Melepaskan

melepaskan

Daw                       : “Aku sayang kamu”

Blackcloud           : “Sayang apa?”

Daw                       : “Sayang sama kamu.”

Blackcloud           : “Ohiya paham, iya deh aku juga sayang.”

 

***

Orang-orang sekitarku merasa sangat frustasi, menyuruhku melepaskanmu saja. Kata mereka aku tidak waras.

-Selesai-

Terimakasih Semesta, Biru Pupus 5 Tahun :)

DSC06393

Holllaaaaa readers 🙂

Bagaimana tadi harinya? Semoga bagus ya :), soalnya hari ini Biru Pupus ulang tahun

\(0.0)/

Wuhuuuuuuu! sebenarnya audhina-nya lagi sedih, tapi karena barusan dapat notif dari wordpress, ngasih tahu kalau Biru Pupus ulang tahun, galaunya sedikit hilang.hehe

selamat ulang tahun biru pupus

Aku bersyukur ternyata keputusan membuat blog hari ini pada 5 tahun yang lalu membuatku begitu bahagia hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. 🙂

Aku bersyukur menemukan begitu banyak teman dari kegiatan menulis di blog ini, seberapapun aku bersyukur, kebersyukuranku tidak akan mempu cukup untuk berterimakasih kepada semesta. Dan tentu saja kepada pencipta semesta. Allah 🙂

Aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak yakin tangisan ini karena senang atau sedih?

Karena hari ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Senang karena ternyata sudah begitu lama aku mencintai “menulis” sedih karena belum juga bisa menghasilkan karya yang diakui banyak orang.

.

Aku mengucapkan kepada teman-teman semua yang dengan susah payahnya melakukan blogwalking ke Biru Pupus, betapa aku selalu senang bila kalian datang.

Semoga untuk ke depan, Biru Pupus bisa lebih baik lagi dari saat ini. Aamin

.

Untuk kalian semua, jangan lelah dan menyerah untuk menulis ya :). Karena kalian tidak akan tahu manfaat apa yang bisa diberikan dari tulisan-tulisan di blog kalian kepada pembacanya.

 

Daw| Jogja, 01 Agustus 2017

Blackcloud

air-2241560_1920

Engin_Akyurt

Sudah beberapa lama ini aku butuh kamu menjadi penerjemah sulur-sulur menyedihkan di dalam kepalaku.

Kamu tidak boleh pergi, meski kamu mau.

Tapi kamu boleh pergi ketika tidak lagi pedulimu padaku.

Hingga saat itu seberapa mungkin aku memahami, tidak ada yang bisa aku lakukan

Karena sesuatu hal tidak mungkin berubah hanya karena aku menginginkannya, bukan?

Aku cuma mau kamu tegap di atas sana, terserah mau jadi apa kamu, kamu sudah baik menjadi kamu, karena cuaca menjadi lumayan teduh.

Kamu boleh jatuh, asal menjadi hujan

Tapi jangan sering-sering jatuh, orang-orang akan kesulitan bila mereka lupa membawa payung.

Bagaimana harimu berjalan tadi? Jika buruk, kamu boleh menceritakannya padaku, jika baik terserah padamu.

.

Kalau kamu sudah baca ini, kamu boleh menyakiti aku secara tiba-tiba, karena rasa sakit yang tiba-tiba itu menjadi sekaligus merubah, bukan?

Biar aku tidak kewalahan karena dibunuh pelan-pelan.

Lagi pula aku sudah terbiasa.

.

Tidak ada yang bisa kamu katakan kepadaku, karena keterangan-keterangan padamu itu abu-abu—tidak jelas sama sekali.

.

Ya betapapun aku capek dengan semua itu, suatu hari nanti aku bisa bahagia betulan tanpa keraguan. Meski mungkin bukan karena dirimu lagi.

Daw | Jogja, 01 Agustus 2017

Bertemu di Jogja

IMG-20170727-WA0010

by Bang Ical

Holla readers 🙂

Kali ini aku mau nyerita tentang kopdaran perdanaku sama salah satu teman di dunia per-wordpress-an ini. Awalnya aku ngira bakal kopdar perdana sama Bunda Ida (blogger fenomenal yang postingannya super bikin baper.hhhh) yang kadang pulang ke Cianjur. Dan ternyata kopdaran pertamaku sama Bang Afrizal, yang akrab disapa Bang Ical.

Aku lagi di Jogja, dan masih di Jogja sampai aku dapat jodoh. Hehehe sampai akhir agustus ding.

Bang Ical ini rumahnya dari Lombok, dan dia tanggal 28 Juli 2017 itu tiba di Jogja karena ada keperluan yang sangat luar biasa penting. :O

Oke langsung aja ke poin postingan ini. Jadi mumpung Bang Ical di Jogja, kita merencanakan ketemu, dan akhirnya ketemu di Km 0. Aku datangnya telat, soalnya naik Trans Jogja, lumayan ngirit gitu maksudnya. Selagi nunggu aku, Bang Ical berdua sama temannya jalan-jalan ke Keraton dan entah ke mana lagi. Nah pas aku udah sampai, aku nunggu 12 menit karena mereka lagi jalan kaki. Aku sempat lihat dua orang ngedorong gerobak, nyeberang jalanan luas Km 0, seorang bawa dua gerobak, betapa strongnya. #oke ini gak penting. Aku juga sempat ditanyai tukang becak. “Mbak lagi nunggu siapa?” , owe kagetlah, aku jawablah “lagi nunggu temen, pak. Hehe” lalu si bapaknya ber-oh. Mungkin si bapaknya mau nawarin naik becak. #inijugagakpenting. Km 0 sebenarnya sedang dalam perbaikan,tapi tetap ramai, Jogja juga masih hangat malam itu.

Akhirnyaa Bang Ical datang langsung menyapa “Bhang…Bhang..Bhang…Kak Au!” Aku sedetik menerka. “Bang Icaaal.” Lalu aku salim 😀 Bang Ical mengenalkan temannya, namanya Bang Alung, ternyata sehari sebelumnya Bang Alung sudah sempat menyapa ke blogku. Jadi bisa dibilang aku kopdaran sama dua blogger. Horeeee!

Bang Ical ini berperawakan gemuk, dan lebih tinggi dariku, wajahnya ramah sekali, mungkin dengan wajah itu Bang Ical kesulitan menghakimi orang. Tapi aku belum lihat sih gimana ekspresi Bang Ical kalau marah, apa mengerikan. Yhaa pokoknya Bang Ical ini super ramah.

Kita jalan kaki sedikit untuk mencari tempat duduk, dipilihlah wedang ronde, di sana ada tempat duduk lesehan, dan ini asik menurutku. Kita mulai ngobrol, dari sana aku tahu Bang Ical dan Bang Alung ini dulu satu tempat pesantren. Kemudian tiga mangkok kecil wedang ronde datang, ternyata wedang ronde ini kayak sekoteng, bedanya cuman di bulatan-bulatan candilnya itu.

Kemudian Bang Ical ngasih hadiah buatku. Novel dengan judul “Kereta” karyanya, aku seneng banget.

Tapi juga sedih, kenapa malah dikasih bukannya beli sendiri. Huhu. Kemudian aku langsung minta tanda tangan di buku itu.hehe terimakasih banyak Bang Ical. Bukunya sekarang lagi kubaca, dan aku suka sama Kim karena bikin baper. XD

Dia bawa dua buku, satunya buku dengan judul Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, buku itu menurut cerita Bang Ical, buku pemberian Kak Ikha, salah satu blogger juga. Yuhu kak Ikha, semoga kita nanti bisa kopdaran ya 🙂

Oya Bang Alung juga orangnya ramah, dan dia sudah 7 tahun di Jogja tapi belum pernah ke Menara Pantai Pandasari, dan justru baru tahu dari postingan di blogku ini. Hoalaaah.

Sebenarnya Bang Ical sudah posting tentang yang dia ceritakan malam itu, kalian bisa baca di sini—Tentang Jogja, dan pas kopdaran itu aku malah belum baca postingan itu, ya tapi aku bisa langsung dengar dari orangnya langsung. Ntapp!

Banyak cerita kocak yang mereka ceritakan, mulai dari Bang Ical yang ngomongin tentang ngupil, lalu Bang Alung yang nyeritain awal mula suka sama wedang ronde itu karena pas waktu siang hari terik dari kejauhan minuman ini kayak cendol, pesenlah dia tapi kok yang datang malah panas, siang-siang minum yang panas. Ntapps! Tapi katanya dari sana dia suka wedang ronde. Bang Ical juga sudah menceritakan pengalaman kopdaran ini di blognya, dari sana kalian juga bisa tahu cerita lainnya.

Di sela obrolan Bang Ical menyarankan untuk aku menerbitkan buku secara indie, ginilah Audhina, keinginannya pengin punya buku tapi nulis enggak dilanjutin. Doakan saja supaya secepatnya punya buku, syukur-syukur terbit mayor. Ngoahaha mimpinya ketinggian.

Setelah ketiga mangkok wedang ronde itu habis. Kita langsung berfoto-foto, karena pengin juga untuk foto bertiga, Bang Ical nyari-nyari orang yang bisa bantu fotoin kita. Dan akhirnya ada seorang mas-mas pakai kacamata yang lagi menyusuri jalan sendirian, dia bersedia ngebantu kita. Hehehe

Bang Ical, Aku, Bang Alung

Lalu kami pulang. Jadi awalnya aku mau pulang naik Trans Jogja, eh ternyata haltenya sudah tutup pukul setengah delapan tadi, akhirnya aku naik gojek.hhhhhh

Aku beruntung akhirnya bisa bertemu Bang Ical dan Bang Alung di Kota Jogja pula seperti menemukan Paman baru :D, terimakasih waktu yang sangat berharganya semoga bisa berjumpa lagiiiiii.

 🙂 Cerita ini enggak runut sama sekali, see you next post readers 🙂

kalau yang lain mah, bila kepalanya diusap berantakanlah hatinya, kalau ini berantaknlah kerudungku. XD…Sampai Jumpa lagi Paman 🙂

 

Sebuah Rumah Pohon Impian

tree-house-google-old-lyme-11

Kelak nanti kita menikah.

Aku ingin punya rumah dengan halaman yang meski kecil, di sana ada pohon yang cukup besar dan kuat, yang bisa mendirikan rumah pohon di sana.

Biar kamu yang membangunnya, dan aku yang mengecatnya.

Mungkin ini sangat curang, tapi aku tidak pandai dalam urusan membentuk sebuah bangunan, bisa-bisa tidak kokoh nantinya.

Kita tidak akan mengganggu sarang burung pipit yang sedang bahagia itu, kita cuma akan memindahkan ke ranting yang ada di atap rumah pohon kita.

Aku akan di sana bila aku sedang sedih, kemudian menangis. Kemudian kamu datang dan aku menangis di pelukanmu, setelah semuanya mereda, kita akan sebentar diam dan minum teh di sana, lalu turun setelah semuanya terlihat sudah membaik.

Aku akan menghampirimu saat kamu juga di sana, kecuali mungkin ketika kita sedang bertengkar, dan kamu yang memenangkan tempat itu terlebih dahulu.

Dan ketika mungkin kita sudah tak lagi mampu bersikap kekanakan lagi. Rumah itu akan menjadi ramai oleh anak kita beserta teman-temannya.

Mungkin beberapa kali kita akan kerepotan memperbaiki kerusakan di sana sini, tapi semoga pohon itu kuat untuk menopangnya.

Begitu saja juga aku bahagia.

 

Catatan saat menulis di atap kamar kos dan melihat pohon dan burung pipit di atasnya.

Daw|Jogja, 22.7.17

Kamu Di mana?

DSC05800

“Audhina kamu di mana?”

“Aku di Jogja.”

“Ngapain jauh-jauh amat ke sana?”

“Mau kabur, aja.”

“Kenapa?”

“Mmmm, ya kabur gitu aja.”

***

Holla readers? Kangen nggak sama aku? he he he he #ketawagaring.

Yak seperti yang kalian sudah baca, aku lagi kabur nih ke Jogja. Dan ternyata kabur bukan alasan yang tepat buat meninggalkan masalah.

Aku bagai mayat yang berjalan-jalan di sini, meski begitu aku akan coba menuliskan perjalananku selama di Jogja ini. Kota yang katanya penuh rindu dan pulang.

Tentu saja banyak yang kangen aku, kan?

Maksudku, gini….

Sudah sepuluh tahun lebih aku enggak pulang ke Jogja, eh….enggak ding, lebih tepatnya ke Desa Kandangan. Ternyata banyak yang kangen sama Audhina Novia SIlfi. Kalau kalian kangen sama aku enggak?

Ya pokoknya aku yang kangen kalian, aku sudah susah sekali bisa nimbrung ngobrol sama kalian terutama di grup WA (Obrolin Santai maupun Serius).

Audhina lagi kehilangan arah. 🙂

See you next post.

Dia Cuma Lelah

boy-2205733_1920

pixabay.com|coyot |Juraj Varga

 

Aku mengenal seorang sebatang kara
Seperti bunga tulip di antara ketiadaan makna
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit menjadi buronan rasa bersalah dunia
Apa betul “bahasa alam,bahasa ibu, mereka sama?”

Dia berjalan jauh dan terus berjalan, juga tidak peduli sesak di dadanya
Aku rasa dia bukan sebatang kara yang tidak kukenal
Dia punya banyak kawan yang jadi adiknya
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit merindukan ibu sepanjang hidup

Suatu ketika dia berhenti berjalan, dan bergumam-gumam

“Aku bukan orang salah, cuma kalian yang begitu merasa bersalah, di ketiadaan ini
siapa yang mengalah?, bukan aku dan bukan juga adik-adikku, tidak masalah begitu lama aku hidup tanpa ibu
asal kalian tahu aku mengenal ibu lain yaitu iba, Segenggam iba yang begitu menguliti ketiadaanku ini.
Cuma kalian yang sering salah mengerti, aku cuma mau hidup biasa, kalian anggap saja aku punya ibu
dan juga seorang ayah yang masih hidup. Aku cuma begitu lelah, itu saja.”

Anggap saja dia begitu bahagia
Anggap saja dia begitu damai
Biarkan saja dia terus berjalan
Biarkan saja dia tetap berjalan

Sukabumi|Daw|25.05.17

Tidak Boleh Cengeng

watercolor-1020509_1920

Tema hari ke tujuh, 17 Maret 2017

Yosh! Tantangan Menulisnya selesai. Terimakasih kalian yang 7 hari ini mau-maunya baca tulisan-tulisan singkat di blog ini padahal enggak bermutu banget. Setelah ini, doakan Audhina biar tetap posting di blog ini ya.

Nah inilah tulisan untuk hari terakhir Tantangan Menulis @KampusFiksi.

Mengapa sampai detik ini kamu masih bertahan hidup?

 

Aku juga enggak tahu kenapa aku masih bertahan hidup, maunya menyerah sebenarnya, tapi selalu ingat, bahwa mati belum tentu menyenangkan kalau serba kurang amalnya, kan ngeri. Bisa juga kan aku bunuh diri? tapi itu tindakan bodoh.

Kebaikan Takdir Allah

Aku masih bertahan hidup sampai saat ini karena Allah masih ngasih aku umur, jawaban mainstream banget ya.

2015 Ayah meninggal, dan sekarang 2017, aku sudah 2 Tahun bertahan hidup tanpa ayah. Sampai sekarang selalu khawatir juga, apa ayah baik-baik saja di sana?

Meninggalnya seseorang yang dicintai juga jadi alasanku untuk bertahan hidup. Kalau aku juga mati, nanti berkurang orang yang mendoakan Ayah. Karena aku selalu ingat,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Makannya sampai sekarang aku masih bertahan hidup, karena aku yakin, aku ada karena aku bermanfaat . hahaha. Kalian ngerasa aku bermanfaat nggak?

Ingin ber-Husnul Khatimah

Aku lagi baca buku karya Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Buku ini berjudul Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia, kebetulan isi bukunya nyambung nih sama tema ini, aku mau menuliskan salah satu paragraf Halaman 69

Barangkali kita belum terlalu berharap bahwa kebanyakan orang akan memproses dirinya sampai pada konsentrasi batiniah terdalam, di mana mereka menyadari bahwa pada hakekatnya kita semua ini tidak ada dan semata-mata hanya ‘di-ada-kan’ oleh-Nya. Sehingga pada konsentrasi yang demikian kita melebur dan lenyap, sampai akhirnya yang benar-benar ada, yang sejati ada, hanya Allah. Dan pada saat itu Allah adalah ‘Aku’, karena ‘aku’ yang makhluk ini sudah lenyap sirna bagaikan Laron yang terbakar oleh dahsyatnya sinar matahari.

Halaman 70

Puncak ilmu orang hidup adalah mengenai maut. Yang paling masuk akal bagi segala perjalanan ilmu adalah kesadaran bahwa sewaktu-waktu akan mati.

Kalau masih dikasih kesempatan buat hidup enggak ada salahnya terus bertahan hidup, kan?

Tentang mati dalam keadaan husnul khatimah ini tentu tidak ada yang menjaminnya, kan?. Jalani apa yang ada dan senantiasa ingat

Bahwa jisim (badan manusia) tidak hidup abadi-Emha Ainun Nadjib

Sehingga membuat kita senantiasa berbuat baik di hadapan Allah.

Sekian tulisan dari tema terakhir ini, terimakasih untuk @KampusFiksi yang selalu bisa memompa semangat menulis kita-kita semua. Terimakasih semuanya. Jangan kangen sama aku. Silakan mampir ke blog ini kalau mau aja. see you next post.

Membangun Istanah di Langit

beach-832346_1920

Tema hari ke enam, 16 Maret 2017:

“Tulis dan jelaskan sesuatu/seseorang yang kamu pernah atau bahkan sedang merasa sangat kehilangannya.”

 

Blog ini sudah lumayan penuh dengan cerita seorang anak perempuan yang ditinggal ayahnya meninggal atau seorang cucu yang ditinggal kakeknya meninggal, jadi mungkin kali ini akan aku ceritakan kejadian kehilangan yang lain saja.

Akan kuceritakan kisah seseorang yang ditinggal nikah sahabatnya. Sebulan sebelum dia mengajukan permohonan resignnya, aku sudah kalang kabut hatinya, padahal dia masih janji ada sampai sebulan ke depan, rasa-rasanya akan sangat berbeda bila dia tidak ada nanti. Dia akhirnya memilih menerima lamaran laki-laki yang pertama datang ke rumah, tapi sedikit di hati kecilnya dia ingin juga menerima lamaran laki-laki kedua yang datang ke rumah.

Dia ini sosok wanita cantik yang baik hati, tidak sombong, agak boros, dan susah diet.

Dia resign dan aku hampa, kita semua hampa tanpa ada dia di sini, sisa tiga bulan lagi, dia sibuk  mempersiapkan hari pernikahannya, dia masih suka datang mengunjungi kami.

Seharusnya aku ikut bahagia, kan? Iya aku bahagia sungguhan karena dia akhirnya menikah dengan laki-laki yang akhirnya bisa dia sayangi sebulan sebelum menikah, iya dia belum move on dari mantannya yang datang terlambat ke rumah.

Pernikahannya berjalan lancar, dia resmi menjadi seorang istri untuk suaminya. Tapi aku kenapa jadi sedih. Seolah dia akan pergi jauh sekali. Dan memang benar seminggu setelah pernikahannya, dia diculik suaminya untuk tinggal selamanya di kota lain untuk membangun istanah di langit, dan pada akhirnya mereka memiliki anak laki-laki yang tampan.

Komunikasi kami dengannya perlahan-lahan mulai hilang. Dia sekarang seorang wanita yang utuh, dia menikah dan memiliki anak.

Jarak dan waktu selalu saja menang memisahkan sesama manusia, pada akhirnya salah satu kalah dan yang lainnya bahagia duluan. Cuma soal waktu saja yang kalah bisa juga menyusul bahagia, juga membangun istanah di langit.

Waktu juga mendukung untuk melupakan kesedihan, jadi waktu tidak melulu sebagai musuh. Orang-orang datang dan pergi seiring perputaran Bumi terhadap Matahari, meninggalkan kenangan yang melekat ataupun kenangan yang mudah dilupa. Tidak ada yang jadi sia-sia di kehidupan ini.

Salam buatmu Teh Riska, Suami, dan Anak Laki-laki tampanmu, kami kangen kamu. Kapan ke Sukabumi?

Yang Menunggu Terlalu Lama

 

15035039_586997858157469_5082677036959399936_n

Tema hari ke lima, 15 Maret 2017

“Ambil sebuah buku terdekatmu. Carilah sebuah paragraf di dalam buku tersebut yang sangat ingin kamu tuliskan dan kenapa kamu memilih paragraf tersebut.”

 

Aku selalu menulis di kamar, ada lumayan banyak buku di belakang tempat aku menulis, tema ini mudah, aku tinggal ambil buku yang paling aku suka di antara semua buku di rak itu.

Yak! Aku mengambil buku favoritku. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, buku ini adalah kumpulan cerpen karya Norman Erikson Pasaribuan. Aku mau sedikit melenceng dari tema, aku tahu Norman dari cerpennya yang dimuat di Koran Kompas Minggu, 8 Februari 2015 berjudul “CERITANYA” aku jatuh cinta dengan cerpen itu, dan nyari tahu tentang Norman, ternyata dia punya buku juga.

Akhirnya pada tanggal 02 September 2015, pukul 12, menit ke 01, detik ke 25, penjaga kasirnya namanya Mbak Raina.

Iya jauh banget waktunya, aku secara kebetulan nemu buku ini, dan sangat bersyukur nemuin buku ini.

Di halaman 15-16

Satu Paragraf paling favorit dari buku ini

Kalimat itu tidak sopan. Aku bisa saja melapor kepada atasannya. Anda punya pelayan yang bodoh, aku akan berkata, dia menyilakan aku untuk menunggu seumur hidup. Apakah Anda pernah mendengar tentang penantian seumur hidup? Sudah? Anda tahu itu apa? Sangat jelas? Hanya tentang “penantian” dan “seumur hidup”? Anda keliru. Menunggu adalah soal kamu tiba tepat waktu dan pasanganmu terlambat, atau kamu datang terlambat dan dia lebih terlambat, atau kamu terlalu cepat dan dia tepat waktu, atau kamu terlalu cepat dan dia terlambat. Tetapi, apakah Anda tahu apa itu “hidup”? Tahu? Apa? Tolong sebutkan… Kenapa Anda diam? Hidup adalah… adalah… Saya pun tak tahu! Tak ada yang tahu! Ini artinya “penantian seumur hidup” secara parsial tak berarti apa-apa, dan karena itu seluruhnya tak berarti apa-apa. Sebab adalah aneh mengatakan sesuatu memiliki arti ketika sebagian darinya tidak terdefinisi. Sehingga sebaiknya Anda tidak menunggu seseorang seumur hidup, sebab adalah bodoh melakukan sesuatu yang tak Anda pahami maknanya. Seperti menunggu seseorang yang tak terihat, kata Anda? Tidak. Tidak. Itu dua hal yang berbeda, Anda tahu, sebab yang tak terlihat belum tentu tak ada. Dan yang ada boleh ditunggu, jika kita mau.

Saya sendiri akan menunggu tidak seumur hidup, kalau bisa

Menunggu itu urusan pelik. Menunggu dalam waktu sedikit saja sudah buat sesak dada, apalagi dalam waktu yang lama, seumur hidup misalnya seperti yang dibahas dalam paragraf ini.

Di tahun 2015, paragraf ini merupakan penghiburan buatku yang rasa-rasanya sedang butuh dinasihati untuk tidak menunggu lagi.

Saya sendiri akan menunggu tidak seumur hidup, kalau bisa

Kasusnya terlalu gampang, Cuma cinta diam-diam yang menunggu tiada habisnya padahal bertepuk sebelah tangan dan yang ditunggu sebenarnya tidak ada, sebuah hal yang tidak bisa ditunggui.

Sebuah buku yang menyadarkan, betapa tidak baiknya lama-lama menunggu, lagi pula seperti tidak ada yang bisa ditunggu yang lain saja. Atau memilih menjadi yang ditunggu saja. Aku suka paragraf ini, terimakasih Norman.

Cinta memang tidak pernah tepat waktu.

Jadi apa kalian juga suka paragraf ini?