Acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

DSC04280.JPG

“Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman”—Kampus Fiksi

Gramedia Matraman dibuka pukul 09.00 WIB, Gue sama Kak Dini nunggu dari pukul 08.20 WIB :D, kerajinan banget yak. Dipunggung gue sama Kak Dini ada ransel yang berisi laptop, berat coy. Panitia menyarankan kita buat bawa laptop, soalnya nanti ada sesi tantangan menulis cerpen selama satu jam.

Begitu pintu gedung dibuka, kita masuk. Jalan menuju Function Room tempat acaranya dilaksanakan. Acaranya pukul 10.00 WIB, kita mondar-mandir dulu lihat-lihat Gramedia Matraman, meski nggak ada niatan buat beli buku. Ngoahahaha. Koleksinya tergolong lengkap.

Pukul 10.00 WIB semua peserta memasuki ruangan, pesertanya berangsur banyak lebih dari 200 orang. Gue sama Kak Dini akhirnya bisa ketemu teman satu komunitas di Jamaah Typhobia, ada Kak Nanae Zha, Kak Devani, Mei (Alumni KF), Amad Kocil (Almuni KF).

Acara dibuka oleh salah satu editor Penerbit Diva Press (Penerbit Mayor) Mbak Afifah Ve. Bagi kalian yang enggak tahu, apa itu Kampus Fiksi, jadi Kampus Fiksi ini punyanya Diva Press, penggagasnya siapa lagi kalau bukan Pak Edi AH Iyubenu. Kampus Fiksi ini komunitas menulis yang acaranya diselenggarakan di Yogyakarta. Kampus Fiksi sudah memiliki alumni yang karya-karyanya (Novel, Cerpen, Puisi, dll) semakin merajalela, gue merasa kagum sama Pak Edi ini, beliau menyelenggarakan Kampus Fiksi secara gratis, beliau peduli dengan penulis pemula.

Pendaftaran Kampus Fiksi Cuma dibuka setiap beberapa tahun sekali, soalnya setiap angkatan hanya beberapa orang saja, Seleksinya juga ketat, seleksinya melalui penilaian cerpen yang dikirim peserta pada saat pembukaan pendaftaran Kampus Fiksi. Gue sebenernya tahu pendaftaran Kampus Fiksi ada di tahun lalu, tapi gue enggak daftar (ngirim cerpen), tapi ternyata nyeselnya sekarang, gue enggak tahu rasa menyesalnya sebegininya, soalnya alumni Kampus Fiksi  dibimbing sampai punya karya yang terbit. Lebih lengkap mengenai Kampus Fiksi, bisa kalian cari tahu sendiri ya.

Balik lagi ke acara ya. Acara pertama diisi oleh salah satu alumni Kampus Fiksi, Kak Reza Nufa, kalian bisa intip tulisannya di blognya klik di sini.

Reza Nufa ini alumni angkatan pertama Kampus Fiksi, dia sekarang sudah jadi kurator di Sastra Perjuangan. Sharing dari Reza Nufa ini sangat bermanfaat.

Dia menekankan bahwa writersblock itu enggak ada, itu cuma alasan. Kalau mau nulis, menulislah jangan banyak alasan. Lalu meski dia enggak percaya writersblock, kalau dia sudah jengah dengan naskah yang sedang dia tulis, dan dia tipe orang yang enggak mau ribet, dia memilih meninggalkan tulisan itu, meski ada beberapa tulisan yang akhirnya selesai juga.

Kata dia, jangan taruh kaki dua-duanya di genre fiksi-pop, kalau bisa taruh kaki satunya lagi di genre sastra, ya kalau bisa kakimu jadi sepuluh lah, di biografi, di  esai, dll

Ibaratnya kamu taruh dua kaki di situ, kalau kamu kecemplung pasti jatuh, jadi jangan taruh dua kaki di satu tempat.

Menurutnya semua tulisan sekarang ini jenisnya sastra, sebab semua tulisan hari ini bisa jadi sastra di beberapa puluh tahun ke depan.

Kemudian tentang ketahanan saat menulis itu penting. Dalam menulis dia sangat mementingkan playlist lagu yang dia dengarkan, sebab nantinya tulisan itu bergantung pada emosi si penulis juga, bagi pembaca yang peka, pasti akan memahami bahwa tulisan yang misalnya baru diselesaikan setengah, kemudian saat dilanjutkan oleh si penulis (misal dalam keadaan emosi berbeda) tulisan itu akan seperti dipaksakan menjadi ingin cepat selesainya.

Guys, yang gue tangkap dari pembicaraan Reza Nufa cuma segitu, sebenarnya banyak tapi yang nancep di kepala cuma segitu.

Selanjutnya sharing utama dari Pak Edi AH Iyubenu. Gue bakal tulisin apa yang gue rekam di otak gue aja ya. Yok…

dsc04285

Dalam menulis fiksi itu hal utama adalah ide gagasan, sebenarnya ide gagasan tidak ada yang baru, misalnya tentang kangen, ditulis oleh Tere Liye jadi novel Rindu, ditulis oleh Eka Kurniawan jadi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Dan yang membedakan kedua buku itu adalah sudut pandangnya. Tidak ada ide yang benar-benar orisinil. Pak Edi kenal personal sama Tere Liye. Tere Liye menggambarkan hal tersebut kepada Pak Edi, beliau  mengangkat selembar kertas putih, bila dilihat dalam keadaan terang kertas itu berwarna putih, coba saja bila dimatikan lampunya, kertas itu akan berwarna hitam.

Penulis itu harus jadi penafsir dan memengaruhi orang lain.

Penulis yang baik memiliki pengetahuan di atas rata-rata, maksudnya harus berkompetensi terhadap apa yang ditulisnya. Apa saja yang ditulis dengan pengetahuan yang  tidak baik, itu akan jadi tulisan yang memalukan. Misalnya kalian menulis sesuatu yang sangat tidak masuk akal kemudian tulisanmu itu kalian posting dimana-mana, itu seolah kalian sedang melucuti diri sendiri, seperti mengiyakan bahwa kalian bodoh. Orang-orang sekitar kita adalah korektor paling jujur yang kita punya.

Jadi Penulis juga harus santai, nulis itu enggak mesti setiap hari. Tapi sebaiknya punya tabungan ide yang nantinya bisa dituliskan menjadi sebuah naskah.

Penyajian (Teknik Menulis) : alur/plot, penokohan, konflik, setting, ending, logika cerita

Tentang alur dan plot, kalau kalian penulis pemula jangan dulu lah pakai plot loncat-loncat seperti yang dilakukan Eka Kurniawan, takutnya nanti tersesat. Habitkan saja apa yang saat ini kalian bisa.

Penulis pemula sering lupa terhadap penokohan, sebab terlalu memikirkan alur/plot, lupa kegelisahan tokoh, lupa karakter tokoh, pashion tokoh, dll

Tentang ending, Pak Edi sangat membenci dua jenis ending , pertama ending yang tokohnya dibikin mati, dan kedua adalah ending yang tokohnya terlalu dipaksakan bahagia.

Tips penting :

  1. Buat outline dan disiplin dengannya
  2. Pentingnya judul dan kalimat/paragraph pembukaan (opening), dan ending
  3. Tips membuat kalimat lincah : jungkir balikkan kaidah SPOK jangan terjebak pakem
  4. Snapshot dan frase

Tentang Judul

Judul yang baik sangat diperlukan, Pak Edi menggambarkan dengan basabasi.co (situs online yang juga Pak Edi punya), setiap harinya berbagai naskah masuk, kalau digambarkan setiap minggu itu ada ratusan naskah masuk, dan yang dimuat hanya satu saja dalam seminggu. Bagaimana para kurator menyeleksi tulisan tersebut, hal pertama yang mereka lihat adalah Subject emailnya Judul tulisan yang dikirim para penulis. Jika dari judul saja udah enggak banget, bagaimana dengan isi tulisannya.

Bukan bermaksud tidak adil, tapi begitulah kenyataannya, coba saja redaktur yang lainnya pun sama.

Tentang Opening

Pak Edi menggambarkan tentang satu naskah yang masuk ke email basabasi.co , Openingnya sangat menjemukan misalnya : Sinar mentari terbit, burung malu-malu bernyanyi……..

Sebenarnya dulu opening semacam itu memang sah-sah saja, tapi sekarang sastra sudah berkembang, tolonglah jangan terjebak dengan opening yang menjemukan begitu. Banyak cara lebih baik daripada memulai tulisan dengan opening pasaran itu.

Guys, gue mulai lelah ngetik nih, gue langsung ke akhir acara ya. Pak Edi berbicara mengenai apa sih yang bikin penulis itu gagal menyelesaikan tulisan, pertama ide awalnya dangkal, dan kedua adalah penulis tidak menulis dengan alat bantu seperti outline.

Menulis itu suatu kebiasaan, semakin produktif semakin berkualitaslah suatu tulisan.

Suatu tolak ukur, apakah kalian sudah berhasil dalam menulis adalah coba kalian ambil satu Tema dan menuliskannya dalam beberapa ide menjadi beberapa naskah berbeda, inilah yang disebut keluesan dalam berkarya.

Nah itu beberapa hal inti yang Pak Edi sampaikan, sebenarnya banyak, tapi gue mulai lelah ngetik, sebenarnya tips-tips nulis itu begitu-begitu aja kan, kuncinya ya nulis, dan jadikan menulis itu sebagai suatu kebiasaan, dan banyaklah berlatih, nantinya kalian akan mempunyai style tulisan sendiri.

Dan ingat, penulis itu harus punya attitude yang baik.

Acara utama sudah selesai, selanjutnya adalah praktik menulis cerpen dalam satu jam. Afifah Ve bilang, cerpen terbaik dari praktik selama satu jam ini akan mendapat golden tiket Kampus Fiksi Reguler di Yogyakarta.

Gue sangat bersemangat menulis, meski awalnya kebingungan mau nulis apa, sejam itu enggak cukup untuk menulis suatu cerpen. Gue berhasil nulis dua halaman setengah, dan mungkin dipaksakan ending. Selanjutnya cerpen tersebut mencari mentor. Acara itu dihadiri oleh alumni-alumni Kampus Fiksi berdomisili Jakarta, Kebetulan gue, Kak Dini, dan Kak Ratna dimentori oleh Reza Nufa. Sebenarnya Gue, Kak Dini, Kak Ratna, satu komunitas yaitu Jamaah Typhobia yang adminnya itu salah satunya Reza Nufa.

Waktu sangat amat mendesak, gue dan beberapa orang lainnya yang dimentori dia nggak kebagian dikomenin cerpennya oleh Reza Nufa, akhirnya dia bilang, kirim aja ke email dia.

dsc04297

Gue berharap cerpen gue bisa membawa gue ke Kampus Fiksi Reguler melalui jalur golden tiket. Aamin.

Akhirnya acara selesai pukul 16.00 WIB, bukan lantas langsung pulang, kita foto bersama dulu sama Jamaah Typhobia, sama Pak Edi juga.

img-20161107-wa0007

Kak Devani, Kak Dini, Mei, Kak Reza Nufa, Kak Amad Kocil, dan Gue

IMG-20161107-WA0000.jpg

Gue, Pak Edi, Kak Dini, Kak Nanae, Kak Amad Kocil

img-20161107-wa0006

Kak Amad, Gue, Kak Nanae, Kak Dini, dan Mbak Afifah Ve (Editor Diva Press)

Sekitar setengah jam kemudian, kita keluar dari Gramedia Matraman, sholat dulu baru nyari makan. Awalnya Gue sama Kak Dini plus Kak Nae, mau sok-sokan gitu keluar dari gedung dan nyari makan, tapi daripada nyasar (kita gak ada yang tau jalan), kita ngehubungi Kak Amad. Dan ternyata Kak Amad agak lama, kita kayak orang terlantar gitu di depan Gramedia Matraman. XD

Pas Kak Amad datang, dia nyarani supaya makan di tempat dekat situ aja, enggak perlu ribet, Kita (Gue, Kak Din, Kak Nae, dan Kak Amad) akhirnya makan mie ayam di bawah jembatan penyebrangan.

Sekitar pukul setengah enam Gue sama Kak Dini pamit, dan akhirnya berpisah sampai sana saja. Gue masih belum bisa move on dari acara itu. Hahahaha semoga gue bisa ketemu mereka lagi.

Harusnya kita naik Kopaja 502 lagi menuju ke Stasiun Cikini, tapi lama banget enggak muncul juga. Akhirnya Kita memilih naik Bajaj. Dan itu adalah kebahagiaan gue selanjutnya. Gue sebenarnya dari awal pengin banget naik bajaj, tapi baru berkesempatan. Awalnya sopir bajajnya ngasih harga Rp 30.000/2 orang, tapi kita tawar jadi Rp 20.000/2 orang.

DSC04313.JPG

Gue anggap hadiah ulang tahun gue nanti tanggal 13 November itu udah dihadiahi dengan KF Roadshow, ketemu Jamaah Typhobia (Kak Dini, Kak Nae, Kak Devani, Kak Amad, Mei, dan Kak Reza), ketemu Pak Edi, dan yang semakin membahagiakan adalah naik bajaj. :D, buahahahaha

Guys, maafin ya kalau tulisannya kepanjangan, dan penjabaran gue mungkin menjemukan. Terimakasih sudah baca :).

Iklan

14 comments on “Acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

  1. Ah seru nih acaranyaa. Sorry ya mba ga bisa ikutan kmrn, diajak jalan hihihi. Tapi kayanya puas banget ya udah ketemu alumni kampus fiksi. Huhuhu semangat mba Dhina, semoha lolos seleksi cerpennya 🙂

    • iya seru, bang edo. gue seneng 😀
      .
      huhuhu, iya gak papa. kalau ada bang edo mungkin gue gak cuma jalan ke jembatan penyebrangan.😂 bisa ke tempat lain.
      .
      alhamdulillah lumayan puas.
      .
      Aamin ya. coba komenin cerpennya di postingan terbaru gue ya. bang.😅

  2. Keren tulisannya. Ringan, gmpang dicerna, asyik.

    Bedah yah klo sering ikut2 event/seminar kepenulisan sama yg diem aja dlm kamar (sprti saya 😞 ).

    Nice share mba, trimakasih sharing nya. 👍👌☺

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s