Jangan Mengejar yang Tidak Ingin Dikejar

DSC02521.JPG

Percayalah kau hanya kelelahan sendiri tanpa ujung yang indah sesuai ekspektasimu selama ini, pertimbangkanlah beberapa hal ini agar kau segera menyerah untuk melukai diri sendiri.

Kau Patut Untuk Tersenyum Tanpanya

Janganlah kau paksakan keadaanmu untuk terus menyayanginya sebab ada kalanya kau harus menyerah dan pasrah, sebab menyayangi itu terkadang memang tak berbalas, berbalik arahlah jika kau sudah lelah karena tidak dihargai.

Kau Ingin Terus Berlari Mengejar, tapi sebenarnya dia tidak kemana-mana.

Berhentilah merajuk ingin dibalas sayang olehnya, sebab selama ini kau hanya diam-diam menyayanginya tapi malah berharap untuk diketahui, tak semua pandai membaca tanda, pun ada orang yang pura-pura tidak bisa membaca tanda, agar kebahagiaan senantiasa ada pada pihaknya tapi bukan pihakmu, kau hanya akan semakin hancur bila kau terus berlari mengejar yang tak perlu dikejar, sebab porsimu adalah teman baginya.

Jika kau menyayanginya, Biarkanlah dia memiliki waktu baginya

Dia manusia, jangan paksa dia jadi malaikat. Tak perlu kau usik begitu jauh bila dia sudah berkata tidak mau dikejar melalui sikap ataupun sebuah kalimat, Kaupun juga manusia. Carilah kesibukan lain bukan mengejarnya. Sebab terus-terusan mengejar hanya akan membuatnya risih dan bahkan hilang dari hidupmu. Bersyukurlah kau masih bisa melihatnya meski seperti adanya sembilu menyobek perasaanmu.

Dia tak melulu salah

Dia sudah benar untuk menghindarimu, dia tak melulu salah sebab diapun memiliki kehidupannya, dan pilihannya bukan bahagia bersamamu, bukan mencoba bahagia bersamamu, dia tidak salah. Jika dia salah, maafkanlah dia, meski dia tidak akan pernah tahu kesalahannya.

Kamu yang salah

Pikirkanlah, muara dari rasa kecewa adalah harapan yang terlanjur kau ekspektasikan begitu indah, berhentilah untuk menggantungkan harapanmu pada dia yang juga manusia.

Itu mengapa sebaiknya kau mengejarlah pada waktunya, pada pagi yang indah ketika ekspektasi indah bermunculan, mengejarlah ketika sudah waktunya tiba, mengejarlah pada dia yang mau dikejar.

Bukankah sayang itu berawal dari persilahan antara dua manusia?, Jika dia tidak mempersilahkan untuk kau sayangi, berbalik arahlah.

Bersabar itu katanya tidak ada batasnya, jika kau sudah terlalu sakit untuk terluka kau bisa membatasi sabarmu kepadanya, dengan cara menyerah.

Iklan

Ada Angka Lain Selain Nol (Cerpen)

Membuat cerpen selalu saja mendadak, aku selalu ketakutan dengan kalimat-kalimat yang ada di otakku, takut hilang, cuma perlu nulis dan akhirnya lega, silakan dibaca bila rela beberapa menit habis untuk sekadar membaca tulisanku ini 🙂

Ada Angka Lain Selain Nol

Oleh : Audhinadaw

Lusa kota ini benar-benar akan menghilang, kata penjaga mercusuar itu. Di pesisir pantai ini, ia juga salah seorang yang patut di percayai meski kadang omongannya sedikit ngelantur. Mungkin kali ini aku pergi ke tempatnya terlalu pagi, sebab itulah kutemui dia mabuk dan ruang jaganya penuh kulit kacang dan dua botol kosong red wine. Dia hidup dengan uang yang terkumpul dari pengunjung pantai, yang kadang iseng ingin naik mercusuar juga, lantas dia menarik uang lebih banyak untuk itu. Betapa aku tidak akan berhenti meringis miris sebab laki-laki tua sepertinya ini malah dipercayai orang-orang. Aku bukan salah satu dari yang mempercayainya sebab aku benci dia. Entah kenapa pagi ini aku malah ditarik langkahnya menuju ke sini, mungkin aku rindu melihat cahaya pagi dari atas sini, banyak pagi yang kulewati di rumah dan mataharinya tertutup, rumahku dipantati mercusuar. Hanya sesekali saja biar badanku segar melihat matahari pagi bukan pantat mercusuar.

“Mengapa kemari?” dia masih sempoyongan berdiri dari kursi, aku mendelik namun dia hirau.

“Tak usah pedulikan aku, aku cuma sebentar di sini, dan janji tidak akan mengganggumu.”

“Baiklah, terserah kau saja gadis aneh!” Dia kembali menjatuhkan diri ke kursi dan tertidur.

Lusa kota ini akan menghilang, hanya dari beberapa pandang saja, hanya pada pandanganku saja. Mungkin aku akan kangen dengan pantat mercusuar ini, dan tentu saja akan teramat kangen dengan cahaya matahari dari atas mercusuar ini.

“Pak Tua, aku percaya padamu bila kota ini menghilang lusa.”

Aku bergumam masih menatap jauh ke ujung horizon lautan. Burung-burung sedang berangkat menuju ke arah selatan, mungkin burung walet atau mungkin merpati, aku tidak sedemikian penasaran dengan yang disajikan pesisir pantai ini, pohon cemara bukan tembakau memenuhi pandangan ke bawahku, di atas pasir pantai itu sedang ada dua anak laki-laki yang sibuk bermain siapa paling banyak menangkap anak kepiting, di sisi berbeda seorang ayah tengah menyuapi anak perempuannya sambil kelihatan berusaha membujuk supaya segera menghabiskan yang disuapkannya, dari sini kulihat bermacam hal tapi aku tidak akan terlalu peduli.

“Setidaknya hanya menghilang dari pandanganmu saja esok, namun lusa kau beruntung”ucapnya yang ternyata tidak tidur sungguhan.

Aku tertawa getir. Bau lautan menyihir sepagi ini, aku menengok ke arah barat, kulihat menhir mawar yang menjulang dan khas sekali, mudah sekali mengenali siapa pemilknya, itu menhir dari halaman rumah penjaga mercusuar yang tengah menatapku sinis. Anginnya kecang sekali, aku tidak mengenakan baju tebal, biasanya aku akan tahan tapi ternyata tidak.

cloves-1367675_960_720

“Pulanglah jika kau mau, akupun tidak pernah menghalangimu, kan?”

Aku mengangguk, kali ini menatap matanya yang merah, kombinasi kurang tidur dan alkohol yang mengacaukan sistem metabolismenya. Aku tertawa getir lagi, jeri sekali membayangkan apa yang akan terjadi lusa, ketika kota ini menghilang, ketika kompetisi mengumpulkan anak kepiting menghilang, ketika tidak mungkin lagi anak perempuan kecil itu mencerna makanannya, ketika menhir luar biasa indah itu menghilang.

“Aku janji akan menjaga mercusuar ini, untukmu.”Dia tertawa menggelikan, seperti pemabuk

“Ini memang tugasmu, Pak Tua!”Aku melotot

Dia melambai-lambaikan tangan “Ah baiklah aku mengalah.” Lalu dia berkata dengan lebih serius

“Ada angka lain selain nol, wahai gadis pemarah.”

Tentu saja aku tahu itu, dan itu bisa apa saja, angka apa saja. Kekelaman dalam mata yang mendadak teduh itu membuatku diam dan ingin memperhatikannya, bahwa hidup ini dari nol tapi setelah itu bisa satu kemudian dua, tapi tidak menutup kemungkin nol kemudian tiga, tapi aku benci tiga. Lelaki di hadapanku ini memang melantur dan ucapannya malah sering dipercayai orang-orang. Dan ternyata aku malah lama-lama juga mulai percaya, setidaknya bukan kepercayaan saklek, hanya sekadar penjunjung semangatku saja.

“Sampai kapan diam di sini?, kau tidak mencari anak kepiting dengan sepupumu itu?”

Aku menggeleng, tapi malah beranjak menuruni anak tangga, sudah bosan berada di atas, perutku mulai kembung dan baru ingat belum sarapan.

“Baiklah gadis aneh, selamat jalan, hat-hati dengan hatimu.”

Cih…siapa yang aneh, aku merutukinya, dan setelah umpatan itu aku malah sadar bahwa aku dan dia sama-sama anehnya.

***

Ada angka lain selain nol….

Aku tidak akan menganggapnya sebagai ayahku, tidak mungkin pabila ibu bilang itu tidak perlu kulakukan. Satu-satunya yang akan kuakui adalah menhir mawar miliknya itu, dan apabila dia mati aku akan segera mengakui itu adalah menhirku. Itu bukan tanaman lagi tapi sudah jadi pohon mawar, sebab tersatukan dengan pohon linden, mawar melilitnya sampai kepuncaknya, dan semakin melilit sendiri membentuk menhir.

Ibu dan aku esok akan pergi dari kota ini, meninggalkan semua saudara di sini. Seharusnya pagi tadi menjadi perpisahan manis antara aku dan Pak Tua itu, tapi mungkin akan sama saja, mau manis atau pahit, perpisahan tetap pahit.

Malam itu aku nyenyak tertidur, sebab sepanjang hari aku kelelahan meladeni nakalnya sepupu-sepupuku, aku bahkan tidak menikmati malam dan segala macam bentuk perenungan malam ini, malam terakhir di kota ini. Hanya suara angin saja yang mengantar tidurku.

“Bukankah hanya kamu yang menginginkan aku hilang, Nak?”

“Oh tentu saja Ibumu juga menginginkan aku menghilang juga, Nak?.”

Dia tersenyum, kemudian aku terbangun dan tenggorokanku kering sekali, baiklah aku hanya perlu minum segelas air saja lalu tidur lagi, ini masih malam.

***

“Ini akan mudah sekali.”optimis ibu ketika menaikkan barang terakhir ke dalam mobil, kemudian berhadapan denganku, dia memegangi kedua bahuku, lalu tersenyum.

Baiklah ayo kita lakukan, Bu. Apa saja asal dengamu Bu, aku akan selalu tersenyum demi kamu, Bu. Percayalah. Aku tidak akan menceritakan mimpi yang kudapat tadi malam, dia muncul sebabnya karena aku merasa bersalah sedikit, hanya sedikit-teramat sedikit merasa bersalah.

Sudah jauh hari kami berpamitan dengan siapa saja yang kami kenal di kota ini, kami hanya perlu pergi saja hari ini, tak usah cemas.

Ketika kami segera berangkat, tiba-tiba lelaki tua itu mencegat kami, sudah tidak heran lagi bila dia goyah untuk melepaskan tanpa minta dipamiti. Kami segera turun, mengalahkan beberapa ego yang tertancap di seluruh bagian otak.

Dia tersenyum, membawakan sebuket mawar putih. Dia menghampiriku, meraih tanganku.

“Nak…”kemudian tersenyum

“Maaf…”kemudian berlinang

“Nak….”lantas akupun memeluknya erat lalu menangis deras

“Ayah janji akan merawat apa yang kamu ingin tetap lihat bila kau kembali.”

Ibu hanya bisa mengelus punggungku, berusaha keras untuk tidak menangis. Setelah beberapa menit saja tangis itu meledak, kemudian aku menerima sebuket mawar itu dan kalimat “Ada angka lain selain nol” darinya, aku dan Ibu tetap meninggalkan kota ini, meninggalkan dia di sini. Setidaknya sedikit manis dari perpisahan yang pahit itu kudapat kali ini. Dia tersenyum dan menepuk bahuku lembut, rela kami pergi.

Aku melihatnya melambaikan tangan sampai kami menghilang dari pandangannya. Semoga saja dia bahagia sebab aku menangis karenanya, Ayah.

-Selesai-

Daw|Sukabumi,30 Agustus 2016|9.08 pm

 

Catatan di Bulan Juni 2016

Jatuh ke dalam hal yang sulit untuk dipercayai adalah takdir mutlak yang patut disegani, tapi bukan malah menghindar namun menghadapinya secara berani, namun aku tidak sanggup. Terlalu dini untuk bersikap berani, terlalu dini menganggap hidup ini sudah nyaman, orang bilang segala hal yang mungkin memang patut untuk diperjuangkan, namun pelik.

Pergi hanyalah solusi paling aman, menjauh, menghindar dan berusaha tertawa bahagia adalah kamuflase belaka. Patah hati terhebat adalah ketika tidak ada kemungkinan sama sekali untuk kembali. Sedangkan Jatuh di tempat yang tidak seharusnya adalah takdir.

Daw| Sukabum|Wednesday, June 29, 2016, 12:17:55 PM

NB : aku rindu tahun 2014

Buat Adikku yang Manis

Untuk Audhila Anggrayuning Pramesti,

Maaf pertama kali yang ingin kusampaikan padamu, iya karena tetehmu ini sering bawel tidak jelas, atau bahkan buat kamu sebal sampai dongkol dalam hati. Tulus tetehmu ini ingin kamu lebih baik hidupnya dibanding tetehmu ini.

Wajar egoisnya kita ini besar sekali, mengingat bahwa tetehmu ini baru disatukan dengan kamu ketika lulus SD, dan ketika itu teteh baru bergabung dengan ibu, bapak dan kamu. Kita tumbuh sebagai anggapan pribadi anak tunggal. Mafhum sekali egoisnya kita ini sama-sama besar.

Kita tidak pernah ngobrol sampai panjang lebar, tidak pernah malahan. Kalau ngobrol ya paling hal-hal tidak penting, itupun singkat. Apa mungkin semua kakak beradik seperti kita, yang jarang ngobrol dan sering berantem?, kayaknya hanya sebagian besar saja.

Kita tidak saling menguatkan ketika bapak meninggal, kita sama-sama sibuk dengan kegundahan masing-masing. Justru diantara kita, kamulah yang paling kuat ketika itu. Teteh benar-benar bangga sama kamu.

Terimakasih karena menjadi perempuan yang ceria, meski masih begitu sangat manja kepada ibu. Teteh harap seiringnya kamu tumbuh, semoga pribadimu juga semakin membaik, maksudnya tidak manja lagi.

Semoga teteh termasuk satu dari beberapa orang yang memahamimu ya 🙂

Dari Audhina Novia Silfi

Terimakasih Karena Persahabatan ini Terus Berlanjut, Meski Jarak Memisahkan Sukabumi-Yogyakarta

Masa kecilku dihabiskan di kota penuh rindu, Yogyakarta. Di sana aku tumbuh, dan mungkin jadi anak perempuan yang mandiri. Di sana sahabat masa kecilku tinggalkan, meski begitu walau kutinggalkan kecanggihan teknologi memudahkan berkomunikasi.

Salah satu sahabat spesialku, Ida Ayu Zahrotun Na’im

Dulu itu kita komunikasi Cuma lewat SMS, ketemunya juga beberapa tahun sekali. Tapi setiap pertemuan menghasilkan guguran rindu. Aku dan dia ini meski teknologi sudah semakin berkembang, sesekali kita iseng saling kirim surat, dalam rangka mengucapkan Selamat Ulang Tahun, atau bahkan curahan hati yang terlampau panjang sampai dua embar kertas HVS. Aku selalu terkejut dengan hadiah ulang tahun darinya, selalu berkesan dan selalu senang dan suka. Kalau ada yang mau tahu ulang tahunku itu tanggal 13 November, nah yang mau ngasih hadiah boleh banget.hahahaha bercanda.

Kalian bisa baca juga postingan yang lampau mengenai hadiahnya di sini

Ulang tahunku yang ke-19 tahun lalu, tepat ketika pulang kerja, di atas meja tergeletak hadiah dengan bungkus putih berpita biru kecil, aku tersenyum.

Tertulis pengirimnya : Ida Ayu Zahrotun Na’im

IMG_20151123_170058

Aku perlahan membukanya, dan langsung heboh dengan apa yang kutemukan di dalamnya, dua buah pashmina, satu kertas hvs yang terlipat dan terkejutnya aku bahwa ternyata itu tanda tangannya Tere Liye, aku teriak “Ya ampun…ya ampunn..ya ampun.” Lalu segera baca sepucuk surat di antara hadiah itu.

Akupun langsung mengabarinya via BBM. Ah jangan ditanya betapa berterimakasihnya aku padanya.

Aku ini jarang neko-neko dengan kerudung, kebanyakan kerudungku itu kerudung segi empat tak bermotif. Dan dia mungkin secara halus memaksaku agar belajar pakai pashmina :D.

Tentang tanda tangan Tere Liye

Jadi kami ini adalah penggemarnya Tere Liye, meski dia lebih veteran dan aku ini keseret jadi penggemarnya Tere Liye ya lantaran dia juga. Waktu itu bulan apa ya lupa, di Page Facebook Tere Liye menyebarkan tautan mengenai seminar kepenulisan yang akan dilaksanakan di YOGYAKARTA, oke fine ini membunuhku. Lantas aku segera Tag tautan itu ke Ida, dan merajuknya bila bertemu dengan Tere Liye, tolong mintain tanda tangan buatku :D, Ida ini sudah beberapa kali bertemu dengan Tere Liye, sedangkan aku, jangan tanya, enggak pernah ketemu.

Setelah hari itu tiba, dan aku langsung menyergapnya dengan banyak pertanyaan, gimana seminarnya?, gimana dapet nggak ttd-nya?, dll

Dia bilang “dapet dong.”

Aku girang dan bilang makasih, lalu setelah itu dia bilang “siapa bilang ini buatmu?”

#Jlebbb, oke oke 😀

Pokoknya aku lupa percakapannya, tapi yang jelas aku jadi lupa masalah ttd.

Dan ternyata dia memberikan ttd-nya Tere Liye bersamaan dengan ini semua, ah aku terharoe sekali, bahkan ingin menangyyyys ToT, makasih banyak Ida.

Sudah lama sebenarnya hadiah itu, tapi hari ini aku tiba-tiba ingin mengenang dan berterimakasih pada Allah karena dianugerahi persahabatan yang erat meski terpisah jarak.

Tentang hadiah lain, yang gagal di kirim

Ternyata setelah aku ngabarin hadiahnya sudah sampai dan betapa girangnya aku, Ida cerita bahwa sebenarnya ingin menyertakan thanks cookies pada paket itu, namun gagal.

Aku semakin terharoe ToT, sudah cukup hadiah ini bikin aku girang, aku menghiburnya karena katanya kuenya gagal dia buat, dia mengirim foto proses pembuatan thanks cookies itu kepadaku. Tidak tahu apalagi kata yang tepat selain terimakasih ataupun terimakasih banyak. Aku sayang dia 🙂

Tentang Nenek yang Kupanggil Mamak

Mamakku ini orang hebat kedua setelah Mbah Kakung, meski tanpa belahan jiwanya sekarang ini Mamak tetap saja riang, tiap kali aku bilang “Diam saja, Mak, ini tugasku.” Maksudnya biar Mamak istirahat, tapi katanya “Bosan diam terus.”

Yasudah apa mau dikata, yang penting sehat jiwa raganya. Mamak sekarang tinggal bersama kami di Sukabumi. Dan ketikaku selama seminggu mengeluh lemas dan sempoyongan, Dia berkomplotan dengan Ibukku bikin jamu dari daun pepaya, katanya biar aku nafsu makan, aku geleng-geleng saja. Setelah ditaya lagi, ternyata di segelas jamu yang hijau pekat itu sudah dicampuri air kunyit dan madu, tapi tetap saja aku bergidik mau minumnya juga :D, aku cengengesan. Lalu setelah diam 5 menit memegang gelas berisi penuh jamu itu akhirnya tandas juga dengan lancar masuk ke tubuhku, meski aku langsung lari terbirit-birit ke dapur, nyari air putih, walau ada madu tetap saja pahit.

IMG_20151011_061009

Mungkin sugesti, aku jadi nafsu makan.XD

Tentang Nenek yang Kupanggil Mamak

Ya sejak kecil aku tinggal terpisah dengan ibuk, bapak, dan adik perempuanku di Sukabumi.

Aku dibesarkan di Yogyakarta oleh Mamak dan Mbah Kakung sampai lulus SD, ya itulah menapa aku panggil Nenekku dengan sebutan Mamak, dia sosok Ibu bagiku.

Khawatirnya melebihi Ibuku

Bawelnya melebihi Ibuku

Sayang Mamak.

Lama (Puisi)

Lama

clock-1274699_640

Ternyata mengingat itu mudah tapi lama

Melupakan juga mudah tapi lama

Berharap juga mudah tapi menjadi kenyataan lama

Pergi juga mudah tapi lupanya lama

Lama-lama aku bosan tapi enggan lupa karena lama

Jadi aku diam saja sebab kemanapun itu akan lama

Bilang saja aku pengecut dan itu akan mendekam lama

Di otakku

Ini sajak tentang aku dan lama

Takkan kubiarkan kata “kamu” ada di sini

Tapi susah juga sebab itu aturan lama

 Aku akan lebih memilih lupa, walau itu lama

Selama apapun itu, biarkan aku lupa

Walau kadang aku lupanya sebentar

Kemudian melanjutkan lupaku sampai lama

Lalu ingat

Lau lupa lama

Lalu ingat

Lalu lupa selama-lama-lama-lama-nya

Tapi butuh usaha lama

Daw|Sukabumi|28 Agustus 2016|  19.05 WIB

Kamu Sudah Kangen Belum Padaku?

dsc03857

Kamu Sudah Kangen Belum Padaku?

Ketahuilah aku tidak kemanapun seperti yang berada di pikiranmu, bila kamu kangen sebaiknya lupakan saja. Bukankah aku ini memang tidak pernah kamu akui sebagai kangenmu. Tapi kadang aku ingin jadi kangenmu, jadi apa pernah aku dikangenin oleh kamu?

Kamu sudah kangen belum padaku?

Jangan tanya aku, apa aku kangen kamu?, itu sudah jelas bukan? soalnya aku menulis ini juga karena aku kangen kamu. Lama-lama kalau diucapkan terus….

KANGEN itu akan hilang kekeramatannya, jadi aku janji tidak akan bilang kangen kamu lagi, mungkin setahun sekali aku akan bilang kangen.

Aku kapok juga kalau aku bilang kangen ke kamu, soalnya kamu malah meledekku.

Jadi tidak papa bukan kalau kamu tidak akan dikangeni olehku?

Mungkin juga kamu akan kehilangan aku, tapi aku memang perlahan hilang sih, tapi aku enggak buru-buru kok hilangnya, jadi tenang saja, aku hilangnya enggak bakal tiba-tiba.

Tahu nggak memendam kangen sendirian itu beratnya minta ampun, tapi aku kuat, eh tapi enggak sekuat yang kukira juga ternyata, aku orangnya aneh, suka kangen tiba-tiba kuat dan tiba-tiba kalah.

Kamu sudah kangen belum padaku?

Perihal Cara Makan Bubur

Hallo Readers, gue lagi pengen nyampah nih. Sebenar-benarnya tulisan ini udah lama didiamkan dikepala, dan baru inget lagi tadi pagi pas lagi sarapan bubur.

Ternyata kebiasaan orang-orang beda-beda dari item di buburnya (do and don’tnya)

Misalnya gue pribadi, bubur jangan pakai seledri, sambel dan kacang, bubur gue kecapnya harus banyak sampai manisnya kerasa lidah, kerupuk enggak pernah absen.

Lalu si Mega(teman kerja), dia ini paling enggak suka daun bawang tapi suka air daun bawangnya, dia anti mecin (MSG), dan kecapnya jangan banyak-banyak.

Kalau Ibuk, buburnya anti sambel sama kacang, yang lainnya oke-oke aja.

Kalau temen waktu SMK, Resni namanya. Dia ini phobia nasi, gue sempet nanya, gimana kalau bubur, phobia nggak?, katanya enggak masalah makan bubur asal dikecapin sampai enggak kelihatan itu bubur asalnya dari beras(cikal bakal nasi).

Mungkin di antara kalian yang baca postingan ini juga ada do and don’t buat buburnya juga.

Garis besar dari postingan ini adalah cara makan buburnya,

Nah cara makan buburnya nih yang bikin gue kepikiran buat bikin tulisan ini, jadi si Mega ini kalau makan bubur, enggak pernah di aduk dulu, enggak kayak khalayak umum, ya gue penganut makan bubur diaduk dululah, biar rata rasanya.

Gue tanya ke dia, emang enak, Ga?

“Enak-enak aja kok, Teh.”lalu nyengir.

IMG_20151025_081715

Buburnya Mega, enggak perlu diaduk langsung santap 😀

C360_2015-09-09-07-04-44-724

Bubur punyaku 😀

 

Ternyata enggak cuma si Mega aja yang doyan makan bubur enggak di aduk dulu, Mbah Wiji(Mbah Buyut) juga anti banget buat ngaduk bubur, dia bahkan muntah kalau lihat orang makan bubur diaduk-aduk dulu, katanya kayak makanan “kirik”, lantas muntah-muntah.

Kenapa sih selera orang berbeda-beda?

Selera bisa berubah-ubah juga?

Gue dulu enggak masalah ada kacang di bubur gue, tapi sekarang enggak pernah ada kacang di bubur gue. Kecepatan makan gue itu leletnya minta ampun, orang-orang sekitar gue bilang itu penyebab gue susah gemuk, hahaha. Jadi kalau bubur ada kacangnya, itu ngunyahnya kelamaan, gue bisa telat ngapa-ngapain. Udah lelet makan, belum nyelesaiin ngunyah kacangnya, telat sudaaahhhh.

Terlepas dari perbedaan selera makanan dan cara makan, bubur adalah makanan terlezat bagi orang-orang yang buru-buru.#halahhh