Tidak Boleh Cengeng

watercolor-1020509_1920

Tema hari ke tujuh, 17 Maret 2017

Yosh! Tantangan Menulisnya selesai. Terimakasih kalian yang 7 hari ini mau-maunya baca tulisan-tulisan singkat di blog ini padahal enggak bermutu banget. Setelah ini, doakan Audhina biar tetap posting di blog ini ya.

Nah inilah tulisan untuk hari terakhir Tantangan Menulis @KampusFiksi.

Mengapa sampai detik ini kamu masih bertahan hidup?

 

Aku juga enggak tahu kenapa aku masih bertahan hidup, maunya menyerah sebenarnya, tapi selalu ingat, bahwa mati belum tentu menyenangkan kalau serba kurang amalnya, kan ngeri. Bisa juga kan aku bunuh diri? tapi itu tindakan bodoh.

Kebaikan Takdir Allah

Aku masih bertahan hidup sampai saat ini karena Allah masih ngasih aku umur, jawaban mainstream banget ya.

2015 Ayah meninggal, dan sekarang 2017, aku sudah 2 Tahun bertahan hidup tanpa ayah. Sampai sekarang selalu khawatir juga, apa ayah baik-baik saja di sana?

Meninggalnya seseorang yang dicintai juga jadi alasanku untuk bertahan hidup. Kalau aku juga mati, nanti berkurang orang yang mendoakan Ayah. Karena aku selalu ingat,

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Makannya sampai sekarang aku masih bertahan hidup, karena aku yakin, aku ada karena aku bermanfaat . hahaha. Kalian ngerasa aku bermanfaat nggak?

Ingin ber-Husnul Khatimah

Aku lagi baca buku karya Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Buku ini berjudul Ikrar Husnul Khatimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia, kebetulan isi bukunya nyambung nih sama tema ini, aku mau menuliskan salah satu paragraf Halaman 69

Barangkali kita belum terlalu berharap bahwa kebanyakan orang akan memproses dirinya sampai pada konsentrasi batiniah terdalam, di mana mereka menyadari bahwa pada hakekatnya kita semua ini tidak ada dan semata-mata hanya ‘di-ada-kan’ oleh-Nya. Sehingga pada konsentrasi yang demikian kita melebur dan lenyap, sampai akhirnya yang benar-benar ada, yang sejati ada, hanya Allah. Dan pada saat itu Allah adalah ‘Aku’, karena ‘aku’ yang makhluk ini sudah lenyap sirna bagaikan Laron yang terbakar oleh dahsyatnya sinar matahari.

Halaman 70

Puncak ilmu orang hidup adalah mengenai maut. Yang paling masuk akal bagi segala perjalanan ilmu adalah kesadaran bahwa sewaktu-waktu akan mati.

Kalau masih dikasih kesempatan buat hidup enggak ada salahnya terus bertahan hidup, kan?

Tentang mati dalam keadaan husnul khatimah ini tentu tidak ada yang menjaminnya, kan?. Jalani apa yang ada dan senantiasa ingat

Bahwa jisim (badan manusia) tidak hidup abadi-Emha Ainun Nadjib

Sehingga membuat kita senantiasa berbuat baik di hadapan Allah.

Sekian tulisan dari tema terakhir ini, terimakasih untuk @KampusFiksi yang selalu bisa memompa semangat menulis kita-kita semua. Terimakasih semuanya. Jangan kangen sama aku. Silakan mampir ke blog ini kalau mau aja. see you next post.

Iklan

24 comments on “Tidak Boleh Cengeng

  1. Temanya sangat filosofis yaah. Pertanyaan2 seperti itu yang mampu membuat kita merenung. Dan jawaban2mu itu super. Karena kita makhluk Allah, punya kehidupan setelah kehidupan yang sekarang

    • pada dasarnyakan manusia itu cengeng semua, kan bang. cuma ada yang menyembunyikan begitu rapat, tapi ada juga yang terang-terangan ngaku cengeng, dan ada yang biasa-biasa aja. XD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s