Ukuran Keliling Taman Kota Lapang Merdeka Sukabumi

Holla readers 😀

Uhuk! postingan ini dibuat karena termotivasi dari pencarian kata yang menyebabkan si pengunjung nyangkut di blog ini. Aku juga sebenarnya pengin tahu juga apa jawabanya, makannya aku cari tahu. Mengingat blog ini emang random banget isinya, jadi ya nggak ada salahnya.

Jadi berapa meter satu keliling lintasan lari Taman Kota Lapang Merdeka Sukabumi?

Kemarin Jam 06.00 WIB aku sama adikku ke lokasi, rencana ini hampir gagal karena pas  subuh hujan turun,kenapa ya kalau aku niat mau olahraga, selalu aja hujan? Hadeeeeuuh

Sampai sana, udah banyak orang, senam ibu-ibu juga udah dimulai.

Jadi berbekal aplikasi Runtastic, Aku mulai lari dan adikku cuma jalan kaki. Dan terjawablah, satu keliling Taman Kota Lapang Merdeka adalah 300 meter. Dan ternyata aku cuma kuat 1,2 Km alias 4 keliling. ToT

Mata udah berkunang-kunang, perut keram, yaelah neng! suka pengin marahin diri sendiri, padahal aku pengin ikut lari marathon suatu hari nanti xD. Kalau kata ibuk sih “Ah kamu segala pengin!”.

DSC07935.JPG

Lalu setelah napas udah teratur lagi, aku jalan kaki buat mengambil gambar kegiatan di sekeliling Taman Lapang Merdeka Sukabumi. Ada yang jual gorengan, ada yang senam, ada yang pacaran, ada yang beneran lari, ada yang survei (gue maksudnya), ada yang duduk aja.

page

Jadi apakah tulisan ini akan bermanfaat nantinya?, semoga saja. Hai kamu yang nyari ini, tinggalin apa gitu kek, komentar kek, terus kepoin deh tulisan-tulisan lainnya, Okeh? #inimaksa.

See you next post 😀

Iklan

Aku Menemukan Malaikat

Sudah dua bulan ini aku menemukan Aurora Aksnes dan aku jatuh cinta sama lagu-lagunya. Berikut tiga lagu yang aku suka diantara semua lagu yang aku suka dari Aurora Aksnes  rieut sugan XD

  1. Murder Song (5,4,3,2,1)

Lagu ini yang pertama banget aku denger, dan aku jadi ikutan depresi dengerin lagu ini. Kayak ngasih tahu akan kepasrahan aja gitu, dan aku dengerinnya sambil lihat video klip nya, lihat ekspresi dia, dan bahasa tubuhnya. Aurora Aksnes ToT greget banget.

  1. Runaway

Yang aku rasa sepertinya lagu ini mengenai move on dari suatu permasalahan, dan rasa kesal, dan lagu ini tentang pulang ke suatu tempat yang seharusnya. Aku lagi-lagi suka sama video klipnya, meski banyak yang bilang gerakan Aurora ini absurd, tapi malah justru itu yang bikin lagunya semakin bernyawa.

  1. Running With The Wolves

Nah kalau lagu ini entah kenapa bikin aku semangat, kayak ngasih kekuatan gitu. Kalau lagi bersih-bersih rumah sambil denger lagu ini bisa nambah cepet nyapunya.ehe

Udah gitu aja, aku Cuma mau ngasih tahu, kalau aku menemukan malaikat, dan itu adalah Aurora Aksnes. 🙂

Terimakasih Semesta, Biru Pupus 5 Tahun :)

DSC06393

Holllaaaaa readers 🙂

Bagaimana tadi harinya? Semoga bagus ya :), soalnya hari ini Biru Pupus ulang tahun

\(0.0)/

Wuhuuuuuuu! sebenarnya audhina-nya lagi sedih, tapi karena barusan dapat notif dari wordpress, ngasih tahu kalau Biru Pupus ulang tahun, galaunya sedikit hilang.hehe

selamat ulang tahun biru pupus

Aku bersyukur ternyata keputusan membuat blog hari ini pada 5 tahun yang lalu membuatku begitu bahagia hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. 🙂

Aku bersyukur menemukan begitu banyak teman dari kegiatan menulis di blog ini, seberapapun aku bersyukur, kebersyukuranku tidak akan mempu cukup untuk berterimakasih kepada semesta. Dan tentu saja kepada pencipta semesta. Allah 🙂

Aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak yakin tangisan ini karena senang atau sedih?

Karena hari ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Senang karena ternyata sudah begitu lama aku mencintai “menulis” sedih karena belum juga bisa menghasilkan karya yang diakui banyak orang.

.

Aku mengucapkan kepada teman-teman semua yang dengan susah payahnya melakukan blogwalking ke Biru Pupus, betapa aku selalu senang bila kalian datang.

Semoga untuk ke depan, Biru Pupus bisa lebih baik lagi dari saat ini. Aamin

.

Untuk kalian semua, jangan lelah dan menyerah untuk menulis ya :). Karena kalian tidak akan tahu manfaat apa yang bisa diberikan dari tulisan-tulisan di blog kalian kepada pembacanya.

 

Daw| Jogja, 01 Agustus 2017

Ramadhan 01: Pelukan Masjid Agung Sukabumi untuk Para Musafir

DSC05446

17.00 WIB, keinginan tertimbun dan terus tertimbun, tapi akhirnya aku berlari ke sana. Masjid dengan kubah terindah di Sukabumi. Aku pikir tidak ada salahnya mencari bahan tulisan-Buka puasa di tempat ini.

17.45 WIB, beberapa pengurus masjid membagikan takjil kepada siapa saja yang melangkahkan kaki ke dalamnya. Mereka hangat.

Sayang sekali terlalu terlambat aku sampai di sini, hingga ceramah yang dapat aku dengar tidak lain hanyalah ujaran sang penceramah supaya semangat berpuasa selama sebulan ini.

DSC05436
Aku tidak begitu tertarik dengan es buah dan juga nasi kotak, padahal masih banyak tersedia bila aku mau mengambilnya. Aku rasa takjil sudah cukup mengenyangkan untuk perut kecil ini.

17.46 WIB, adzan maghrib berkumandang untuk Sukabumi. Aku suka suasana di sini, takjilnya juga enak. Meski aku bukan musafir, aku cuma mau memberitahu kepada para musafir yang datang ke Sukabumi bahwa di sini ada masjid yang akan memberimu pelukan hangat.

Sudah Baca Berapa Buku Tahun ini?

Holla readers…

Kali ini gue bakal sharing tentang buku-buku apa aja sih yang gue baca di tahun 2016 ini, tapi yakinlah setelah dipikir-pikir harusnya gue bukan cuma baca novel, buku kumpulan cerpen, buku kumpulan puisi doang.

Kata Mas Wahyu(sepupu gue), kalau mau tulisannya berkembang juga harus mau baca buku-buku sosial. katanya begini “Novel-kan sebuah karya pemikiran, dek!” , terus lanjutnya “penulis-penulis novel yang terkenal itu juga kan enggak melulu novel yang dibacanya.”

Waktu ke Gramedia Karawang Mas Wahyu nawarin Mandilog-Tan Malaka, belum apa-apa gue udah pesimis bakal ngantuk bacanya, lain kali ajalah belinya. Jadi wishlist gue di tahun ini banyak yang enggak kesampaian, gue udah lama mimpi jadi novelis XD. Tapi tahu sendirilah ya, tulisan aja masih acak kadut begini. Untuk mengobati kepahitan susahnya jadi penulis, gue memilih buat banyak baca, meski tahun ini gue khilaf, baru mulai baca buku pas bulan Februari. Yok gue mulai aja apa aja sih buku yang gue baca, mudah-mudahan masih ingat.

  • Tere Liye-Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Februari 2016 –Buku ini gue baca di handphone melalui aplikasi yang namanya i-Jakarta.  Gue tahu aplikasi ini dari sahabat gue, si Ida Ayu Zahrotun Na’im. Gue udah sejak 2015 baca di i-Jakarta (kadang suka baca di sini), kebetulan gue inget bahwa di 2016 belum baca buku sama sekali selain buku-buku pelajaran ToT, i-Jakarta menyelamatkan gue dari kemalasan baca.

Kenapa gue pilih buku ini buat gue pinjam?, sebab gue penasaran, waktu itu lagi panas banget, pro kontra mengenai buku kumpulan puisi Tere Liye ini, buku ini  memang laku keras tetapi banyak dinyinyirin

  • Melihat Api Bekerja- M. Aan Mansyur

Maret 2016- buku kumpulan puisi ini juga gue pinjam di i-Jakarta. Waktu itu, buku ini adalah bahan nyinyirin kumpulan puisinya Tere Liye. Jadi kedua buku kumpulan puisi tersebut diperbandingkan satu sama lain.

  • 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki –Djenar Maesa Ayu

chmzixuuuaax0iu

Mei 2016 , Jadi selama gue kuliah, gue belum pernah ngegunain kartu perpustakaan gue buat meminjam buku, dodol banget, dan rugi banget nggak tuh?, nah permulaan peminjaman buku gue di Perputakaan kampus adalah buku kumpulan cerpen kolaborasi Djenar Maesa Ayu bersama 14 laki-laki penulis.

Hu um….Djenar Maesa Ayu memang genrenya vulgar, yang belum 17 tahun baiknya jangan baca.

Ada yang nanya nggak?, itu kenapa foto bukunya ada Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan?, baiklah gue jawab XD. #padahalenggakadayangnanya

Gue minjam 2 buku itu bersamaan, dan tahu sendiri, dalam seminggu buku itu harus udah balik lagi ke Perpustakaan, dan gue enggak sempat nyelesaiin Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan, hehe sebenarnya bisa diperpanjang lagi, tapi waktu itu entah kenapa enggak gue perpanjang lagi peminjaman Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan. Padahal gue lagi penasaran sama Eka Kurniawan, lha wong Eka Kurniawan masuk nominasi Man Booker Prize 2016 dengan bukunya yang berjudul Lelaki Harimau.

  • Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

cjj5sxmuuaaat4s

Mei 2016, gue minjam buku kumpulan cerpen para maestro sastra dunia ini dari perpustakaan kampus. Gue akui ini bacaan berat pertama di 2016 gue. XD

 

 

 

 

 

 

 

  • Koala Kumal-Raditya Dika

ckrdfryveaabrir

Juni 2016, lagi-lagi gue minjam novel ini dari Perpustakaan kampus. Kenapa gue minjam buku ini?, soalnya gue lagi butuh ketawa, dan Alhamdulillah gue bisa ketawa. Selain itu, juga karena novel ini difilmkan. Dan gue enggak nonton filmnya

—.—v

  • Sang Alkemis- Paulo Coelho

Juli-2016, Gue baca buku ini di ebook yang gue dapatkan di
internet secara gratis, mudah-mudahan legal, kalau tidak legal, saya mohon maaf karena saya sudah sangat kebelet ingin baca buku ini.

“Saat seseorang menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya.” ― Paulo Coelho, The Alchemist – Sang Alkemis.

  • Pulang-Tere Liye

ckvkwb5vaaer4k4

Juli 2016, iya iya gue minjam lagi novel dari perpus kampus, baguskan? Kartu perpustakaan gue enggak bakal sia-sia.

Salah banget gue baca novel ini, ketika lagi kangen banget sama seseorang #eaaa. Padahal mah enggak ada hubungannya, novel ini tebal, dan Alhamdulillah gue bisa nyelesaiin dalam seminggu, maklum sibuk.

Omong-omong, gue di sini cuma mau ngasih tahu aja apa yang gue udah baca, gue enggak bisa bikin resensinya, maafkan 🙂

  • Raden Mandasia-Yusi Avianto Parenoman

img_20160727_130956

Juli-2016 Gue beli buku ini, yeaayy akhirnya audhi enggak minjam. Hahaha

Buku ini mondar-mandir melulu di timeline, Bernard Batubara, Dea Anugrah, dll yang sudah baca dan  meresensi novel ini bikin gue ngiler pengin beli. Dan gue enggak menyesal baca buku ini, ceritanya sangat……seperti kata Sungu Lembu pas makan masakan Raden Mandasia…LUHUR. Banyak bagian yang vulgar, tapi itu semua demi keutuhan cerita, dan malah jadi kaya rasa.

  • Dilan 1990-Pidi Baiq

Gue lupa, bulan apa gue baca buku ini, yang jelas tahun ini kok. Dan gue asli jatuh cinta sama Dilan langsung. Sebenarnya telat tapi tidak ada kata terlambat untuk mencintai. Hoahaha, gila kali ya?

  • Kisah Sang Penandai-Tere Liye

Juli 2016, buku ini gue dapat di internet, ebook gratis, maaf kalau ilegal. Indonesia sebenarnya darurat buku murah XD, biar pembaca kere seperti saya enggak baca e book ilegal.

  • Di bawah Lindungan Ka’bah- Buya Hamka

Juli 2016, gue baca dari e book yang gue dapat di internet.

  • Burung Terbang di Kelam Malam-Arafat Nur

csj48zbviaaho6g

September 2016, lagi-lagi audhina minjam buku di Perpus kampus XD. Kenapa gue pinjam buku ini?, gue penasaran sama Arafat Nur salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 atas Novelnya yang berjudul Lampuki.

Di Novel ini Arafat Nur seperti menyisipkan curahan hatinya sebagai penulis novel.

  • Nyanyian Akar Rumput- Wiji Thukul

September 2016, gue meminjam buku kumpulan puisi ini di i-Jakarta. Kalau dipikir-pikir gue baru sadar, gue ternyata udah minjam buku lumayan banyak, entah di perpustakaan maupun di i-jakarta.

Di dalam buku kumpulan puisi Wiji Thukul yang seorang sastrawan dan aktivis HAM menyadarkan bahwa keadaan dulu sama sekarang masih sama saja, Pemerintahan pada masa itu juga tak ubahnya Pemerintah masa kini, buruh-buruh pabrik yang tersiksa dan banyak hal yang terangkum apik dalam buku kumpulan puisi ini.

  • The Not-So-Amazing Life of @aMrazing- Alexander Thian

cunxq2uxgaepu0a

Oktober 2016, gue beli buku ini dari obralan murah. Buku ini udah lama banget padahal, dan gue baru baca, sunguuuuh terlalu.

  • Dilan 1991-Pidi Baiq

ct1ea9ruaaqzlgs

Oktober 2016, buku ini gue pinjam dari Perpus Kampus. Dan kecintaanku pada Dilan semakin mendalam setelah baca ini. Hmmmm jadi audhina adalah orang kurang update sedunia mungkin ya, Milea-Suara Dilan(lanjutan novel ini udah terbit dan gue baru baca yang ini?), bodo amat. Tulisan bagus akan tetap bagus setelat apapun pembaca membacanya.

  • Istanbul-Orhan Pamuk

dsc04346

November 2016, gue beli buku ini sudah lama, dan novel ini belum juga selesai kubaca, stuck di halaman 150.

  • Rindu-Tere Liye

img_20161126_223110

November 2016, gue pinjam novel ini di perpus kampus, hehe. sepertinya gue ngefans Tere Liye? iya enggak?. enggak tahu juga sih :D. Novel ini bikin gue kangen seseorang.

“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”
― Tere Liye-Rindu

  • Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer

Desember 2016, selain perpustakaan kampus, gue juga punya kartu keanggotaan Perpustakaan Kota Sukabumi, dan baru saat itu buku biografi yang gue pinjam dari sana, soalnya biasanya minjam buku pendukung perkuliahan.

  • Gergasi-Danarto

czon_stukaa4kal

Desember 2016, Buku kumpulan cerpen ini benar-benar membuat pergi ke dunia entah apa itu. Gue tulisin deh blurb buku ini

“Cerpen-cerpen Danarto bisa bermula dari kehidpan sehari-hari, lalu tersesat di dunia entah yang tidak dikenali. Ia membawa kita menjelajah dunia yang tak nyata. Nikmatilah kumpulan cerpennya yang memberi warna baru dalam khazanah sastra ini.”

Gue dapat buku ini dari menang kuis puisi di twitternya pak edi (divapress), baru kali ini gue ngerasain menang kuis, senang rasanya, yang penasaran sama puisinya klik di sini

  • Mawar Hitam-Candra Malik

dsc04662

Desember 2016, Buku ini dibeliin Mas Wahyu. Buku kumpulan cerpen ini masih gue baca saat ini, harus perlahan buat menikmati kata demi kata yang terangkai di buku ini.

“Candra Malik adalah sastrawan sufi. Karena itu, barang siapa membaca buku Mawar Hitam, perlu merenung, bukan sekadar membaca”-Budi Darmawan (sastrawan)

 🙂

Naaah itu buku-buku yang sudah gue baca,dan ternyata sedikit ya?, iya dikit banget ToT, di 2017 nanti gue bakal lebih banyak lagi baca buku.

Pengalaman baca gue ini cukup menarik bukan?, sebenarnya enggak ada alasan buat enggak baca, buku tersedia di mana-mana, pastilah di kota kalian masing-masing juga ada perpustakaan, manfaatkanlah.

Di tahun 2016 ini, gue masih juga belum punya penulis favorit, buku siapa aja yang penting bagus, gue baca.

 🙂

Kata Fajar Nugros di salah satu twitnya bilang gini,

“Sebenarnya ya, buku bukanlah trofi. Selesai membaca, kau mestinya memberikannya pada orang lain. Bukan malah dipajang.”

Gitu aja postingan kali ini, sampai jumpa di 2017 :). Ini adalah postingan terakhir Biru Pupus di 2016. Semoga di tahun baru 2017, kita bisa jadi pribadi yang lebih hebat, semoga cita-cita kita tercapai di 2017 :).Aamin

Kapan?

startup-593341_1920

Kapan Terakhir Kali Menulis dengan Bahagia?

Beberapa waktu kebelakang bulan Agustus 2016, salah satu akun twitter yang aku follow yaitu @KampusFiksi menuliskan sesuatu yang menyadarkanku

Jadi kapan terakhir kali kamu nulis dengan bahagia?

Jawabanku saat itu adalah saat aku jatuh cinta, dan itu sudah lamaaaaaaa.

Menulis dengan bahagia itu juga kunci tulisan yang tercipta menjadi bernyawa setidaknya begitu menurutku.  Tapi justru tulisanku ketika bahagia kalah bagus dengan tulisanku ketika sedang sedih. Menulis di sini mungkin lebih ke menulis karya tulis yang butuh nilai enak dibacanya dan kekhasannya gitu, kalau menulis curhatan mah bebas aja, mau pas sedih atau bahagia ya namanya juga curhatan.

Jadi kapan terakhir kali kamu menulis dengan bahagia?

Akhiri 2016 ini dengan tulisan bahagia 🙂

Orhan Pamuk-Istanbul

dsc04346

Dear you, cobalah untuk berani bangkit, jangan takut akan masa depan, sejarah (masa lalu) tetap kentara meski perubahan-perubahan menimbunnya, seperti Istanbul, tetap istimewa.

“Keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya.”-Ahmet Rasim

Acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

DSC04280.JPG

“Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman”—Kampus Fiksi

Gramedia Matraman dibuka pukul 09.00 WIB, Gue sama Kak Dini nunggu dari pukul 08.20 WIB :D, kerajinan banget yak. Dipunggung gue sama Kak Dini ada ransel yang berisi laptop, berat coy. Panitia menyarankan kita buat bawa laptop, soalnya nanti ada sesi tantangan menulis cerpen selama satu jam.

Begitu pintu gedung dibuka, kita masuk. Jalan menuju Function Room tempat acaranya dilaksanakan. Acaranya pukul 10.00 WIB, kita mondar-mandir dulu lihat-lihat Gramedia Matraman, meski nggak ada niatan buat beli buku. Ngoahahaha. Koleksinya tergolong lengkap.

Pukul 10.00 WIB semua peserta memasuki ruangan, pesertanya berangsur banyak lebih dari 200 orang. Gue sama Kak Dini akhirnya bisa ketemu teman satu komunitas di Jamaah Typhobia, ada Kak Nanae Zha, Kak Devani, Mei (Alumni KF), Amad Kocil (Almuni KF).

Acara dibuka oleh salah satu editor Penerbit Diva Press (Penerbit Mayor) Mbak Afifah Ve. Bagi kalian yang enggak tahu, apa itu Kampus Fiksi, jadi Kampus Fiksi ini punyanya Diva Press, penggagasnya siapa lagi kalau bukan Pak Edi AH Iyubenu. Kampus Fiksi ini komunitas menulis yang acaranya diselenggarakan di Yogyakarta. Kampus Fiksi sudah memiliki alumni yang karya-karyanya (Novel, Cerpen, Puisi, dll) semakin merajalela, gue merasa kagum sama Pak Edi ini, beliau menyelenggarakan Kampus Fiksi secara gratis, beliau peduli dengan penulis pemula.

Pendaftaran Kampus Fiksi Cuma dibuka setiap beberapa tahun sekali, soalnya setiap angkatan hanya beberapa orang saja, Seleksinya juga ketat, seleksinya melalui penilaian cerpen yang dikirim peserta pada saat pembukaan pendaftaran Kampus Fiksi. Gue sebenernya tahu pendaftaran Kampus Fiksi ada di tahun lalu, tapi gue enggak daftar (ngirim cerpen), tapi ternyata nyeselnya sekarang, gue enggak tahu rasa menyesalnya sebegininya, soalnya alumni Kampus Fiksi  dibimbing sampai punya karya yang terbit. Lebih lengkap mengenai Kampus Fiksi, bisa kalian cari tahu sendiri ya.

Balik lagi ke acara ya. Acara pertama diisi oleh salah satu alumni Kampus Fiksi, Kak Reza Nufa, kalian bisa intip tulisannya di blognya klik di sini.

Reza Nufa ini alumni angkatan pertama Kampus Fiksi, dia sekarang sudah jadi kurator di Sastra Perjuangan. Sharing dari Reza Nufa ini sangat bermanfaat.

Dia menekankan bahwa writersblock itu enggak ada, itu cuma alasan. Kalau mau nulis, menulislah jangan banyak alasan. Lalu meski dia enggak percaya writersblock, kalau dia sudah jengah dengan naskah yang sedang dia tulis, dan dia tipe orang yang enggak mau ribet, dia memilih meninggalkan tulisan itu, meski ada beberapa tulisan yang akhirnya selesai juga.

Kata dia, jangan taruh kaki dua-duanya di genre fiksi-pop, kalau bisa taruh kaki satunya lagi di genre sastra, ya kalau bisa kakimu jadi sepuluh lah, di biografi, di  esai, dll

Ibaratnya kamu taruh dua kaki di situ, kalau kamu kecemplung pasti jatuh, jadi jangan taruh dua kaki di satu tempat.

Menurutnya semua tulisan sekarang ini jenisnya sastra, sebab semua tulisan hari ini bisa jadi sastra di beberapa puluh tahun ke depan.

Kemudian tentang ketahanan saat menulis itu penting. Dalam menulis dia sangat mementingkan playlist lagu yang dia dengarkan, sebab nantinya tulisan itu bergantung pada emosi si penulis juga, bagi pembaca yang peka, pasti akan memahami bahwa tulisan yang misalnya baru diselesaikan setengah, kemudian saat dilanjutkan oleh si penulis (misal dalam keadaan emosi berbeda) tulisan itu akan seperti dipaksakan menjadi ingin cepat selesainya.

Guys, yang gue tangkap dari pembicaraan Reza Nufa cuma segitu, sebenarnya banyak tapi yang nancep di kepala cuma segitu.

Selanjutnya sharing utama dari Pak Edi AH Iyubenu. Gue bakal tulisin apa yang gue rekam di otak gue aja ya. Yok…

dsc04285

Dalam menulis fiksi itu hal utama adalah ide gagasan, sebenarnya ide gagasan tidak ada yang baru, misalnya tentang kangen, ditulis oleh Tere Liye jadi novel Rindu, ditulis oleh Eka Kurniawan jadi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Dan yang membedakan kedua buku itu adalah sudut pandangnya. Tidak ada ide yang benar-benar orisinil. Pak Edi kenal personal sama Tere Liye. Tere Liye menggambarkan hal tersebut kepada Pak Edi, beliau  mengangkat selembar kertas putih, bila dilihat dalam keadaan terang kertas itu berwarna putih, coba saja bila dimatikan lampunya, kertas itu akan berwarna hitam.

Penulis itu harus jadi penafsir dan memengaruhi orang lain.

Penulis yang baik memiliki pengetahuan di atas rata-rata, maksudnya harus berkompetensi terhadap apa yang ditulisnya. Apa saja yang ditulis dengan pengetahuan yang  tidak baik, itu akan jadi tulisan yang memalukan. Misalnya kalian menulis sesuatu yang sangat tidak masuk akal kemudian tulisanmu itu kalian posting dimana-mana, itu seolah kalian sedang melucuti diri sendiri, seperti mengiyakan bahwa kalian bodoh. Orang-orang sekitar kita adalah korektor paling jujur yang kita punya.

Jadi Penulis juga harus santai, nulis itu enggak mesti setiap hari. Tapi sebaiknya punya tabungan ide yang nantinya bisa dituliskan menjadi sebuah naskah.

Penyajian (Teknik Menulis) : alur/plot, penokohan, konflik, setting, ending, logika cerita

Tentang alur dan plot, kalau kalian penulis pemula jangan dulu lah pakai plot loncat-loncat seperti yang dilakukan Eka Kurniawan, takutnya nanti tersesat. Habitkan saja apa yang saat ini kalian bisa.

Penulis pemula sering lupa terhadap penokohan, sebab terlalu memikirkan alur/plot, lupa kegelisahan tokoh, lupa karakter tokoh, pashion tokoh, dll

Tentang ending, Pak Edi sangat membenci dua jenis ending , pertama ending yang tokohnya dibikin mati, dan kedua adalah ending yang tokohnya terlalu dipaksakan bahagia.

Tips penting :

  1. Buat outline dan disiplin dengannya
  2. Pentingnya judul dan kalimat/paragraph pembukaan (opening), dan ending
  3. Tips membuat kalimat lincah : jungkir balikkan kaidah SPOK jangan terjebak pakem
  4. Snapshot dan frase

Tentang Judul

Judul yang baik sangat diperlukan, Pak Edi menggambarkan dengan basabasi.co (situs online yang juga Pak Edi punya), setiap harinya berbagai naskah masuk, kalau digambarkan setiap minggu itu ada ratusan naskah masuk, dan yang dimuat hanya satu saja dalam seminggu. Bagaimana para kurator menyeleksi tulisan tersebut, hal pertama yang mereka lihat adalah Subject emailnya Judul tulisan yang dikirim para penulis. Jika dari judul saja udah enggak banget, bagaimana dengan isi tulisannya.

Bukan bermaksud tidak adil, tapi begitulah kenyataannya, coba saja redaktur yang lainnya pun sama.

Tentang Opening

Pak Edi menggambarkan tentang satu naskah yang masuk ke email basabasi.co , Openingnya sangat menjemukan misalnya : Sinar mentari terbit, burung malu-malu bernyanyi……..

Sebenarnya dulu opening semacam itu memang sah-sah saja, tapi sekarang sastra sudah berkembang, tolonglah jangan terjebak dengan opening yang menjemukan begitu. Banyak cara lebih baik daripada memulai tulisan dengan opening pasaran itu.

Guys, gue mulai lelah ngetik nih, gue langsung ke akhir acara ya. Pak Edi berbicara mengenai apa sih yang bikin penulis itu gagal menyelesaikan tulisan, pertama ide awalnya dangkal, dan kedua adalah penulis tidak menulis dengan alat bantu seperti outline.

Menulis itu suatu kebiasaan, semakin produktif semakin berkualitaslah suatu tulisan.

Suatu tolak ukur, apakah kalian sudah berhasil dalam menulis adalah coba kalian ambil satu Tema dan menuliskannya dalam beberapa ide menjadi beberapa naskah berbeda, inilah yang disebut keluesan dalam berkarya.

Nah itu beberapa hal inti yang Pak Edi sampaikan, sebenarnya banyak, tapi gue mulai lelah ngetik, sebenarnya tips-tips nulis itu begitu-begitu aja kan, kuncinya ya nulis, dan jadikan menulis itu sebagai suatu kebiasaan, dan banyaklah berlatih, nantinya kalian akan mempunyai style tulisan sendiri.

Dan ingat, penulis itu harus punya attitude yang baik.

Acara utama sudah selesai, selanjutnya adalah praktik menulis cerpen dalam satu jam. Afifah Ve bilang, cerpen terbaik dari praktik selama satu jam ini akan mendapat golden tiket Kampus Fiksi Reguler di Yogyakarta.

Gue sangat bersemangat menulis, meski awalnya kebingungan mau nulis apa, sejam itu enggak cukup untuk menulis suatu cerpen. Gue berhasil nulis dua halaman setengah, dan mungkin dipaksakan ending. Selanjutnya cerpen tersebut mencari mentor. Acara itu dihadiri oleh alumni-alumni Kampus Fiksi berdomisili Jakarta, Kebetulan gue, Kak Dini, dan Kak Ratna dimentori oleh Reza Nufa. Sebenarnya Gue, Kak Dini, Kak Ratna, satu komunitas yaitu Jamaah Typhobia yang adminnya itu salah satunya Reza Nufa.

Waktu sangat amat mendesak, gue dan beberapa orang lainnya yang dimentori dia nggak kebagian dikomenin cerpennya oleh Reza Nufa, akhirnya dia bilang, kirim aja ke email dia.

dsc04297

Gue berharap cerpen gue bisa membawa gue ke Kampus Fiksi Reguler melalui jalur golden tiket. Aamin.

Akhirnya acara selesai pukul 16.00 WIB, bukan lantas langsung pulang, kita foto bersama dulu sama Jamaah Typhobia, sama Pak Edi juga.

img-20161107-wa0007

Kak Devani, Kak Dini, Mei, Kak Reza Nufa, Kak Amad Kocil, dan Gue

IMG-20161107-WA0000.jpg

Gue, Pak Edi, Kak Dini, Kak Nanae, Kak Amad Kocil

img-20161107-wa0006

Kak Amad, Gue, Kak Nanae, Kak Dini, dan Mbak Afifah Ve (Editor Diva Press)

Sekitar setengah jam kemudian, kita keluar dari Gramedia Matraman, sholat dulu baru nyari makan. Awalnya Gue sama Kak Dini plus Kak Nae, mau sok-sokan gitu keluar dari gedung dan nyari makan, tapi daripada nyasar (kita gak ada yang tau jalan), kita ngehubungi Kak Amad. Dan ternyata Kak Amad agak lama, kita kayak orang terlantar gitu di depan Gramedia Matraman. XD

Pas Kak Amad datang, dia nyarani supaya makan di tempat dekat situ aja, enggak perlu ribet, Kita (Gue, Kak Din, Kak Nae, dan Kak Amad) akhirnya makan mie ayam di bawah jembatan penyebrangan.

Sekitar pukul setengah enam Gue sama Kak Dini pamit, dan akhirnya berpisah sampai sana saja. Gue masih belum bisa move on dari acara itu. Hahahaha semoga gue bisa ketemu mereka lagi.

Harusnya kita naik Kopaja 502 lagi menuju ke Stasiun Cikini, tapi lama banget enggak muncul juga. Akhirnya Kita memilih naik Bajaj. Dan itu adalah kebahagiaan gue selanjutnya. Gue sebenarnya dari awal pengin banget naik bajaj, tapi baru berkesempatan. Awalnya sopir bajajnya ngasih harga Rp 30.000/2 orang, tapi kita tawar jadi Rp 20.000/2 orang.

DSC04313.JPG

Gue anggap hadiah ulang tahun gue nanti tanggal 13 November itu udah dihadiahi dengan KF Roadshow, ketemu Jamaah Typhobia (Kak Dini, Kak Nae, Kak Devani, Kak Amad, Mei, dan Kak Reza), ketemu Pak Edi, dan yang semakin membahagiakan adalah naik bajaj. :D, buahahahaha

Guys, maafin ya kalau tulisannya kepanjangan, dan penjabaran gue mungkin menjemukan. Terimakasih sudah baca :).

Perjalanan Menuju ke Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

Halo Readers, kali ini gue mau cerita tentang acara seminar kepenulisan yang diadakan Kampus Fiksi di Gramedia Matraman Jakarta Timur. Tapi sebelum itu gue boleh curhat kan perihal keberangkatan gue yang sendirian ini dari Sukabumi?. Iya…ho’oh..gue ini kan dari Sukabumi, lumayan jauh lah ke Jakarta. Awalnya gue mau nginep dulu tuh di kosan temen gue yang kerja di Jakarta, tapi dipikir-pikir buat menuju ke sana lumayan ribet, gue akhirnya dapat solusi lain, yaitu gue ke Bogor dulu, kenapa musti ke Bogor?, pertama karena temen sekomunitas gue di #JamaahThypobia si Kak Dini Meditra ngampus di Bogor dan ngekos di sana (gue bisa nginep di sana), kedua gue jadi punya temen barengan buat nyasar nyari Gramedia Matraman, ketiga dari Bogor ke Jakarta tinggal naik KRL yang mudahnya minta ampun, maklum aja Sukabumi cuma ada angkot, bus, kereta api, sama ojek doang.  Guys di postingan ini gue cuma bakal nyeritain perjuangan perjalanan gue menuju ke Gramedia Matraman, untuk kegiatan seminarnya lebih lengkapnya ada di postingan selanjutnya, atau klik di sini

Tanggal 05 November 2016 pukul 15.00 WIB gue ke stasiun Sukabumi, kereta gue ke Bogor pukul 16.20 WIB, gue musti nukerin tiket gue yang gue beli lewat tokopedia.com di stasiun paling lambat sejam sebelum keberangkatan, catat ya kawan-kawan, yang beli tiket lewat online sebaiknya memang menukarkan sejam sebelum keberangkatan, soalnya yang nyetak boarding pass bukan Cuma yang beli tiket lewat online, yang beli tiket manual juga musti cetak boarding pass, walhasil harus ngantri, antrian semakin panjang mendekati menit datangnya kereta api, makannya jangan suka mepet waktu ya.

Sekitar pukul 15.30 WIB, sudah datang, gue memilih buat nunggu antrian agak lengang, akhirnya masuk kereta pukul 16.00 WIB, di gerbong satu tempat duduk depan gue masih kosong, dan terisi di Stasiun Cisaat. Gue awalnya mau baca buku, ternyata gue capek dan malah tidur. Btw, gue sempet heran gitu, ini gue salah masuk gerbong kagak ya?, soalnya gerbong ekonomi bagus banget keadaannya dan ada AC nya, ya gue pikir sama kayak bus aja giru, ekonomi tu non-AC, dan eksekutif tu ber-AC. Dua jempol deh buat PT.KAI, semoga semakin baik lagi deh. Aamin

Kereta api berangkat sesuai jadwal, pukul 16.20 WIB

Tanggal 05 November 2016 pukul 18.23 WIB, gue sampai Bogor, berhubung gue sama kak Dini belum pernah ketemu, gue udah wanti-wanti Kak Dini kalau gue pakai gamis hitam plus kerudung hitam, dia juga bilang dia pakai jilbab abu-abu. Gue agak deg-degan, maklum gue baru pertama kali keluyuran ke kota orang sendirian begini. Dan ternyata sinyal di sana, masyaallah banget, jelek minta ampun, hilang muncul gitu, tapi untung masih bisa menghubungi telepon lewat WA. Gue nyari-nyari tuh cewek yang pakai jilbab abu-abu, kok kagak ada. Kata Kak Dini, dia ada di dekat loket yang antriannya panjang. Gue mulai curiga, di stasiun Bogor-Kereta Api Indonesia ini ada sih loket, tapi antriannya dikit kok, clingak-clinguk nyariin kak din, dan ternyata dia nungguin guenya di stasiun Bogor-KRL. Hhhhhh

Yha mana bisa ketemu kalau mencari di tempat berbeda, persis seperti dua orang yang saling cinta tapi nggak mau usaha #halahh

Gue akhirnya keluar ke gerbang, ngikutin orang jalan aja, padahal dalam hati, was-was nyasar. Gue sama Kak Din masih terhubung telepon di WA, Ternyata Stasiun PT.KAI sama Stasiun KRL enggak terlalu jauh jaraknya. Kita akhirnya ketemu di jembatan penyebrangan, duh akhirnya ketemu sama Kak Dini. Gue sama dia ketawa nggak habis-habis, konyol banget. Dia bilang, dia baru ngerti, ternyata kalau bukan KRL, berhentinya bukan di stasiun KRL. —.—

Ke Kosannya Kak Dini ini perlu naik angkot dua kali, baru nyampek. Gue sebenarnya kaget banget sama keadaan Bogor yang ramai, maklum Sukabumi ya begitu. Sempet mikir sebenarnya, bisa aja gue di hari H ambil tiket subuh sampai Bogor jam 7 dan  selanjutnya naik KRL bareng Kak Dini, tapi berhubung takut telat dan nyasar, daripada gitu, mending gue nginep dulu dah di kosannya Kak Dini.

Tanggal 06 November 2016 pukul 06.00 WIB, kita udah berangkat menuju stasiun KRL Bogor, sampai sana pukul  06.30 WIB. Kita beli tiket di loket dan bilang ke petugasnya, tujuan kita ke Cikini, harga tiket Bogor-Cikini Rp 16.000. Yap ini juga bakal jadi pengalaman pertama gue naik KRL, KRL ini nyaman sekali, meski lebih goyang ketika jalan dibandingkan Kereta Api Indonesia. Gue duduk di gerbong khusus Wanita. Sampai Cikini pukul 08.00 WIB.

Berhubung itu hari minggu, stasiun lengang banget, antrian di loket penukaran jaminan juga lowong, kita akhirnya menukarkan tiket tadi dengan uang jaminan (apa ya gue belum paham), tapi yang jelas tiket itu bisa ditukarkan dengan uang. Kita dapat uang Rp 10.000, jadi artinya Bogor-Cikini Cuma Rp 6000, canggih nggak tuh?, hahahaha.

Keluar dari Stasiun, kita dengan percaya diri melangkah #eaaa. Kita nyari kopaja nomor 502. Awalnya kita mau naik bajaj, tapi bajaj Rp 20.000/1 orang

Yoweslah ngehemat aja naik kopaja 502, untung dapat kopaja yang kosong dan sopir serta kondekturnya yang bukan tukang tipu, dari stasiun Cikini ke Gramedia Matraman, Rp 4000. Kata Kak Dini, dulu dia pernah kena tipu naik bemo mahal banget. Ya pokoknya sih kalau di kota orang, apalagi Kota Metropolitan, kudu hati-hati.

Turun dari kopaja, Kak Dini ditabrak sama anak-anak kecil yang naik sepeda, gue kaget banget, untung nggak kenapa-napa, dan itu anak yang nabrak malah ngetawain, cukup tau aja anak-anak Jakarta begitu kelakuannya, eitss meski bukan semuanya ya.

Dan kita sampai Gramedia Matraman pukul 08.20 WIB, belum buka coy. Kepagian sampai sana.hhhhh, acaranya pukul 10.00 WIB. Ahelah, nggak papa yang penting selamat deh sampai sana.

Gitu aja ceritanya, postingan selanjutnya bakal nyeritain tentang acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta.  🙂

Perihal Cara Makan Bubur

Hallo Readers, gue lagi pengen nyampah nih. Sebenar-benarnya tulisan ini udah lama didiamkan dikepala, dan baru inget lagi tadi pagi pas lagi sarapan bubur.

Ternyata kebiasaan orang-orang beda-beda dari item di buburnya (do and don’tnya)

Misalnya gue pribadi, bubur jangan pakai seledri, sambel dan kacang, bubur gue kecapnya harus banyak sampai manisnya kerasa lidah, kerupuk enggak pernah absen.

Lalu si Mega(teman kerja), dia ini paling enggak suka daun bawang tapi suka air daun bawangnya, dia anti mecin (MSG), dan kecapnya jangan banyak-banyak.

Kalau Ibuk, buburnya anti sambel sama kacang, yang lainnya oke-oke aja.

Kalau temen waktu SMK, Resni namanya. Dia ini phobia nasi, gue sempet nanya, gimana kalau bubur, phobia nggak?, katanya enggak masalah makan bubur asal dikecapin sampai enggak kelihatan itu bubur asalnya dari beras(cikal bakal nasi).

Mungkin di antara kalian yang baca postingan ini juga ada do and don’t buat buburnya juga.

Garis besar dari postingan ini adalah cara makan buburnya,

Nah cara makan buburnya nih yang bikin gue kepikiran buat bikin tulisan ini, jadi si Mega ini kalau makan bubur, enggak pernah di aduk dulu, enggak kayak khalayak umum, ya gue penganut makan bubur diaduk dululah, biar rata rasanya.

Gue tanya ke dia, emang enak, Ga?

“Enak-enak aja kok, Teh.”lalu nyengir.

IMG_20151025_081715

Buburnya Mega, enggak perlu diaduk langsung santap 😀

C360_2015-09-09-07-04-44-724

Bubur punyaku 😀

 

Ternyata enggak cuma si Mega aja yang doyan makan bubur enggak di aduk dulu, Mbah Wiji(Mbah Buyut) juga anti banget buat ngaduk bubur, dia bahkan muntah kalau lihat orang makan bubur diaduk-aduk dulu, katanya kayak makanan “kirik”, lantas muntah-muntah.

Kenapa sih selera orang berbeda-beda?

Selera bisa berubah-ubah juga?

Gue dulu enggak masalah ada kacang di bubur gue, tapi sekarang enggak pernah ada kacang di bubur gue. Kecepatan makan gue itu leletnya minta ampun, orang-orang sekitar gue bilang itu penyebab gue susah gemuk, hahaha. Jadi kalau bubur ada kacangnya, itu ngunyahnya kelamaan, gue bisa telat ngapa-ngapain. Udah lelet makan, belum nyelesaiin ngunyah kacangnya, telat sudaaahhhh.

Terlepas dari perbedaan selera makanan dan cara makan, bubur adalah makanan terlezat bagi orang-orang yang buru-buru.#halahhh