Terimakasih Semesta, Biru Pupus 5 Tahun :)

DSC06393

Holllaaaaa readers 🙂

Bagaimana tadi harinya? Semoga bagus ya :), soalnya hari ini Biru Pupus ulang tahun

\(0.0)/

Wuhuuuuuuu! sebenarnya audhina-nya lagi sedih, tapi karena barusan dapat notif dari wordpress, ngasih tahu kalau Biru Pupus ulang tahun, galaunya sedikit hilang.hehe

selamat ulang tahun biru pupus

Aku bersyukur ternyata keputusan membuat blog hari ini pada 5 tahun yang lalu membuatku begitu bahagia hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. 🙂

Aku bersyukur menemukan begitu banyak teman dari kegiatan menulis di blog ini, seberapapun aku bersyukur, kebersyukuranku tidak akan mempu cukup untuk berterimakasih kepada semesta. Dan tentu saja kepada pencipta semesta. Allah 🙂

Aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak yakin tangisan ini karena senang atau sedih?

Karena hari ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Senang karena ternyata sudah begitu lama aku mencintai “menulis” sedih karena belum juga bisa menghasilkan karya yang diakui banyak orang.

.

Aku mengucapkan kepada teman-teman semua yang dengan susah payahnya melakukan blogwalking ke Biru Pupus, betapa aku selalu senang bila kalian datang.

Semoga untuk ke depan, Biru Pupus bisa lebih baik lagi dari saat ini. Aamin

.

Untuk kalian semua, jangan lelah dan menyerah untuk menulis ya :). Karena kalian tidak akan tahu manfaat apa yang bisa diberikan dari tulisan-tulisan di blog kalian kepada pembacanya.

 

Daw| Jogja, 01 Agustus 2017

Menara Pantai Pandasari

DSC05895

Holla readers 🙂

Jadi dua minggu yang lalu aku ke tempatnya mbah kakung di Bantul, tepatnya di Sanden. Sebenarnya hampir setiap ke mbah kakung, bulek atau paklek di sana selalu ngajak ke pantai yang memang jaraknya enggak jauh sama sekali.

Berhubung kelihatannya pantai selatan itu sama aja, kali ini ada Pantai Pandasari yang letaknya di Bantul, di sana ada sebuah Menara. Dan di tulisan waktu itu, aku cuma bahas sedikit tentang menaranya, ya soalnya waktu itu terlalu pagi ke sana, belum buka. Huhu kalian bisa baca di sini.

DSC05898

Nah kali ini, takdir, waktu, dan senyum-senyum jalang merestui aku buat naik ke Menara itu. Tiket masuk seharga Rp 5000/orang dewasa, anak kecil enggak perlu bayar, tapi kriteria anak kecilnya itu enggak tahu patokannya sampai umur berapa.

DSC05901.JPG

pemandangan dari tangga ke (lupa), bikin semakin semangat naik ke atas

Menurutku penarikan tiket di depan pintu masuk Menara itu seharusnya dikasih tiket fisik dan dengan tiket fisik itu dapat menjamin keselamatan (asuansi) si pengunjung bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Waktu itu aku sama bulek dan tiga sepupu laki-laki, Uang masuk sudah dibayar ke bapak-bapak berkacamata berbadan besar itu. Kita semua mulanya pede untuk naik ke sana, tapi pas tangga pertama si Novan ketakutan buat naik, akhirnya bulek juga nggak mungkin ikut naik. Jadi Cuma aku, mas wahyu, dan Zezen saja yang naik.

DSC05947.JPG

Pada akhirnya cuma aku yang benar-benar sampai puncak Menara itu, berhubung sore, angin kencang banget bertiup dari arah laut ke daratan, tubuhku didorong-dorong angin, sampai gemetar aku di sana. Tentu saja sudah jelas, pemandangan di sana luar biasa bagus.

DSC05906.JPG

Bagi kalian yang mau ke sini, pastikan bahwa kalian tidak takut ketinggian, dan kuat untuk naik tangga. Juga tidak boleh sembrono, pelan-pelan aja naiknya, nanti juga sampai, jangan terburu-buru.

Oya Pemilihan waktu, dan juga pakaian kalian untuk naik ke atas Menara juga perlu diperhatikan. Anginnya kenceng banget guys.

Segitu aja tulisannya, siapa tahu ada yang nyasar ke sini, tapi ini masih suasana liburan enggak sih?

See you next post 🙂

DSC05928.JPG

ini pakai self timer ToT, kasihan enggak ada yang fotoin audhina.huhuhu

 

Explore Kota Jogja dengan Trans Jogja

Holla readers. Kabar baik kan?, jangan lupa bersyukur ya. 🙂

Kali ini aku akan cerita tentang Jogja.

Jogja tidak pernah membosankan kalau kalian tidak sendirian, karena kalau sendirian agak menyedihkan.

Akses wisata di area Jogja Kota sangat mudah karena ada Trans Jogja, dan lebih mudah lagi kalau kalian pakai kendaraan pribadi. #yaiyalah, selalu andalkan Google Maps :D, karena walau pakai Trans Jogja dengan tarif yang super murah Rp 3.500 itu, kemungkinan suka salah transit atau lupa transit dulu. Yak itu berulang kali aku alami. Dan kalau kalian nanya orang, kalian bakal ditunjukkan arah menggunakan arah mata angin, Lor..Kidul..Wetan..Kulon. Dan sampai sekarang meski dulu kecilnya aku di Jogja, aku lupa mana Timur…Barat…Selatan..Utara.

Aroooh!!

Oke gampangnya gini, kalian tanya aja deh ke petugas yang jaga di halte. :D, dan perhatikan dengan baik petunjuk dan opsinya. Banyak tempat yang kalian bisa akses dengan Trans Jogja. 🙂

 .

#1 Taman Pintar

Halte di depan Universitas Atma Jaya adalah halte terdekat dari lokasiku. Petugas di sana bilang, bus nomor 1B yang harus aku naiki untuk bisa sampai Taman Pintar, Aku tidak begitu lama menunggu karena katanya jumlah Bus nomor 1B itu banyak, sekitar 10 menit saja, busnya datang, busnya nyaman, waktu itu tidak begitu banyak yang ada di dalamnya. Jalanan awalnya lancar, lalu tidak begitu lancar, dan Aku merasa Jogja berubah … uhukk macet dan banyak hotel di mana-mana.

Aku turun di Halte seberang Taman Pintar. Seusai turun kemudian menyeberang, sampailah aku di Taman Pintar. Hohoho (‘ o ‘)

Aku mengunjungi sahabatku di Taman Pintar, karena dia merupakan seorang Pemandu di sana, aku bisa gratis masuk ke dalam. Hehehe. Walau kalian enggak masuk ke dalam, di area halaman Taman Pintar ada taman dan wahana bermain air untuk anak-anak yang secara gratis bisa kalian kunjungi. Taman Pintar itu bukanya pukul (lupa) dan tutup pukul 16.00 WIB. Tarif masuknya juga enggak tahu, karena setiap kali ke sini aku di bawa sama sahabatku .XD.hehe

Aku bisa nonton di Planetarium tanpa beli tiket. Hohoho dan kalau mau tahu pertunjukan di sana indahnya bukan main.

#2 Titik 0 Km Jogja

DSC05860

Kalau mau ke Titik 0 Km, dari Taman Pintar, cuma butuh jalan kaki aja buat ke sana, ini serius, enggak jauh sama sekali. Aku sampai sana sudah sore. Dan menurutku lokasi ini lebih romantik dan ciamik jika saat malam.

Di sana ramai, juga banyak bule-bule yang lagi backpackeran, dan putih-putih gitu kulitnya (helloooww audhina apaa sih bahas kulit). Nah kalau kalian pengin ke Jl.Malioboro, dari sini juga bisa jalan kaki mungkin sekitar 12 menit. Aku berpendapat bahwa Jogja lebih enak kalau dinikmati sambil jalan pelan-pelan. Hu um gitu…

#3 Benteng Vredeburg

DSC05864

Ini juga tinggal jalan kaki aja deh dari Km 0, jalan terus ajalah pokoknya, haduh ini tulisan enggak berfaedah banget, iya soalnya yang nulis enggak paham arah mata angin. Ehehe . Berhubung udah tutup bentengnya, ya cuma bisa foto depannya aja.

Nah sehabis itu aku pulang. Aku naik Trans Jogja di halte  tepat depan Taman Pintar, lalu tanya ke petugas di sana, kalau mau balik ke Babarsari, Sleman naik yang mana. Aku harus naik 1A, kemudian transit dulu di Halte Janti Selatan. Nah….saudara-saudara, Aku lupa transit dan ke bawa sampai Halte Airport Adi Sutjipto. Hhhhh malang sekali, mana sepanjang dari Halte Janti Selatan ke Halte Airport Adi Sutjipto itu macetnya bikin haus banget. Huhuh

Lantas aku turun di sana, baru deh aku naik 1B. Andai saja aku enggak lengah, aku bisa lebih cepat sampai kosan.hhhhh jangan sampai kalian mengalaminya, pokoknya.

Oya Trans Jogja  jurusan 1A itu kalian bisa ke Candi Prambanan guys. Ya aku belum ke sana, mungkin lain waktu.

Oke gitu aja postingan kali ini, semoga kalian bisa bijak merencanakan liburan ke Jogja. #halah.

Irit-iritlah di Jogja, cari tahu dulu, apakah lokasi tujuan kalian itu masih bisa dijangkau pakai Trans Jogja dulu, dibanding dengan ojek online atau taxi online, dll

Segitu aja yah. See you next post. 🙂

Ramadhan 01: Pelukan Masjid Agung Sukabumi untuk Para Musafir

DSC05446

17.00 WIB, keinginan tertimbun dan terus tertimbun, tapi akhirnya aku berlari ke sana. Masjid dengan kubah terindah di Sukabumi. Aku pikir tidak ada salahnya mencari bahan tulisan-Buka puasa di tempat ini.

17.45 WIB, beberapa pengurus masjid membagikan takjil kepada siapa saja yang melangkahkan kaki ke dalamnya. Mereka hangat.

Sayang sekali terlalu terlambat aku sampai di sini, hingga ceramah yang dapat aku dengar tidak lain hanyalah ujaran sang penceramah supaya semangat berpuasa selama sebulan ini.

DSC05436
Aku tidak begitu tertarik dengan es buah dan juga nasi kotak, padahal masih banyak tersedia bila aku mau mengambilnya. Aku rasa takjil sudah cukup mengenyangkan untuk perut kecil ini.

17.46 WIB, adzan maghrib berkumandang untuk Sukabumi. Aku suka suasana di sini, takjilnya juga enak. Meski aku bukan musafir, aku cuma mau memberitahu kepada para musafir yang datang ke Sukabumi bahwa di sini ada masjid yang akan memberimu pelukan hangat.

Taman Bunga Nusantara Cianjur

DSC05110

Holla readers

Aku mau nyeritain tentang perjalanan wisata ke Taman Bunga Nusantara Cianjur. Pas tanggal 01 Mei 2017. Iya iya ini cerita sebenarnya udah basi banget, tapi nggak papalah ya.

Oke ini mau ngelantur sebentar,kalau mau di-skip juga boleh.

Pagi hari itu, aku sebenarnya enggak ada rencana sama sekali mau kemana-mana, intinya mau tidur aja gitu di rumah, di otak sih siang itu pengin makan mie sambil nonton stok film di laptop. Eh mendadak pas pukul 09.00 WIB, enggak tahu kenapa diri ini pengin banget jalan-jalan, kalian pasti pernah mengalami kayak gini. Nah berhubung wisata sekitar Kota Sukabumi ini kelihatannya udah aku kunjungi semua, dan yang muncul di pikiran ya cuman ke Cianjur, di sana ada Taman Bunga, oke akhirnya aku cari temen buat nemenin. Nah Adikku yang nemenin ke Curug Cibereum Selabintana waktu itu lagi masa tenang mau UN SMP jadi aku juga enggak tega deh ngajak dia, takutnya semua materi yang dia persiapkan mendadak hilang semua, ketinggalan di tempat wisata. Dalam situasi seperti ini aku berterimakasih pada diri sendiri karena memiliki sekian “lumayan” relasi yang bisa diajak main. (lumayan he…..he) #garing

Sebenernya banyak yang bisa di ajak di Cianjur, tapi pengin ketemu Kak Ratna, dia temen di grup nulis gitu, ya walau grup nulisnya lagi vakum, soalnya masing-masing sibuk, dan mungkin pada punya grup nulis barunya masing-masing. Aku hubungi tuh si Kak Ratna, dan dia dalam keadaan lagi PMS, tapi akhirnya dia bilang gini “ke sini aja, Au, siapa tahu nanti aku udah sembuh.” Aku nggak mikir panjang langsung ngeiyain aja, terus ngasih perhatian sedikit supaya dia biar minum obat analgesik.

Pukul 10.00 WIB

Iya kenapa aku lama amat ya mandi sama dandan doang?, soalnya aku belum sarapan, terus belum manasin motor, kasihan si merah kalau langsung dipakai jalan jauh, takutnya mogok terus nggak ada yang bantu dorong gimana?.

Aku udah bawel banget bilang ke Kak Ratna, aku bakal sampai jam setengah 11-an lah, dan dia harus udah di tempat janjian pokoknya. Aku sebanarnya udah dikasih tahu sama Kak Ratna, “Kamu dari pertigaan itu jangan belok, pokoknya lurus aja!”, eh aku ngeyel, aku ngerasa kayak déjà vu gitu sama jalanannya (dulu pernah ke Cianjur soalnya), dan beneran aja salah tempat, akhirnya aku kesasar, nanya ke polisi 2 kali, terus sempet hampir mau memasuki “jalanan satu arah” tetep aja nyasar. Aku beneran bodoh banget, terus Kak Ratna udah marah-marah di chat. Katanya “setengah jam apanya?”, awalnya aku enggak mau tanya dulu ke Kak Ratna jalan yang bener, tapi akhirnya ngabarin. “Kak aku nyasar.” Aku berhenti dulu di suatu tempat dan ternyata tempat janjiannya itu kelewatan udah berkali-kali . Oke fix ini aku bodoh banget.

Kita ketemu, dan Kak Ratna ngomel (enggak ding), dia cuma ngulangin kata-katanya aja di chat. “Aku kan udah bilang, jangan belok!”. Lha iyalah jadinya nyasar. Aku cengar-cengir ajalah, masang wajah tanpa dosa.

Kita mampir dulu ke minimarket, beli air sama cemilan buat di sana nanti.

Oke langsung ke Inti cerita

Sekitar pukul 11.00 WIB, kita berangkat, Kak Ratna udah apal tempatnya, dia pernah ke Taman Bunga Nusantara). Bagi kalian yang belum pernah ke sini, bisa Tanya ke Google Maps (Dan berdoa juga supaya nggak nyasar).

Mata kita memandang ke arah Cibodas, kelihatan langitnya hitam, pertanda mau hujan. Aku lupa mau ngingetin Kak Ratna buat bawa jas hujan, aku cuma ngingetin dia berkali-kali buat bawa helm sendiri.

Dan bener aja, sekitar pukul 12.30 WIB, padahal tinggal sekitar 5 Km lagi lah, tapi hujan akhirnya betulan turun dengan lebatnya, seolah ngejek kita berdua, karena kita pakai rok (nggak nyambung). Oke kita ikut neduh di depan tempat tukang jahit, aku kekeuh pengin nunggu sampai hujan reda, tapi Kak Ratna bilang, ini hujannya enggak bakal berhenti, aku juga setuju sih, sempet kita cek Google Cuaca, iya itu hujan belum bakal berhenti sampai jam 15.00 WIB, nah akhirnya melalui diskusi yang puanjaaang, aku pakai jas hujan, Kak Ratna mau lepasin rok dia, dan untung dia pakai celana panjang di dalam, maksudnya biar nggak basah semuanya.

Hujannya ngajak bercanda gitu, pas lumayan reda kita berangkat lagi, eh belum lama hujannya deras lagi, aku kasihan ke Kak Ratna, dia kan nggak pakai jas hujan. Asli ngeselin banget, guys. Eh enggak..nggak boleh gitu. Hujan itu rahmat Allah.

Akhirnya kita neduh lagi, kata Kak Ratna sebentar lagi juga sampai, 1 Km lagi. Oke pas hujannya lumayan reda, kita maksain lagi buat menerjang hujan. Dan betapa bodohnya aku, itu ada lubang besar di jalanan enggak kelihatan karena ada genangannya, motornya ya udah terlanjur menerjang itu lubang, beruntung enggak jatuh. Asli aku kaget banget. Kak Ratna untung enggak kenapa-napa. Kok rintangannya gini amat yak. Huhuh -.- tanganku lumayan sakit gitu karena nahan  distraksi itu.

Akhirnya sampai juga ke lokasi wisata dan tempat parkirnya enggak ada yang indoor, yaudah dehlah, dan aku udah putus harapan banget, lha iya orang baju basah kuyub banget, Kita langsung menuju ke toilet buat benahin semuanya. Pokoknya riweuh bangetlah. Hhhhhh

Pas kita udah ngerasa lumayan rapih walau basah, kita sholat dzuhur dulu, selesai sholat ternyata cuaca akhirnya cerah. Aku girang banget. Dan mulailah kita menjelajahi Taman Bunga Nusantara Cianjur

Kita beli tiket dulu, kita pilih tiket yang biasa Rp40.000 /1 orang, ada tiket Dotto Train atau Garden Tram yang harganya kalau nggak salah Rp50.000, jadi kalian bisa ngelilingi Taman Bunga dibawa sama kereta, hehe aku sempat foto sama kereta.

DSC05120

Lebih detail mengenai harga tiket bisa cek ke websitenya aja, kalian bisa cari di google. Nah kurang lebih begini harga tiketnya diambil dari website resmi Taman Bunga Nusantara Cianjur. tiket masuk (usia 4 tahun ke atas) Rp 40.000 | Tiket Dotto Trains Rp 50.000| Tiket Garden Tram Rp 50.000| Parkir Motor Rp 10.000| Parkir Mobil Rp 15.000| Parkir Minibus Rp 20.000| Parkir Bus Rp 25.000| Tiket Wara Wiri Rp 5.000|

Taman Bunga Nusantara ini menurut info wikipedia adalah sebuah taman bunga seluas 35 hektare yang terletak dekat Gunung Gede Pangrango dan Kebun Teh Bogor dengan jarak tempuh sekitar 2,5 – 3 jam perjalanan dari Jakarta.

Begitu masuk, kita langsung disambut sama berwarna-warni bunga, dan ada semacam sungai gitu. Ada begitu banyak patung berbagai macam karakter binatang, yang paling menonjol sih ikon Taman Bunga nya, patung bunga Burung Merak.

DSC05194

sebenarnya enggak mau ngelihatin ini foto, langitnya mendung, diambilnya pas mau pulang.hiks

DSC05159

Matahari yang tadi dimusuhin sama hujan akhirnya datang buat ngeringin baju aku sama Kak Ratna. Percayalah, baju kita sampai kering lagi karena lama banget ngelilingin ini Taman Bunga. Sebetulnya kita dikasih semacam buku brosur berisi apa aja sih yang ada di dalam Taman Bunga itu, aku juga pengin banget ngejelasin lebih detail, tapi (ToT) brosurnya kehujanan dan udah aku buang karena rusak.

Taman yang pertama kita kunjungi adalah Taman Mawar, di sepanjang jalan menuju taman-taman itu juga ada bunga-bunga lain, aku yang udah punya cita-cita lama pengin foto sama bunga matahari, akhirnya histeris ketika bunga berkelopak kuning dengan sari berwarna coklat pekat itu menampakkan diri di sudut mataku, Kak Ratna sempat malu gitu karena aku terlalu senang.hahahah maaf ya Kak.

IMG-20170501-WA0051

Ngomong-ngomong, begitu buaaanyak pasangan yang lagi memilih pacaran ke Taman Bunga ini, berasa jomblo ngenes banget gitu, untung ada Kak Ratna yang bisa aku gandeng, meski dia agak jijik gitu.#enggakding.

Setelah ke Taman Mawar, kita ke Taman Amerika, Lalu ke Taman Dahlia, terus…terus hujan datang lagi. Huweeeeng (ToT)

Kita kejebak di Taman Dunia Anak gitu, di sana ada wahananya(nggak jalan karena hujan), ya cuma numpang foto doang pas hujan reda, sama di sana ada mushola, kita sholat ashar dulu.

IMG-20170501-WA0044

Akhirnya hujan lumayan reda, kita melanjutkan ke Taman Jepang terus tempat terakhir kita yaitu  menara, yang dari atasnya kita bisa lihat sebuah Labirin di bawah. Ya…ya..ada banyak Taman yang aku lewatin, tapi cuma Taman-taman yang tadi itu yang punya kesan lumayan di pikiran.

Kalian kalau mau ke tempat ini, sebaiknya cek dulu prakiraan cuaca hari itu, iya bakal sia-sia kalau hujan. hasil fotonya bakal jelek-jelek. ToT

Akhirnya pukul 17.00 WIB,kita memutuskan buat pulang, sebenarnya masih kurang puas, tapi hari udah sore, dan lumayan mendung. Dan badan juga udah capek, aku bayangin bawa motor buat pulang ke rumahnya bakal bisa nggak ya, ini sebenernya pengalaman pertama bawa ini motor sejauh ini. Sebelum-sebelumnya ya cuma dibonceng, dan ternyata ngeboncengin sejauh ini lumayan bikin remuk badan.hahaha

Taman udah sepi banget, cuma tinggal beberapa pasangan aja, dan sempat aku sama Kak Ratna dimintain tolong buat ngefotoin mereka.hahaha

Sampai di parkiran motor, obrolan masih seputar pasangan yang minta tolong fotoin tadi, Kak Ratna udah sibuk pakai masker dan helm, dan aku awalnya dengan tenang meriksa tas buat ambil kunci motor, eh nggak ada, terus beralih ke sisi lainnya, juga nggak ada, lalu periksa kantong jaket, enggak ada juga, dan kepanikan mulai terjadi, kalian yang mungkin baca dari awal artikel ini dengan seksama, jadi pas kita sampai ke tempat parkiran, keadaan kita beneran lagi ribet banget, dan aku ternyata mungkin dengan tledornya menjatuhkan itu kunci motor. Kak Ratna nyaranin buat periksa lagi pelan-pelan, tetap nggak ada. Di otak kita masing-masing nyari jalan keluar. Kak Ratna bilang

“Mending kita tanya satpam dulu, Au.”

Oke akhirnya aku cepat-cepat ke loket parkiran

 “Pak, nemuin kunci motor nggak?”

Terus akhirnya si bapak itu bilang buat ke satpam atas. Oh maksudnya satpam di pos jaga di atas, aku buru-buru ke sana, dan ketemu sama satpannya, dan ngejelasinlah aku dengan kekacauan pikiran yang sangat amat jelas itu.

Pak Satpamnya nanyain STNK, terus dilihatlah, STNK motor ini pakai nama ibu, kelihatannya pak Satpam berusaha nenangin aku, tapi aku sangat amat panik banget, Kak Ratna juga kelihatan lumayan panik.

“Dari Sukabumi tho, emang ada daerah namanya Cikole?” Tanya Pak Satpam setelah negilhat alamat di STNK

“Ada pak.” ekspresiku mungkin udah enggak banget

“Kenapa bisa ilang kuncinya?”Kata Satpamnya

“Kan tadi pas sampai sini hujan gede, Pak. Kita riweuh gitu Pak, kayaknya kuncinya jatuh.”

“Oooh Sukabumi juga ada kata “riweuh” ya.” Si Pak Satpam sempet-sempetnya deh bercanda . Sementara itu aku udah kalang kabut banget di dalam kepala, kalau misalnya nggak ketemu gimana, apa harus gini terus gitu (ya pokoknya gitulah)

Kita dan Pak Satpam jalan menuju tempat parker motorku, dan emang tinggal motor aku doang di sana.

Di sana Pak Satpam minta keterangan lebih lanjut detail tentang gimana kira-kira hilangnya itu kunci motor. Aku langsung nyerita panjang lebar

“Kan kita sampai sini tuh pas hujan gede, Pak. Terus aku lepasin dulu jas hujan, kuncinya aku taruh di sini (nunjukin tas), terus jas hujannya aku masukin ke bagasi, habis itu aku ambil payung di tas, terus udah deh lupa enggak tahu itu kunci, soalnya habis itu kita ke toilet pak.”

Si Pak Satpamnya kayak nahan ketawa gitu”Terus gimana lagi?”

Kak Ratna yang awas dan perhatian sama ekspresi itu Pak Satpam langsung bilang gini “Pak…kuncinya ada kan, Pak?”

Si Pak Satpam ketawa, sambil gerak-gerakin tangan “Biar dia nyerita dulu.”

Terus aku ikutan histeris “Aaaah…Pak, gimana ini kuncinya di mana?”

Kata Pak Satpam yang berubah kembali ke wajah bijaknya ngejelasin bahwa…tadaaaa (Kunci keluar dari kantong celananya) Petugas kebersihan nemuin itu kunci jatuh di sekitaran motor ini, terus kata Pak Satpam, dia nemuin 20 kunci motor hari ini. Astagaaaaaaa dan salah satunya kunci motor oweee. ToT (nangis bahagia)

Pak Satpam ngingetin kita mengenai “uang terimakasih” yang nanti bisa disampaikan ke orang yang nemu itu kunci motor, aku ngasih sekadarnya. Yang jelas aku berterimakasih banget sama yang nemuin kunci motorku, bayangin kalau misalnya itu kunci motor nggak ketemu, ongkos pakai kendaraan umum lebih mahal coy. Setelah pamit sama Pak Satpam akhirnya sekitar pukul 17.50, kita pulang dengan perasaan campur aduk, dan sepanjang 1 Km jalanan menuju pulang obrolan masih berputar sekitar insiden hilang kunci motor tadi.

Pada akhirnya kejadian yang memalukan itu bisa diketawain juga.

Pokoknya kalian jangan sampai tledor. Terus jangan kehilangan fokus karena terlalu senang sampai di tempat wisata.

Yah anggap ajalah aku ini lagi apes banget.

Oke gitu aja cerita yang mungkin sangat berlebihan ini. Terimakasih sudah mau-maunya baca sampai beres. Terimakasih juga yang Cuma lihatin fotonya aja, terimakasih dan terimakasih, guys.

Sampai jumpa di postingan selanjutnya. See You.

Explore Sukabumi, Curug Cibereum, Selabintana 06 Januari 2017

Explore Sukabumi, Curug Cibereum, Selabintana 06 Januari 2017

Hai Readers 🙂

Apa kabar?, Selamat Tahun Baru 2017, ya? Ehehe telat ya ucapannya, iya gak papa kan?. Semoga di tahun baru ini, wishlist yang udah tertunda di tahun-tahun sebelumnya bisa kesampaian ya. Aamin. Tahun ini jangan bikin wishlist panjang-panjang, nanti kelelahan menuhinnya. Good Luck readers 🙂

Oke kali ini, gue bakal mengawali 2017 di Biru Pupus dengan postingan jalan-jalan alakadarnya ke salah satu air terjun di Sukabumi. Yap betul sekali, Curug Cibereum, Selabintana.

Ada yang ingat atau pernah baca postingan gue mengenai perjalanan gue yang ke Curug Cibereum, Cibodas? Kalau belum baca coba klik di sini. Jadi Curug Cibereum yang ada di Ciboadas dan Selabintana ini saudaraan, guys. Kata bapak-bapak penjaga tiket, bilang gini air terjunnya punggung-punggungan, gue enggak tahu itu bener apa enggak. Tapi fakta yang gue temuin berdasarkan perbandingan kedua Curug Cibereum berbeda tempat ini adalah Curug yang ada di Selabintana jauh lebih tinggi daripada Curug yang ada di Cibodas. Langsung aja gue ceritain perjalanan gue ke sana.

Kamis, 06 Januari 2017

Curug Cibereum, Selabintana ini juga berada di kawasan TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango), lebih tepatnya Curug Cibereum berada tak jauh dari Pondok Halimun (tempat perkemahan).  Enam tahun yang lalu gue udah pernah ke sini, dan medannya emang amazing banget.  Kali ini gue ngetrip bareng adik gue, yap betul, ini adalah perjalanan pertama bareng itu bocah. Kita cuma bawa minum 3 botol, nasi sama ayam. Gue khawatir sih bawa nasi sama ayam, takutnya nasinya habis dimakan ayam #krik..krik..krik

Pukul 09.00 WIB kita menuju ke Pondok Halimun, enggak terlalu lama dari pusat kota. Jalannya juga mudah, tinggal lurus aja ke arah Selabintana, lalu belok ke arah Pondok Halimun, sampai mentok jalannya, ya gitulah pokoknya, kalian bisa cari tahu lokasi tepatnya di google maps.

DSC04738.JPG

Masuk ke sana di tarik uang Rp 8000/1 motor beda lagi kalau jalan kaki dari gerbang ke pintu masuk menuju tracking Curug Cibereum Cuma Rp 3000/orang, tapi ya jauh guys, mending pakai kendaraan, dari gerbang masuk ini, masih jauh lagi ke tempat parkir kendaraan. Harus melewati perkebunan teh yang luas dulu.

Sampai di parkiran motor, gue masrahin motor dulu ke bapak-bapak penjaganya, enggak berlama-lama, kita langsung memulai perjalanan yang cuma berdua doang ini. Jadi sebenarnya sudah ada gerbang resmi penarikan uang tiket masuk, arahnya ke kiri, tapi gue ngebawa adik gue buat pakai jalan kanan, toh sama aja, nanti di pos satu juga ada orang yang narik tiket juga. Jarak ke Curug Cibereum dari area parkir adalah 2 Km lebih.

dsc04739

Kalau lewat kanan, kita bisa nemuin tempat lapang yang bisa di pakai tempat kemah, setelah melalui tempat lapang ini jalanan yang di tempuh memang ngeri sih, jalanannya rimbun, dan bisa bikin kesasar, Kita dua kali salah belok, soalnya jalanannya kecil, dan lumayan tertutup semak-semak, sempat gue mau narik adik gue buat balik ke tempat asal buat jalan ke tempat resmi itu, tapi enggak jadi, soalnya gue berkeyakinan, ini jalan udah benar, soalnya enam tahun yang lalu gue sama temen-temen SMP gue juga lewat sana, asli seram, tapi enggak lama dari sana, kita juga ketemu jalanan yang resmi kok, batu-batuan yang tersusun rapih menuntun kita menuju ke Curug Cibereum. Yap dari sana jalanan nanjak terus, bikin frustasi yang jarang olah raga. Adik gue untungnya anak pramuka teladan yang enggak manja, jadi enggak ngerepotin, malah gue yang sering minta berhenti dan minum sebentar. BTW kalian jangan ikut-ikutan lewat jalanan mengerikan itu ya, ya tapi kalian bisa menikmati lapangan luas sih, tapi jangan ya.

Setengah jam lebih perjalanan nanjak terus akhirnya kita sampai di pos satu ketinggian 1320 mdpl, di sana di tanyain, udah bayar tiket belum di bawah. Kalau belum belum berarti mesti bayar di sana.

dsc04754

Harga tiketnya Rp 16.000/satu orang. Gue biasanya foto tiket di sana, tapi lupa, ini gue fotoin tiketnya baru aja.

dsc04899

Oya di pos ini, kita bisa nemuin sinyal, kata bapak penjaga pos, di pos ini emang ada sinyal, tapi ke atas lagi bakal susah sinyal.

Di pos ini, kita agak lama berhentinya, soalnya lelah banget, di tambah lihat tanjakan berikutnya tambah lemas. Huahaha. Kalau dibandingin perjalanan gue ke beberapa Curug lainnya, kayak gini

Curug Sawer < Curug Cibereum, Cibodas < Curug Cibereum, Selabintana

Curug Cibereum, Selabintana emang yang paling mantap dari yang lain, sejauh ini.

Okay sekitar 10 menit berhenti, akhirnya kita memutuskan buat segera melanjutkan perjalanan,

dsc04756

Beberapa kali berhenti, kita berhenti di bukan pos bayangan, tapi duduk aja ngedeprok di jalan, soalnya capek, adik gue sempat kegigit pacet tapi enggak kenapa-napa, pacetnya lansung bisa lepas. Jadi kalau mau ke Curug gini,bagusnya pakai sepatu plus kaos kaki panjang guys, pacet mengintai soalnya. Hehe

dsc04751

Jalanan masih nanjak terus, ngarep banget ada turunan, atau jalanan datar. Dan benar aja, jalanan datar sama jalanan turun itu ada sekitar 500 meter sebelum Curug Cibereum.

Kalau kaki dipakai nanjak terus kemudian tiba-tiba dipakai jalanan turunan, lututnya jadi lemas, dan patut waspada.

dsc04760

Nah Curug Cibereum, Selabintana ini memang lucu banget, sebelum benar-benar sampai ke sana, kita harus melalui tanjakan yang beneran beda dari sebelum-sebelumnya, ada air yang bikin licin batu-batunya, jadi harus memastikan pijakan kita yang benar, jadi asik semacam ujian sebelum hadiah.

Yap akhirnya sampai juga. Dan betulan indah banget Curug ini. Curug Cibereum memiliki ketinggian 60 meter. Destinasi yang enggak jauh dari pusat kota tapi emang perlu perjuangan sedikit (what dikit?) ini, wajib kalian kunjungi kalau kalian di Sukabumi.

c1fdzngukaieplx

Di sana belum banyak orang, sekitar pukul 10.30 WIB, Kita memutuskan buat duduk dulu di salah satu batu besar, lalu foto-foto, dan diam menikmati jatuhnya air dari atas Curug itu enggak bosan-bosan,  kemudian kita menepi dulu ke tempat duduk semen yang ada payonnya, kita makan bekal dari rumah dulu.

DSC04817.JPG

Nah sehabis makan, kita buka sepatu buat nyeburin diri ke air mengalir di bawah Curug, dan asli dinginnya itu beda, lebih dingin ketimbang Curug yang lainnya, entah perasaan aja atau beneran.

Puas main air, ada tukang bakso kulub yang akhirnya datang jualan di sana, kita beli 10.000 dapat empat biji bakso, dan lumayan enak, pas kita makan bakso orang-orang berdatangan, Curug semakin ramai, meski enggak seramai Curug Cibereum, Cibodas.

DSC04850.JPG

Pukul 12.00 WIB kita akhirnya memutuskan buat pulang. Meski sebenarnya masih pengin lama-lama di sana, padahal udah mulai ramai orang, tapi harus cepat-cepat pulang, di sana enggak ada tempat buat sholat, adanya cuma toilet yang enggak jauh dari air terjun, dan tempatnya bersih, airnya melimpah. hehehe Yap kita pulang, dan perjalanan lebih mudah daripada keberangkatan.

img_20170105_115531

Gue kasih tahu rahasia, kalian tahu kan tadi gue bilang, gue pernah ke sini 6 tahun yang lalu, itu pas gue lulus SMP, dan merayakan kelulusan ke Curug ini, dan sebelum tracking sejak awal salah satu dari rombongan gue bawa pilok, emang sengaja buat coret-coret baju, nanti pas sampai Curug. Iya tindakan yang sangat buruk. Tapi gue enggak ikutan, nah sebelum menemukan tanah lapang rumput hijau itu, ada beberapa bangunan warung, nah pas waktu itu si Kharisma bikin tulisan gede-gede pakai pilok, tulisannya D’Angela Kids 14.06.10,

yap dan hari itu pas gue turun, gue masih menemukan tulisan itu. Nah anehnya tulisan itu, enggak kebaca pas berangkat, dan malah adik gue yang ngeuh sama tulisan itu, katanya gini “Ini Apa?” Soalnya pas malam gue nyeritain kejadian itu ke dia sama Ibu sama nenek. Huahaha, gue seneng banget masih bisa nemuin itu tulisan. Dan kalian tahu tindakan vandalisme tidak boleh dilakukan di manapun itu, maklumi ya waktu itu geng SMP gue masih piyik-piyik. :D. Ohiya, petugas waktu itu berhasil menyita salah satu pilok kita kok, ehehehe meski tetap coret-coret pakai 3 pilok lainnya yang enggak kesita. Pokoknya jangan ditiru ya.

Ini perjalanan pertama bareng adik, gue acungi jempol buat dia, soalnya dia beneran kuat, dan enggak manja. Curug Cibereum, Selabintana lebih punya kesan mendalam, entah kenapa. Mungkin gue lagi frustasi, dan menemukan hiburan.

Kalian ingat kan, tadi gue sempat sebut perkebunan teh, yap, kita emang memutuskan buat foto di sana sepulang dari Curug, enggak lama sih, soalnya badan udah lelah.

dsc04888

Oke guys. Semoga kalian kepincut sama postingan ini, dan berniat mengunjungi Sukabumi. Dan masih banyak tempat lain yang belum gue kunjungi di Sukabumi. Terimakasih sudah mau-maunya baca 🙂 See you next post.

Sudah Baca Berapa Buku Tahun ini?

Holla readers…

Kali ini gue bakal sharing tentang buku-buku apa aja sih yang gue baca di tahun 2016 ini, tapi yakinlah setelah dipikir-pikir harusnya gue bukan cuma baca novel, buku kumpulan cerpen, buku kumpulan puisi doang.

Kata Mas Wahyu(sepupu gue), kalau mau tulisannya berkembang juga harus mau baca buku-buku sosial. katanya begini “Novel-kan sebuah karya pemikiran, dek!” , terus lanjutnya “penulis-penulis novel yang terkenal itu juga kan enggak melulu novel yang dibacanya.”

Waktu ke Gramedia Karawang Mas Wahyu nawarin Mandilog-Tan Malaka, belum apa-apa gue udah pesimis bakal ngantuk bacanya, lain kali ajalah belinya. Jadi wishlist gue di tahun ini banyak yang enggak kesampaian, gue udah lama mimpi jadi novelis XD. Tapi tahu sendirilah ya, tulisan aja masih acak kadut begini. Untuk mengobati kepahitan susahnya jadi penulis, gue memilih buat banyak baca, meski tahun ini gue khilaf, baru mulai baca buku pas bulan Februari. Yok gue mulai aja apa aja sih buku yang gue baca, mudah-mudahan masih ingat.

  • Tere Liye-Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Februari 2016 –Buku ini gue baca di handphone melalui aplikasi yang namanya i-Jakarta.  Gue tahu aplikasi ini dari sahabat gue, si Ida Ayu Zahrotun Na’im. Gue udah sejak 2015 baca di i-Jakarta (kadang suka baca di sini), kebetulan gue inget bahwa di 2016 belum baca buku sama sekali selain buku-buku pelajaran ToT, i-Jakarta menyelamatkan gue dari kemalasan baca.

Kenapa gue pilih buku ini buat gue pinjam?, sebab gue penasaran, waktu itu lagi panas banget, pro kontra mengenai buku kumpulan puisi Tere Liye ini, buku ini  memang laku keras tetapi banyak dinyinyirin

  • Melihat Api Bekerja- M. Aan Mansyur

Maret 2016- buku kumpulan puisi ini juga gue pinjam di i-Jakarta. Waktu itu, buku ini adalah bahan nyinyirin kumpulan puisinya Tere Liye. Jadi kedua buku kumpulan puisi tersebut diperbandingkan satu sama lain.

  • 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki –Djenar Maesa Ayu

chmzixuuuaax0iu

Mei 2016 , Jadi selama gue kuliah, gue belum pernah ngegunain kartu perpustakaan gue buat meminjam buku, dodol banget, dan rugi banget nggak tuh?, nah permulaan peminjaman buku gue di Perputakaan kampus adalah buku kumpulan cerpen kolaborasi Djenar Maesa Ayu bersama 14 laki-laki penulis.

Hu um….Djenar Maesa Ayu memang genrenya vulgar, yang belum 17 tahun baiknya jangan baca.

Ada yang nanya nggak?, itu kenapa foto bukunya ada Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan?, baiklah gue jawab XD. #padahalenggakadayangnanya

Gue minjam 2 buku itu bersamaan, dan tahu sendiri, dalam seminggu buku itu harus udah balik lagi ke Perpustakaan, dan gue enggak sempat nyelesaiin Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan, hehe sebenarnya bisa diperpanjang lagi, tapi waktu itu entah kenapa enggak gue perpanjang lagi peminjaman Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan. Padahal gue lagi penasaran sama Eka Kurniawan, lha wong Eka Kurniawan masuk nominasi Man Booker Prize 2016 dengan bukunya yang berjudul Lelaki Harimau.

  • Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

cjj5sxmuuaaat4s

Mei 2016, gue minjam buku kumpulan cerpen para maestro sastra dunia ini dari perpustakaan kampus. Gue akui ini bacaan berat pertama di 2016 gue. XD

 

 

 

 

 

 

 

  • Koala Kumal-Raditya Dika

ckrdfryveaabrir

Juni 2016, lagi-lagi gue minjam novel ini dari Perpustakaan kampus. Kenapa gue minjam buku ini?, soalnya gue lagi butuh ketawa, dan Alhamdulillah gue bisa ketawa. Selain itu, juga karena novel ini difilmkan. Dan gue enggak nonton filmnya

—.—v

  • Sang Alkemis- Paulo Coelho

Juli-2016, Gue baca buku ini di ebook yang gue dapatkan di
internet secara gratis, mudah-mudahan legal, kalau tidak legal, saya mohon maaf karena saya sudah sangat kebelet ingin baca buku ini.

“Saat seseorang menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya.” ― Paulo Coelho, The Alchemist – Sang Alkemis.

  • Pulang-Tere Liye

ckvkwb5vaaer4k4

Juli 2016, iya iya gue minjam lagi novel dari perpus kampus, baguskan? Kartu perpustakaan gue enggak bakal sia-sia.

Salah banget gue baca novel ini, ketika lagi kangen banget sama seseorang #eaaa. Padahal mah enggak ada hubungannya, novel ini tebal, dan Alhamdulillah gue bisa nyelesaiin dalam seminggu, maklum sibuk.

Omong-omong, gue di sini cuma mau ngasih tahu aja apa yang gue udah baca, gue enggak bisa bikin resensinya, maafkan 🙂

  • Raden Mandasia-Yusi Avianto Parenoman

img_20160727_130956

Juli-2016 Gue beli buku ini, yeaayy akhirnya audhi enggak minjam. Hahaha

Buku ini mondar-mandir melulu di timeline, Bernard Batubara, Dea Anugrah, dll yang sudah baca dan  meresensi novel ini bikin gue ngiler pengin beli. Dan gue enggak menyesal baca buku ini, ceritanya sangat……seperti kata Sungu Lembu pas makan masakan Raden Mandasia…LUHUR. Banyak bagian yang vulgar, tapi itu semua demi keutuhan cerita, dan malah jadi kaya rasa.

  • Dilan 1990-Pidi Baiq

Gue lupa, bulan apa gue baca buku ini, yang jelas tahun ini kok. Dan gue asli jatuh cinta sama Dilan langsung. Sebenarnya telat tapi tidak ada kata terlambat untuk mencintai. Hoahaha, gila kali ya?

  • Kisah Sang Penandai-Tere Liye

Juli 2016, buku ini gue dapat di internet, ebook gratis, maaf kalau ilegal. Indonesia sebenarnya darurat buku murah XD, biar pembaca kere seperti saya enggak baca e book ilegal.

  • Di bawah Lindungan Ka’bah- Buya Hamka

Juli 2016, gue baca dari e book yang gue dapat di internet.

  • Burung Terbang di Kelam Malam-Arafat Nur

csj48zbviaaho6g

September 2016, lagi-lagi audhina minjam buku di Perpus kampus XD. Kenapa gue pinjam buku ini?, gue penasaran sama Arafat Nur salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 atas Novelnya yang berjudul Lampuki.

Di Novel ini Arafat Nur seperti menyisipkan curahan hatinya sebagai penulis novel.

  • Nyanyian Akar Rumput- Wiji Thukul

September 2016, gue meminjam buku kumpulan puisi ini di i-Jakarta. Kalau dipikir-pikir gue baru sadar, gue ternyata udah minjam buku lumayan banyak, entah di perpustakaan maupun di i-jakarta.

Di dalam buku kumpulan puisi Wiji Thukul yang seorang sastrawan dan aktivis HAM menyadarkan bahwa keadaan dulu sama sekarang masih sama saja, Pemerintahan pada masa itu juga tak ubahnya Pemerintah masa kini, buruh-buruh pabrik yang tersiksa dan banyak hal yang terangkum apik dalam buku kumpulan puisi ini.

  • The Not-So-Amazing Life of @aMrazing- Alexander Thian

cunxq2uxgaepu0a

Oktober 2016, gue beli buku ini dari obralan murah. Buku ini udah lama banget padahal, dan gue baru baca, sunguuuuh terlalu.

  • Dilan 1991-Pidi Baiq

ct1ea9ruaaqzlgs

Oktober 2016, buku ini gue pinjam dari Perpus Kampus. Dan kecintaanku pada Dilan semakin mendalam setelah baca ini. Hmmmm jadi audhina adalah orang kurang update sedunia mungkin ya, Milea-Suara Dilan(lanjutan novel ini udah terbit dan gue baru baca yang ini?), bodo amat. Tulisan bagus akan tetap bagus setelat apapun pembaca membacanya.

  • Istanbul-Orhan Pamuk

dsc04346

November 2016, gue beli buku ini sudah lama, dan novel ini belum juga selesai kubaca, stuck di halaman 150.

  • Rindu-Tere Liye

img_20161126_223110

November 2016, gue pinjam novel ini di perpus kampus, hehe. sepertinya gue ngefans Tere Liye? iya enggak?. enggak tahu juga sih :D. Novel ini bikin gue kangen seseorang.

“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”
― Tere Liye-Rindu

  • Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer

Desember 2016, selain perpustakaan kampus, gue juga punya kartu keanggotaan Perpustakaan Kota Sukabumi, dan baru saat itu buku biografi yang gue pinjam dari sana, soalnya biasanya minjam buku pendukung perkuliahan.

  • Gergasi-Danarto

czon_stukaa4kal

Desember 2016, Buku kumpulan cerpen ini benar-benar membuat pergi ke dunia entah apa itu. Gue tulisin deh blurb buku ini

“Cerpen-cerpen Danarto bisa bermula dari kehidpan sehari-hari, lalu tersesat di dunia entah yang tidak dikenali. Ia membawa kita menjelajah dunia yang tak nyata. Nikmatilah kumpulan cerpennya yang memberi warna baru dalam khazanah sastra ini.”

Gue dapat buku ini dari menang kuis puisi di twitternya pak edi (divapress), baru kali ini gue ngerasain menang kuis, senang rasanya, yang penasaran sama puisinya klik di sini

  • Mawar Hitam-Candra Malik

dsc04662

Desember 2016, Buku ini dibeliin Mas Wahyu. Buku kumpulan cerpen ini masih gue baca saat ini, harus perlahan buat menikmati kata demi kata yang terangkai di buku ini.

“Candra Malik adalah sastrawan sufi. Karena itu, barang siapa membaca buku Mawar Hitam, perlu merenung, bukan sekadar membaca”-Budi Darmawan (sastrawan)

 🙂

Naaah itu buku-buku yang sudah gue baca,dan ternyata sedikit ya?, iya dikit banget ToT, di 2017 nanti gue bakal lebih banyak lagi baca buku.

Pengalaman baca gue ini cukup menarik bukan?, sebenarnya enggak ada alasan buat enggak baca, buku tersedia di mana-mana, pastilah di kota kalian masing-masing juga ada perpustakaan, manfaatkanlah.

Di tahun 2016 ini, gue masih juga belum punya penulis favorit, buku siapa aja yang penting bagus, gue baca.

 🙂

Kata Fajar Nugros di salah satu twitnya bilang gini,

“Sebenarnya ya, buku bukanlah trofi. Selesai membaca, kau mestinya memberikannya pada orang lain. Bukan malah dipajang.”

Gitu aja postingan kali ini, sampai jumpa di 2017 :). Ini adalah postingan terakhir Biru Pupus di 2016. Semoga di tahun baru 2017, kita bisa jadi pribadi yang lebih hebat, semoga cita-cita kita tercapai di 2017 :).Aamin

Kapan?

startup-593341_1920

Kapan Terakhir Kali Menulis dengan Bahagia?

Beberapa waktu kebelakang bulan Agustus 2016, salah satu akun twitter yang aku follow yaitu @KampusFiksi menuliskan sesuatu yang menyadarkanku

Jadi kapan terakhir kali kamu nulis dengan bahagia?

Jawabanku saat itu adalah saat aku jatuh cinta, dan itu sudah lamaaaaaaa.

Menulis dengan bahagia itu juga kunci tulisan yang tercipta menjadi bernyawa setidaknya begitu menurutku.  Tapi justru tulisanku ketika bahagia kalah bagus dengan tulisanku ketika sedang sedih. Menulis di sini mungkin lebih ke menulis karya tulis yang butuh nilai enak dibacanya dan kekhasannya gitu, kalau menulis curhatan mah bebas aja, mau pas sedih atau bahagia ya namanya juga curhatan.

Jadi kapan terakhir kali kamu menulis dengan bahagia?

Akhiri 2016 ini dengan tulisan bahagia 🙂

Pantai Pandasari (Bantul, Yogyakarta) dan Pantai Pelabuhan Ratu (Sukabumi,Jawa Barat)

 

Holla readers, kali ini gue bakal ceritain nih tentang dua Pantai berbeda tapi sama-sama di pesisir selatan, dan kalian pasti tahu, Pantai Selatan erat kaitannya dengan legenda Nyai Roro Kidul , tahu lah ya Kidul itu artinya Selatan?

Oke pertama-tama gue bakal ceritain tentang

Pantai Pandasari, Bantul (Yogyakarta)

Kenapa gue bisa ke sini?, ini dikarenakan pas 23 Februari 2016 ada kepentingan keluarga, yang mendadak banget, yang mengharuskan gue sama Ibu buat datang ke Bantul, Yogyakarta (rumah mbah kakung dari pihak bapak), dan gue cuma singgah selama 2 hari, pada hari terakhir itu gue diajak sepupu gue (Mas Wahyu), buat ke Pantai Pandasari, tentu gue enggak nolak lah. Kebetulan Pantai-nya itu cuma berjarak sekitar 3 km aja. Rumah Kakek ada di daerah Sanden, Bantul.

Pantai Pandasari pada pukul 6.30 WIB, masih begitu sepi, waktu itu cuma ada bapak-bapak yang lagi ngemong anaknya, sambil nyuapin anaknya, dan ada gue dan sepupu gue. Gue di sana enggak lama, cuma sejaman. Ombaknya besar, keadaan di sana cukup bersih dan nyaman.

 

Kata Mas Wahyu kalau ke Pantai, si Novan sama Zezen (sepupu gue yang masih kecil-kecil), suka lomba nyari kepiting kecil, yaaah mereka lagi pada sekolah, pas sebelum gue berangkat ke Pantai, si Novan lagi dipakain seragam sekolah. Akhirnya gue ngejar-ngejar kepiting sendirian 😀

dsc02651

Oya di Pantai Pandasari ini, terkenal dengan mercusuarnya, Pantai Pandasari bersisihan dengan Pantai Gua Cemara (read jawa : Guo Cemoro), awalnya gue kira bakal diajak ke Guo Cemoro, pantai yang banyak pohon cemaranya, tapi diajak ke Pandasari, ya enggak papalah, sama-sama keren kok.

Soal mercusuarnya, Kata Mas Wahyu, Mercusuarnya dibuka pukul 08.00 WIB, lagi-lagi gue menelan kecewa, padahal gue pengin banget naik ke atas, soalnya sebelumnya gue diliatin foto-foto kemarin sorenya Mas Indra(sepupu gue juga) pas naik Mercusuar. ToT, yaudahlah lain kali aja.

Pukul 7.00 (mungkin), gue sama Mas Wahyu udah puas liat Pantai, balik ke rumah kakek, dan enggak lama dari itu, gue menuju ke Sleman, Yogyakarta. dari siang sampai sore gue habiskan waku gue buat nemuin sahabat gue Ida Ayu Zahrotun Na’im. Sorenya balik ke Sukabumi.

Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi (Jawa Barat)

Tanggal 27 November 2016

Lagi-lagi gue mendatangi sebuah Pantai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kali ini gue ke Pantai Pelabuhan Ratu bareng anak-anak kuliahan (Mala, Tiara, Encep, Nur, Siti, Rinrin). Rencana buat ke Pantai itu baru dicetuskan pas tanggal 26, dan baru fix jadi berangkat pas pukul 23.00 WIB, asli itu mendadak banget.

Minggu pagi yang harusnya kita berangkat pukul 06.00 WIB jadi ngaret pukul 07.00 WIB, apa penyebabnya, gue akui karena gue ToT, iya jadi gue kesiangan bangun, pas malamnya gue masuk kerja shift malam, dan anak-anak udah pada cemberut aja, terutama Teh Siti, soalnya rencananya kita cuma sebentar aja di sana, karena Teh Siti dan gue harus masuk kerja shift siang di masing-masing tempat kerjaan kita. ToT

Bayangkan, kita berangkat dari Kota Sukabumi pukul 07.00 WIB, dan akhirnya sampai sana pukul 10.00 WIB, kenapa 3 jam?, soalnya ditengah perjalanan ada insiden motor Teh Tiara Mogok, untung bisa nyala lagi. Normalnya dari Kota Sukabumi ke Pantai Pelabuhan Ratu itu bisa 2 Jam, dengan kecepatan yang uwuwuwuwuw, asli kenceng banget. Gue sih dibonceng Teh Siti, Teh Mala—Sama pacarnya, Teh Tiara—sama Teh Rinrin, Teh Nur—Sama A’ Encep.

Gue juga bisa kok bawa motor, tapi mengakui, gue enggak bisa selap-selip selincah mereka, walhasil gue ngejogrok aja deh di belakang. Pas Teh Siti udah capek, akhirnya gue dibonceng A’Encep, dan motor Teh Siti dibawa sama Teh Nur, hahaha pusing ya bacanya?

Sampai sana pukul 10.00 WIB

Jadi Pelabuhan Ratu itu punya Pantai-Pantai yang kece, terserah kalian pilih yang mana :D. Awalnya kita mau ke Karang Hawu yang banyak karang-karangnya dan spotnya memang kece dan rame, nah berhubung kita enggak mau terlalu rame, dan karena ngehemat waktu, akhirnya kita ke Pantai Sunset aja, padahal tinggal bentar lagi ke Karang Hawu, tapi yaudahlah enggak papa Pantai Sunset juga kece kok.

DSC04512.JPG

Kita langsung nyari tempat, di sana kita beli kelapa muda, dan makan masakannya Teh Nur, setelah itu kita main-main, lari-lari enggak jelas di Pantai. Jam segitu d Pantai tu udah termasuk puaaanasss banget, dan kulit gue hitam seketika XD, sebenernya udah hitam, tapi makin hitam. Huahaha.

Pukul 12.00 WIB  gue sama Teh Siti udah mau pamitan pulang duluan, tapi semuanya malah jadi pulang, kata mereka, berangkat bareng, pulang juga bareng atuh, yap akhirnya kita semua pulang pukul 12.00 WIB. Gue ke posisi semula, dibonceng Teh Siti dengan motor maticnya, sampai Kota Sukabumi pukul 14.00 WIB, dan gue encok. Percayalah, kalau dibonceng pakai motor matic itu yang pegel yang diboncengnya.

Dari sana gue bertekad, gue harus bisa bawa motor selap-selip dan ngebut 😀

Orhan Pamuk-Istanbul

dsc04346

Dear you, cobalah untuk berani bangkit, jangan takut akan masa depan, sejarah (masa lalu) tetap kentara meski perubahan-perubahan menimbunnya, seperti Istanbul, tetap istimewa.

“Keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya.”-Ahmet Rasim