Yang Menunggu Terlalu Lama

 

15035039_586997858157469_5082677036959399936_n

Tema hari ke lima, 15 Maret 2017

“Ambil sebuah buku terdekatmu. Carilah sebuah paragraf di dalam buku tersebut yang sangat ingin kamu tuliskan dan kenapa kamu memilih paragraf tersebut.”

 

Aku selalu menulis di kamar, ada lumayan banyak buku di belakang tempat aku menulis, tema ini mudah, aku tinggal ambil buku yang paling aku suka di antara semua buku di rak itu.

Yak! Aku mengambil buku favoritku. Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, buku ini adalah kumpulan cerpen karya Norman Erikson Pasaribuan. Aku mau sedikit melenceng dari tema, aku tahu Norman dari cerpennya yang dimuat di Koran Kompas Minggu, 8 Februari 2015 berjudul “CERITANYA” aku jatuh cinta dengan cerpen itu, dan nyari tahu tentang Norman, ternyata dia punya buku juga.

Akhirnya pada tanggal 02 September 2015, pukul 12, menit ke 01, detik ke 25, penjaga kasirnya namanya Mbak Raina.

Iya jauh banget waktunya, aku secara kebetulan nemu buku ini, dan sangat bersyukur nemuin buku ini.

Di halaman 15-16

Satu Paragraf paling favorit dari buku ini

Kalimat itu tidak sopan. Aku bisa saja melapor kepada atasannya. Anda punya pelayan yang bodoh, aku akan berkata, dia menyilakan aku untuk menunggu seumur hidup. Apakah Anda pernah mendengar tentang penantian seumur hidup? Sudah? Anda tahu itu apa? Sangat jelas? Hanya tentang “penantian” dan “seumur hidup”? Anda keliru. Menunggu adalah soal kamu tiba tepat waktu dan pasanganmu terlambat, atau kamu datang terlambat dan dia lebih terlambat, atau kamu terlalu cepat dan dia tepat waktu, atau kamu terlalu cepat dan dia terlambat. Tetapi, apakah Anda tahu apa itu “hidup”? Tahu? Apa? Tolong sebutkan… Kenapa Anda diam? Hidup adalah… adalah… Saya pun tak tahu! Tak ada yang tahu! Ini artinya “penantian seumur hidup” secara parsial tak berarti apa-apa, dan karena itu seluruhnya tak berarti apa-apa. Sebab adalah aneh mengatakan sesuatu memiliki arti ketika sebagian darinya tidak terdefinisi. Sehingga sebaiknya Anda tidak menunggu seseorang seumur hidup, sebab adalah bodoh melakukan sesuatu yang tak Anda pahami maknanya. Seperti menunggu seseorang yang tak terihat, kata Anda? Tidak. Tidak. Itu dua hal yang berbeda, Anda tahu, sebab yang tak terlihat belum tentu tak ada. Dan yang ada boleh ditunggu, jika kita mau.

Saya sendiri akan menunggu tidak seumur hidup, kalau bisa

Menunggu itu urusan pelik. Menunggu dalam waktu sedikit saja sudah buat sesak dada, apalagi dalam waktu yang lama, seumur hidup misalnya seperti yang dibahas dalam paragraf ini.

Di tahun 2015, paragraf ini merupakan penghiburan buatku yang rasa-rasanya sedang butuh dinasihati untuk tidak menunggu lagi.

Saya sendiri akan menunggu tidak seumur hidup, kalau bisa

Kasusnya terlalu gampang, Cuma cinta diam-diam yang menunggu tiada habisnya padahal bertepuk sebelah tangan dan yang ditunggu sebenarnya tidak ada, sebuah hal yang tidak bisa ditunggui.

Sebuah buku yang menyadarkan, betapa tidak baiknya lama-lama menunggu, lagi pula seperti tidak ada yang bisa ditunggu yang lain saja. Atau memilih menjadi yang ditunggu saja. Aku suka paragraf ini, terimakasih Norman.

Cinta memang tidak pernah tepat waktu.

Jadi apa kalian juga suka paragraf ini?

Iklan

19 comments on “Yang Menunggu Terlalu Lama

  1. Lah iya bener tuh, hahaha. Apalagi klo diserempetin ke cinta ya. Tuhan menciptakan manusia berpasangan, tapi klo ga dicari. Nanti pasangannya keburu milih “homoseksual” wakakak berabe. Ya ada saat menunggu ada saat mengejar. Soalnya klo ga mau ngejar berasa “angkot”, mau banget ditungguin. Wkwk *melenceeng ceengg cenggg*

    • huwalaah ngeri banget dah.
      (╥﹏╥), jangan dong jangan sampai dia jadi homo.
      .
      ada masanya ya.
      berarti ada masanya keduanya saling mengejar dan berakhir happly ever after.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s