Menamsilkan Kehadiranmu

butterfly-1600324_1920

Kini keadaan terlalu cengeng untuk dimintai alasan, Hingga segala desik gerakmu seolah teromantisir dengan mudahnya.  Semuanya terlalu mudah membuat beberapa harapan untuk menjadi menyerah. Entah menyerahkan pada apa mau takdir atau mau hati.

Kini kita lupa, bahwa menggugat keadaan, sama saja melawan arus. Lupa juga, bahwa banyak yang hidup pantas mati, dan banyak yang mati masih pantas hidup. Hingga akhirnya kita sadar, kita sudah membuang energi sia-sia. Seharusnya sudah sejak lama kita menyerah, dan mencari celah-celah dari sedikit gerimis senja, nanti dibaliknya ada pelangi, pelangi di malam hari.

Jadi kita menyerah bersamaan?

Atau aku dulu? Baru kamu?

Atau kamu dulu?, Baru aku?

***

Menamsilkan kehadiranmu tak cukup semalaman tanpa tidur dan kopi.

Menamsilkan kehadiranmu harus cukup tidur, dan dengan jernih memikirkannya.

Kata seorang sahabat padaku

“Apa kau tidak merasa ada yang berubah setelah dia hadir?”

Terangkum jelas, bila seseorang dihadirkan bukan sia-sia di suatu keadaan, dan ternyata terlalu sering menamsilkan kehadiran seseorang, membuat perasaan tercabik-cabik, perih, ngilu, dan ingin kabur saja.

Sepertinya pilihan kedua yang terpilih dalam keadaan ini, Kamu menyerah duluan, baru aku.

Iklan

16 comments on “Menamsilkan Kehadiranmu

    • itu kalimat bang fadel juga bagus banget.
      .
      iyap betul kita bisa berubah karena orang sekitar, hati-hati memilih orang-orang yang menempati sekitar kita. #oposih 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s