin bunga tidur itu belum tiba.

Mungkin saat sudah kangen-kangennya.

/3/

Dua tahun, hari-hari mengeras di dinding-dinding rumah.

Jarang ada tangisan di dalam ruang-ruang itu.

Mereka menyimpannya bukan di otak, tapi di hati.

 

Daw|Sukabumi,15.06.17

Dia Cuma Lelah

boy-2205733_1920

pixabay.com|coyot |Juraj Varga

 

Aku mengenal seorang sebatang kara
Seperti bunga tulip di antara ketiadaan makna
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit menjadi buronan rasa bersalah dunia
Apa betul “bahasa alam,bahasa ibu, mereka sama?”

Dia berjalan jauh dan terus berjalan, juga tidak peduli sesak di dadanya
Aku rasa dia bukan sebatang kara yang tidak kukenal
Dia punya banyak kawan yang jadi adiknya
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit merindukan ibu sepanjang hidup

Suatu ketika dia berhenti berjalan, dan bergumam-gumam

“Aku bukan orang salah, cuma kalian yang begitu merasa bersalah, di ketiadaan ini
siapa yang mengalah?, bukan aku dan bukan juga adik-adikku, tidak masalah begitu lama aku hidup tanpa ibu
asal kalian tahu aku mengenal ibu lain yaitu iba, Segenggam iba yang begitu menguliti ketiadaanku ini.
Cuma kalian yang sering salah mengerti, aku cuma mau hidup biasa, kalian anggap saja aku punya ibu
dan juga seorang ayah yang masih hidup. Aku cuma begitu lelah, itu saja.”

Anggap saja dia begitu bahagia
Anggap saja dia begitu damai
Biarkan saja dia terus berjalan
Biarkan saja dia tetap berjalan

Sukabumi|Daw|25.05.17

Pemuda Penangis (Puisi)

crying-in-the-shadows-michal-madison
Crying Blue Boy Painting By Rita Drolet

 Pemuda Penangis

Dunia di kepalanya seakan kapas yang melayang terbang

Matanya sunyi

Menimbang semua waktu yang tak pernah kembali

Mengimbangi semua langkah kaki

Seorang pemuda yang dia anggap bahagia

Tapi capek

Dia nangis

Cuma bisa nangis

Panas kopi di mejanya

Jadi dingin

Membisu

Dia bilang : “Aku menyerah”

Pemuda itu melirik masa bodoh dan berteriak

Pergi sana! Siapa Kamu?

Dasar gelandangan dekil

Pengganggu

Dia nangis lagi

Nangis terus

Menyupahi niat awal yang menggebu-gebu

Terpaku lagi pada kaki yang tersobek jalanan

Terseok-seok kembali lagi diam, kaku

Cuma ingin lepas dari ribuan jenis beban

Juga lepas dari bahagia yang mungkin

Bisa jadi, memang bukan miliknya

Dia memang tidak pernah bisa dipahami

Beberapa bahasa

Mungkin saja bahasa alam dan Ibu saja

Dan kelak dia bahagia sungguhan

Sukabumi|20.05.2017|Audhinadaw

Aku Sedang Belajar Mendekap (Puisi)

universe-1044107_1280

Aku Sedang Belajar Mendekap

Semesta kehilangan hening doa ibu

Dan aku tidak punya lagi logika bahagia

Aku begitu bosan beredar bersama bunga-bunga api itu

Lantaran semuanya menjadi abu seluruhnya

Ibu, ada kumbang berbadan hitam yang mendekap ilalang itu

Jangan cemburu

Sebab akar ilalang mendekap tanahmu juga

Menyampaikan dekapan kumbang itu

Aku sudah pasrah belajar mendekap siapa saja

Ibu

Aku

Sedang belajar mendekap hati seseorang

Tapi jika itu tidak cukup

Maka aku akan belajar membakar semua hati

Jadi jangan menangis

Ibu

Biar saja semua jadi abu

Hilang

Dengan begitu

Akulah ahli menghilangkan sesuatu

Maaf Ibu, Aku lelah belajar mendekap

Sukabumi, 17.05.17|Daw