Tidur (Puisi)

c360_2015-06-05-06-02-54-587

Tak ada yang hilang kecuali kamu

Tak ada yang tinggal kecuali mimpiku

Di batas timbunan mimpi dan nyata,di mana kamu?

Aku kehilangan kantukku, mungkin esok aku akan kesiangan merindukanmu.

Kupikir kau pingsan, dengan harapan akan tersadar

Ternyata kau tidur panjang, pura-pura

Dan menjauh dariku.

Aku pamit ingin bersatu dengan malam, juga menjauh darimu

Selamat malam

Daw| Sukabumi, 18 November 2016

Iklan

Orhan Pamuk-Istanbul

dsc04346

Dear you, cobalah untuk berani bangkit, jangan takut akan masa depan, sejarah (masa lalu) tetap kentara meski perubahan-perubahan menimbunnya, seperti Istanbul, tetap istimewa.

“Keindahan suatu tempat terletak pada kemurungannya.”-Ahmet Rasim

Catatan (Puisi)

c360_2014-12-25-16-19-53-198

Temaram Bandung bilang bahwa Yogyakarta masih teramat jauh lagi.
Dingin turun membungkus bumi dari langit.
Merpati enggan pergi pulang menuju singgah.
Ini jalan menuju Yogyakarta.

Padalarang, 25 Desember 2014

Belajar Membalas yang Mencintai Diam-Diam

11119301_981724705191247_4111962820837838858_n

Perhatian : tulisan mungkin akan sangat jauh melenceng dari judul XD

Bila kamu khawatir, mengapa harus sembunyi-sembunyi memberikan penjagaanmu itu?. Tidak pernah sadarkah kamu?, bahwa mungkin dia memang menunggumu untuk menjaganya, untuk menolongnya.

Sebenarnya kamu sudah ingin lama pergi, tapi kamu selalu kembali, padahal otakmu tak mau itu, namun batinmu yang menyedotmu untuk memberikan penjagaan untuknya. Ketahuilah bahwa manusia manapun tidak suka suatu harapan yang tidak mungkin terjadi.

Maka sebaiknya jika kamu khawatir, jagalah dia, bukan malah sembunyi terus menerus dan hanya memerhatikan dari jauhnya dirimu.

Jika kamu pergi, pergilah yang benar dan jangan kembali lagi, pun tak perlu memberikan penjagaanmu itu.

Bersikaplah menjadi manusia berpendirian kuat, tidak ada yang suka dengan pendirian yang kadang-kadang limbung begitu. Kamu disebut hidup karena kamu pagi ini bangun tidur, lanjutkanlah hidupmu dengan pendirian yang mantap, berprinsip, jika sudah begitu kamu bisa menghargai manusia lain.

Memangnya kamu mau seseorang terus menerus datang kemudian pergi, untuk kemudian lagi datang kembali. Ya! Ketahuilah perlahan kamu hanya akan menyesalinya, kamu pasti merasa kehilangan seseorang yang menunggumu.

Sadarlah kamu juga memiliki rasa bosan, begitu juga ia yang menunggumu. Tenang saja, Dia juga punya bosan dan pergi menghilang, jangan cari dia hanya karena kamu bosan, kasihanilah dia yang telah mati-matian menekan pedulinya kepadamu. Ketahuilah bahwa mencoba berhenti peduli itu sulit.

Doakan Aku yang Baik Saja :)

ulang-tahun-2016

Sudah 13 November 2016 nih

Kalau bisa kamu jangan cengeng ya?

Kalau bisa kamu jangan mudah menyerah ya?

Kalau bisa kamu jadi membanggakan ya?

Kalau bisa kamu tersenyum ya?

Biasanya pertanyaan begitu, bisa saja kujawab dengan anggukan, bonus dengan senyuman yang sok dimanis-maniskan, tapi mengangguk dan realisasi itu tidak sejajar jalannya, jadi maklumi jika sepanjang menuju 13 November 2017 aku akan jadi munafik, mengiyakan semuanya tapi tidak mampu berealisasi.

Doakan aku yang baik-baik saja ya, jangan doakan aku cepat mati, nanti kau akan sepi tanpa aku di bumi ini. #halah

(:Sunting 🙂

13 November 2016, pagi hari pukul 10.00 WIB, lagi nunggu dosen datang. Geng Alchemistry Non-Reg 2015, bukannya dimakan cake kecil (dari teh Mala), krimnya malah dicolek-colekin ke mukaku. -.-, aku sayang kalian, sebagai yang paling muda diantara semuanya, aku merasa sangat spesial #PDbanget.

 

14 November 2016 (Kerja Shift Siang)

Kebahagiaan yang eggak disangka-sangka datang dari rekan sejawat di tempat kerja, aku sebenarnya enggak mengharapkan kejutan, yang penting doanya, tapi kalau dikasih ya jangan nolak XD.

Berhubung tanggal 13 itu hari minggu, dan mereka baru sempat bikin kejutan di tanggal 14 XD. Aku benar-benar terkejut, jadi aku berkesimpulan

enggak semua yang terlambat itu menyakitkan.

Jadi habis sholat ashar di mushola aku balik lagi ke ruangan racik obat, dan mereka(beda shift kerja) udah ada di sana, asli kaget, asli seneng, asliiiii terharoe ToT, enggak nyangka.

Namaku Audhina Novia Silfi, jangan protes kalau orang-orang memanggilku dengan berbagai panggilan kepadaku. Khusus dari mereka, aku dipanggil Ovi, dari asalnya Novi, panjang deh sejarahnya.

 

Terimakasih untuk yang telah mendoakan, alhamdulillah aku memiliki kawan-kawan baik seperti kalian. Pada akhirnya, manusia memang saling membutuhkan, memiliki intuisi untuk saling menyayangi.

Momen bertambahnya umur ini menjadi tolak ukurku untuk mengintrospeksi diri, sampai mana sih aku hidup?, apa aja sih yang udah dicapai?. Yap jawabannya memang tidak ada yang memuaskan. Semoga 10 tahun lagi kita sama-sama jadi pribadi yang sukses, bukan untuk kesuksesan sendiri, tapi buat orang-orang sekitar juga. Aamin.

See you in the next post 🙂

(:Sunting:)

19 November 2016, Sangat amat jauh dari hari ulang tahun

Tadaaa dari sahabat jauhku di Yogyakarta, siapa lagi kalau bukan Ida Ayu Zahrotun Na’im, Dia mengirimiku hadiah, meski begitu telat dan aku bingung, ini alat-alat pesta ulang tahun mau aku pakai kapan? :D, kata ibuku, simpen aja buat anakmu nanti -.-, yakaleeee.

Dear Ida Ayu Zahrotun Na’im, terimakasih untuk hadiahnya, terutama untuk kerudungnya, aku suka :), oya jangan sedih karena tahun ini belum bisa pergi ke Jawa Barat untuk berpetualang, jangan sedih, suatu saat pasti ada waktunya, bermimpilah terus, doa-doa itu akan menemukan waktu yang tepat 🙂

Terimakasih Ida Ayu Zahrotun Na’im, aku kasih bonus fotoku pakai kerudung hadiahmu, tapi mukaku kucel, soalnya baru pulang kuliah XD. Peluk cium 🙂

 

Dan hari ini masih kebanjiran ucapan ulang tahun, yaitu dari Cinta Laura Kiehl :D, telat sih, tapi nggak papa, makasih idolaku. XD.

1479544197209

Maaf kawan-kawan, karena postingan ini dipenuhi muka saya yang ya ampuuunn banget, terimakasih sudah mau-maunya baca, terimakasih yang sudah mengingat. I love you 🙂

Aroma Apel (Cerpen)

Cerpen ini adalah cerpen yang saya tulis selama satu jam, saat sesi tantangan menulis Kampus Fiksi Roadshow di Jakarta, 06 November 2016 :). Maklumi saja kalau banyak kekurangan.hehehe. Selamat Membaca 🙂

Aroma Apel

Oleh : Audhinadaw

horizontal-1155878_1920.jpg

KITA adalah orang terakhir yang berada di ruangan berukuran 10×10 m ini. Aroma apel menyeruak di seluruh ruangan. Kau masih saja kebingungan dengan dua tong apel kualitas satu dan apel kualitas dua, sedangkan saat ini tutup tong tersebut sudah tidak bisa lagi kau buka. Bos sudah membentakmu berkali-kali, menyeramahimu tentang biaya yang bisa hilang apabila kau membuka tutup tong itu untuk memastikan mana apel kualitas satu dan apel kualitas dua.

Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian kebingungan. Sebab, akulah yang menyebabkanmu mungkin jadi membuat kesalahan itu, Kau terus saja melayani celotehanku, yang seharusnya tidak perlu kau jawab. Kau sudah menggugurkan bermili air keringat. Bos masih saja tidak terima. Sedari tadi aku sebenarnya ingin bilang, aku akan menanggung kesalahan itu bersamamu, namun belum juga ada kesempatan, Bos semakin memerah wajahnya, suasana ruangan itu sudah tidak beraroma apel segar, apel busuk mulai membuatku muak, seolah ruangan itu juga protes ingin cepat selesaikan konflik itu. Kau menunduk semakin dalam, mengamati lantai yang basah, dan pasrah bila mungkin kau akan kehilangan pekerjaan ini. Bos akhirnya mengalah dengan keadaan ini, menyuruh kau agar segera membuka tong apel itu, dan segera memastikan mana yang kualitas satu dan kualitas dua. Bos keluar, masih dengan wajah merah, hidung yang mengembang, dan aroma keringatnya adalah aroma keringat kemarahan, mengalahkan aroma apel.

Aku akhirnya tidak menyuarakan apa yang seharusnya menjadi pembelaan untukmu, kutelan ludah dan menatap wajahmu yang masih menunduk.

“Aku minta maaf.”kuucapkan kalimat itu penuh keraguan

Kau masih menundukkan wajah, aku khawatir, bisa saja akhirnya kau meledakkan emosi. Namun ternyata Kau menghembuskan napas disertai suara keras, lantas Kau malah tersenyum menatapku dan bicara

“Tenang saja, ini bukan salahmu.”ucapnya meyakinkan disertai ekspresi normal.

“Ayolah jangan dipikirkan, bisa bantu aku? Aku harus segera memastikan isi tong ini.”

Aku mengangguk segera membantunya membuka tong itu.

***

KITA akhirnya mengetahuinya, ternyata dugaanmu benar, meskipun pada awalnya dengan perkiraan saja, kau bisa tepat memahami isi tong itu tanpa membuka tong itu. Tapi prosedur harus berjalan dengan biasanya. Kita selesai menghantarkan tong apel kualitas satu kebagian pengiriman, segera mungkin agar tidak telat sampai tujuan.

Masalah itu segera terlupakan, meski akhirnya tetap saja kau ingat dan masih takut apabila dipecat dari pekerjaan ini. Diperjalanan antara menuju ruangan penuh apel jalanan ini berbentuk lorong panjang. Lorong itu mengizinkan kau untuk berjalan perlahan, dan kau malah bercerita tentang dirimu. Aku dengan senang hati mendengarkan apa saja ceritamu, asal nanti kau tersenyum.

Kau senang dengan pekerjaanmu saat ini, bahkan mencintai pekerjaan ini, penyebabnya adalah aroma apel yang kau cintai ini mengikatmu, tak membiarkan kau untuk pergi. Kau sangat senang menceritakan tentang aroma apel, aroma apel yang katamu menyelamatkanmu dari penyakit sakit kepalamu itu, sakit kepala yang selalu datang setiap dua minggu sekali. Ketika itu kau sudah mencoba berbagai obat kimia, dan belum juga sembuh. Sakit kepala itu datang lagi setiap dua minggu sekali. Sampai pada suatu hari kau menemukan seorang gadis beraroma apel yang membuatmu sembuh dari sakit kepala.

Kau sampai sekarang sebenarnya masih ragu dengan apa yang menyembuhkanmu dari sakit kepala. Gadis itu atau aroma tubuh gadis itu. Keyakinanmu adalah gadis itu beraroma apel yang menyembuhkanmu. Gadis itu tiba-tiba menghilang dari hidupmu, kau masih kebingungan mencarinya. Terakhir kali bertemu dengannya ketika kau mencari tahu mana kebun apel paling berkualitas di kota ini. Semua kebun di pulau ini kau datangi, dan gadis itu bukan berada di kebun apel yang berkualitas itu, gadis itu berada di kebun apel biasa.

Saat kau datang ke kebun itu, aroma apel di sana kalah dengan aroma tubuh gadis itu, wajah gadis itu merona seperti rona apel matang, dia memberimu sebuah apel, dan kau memakannya. Apel itu memang kalah dengan gadis itu. Bagaimana mungkin aroma apel itu diserap ke dalam tubuh gadis itu. Meski kau tidak membuat kebun gadis itu jadi penyetor apel pabrik Bos besarmu itu, kau rutin mengunjungi gadis itu. Dan sakit kepalamu jadi perlahan menghilang, meski tidak langsung hilang, aroma apel bagai terapi bagi sakitmu.

***

Aku senang menjadi pendengarmu, yang menjadi pengurang rasa kesalmu saat ini. Mendengarkan adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Aromamu sekarang menjadi mirip aroma pengharapan. Kau bilang bahwa mencium aroma tubuhmu seperti aroma apel, padahal aroma yang kucium dari tubuhmu adalah aroma pengharapan, kesepian, dan rindu terhadap gadis itu. Aku bisa mencium aroma tubuh seseorang dan menjelaskan apa yang terjadi padanya hanya dari aroma tubuhnya.

Aku menanyakan tentang kemungkinan keberadaan gadis yang kau cintai itu. Kau buntu. Kau bilang, kau bersyukur bekerja di sini, aroma apel di sini seperti aroma gadis itu. Kau tersenyum dan bilang

“Semoga saja aku tidak dipecat supaya sakit kepalaku tetap sembuh” Kau mengatakan itu penuh pengharapan, kemudian tersenyum.

-Selesai-

 

Acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

DSC04280.JPG

“Menulis berbeda dengan menjadi penulis. Yang pertama bisa sendirian, yang kedua butuh teman”—Kampus Fiksi

Gramedia Matraman dibuka pukul 09.00 WIB, Gue sama Kak Dini nunggu dari pukul 08.20 WIB :D, kerajinan banget yak. Dipunggung gue sama Kak Dini ada ransel yang berisi laptop, berat coy. Panitia menyarankan kita buat bawa laptop, soalnya nanti ada sesi tantangan menulis cerpen selama satu jam.

Begitu pintu gedung dibuka, kita masuk. Jalan menuju Function Room tempat acaranya dilaksanakan. Acaranya pukul 10.00 WIB, kita mondar-mandir dulu lihat-lihat Gramedia Matraman, meski nggak ada niatan buat beli buku. Ngoahahaha. Koleksinya tergolong lengkap.

Pukul 10.00 WIB semua peserta memasuki ruangan, pesertanya berangsur banyak lebih dari 200 orang. Gue sama Kak Dini akhirnya bisa ketemu teman satu komunitas di Jamaah Typhobia, ada Kak Nanae Zha, Kak Devani, Mei (Alumni KF), Amad Kocil (Almuni KF).

Acara dibuka oleh salah satu editor Penerbit Diva Press (Penerbit Mayor) Mbak Afifah Ve. Bagi kalian yang enggak tahu, apa itu Kampus Fiksi, jadi Kampus Fiksi ini punyanya Diva Press, penggagasnya siapa lagi kalau bukan Pak Edi AH Iyubenu. Kampus Fiksi ini komunitas menulis yang acaranya diselenggarakan di Yogyakarta. Kampus Fiksi sudah memiliki alumni yang karya-karyanya (Novel, Cerpen, Puisi, dll) semakin merajalela, gue merasa kagum sama Pak Edi ini, beliau menyelenggarakan Kampus Fiksi secara gratis, beliau peduli dengan penulis pemula.

Pendaftaran Kampus Fiksi Cuma dibuka setiap beberapa tahun sekali, soalnya setiap angkatan hanya beberapa orang saja, Seleksinya juga ketat, seleksinya melalui penilaian cerpen yang dikirim peserta pada saat pembukaan pendaftaran Kampus Fiksi. Gue sebenernya tahu pendaftaran Kampus Fiksi ada di tahun lalu, tapi gue enggak daftar (ngirim cerpen), tapi ternyata nyeselnya sekarang, gue enggak tahu rasa menyesalnya sebegininya, soalnya alumni Kampus Fiksi  dibimbing sampai punya karya yang terbit. Lebih lengkap mengenai Kampus Fiksi, bisa kalian cari tahu sendiri ya.

Balik lagi ke acara ya. Acara pertama diisi oleh salah satu alumni Kampus Fiksi, Kak Reza Nufa, kalian bisa intip tulisannya di blognya klik di sini.

Reza Nufa ini alumni angkatan pertama Kampus Fiksi, dia sekarang sudah jadi kurator di Sastra Perjuangan. Sharing dari Reza Nufa ini sangat bermanfaat.

Dia menekankan bahwa writersblock itu enggak ada, itu cuma alasan. Kalau mau nulis, menulislah jangan banyak alasan. Lalu meski dia enggak percaya writersblock, kalau dia sudah jengah dengan naskah yang sedang dia tulis, dan dia tipe orang yang enggak mau ribet, dia memilih meninggalkan tulisan itu, meski ada beberapa tulisan yang akhirnya selesai juga.

Kata dia, jangan taruh kaki dua-duanya di genre fiksi-pop, kalau bisa taruh kaki satunya lagi di genre sastra, ya kalau bisa kakimu jadi sepuluh lah, di biografi, di  esai, dll

Ibaratnya kamu taruh dua kaki di situ, kalau kamu kecemplung pasti jatuh, jadi jangan taruh dua kaki di satu tempat.

Menurutnya semua tulisan sekarang ini jenisnya sastra, sebab semua tulisan hari ini bisa jadi sastra di beberapa puluh tahun ke depan.

Kemudian tentang ketahanan saat menulis itu penting. Dalam menulis dia sangat mementingkan playlist lagu yang dia dengarkan, sebab nantinya tulisan itu bergantung pada emosi si penulis juga, bagi pembaca yang peka, pasti akan memahami bahwa tulisan yang misalnya baru diselesaikan setengah, kemudian saat dilanjutkan oleh si penulis (misal dalam keadaan emosi berbeda) tulisan itu akan seperti dipaksakan menjadi ingin cepat selesainya.

Guys, yang gue tangkap dari pembicaraan Reza Nufa cuma segitu, sebenarnya banyak tapi yang nancep di kepala cuma segitu.

Selanjutnya sharing utama dari Pak Edi AH Iyubenu. Gue bakal tulisin apa yang gue rekam di otak gue aja ya. Yok…

dsc04285

Dalam menulis fiksi itu hal utama adalah ide gagasan, sebenarnya ide gagasan tidak ada yang baru, misalnya tentang kangen, ditulis oleh Tere Liye jadi novel Rindu, ditulis oleh Eka Kurniawan jadi novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Dan yang membedakan kedua buku itu adalah sudut pandangnya. Tidak ada ide yang benar-benar orisinil. Pak Edi kenal personal sama Tere Liye. Tere Liye menggambarkan hal tersebut kepada Pak Edi, beliau  mengangkat selembar kertas putih, bila dilihat dalam keadaan terang kertas itu berwarna putih, coba saja bila dimatikan lampunya, kertas itu akan berwarna hitam.

Penulis itu harus jadi penafsir dan memengaruhi orang lain.

Penulis yang baik memiliki pengetahuan di atas rata-rata, maksudnya harus berkompetensi terhadap apa yang ditulisnya. Apa saja yang ditulis dengan pengetahuan yang  tidak baik, itu akan jadi tulisan yang memalukan. Misalnya kalian menulis sesuatu yang sangat tidak masuk akal kemudian tulisanmu itu kalian posting dimana-mana, itu seolah kalian sedang melucuti diri sendiri, seperti mengiyakan bahwa kalian bodoh. Orang-orang sekitar kita adalah korektor paling jujur yang kita punya.

Jadi Penulis juga harus santai, nulis itu enggak mesti setiap hari. Tapi sebaiknya punya tabungan ide yang nantinya bisa dituliskan menjadi sebuah naskah.

Penyajian (Teknik Menulis) : alur/plot, penokohan, konflik, setting, ending, logika cerita

Tentang alur dan plot, kalau kalian penulis pemula jangan dulu lah pakai plot loncat-loncat seperti yang dilakukan Eka Kurniawan, takutnya nanti tersesat. Habitkan saja apa yang saat ini kalian bisa.

Penulis pemula sering lupa terhadap penokohan, sebab terlalu memikirkan alur/plot, lupa kegelisahan tokoh, lupa karakter tokoh, pashion tokoh, dll

Tentang ending, Pak Edi sangat membenci dua jenis ending , pertama ending yang tokohnya dibikin mati, dan kedua adalah ending yang tokohnya terlalu dipaksakan bahagia.

Tips penting :

  1. Buat outline dan disiplin dengannya
  2. Pentingnya judul dan kalimat/paragraph pembukaan (opening), dan ending
  3. Tips membuat kalimat lincah : jungkir balikkan kaidah SPOK jangan terjebak pakem
  4. Snapshot dan frase

Tentang Judul

Judul yang baik sangat diperlukan, Pak Edi menggambarkan dengan basabasi.co (situs online yang juga Pak Edi punya), setiap harinya berbagai naskah masuk, kalau digambarkan setiap minggu itu ada ratusan naskah masuk, dan yang dimuat hanya satu saja dalam seminggu. Bagaimana para kurator menyeleksi tulisan tersebut, hal pertama yang mereka lihat adalah Subject emailnya Judul tulisan yang dikirim para penulis. Jika dari judul saja udah enggak banget, bagaimana dengan isi tulisannya.

Bukan bermaksud tidak adil, tapi begitulah kenyataannya, coba saja redaktur yang lainnya pun sama.

Tentang Opening

Pak Edi menggambarkan tentang satu naskah yang masuk ke email basabasi.co , Openingnya sangat menjemukan misalnya : Sinar mentari terbit, burung malu-malu bernyanyi……..

Sebenarnya dulu opening semacam itu memang sah-sah saja, tapi sekarang sastra sudah berkembang, tolonglah jangan terjebak dengan opening yang menjemukan begitu. Banyak cara lebih baik daripada memulai tulisan dengan opening pasaran itu.

Guys, gue mulai lelah ngetik nih, gue langsung ke akhir acara ya. Pak Edi berbicara mengenai apa sih yang bikin penulis itu gagal menyelesaikan tulisan, pertama ide awalnya dangkal, dan kedua adalah penulis tidak menulis dengan alat bantu seperti outline.

Menulis itu suatu kebiasaan, semakin produktif semakin berkualitaslah suatu tulisan.

Suatu tolak ukur, apakah kalian sudah berhasil dalam menulis adalah coba kalian ambil satu Tema dan menuliskannya dalam beberapa ide menjadi beberapa naskah berbeda, inilah yang disebut keluesan dalam berkarya.

Nah itu beberapa hal inti yang Pak Edi sampaikan, sebenarnya banyak, tapi gue mulai lelah ngetik, sebenarnya tips-tips nulis itu begitu-begitu aja kan, kuncinya ya nulis, dan jadikan menulis itu sebagai suatu kebiasaan, dan banyaklah berlatih, nantinya kalian akan mempunyai style tulisan sendiri.

Dan ingat, penulis itu harus punya attitude yang baik.

Acara utama sudah selesai, selanjutnya adalah praktik menulis cerpen dalam satu jam. Afifah Ve bilang, cerpen terbaik dari praktik selama satu jam ini akan mendapat golden tiket Kampus Fiksi Reguler di Yogyakarta.

Gue sangat bersemangat menulis, meski awalnya kebingungan mau nulis apa, sejam itu enggak cukup untuk menulis suatu cerpen. Gue berhasil nulis dua halaman setengah, dan mungkin dipaksakan ending. Selanjutnya cerpen tersebut mencari mentor. Acara itu dihadiri oleh alumni-alumni Kampus Fiksi berdomisili Jakarta, Kebetulan gue, Kak Dini, dan Kak Ratna dimentori oleh Reza Nufa. Sebenarnya Gue, Kak Dini, Kak Ratna, satu komunitas yaitu Jamaah Typhobia yang adminnya itu salah satunya Reza Nufa.

Waktu sangat amat mendesak, gue dan beberapa orang lainnya yang dimentori dia nggak kebagian dikomenin cerpennya oleh Reza Nufa, akhirnya dia bilang, kirim aja ke email dia.

dsc04297

Gue berharap cerpen gue bisa membawa gue ke Kampus Fiksi Reguler melalui jalur golden tiket. Aamin.

Akhirnya acara selesai pukul 16.00 WIB, bukan lantas langsung pulang, kita foto bersama dulu sama Jamaah Typhobia, sama Pak Edi juga.

img-20161107-wa0007

Kak Devani, Kak Dini, Mei, Kak Reza Nufa, Kak Amad Kocil, dan Gue

IMG-20161107-WA0000.jpg

Gue, Pak Edi, Kak Dini, Kak Nanae, Kak Amad Kocil

img-20161107-wa0006

Kak Amad, Gue, Kak Nanae, Kak Dini, dan Mbak Afifah Ve (Editor Diva Press)

Sekitar setengah jam kemudian, kita keluar dari Gramedia Matraman, sholat dulu baru nyari makan. Awalnya Gue sama Kak Dini plus Kak Nae, mau sok-sokan gitu keluar dari gedung dan nyari makan, tapi daripada nyasar (kita gak ada yang tau jalan), kita ngehubungi Kak Amad. Dan ternyata Kak Amad agak lama, kita kayak orang terlantar gitu di depan Gramedia Matraman. XD

Pas Kak Amad datang, dia nyarani supaya makan di tempat dekat situ aja, enggak perlu ribet, Kita (Gue, Kak Din, Kak Nae, dan Kak Amad) akhirnya makan mie ayam di bawah jembatan penyebrangan.

Sekitar pukul setengah enam Gue sama Kak Dini pamit, dan akhirnya berpisah sampai sana saja. Gue masih belum bisa move on dari acara itu. Hahahaha semoga gue bisa ketemu mereka lagi.

Harusnya kita naik Kopaja 502 lagi menuju ke Stasiun Cikini, tapi lama banget enggak muncul juga. Akhirnya Kita memilih naik Bajaj. Dan itu adalah kebahagiaan gue selanjutnya. Gue sebenarnya dari awal pengin banget naik bajaj, tapi baru berkesempatan. Awalnya sopir bajajnya ngasih harga Rp 30.000/2 orang, tapi kita tawar jadi Rp 20.000/2 orang.

DSC04313.JPG

Gue anggap hadiah ulang tahun gue nanti tanggal 13 November itu udah dihadiahi dengan KF Roadshow, ketemu Jamaah Typhobia (Kak Dini, Kak Nae, Kak Devani, Kak Amad, Mei, dan Kak Reza), ketemu Pak Edi, dan yang semakin membahagiakan adalah naik bajaj. :D, buahahahaha

Guys, maafin ya kalau tulisannya kepanjangan, dan penjabaran gue mungkin menjemukan. Terimakasih sudah baca :).

Perjalanan Menuju ke Kampus Fiksi Roadshow Jakarta, 06 November 2016

Halo Readers, kali ini gue mau cerita tentang acara seminar kepenulisan yang diadakan Kampus Fiksi di Gramedia Matraman Jakarta Timur. Tapi sebelum itu gue boleh curhat kan perihal keberangkatan gue yang sendirian ini dari Sukabumi?. Iya…ho’oh..gue ini kan dari Sukabumi, lumayan jauh lah ke Jakarta. Awalnya gue mau nginep dulu tuh di kosan temen gue yang kerja di Jakarta, tapi dipikir-pikir buat menuju ke sana lumayan ribet, gue akhirnya dapat solusi lain, yaitu gue ke Bogor dulu, kenapa musti ke Bogor?, pertama karena temen sekomunitas gue di #JamaahThypobia si Kak Dini Meditra ngampus di Bogor dan ngekos di sana (gue bisa nginep di sana), kedua gue jadi punya temen barengan buat nyasar nyari Gramedia Matraman, ketiga dari Bogor ke Jakarta tinggal naik KRL yang mudahnya minta ampun, maklum aja Sukabumi cuma ada angkot, bus, kereta api, sama ojek doang.  Guys di postingan ini gue cuma bakal nyeritain perjuangan perjalanan gue menuju ke Gramedia Matraman, untuk kegiatan seminarnya lebih lengkapnya ada di postingan selanjutnya, atau klik di sini

Tanggal 05 November 2016 pukul 15.00 WIB gue ke stasiun Sukabumi, kereta gue ke Bogor pukul 16.20 WIB, gue musti nukerin tiket gue yang gue beli lewat tokopedia.com di stasiun paling lambat sejam sebelum keberangkatan, catat ya kawan-kawan, yang beli tiket lewat online sebaiknya memang menukarkan sejam sebelum keberangkatan, soalnya yang nyetak boarding pass bukan Cuma yang beli tiket lewat online, yang beli tiket manual juga musti cetak boarding pass, walhasil harus ngantri, antrian semakin panjang mendekati menit datangnya kereta api, makannya jangan suka mepet waktu ya.

Sekitar pukul 15.30 WIB, sudah datang, gue memilih buat nunggu antrian agak lengang, akhirnya masuk kereta pukul 16.00 WIB, di gerbong satu tempat duduk depan gue masih kosong, dan terisi di Stasiun Cisaat. Gue awalnya mau baca buku, ternyata gue capek dan malah tidur. Btw, gue sempet heran gitu, ini gue salah masuk gerbong kagak ya?, soalnya gerbong ekonomi bagus banget keadaannya dan ada AC nya, ya gue pikir sama kayak bus aja giru, ekonomi tu non-AC, dan eksekutif tu ber-AC. Dua jempol deh buat PT.KAI, semoga semakin baik lagi deh. Aamin

Kereta api berangkat sesuai jadwal, pukul 16.20 WIB

Tanggal 05 November 2016 pukul 18.23 WIB, gue sampai Bogor, berhubung gue sama kak Dini belum pernah ketemu, gue udah wanti-wanti Kak Dini kalau gue pakai gamis hitam plus kerudung hitam, dia juga bilang dia pakai jilbab abu-abu. Gue agak deg-degan, maklum gue baru pertama kali keluyuran ke kota orang sendirian begini. Dan ternyata sinyal di sana, masyaallah banget, jelek minta ampun, hilang muncul gitu, tapi untung masih bisa menghubungi telepon lewat WA. Gue nyari-nyari tuh cewek yang pakai jilbab abu-abu, kok kagak ada. Kata Kak Dini, dia ada di dekat loket yang antriannya panjang. Gue mulai curiga, di stasiun Bogor-Kereta Api Indonesia ini ada sih loket, tapi antriannya dikit kok, clingak-clinguk nyariin kak din, dan ternyata dia nungguin guenya di stasiun Bogor-KRL. Hhhhhh

Yha mana bisa ketemu kalau mencari di tempat berbeda, persis seperti dua orang yang saling cinta tapi nggak mau usaha #halahh

Gue akhirnya keluar ke gerbang, ngikutin orang jalan aja, padahal dalam hati, was-was nyasar. Gue sama Kak Din masih terhubung telepon di WA, Ternyata Stasiun PT.KAI sama Stasiun KRL enggak terlalu jauh jaraknya. Kita akhirnya ketemu di jembatan penyebrangan, duh akhirnya ketemu sama Kak Dini. Gue sama dia ketawa nggak habis-habis, konyol banget. Dia bilang, dia baru ngerti, ternyata kalau bukan KRL, berhentinya bukan di stasiun KRL. —.—

Ke Kosannya Kak Dini ini perlu naik angkot dua kali, baru nyampek. Gue sebenarnya kaget banget sama keadaan Bogor yang ramai, maklum Sukabumi ya begitu. Sempet mikir sebenarnya, bisa aja gue di hari H ambil tiket subuh sampai Bogor jam 7 dan  selanjutnya naik KRL bareng Kak Dini, tapi berhubung takut telat dan nyasar, daripada gitu, mending gue nginep dulu dah di kosannya Kak Dini.

Tanggal 06 November 2016 pukul 06.00 WIB, kita udah berangkat menuju stasiun KRL Bogor, sampai sana pukul  06.30 WIB. Kita beli tiket di loket dan bilang ke petugasnya, tujuan kita ke Cikini, harga tiket Bogor-Cikini Rp 16.000. Yap ini juga bakal jadi pengalaman pertama gue naik KRL, KRL ini nyaman sekali, meski lebih goyang ketika jalan dibandingkan Kereta Api Indonesia. Gue duduk di gerbong khusus Wanita. Sampai Cikini pukul 08.00 WIB.

Berhubung itu hari minggu, stasiun lengang banget, antrian di loket penukaran jaminan juga lowong, kita akhirnya menukarkan tiket tadi dengan uang jaminan (apa ya gue belum paham), tapi yang jelas tiket itu bisa ditukarkan dengan uang. Kita dapat uang Rp 10.000, jadi artinya Bogor-Cikini Cuma Rp 6000, canggih nggak tuh?, hahahaha.

Keluar dari Stasiun, kita dengan percaya diri melangkah #eaaa. Kita nyari kopaja nomor 502. Awalnya kita mau naik bajaj, tapi bajaj Rp 20.000/1 orang

Yoweslah ngehemat aja naik kopaja 502, untung dapat kopaja yang kosong dan sopir serta kondekturnya yang bukan tukang tipu, dari stasiun Cikini ke Gramedia Matraman, Rp 4000. Kata Kak Dini, dulu dia pernah kena tipu naik bemo mahal banget. Ya pokoknya sih kalau di kota orang, apalagi Kota Metropolitan, kudu hati-hati.

Turun dari kopaja, Kak Dini ditabrak sama anak-anak kecil yang naik sepeda, gue kaget banget, untung nggak kenapa-napa, dan itu anak yang nabrak malah ngetawain, cukup tau aja anak-anak Jakarta begitu kelakuannya, eitss meski bukan semuanya ya.

Dan kita sampai Gramedia Matraman pukul 08.20 WIB, belum buka coy. Kepagian sampai sana.hhhhh, acaranya pukul 10.00 WIB. Ahelah, nggak papa yang penting selamat deh sampai sana.

Gitu aja ceritanya, postingan selanjutnya bakal nyeritain tentang acara Kampus Fiksi Roadshow Jakarta.  🙂

Percayalah Aku Ingin Naik Vespa Berwarna Biru

Dari dulu semenjak mendengar betapa lucunya jika seseorang naik vespa, dan mendengar pengalaman teman-temanku naik vespa, aku jadi mendanba ingin naik vespa. Kalau bisa ya mengendarainya sendiri. Kemarin aku iseng bikin status di BBM, dan Teh Yulia bilang “Suruh si taufik mbonceng kamu aja.” Lantas aku tertawa terbahak membaca itu, Taufik adalah adik Teh Yulia, tapi vespa miliknya warna coklat, lantas malu pula bilang padanya untuk memboncengku. Bukankah keinginan ini benar-benar kekanakan?, ehehehe aku memang kekanakan sih →_→

Vespa warna biru itu bagiku itu lucu sekali, maklumi saja karena aku memang suka warna biru. Ya nanti aku bakal naik vespa kok, tapi nggak tahu kapan.

Padahal vespa sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 1960-an, dan aku belum juga kesampaian naik vespa warna biru!

Dulu harga vespa itu bisa seharga rumah kali ya?, kalau sekarang sepertinya enggak semahal itu, tapi langka. Langka karena mungkin vespa lebih cocok digeluti sebagai hobi bukan investasi, eh enggak tahu juga ya?, mungkin vespa nanti semakin langka dan harganya bisa selangit lagi.

Nah yang aku pikir aneh adalah, kalau berkendara dengan vespa tanpa helmpun polisi enggak bakal menilangnya, apa karena polisinya males nilang ya?, lagi pula vespa rata-rata kecepatannya hanya  65-75 km/h ?, kecepatan segitu mana bisa ngebut dengan brutal di jalanan.

Aku suka kagum kalau lihat orang pakai vespa, rasanya pengin naik vespa tapi enggak mau dibonceng, inginnya mengendarainya sendiri. Ngomong-ngomong aku bisa nggak ya mengendarai vespa?, nanti aku bakal naik vespa tanpa helm lalu meloyor begitu saja di jalanan protokol Sukabumi yang banyak polantas tukang nilang, bakal selamet nggak? 😀

Aku serius, aku ingin naik vespa, doain bisa kesampaian ya?