Aroma Apel (Cerpen)

Cerpen ini adalah cerpen yang saya tulis selama satu jam, saat sesi tantangan menulis Kampus Fiksi Roadshow di Jakarta, 06 November 2016 :). Maklumi saja kalau banyak kekurangan.hehehe. Selamat Membaca 🙂

Aroma Apel

Oleh : Audhinadaw

horizontal-1155878_1920.jpg

KITA adalah orang terakhir yang berada di ruangan berukuran 10×10 m ini. Aroma apel menyeruak di seluruh ruangan. Kau masih saja kebingungan dengan dua tong apel kualitas satu dan apel kualitas dua, sedangkan saat ini tutup tong tersebut sudah tidak bisa lagi kau buka. Bos sudah membentakmu berkali-kali, menyeramahimu tentang biaya yang bisa hilang apabila kau membuka tutup tong itu untuk memastikan mana apel kualitas satu dan apel kualitas dua.

Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian kebingungan. Sebab, akulah yang menyebabkanmu mungkin jadi membuat kesalahan itu, Kau terus saja melayani celotehanku, yang seharusnya tidak perlu kau jawab. Kau sudah menggugurkan bermili air keringat. Bos masih saja tidak terima. Sedari tadi aku sebenarnya ingin bilang, aku akan menanggung kesalahan itu bersamamu, namun belum juga ada kesempatan, Bos semakin memerah wajahnya, suasana ruangan itu sudah tidak beraroma apel segar, apel busuk mulai membuatku muak, seolah ruangan itu juga protes ingin cepat selesaikan konflik itu. Kau menunduk semakin dalam, mengamati lantai yang basah, dan pasrah bila mungkin kau akan kehilangan pekerjaan ini. Bos akhirnya mengalah dengan keadaan ini, menyuruh kau agar segera membuka tong apel itu, dan segera memastikan mana yang kualitas satu dan kualitas dua. Bos keluar, masih dengan wajah merah, hidung yang mengembang, dan aroma keringatnya adalah aroma keringat kemarahan, mengalahkan aroma apel.

Aku akhirnya tidak menyuarakan apa yang seharusnya menjadi pembelaan untukmu, kutelan ludah dan menatap wajahmu yang masih menunduk.

“Aku minta maaf.”kuucapkan kalimat itu penuh keraguan

Kau masih menundukkan wajah, aku khawatir, bisa saja akhirnya kau meledakkan emosi. Namun ternyata Kau menghembuskan napas disertai suara keras, lantas Kau malah tersenyum menatapku dan bicara

“Tenang saja, ini bukan salahmu.”ucapnya meyakinkan disertai ekspresi normal.

“Ayolah jangan dipikirkan, bisa bantu aku? Aku harus segera memastikan isi tong ini.”

Aku mengangguk segera membantunya membuka tong itu.

***

KITA akhirnya mengetahuinya, ternyata dugaanmu benar, meskipun pada awalnya dengan perkiraan saja, kau bisa tepat memahami isi tong itu tanpa membuka tong itu. Tapi prosedur harus berjalan dengan biasanya. Kita selesai menghantarkan tong apel kualitas satu kebagian pengiriman, segera mungkin agar tidak telat sampai tujuan.

Masalah itu segera terlupakan, meski akhirnya tetap saja kau ingat dan masih takut apabila dipecat dari pekerjaan ini. Diperjalanan antara menuju ruangan penuh apel jalanan ini berbentuk lorong panjang. Lorong itu mengizinkan kau untuk berjalan perlahan, dan kau malah bercerita tentang dirimu. Aku dengan senang hati mendengarkan apa saja ceritamu, asal nanti kau tersenyum.

Kau senang dengan pekerjaanmu saat ini, bahkan mencintai pekerjaan ini, penyebabnya adalah aroma apel yang kau cintai ini mengikatmu, tak membiarkan kau untuk pergi. Kau sangat senang menceritakan tentang aroma apel, aroma apel yang katamu menyelamatkanmu dari penyakit sakit kepalamu itu, sakit kepala yang selalu datang setiap dua minggu sekali. Ketika itu kau sudah mencoba berbagai obat kimia, dan belum juga sembuh. Sakit kepala itu datang lagi setiap dua minggu sekali. Sampai pada suatu hari kau menemukan seorang gadis beraroma apel yang membuatmu sembuh dari sakit kepala.

Kau sampai sekarang sebenarnya masih ragu dengan apa yang menyembuhkanmu dari sakit kepala. Gadis itu atau aroma tubuh gadis itu. Keyakinanmu adalah gadis itu beraroma apel yang menyembuhkanmu. Gadis itu tiba-tiba menghilang dari hidupmu, kau masih kebingungan mencarinya. Terakhir kali bertemu dengannya ketika kau mencari tahu mana kebun apel paling berkualitas di kota ini. Semua kebun di pulau ini kau datangi, dan gadis itu bukan berada di kebun apel yang berkualitas itu, gadis itu berada di kebun apel biasa.

Saat kau datang ke kebun itu, aroma apel di sana kalah dengan aroma tubuh gadis itu, wajah gadis itu merona seperti rona apel matang, dia memberimu sebuah apel, dan kau memakannya. Apel itu memang kalah dengan gadis itu. Bagaimana mungkin aroma apel itu diserap ke dalam tubuh gadis itu. Meski kau tidak membuat kebun gadis itu jadi penyetor apel pabrik Bos besarmu itu, kau rutin mengunjungi gadis itu. Dan sakit kepalamu jadi perlahan menghilang, meski tidak langsung hilang, aroma apel bagai terapi bagi sakitmu.

***

Aku senang menjadi pendengarmu, yang menjadi pengurang rasa kesalmu saat ini. Mendengarkan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Aromamu sekarang menjadi mirip aroma pengharapan. Kau bilang bahwa mencium aroma tubuhmu seperti aroma apel, padahal aroma yang kucium dari tubuhmu adalah aroma pengharapan, kesepian, dan rindu terhadap gadis itu. Aku bisa mencium aroma tubuh seseorang dan menjelaskan apa yang terjadi padanya hanya dari aroma tubuhnya.

Aku menanyakan tentang kemungkinan keberadaan gadis yang kau cintai itu. Kau buntu. Kau bilang, kau bersyukur bekerja di sini, aroma apel di sini seperti aroma gadis itu. Kau tersenyum dan bilang

“Semoga saja aku tidak dipecat supaya sakit kepalaku tetap sembuh” Kau mengatakan itu penuh pengharapan, kemudian tersenyum.

-Selesai-

 

Iklan

7 comments on “Aroma Apel (Cerpen)

  1. Yang ini kan ya Mba Dhin? Udah baca tadi pagi, cuma lupa komen hahaha. Bagus deh mba seriusan, pendeskripsiannya ok bgt, gue bisa dgn enak ngebayanginnya. Tapi, (eaa ada tapinya) bener kata lo mba, ending nya terlihat memaksakan mba, soalnya masih bisa dikembangin lg itu.

    Duh apel, wanginya aja bisa bikin ilang pusing. Apalagi megang yang 7 (iphone) mba hahaha

  2. Iya mba, dibagian paragraf -aku senang menjadi pendengarmu. Diparagraf itu gue nemuin banyak kata “aroma”, cukup banyak untuk satu paragraf hihihi. *eh gue soktoy bgt deh ini ngomenin cerpen lo* *baru sadar*
    Harus pede lah mba, ditambah doa hehehe

    Iyah itu yang plus plus itu menyenangkan lah hahaha

    • orang-orang sekitar kita adalah korektor paling jujur. gue selalu mendengarkan apa saja jenis komentarnya kok, bang edo. gue percaya itu bermanfaat.
      terimakasih sudah mau maunya baca yak?😁
      .
      semoga dehhh.

  3. hwuaaa saya jadi ingat suami saya kemarin2 pakai parfum aroma melon. sekarang LDRan..klo nemu melon dan membaunya..jadi ingat dia #eaaa

    *komen ini mengandung curcol
    *Btw, salam kenal Audhina ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s