Bunga yang Berkeringat (Cerpen)

rose-729509_1280

Bunga yang Berkeringat

Oleh : Audhinadaw

Demikianlah hari ini berakhir, kami menemui bunga itu berkeringat karena kelelahan. Dia berbau asam persis seperti ketiak manusia, lebih menjijikkan ketimbang bunga bangkai yang langka itu. Kata Big Bos, kita harus fokus pada pekerjaan kami, tapi malam ini dan kemungkinan sampai esok tiba, kami akan terheran-heran dengan bunga yang berkeringat itu.

***

Bunga itu berada di ruangan kerjaku, setiap minggu oleh seorang fresh graduation selalu saja kami akan menemui bunga berbeda di dekat jendela itu. Iseng kami silih berganti bertanya padanya, mengapa bisa tiap minggu bunga itu berbeda. Katanya “Aku tidak pernah mengganti bunga itu, dia berubah warna sendiri, dan berubah-ubah wanginya.” Jawabanya pun tidak pernah berubah, orang-orang berkerut kening, enggan berpikir khayal. Lantas kami bertanya padanya, mengapa dia selalu mengambil bunga itu tiap sabtu pagi, dan setelah itu berada di tempatnya lagi, bunga itu tak lagi sama. Katanya “Bunga itu pemalu, dia hanya perlu tempat sendiri sebentar saja untuk merubah diri.” penjelasannya diiringi dengan gesture yang meyakinkan kami, orang-orang tetap saja berkerut kening. Mengapa juga kami hilang fokus cuma karena bunga dan seorang fresh graduation yang belum kutahu namanya siapa.

Semakin hari kami mulai bosan membahas tentang bunga itu, dan banyak hipotesa yang kami ciptakan, salah satunya adalah seorang fresh graduation ini adalah penggila tanaman, dan mungkin saja punya kerabat yang memiliki toko tanaman. Setelah beberapa minggu berlalu, kami sudah lama tak melihatnya menyentuh bunga itu dan mengembalikan bunga itu dalam keadaan berbeda, bunga itu tetap pada bentuk dan wangi yang sama, asal keadaannya tidak merugikan, kami tetap tak masalah bila seorang fresh graduation itu penggila bunga.

Suatu ketika setelah dua bulan dengan pekerjaan yang selalu begitu saja tiap harinya, dan bunga itu mulai layu, aku kini penasaran bertanya padanya, mengapa sudah tidak mengurusi bunga itu, dan dia hanya menatapku kemudian menatap tumpukan tugas yang mulai dekat deadline, kemudian menatapku lagi, oke aku paham, dia sudah mulai tahu tugasnya di perusahaan ini, mulai tahu tekanan pekerjaannya, mulai tahu bagaimana seharusnya dia bekerja. Lalu aku meleos pergi, dan dia meminum kopi yang tinggal setengah cangkirnya itu.

Setiap dua minggu sekali divisi kami selalu mengadakan makan bersama, termasuk dengan pekerja baru, kata Big Boss hal ini dilakukan agar kualitas kerja kami dan kerja sama kami semakin baik. Ini sudah makan malam kelima bersama si pekerja baru itu, awal mulanya dia sangat amat semangat, tidak jauh berbeda saat ketika mengubah bunga itu.

Kini dia banyak murungnya, tentu saja bukan hanya aku yang perhatian, semua juga memberi penilaian kerjanya, meski semakin hari malah semakin murung tapi kerjanya tetap tuntas. Disaat kami selesai makan malam, dia terlihat pucat pasi, padahal dia melahap makanan paling banyak diantara semuanya. Sete;ah semua saling berpamitan untuk pergi, dia sempat berjalan namun kemudian jatuh pingsan, Semua panik dan memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit setelah bantuan minyak kayu putih tak membangunkannya. Hanya aku dan tiga orang saja yang membawanya ke rumah sakit, semua terlihat khawatir padanya. Dia masih belum sadar juga. Di UGD dia ditangani, dan aku mengambil ponsel di saku celananya, mencari tahu kerabat dekat di kontaknya. Kami berdiskusi mengelilingi aku yang memegang ponsel, aku menggeleng, kemudian mengalihkan ponsel itu ke yang lain. Yang lainnya pun sama saja, menggeleng dan terdiam.

“hanya ada kontak rekan kerja saja?”

“ah yang benar saja anak itu tak memiliki teman atau keluarga?”

Kami menggeleng

Kami memeriksa pesan, di sana ada satu nomor tak bernama, yang selalu mengiriminya ucapan selamat pagi dan tak pernah mendapat jawaban darinya. Aku meringis dan sumringah kembali. Bagaimana jika menghubungi nomor itu saja, semua menyetujui. Ternyata seorang perempuan di ujung percakapan sana, suaranya menguarkan bau mawar, aku sedikit tersedak karena baunya terlalu wangi. Aku menyuruhnya segera datang ke rumah sakit sebab kami tidak bisa lebih lama lagi menungguinya hingga siuman.

***

Malam itu kami pulang lima menit sebelum tengah malam, perempuan yang entah apa hubungannya dengan di pekerja baru itu ternyata perlu waktu lama untuk sampai ke rumah sakit, benar saja ketika dia datang, tubuhnya memang berbau mawar, membuat kami semua tersenyum kepadanya, dan membimbingnya keruangan UGD, dan memasrahkan si pekerja baru itu padanya. Kami sepenuhnya percaya, dan lupa betulan untuk menanyakan dia siapa untuk yang masih pingsan.

Ke esokan paginya, empat orang yang mengantar orang pingsan itu semua kesiangan, jangan tanya lagi, itu termasuk aku. Lari terbirit-birit memasuki kantor, dan lega betul Big Bos belum datang, tapi kelegaan itu hanya bertahan sebentar, tugas sudah menumpuk, wajah-wajah cemberut karena kami terlambat segera membuat otak memacu lekas bergerak.

“Hai semua!” seruan itu datang mengagetkan

Itu suara si pekerja baru, kami terbengong menatapnya. Dia dalam keadaan baik. Sekilas tadi aku mendapati bunga itu kembali segar, meski tidak pada kondisi yang berbeda—pada bentuk dan bau yang sama. Kami silih berganti mendekatinya, bertanya keadaannya, dan mengapa malah masuk kerja. Dia hanya tersenyum, katanya sambil guyon, dia pingsan karena lupa makan sepanjang hari kemarin. Kami tertawa dan bersyukur, wajahnya sumringah. Tawa kami terhenti karena hentakan kaki Big Boss yang melangkah masuk. Semua kembali bekerja, mengejar target.

Aku sempat menangkap bau semerbak dari bunga itu, wanginya menggetarkan keseluruhanku. Si pekerja baru itu, beranjak berdiri mengambil air putih, kemudian kembali, lantas pergi lagi sambil memboyong bunga itu, setelah kembali lagi tak kutemui bunga itu lagi. Mungkinkah dia membuangnya?.

***

Jam istirahat kami telah tiba, seperti biasa. Aku memang berkelompok dengan tiga orang yang mengantar si pekerja baru itu ke rumah sakit. Di tempat sampah tak jauh dari ruangan kami, bunga itu di sana. Tak salah lagi, itu bunga yang selalu berubah. Aku memberhentikan langkah, dan bergumam

“Bukankah ini?”

Aku meraihnya, memandanginya, keadaannya tidak apa-apa.

“Kenapa dibuang, ya?”

“Siapa yang buang?”

“Kenapa bunga ini berembun?”

Ketiga orang itu akhirnya mengiyakan bahwa aku akan membawa bunga itu kembali, sebelumnya aku membawanya serta saat makan di kantin, bersenda gurau sambil menghabiskan makan siang, lantas lima menit sebelum jam istirahat selesai kami bergegas kembali ke ruangan kerja. Aku meletakkan bunga itu di jendela lain bukan di tempat asalnya, pikirku supaya si pekerja baru tidak membuangnya lagi.

***

Sore tiba, langit sudah hampir mati. Perlahan satu persatu di ruangan pulang ke rumah, belum untuk kami berempat, kami terpaksa harus pulang lebih lambat, sebab tadi pagi kami terlambat. Si pekerja baru itu juga sama, mengingat dia lebih telambat dari kami. Aku sedikit meregangkan tubuhku, menyeruput kopi yang tinggal setengah gelas, lalu menggerakkan mata, dan menangkap bunga itu berembun, dan setelah lama kutahu itu bukan berembun, tapi berkeringat—bunga itu berkeringat. Cukup beberapa detik saja, kami semua menangkap bau keringat menusuk hidung, kami saling meringis jijik, dan mencium ketiak sendiri, tidak bukan aku atau mereka tentunya.

“Siapa yang mengambil bunga ini lagi?”tanya si pekerja baru, aku mengangkat tangan, semua pandangan menatap silih bergantian aku-bunga-dan si pekerja baru.

“Bunga ini memang aneh, itu mengapa aku membuangnya.”dia mendelik marah

“Dan aku berdoa agar perempuan itu tidak akan hadir lagi dihidupku.”

Dia bergegas membuang bunga itu ke tempat sampah jauh dari kami, tempat sampah dekat divisi lain yang sudah pulang semua orang-orangnya.

Kami menciptakan khayalan akan hal ini, bagaimana bisa bunga itu berkeringat?, dan menggabungkan segala hal yang kami dapat beberapa minggu sebelumnya, bunga itu tidak berembun, bunga itu berkeringat, bunga itu suka si pekerja baru, dan menuntutnya terlalu banyak, dan hampir saja dia mati. Apa perempuan yang setiap pagi mengirim pesan itu adalah bunga itu.

Si pekerja baru kembali ke ruangan, kami bergegas menyelesaikan pekerjaan. Sejak awal bunga itu dan si pekerja baru adalah hal yang aneh, kami memutuskan untuk melupakan sekarang juga. Setelah semua selesai, kami mengajaknya pulang bersama kami, dan tidak akan membahas tentang bunga itu lagi. Memutuskan untuk lebih mengenalnya, ternyata dia tinggal jauh dari kantor. Padahal sudah beberapa bulan dia bekerja bersama kami, tapi kami tidak tahu fakta apapun tentangnya selain dia berkemungkinan gila.

-Selesai-

 

Iklan

15 comments on “Bunga yang Berkeringat (Cerpen)

  1. Di dunia ini kehidupan mempunyai banyak kisah. Sepertinya pekerja baru punya karakteristik yg berbeda dgn mayoritas manusia. Namun tidak gila he he he…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s