Empat Gigi Geraham Kakek (Cerpen)

elderly-114328_960_720

Empat Gigi Geraham Kakek

Oleh : Audhinadaw

Siang itu aku tak dapat menemui sosok Kakek yang gagah dan tampan itu, dia telah tiada sehari yang lalu. Aku adalah salah satu yang sangat berduka, sore ini aku  mengunjungi pusaranya, ilalang di sekitar sini berisik ingin aku segera menyudahi kemuramanku, ilalang-ilalang itu punya kaki, mereka menggesek-gesekkan kaki-kaki mereka sehingga aku yang tadinya sedih menjadi agak kesal sebab merasa di usir. Baiklah, sore telah tiba, angin sudah mulai memuakkan, menggodai tubuhku, kemudian memasuki aku, menggigilah aku.

Angin pesan kemarau. Angin sore yang dingin ketimbang biasanya, aku baru saja selesai dari berkeliling menyampaikan suatu hal mengenai kenduri atas meninggalnya Kakek ba’da maghrib. Aku masih berdiri di sana, pusaranya masih ada di samping kakiku, tanahnya masih gembur daripada pusara di sampinya, Aku tiba-tiba tercekat ingat lagi ketika ia marah padaku sebab aku asal omong.

“Aku ingin sakit parah sekali saja, lelah betul bekerja terus setiap hari, apalagi gajihanpun selalu telat.”Aku bersungut-sungut kepada gelas kopi yang isinya sudah tandas lima menit sebelum aku ngoceh sendiri. Kemudian tiba-tiba ada pukulan keras dari belakang ke kepalaku,

“Heh!”

Aku berteriak tertahan, tahu betul bahwa itu Kakek.

“Jangan asal omong!”

Kemudian matanya mendelik, selanjutnya aku cuma bisa menunduk, memandangi kakinya. Dia menepuk keras mulutku

“Ini di ciptain bukan buat asal omong, ini di ciptain memang buat ngomong, tapi bukan omongan pengharapan buruk seperti itu.”

“bodoh kamu.”

Aku ingin sekali membahas kata bodoh yang baru saja keluar dari mulutnya, namun urung. Dia kemudian duduk di bangku berhadapan denganku, Nenek segera membawakan kopi untuknya, aku masih mengusap-usap bibirku, sambil mendongkol dalam hati. Dia di sana langsung sibuk dengan gigi palsunya, sudah dia rendam semalaman, pantas saja tadi cadel saat memarahiku.

“Mbah, emangnya nggak bisa beli lagi gigi palsunya?”

Dia tersenyum sinis, kemudian meletakkan empat gigi geraham itu di atas kotak dengan kain berwarna putih, kemudian beralih melinting tembakau dengan kertas yang bila diisap rasanya manis, aku sering mengisapnya bila iseng. Kemudian menyulutnya, dan sekarang setiap kali asap rokoknya agak tebal lagi dia isap kemudian sibuk dengan giginya lagi.

“Mbah, nanti kalau aku punya duit, aku belikan sepuluh gigi palsu buat njenengan Mbah, biar gonta-ganti tiap hari.” Aku sudah mendinginkan hatiku, dia masih tersenyum sinis

“Gigi ini masih punya peran, selagi masih mampu berperan, ngapain beli?, toh perannya sama saja tho?”

Aku bergelut dengan pikiran sendiri, betul kata Kakek memang, tapi kalau ada yang lebih baik kenapa masih pakai yang lama

“Hidupmu keseringan denger kata orang Le.”

Aku terdiam, memilih mencomot pisang goreng yang baru saja dihantar Nenek. Di meja sudah berantakan benang-benang, senar layangan yang dapat dari nemu di sawah karena layangan putus, lalu jarum ukuran sedang, dan gunting yang tajam tapi gagangnya satu dari kawat, satu lagi dari bingkai kacamata rusak, dua gagang itu dilumuri bakaran plastik hitam, dan gunting itu kuat dipakai sampai sekarang, gunting barupun kalah tajam dan kokoh dari itu.

“Yang ompong berapa sih, Mbah?”

“Lha yo semua, yang kamu lihat di depan ini, ya tinggal ini aja Le.”dia menunjukkan empat gigi serinya.

Aku tertawa terbahak, Nenek segera bergabung dengan kami di ruang depan ini, duduk agak jauh dari kami.

Rumah di salah satu dusun di Yogyakarta memang dianugrahi tanah yang luas, yang lainnya mungkin berbanding lurus dengan barang di dalamnya. Mafhum betul dengan jembarnya rumah ini, tapi barang-barang di dalamnya hanya sedikit, sekedar saja, sebab penghuninya adalah seorang tani yang menggarap sawah orang lain, di rumah Kakek bercat warna putih serta jendela dan pintunya bercat biru tua itu sangat jembar, di ruang depan ada kursi tamu dari rotan yang sangat amat kuat, sampai meninggalnya Kakek, kursi itu akhirnya beralih tangan ke sahabatnya Kakek.

Di sana cuma ada beberapa bingkai besar di dalanya ada miniatur masjid biru yang disusun mendatar, ada jam dinding coklat yang kutahu baterainya baru diganti beberapa minggu lalu sebelum Kakek meninggal.

“Gimana?”Tanya Nenek serius memandang Kakek yang masih sibuk dengan gigi palsunya

“Yasudah biarkan saja, tanpa uang pensiunan itu juga masih bisa hidup berkecukupan, tho?”

Nenek hanya bisa pasrah saja, keinginan Kakek sudah berakhir, sudah lelah untuk mengurusi uang pensiunan itu, padahal tinggal diurus ke Jakarta, tetapi melihat tubuhnya, sudah renta. Meski kutahu dia pasti kuat ke Jakarta, tapi tidak ada jaminan langsung selesai.

Kakekku ini pensiunan tentara, ya beginilah sekarang, memilih bertani sebab uang pensiunan tidak dapat. Terlalu lelah untuk mengurus kesana kemari dan tak ada hasilnya.

Sore itu aku sudah harus kembali ke Semarang, hanya dua minggu sekali saja aku mengunjungi Kakek-Nenek dari pihak ibuku ini. Kata Bapakku, aku harus lebih sering lagi ke Jogja, akupun tidak keberatan.

Setelah agak lama diam, Kakek menyuruhku memegangi gigi itu, tapi aku jeri, lalu tertawa.

Sebenarnya gigi gerahamnya masih lumayan utuh, empat diantaranya sudah ompong, empat gigi geraham palsu itu agak goyang, Sekarang sudah kuat lagi. Gigi itu langsung dia pasang, kemudian langsung memakan pisang goreng.

***

Bau kuburan memang sangat dingin menusuk hidung, melumerkan keangkuhanku, baunya memetik air dari mataku, jatuh ke atas pusara Kakek, orang bilang jangan sampai air mata jatuh ke atas pusara, kasihan katanya.

Bau kamboja tak tercium olehku, hanya mawar yang masih segar di sana mampu menembus anganku, gemerisik bambu menyadarkanku, sudah saatnya pergi dan bersiap untuk kendurian Kakek.

Sedikit membisikkan doa untuk Kakek kemudian aku bergegas menjauh pergi, esok mungkin aku kembali lagi.

***

Di rumah yang jembar itu sudah tergelar tikar-tikar di antaranya dapat pinjam dari tetangga, beberapa orang sudah pulang dari masjid langsung ke rumah ini. Yang aku khawatirkan sekarang hanya Nenek, meski di rajuk terus-terusan oleh ibuku agar diam saja di kamar, dia malah sengaja melibatkan diri dalam kesibukan di dapur, katanya biar cepet lupa sedihnya. Ibuku bisa apa, maka hanya mengawasi Nenek saja, takutnya tumbang karena kelelahan fisik dan pikiran.

Perbincangan tentang gigi palsu kakek itu berlanjut ketika kunjunganku minggu berikutnya, kata Kakek, bila dia mati, giginya juga tolong di kuburkan tapi di belakang rumah. Aku mengangguk paham.

Le!”

“Ya, Bu?”

“Udah mau mulai, sana ke depan.”

Aku mengangguk, lekas bergabung. Ruangan itu penuh sebab hampir seluruh kepala keluarga sedesa di undang. Aku mengambil duduk di samping bapakku.

Tubuhku ini merasakan masih hadirnya Kakek di ruangan ini, mengamati kami. Jangan sampai aku menangis lagi, kasihan Kakek, air mataku hanya akan memberatkan langkahnya di alam sana.

***

“Mbah?, gigi palsu Kakek ditaruh di mana ya?”

“Di kamarnya, Le.”

“Kata Mbah Kakung, gigi palsunya tolong dikuburkan di belakang rumah, biar sama saya ya, Mbah?”

Nenekku mengangguk, masih menyibukkan diri dan pikirannya dengan perabotan dapur. Aku ditemani Bapak mengambil gigi palsu itu di kamar, kemudian bergegas ke belakang rumah.

Bapak menggalikan lubang sedalam setengah meter, gigi itu kami kuburkan dengan baik. Bapakku bilang, gigi geraham yang ompong pertama milik Kakek itu ketika aku dilahirkan. Tiga gigi gerahamnya menyusul silih berganti seiring aku tumbuh. Kakek menolak dibelikan gigi palsu, dia membeli sendiri gigi palsunya, dan sampai dia meninggal dia tak pernah membeli yang baru meski gigi palsu itu telah rusak. Kata Kakek, aku terlalu mendengarkan kata orang lain, aku tertawa. Segera ingat ketika giginya selesai dia perbaiki, dan lekas mencomot pisang goreng di meja.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s