Sudah Baca Berapa Buku Tahun ini?

Holla readers…

Kali ini gue bakal sharing tentang buku-buku apa aja sih yang gue baca di tahun 2016 ini, tapi yakinlah setelah dipikir-pikir harusnya gue bukan cuma baca novel, buku kumpulan cerpen, buku kumpulan puisi doang.

Kata Mas Wahyu(sepupu gue), kalau mau tulisannya berkembang juga harus mau baca buku-buku sosial. katanya begini “Novel-kan sebuah karya pemikiran, dek!” , terus lanjutnya “penulis-penulis novel yang terkenal itu juga kan enggak melulu novel yang dibacanya.”

Waktu ke Gramedia Karawang Mas Wahyu nawarin Mandilog-Tan Malaka, belum apa-apa gue udah pesimis bakal ngantuk bacanya, lain kali ajalah belinya. Jadi wishlist gue di tahun ini banyak yang enggak kesampaian, gue udah lama mimpi jadi novelis XD. Tapi tahu sendirilah ya, tulisan aja masih acak kadut begini. Untuk mengobati kepahitan susahnya jadi penulis, gue memilih buat banyak baca, meski tahun ini gue khilaf, baru mulai baca buku pas bulan Februari. Yok gue mulai aja apa aja sih buku yang gue baca, mudah-mudahan masih ingat.

  • Tere Liye-Dikatakan Atau Tidak Dikatakan, Itu Tetap Cinta

Februari 2016 –Buku ini gue baca di handphone melalui aplikasi yang namanya i-Jakarta.  Gue tahu aplikasi ini dari sahabat gue, si Ida Ayu Zahrotun Na’im. Gue udah sejak 2015 baca di i-Jakarta (kadang suka baca di sini), kebetulan gue inget bahwa di 2016 belum baca buku sama sekali selain buku-buku pelajaran ToT, i-Jakarta menyelamatkan gue dari kemalasan baca.

Kenapa gue pilih buku ini buat gue pinjam?, sebab gue penasaran, waktu itu lagi panas banget, pro kontra mengenai buku kumpulan puisi Tere Liye ini, buku ini  memang laku keras tetapi banyak dinyinyirin

  • Melihat Api Bekerja- M. Aan Mansyur

Maret 2016- buku kumpulan puisi ini juga gue pinjam di i-Jakarta. Waktu itu, buku ini adalah bahan nyinyirin kumpulan puisinya Tere Liye. Jadi kedua buku kumpulan puisi tersebut diperbandingkan satu sama lain.

  • 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki –Djenar Maesa Ayu

chmzixuuuaax0iu

Mei 2016 , Jadi selama gue kuliah, gue belum pernah ngegunain kartu perpustakaan gue buat meminjam buku, dodol banget, dan rugi banget nggak tuh?, nah permulaan peminjaman buku gue di Perputakaan kampus adalah buku kumpulan cerpen kolaborasi Djenar Maesa Ayu bersama 14 laki-laki penulis.

Hu um….Djenar Maesa Ayu memang genrenya vulgar, yang belum 17 tahun baiknya jangan baca.

Ada yang nanya nggak?, itu kenapa foto bukunya ada Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan?, baiklah gue jawab XD. #padahalenggakadayangnanya

Gue minjam 2 buku itu bersamaan, dan tahu sendiri, dalam seminggu buku itu harus udah balik lagi ke Perpustakaan, dan gue enggak sempat nyelesaiin Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan, hehe sebenarnya bisa diperpanjang lagi, tapi waktu itu entah kenapa enggak gue perpanjang lagi peminjaman Cantik Itu Luka-Eka Kurniawan. Padahal gue lagi penasaran sama Eka Kurniawan, lha wong Eka Kurniawan masuk nominasi Man Booker Prize 2016 dengan bukunya yang berjudul Lelaki Harimau.

  • Menggali Sumur dengan Ujung Jarum

cjj5sxmuuaaat4s

Mei 2016, gue minjam buku kumpulan cerpen para maestro sastra dunia ini dari perpustakaan kampus. Gue akui ini bacaan berat pertama di 2016 gue. XD

 

 

 

 

 

 

 

  • Koala Kumal-Raditya Dika

ckrdfryveaabrir

Juni 2016, lagi-lagi gue minjam novel ini dari Perpustakaan kampus. Kenapa gue minjam buku ini?, soalnya gue lagi butuh ketawa, dan Alhamdulillah gue bisa ketawa. Selain itu, juga karena novel ini difilmkan. Dan gue enggak nonton filmnya

—.—v

  • Sang Alkemis- Paulo Coelho

Juli-2016, Gue baca buku ini di ebook yang gue dapatkan di
internet secara gratis, mudah-mudahan legal, kalau tidak legal, saya mohon maaf karena saya sudah sangat kebelet ingin baca buku ini.

“Saat seseorang menginginkan sesuatu, seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya.” ― Paulo Coelho, The Alchemist – Sang Alkemis.

  • Pulang-Tere Liye

ckvkwb5vaaer4k4

Juli 2016, iya iya gue minjam lagi novel dari perpus kampus, baguskan? Kartu perpustakaan gue enggak bakal sia-sia.

Salah banget gue baca novel ini, ketika lagi kangen banget sama seseorang #eaaa. Padahal mah enggak ada hubungannya, novel ini tebal, dan Alhamdulillah gue bisa nyelesaiin dalam seminggu, maklum sibuk.

Omong-omong, gue di sini cuma mau ngasih tahu aja apa yang gue udah baca, gue enggak bisa bikin resensinya, maafkan 🙂

  • Raden Mandasia-Yusi Avianto Parenoman

img_20160727_130956

Juli-2016 Gue beli buku ini, yeaayy akhirnya audhi enggak minjam. Hahaha

Buku ini mondar-mandir melulu di timeline, Bernard Batubara, Dea Anugrah, dll yang sudah baca dan  meresensi novel ini bikin gue ngiler pengin beli. Dan gue enggak menyesal baca buku ini, ceritanya sangat……seperti kata Sungu Lembu pas makan masakan Raden Mandasia…LUHUR. Banyak bagian yang vulgar, tapi itu semua demi keutuhan cerita, dan malah jadi kaya rasa.

  • Dilan 1990-Pidi Baiq

Gue lupa, bulan apa gue baca buku ini, yang jelas tahun ini kok. Dan gue asli jatuh cinta sama Dilan langsung. Sebenarnya telat tapi tidak ada kata terlambat untuk mencintai. Hoahaha, gila kali ya?

  • Kisah Sang Penandai-Tere Liye

Juli 2016, buku ini gue dapat di internet, ebook gratis, maaf kalau ilegal. Indonesia sebenarnya darurat buku murah XD, biar pembaca kere seperti saya enggak baca e book ilegal.

  • Di bawah Lindungan Ka’bah- Buya Hamka

Juli 2016, gue baca dari e book yang gue dapat di internet.

  • Burung Terbang di Kelam Malam-Arafat Nur

csj48zbviaaho6g

September 2016, lagi-lagi audhina minjam buku di Perpus kampus XD. Kenapa gue pinjam buku ini?, gue penasaran sama Arafat Nur salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 atas Novelnya yang berjudul Lampuki.

Di Novel ini Arafat Nur seperti menyisipkan curahan hatinya sebagai penulis novel.

  • Nyanyian Akar Rumput- Wiji Thukul

September 2016, gue meminjam buku kumpulan puisi ini di i-Jakarta. Kalau dipikir-pikir gue baru sadar, gue ternyata udah minjam buku lumayan banyak, entah di perpustakaan maupun di i-jakarta.

Di dalam buku kumpulan puisi Wiji Thukul yang seorang sastrawan dan aktivis HAM menyadarkan bahwa keadaan dulu sama sekarang masih sama saja, Pemerintahan pada masa itu juga tak ubahnya Pemerintah masa kini, buruh-buruh pabrik yang tersiksa dan banyak hal yang terangkum apik dalam buku kumpulan puisi ini.

  • The Not-So-Amazing Life of @aMrazing- Alexander Thian

cunxq2uxgaepu0a

Oktober 2016, gue beli buku ini dari obralan murah. Buku ini udah lama banget padahal, dan gue baru baca, sunguuuuh terlalu.

  • Dilan 1991-Pidi Baiq

ct1ea9ruaaqzlgs

Oktober 2016, buku ini gue pinjam dari Perpus Kampus. Dan kecintaanku pada Dilan semakin mendalam setelah baca ini. Hmmmm jadi audhina adalah orang kurang update sedunia mungkin ya, Milea-Suara Dilan(lanjutan novel ini udah terbit dan gue baru baca yang ini?), bodo amat. Tulisan bagus akan tetap bagus setelat apapun pembaca membacanya.

  • Istanbul-Orhan Pamuk

dsc04346

November 2016, gue beli buku ini sudah lama, dan novel ini belum juga selesai kubaca, stuck di halaman 150.

  • Rindu-Tere Liye

img_20161126_223110

November 2016, gue pinjam novel ini di perpus kampus, hehe. sepertinya gue ngefans Tere Liye? iya enggak?. enggak tahu juga sih :D. Novel ini bikin gue kangen seseorang.

“Lepaskanlah. Maka besok lusa, jika dia cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu. Hei, kisah-kisah cinta di dalam buku itu, di dongeng-dongeng cinta, atau hikayat orang tua, itu semua ada penulisnya.
Tetapi kisah cinta kau, siapa penulisnya? Allah. Penulisnya adalah pemilik cerita paling sempurna di muka bumi. Tidakkah sedikit saja kau mau meyakini bahwa kisah kau pastilah yang terbaik yang dituliskan.”
― Tere Liye-Rindu

  • Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali: Catatan Pribadi Koesalah Soebagyo Toer

Desember 2016, selain perpustakaan kampus, gue juga punya kartu keanggotaan Perpustakaan Kota Sukabumi, dan baru saat itu buku biografi yang gue pinjam dari sana, soalnya biasanya minjam buku pendukung perkuliahan.

  • Gergasi-Danarto

czon_stukaa4kal

Desember 2016, Buku kumpulan cerpen ini benar-benar membuat pergi ke dunia entah apa itu. Gue tulisin deh blurb buku ini

“Cerpen-cerpen Danarto bisa bermula dari kehidpan sehari-hari, lalu tersesat di dunia entah yang tidak dikenali. Ia membawa kita menjelajah dunia yang tak nyata. Nikmatilah kumpulan cerpennya yang memberi warna baru dalam khazanah sastra ini.”

Gue dapat buku ini dari menang kuis puisi di twitternya pak edi (divapress), baru kali ini gue ngerasain menang kuis, senang rasanya, yang penasaran sama puisinya klik di sini

  • Mawar Hitam-Candra Malik

dsc04662

Desember 2016, Buku ini dibeliin Mas Wahyu. Buku kumpulan cerpen ini masih gue baca saat ini, harus perlahan buat menikmati kata demi kata yang terangkai di buku ini.

“Candra Malik adalah sastrawan sufi. Karena itu, barang siapa membaca buku Mawar Hitam, perlu merenung, bukan sekadar membaca”-Budi Darmawan (sastrawan)

 🙂

Naaah itu buku-buku yang sudah gue baca,dan ternyata sedikit ya?, iya dikit banget ToT, di 2017 nanti gue bakal lebih banyak lagi baca buku.

Pengalaman baca gue ini cukup menarik bukan?, sebenarnya enggak ada alasan buat enggak baca, buku tersedia di mana-mana, pastilah di kota kalian masing-masing juga ada perpustakaan, manfaatkanlah.

Di tahun 2016 ini, gue masih juga belum punya penulis favorit, buku siapa aja yang penting bagus, gue baca.

 🙂

Kata Fajar Nugros di salah satu twitnya bilang gini,

“Sebenarnya ya, buku bukanlah trofi. Selesai membaca, kau mestinya memberikannya pada orang lain. Bukan malah dipajang.”

Gitu aja postingan kali ini, sampai jumpa di 2017 :). Ini adalah postingan terakhir Biru Pupus di 2016. Semoga di tahun baru 2017, kita bisa jadi pribadi yang lebih hebat, semoga cita-cita kita tercapai di 2017 :).Aamin

Iklan

Kapan?

startup-593341_1920

Kapan Terakhir Kali Menulis dengan Bahagia?

Beberapa waktu kebelakang bulan Agustus 2016, salah satu akun twitter yang aku follow yaitu @KampusFiksi menuliskan sesuatu yang menyadarkanku

Jadi kapan terakhir kali kamu nulis dengan bahagia?

Jawabanku saat itu adalah saat aku jatuh cinta, dan itu sudah lamaaaaaaa.

Menulis dengan bahagia itu juga kunci tulisan yang tercipta menjadi bernyawa setidaknya begitu menurutku.  Tapi justru tulisanku ketika bahagia kalah bagus dengan tulisanku ketika sedang sedih. Menulis di sini mungkin lebih ke menulis karya tulis yang butuh nilai enak dibacanya dan kekhasannya gitu, kalau menulis curhatan mah bebas aja, mau pas sedih atau bahagia ya namanya juga curhatan.

Jadi kapan terakhir kali kamu menulis dengan bahagia?

Akhiri 2016 ini dengan tulisan bahagia 🙂

Pantai Pandasari (Bantul, Yogyakarta) dan Pantai Pelabuhan Ratu (Sukabumi,Jawa Barat)

 

Holla readers, kali ini gue bakal ceritain nih tentang dua Pantai berbeda tapi sama-sama di pesisir selatan, dan kalian pasti tahu, Pantai Selatan erat kaitannya dengan legenda Nyai Roro Kidul , tahu lah ya Kidul itu artinya Selatan?

Oke pertama-tama gue bakal ceritain tentang

Pantai Pandasari, Bantul (Yogyakarta)

Kenapa gue bisa ke sini?, ini dikarenakan pas 23 Februari 2016 ada kepentingan keluarga, yang mendadak banget, yang mengharuskan gue sama Ibu buat datang ke Bantul, Yogyakarta (rumah mbah kakung dari pihak bapak), dan gue cuma singgah selama 2 hari, pada hari terakhir itu gue diajak sepupu gue (Mas Wahyu), buat ke Pantai Pandasari, tentu gue enggak nolak lah. Kebetulan Pantai-nya itu cuma berjarak sekitar 3 km aja. Rumah Kakek ada di daerah Sanden, Bantul.

Pantai Pandasari pada pukul 6.30 WIB, masih begitu sepi, waktu itu cuma ada bapak-bapak yang lagi ngemong anaknya, sambil nyuapin anaknya, dan ada gue dan sepupu gue. Gue di sana enggak lama, cuma sejaman. Ombaknya besar, keadaan di sana cukup bersih dan nyaman.

 

Kata Mas Wahyu kalau ke Pantai, si Novan sama Zezen (sepupu gue yang masih kecil-kecil), suka lomba nyari kepiting kecil, yaaah mereka lagi pada sekolah, pas sebelum gue berangkat ke Pantai, si Novan lagi dipakain seragam sekolah. Akhirnya gue ngejar-ngejar kepiting sendirian 😀

dsc02651

Oya di Pantai Pandasari ini, terkenal dengan mercusuarnya, Pantai Pandasari bersisihan dengan Pantai Gua Cemara (read jawa : Guo Cemoro), awalnya gue kira bakal diajak ke Guo Cemoro, pantai yang banyak pohon cemaranya, tapi diajak ke Pandasari, ya enggak papalah, sama-sama keren kok.

Soal mercusuarnya, Kata Mas Wahyu, Mercusuarnya dibuka pukul 08.00 WIB, lagi-lagi gue menelan kecewa, padahal gue pengin banget naik ke atas, soalnya sebelumnya gue diliatin foto-foto kemarin sorenya Mas Indra(sepupu gue juga) pas naik Mercusuar. ToT, yaudahlah lain kali aja.

Pukul 7.00 (mungkin), gue sama Mas Wahyu udah puas liat Pantai, balik ke rumah kakek, dan enggak lama dari itu, gue menuju ke Sleman, Yogyakarta. dari siang sampai sore gue habiskan waku gue buat nemuin sahabat gue Ida Ayu Zahrotun Na’im. Sorenya balik ke Sukabumi.

Pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi (Jawa Barat)

Tanggal 27 November 2016

Lagi-lagi gue mendatangi sebuah Pantai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, kali ini gue ke Pantai Pelabuhan Ratu bareng anak-anak kuliahan (Mala, Tiara, Encep, Nur, Siti, Rinrin). Rencana buat ke Pantai itu baru dicetuskan pas tanggal 26, dan baru fix jadi berangkat pas pukul 23.00 WIB, asli itu mendadak banget.

Minggu pagi yang harusnya kita berangkat pukul 06.00 WIB jadi ngaret pukul 07.00 WIB, apa penyebabnya, gue akui karena gue ToT, iya jadi gue kesiangan bangun, pas malamnya gue masuk kerja shift malam, dan anak-anak udah pada cemberut aja, terutama Teh Siti, soalnya rencananya kita cuma sebentar aja di sana, karena Teh Siti dan gue harus masuk kerja shift siang di masing-masing tempat kerjaan kita. ToT

Bayangkan, kita berangkat dari Kota Sukabumi pukul 07.00 WIB, dan akhirnya sampai sana pukul 10.00 WIB, kenapa 3 jam?, soalnya ditengah perjalanan ada insiden motor Teh Tiara Mogok, untung bisa nyala lagi. Normalnya dari Kota Sukabumi ke Pantai Pelabuhan Ratu itu bisa 2 Jam, dengan kecepatan yang uwuwuwuwuw, asli kenceng banget. Gue sih dibonceng Teh Siti, Teh Mala—Sama pacarnya, Teh Tiara—sama Teh Rinrin, Teh Nur—Sama A’ Encep.

Gue juga bisa kok bawa motor, tapi mengakui, gue enggak bisa selap-selip selincah mereka, walhasil gue ngejogrok aja deh di belakang. Pas Teh Siti udah capek, akhirnya gue dibonceng A’Encep, dan motor Teh Siti dibawa sama Teh Nur, hahaha pusing ya bacanya?

Sampai sana pukul 10.00 WIB

Jadi Pelabuhan Ratu itu punya Pantai-Pantai yang kece, terserah kalian pilih yang mana :D. Awalnya kita mau ke Karang Hawu yang banyak karang-karangnya dan spotnya memang kece dan rame, nah berhubung kita enggak mau terlalu rame, dan karena ngehemat waktu, akhirnya kita ke Pantai Sunset aja, padahal tinggal bentar lagi ke Karang Hawu, tapi yaudahlah enggak papa Pantai Sunset juga kece kok.

DSC04512.JPG

Kita langsung nyari tempat, di sana kita beli kelapa muda, dan makan masakannya Teh Nur, setelah itu kita main-main, lari-lari enggak jelas di Pantai. Jam segitu d Pantai tu udah termasuk puaaanasss banget, dan kulit gue hitam seketika XD, sebenernya udah hitam, tapi makin hitam. Huahaha.

Pukul 12.00 WIB  gue sama Teh Siti udah mau pamitan pulang duluan, tapi semuanya malah jadi pulang, kata mereka, berangkat bareng, pulang juga bareng atuh, yap akhirnya kita semua pulang pukul 12.00 WIB. Gue ke posisi semula, dibonceng Teh Siti dengan motor maticnya, sampai Kota Sukabumi pukul 14.00 WIB, dan gue encok. Percayalah, kalau dibonceng pakai motor matic itu yang pegel yang diboncengnya.

Dari sana gue bertekad, gue harus bisa bawa motor selap-selip dan ngebut 😀

Sepi (Puisi)

Sepi (Puisi)

heartbreak-1209211_1920

Sekiranya langit tengah memengaruhi cuaca

dan perutku kembung rasa kecewa

Malam ini tetap cuma sepi dan patah hati

/

Jangan titipiku kata yang berkeredap hambar

Kini sunyi adalah aku yang berlari mati dari ketidakpastian

/

Kugali retakan kesunyian di celah hujan

Bersatu ke dalamnya samar-samar

Aku protes

Cuma aku yang sendirian

/

Malam diapit doa-doa yang terlupakan

Menjelma nyata yang diam-diam sunyi

/

Daw| Sukabumi, 20 November 2016

Mencintai Langit

 

rain-690111_1920

Langit menelan senja—seluruhnya tanpa ampun, bising-bising kendaraan tak jua mengalah, dan kini hatiku pun ikut bising. Pada dedaunan yang meningkahi angin, suaranya begitu lembut, namun kini aku masih begitu bingung dan abstrak serta riuh.

Gedung-gedung meleleh  jadi hitam aspal, namun kelihatannya masih ada kisimis lampu yang menghiasinya, lantaran lampu adalah ciptaan manusia.

Beberapa hari lagi langit dihujani meteor, hatiku juga mendadak gerimis, dan mungkin deras hujan pada saatnya.

Ketika kismis kuning itu banyak jumlahnya, lalu ditambah binar lampu kendaraan yang ribuan jumlahnya, langit tak dapat kusayangi, mataku buta, hujan meteor lenyap.

Katakanlah bila langit memang enggan kusayangi

Katakanlah bila langit ingin mati sekarang

Jadi hatiku dapat bersiap, dan tidur saja.

Senja ini aku berdoa, semoga kota kita mati lampu sejenak, supaya aku bisa menyayangi langit. Dan aku akan mencintai langit seperti cintaku pada D.

Yang Memintamu Menjadi Kopi (Cerpen)

 

Yang Memintamu Menjadi Kopi

Oleh : Audhindaw

coffee-bean-1497510_1280

Tiba-tiba kau tertawa sendiri di tengah-tengah kesunyian taman itu, karena menyadari bahwa ada seseorang yang ngomel karena di dalam cerpenmu ada kata “seperlima detik”

“Apa yang salah dengan itu?” kau semakin cekikikan setelah mendengarnya menjelaskan, bahwa detik itu tidak ada seperlimanya.

“Kalau aku tuliskan, sepermili detik, bagaimana?” lantas terkekeh lagi, kau seolah sedang berdebat dengan pohon.

Di taman itu kau hanya sendirian, padahal ada bangku, ada patung kingkong dan rumput di sana, tapi itu benda mati, sehingga dapat disimpulkan bahwa kau memang sedang sendirian, kau sebenarnya ke taman karena ingin tidur, tapi perempuan itu malah mengganggumu, jadi setelah dia mengomel, kau hanya bisa bertanya hal-hal yang tidak perlu, karena sudah pasti dia bilang iya. Namun mendengar perempuan itu mengomel, kau berpikir bahwa dia sedang kelaparan, dan memilih sarapan kangen denganmu.

“Sudah makan?”

Dan benar saja dia belum makan, kau nyengir karena tahu betul perempuan itu hanya kangen denganmu

“Yasudah makan dulu, hari ini aku ingin tidur banyak, besok aku hubungi lagi.”

“Ya, sampai jumpa.”

Kalau saja patung kingkong disamping ayunan itu dapat dihidupkan mungkin saja kau sudah duduk di punggungnya lari ke hutan dan tidur di sana, dan mungkin mati diterkam harimau.

***

Pagi itu seharusnya kau diarak ke perpustakaan oleh dirimu sendiri, tapi acara arak-arakan itu batal sebab kau malas. Kali ini kau sendiri yang kesal, dan baru menyadari bahwa kekesalan perempuan itu kepadamu ternyata tidak enak disimpan lama-lama.

Kau melemparkan buku kumpulan cerpen itu setelah membaca satu cerpen yang endingnya benar-benar membuatmu dongkol, benar-benar ingin marah sendiri karena cerita menggantung begitu benar-benar membuatmu gemas sendiri. Kau melirik sekitarmu, di ruangan 4 x 6 m, kamar kosanmu  sunyi, hanya pikiranmu yang mendadak riuh karena pertanyaan, mengapa si penulis bikin cerpen menggantung begitu, bagaimana nasib si A, bagaimana si B bisa begitu, bagaimana lanjutan C dan D, dan seterusnya. Kau bangkit dari kasurmu, iseng mencium ketiakmu sendiri.

“Astaga!” ternyata baunya asam sekali, kau melirik jam dinding, masih lama sampai liburan ini akan berakhir tepat tengah malam nanti.

Malas-malasan kau menikmati sisa libur kerjamu ini, rasanya hambar sekali menulis cerpen baru  sepanjang satu halaman, dan sudah kering ide. Kau kesal, memilih makan mie instan dua bungkus dan tambah lagi buat satu bungkus ketika tahu bahwa kau lupa makan kemarin, menganggap bahwa itu adalah hutang mie kepada perutmu.

Seharusnya, cabai rawit di mie instan itu kau tambah sampai meledakkan isi perutmu, tapi urung, karena tidak mau besok kerja tapi bolak-balik ke WC karena diare.

Kau masih kepikiran dengan cerpen menyebalkan itu, endingnya membuatmu ingin pergi menemui penulisnya, lalu menamparnya. Tapi mengingat kau juga tidak pandai buat cerpen, kau mengurungkan niatmu. Dihadapan televisi kau melamun setelah selesai makan mie instan pedas itu. Ingat betul harus menghubungi perempuan itu. Bisa-bisa dia mengomel lagi.

“iya aku sudah bangun.”

“iya sudah sangat kenyang, yasudah selamat bekerja.”

Ternyata perempuanmu sedang sibuk bekerja, dan itu malah mengingatkanmu pada bau ketiakmu yang kau hirup sebelum makan mie instan, akhirnya kau mandi juga, kali ini lebih awal dari biasanya.

Setelah mandi, rencananya kau akan menyelesaikan cerpen yang baru satu halaman tadi ditemani buah dari keluarga Caricaceae dan minum dari umbi keluarga Zingiberaceae.

Bekerja sebagai ahli botani rasanya salah, dan memang bukan pekerjaanmu, pekerjaanmu hanya membersihkan tempat penelitian. Seharusnya hidupmu sudah rapih, sebab kau tak pernah terlalu masalah bila kamarmu kotor, meski tahu dari selingkungan kerjamu orang berotak cerdas semua, bahwa seharusnya kau membersihkan kamarmu juga, dan menyelesaikan cerpen-cerpenmu.

***

Sebenarnya menulis—bagimu adalah kesia-siaan yang tak mungkin berujung bahagia, kau hanya terus-terusan menyugesti bahwa menulis lebih baik dari pada menjadi babu di laboratorium botani, berharap sukses dari menulis, sedangkan dikritik sedikit saja kau sudah ogah-ogahan, dan sesak napas enggan menulis selama beberapa minggu ke depan. Cuma perempuan itu yang terus-terusan memberikanmu bahan bacaan agar kau segera melecutkan ide-ide ke dalam tulisan-tulisan setengah jadi.

Tapi apa lacur, kau memang sedang kehilangan semangat menulismu karena kritikan pedas yang kau terima terhadap tulisan terakhirmu itu, sebab itulah kau selalu menulis tulisan yang selalu setengah jadi.

***

Hari ini kau gajian, kau pulang ke rumah. Sepertinya kau rindu rumah, rindu ibumu terutama. Sampai dirumah kau langsung bercerita

Bu, ada yang memintaku untuk menjadi Kopi.

Katanya kalau aku jadi Kopi, mungkin aku bisa jadi seniman

Konon seniman tidak pernah tidur, Bu

“yang tidak pernah tidur itu Tuhan, bukan seniman!” ekspresi ibumu serba bingung

Ibumu mengeleng-geleng, lama tidak pulang, anaknya semakin aneh saja keinginanya, pikir ibumu begitu. Sesudah itu, Ibumu bertanya, siapa yang memintamu menjadi kopi.

“Perempuanku yang memintanya, Bu.” Kau menjawab penuh keraguan. Sebenarnya memang betul, perempuan itu memintamu menjadi Kopi. Katanya kopi itu dekat dengan menjadi penulis, kesimpulan sesungguhnya dia ingin kau menjadi penulis sesegera mungkin, lalu sukses jadi penulis, dan kaya dari menulis, dan melamarnya, dan menikahinya, kemudian hidup bahagia.

Ibumu menggeleng-geleng. Katanya, jangan terlalu berharap banyak dari menulis, suksesnya akan lama. Jadi sekarang Ibuku memintaku menjadi pegawai negeri, biar gajiannya pasti. Kau terkekeh, sama susahnya, dari babu ke pegawai negeri maupun dari babu ke penulis.

Jadi akhirnya Kau tetap menunaikan keinginan perempuanmu, dia yang memintamu menjadi Kopi.

-Selesai-