Yang Memintamu Menjadi Kopi (Cerpen)

 

Yang Memintamu Menjadi Kopi

Oleh : Audhindaw

coffee-bean-1497510_1280

Tiba-tiba kau tertawa sendiri di tengah-tengah kesunyian taman itu, karena menyadari bahwa ada seseorang yang ngomel karena di dalam cerpenmu ada kata “seperlima detik”

“Apa yang salah dengan itu?” kau semakin cekikikan setelah mendengarnya menjelaskan, bahwa detik itu tidak ada seperlimanya.

“Kalau aku tuliskan, sepermili detik, bagaimana?” lantas terkekeh lagi, kau seolah sedang berdebat dengan pohon.

Di taman itu kau hanya sendirian, padahal ada bangku, ada patung kingkong dan rumput di sana, tapi itu benda mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa kau memang sedang sendirian, kau sebenarnya ke taman karena ingin tidur, tapi perempuan itu malah mengganggumu, jadi setelah dia mengomel, kau hanya bisa bertanya hal-hal yang tidak perlu, karena sudah pasti dia bilang iya. Namun mendengar perempuan itu mengomel, kau berpikir bahwa dia sedang kelaparan, dan memilih sarapan kangen denganmu.

“Sudah makan?”

Dan benar saja dia belum makan, kau nyengir karena tahu betul perempuan itu hanya kangen denganmu

“Yasudah makan dulu, hari ini aku ingin tidur banyak, besok aku hubungi lagi.”

“Ya, sampai jumpa.”

Kalau saja patung kingkong disamping ayunan itu dapat dihidupkan mungkin saja kau sudah duduk di punggungnya lari ke hutan dan tidur di sana, dan mungkin mati diterkam harimau.

***

Pagi itu seharusnya kau diarak ke perpustakaan oleh dirimu sendiri, tapi acara arak-arakan itu batal sebab kau malas. Kali ini kau sendiri yang kesal, dan baru menyadari bahwa kekesalan perempuan itu kepadamu ternyata tidak enak disimpan lama-lama.

Kau melemparkan buku kumpulan cerpen itu setelah membaca satu cerpen yang endingnya benar-benar membuatmu dongkol, benar-benar ingin marah sendiri karena cerita menggantung begitu benar-benar membuatmu gemas sendiri. Kau melirik sekitarmu, di ruangan 4 x 6 m, kamar kosanmu  sunyi, hanya pikiranmu yang mendadak riuh karena pertanyaan, mengapa si penulis bikin cerpen menggantung begitu, bagaimana nasib si A, bagaimana si B bisa begitu, bagaimana lanjutan C dan D, dan seterusnya. Kau bangkit dari kasurmu, iseng mencium ketiakmu sendiri.

“Astaga!” ternyata baunya asam sekali, kau melirik jam dinding, masih lama sampai liburan ini akan berakhir tepat tengah malam nanti.

Malas-malasan kau menikmati sisa libur kerjamu ini, rasanya hambar sekali menulis cerpen baru  sepanjang satu halaman, dan sudah kering ide. Kau kesal, memilih makan mie instan dua bungkus dan tambah lagi buat satu bungkus ketika tahu bahwa kau lupa makan kemarin, menganggap bahwa itu adalah hutang mie kepada perutmu.

Seharusnya, cabai rawit di mie instan itu kau tambah sampai meledakkan isi perutmu, tapi urung, karena tidak mau besok kerja tapi bolak-balik ke WC karena diare.

Kau masih kepikiran dengan cerpen menyebalkan itu, endingnya membuatmu ingin pergi menemui penulisnya, lalu menamparnya. Tapi mengingat kau juga tidak pandai buat cerpen, kau mengurungkan niatmu. Dihadapan televisi kau melamun setelah selesai makan mie instan pedas itu. Ingat betul harus menghubungi perempuan itu. Bisa-bisa dia mengomel lagi.

“iya aku sudah bangun.”

“iya sudah sangat kenyang, yasudah selamat bekerja.”

Ternyata perempuanmu sedang sibuk bekerja, dan itu malah mengingatkanmu pada bau ketiakmu yang kau hirup sebelum makan mie instan, akhirnya kau mandi juga, kali ini lebih awal dari biasanya.

Setelah mandi, rencananya kau akan menyelesaikan cerpen yang baru satu halaman tadi ditemani buah dari keluarga Caricaceae dan minum dari umbi keluarga Zingiberaceae.

Bekerja sebagai ahli botani rasanya salah, dan memang bukan pekerjaanmu, pekerjaanmu hanya membersihkan tempat penelitian. Seharusnya hidupmu sudah rapih, sebab kau tak pernah terlalu masalah bila kamarmu kotor, meski tahu dari selingkungan kerjamu orang berotak cerdas semua, bahwa seharusnya kau membersihkan kamarmu juga, dan menyelesaikan cerpen-cerpenmu.

***

Sebenarnya menulis—bagimu adalah kesia-siaan yang tak mungkin berujung bahagia, kau hanya terus-terusan menyugesti bahwa menulis lebih baik dari pada menjadi babu di laboratorium botani, berharap sukses dari menulis, sedangkan dikritik sedikit saja kau sudah ogah-ogahan, dan sesak napas enggan menulis selama beberapa minggu ke depan. Cuma perempuan itu yang terus-terusan memberikanmu bahan bacaan agar kau segera melecutkan ide-ide ke dalam tulisan-tulisan setengah jadi.

Tapi apa lacur, kau memang sedang kehilangan semangat menulismu karena kritikan pedas yang kau terima terhadap tulisan terakhirmu itu, sebab itulah kau selalu menulis tulisan yang selalu setengah jadi.

***

Hari ini kau gajian, kau pulang ke rumah. Sepertinya kau rindu rumah, rindu ibumu terutama. Sampai dirumah kau langsung bercerita

Bu, ada yang memintaku untuk menjadi Kopi.

Katanya kalau aku jadi Kopi, mungkin aku bisa jadi seniman

Konon seniman tidak pernah tidur, Bu

“yang tidak pernah tidur itu Tuhan, bukan seniman!” ekspresi ibumu serba bingung

Ibumu mengeleng-geleng, lama tidak pulang, anaknya semakin aneh saja keinginanya, pikir ibumu begitu. Sesudah itu, Ibumu bertanya, siapa yang memintamu menjadi kopi.

“Perempuanku yang memintanya, Bu.” Kau menjawab penuh keraguan. Sebenarnya memang betul, perempuan itu memintamu menjadi Kopi. Katanya kopi itu dekat dengan menjadi penulis, kesimpulan sesungguhnya dia ingin kau menjadi penulis sesegera mungkin, lalu sukses jadi penulis, dan kaya dari menulis, dan melamarnya, dan menikahinya, kemudian hidup bahagia.

Ibumu menggeleng-geleng. Katanya, jangan terlalu berharap banyak dari menulis, suksesnya akan lama. Jadi sekarang Ibuku memintaku menjadi pegawai negeri, biar gajiannya pasti. Kau terkekeh, sama susahnya, dari babu ke pegawai negeri maupun dari babu ke penulis.

Jadi akhirnya Kau tetap menunaikan keinginan perempuanmu, dia yang memintamu menjadi Kopi.

-Selesai-

Iklan

8 comments on “Yang Memintamu Menjadi Kopi (Cerpen)

  1. Apa ini yg disebut sastra? Akhir2 baca cerpen luar pun saya berakhir kebingungan. Bahkan tulisan penulis terkenal. Maklum baru belajar dunia literasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s