Di Dekapan Lupa-Luka (Cerpen)

Di Dekapan Lupa-Luka

Oleh : Audhinadaw

Mungkin ini sudah pagi, saya lupa ternyata tiga hari berlalu begitu saja, tirai-tirai rumah ini rapat-rapat menutup semua celah masuk cahaya. Pagi ini terasa bau aspal menyengat menusuk-nusuk hidung, suara-suara riuh terdengar membisingkan. Alat-alat perbaikan jalan itu begitu membuat saya kesal. Suara umpatan kasar dari mulut-mulut pekerja itu sangat bau seperti rokok dan kopi yang menyatu, tapi kombinasi kali ini tidak menghangatkan sama sekali. Ah sial… sepertinya saya benar-benar harus keluar rumah, mencari tempat yang tidak berisik. Perkiraannya perbaikan jalan itu memakan waktu seminggu. Saya jadi sedikit ingat kejadian itu, yang meninggalkan banyak lubang di jalanan itu. Rasanya baru kemarin melihatnya, namun saya sudah terlanjur lupa, kalau diingat malah membuat kepala saya pening dan perut rasanya mual dan ingin muntah.

Saya lapar, tiga hari kemarin mi instan memenuhi lambung, hari ini mungkin harus makan nasi. Suara di luar sana tambah bising saja, kendaraan-kendaraan jadi antri lewat jalanan itu. Bau bensin yang jadi asap di udara itu menambah pusing hidung ini saja. Baiklah kelihatannya saya harus masak makanan yang baunya enak untuk hidung saya.

Bangun dari kasur ini seolah membenarkan bahwa kali ini saya pantas hidup. Sepertinya saya masih sehat dan baik-baik saja, dapur itu bersih, hanya area wastafel saja yang begitu kotor, bekas panci dan mangkuk dengan bekas saus dan minyak yang memenuhi seluruh permukaannya. Sepertinya kebutuhan tenggorokan lebih mendesak, haus meradang ke otak menyalakan sumbu di mata. 20 menit begitu lama berkutat di dapur, nasi dan sayur bayam saja yang tersedia di kedua mangkuk di atas meja itu. Bawang putih dan bawang merah masing-masing satu siung yang tadi saya uleg seolah menjadi makhluk berukuran nano meter dalam sop bayam itu.

Mengapa tidak dibuat begitu sederhana saja hidup ini, setengah mati mengejar yang tak pasti sampai waktu habis dan lupa menikmati, sungguh menyedihkan sekali saya ini. Nasi, Bayam, dan Airnya bikin saya melek. Cuma lima menit tanpa bengong, semuanya tandas masuk ke dalam perut. Habis itu rumah saya jadikan rapih, baru kemudian tubuh saya sendiri yang saya jadikan bersih dan rapih. Ketika kancing terakhir paling bawah kemeja ini masuk ke lubangnya, terdengar suara pintu rumah saya diketuk begitu memburu.

“Permisi…Kak…Permisi !”

“Kak, ada di dalam kan?”

“Ini Raka !”

Pintu itu saya buka, kemudian anak laki-laki bertubuh tinggi itu menatap saya sejenak dengan mata berwarna coklatnya.

“Hahahaha.” Dia terkekeh, seolah mendapati hiburan yang pantas bikin ketawa.

“Kenapa kamu ketawa?”

Dia tidak menjawab langsung beringsut masuk ke dalam rumah. Katanya “Ini ada makanan dari Ibu, katanya khawatir sama Kakak, tiga hari tidak keluar rumah kayak orang depresi.”

 “Oh…” Saya menerima rantang penuh masakan Ibu.

“Gitu aja tanggapan kakak?” Raka menatap heran mensejajari mata saya, tubuhnya sudah sepantar dengan saya.

“Iya nanti dimakan, bilangin makasih ke Ibu ya, kamu enggak sekolah?”

Raka menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang di ruang tamu, lalu menjelaskan, hari ini sedang libur sekolah, saya tidak tahu libur kenapa, lalu Raka bilang Ibu khawatir tentang saya yang harus jadi saksi kejadian beberapa hari yang lalu itu, takutnya saya trauma.

“Enggak tuh, Kakak enggak trauma.”

“Ya terserahlah, yang penting Raka sudah sampaikan omongan Ibu ya. Raka juga disuruh nginep di sini, kata Ibu suruh nemenin, Kakak.”

“Hmmm…”

Mata coklat itu terbuka-tertutup beberapa kali menunggu jawaban ataupun kepastian dari saya

“Hari ini Kakak ada urusan keluar, mau ikut?”

“Enggak mau ah, aku di sini saja, pulangnya kapan?”

“Nanti malam.”

“Bagus kalau gitu, aku bisa main game sama baca komik-komik kakak, kan. Boleh, kan?”

Saya mendengus, ada-ada saya anak ini, tidak ada selain mengangguk untuk jawabannya.

***

Perut saya penuh sekali, masakan ibu saya paksakan memasuki sisa rongga di lambung. Hari ini saya memutuskan untuk datang menemuinya, sebab mimpi tadi malam ada dia yang limbung sepanjang malam merangkai cerita sedih dan suram. Wanita itu saya harap sekarang sedang baik-baik saja. Keadaan di luar rumah begitu riuh sekali sama seperti bau-baunya yang juga riuh. Buru-burulah saya memasuki mobil dan pergi ke tujuan yang tubuh dan hati saya inginkan. Beberapa orang sekitar rumah menengoki mobil saya. Dan saya putuskan menyapa mereka.

“Bu?” kemudian saya tersenyum

“Eh Mas Angga, kabar baik, kan?”

“Baik kok Bu. Mari Bu.”

“Mari…”

Masing-masing dari kita saling tersenyum, ya hanya begitu saja kalimatnya sampai tiga orang yang lainnya.

Saya begitu merasa bersalah, pura-pura lupanya saya ini malah bersembunyi dan benar-benar jadi pecundang. Seolah saya baru sadar bahwa hilang dari tiga hari itu sudah bikin semuanya semakin berkelindan. Benang-benang kemungkinan itu seolah jadi simpul-simpul mati yang susah diurainya. Tiga hari kemarin itu saya hanya mengelak saja, membereskan diri saya dulu, kalau tidak begitu bisa semakin banyak permasalahan di depan nanti. Serba salah memang, semoga orangtua dan adik-adik saya berhenti mencemaskan saya mulai hari ini.

Tiba-tiba muncullah pertanyaan bahaya di awang-awang, apa mungkin saya rindu dia, atau dia, atau dia?. Begitu saja sadar betapa berengseknya saya di hadapan ketiga wanita itu. Yang satu mengajari saya mengarsir dengan benar, sampai marah-marah karena malah membuat gerakan pensil horizontal kemudian vertikal sehingga arsirannya begitu berantakan. Yang kedua bisa juga kusebut yang satu juga, dia punya gigi kelinci dan jago membuat masakan berbahan wortel terutamanya. Saya jadi benci wortel karena terlalu sering makan bersamanya. Yang ketiga bisa juga saya sebut yang satu juga, dia satu-satunya yang mengharapkan saya mati atau hilang sama sekali dari Bumi tanpa mati atau kejadian apapun, yang penting saya hilang.

Kali ini saya menemui wanita yang ketiga itu, yang meringkuk nyenyak di lantai dinginnya karena selalu kegerahan. Kata Raka sebelum saya pergi, wanita itu sudah jauh membaik, dan Raka kembali pura-pura acuh dengan semua hal yang berkaitan dengan saya. Dia tahu semua tentang saya, tapi bungkam saja, pura-pura memperlakukan saya normal-normal saja.

Saya telah sampai di bangunan bercat kuning gading itu, terakhir ke sini sebulan yang lalu, cat lamanya berwarna putih. Aromanya tetap sama, angin menggiring aroma daun cemara dan buah pinus serta bau cat itu ke dalam tubuh saya. Satpam bangunan itu kenal saya, dan dia menanyai kabar. Di lutut kanannya ada bekas putih seperti kapur, mungkin baru saja dia bersimpuh mengambil sesuatu di lantai kotor. Dari mulutnya menguar bau kopi yang khas, mungkin kopi instan warung.

“Mas Angga kenapa baru ke sini?”

“Hehe… sedang sedikit sibuk, Pak.”

“Mbak Intan lagi dijemur di lapangan sayap kanan, Pak.”

“Makasih ya, Pak.”

“Sama-sama, Mas.”

Saya lekas ke sana, hati saya biasa-biasa saja, tidak ada ketakutan akan amukannya lagi. Sepuluh meter dari tempat didudukkannya Intan, saya berhenti sejenak, menatapnya yang terpejam karena ngantuk dan keenakan karena hangat sinar matahari pagi. Wajahnya kecil, bulu matanya panjang dan lentik. Tak jauh dari sana, saya kenal wanita yang kira-kira kepala empat yang menunggui Intan. Dia Bu Diah salah satu perawat di sini. Saya mulai mendekat. Bu Diah hampir saja menyuarakan nama saya, tapi tidak jadi karena saya beri isyarat untuk berdiam, pelan-pelan Bu Diah pergi dan saya menunggui Intan yang masih tertidur di kursinya. Wanita ini benar-benar membuat saya gila, kapan saya mulai sayang padanya? Saya tidak tahu.

Saya ke sini karena kangen dia. Dan ingin melupakan wanita penyuka wortel yang ikut mati di jalanan depan rumah tiga hari yang lalu itu. Tentang wanita yang sukanya marah-marah itu, sepertinya sudah lama saya tidak lagi menginginkannya. Kemudian tiba-tiba Intan bersuara

“Bu Diah…mataharinya sudah tidak hangat lagi, boleh Intan masuk saja?” masih dengan mata terpejam dia bertanya.

“Bu Diah…” tidak kunjung dapat jawaban, Dia pun membuka matanya, dan tepat sekali tubuh saya yang pertama dia tangkap.

“Kamu?”

Kita saling berpandangan, dia gegas berdiri

“Sejak kapan? Bu Diah mana?” Dia agak panik

“Kenapa kamu belum mati juga?”

Wangi tubuhnya kombinasi harum rumah sakit jiwa dan matahari pagi, saya memeluknya dan dia terus saja meronta sambil menangis sampai lelah melawan, dan pasrah saja saya peluk. Dia tertidur, lalu saya bopong tubuh itu kembali ke kamarnya.

Terus-terusan saya berusaha meyakinkan bahwa saya memang menyayanginya, tapi mungkin saja salah, atau malah justru dia hanya pelampiasan saja, atau hanya kangen saja. Selalu saja saya berharap dia lekas sembuh dan saya janji tidak akan lagi meninggalkannya.

                                                                                    -Selesai-      

Yang Memintamu Menjadi Kopi (Cerpen)

 

Yang Memintamu Menjadi Kopi

Oleh : Audhindaw

coffee-bean-1497510_1280

Tiba-tiba kau tertawa sendiri di tengah-tengah kesunyian taman itu, karena menyadari bahwa ada seseorang yang ngomel karena di dalam cerpenmu ada kata “seperlima detik”

“Apa yang salah dengan itu?” kau semakin cekikikan setelah mendengarnya menjelaskan, bahwa detik itu tidak ada seperlimanya.

“Kalau aku tuliskan, sepermili detik, bagaimana?” lantas terkekeh lagi, kau seolah sedang berdebat dengan pohon.

Di taman itu kau hanya sendirian, padahal ada bangku, ada patung kingkong dan rumput di sana, tapi itu benda mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa kau memang sedang sendirian, kau sebenarnya ke taman karena ingin tidur, tapi perempuan itu malah mengganggumu, jadi setelah dia mengomel, kau hanya bisa bertanya hal-hal yang tidak perlu, karena sudah pasti dia bilang iya. Namun mendengar perempuan itu mengomel, kau berpikir bahwa dia sedang kelaparan, dan memilih sarapan kangen denganmu.

“Sudah makan?”

Dan benar saja dia belum makan, kau nyengir karena tahu betul perempuan itu hanya kangen denganmu

“Yasudah makan dulu, hari ini aku ingin tidur banyak, besok aku hubungi lagi.”

“Ya, sampai jumpa.”

Kalau saja patung kingkong disamping ayunan itu dapat dihidupkan mungkin saja kau sudah duduk di punggungnya lari ke hutan dan tidur di sana, dan mungkin mati diterkam harimau.

***

Pagi itu seharusnya kau diarak ke perpustakaan oleh dirimu sendiri, tapi acara arak-arakan itu batal sebab kau malas. Kali ini kau sendiri yang kesal, dan baru menyadari bahwa kekesalan perempuan itu kepadamu ternyata tidak enak disimpan lama-lama.

Kau melemparkan buku kumpulan cerpen itu setelah membaca satu cerpen yang endingnya benar-benar membuatmu dongkol, benar-benar ingin marah sendiri karena cerita menggantung begitu benar-benar membuatmu gemas sendiri. Kau melirik sekitarmu, di ruangan 4 x 6 m, kamar kosanmu  sunyi, hanya pikiranmu yang mendadak riuh karena pertanyaan, mengapa si penulis bikin cerpen menggantung begitu, bagaimana nasib si A, bagaimana si B bisa begitu, bagaimana lanjutan C dan D, dan seterusnya. Kau bangkit dari kasurmu, iseng mencium ketiakmu sendiri.

“Astaga!” ternyata baunya asam sekali, kau melirik jam dinding, masih lama sampai liburan ini akan berakhir tepat tengah malam nanti.

Malas-malasan kau menikmati sisa libur kerjamu ini, rasanya hambar sekali menulis cerpen baru  sepanjang satu halaman, dan sudah kering ide. Kau kesal, memilih makan mie instan dua bungkus dan tambah lagi buat satu bungkus ketika tahu bahwa kau lupa makan kemarin, menganggap bahwa itu adalah hutang mie kepada perutmu.

Seharusnya, cabai rawit di mie instan itu kau tambah sampai meledakkan isi perutmu, tapi urung, karena tidak mau besok kerja tapi bolak-balik ke WC karena diare.

Kau masih kepikiran dengan cerpen menyebalkan itu, endingnya membuatmu ingin pergi menemui penulisnya, lalu menamparnya. Tapi mengingat kau juga tidak pandai buat cerpen, kau mengurungkan niatmu. Dihadapan televisi kau melamun setelah selesai makan mie instan pedas itu. Ingat betul harus menghubungi perempuan itu. Bisa-bisa dia mengomel lagi.

“iya aku sudah bangun.”

“iya sudah sangat kenyang, yasudah selamat bekerja.”

Ternyata perempuanmu sedang sibuk bekerja, dan itu malah mengingatkanmu pada bau ketiakmu yang kau hirup sebelum makan mie instan, akhirnya kau mandi juga, kali ini lebih awal dari biasanya.

Setelah mandi, rencananya kau akan menyelesaikan cerpen yang baru satu halaman tadi ditemani buah dari keluarga Caricaceae dan minum dari umbi keluarga Zingiberaceae.

Bekerja sebagai ahli botani rasanya salah, dan memang bukan pekerjaanmu, pekerjaanmu hanya membersihkan tempat penelitian. Seharusnya hidupmu sudah rapih, sebab kau tak pernah terlalu masalah bila kamarmu kotor, meski tahu dari selingkungan kerjamu orang berotak cerdas semua, bahwa seharusnya kau membersihkan kamarmu juga, dan menyelesaikan cerpen-cerpenmu.

***

Sebenarnya menulis—bagimu adalah kesia-siaan yang tak mungkin berujung bahagia, kau hanya terus-terusan menyugesti bahwa menulis lebih baik dari pada menjadi babu di laboratorium botani, berharap sukses dari menulis, sedangkan dikritik sedikit saja kau sudah ogah-ogahan, dan sesak napas enggan menulis selama beberapa minggu ke depan. Cuma perempuan itu yang terus-terusan memberikanmu bahan bacaan agar kau segera melecutkan ide-ide ke dalam tulisan-tulisan setengah jadi.

Tapi apa lacur, kau memang sedang kehilangan semangat menulismu karena kritikan pedas yang kau terima terhadap tulisan terakhirmu itu, sebab itulah kau selalu menulis tulisan yang selalu setengah jadi.

***

Hari ini kau gajian, kau pulang ke rumah. Sepertinya kau rindu rumah, rindu ibumu terutama. Sampai dirumah kau langsung bercerita

Bu, ada yang memintaku untuk menjadi Kopi.

Katanya kalau aku jadi Kopi, mungkin aku bisa jadi seniman

Konon seniman tidak pernah tidur, Bu

“yang tidak pernah tidur itu Tuhan, bukan seniman!” ekspresi ibumu serba bingung

Ibumu mengeleng-geleng, lama tidak pulang, anaknya semakin aneh saja keinginanya, pikir ibumu begitu. Sesudah itu, Ibumu bertanya, siapa yang memintamu menjadi kopi.

“Perempuanku yang memintanya, Bu.” Kau menjawab penuh keraguan. Sebenarnya memang betul, perempuan itu memintamu menjadi Kopi. Katanya kopi itu dekat dengan menjadi penulis, kesimpulan sesungguhnya dia ingin kau menjadi penulis sesegera mungkin, lalu sukses jadi penulis, dan kaya dari menulis, dan melamarnya, dan menikahinya, kemudian hidup bahagia.

Ibumu menggeleng-geleng. Katanya, jangan terlalu berharap banyak dari menulis, suksesnya akan lama. Jadi sekarang Ibuku memintaku menjadi pegawai negeri, biar gajiannya pasti. Kau terkekeh, sama susahnya, dari babu ke pegawai negeri maupun dari babu ke penulis.

Jadi akhirnya Kau tetap menunaikan keinginan perempuanmu, dia yang memintamu menjadi Kopi.

-Selesai-

Aroma Apel (Cerpen)

Cerpen ini adalah cerpen yang saya tulis selama satu jam, saat sesi tantangan menulis Kampus Fiksi Roadshow di Jakarta, 06 November 2016 :). Maklumi saja kalau banyak kekurangan.hehehe. Selamat Membaca 🙂

Aroma Apel

Oleh : Audhinadaw

horizontal-1155878_1920.jpg

KITA adalah orang terakhir yang berada di ruangan berukuran 10×10 m ini. Aroma apel menyeruak di seluruh ruangan. Kau masih saja kebingungan dengan dua tong apel kualitas satu dan apel kualitas dua, sedangkan saat ini tutup tong tersebut sudah tidak bisa lagi kau buka. Bos sudah membentakmu berkali-kali, menyeramahimu tentang biaya yang bisa hilang apabila kau membuka tutup tong itu untuk memastikan mana apel kualitas satu dan apel kualitas dua.

Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian kebingungan. Sebab, akulah yang menyebabkanmu mungkin jadi membuat kesalahan itu, Kau terus saja melayani celotehanku, yang seharusnya tidak perlu kau jawab. Kau sudah menggugurkan bermili air keringat. Bos masih saja tidak terima. Sedari tadi aku sebenarnya ingin bilang, aku akan menanggung kesalahan itu bersamamu, namun belum juga ada kesempatan, Bos semakin memerah wajahnya, suasana ruangan itu sudah tidak beraroma apel segar, apel busuk mulai membuatku muak, seolah ruangan itu juga protes ingin cepat selesaikan konflik itu. Kau menunduk semakin dalam, mengamati lantai yang basah, dan pasrah bila mungkin kau akan kehilangan pekerjaan ini. Bos akhirnya mengalah dengan keadaan ini, menyuruh kau agar segera membuka tong apel itu, dan segera memastikan mana yang kualitas satu dan kualitas dua. Bos keluar, masih dengan wajah merah, hidung yang mengembang, dan aroma keringatnya adalah aroma keringat kemarahan, mengalahkan aroma apel.

Aku akhirnya tidak menyuarakan apa yang seharusnya menjadi pembelaan untukmu, kutelan ludah dan menatap wajahmu yang masih menunduk.

“Aku minta maaf.”kuucapkan kalimat itu penuh keraguan

Kau masih menundukkan wajah, aku khawatir, bisa saja akhirnya kau meledakkan emosi. Namun ternyata Kau menghembuskan napas disertai suara keras, lantas Kau malah tersenyum menatapku dan bicara

“Tenang saja, ini bukan salahmu.”ucapnya meyakinkan disertai ekspresi normal.

“Ayolah jangan dipikirkan, bisa bantu aku? Aku harus segera memastikan isi tong ini.”

Aku mengangguk segera membantunya membuka tong itu.

***

KITA akhirnya mengetahuinya, ternyata dugaanmu benar, meskipun pada awalnya dengan perkiraan saja, kau bisa tepat memahami isi tong itu tanpa membuka tong itu. Tapi prosedur harus berjalan dengan biasanya. Kita selesai menghantarkan tong apel kualitas satu kebagian pengiriman, segera mungkin agar tidak telat sampai tujuan.

Masalah itu segera terlupakan, meski akhirnya tetap saja kau ingat dan masih takut apabila dipecat dari pekerjaan ini. Diperjalanan antara menuju ruangan penuh apel jalanan ini berbentuk lorong panjang. Lorong itu mengizinkan kau untuk berjalan perlahan, dan kau malah bercerita tentang dirimu. Aku dengan senang hati mendengarkan apa saja ceritamu, asal nanti kau tersenyum.

Kau senang dengan pekerjaanmu saat ini, bahkan mencintai pekerjaan ini, penyebabnya adalah aroma apel yang kau cintai ini mengikatmu, tak membiarkan kau untuk pergi. Kau sangat senang menceritakan tentang aroma apel, aroma apel yang katamu menyelamatkanmu dari penyakit sakit kepalamu itu, sakit kepala yang selalu datang setiap dua minggu sekali. Ketika itu kau sudah mencoba berbagai obat kimia, dan belum juga sembuh. Sakit kepala itu datang lagi setiap dua minggu sekali. Sampai pada suatu hari kau menemukan seorang gadis beraroma apel yang membuatmu sembuh dari sakit kepala.

Kau sampai sekarang sebenarnya masih ragu dengan apa yang menyembuhkanmu dari sakit kepala. Gadis itu atau aroma tubuh gadis itu. Keyakinanmu adalah gadis itu beraroma apel yang menyembuhkanmu. Gadis itu tiba-tiba menghilang dari hidupmu, kau masih kebingungan mencarinya. Terakhir kali bertemu dengannya ketika kau mencari tahu mana kebun apel paling berkualitas di kota ini. Semua kebun di pulau ini kau datangi, dan gadis itu bukan berada di kebun apel yang berkualitas itu, gadis itu berada di kebun apel biasa.

Saat kau datang ke kebun itu, aroma apel di sana kalah dengan aroma tubuh gadis itu, wajah gadis itu merona seperti rona apel matang, dia memberimu sebuah apel, dan kau memakannya. Apel itu memang kalah dengan gadis itu. Bagaimana mungkin aroma apel itu diserap ke dalam tubuh gadis itu. Meski kau tidak membuat kebun gadis itu jadi penyetor apel pabrik Bos besarmu itu, kau rutin mengunjungi gadis itu. Dan sakit kepalamu jadi perlahan menghilang, meski tidak langsung hilang, aroma apel bagai terapi bagi sakitmu.

***

Aku senang menjadi pendengarmu, yang menjadi pengurang rasa kesalmu saat ini. Mendengarkan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Aromamu sekarang menjadi mirip aroma pengharapan. Kau bilang bahwa mencium aroma tubuhmu seperti aroma apel, padahal aroma yang kucium dari tubuhmu adalah aroma pengharapan, kesepian, dan rindu terhadap gadis itu. Aku bisa mencium aroma tubuh seseorang dan menjelaskan apa yang terjadi padanya hanya dari aroma tubuhnya.

Aku menanyakan tentang kemungkinan keberadaan gadis yang kau cintai itu. Kau buntu. Kau bilang, kau bersyukur bekerja di sini, aroma apel di sini seperti aroma gadis itu. Kau tersenyum dan bilang

“Semoga saja aku tidak dipecat supaya sakit kepalaku tetap sembuh” Kau mengatakan itu penuh pengharapan, kemudian tersenyum.

-Selesai-

 

Bunga yang Berkeringat (Cerpen)

rose-729509_1280

Bunga yang Berkeringat

Oleh : Audhinadaw

Demikianlah hari ini berakhir, kami menemui bunga itu berkeringat karena kelelahan. Dia berbau asam persis seperti ketiak manusia, lebih menjijikkan ketimbang bunga bangkai yang langka itu. Kata Big Bos, kita harus fokus pada pekerjaan kami, tapi malam ini dan kemungkinan sampai esok tiba, kami akan terheran-heran dengan bunga yang berkeringat itu.

***

Bunga itu berada di ruangan kerjaku, setiap minggu oleh seorang fresh graduation selalu saja kami akan menemui bunga berbeda di dekat jendela itu. Iseng kami silih berganti bertanya padanya, mengapa bisa tiap minggu bunga itu berbeda. Katanya “Aku tidak pernah mengganti bunga itu, dia berubah warna sendiri, dan berubah-ubah wanginya.” Jawabanya pun tidak pernah berubah, orang-orang berkerut kening, enggan berpikir khayal. Lantas kami bertanya padanya, mengapa dia selalu mengambil bunga itu tiap sabtu pagi, dan setelah itu berada di tempatnya lagi, bunga itu tak lagi sama. Katanya “Bunga itu pemalu, dia hanya perlu tempat sendiri sebentar saja untuk merubah diri.” penjelasannya diiringi dengan gesture yang meyakinkan kami, orang-orang tetap saja berkerut kening. Mengapa juga kami hilang fokus cuma karena bunga dan seorang fresh graduation yang belum kutahu namanya siapa.

Semakin hari kami mulai bosan membahas tentang bunga itu, dan banyak hipotesa yang kami ciptakan, salah satunya adalah seorang fresh graduation ini adalah penggila tanaman, dan mungkin saja punya kerabat yang memiliki toko tanaman. Setelah beberapa minggu berlalu, kami sudah lama tak melihatnya menyentuh bunga itu dan mengembalikan bunga itu dalam keadaan berbeda, bunga itu tetap pada bentuk dan wangi yang sama, asal keadaannya tidak merugikan, kami tetap tak masalah bila seorang fresh graduation itu penggila bunga.

Suatu ketika setelah dua bulan dengan pekerjaan yang selalu begitu saja tiap harinya, dan bunga itu mulai layu, aku kini penasaran bertanya padanya, mengapa sudah tidak mengurusi bunga itu, dan dia hanya menatapku kemudian menatap tumpukan tugas yang mulai dekat deadline, kemudian menatapku lagi, oke aku paham, dia sudah mulai tahu tugasnya di perusahaan ini, mulai tahu tekanan pekerjaannya, mulai tahu bagaimana seharusnya dia bekerja. Lalu aku meleos pergi, dan dia meminum kopi yang tinggal setengah cangkirnya itu.

Setiap dua minggu sekali divisi kami selalu mengadakan makan bersama, termasuk dengan pekerja baru, kata Big Boss hal ini dilakukan agar kualitas kerja kami dan kerja sama kami semakin baik. Ini sudah makan malam kelima bersama si pekerja baru itu, awal mulanya dia sangat amat semangat, tidak jauh berbeda saat ketika mengubah bunga itu.

Kini dia banyak murungnya, tentu saja bukan hanya aku yang perhatian, semua juga memberi penilaian kerjanya, meski semakin hari malah semakin murung tapi kerjanya tetap tuntas. Disaat kami selesai makan malam, dia terlihat pucat pasi, padahal dia melahap makanan paling banyak diantara semuanya. Sete;ah semua saling berpamitan untuk pergi, dia sempat berjalan namun kemudian jatuh pingsan, Semua panik dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit setelah bantuan minyak kayu putih tak membangunkannya. Hanya aku dan tiga orang saja yang membawanya ke rumah sakit, semua terlihat khawatir padanya. Dia masih belum sadar juga. Di UGD dia ditangani, dan aku mengambil ponsel di saku celananya, mencari tahu kerabat dekat di kontaknya. Kami berdiskusi mengelilingi aku yang memegang ponsel, aku menggeleng, kemudian mengalihkan ponsel itu ke yang lain. Yang lainnya pun sama saja, menggeleng dan terdiam.

“hanya ada kontak rekan kerja saja?”

“ah yang benar saja anak itu tak memiliki teman atau keluarga?”

Kami menggeleng

Kami memeriksa pesan, di sana ada satu nomor tak bernama, yang selalu mengiriminya ucapan selamat pagi dan tak pernah mendapat jawaban darinya. Aku meringis dan sumringah kembali. Bagaimana jika menghubungi nomor itu saja, semua menyetujui. Ternyata seorang perempuan di ujung percakapan sana, suaranya menguarkan bau mawar, aku sedikit tersedak karena baunya terlalu wangi. Aku menyuruhnya segera datang ke rumah sakit sebab kami tidak bisa lebih lama lagi menungguinya hingga siuman.

***

Malam itu kami pulang lima menit sebelum tengah malam, perempuan yang entah apa hubungannya dengan di pekerja baru itu ternyata perlu waktu lama untuk sampai ke rumah sakit, benar saja ketika dia datang, tubuhnya memang berbau mawar, membuat kami semua tersenyum kepadanya, dan membimbingnya keruangan UGD, dan memasrahkan si pekerja baru itu padanya. Kami sepenuhnya percaya, dan lupa betulan untuk menanyakan dia siapa untuk yang masih pingsan.

Ke esokan paginya, empat orang yang mengantar orang pingsan itu semua kesiangan, jangan tanya lagi, itu termasuk aku. Lari terbirit-birit memasuki kantor, dan lega betul Big Bos belum datang, tapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar, tugas sudah menumpuk, wajah-wajah cemberut karena kami terlambat segera membuat otak memacu lekas bergerak.

“Hai semua!” seruan itu datang mengagetkan

Itu suara si pekerja baru, kami terbengong menatapnya. Dia dalam keadaan baik. Sekilas tadi aku mendapati bunga itu kembali segar, meski tidak pada kondisi yang berbeda—pada bentuk dan bau yang sama. Kami silih berganti mendekatinya, bertanya keadaannya, dan mengapa malah masuk kerja. Dia hanya tersenyum, katanya sambil guyon, dia pingsan karena lupa makan sepanjang hari kemarin. Kami tertawa dan bersyukur, wajahnya sumringah. Tawa kami terhenti karena hentakan kaki Big Boss yang melangkah masuk. Semua kembali bekerja, mengejar target.

Aku sempat menangkap bau semerbak dari bunga itu, wanginya menggetarkan keseluruhanku. Si pekerja baru itu, beranjak berdiri mengambil air putih, kemudian kembali, lantas pergi lagi sambil memboyong bunga itu, setelah kembali lagi tak kutemui bunga itu lagi. Mungkinkah dia membuangnya?.

***

Jam istirahat kami telah tiba, seperti biasa. Aku memang berkelompok dengan tiga orang yang mengantar si pekerja baru itu ke rumah sakit. Di tempat sampah tak jauh dari ruangan kami, bunga itu di sana. Tak salah lagi, itu bunga yang selalu berubah. Aku memberhentikan langkah, dan bergumam

“Bukankah ini?”

Aku meraihnya, memandanginya, keadaannya tidak apa-apa.

“Kenapa dibuang, ya?”

“Siapa yang buang?”

“Kenapa bunga ini berembun?”

Ketiga orang itu akhirnya mengiyakan bahwa aku akan membawa bunga itu kembali, sebelumnya aku membawanya serta saat makan di kantin, bersenda gurau sambil menghabiskan makan siang, lantas lima menit sebelum jam istirahat selesai kami bergegas kembali ke ruangan kerja. Aku meletakkan bunga itu di jendela lain bukan di tempat asalnya, pikirku supaya si pekerja baru tidak membuangnya lagi.

***

Sore tiba, langit sudah hampir mati. Perlahan satu persatu di ruangan pulang ke rumah, belum untuk kami berempat, kami terpaksa harus pulang lebih lambat, sebab tadi pagi kami terlambat. Si pekerja baru itu juga sama, mengingat dia lebih telambat dari kami. Aku sedikit meregangkan tubuhku, menyeruput kopi yang tinggal setengah gelas, lalu menggerakkan mata, dan menangkap bunga itu berembun, dan setelah lama kutahu itu bukan berembun, tapi berkeringat—bunga itu berkeringat. Cukup beberapa detik saja, kami semua menangkap bau keringat menusuk hidung, kami saling meringis jijik, dan mencium ketiak sendiri, tidak bukan aku atau mereka tentunya.

“Siapa yang mengambil bunga ini lagi?”tanya si pekerja baru, aku mengangkat tangan, semua pandangan menatap silih bergantian aku-bunga-dan si pekerja baru.

“Bunga ini memang aneh, itu mengapa aku membuangnya.”dia mendelik marah

“Dan aku berdoa agar perempuan itu tidak akan hadir lagi dihidupku.”

Dia bergegas membuang bunga itu ke tempat sampah jauh dari kami, tempat sampah dekat divisi lain yang sudah pulang semua orang-orangnya.

Kami menciptakan khayalan akan hal ini, bagaimana bisa bunga itu berkeringat?, dan menggabungkan segala hal yang kami dapat beberapa minggu sebelumnya, bunga itu tidak berembun, bunga itu berkeringat, bunga itu suka si pekerja baru, dan menuntutnya terlalu banyak, dan hampir saja dia mati. Apa perempuan yang setiap pagi mengirim pesan itu adalah bunga itu.

Si pekerja baru kembali ke ruangan, kami bergegas menyelesaikan pekerjaan. Sejak awal bunga itu dan si pekerja baru adalah hal yang aneh, kami memutuskan untuk melupakan sekarang juga. Setelah semua selesai, kami mengajaknya pulang bersama kami, dan tidak akan membahas tentang bunga itu lagi. Memutuskan untuk lebih mengenalnya, ternyata dia tinggal jauh dari kantor. Padahal sudah beberapa bulan dia bekerja bersama kami, tapi kami tidak tahu fakta apapun tentangnya selain dia berkemungkinan gila.

-Selesai-

 

Ada Angka Lain Selain Nol (Cerpen)

Membuat cerpen selalu saja mendadak, aku selalu ketakutan dengan kalimat-kalimat yang ada di otakku, takut hilang, cuma perlu nulis dan akhirnya lega, silakan dibaca bila rela beberapa menit habis untuk sekadar membaca tulisanku ini 🙂

Ada Angka Lain Selain Nol

Oleh : Audhinadaw

Lusa kota ini benar-benar akan menghilang, kata penjaga mercusuar itu. Di pesisir pantai ini, ia juga salah seorang yang patut di percayai meski kadang omongannya sedikit ngelantur. Mungkin kali ini aku pergi ke tempatnya terlalu pagi, sebab itulah kutemui dia mabuk dan ruang jaganya penuh kulit kacang dan dua botol kosong red wine. Dia hidup dengan uang yang terkumpul dari pengunjung pantai, yang kadang iseng ingin naik mercusuar juga, lantas dia menarik uang lebih banyak untuk itu. Betapa aku tidak akan berhenti meringis miris sebab laki-laki tua sepertinya ini malah dipercayai orang-orang. Aku bukan salah satu dari yang mempercayainya sebab aku benci dia. Entah kenapa pagi ini aku malah ditarik langkahnya menuju ke sini, mungkin aku rindu melihat cahaya pagi dari atas sini, banyak pagi yang kulewati di rumah dan mataharinya tertutup, rumahku dipantati mercusuar. Hanya sesekali saja biar badanku segar melihat matahari pagi bukan pantat mercusuar.

“Mengapa kemari?” dia masih sempoyongan berdiri dari kursi, aku mendelik namun dia hirau.

“Tak usah pedulikan aku, aku cuma sebentar di sini, dan janji tidak akan mengganggumu.”

“Baiklah, terserah kau saja gadis aneh!” Dia kembali menjatuhkan diri ke kursi dan tertidur.

Lusa kota ini akan menghilang, hanya dari beberapa pandang saja, hanya pada pandanganku saja. Mungkin aku akan kangen dengan pantat mercusuar ini, dan tentu saja akan teramat kangen dengan cahaya matahari dari atas mercusuar ini.

“Pak Tua, aku percaya padamu bila kota ini menghilang lusa.”

Aku bergumam masih menatap jauh ke ujung horizon lautan. Burung-burung sedang berangkat menuju ke arah selatan, mungkin burung walet atau mungkin merpati, aku tidak sedemikian penasaran dengan yang disajikan pesisir pantai ini, pohon cemara bukan tembakau memenuhi pandangan ke bawahku, di atas pasir pantai itu sedang ada dua anak laki-laki yang sibuk bermain siapa paling banyak menangkap anak kepiting, di sisi berbeda seorang ayah tengah menyuapi anak perempuannya sambil kelihatan berusaha membujuk supaya segera menghabiskan yang disuapkannya, dari sini kulihat bermacam hal tapi aku tidak akan terlalu peduli.

“Setidaknya hanya menghilang dari pandanganmu saja esok, namun lusa kau beruntung”ucapnya yang ternyata tidak tidur sungguhan.

Aku tertawa getir. Bau lautan menyihir sepagi ini, aku menengok ke arah barat, kulihat menhir mawar yang menjulang dan khas sekali, mudah sekali mengenali siapa pemilknya, itu menhir dari halaman rumah penjaga mercusuar yang tengah menatapku sinis. Anginnya kecang sekali, aku tidak mengenakan baju tebal, biasanya aku akan tahan tapi ternyata tidak.

cloves-1367675_960_720

“Pulanglah jika kau mau, akupun tidak pernah menghalangimu, kan?”

Aku mengangguk, kali ini menatap matanya yang merah, kombinasi kurang tidur dan alkohol yang mengacaukan sistem metabolismenya. Aku tertawa getir lagi, jeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi lusa, ketika kota ini menghilang, ketika kompetisi mengumpulkan anak kepiting menghilang, ketika tidak mungkin lagi anak perempuan kecil itu mencerna makanannya, ketika menhir luar biasa indah itu menghilang.

“Aku janji akan menjaga mercusuar ini, untukmu.”Dia tertawa menggelikan, seperti pemabuk

“Ini memang tugasmu, Pak Tua!”Aku melotot

Dia melambai-lambaikan tangan “Ah baiklah aku mengalah.” Lalu dia berkata dengan lebih serius

“Ada angka lain selain nol, wahai gadis pemarah.”

Tentu saja aku tahu itu, dan itu bisa apa saja, angka apa saja. Kekelaman dalam mata yang mendadak teduh itu membuatku diam dan ingin memperhatikannya, bahwa hidup ini dari nol tapi setelah itu bisa satu kemudian dua, tapi tidak menutup kemungkin nol kemudian tiga, tapi aku benci tiga. Lelaki di hadapanku ini memang melantur dan ucapannya malah sering dipercayai orang-orang. Dan ternyata aku malah lama-lama juga mulai percaya, setidaknya bukan kepercayaan saklek, hanya sekadar penjunjung semangatku saja.

“Sampai kapan diam di sini?, kau tidak mencari anak kepiting dengan sepupumu itu?”

Aku menggeleng, tapi malah beranjak menuruni anak tangga, sudah bosan berada di atas, perutku mulai kembung dan baru ingat belum sarapan.

“Baiklah gadis aneh, selamat jalan, hat-hati dengan hatimu.”

Cih…siapa yang aneh, aku merutukinya, dan setelah umpatan itu aku malah sadar bahwa aku dan dia sama-sama anehnya.

***

Ada angka lain selain nol….

Aku tidak akan menganggapnya sebagai ayahku, tidak mungkin pabila ibu bilang itu tidak perlu kulakukan. Satu-satunya yang akan kuakui adalah menhir mawar miliknya itu, dan apabila dia mati aku akan segera mengakui itu adalah menhirku. Itu bukan tanaman lagi tapi sudah jadi pohon mawar, sebab tersatukan dengan pohon linden, mawar melilitnya sampai kepuncaknya, dan semakin melilit sendiri membentuk menhir.

Ibu dan aku esok akan pergi dari kota ini, meninggalkan semua saudara di sini. Seharusnya pagi tadi menjadi perpisahan manis antara aku dan Pak Tua itu, tapi mungkin akan sama saja, mau manis atau pahit, perpisahan tetap pahit.

Malam itu aku nyenyak tertidur, sebab sepanjang hari aku kelelahan meladeni nakalnya sepupu-sepupuku, aku bahkan tidak menikmati malam dan segala macam bentuk perenungan malam ini, malam terakhir di kota ini. Hanya suara angin saja yang mengantar tidurku.

“Bukankah hanya kamu yang menginginkan aku hilang, Nak?”

“Oh tentu saja Ibumu juga menginginkan aku menghilang juga, Nak?.”

Dia tersenyum, kemudian aku terbangun dan tenggorokanku kering sekali, baiklah aku hanya perlu minum segelas air saja lalu tidur lagi, ini masih malam.

***

“Ini akan mudah sekali.”optimis ibu ketika menaikkan barang terakhir ke dalam mobil, kemudian berhadapan denganku, dia memegangi kedua bahuku, lalu tersenyum.

Baiklah ayo kita lakukan, Bu. Apa saja asal dengamu Bu, aku akan selalu tersenyum demi kamu, Bu. Percayalah. Aku tidak akan menceritakan mimpi yang kudapat tadi malam, dia muncul sebabnya karena aku merasa bersalah sedikit, hanya sedikit-teramat sedikit merasa bersalah.

Sudah jauh hari kami berpamitan dengan siapa saja yang kami kenal di kota ini, kami hanya perlu pergi saja hari ini, tak usah cemas.

Ketika kami segera berangkat, tiba-tiba lelaki tua itu mencegat kami, sudah tidak heran lagi bila dia goyah untuk melepaskan tanpa minta dipamiti. Kami segera turun, mengalahkan beberapa ego yang tertancap di seluruh bagian otak.

Dia tersenyum, membawakan sebuket mawar putih. Dia menghampiriku, meraih tanganku.

“Nak…”kemudian tersenyum

“Maaf…”kemudian berlinang

“Nak….”lantas akupun memeluknya erat lalu menangis deras

“Ayah janji akan merawat apa yang kamu ingin tetap lihat bila kau kembali.”

Ibu hanya bisa mengelus punggungku, berusaha keras untuk tidak menangis. Setelah beberapa menit saja tangis itu meledak, kemudian aku menerima sebuket mawar itu dan kalimat “Ada angka lain selain nol” darinya, aku dan Ibu tetap meninggalkan kota ini, meninggalkan dia di sini. Setidaknya sedikit manis dari perpisahan yang pahit itu kudapat kali ini. Dia tersenyum dan menepuk bahuku lembut, rela kami pergi.

Aku melihatnya melambaikan tangan sampai kami menghilang dari pandangannya. Semoga saja dia bahagia sebab aku menangis karenanya, Ayah.

-Selesai-

Daw|Sukabumi,30 Agustus 2016|9.08 pm

 

Cerpen Sapardi Djoko Damono

Hari ini aku baru ketawa sekali, lantaran baca cerpen karya Sapardi Djoko Damono yang terbit di Koran Kompas Minggu, 9 Februari 2014
Niatnya mau bikin cerpen, makannya baca cerpen yang ada di ebook Kumpulan Cerpen Kompas 2014 yang kuunduh sekian lamanya, tapi ternyata setelah baca cerpen aku enggak dapat ide, aku lagi enggak mood.#halah alasan
Oke berhubung aku pengin kalian ketawa juga, ya kalau enggak ketawa ya sekadar mesem sedikit atau apalah istilahnya itu, aku share cerpen beliau di sini, kabari aku kalau kalian ketawa, kalau enggak ya kabarin juga ding. Selamat baca ya, aku mau bikin ketawa Aldrik dulu(anaknya yang ngontrak), soalnya dia demam dari kemarin.

Cerpen Sapardi Djoko Damono (1)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (2)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (3)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (4)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (5)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (6)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (7)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (8)

 

Empat Gigi Geraham Kakek (Cerpen)

elderly-114328_960_720

Empat Gigi Geraham Kakek

Oleh : Audhinadaw

Siang itu aku tak dapat menemui sosok Kakek yang gagah dan tampan itu, dia telah tiada sehari yang lalu. Aku adalah salah satu yang sangat berduka, sore ini aku  mengunjungi pusaranya, ilalang di sekitar sini berisik ingin aku segera menyudahi kemuramanku, ilalang-ilalang itu punya kaki, mereka menggesek-gesekkan kaki-kaki mereka sehingga aku yang tadinya sedih menjadi agak kesal sebab merasa di usir. Baiklah, sore telah tiba, angin sudah mulai memuakkan, menggodai tubuhku, kemudian memasuki aku, menggigilah aku.

Angin pesan kemarau. Angin sore yang dingin ketimbang biasanya, aku baru saja selesai dari berkeliling menyampaikan suatu hal mengenai kenduri atas meninggalnya Kakek ba’da maghrib. Aku masih berdiri di sana, pusaranya masih ada di samping kakiku, tanahnya masih gembur daripada pusara di sampinya, Aku tiba-tiba tercekat ingat lagi ketika ia marah padaku sebab aku asal omong.

“Aku ingin sakit parah sekali saja, lelah betul bekerja terus setiap hari, apalagi gajihanpun selalu telat.”Aku bersungut-sungut kepada gelas kopi yang isinya sudah tandas lima menit sebelum aku ngoceh sendiri. Kemudian tiba-tiba ada pukulan keras dari belakang ke kepalaku,

“Heh!”

Aku berteriak tertahan, tahu betul bahwa itu Kakek.

“Jangan asal omong!”

Kemudian matanya mendelik, selanjutnya aku cuma bisa menunduk, memandangi kakinya. Dia menepuk keras mulutku

“Ini di ciptain bukan buat asal omong, ini di ciptain memang buat ngomong, tapi bukan omongan pengharapan buruk seperti itu.”

“bodoh kamu.”

Aku ingin sekali membahas kata bodoh yang baru saja keluar dari mulutnya, namun urung. Dia kemudian duduk di bangku berhadapan denganku, Nenek segera membawakan kopi untuknya, aku masih mengusap-usap bibirku, sambil mendongkol dalam hati. Dia di sana langsung sibuk dengan gigi palsunya, sudah dia rendam semalaman, pantas saja tadi cadel saat memarahiku.

“Mbah, emangnya nggak bisa beli lagi gigi palsunya?”

Dia tersenyum sinis, kemudian meletakkan empat gigi geraham itu di atas kotak dengan kain berwarna putih, kemudian beralih melinting tembakau dengan kertas yang bila diisap rasanya manis, aku sering mengisapnya bila iseng. Kemudian menyulutnya, dan sekarang setiap kali asap rokoknya agak tebal lagi dia isap kemudian sibuk dengan giginya lagi.

“Mbah, nanti kalau aku punya duit, aku belikan sepuluh gigi palsu buat njenengan Mbah, biar gonta-ganti tiap hari.” Aku sudah mendinginkan hatiku, dia masih tersenyum sinis

“Gigi ini masih punya peran, selagi masih mampu berperan, ngapain beli?, toh perannya sama saja tho?”

Aku bergelut dengan pikiran sendiri, betul kata Kakek memang, tapi kalau ada yang lebih baik kenapa masih pakai yang lama

“Hidupmu keseringan denger kata orang Le.”

Aku terdiam, memilih mencomot pisang goreng yang baru saja dihantar Nenek. Di meja sudah berantakan benang-benang, senar layangan yang dapat dari nemu di sawah karena layangan putus, lalu jarum ukuran sedang, dan gunting yang tajam tapi gagangnya satu dari kawat, satu lagi dari bingkai kacamata rusak, dua gagang itu dilumuri bakaran plastik hitam, dan gunting itu kuat dipakai sampai sekarang, gunting barupun kalah tajam dan kokoh dari itu.

“Yang ompong berapa sih, Mbah?”

“Lha yo semua, yang kamu lihat di depan ini, ya tinggal ini aja Le.”dia menunjukkan empat gigi serinya.

Aku tertawa terbahak, Nenek segera bergabung dengan kami di ruang depan ini, duduk agak jauh dari kami.

Rumah di salah satu dusun di Yogyakarta memang dianugrahi tanah yang luas, yang lainnya mungkin berbanding lurus dengan barang di dalamnya. Mafhum betul dengan jembarnya rumah ini, tapi barang-barang di dalamnya hanya sedikit, sekedar saja, sebab penghuninya adalah seorang tani yang menggarap sawah orang lain, di rumah Kakek bercat warna putih serta jendela dan pintunya bercat biru tua itu sangat jembar, di ruang depan ada kursi tamu dari rotan yang sangat amat kuat, sampai meninggalnya Kakek, kursi itu akhirnya beralih tangan ke sahabatnya Kakek.

Di sana cuma ada beberapa bingkai besar di dalanya ada miniatur masjid biru yang disusun mendatar, ada jam dinding coklat yang kutahu baterainya baru diganti beberapa minggu lalu sebelum Kakek meninggal.

“Gimana?”Tanya Nenek serius memandang Kakek yang masih sibuk dengan gigi palsunya

“Yasudah biarkan saja, tanpa uang pensiunan itu juga masih bisa hidup berkecukupan, tho?”

Nenek hanya bisa pasrah saja, keinginan Kakek sudah berakhir, sudah lelah untuk mengurusi uang pensiunan itu, padahal tinggal diurus ke Jakarta, tetapi melihat tubuhnya, sudah renta. Meski kutahu dia pasti kuat ke Jakarta, tapi tidak ada jaminan langsung selesai.

Kakekku ini pensiunan tentara, ya beginilah sekarang, memilih bertani sebab uang pensiunan tidak dapat. Terlalu lelah untuk mengurus kesana kemari dan tak ada hasilnya.

Sore itu aku sudah harus kembali ke Semarang, hanya dua minggu sekali saja aku mengunjungi Kakek-Nenek dari pihak ibuku ini. Kata Bapakku, aku harus lebih sering lagi ke Jogja, akupun tidak keberatan.

Setelah agak lama diam, Kakek menyuruhku memegangi gigi itu, tapi aku jeri, lalu tertawa.

Sebenarnya gigi gerahamnya masih lumayan utuh, empat diantaranya sudah ompong, empat gigi geraham palsu itu agak goyang, Sekarang sudah kuat lagi. Gigi itu langsung dia pasang, kemudian langsung memakan pisang goreng.

***

Bau kuburan memang sangat dingin menusuk hidung, melumerkan keangkuhanku, baunya memetik air dari mataku, jatuh ke atas pusara Kakek, orang bilang jangan sampai air mata jatuh ke atas pusara, kasihan katanya.

Bau kamboja tak tercium olehku, hanya mawar yang masih segar di sana mampu menembus anganku, gemerisik bambu menyadarkanku, sudah saatnya pergi dan bersiap untuk kendurian Kakek.

Sedikit membisikkan doa untuk Kakek kemudian aku bergegas menjauh pergi, esok mungkin aku kembali lagi.

***

Di rumah yang jembar itu sudah tergelar tikar-tikar di antaranya dapat pinjam dari tetangga, beberapa orang sudah pulang dari masjid langsung ke rumah ini. Yang aku khawatirkan sekarang hanya Nenek, meski di rajuk terus-terusan oleh ibuku agar diam saja di kamar, dia malah sengaja melibatkan diri dalam kesibukan di dapur, katanya biar cepet lupa sedihnya. Ibuku bisa apa, maka hanya mengawasi Nenek saja, takutnya tumbang karena kelelahan fisik dan pikiran.

Perbincangan tentang gigi palsu kakek itu berlanjut ketika kunjunganku minggu berikutnya, kata Kakek, bila dia mati, giginya juga tolong di kuburkan tapi di belakang rumah. Aku mengangguk paham.

Le!”

“Ya, Bu?”

“Udah mau mulai, sana ke depan.”

Aku mengangguk, lekas bergabung. Ruangan itu penuh sebab hampir seluruh kepala keluarga sedesa di undang. Aku mengambil duduk di samping bapakku.

Tubuhku ini merasakan masih hadirnya Kakek di ruangan ini, mengamati kami. Jangan sampai aku menangis lagi, kasihan Kakek, air mataku hanya akan memberatkan langkahnya di alam sana.

***

“Mbah?, gigi palsu Kakek ditaruh di mana ya?”

“Di kamarnya, Le.”

“Kata Mbah Kakung, gigi palsunya tolong dikuburkan di belakang rumah, biar sama saya ya, Mbah?”

Nenekku mengangguk, masih menyibukkan diri dan pikirannya dengan perabotan dapur. Aku ditemani Bapak mengambil gigi palsu itu di kamar, kemudian bergegas ke belakang rumah.

Bapak menggalikan lubang sedalam setengah meter, gigi itu kami kuburkan dengan baik. Bapakku bilang, gigi geraham yang ompong pertama milik Kakek itu ketika aku dilahirkan. Tiga gigi gerahamnya menyusul silih berganti seiring aku tumbuh. Kakek menolak dibelikan gigi palsu, dia membeli sendiri gigi palsunya, dan sampai dia meninggal dia tak pernah membeli yang baru meski gigi palsu itu telah rusak. Kata Kakek, aku terlalu mendengarkan kata orang lain, aku tertawa. Segera ingat ketika giginya selesai dia perbaiki, dan lekas mencomot pisang goreng di meja.

-Selesai-

Amoy (Cerpen)

Ini cerpen yang baru banget kubikin, dari pukul 20.24 WIB- 21.47 WIB

Ini cerpen dadakan, sebab merasa ada yang ngeganjel karena diri ini sudah lama enggak nulis cerpen. Spontan setelah seseorang di grub WA, nyeletuk “Mau nulis sejam satu cerpen ah.” dan akhirnya tersadar untuk menulis, dan cuma tahan sampai 7388 word with spasi. Tetap saja ini bisa dibilang cerpen.

IMG_20150413_142221

Amoy

Oleh : Audhinadaw

Baru saja Amoy keluar dari kamar mandi, usai membasuh kedua tangan dan kakinya, dia menemui seekor kecoa yang dia belum pernah temui, seingatnya baru kemarin dia membasmi seluruh kecoa yang nampak pada pandangannya. Amoy sedang banyak memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan, lamunannya menjauh, menusukkan pandangan kedalam badan kecoa itu, kecoa itu merayap-rayap, enggan peduli dengan sosok aduhai yang tengah memandanginya dengan tatapan aneh sebab sedang hanyut dalam andai-andai.

“Anak siapa ini pak?”tanya tetangganya

“Anak saya-lah, Bu.” Jawabnya kemudian tertawa, dia tengah menggendong Amoy kecil, wajah Amoy berlumur bedak yang seperti satu botol bedak tabur itu mendarat dengan sengaja mencemongi wajah mungil Amoy.

“Mirip siapa ini ya, Pak?”tanyanya lagi sambil menggodai Amoy agar tertawa

“Mirip buyutnya sepertinya, Bu.” Kemudian tertawa

Dulu Amoy kecil seperti kue mochi yang berlumur tepung, bulat dan kelihatan seperti bangsawan cina, kebanyakan temannya enggan mendekatinya ketika umur 5 tahun, entah karena terlalu berbeda atau apa, dia tidak pernah tahu itu. Tapi sekarang wajahnya sudah benar-benar mirip dengan Ibunya, cantik dengan segala hal yang ada di wajahnya itu, matanya seperti baru di petik dari langit ketujuh, bibirnya seperti merah delima, dan ketawanya, semua orang mungkin enggan melewatkan itu. Jadi berbeda dari dulu itu sudah bawaannya, jadi istimewa dari dulu sudah anugrah buatnya. Maka heranlah aku, dia bisa semudah itu dihitbah oleh pemuda sederhana dari desa seberang itu.

Katanya kepadaku, bahwa dia menerima pemuda itu karena kegigihannya, dan keinginan dari hati terdalam Amoy agar secepatnya dilindungi sosok Suami, tak terhitung lagi sejak dia menginjak usia 13 tahun, ancaman culik baginya adalah hal biasa tapi mengerikan. Dua kali sudah, dia diculik namun kemudian lolos juga.

Amoy usia 13 tahun, tidak pernah sekalipun sekolah. Ibunyalah yang mengajarinya beberapa wawasan sederhana, seperti Bumi ini bulat dan berputar pun lain hal lainnya, dan ilmu agamanya dia dapat dari Bapaknya, seorang junjungan agama yang tinggi di desa itu, sewaktu itu keluarganya belum mendirikan pesantren. Amoy saat itu hendak mengambil air di sumur, biasanya ditemani oleh adik laki-lakinya, namun saat itu waktu sedang menghendaki Amoy diculik oleh pemuda yang berasal dari desa seberang, dia dibantu oleh seorang temannya, membekap Amoy sampai pingsan dan membawanya kedalam sebuah lumbung padi, Amoy hanya sempat di ikatkan kesebuah pegangan kayu dengan selendang, dan beruntungnya dia baru sempat diciumi dua pemuda itu, entah apakah hal itu masih disebut beruntung atau tidak, kemudian saat Amoy sudah menangis tanpa suara, sebab mulutnya tertutup, Bapaknya dan beberapa murid mengajinya langsung merangsek masuk dan Amoy didekap kedalam jubah Bapaknya, lima muridnya menggebuki dua pemuda itu, kemudian mengikat tangan mereka dan menyerahkan pada kepala desa. Melalui musyawarah tertutup supaya berita buruk tidak menyebar dan sebenarnya tetap menyebar, dua pemuda itu diadili di kantor polisi.

Jangan coba-coba menzalimi anak gadis pak kyai, nanti bisa kualat, Aku tidak habis pikir, memangnya selain anak kyai berarti sah-sah saja dizalimi sampai kehormatan tak bersisa. Itu hal lain lagi sebenarnya, Aku hanya takzim mendengarkan kisah Amoy ini ketika kami bertemu di pesantren milik keluarganya itu, aku belajr setahun di sana. Selalu timbul kesal karena cemburu sebab wajahku tak secantik dia, pun perangainya yang jauh dari sentuhan luar, sangat jauh antara jarak anggun dariku kepadanya.

“Kau bisa buat apa selain mengaji dengan suara merdumu itu?”tanyanya kepadaku

“Eh?”aku kaget karena dia tadi tengah mengomeli adik paling kecilnya karena membuat baju yang baru ganti itu kotor.

“Iya kamu bisa apa selain mengaji?”dia mengulangi, sekarang tatapannya ramah

Kalau aku laki-laki mungkin aku sudah jatuh cinta dan betapa beruntungnya laki-laki ini.

“Keterampilan tidak harus terlalu ditekuni, aku hanya selalu belajar supaya sekedar bisa saja.”

Kami duduk di salah satu joglo di komplek pesantren ini, sedang sepi karena murid-muridnya masih sibuk di dalam bangunan. Angin sore itu terlalu kemayu dan mematahkan sanggaan kelopak mataku, aku mengantuk.

“Kau bisa apa?”

“Aku bisa masak air dan air itu mendidih, aku bisa menjahit dan kain bolong itu bisa kupakai lagi.”

Dia menatapku lama, seperti tatapan matanya ke kecoa yang dia lihat saat ini, tatapan lama yang mengiba atau apalah. Aku mengamatinya lama, dia belum juga beranjak dari sana, masih takzim melihat kecoa mengorek-ngorek sampah, dan plastik sampah itu berkresek-kresek, mungkinkah dia tengah mencoba mendengarkan kecoa merutuk karena yang dia temukan di tempat sampah kami hanya bekas pembalut Amoy dan beberapa bungkus mie instan serta cangkang telur, aku tidak tahu.

Aku sedang menemani Amoy dikamarnya, beberapa hari lagi dia akan menikah. Harusnya dia sudah tidak perlu payah mesantren bersamaku, tapi aku heran dengan jawabannya.

“Aku akan melewati sebisa ini sebelum aku tidak akan bisa memasuki pesantren ini lagi, ke kamar ini lagi.”

Aku tertawa, dan dia mendelik galak

“Hey, kau ini keluarga yang punya pesantren ini, untuk apa pula sungkan mengunjungi bangunan ini, mengunjungi aku pula.”

Dia melamun lagi, kali ini aku biarkan saja, dan aku ngemil dengan rakusnya, baru saja dapat makanan dari Ibunya Amoy. Amoy ini seperti danbaan sema orang, segala hal dalam ekspektasimu akan terealisasikan. Aku tidak mengada-ada, ini memang betulan ada, dan itu adalah Amoy. Kasihan juga bila kudapati dia bilang kesal dipanggil Amoy sepanjang hidupnya, padahal sekarang jauh beda dari bangsawan cina, parasnya betulan jatmika khas sunda. Pernah dia bilang padaku, bahwa aku tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Amoy. Aku hanya mengiyakan saja, sebab bisa apa aku?, dia anak ajengan, meski sebenarnya bisa saja aku membantah, sebab di kamar, aku dan dia setara.

“Lantas aku harus panggil kau apa, Amoy?

“Kau bisa panggil namaku saja.”

“Mana berani aku, di hadapan yang menghormatimu?.”

“Ketahuilah, aku ini tidak semengagumkan itu.”dia tertawa, mungkin tertawa getir

Aku setuju dengan hal yang baru saja dia sampaikan itu, sebab, kami berdua pernah memetik buah mangga muda dengan cara memanjatnya. Dan kau bisa tebak siapa yang paling lihai, Amoy yang paling terampil. Aku sempat heran, namun akhirnya berpikir cepat untuk pembenaran bahwa Amoy bukan malaikat dari langit ke tujuh.

“Kamu ini malaikat dari langit ketujuh, Amoy.”Aku tertawa geli

“Ah sudahlah, aku ngantuk.” Dia langsung bersiap tidur

“Ini kue aku habiskan ya, boleh?”

“Iya bolehlah, itukan memang buat kamu.”

“Terimakasih Cahaya.”

Aku yakin dia tersenyum ketika aku memanggilnya dengan nama aslinya, aku tertidur juga setelah sekaleng kue aku habiskan.

Dua hari setelah itu, Amoy harus diam di rumahnya, menunggu waktu sampai hari pernikahannya. Mungkinkah bukan aku saja yang benar-benar jatuh cinta padanya, aku yakin hanya segelintir saja yang sayang padanya, kebanyakan hanya sebatas kagum dan tidak andil dalam menjaganya. Semoga saja kerendahan hatimu menerima pinangan laki-laki sederhana yang kata Amoy sendiri, dia sudah lama menyukainya sejak pertama bertemu ketika memergoki kami memetik mangga muda, dan dengan baik hatinya laki-laki itu malah membantu Amoy turun dari pohon mangga itu.

Benar katanya saat malam itu, mungkin yang dia maksud, sebisa mungkin memanfaatkan waktu adalah menghabiskan waktu tanpa batasan dari Suami.

Hari itu aku yang paling awal melihat si calon pengantin, Amoy memang tak pernah bersolek, sehingga ketika kuas make up pengantin itu mendarat di wajahnya, paripurna sudah kecantikannya. Hari itu baru kulihat dia begitu terharunya setelah sah menjadi istri laki-laki itu.

-Selesai-

ini cerpen memang enggak jelas, aku udah lama banget enggak nulis, sedih rasanya tulisan malah mundur begini.:D

Yang Menyembah Jimson Weed (Cerpen)

Sebelum kalian yang mungkin mau baca cerpen ini, gue kasih tahu, POV nya akan sangat membingungkan, kemudian EYD masih kacau, kenapa enggak di edit dulu? jawabannya adalah Males :D, gue pengin post ini di blog ini, siapa tahu bermanfaat XD.

Yang Menyembah Jimson Weed

Oleh : Audhina Novia Silfi

Jimson-weed

            Aku baru sadar bahwa kau ternyata tengah sibuk dengan benda itu. Kemarin aku ingat betul, kau dan ketiga temanmu merangkak melalui pagar dari ilalang yang meliuk-liuk, kemudian melewati semak-semak, tanahnya kering, dan baunya seperti tubuh Ben dari masa lalu, dedaunan berderak-derak di atas kepala, semak-semak bertengkar silih berganti menjamahi tubuh kalian. Kau takut dengan seseorang yang menjadi dalang ledakan kemarin malam, ledakan aneh yang malah menguarkan bau wangi—wangi Jimson Weed. Demikianlah kalian merangkak bila melewati rumah seseorang tersebut.

            Apa mungkin kau sedang meniru seseorang yang kaulihat kemarin. Dan aku tiba-tiba ingat, desa ini tak akan bertahan lama lagi, karena semua akan diambil alih oleh sang Ratu. Kau berusaha membuat senjata yang dapat menghancurkan Ratu, entah mengapa hati tak rela bila desa di pimpin seorang yang licik seperti Sang Ratu itu. Awalnya desa ini dipimpin oleh keturunan Ben, dan Sang Ratu bukanlah keturunan Ben, dia ingin menghancurkan semua Jimson Weed secara keseluruhan karena membenci Ben dari masa lalu, namun tidak ada yang bisa mencegah operasi sebulan lagi itu, karena Sang Ratu kini memiliki banyak perlindungan dari Dewa.

“Bagaimana jika kita pindahkan saja desa ini ke alam lain?”celetukmu di suatu pagi

“Maksudmu, alam makhluk halus?”Tanya kawanmu

“Tentu saja bukan. Maksudku alam bukan Bumi.”

Kau menerawang jauh ke atas langit, melihat awan yang tengah berarak-arak pulang ke rumah.

“Atau memusnahkan Sang Ratu !”

Kau melupakan suatu hal, mengenai cerita masa lalu tentang musnahnya Ben dari Bumi. Mungkin hanya dongeng saja tapi semua di desa ini menganggapnya cerita betulan. Bunga Jimson Weed kala itu diubah menjadi senjata mengerikan seperti kekuatan yang disembunyikan di balik telapak tangan—bunga itu diserapkan masuk ke dalam tangan. Lalu tangan itu nantinya dapat menyerap energi apapun dari serangan lawan, kemudian energi itu dapat dikeluarkan untuk menyerang balik lawan,

Saat itu Ben menyerap terlalu banyak energi dari lawan yang berasal dari Bulan, makhluk Bumi tidak sanggup menyimpan sebanyak energi makhluk Bulan, selain menghancurkan lawan, energi besar itu juga memusnahkan Ben dari Bumi, dan setelah itu Ben tidak ada di alam mana pun.

Kau sering menertawai semua hal yang gagal, tapi tidak bisa menertawai dirimu yang gagal. Waktunya tinggal sebulan lagi sebelum eksekusi berlangsung. Kau hanya fokus dengan penelitianmu, Arumugan dan Hans kau acuhkan. Mereka sebetulnya dapat membantumu, ide konyol Arumugan adalah Kau bisa bekerjasama dengan seseorang yang kau takuti di rumah itu, beberapa jenak kalian saling menyetujui ide tersebut, namun ketika kalian melewati ilalang itu, kalian berubah pikiran, terlalu dini untuk menyembah Jimson Weed, maka kalian urung minta bantuan dengan seseorang di rumah itu.

            Aku melihat pelupuk matamu sejenak tadi terangkat karena kaget dengan suara cicak di dinding  yang mengejekmu karena kau terlalu serius. Hans tiba-tiba datang kembali mengusikmu, baunya seperti ilalang pekarangan rumah itu, badannya memang gempal dan sedang berkeringat. Padahal kau sudah memberikan peringatan yang kautempel di pintu ruang eksperimenmu ini. Kau menyerah untuk mengusir Hans.

“Tak bisakah kau tambahkan suatu hal yang dapat menetralkan kekuatan yang di serap Jimson Weed?” ucapnya secara tiba-tiba dan mengusik barang yang kau letakkan di meja.

“Aku sedang mencari solusinya Hans.”Kau menunduk menatap tangan Hans yang menggeranyangi benda-benda di meja.

“Aku kira kau justru terlalu fokus pada pemusnahan, kau harus memikirkan dirimu sendiri, berhentilah menjadi orang baik, sejenak saja.”

“Tujuanku memang menjadi jahat Hans.” Kau sengaja, agar Hans segera tutup mulut.

            Ben dari masa lalu memang sudah seharusnya dijadikan sebuah panutan dalam  sebuah usaha menjadi pahlawanan, Kau bahkan melupakan dirimu sendiri karena ingin jadi pahlawan—yang menghilangkan keparat dan hancur bersamanya, hilang dari bagian mana pun di Bumi.

Tak cukup  Hans yang mengganggu. Arumugan kembali hadir di tempat eksperimenmu, dan keduanya lagi-lagi menyarankan untuk berguru pada manusia yang meninggali rumah dengan pekarangan berpagar ilalang itu. Kau berhenti sejenak dan berpikir, apakah semendesak itu harus menemui seseorang itu, padahal semua enggan mendekatinya, seolah seseorang itu melakukan dosa besar karena Jimson Weed.

            Kau, Arumugan dan Hans memang bersahabat dengan dasar tunduk pada khayalan. Hingga kau masih tetap ingin menjadi titisan Ben. Kau menatap Arumugan yang menyusul Hans memberantaki meja, melihat mereka seperti seolah melihat dua kucing yang terbiasa diberi makan si tuan rumah—acuh dan masa bodoh.

            “Sudahlah…ayo kita berguru pada orang itu saja.”ucap Arumugan tegas

“Kemarin kau bilang begitu, kau juga  yang paling depan mundur, dan aku muak dengan rencana itu.”

Kau mendengus dan menguncupkan kelopak matamu, fokus kembali setelah tangan-tangan jahil itu menyigkir dari meja. Hans dan Arumugan, keduanya saling menatap, memikirkan kalimatmu.

            “Baiklah aku mengaku salah.” ujarnya

***

            Pagi itu kalian bertekad untuk menemui seseorang itu, dan kini tidak dengan tangan kosong. Kau telah menyelesaikan secuil penelitianmu, kau membawanya di dalam kantong kecil, Hans dan Arumugan tidak membawa apapun kecuali tekad. Kali ini kalian menyusuri pekarangan rumah itu melalui ilalang-ilalang dengan tegak berdiri, kaki-kaki mantap berpijak dan mata menatap lurus rumah itu. Desiran jantung seolah semakin riuh dalam setiap langkah mendekati rumah itu. Wangi Jimson Weed menusuk hidung, berbeda sekali suasana rumah itu, baunya mengisyaratkan kelembutan,  seseorang yang berada di sana adalah seorang lelaki paruh baya yang menyembah Jimson Weed. Hans sedari tadi mencengkeram pinggiran bajumu dan diplintirnya sampai rasa cemasnya agak berkurang. Arumugan memegangi pundak Hans, sama cemasnya dengan Kau yang mungkin pertama kalinya menjejaki rumah itu.

            Logika kau menyeberangi jauh masuk ke dalam rumah, padahal kalian baru sampai depan pintu. Di sana ada kursi goyang dari rotan yang terjalin dalam anyaman khas kuno, Kau ingat betul siapa yang seharusnya mengetuk pintu sekarang, semua sudah dirundingkan.

            “Aru mengapa kau tak mengetuk pintu?”Tanya Hans

Entah apa yang menjadi perasaan dalam diri kalian, yang jelas takut bercampur tekad dan tak mau gagal. Kau hanya berkali-kali menelan ludah—gugup bukan main. Arumugan segera maju ke depan,  mengangkat tangannya menyentuh pintu itu, semuanya menarik nafas terengah oleh kejaran ketakutan

            “Ehem!” suara deham lelaki tua itu mengagetkan, Arumugan mundur dan bersembunyi di balik tubuhmu. Tubuh-tubuh bergetar, gigi-gigi bergemeletukan, nafas menderu, Kau saja yang berani melotot menunggu pintu dibuka, Hans dan Arumugan memilih untuk memejamkan mata. Langkah kaki lelaki itu terdengar berhenti. Pintu itu terbuka, nafas kalian tertahan. Dia sejenak menatapmu dan menyambut kalian dengan senyuman takzim.

            “Selamat datang kembali Ben.”

Dia memegangi bunga Jimson Weed di tangan kiri. Dia menatap kedalam matamu, seolah berusaha membaca pikiran. Arumugan membisikimu agar segera menyampaikan tujuanmu terhadapnya. Karena keadaan ini semakin janggal. Hans masih terus memlintir pinggiran bajumu.

“Aku tahu betul apa tujuan kalian, dan aku tahu betul imajinasi kalian tentang sosok

lelaki tua ini.”Dia menunjuk diri sendiri, kemudian melanjutkan kalimatnya

  “Imajinasi kalian sungguh luar biasa.”

 “Kalau kalian berani dan mau, aku tak keberatan, bila kalian ingin memasuki rumah

ini.”

“Aku senang, kau ingin sekali menjadi titisan Ben.”Kemudian dia berseri.

Kau sudah gatal ingin berbicara, tapi batu besar menghalangi. Hanya menatap mata lelaki itu saja kau sudah bersyukur. Arumugan mencubit purutmu, seolah mengisyaratkan, cepatlah berbicara. Kau kesakitan, dan melepaskan tangan Arumugan. Kau menarik napas, lelaki tua itu masih santai menatapmu.

            “Pak…..aku ingin bekerjasama dengamu, untuk menyelesaikan penelitianku ini.” Kau menyerahkan kantong segenggam tangan itu kepada lelaki itu. Dia mengambilnya dengan tangan kanannya, dia masih setia memegangi Jimson Weed di tangan kiri.

            “Aku tahu Ben.”Kemudian dia tersenyum

Kalian dipersilahkan masuk rumahnya untuk kedua kalinya, dan kalian akhirnya berani, Hans dan Arumugan membuka matanya, dan betapa terkejutnya kalian, ada dua peri yang mengitari meja makannya. Terkikik bahagia terbang mengitari biskuit gandum di piring putih, ketika kalian masuk, mereka bersembunyi di balik teko.

            “Tak usah takut, mereka temanku.” Kemudian ia tersenyum, dan dua peri itu terbang menyambut kalian, mengitari kalian dengan sapaan hangat. Sejenak tadi kalian berpikir, apa mungkin kini kalian tengah berada di bagian lain dari Bumi, tapi kenyataannya tidak. Kenyataannya baru saja kalian memasuki ruangan lain setelah ruangan tamu yang tiba-tiba ada meja makan tadi. Ketika lelaki itu memimpin masuk dan kalian melangkah mengikutinya, surga bunga di hadapan kalian, lebih banyak peri lagi di sana, Jimson Weed sembarang tumbuh tapi indah dan putihnya berkilauan, wanginya berbeda, lebih lembut ketimbang Jimson Weed di luar sana, ruangan itu tertutup, tapi seolah ada awan bewarna pelangi di atapnya, Dan kalian merasa sedang di luar ruangan. Tidak ada sama sekali perabotan yang kalian temui kecuali meja makan di ruangan tadi. Lelaki itu memimpin duduk di rerumputan yang tumbuh terawat. Kalian masih terkagum-kagum,

“Nah, sekarang kalian bisa berbicara dengan bebas di sini.” Dia meletakkan Jimson Weed di rumput, dan meletakkan kantong itu di tengah-tengah, dan kalian duduk melingkar. Rasa takut kalian sudah hilang sejak memasuki ruangan ajaib, Kalian terlalu salah menakuti lelaki ini.

“Aku hanya ingin agar serbuk ini bisa bekerja tanpa melukai penggunanya Pak.”

Kau menunjuk kantong itu, Hans masih terkagum dengan para peri kecil yang mengitari kuncup-kuncup Jimson Weed. Arumugan masih terheran-heran dengan langit di atap rumah itu, dan cahayanya indah ketimbang matahari.

Dia menatapmu dengan dan menjelasakan, bahwa dari kemarin kalian hanya fokus pada penghindaran, bukan penghadapan masalah. Dia mengingatkan, agar Kau tidak usah menggunakan serbuk Jimson Weed yang Kau ramu dengan ramuan Ben masa lalu. Kau tidak usah memusnahkan Sang Ratu.

“Tapi kami enggan bila terus-terusan diperintah Ratu tak tahu diri itu Pak.”

“Aku punya ide lain.”

Kalian memerhatikan penjelasannya. Mendapati jawaban dari apa yang terjadi pada ruangan ini. Mendapati bukan keajaiban tapi penciptaan yang luar biasa karena Jimson Weed, dan mendapati jawaban akan apa yang terjadi pada ledakan malam hari itu. Ledakan itu menciptakan bagian indah dari ruangan ini, yang kalian lihat sekarang.

 “Aku mencintai Jimson Weed, boleh bila kalian sebut aku menyembah Jimson Weed.”

Maka dia dengan senang hati membagikan hasil penelitiannya untuk seluruh desa, dan mengubah desa ini menjadi seperti ruangan ini. Kalian hanya perlu membuat Sang Ratu jatuh hati pada Jimson Weed dan kemudian membatalkan pemusnahan.

Kalian sejenak berpikir dan akhirnya setuju, Sekarang tujuan kalian adalah membuat Sang Ratu jatuh hati pada Jimson Weed. Kalian akan melakukan pengubahan desa, esok hari setelah malamnya bulan purnama.

-Selesai-

Rattus rattus (Cerpen)

Rattus rattus

Oleh : Audhina Novia Silfi

 angel-1210970_640

Kamu ditemani selembar kertas HVS, pensil dan asbak, niat awalmu adalah menulis beberapa kata namun akhirnya membentuk sebuah kalimat. Sembari mengisap rokok yang tinggal setengah batang lagi. Sepanjang siang Kamu merutuki nasibmu sendiri. Teman yang Kamu sukai sejak SMA tiba-tiba memberikan ucapan selamat pagi melalui pesan singkat.

“Pagi Rinai, Semoga harimu menyenangkan.” Dia adalah pemberitahuan favoritmu hari ini, yang selalu sukses membuatmu tersenyum senang sekaligus kecut. Kamu agak rindu berlaku judes terhadap lawan jenis, maka tanpa pikir panjang Kamu pun hanya membalasnya dengan beberapa kata saja.

“Pagi juga”. Kemudian harapanmu lantas kandas.

Pesannya datang lagi, kali ini mungkin pesan siaran. Panjang dan menjemukan, matamu dan senyummu padam.

“Oh MLM!” ucapmu kesal.

Meski dienyahkan, suka tetap suka.

Kertas HVS itu akhirnya penuh akan keluh kesahmu sepanjang hari. Benda memuakkan yang disebut jam dinding itu terus saja mengejekmu, seolah Kamu harus bergegas tidur dan segera mengunci kembali lemari perasaan yang Kamu buka lagi itu. Kamu pun melihat keadaan sekitar, hanya ada dua kursi, satu meja, kasur dan selimut biru kucel, yang lainnya anggap saja tidak ada. Kamu menghela napas, bosan dengan kegiatan sepanjang hari tadi, dan akan terus terulang sepanjang Kamu masih hidup.

Puntung-puntung rokok berceceran di lantai, Kamu peminum alkohol, syukurlah bukan pemabuk. otakmu kurang waras, hidupmu juga kurang waras. Kamu ingat bahwa besok hari libur, berjalan ke dapur membawa gelas kosong, lantas berharap di dapur Kamu temukan air dan juga pikiran warasmu. Kamu berpikir bahwa tadi saat di kamar, galon masih terisi penuh di dapur. Sialnya kosong, tenggorokanmu kering, Kamu ingat betul kali ini harus minum air putih setidaknya tiga gelas untuk menetralisir alkohol, supaya ginjalmu tak meringis.

Namun harapanmu kandas kemudian menyerah dan berbalik ke kamar lagi. Di antara sekat kamar dan dapur, ruangan itu tempat membaca favoritmu. Rattus rattus sedikit menghambat jalanmu menuju kasur apek itu, terhenyak dan merutuk

“Dasar curut !”  kedua kakimu refleks loncat, beruntung lantai tidak licin.

Rencanamu masih sama seperti pagi tadi, bersikap masa bodoh terhadap segala hal, Kamu terus mengucapkan kata itu “Masa Bodoh” nyatanya bukan itu yang Kamu lakukan, masa bodoh adalah hal yang Kamu dambakan, sebab Kamu bukan makhluk apatis. Kamu berjalan begitu gontai sambil menggaruk-garuk pantat, matamu masih kuat sadar, namun otakmu sudah malas sadar. Kamu duduk di meja kerjamu, menyentuh kertas HVS penuh coretan tadi. Mengenang kembali pagi saat tetangga baru tersenyum menatapmu ketika Kamu membuang sekantong sampah ke depan rumah.

“Sudah bangun Kak ?” Kamu mengangguk heran, karena sadar. Penampakanmu tak ubahnya seperti tikus rumah yang lima kali mondar-mandir di depanmu sedari tadi.

“Kita baru pindah Kak.” lelaki kebapakkan itu nyengir diiringi tatapan heran

dua anak laki-laki manis yang  tengah bermain air dari selang cuci mobil.

“Semoga lingkungan kompleks perumahan ini cocok buat keluarga bapak , ya” lantas Kamu ingin segera pergi, malas ditanya lain hal lagi.

“Tante Rinai, besok malam datang kerumah Drey ya, kak ? kita makan bersama.” ucap anak laki-laki ompong itu sambil iseng kepada adiknya.

Kamu tidak punya pilihan untuk menggeleng, Kamu iyakan saja ajakan tersebut dan bergegas ke kamar mandi. Perutmu tidak kompromi dengan pizza busuk yang mungkin sudah berkali-kali diinjak Rattus rattus. Kemudian kehidupanmu stagnan lagi, bekerja dan makan, bekerja dan minum, bekerja dan berbicara. Kamu memutuskan untuk minta maaf besok pagi, karena malam ini tidak menyanggupi datang ke rumah keluarga bahagia itu.

***

Pagi ini Kamu merasa sebagai reinkarnasi puntung rokok yang Kamu isap tadi malam, Kamu tidur karena lelah dan bangun karena bosan. Perutmu tidak meronta, dan Kamu bersyukur karena tidak harus sarapan pagi. Kamu malas mandi.

Rutinitasmu di hari libur ini hanya akan membuang sampah berisi botol alkohol, bungkus pizza, bungkus rokok, dan puntung-puntung rokok, serta abunya. Penampilanmu tak akan melebihi Rattus rattus si tikus rumahan, Meski Kamu masih merasa cantik saat bangun tidur, namun gigimu dan baumu enggan menyetujui pendapat otakmu itu.

Usiamu sudah cocok untuk membangun sebuah keluarga bahagia, namun sayang Kamu enggan, Kamu terpaku di depan rumahmu, mengamati keluarga kecil bahagia itu tengah membenahi taman.

“Kak Rinai sudah bangun.” ucap perempuan itu kemudian tersenyum dan Kamu menyeringai, karena bingung.

“Nanti makan malam di rumah kami ya, kak?” ajaknya ramah

“Maaf ya tadi malam nggak sempat datang, semoga nanti malam bisa

datang.”

Keluarga itu menatap ramah dan tersenyum, mengisyaratkan bahwa rumah keduamu adalah mereka. Kamu jeri pada dirimu sendiri, mungkin usiamu setara dengan perempuan itu, namun melihat begitu jauhnya perbedaan penampilan dan keadaanmu, Kamu memang sangat menyedihkan. Mereka saling mengamini doa, sedangkan Kamu hanya tikus yang mengamini doamu.

Meski aku memang tikus rumahan, namun aku tak mau disebut tikus. Aku memang tidak penting, tapi aku adalah saksi seluruh hidupmu. Sejak aku masih di susui ibu yang kini telah kabur dari rumah ini, aku harap dia tidak digondol anjing kompleks, lebih baik hamil lagi di tempat lain. Maka sampai saat ini mungkin hanya nyamuk yang mengamini doa-doa ku.

Kamu terus saja hidup menunggu untuk lelaki yang dulu tinggal bersamamu di rumah ini, semenjak tak Kamu temui lelaki itu di kamar, atau di berbagai tempat manapun, Kamu masih belum sadar bahwa lelaki itu tidak akan pernah kembali, karena memang sudah mati. Kalau saja ibumu dan tiga adikmu di sini, mungkin mengemis pada harapan tidak akan Kamu lakukan seperti sekarang. Iya….aku paham betul Kamu kehilangan semangatmu, dan aku tak sanggup membangkitkanmu

Lihatlah saja bajuku, bulu putih yang lumayan bersih tetapi tetap berbau khas tikus ini yang menyelimuti tubuhku, Kamu saja melotot begitu melihatku mondar-mandir sebanyak lima kali tadi malam. Hobiku adalah makan pizza yang walau Kamu sisakan namun akan Kamu makan nanti setelah beberapa hari, itu mengapa Kamu sempat kena dysentri.

Sebenarnya lelaki yang Kamu dapati dia menawarkan MLM itu tidak Kamu cinta, Kamu selalu saja ingin kelihatan menjadi wanita bila berhadapan dengan lelaki itu, maka aku tak akan setuju bila Kamu masih memikirkannya. Kamu lebih pantas menjadi Rinai yang selalu sanggup menghujam bumi secara lembut.

***

            Kamu tak mau kelihatan main-main di hadapan keluarga bahagia itu, Kamu kenakan baju sopan, yang cocok untuk sebuah makan malam keluarga. Drey sudah menunggumu sambil meringis, menampakkan ompongnya. Perasaanmu mungkin sangat bahagia, aku putuskan untuk mengikutimu sampai rumah tetanggamu itu, sekalian aku akan mengunjungi sepupuku di rumah itu.

“Tante Rinai cantik ya Mah.”ucap Drey sembari menggelendoti mamahnya “Iya cantik sekali.” wanita itu menjawab tulus sembari mengusap wajah

belepotan Drey karena coklat yang dia makan.

“Mari masuk kak, Mas Teguh dan Alex sudah nggak sabar mau makan, yuk Kak.”

Kamu memang tampak menjadi seorang wanita sekarang, namun batinmu buas. Otakmu terlanjur sesak oleh sesuatu yang tidak pernah Kamu ketahui, Kamu terlalu bosan dengan hidup menyendirimu ini, Kamu masih pada pendirianmu, menjadi Rinai yang aneh walau memasuki lingkungan keluarga kecil bahagia ini. Semakin lama Kamu malah semakin muak memimpikan sebuah kelurga kecil bahagia, batinmu selalu saja berontak. Memangnya salah bila seorang perempuan mapan memilih hidup sendiri sampai mati.

Keluarga ini tiba-tiba saja mengingatkanmu untuk pulang ke rumah orang tuamu, terakhir kali bertemu dengan mereka ketika ulang tahun ibumu tahun lalu dan bukannya Kamu yang memberi hadiah, malah ibumu yang menghadiahimu selimut biru yang sekarang berwarna biru kucel di kamarmu itu.

Kamu kagum dengan keadaan rumah itu, bersih walau ada dua anak bandel di dalamnya, perempuan dan laki-laki itu pandai merawat rumah ini. Kamu diperlakukan apa adanya, senyummu akhirnya tampak ikhlas, untuk pertama kalinya, mungkin Kamu melupakan segala hal tentang laki-laki yang sudah Kamu hapal baunya itu. Alex dan Drey terus saja saling iseng, Kamu senang melihat dua anak itu.

Sepupuku bilang semenjak keluarga itu pindah ke rumah ini, kenyamanan bangsa Rittus rittus sangat terancam, meski begitu mereka tidak terlalu kejam, tidak sengaja memburu, tetapi menunggu sampai terperangkap. Bukankah memang seharusnya tikus diburu, karena tingkat perkembangbiakkan mereka sangat cepat sekali. Maka memang aku dilahirkan berani, karena aku sudah tahu, mati itu tak terduga.

Kamu beralih ke ruang keluarga, Sambil menonton televisi dan makan cemilan, Kamu sudah tidak canggung lagi, Kamu sepenuhnya lupa akan kesedihanmu, Kamu sepenuhnya kembali menemukan motivasimu. Ketika malam semakin larut dan bahan obrolan sudah sangat membosankan dan kedua anak itu sudah mengucek-ngucek mata, Kamu memilih untuk segera pamit. Namun tiba-tiba perempuan itu mengucapkan hal yang tidak terduga.

“Kak.” panggilnya sebelum Kamu beranjak pergi, dia memegangi kedua bahumu sorot matanya menembus ke dalam pikiranmu.

“Kita ada buat Kamu, jangan segan datang kalau perlu bahagia ya, kak.” Kemudian tersenyum, Kamu masih terdiam bingung dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja hadir kembali.

Kemudian dia melanjutkan “Kak Rinai mau ikut ziarah ke makam Ragat

esok hari tidak?”

Kamu tiba-tiba dengan cepat memutar segala sesuatu yang berhubungan dengan nama itu, Ragat, lelaki yang dulu tinggal bersamamu. Kamu menitihkan air mata, tidak paham, mengapa tiba-tiba saja mengingat secara cepat semua kenangan itu.

“Iya Kak, aku adiknya Kak Ragat.” Dia menjawab tanpa Kamu minta kemudian memelukmu dengan erat, Kamu menangis tertahan di bahunya sampai basah, dan Ia menceritakan semuanya kepadamu, mengenai persepsi negatifmu terhadap lelaki yang tiba-tiba saja mati itu.

Aku ingin melihatmu lebih dekat karena khawatir, maka aku putuskan untuk berlari dari bawah sofa menuju bawah lemari di ruang tamu tak jauh dari Kamu yang sedang duduk bersama perempuan itu. Tapi sial ada perangkap di bawah meja yang aku lewati sebelum sampai ke lemari itu, papan kayu tipis yang di lapisi lem super kuat, napasku terengah-engah berusaha melepaskan diri, sialan buluku menempel, bila aku semakin meronta, maka semakin kuat perangkap itu membuatku kesakitan, lem itu sangat berbau menyengat, Sepupuku panik melihat aku semakin tidak berdaya, dia mencarikan bantuan, semua keluarganya, tapi mungkin aku memang sudah waktunya mati, maka aku mati dengan keadaan lega, karena Rinai telah memiliki orang-orang yang mampu membahagiakannya kembali. Bukan seperti aku yang memimpikan ingin membahagiakanmu tapi tidak bisa, aku hanya mampu mengamini doa-doa mu saja. Selamat tinggal Rinai.

 

-Selesai-

Terinspirasi dari cerpen Rico De Coro-Filosopi Kopi (Dewi Dee Lestari)