Ada Angka Lain Selain Nol (Cerpen)

Membuat cerpen selalu saja mendadak, aku selalu ketakutan dengan kalimat-kalimat yang ada di otakku, takut hilang, cuma perlu nulis dan akhirnya lega, silakan dibaca bila rela beberapa menit habis untuk sekadar membaca tulisanku ini 🙂

Ada Angka Lain Selain Nol

Oleh : Audhinadaw

Lusa kota ini benar-benar akan menghilang, kata penjaga mercusuar itu. Di pesisir pantai ini, ia juga salah seorang yang patut di percayai meski kadang omongannya sedikit ngelantur. Mungkin kali ini aku pergi ke tempatnya terlalu pagi, sebab itulah kutemui dia mabuk dan ruang jaganya penuh kulit kacang dan dua botol kosong red wine. Dia hidup dengan uang yang terkumpul dari pengunjung pantai, yang kadang iseng ingin naik mercusuar juga, lantas dia menarik uang lebih banyak untuk itu. Betapa aku tidak akan berhenti meringis miris sebab laki-laki tua sepertinya ini malah dipercayai orang-orang. Aku bukan salah satu dari yang mempercayainya sebab aku benci dia. Entah kenapa pagi ini aku malah ditarik langkahnya menuju ke sini, mungkin aku rindu melihat cahaya pagi dari atas sini, banyak pagi yang kulewati di rumah dan mataharinya tertutup, rumahku dipantati mercusuar. Hanya sesekali saja biar badanku segar melihat matahari pagi bukan pantat mercusuar.

“Mengapa kemari?” dia masih sempoyongan berdiri dari kursi, aku mendelik namun dia hirau.

“Tak usah pedulikan aku, aku cuma sebentar di sini, dan janji tidak akan mengganggumu.”

“Baiklah, terserah kau saja gadis aneh!” Dia kembali menjatuhkan diri ke kursi dan tertidur.

Lusa kota ini akan menghilang, hanya dari beberapa pandang saja, hanya pada pandanganku saja. Mungkin aku akan kangen dengan pantat mercusuar ini, dan tentu saja akan teramat kangen dengan cahaya matahari dari atas mercusuar ini.

“Pak Tua, aku percaya padamu bila kota ini menghilang lusa.”

Aku bergumam masih menatap jauh ke ujung horizon lautan. Burung-burung sedang berangkat menuju ke arah selatan, mungkin burung walet atau mungkin merpati, aku tidak sedemikian penasaran dengan yang disajikan pesisir pantai ini, pohon cemara bukan tembakau memenuhi pandangan ke bawahku, di atas pasir pantai itu sedang ada dua anak laki-laki yang sibuk bermain siapa paling banyak menangkap anak kepiting, di sisi berbeda seorang ayah tengah menyuapi anak perempuannya sambil kelihatan berusaha membujuk supaya segera menghabiskan yang disuapkannya, dari sini kulihat bermacam hal tapi aku tidak akan terlalu peduli.

“Setidaknya hanya menghilang dari pandanganmu saja esok, namun lusa kau beruntung”ucapnya yang ternyata tidak tidur sungguhan.

Aku tertawa getir. Bau lautan menyihir sepagi ini, aku menengok ke arah barat, kulihat menhir mawar yang menjulang dan khas sekali, mudah sekali mengenali siapa pemilknya, itu menhir dari halaman rumah penjaga mercusuar yang tengah menatapku sinis. Anginnya kecang sekali, aku tidak mengenakan baju tebal, biasanya aku akan tahan tapi ternyata tidak.

cloves-1367675_960_720

“Pulanglah jika kau mau, akupun tidak pernah menghalangimu, kan?”

Aku mengangguk, kali ini menatap matanya yang merah, kombinasi kurang tidur dan alkohol yang mengacaukan sistem metabolismenya. Aku tertawa getir lagi, jeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi lusa, ketika kota ini menghilang, ketika kompetisi mengumpulkan anak kepiting menghilang, ketika tidak mungkin lagi anak perempuan kecil itu mencerna makanannya, ketika menhir luar biasa indah itu menghilang.

“Aku janji akan menjaga mercusuar ini, untukmu.”Dia tertawa menggelikan, seperti pemabuk

“Ini memang tugasmu, Pak Tua!”Aku melotot

Dia melambai-lambaikan tangan “Ah baiklah aku mengalah.” Lalu dia berkata dengan lebih serius

“Ada angka lain selain nol, wahai gadis pemarah.”

Tentu saja aku tahu itu, dan itu bisa apa saja, angka apa saja. Kekelaman dalam mata yang mendadak teduh itu membuatku diam dan ingin memperhatikannya, bahwa hidup ini dari nol tapi setelah itu bisa satu kemudian dua, tapi tidak menutup kemungkin nol kemudian tiga, tapi aku benci tiga. Lelaki di hadapanku ini memang melantur dan ucapannya malah sering dipercayai orang-orang. Dan ternyata aku malah lama-lama juga mulai percaya, setidaknya bukan kepercayaan saklek, hanya sekadar penjunjung semangatku saja.

“Sampai kapan diam di sini?, kau tidak mencari anak kepiting dengan sepupumu itu?”

Aku menggeleng, tapi malah beranjak menuruni anak tangga, sudah bosan berada di atas, perutku mulai kembung dan baru ingat belum sarapan.

“Baiklah gadis aneh, selamat jalan, hat-hati dengan hatimu.”

Cih…siapa yang aneh, aku merutukinya, dan setelah umpatan itu aku malah sadar bahwa aku dan dia sama-sama anehnya.

***

Ada angka lain selain nol….

Aku tidak akan menganggapnya sebagai ayahku, tidak mungkin pabila ibu bilang itu tidak perlu kulakukan. Satu-satunya yang akan kuakui adalah menhir mawar miliknya itu, dan apabila dia mati aku akan segera mengakui itu adalah menhirku. Itu bukan tanaman lagi tapi sudah jadi pohon mawar, sebab tersatukan dengan pohon linden, mawar melilitnya sampai kepuncaknya, dan semakin melilit sendiri membentuk menhir.

Ibu dan aku esok akan pergi dari kota ini, meninggalkan semua saudara di sini. Seharusnya pagi tadi menjadi perpisahan manis antara aku dan Pak Tua itu, tapi mungkin akan sama saja, mau manis atau pahit, perpisahan tetap pahit.

Malam itu aku nyenyak tertidur, sebab sepanjang hari aku kelelahan meladeni nakalnya sepupu-sepupuku, aku bahkan tidak menikmati malam dan segala macam bentuk perenungan malam ini, malam terakhir di kota ini. Hanya suara angin saja yang mengantar tidurku.

“Bukankah hanya kamu yang menginginkan aku hilang, Nak?”

“Oh tentu saja Ibumu juga menginginkan aku menghilang juga, Nak?.”

Dia tersenyum, kemudian aku terbangun dan tenggorokanku kering sekali, baiklah aku hanya perlu minum segelas air saja lalu tidur lagi, ini masih malam.

***

“Ini akan mudah sekali.”optimis ibu ketika menaikkan barang terakhir ke dalam mobil, kemudian berhadapan denganku, dia memegangi kedua bahuku, lalu tersenyum.

Baiklah ayo kita lakukan, Bu. Apa saja asal dengamu Bu, aku akan selalu tersenyum demi kamu, Bu. Percayalah. Aku tidak akan menceritakan mimpi yang kudapat tadi malam, dia muncul sebabnya karena aku merasa bersalah sedikit, hanya sedikit-teramat sedikit merasa bersalah.

Sudah jauh hari kami berpamitan dengan siapa saja yang kami kenal di kota ini, kami hanya perlu pergi saja hari ini, tak usah cemas.

Ketika kami segera berangkat, tiba-tiba lelaki tua itu mencegat kami, sudah tidak heran lagi bila dia goyah untuk melepaskan tanpa minta dipamiti. Kami segera turun, mengalahkan beberapa ego yang tertancap di seluruh bagian otak.

Dia tersenyum, membawakan sebuket mawar putih. Dia menghampiriku, meraih tanganku.

“Nak…”kemudian tersenyum

“Maaf…”kemudian berlinang

“Nak….”lantas akupun memeluknya erat lalu menangis deras

“Ayah janji akan merawat apa yang kamu ingin tetap lihat bila kau kembali.”

Ibu hanya bisa mengelus punggungku, berusaha keras untuk tidak menangis. Setelah beberapa menit saja tangis itu meledak, kemudian aku menerima sebuket mawar itu dan kalimat “Ada angka lain selain nol” darinya, aku dan Ibu tetap meninggalkan kota ini, meninggalkan dia di sini. Setidaknya sedikit manis dari perpisahan yang pahit itu kudapat kali ini. Dia tersenyum dan menepuk bahuku lembut, rela kami pergi.

Aku melihatnya melambaikan tangan sampai kami menghilang dari pandangannya. Semoga saja dia bahagia sebab aku menangis karenanya, Ayah.

-Selesai-

Daw|Sukabumi,30 Agustus 2016|9.08 pm

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s