Mencintai Langit

 

rain-690111_1920

Langit menelan senja—seluruhnya tanpa ampun, bising-bising kendaraan tak jua mengalah, dan kini hatiku pun ikut bising. Pada dedaunan yang meningkahi angin, suaranya begitu lembut, namun kini aku masih begitu bingung dan abstrak serta riuh.

Gedung-gedung meleleh  jadi hitam aspal, namun kelihatannya masih ada kisimis lampu yang menghiasinya, lantaran lampu adalah ciptaan manusia.

Beberapa hari lagi langit dihujani meteor, hatiku juga mendadak gerimis, dan mungkin deras hujan pada saatnya.

Ketika kismis kuning itu banyak jumlahnya, lalu ditambah binar lampu kendaraan yang ribuan jumlahnya, langit tak dapat kusayangi, mataku buta, hujan meteor lenyap.

Katakanlah bila langit memang enggan kusayangi

Katakanlah bila langit ingin mati sekarang

Jadi hatiku dapat bersiap, dan tidur saja.

Senja ini aku berdoa, semoga kota kita mati lampu sejenak, supaya aku bisa menyayangi langit. Dan aku akan mencintai langit seperti cintaku pada D.

Iklan

4 comments on “Mencintai Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s