Cerpen Sapardi Djoko Damono

Hari ini aku baru ketawa sekali, lantaran baca cerpen karya Sapardi Djoko Damono yang terbit di Koran Kompas Minggu, 9 Februari 2014
Niatnya mau bikin cerpen, makannya baca cerpen yang ada di ebook Kumpulan Cerpen Kompas 2014 yang kuunduh sekian lamanya, tapi ternyata setelah baca cerpen aku enggak dapat ide, aku lagi enggak mood.#halah alasan
Oke berhubung aku pengin kalian ketawa juga, ya kalau enggak ketawa ya sekadar mesem sedikit atau apalah istilahnya itu, aku share cerpen beliau di sini, kabari aku kalau kalian ketawa, kalau enggak ya kabarin juga ding. Selamat baca ya, aku mau bikin ketawa Aldrik dulu(anaknya yang ngontrak), soalnya dia demam dari kemarin.

Cerpen Sapardi Djoko Damono (1)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (2)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (3)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (4)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (5)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (6)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (7)

Cerpen Sapardi Djoko Damono (8)

 

Iklan

Tangguhlah, Ikhlaslah, Sabarlah

DSC03774

Untuk Audhina Novia Silfi,

Kamu mungkin lupa bahwa kamu adalah seorang petualang yang mencari harta karun, meski mungkin kamu bukan kaptennya, kaptenya telah pergi terlebih dahulu ditelan takdir. Lantas bukan juga alasan bagimu untuk lupa tujuanmu mencari harta karun, Aku rindu dirimu dua tahun yang lalu, ketika kamu begitu semangatnya bermimpi menjadi novelis terkenal padahal tulisanmu adalah yang paling buruk dari yang buruk.

“When you want something you’ve never had, you have to do something you’ve never done”-Anonim

Aku tidak menyalahkanmu, pasalnya memang ini adalah saat-saat kegamangan dalam dirimu menguasaimu, kamu sering goyah pada tujuanmu, sering mengeluh.

Aku bukan melarangmu untuk mengeluh, mengeluh itu boleh, tapi jangan berlarut.

Kamu ingat betapa senangnya kamu ketika mendapat email penolakan naskah novel pertamamu?, kau benar-benar bahagia tanpa seorangpun yang menjadi alasan bahagiamu, iya kamu bahagia oleh dirimu sendiri.

Jika kamu sering mengeluh, kamu tidak mengenal penciptamu dengan baik. Biasakanlah untuk ikhlas dan melupakan.

Mungkin pribadimu yang lama terkikis, aku paham sebab tidak akan ada yang sama untuk kedua kalinya , tapi aku tidak senang pabila sisi lemahmulah yang paling andil pada kamu saat ini.

Kamu kan sudah janji akan semangat nulis lagi?

Tapi aku lupa kamu belum janji menjadi dirimu dua tahun yang lalu itu, baiklah kini aku sadar, ternyata kamu hanya perlu berjalan terus, selesaikan yang belum kamu raih.

Biasakanlah ikhlas. Jangan melulu menyugesti dirimu dengan kata-katamu “Aku ikhlas, aku ikhlas, aku ikhlas.” Hal itu malah semakin mencabik hatimu, nuranimu.

Pembiasaan yang baik, dan Tujuan yang baik. Kau harus biasa mengikhlaskan.

***

Tidak ada yang menyuruhmu untuk lemah. Lemah itu kemauan lawan, kemauan orang-orang yang membencimu. Kamu cuma perlu paham, Teman itu seleksi alam. Memang bukan kebetulan, tapi sudah ditentukan.

Tidak ada yang menyuruhmu jatuh cinta kemudian patah hati. Dua hal itu adalah momen hatimu yang mempersilahkan, dan itu kemauanmu, jangan lupa bahwa

Tidak ada orang yang tak tergantikan dan tak ada benda yang wajib dimiliki. Jika kamu memahami dua hal itu, maka ketika kamu harus kehilangan semua yang berarti dan semua yang kamu cintai, kamu akan tetap merasa semua permasalahan itu bukanlah perkara besar.-Jack Ma

***

Tangguhlah, audhina.

Kamu bahkan sudah lupa tujuan awal kamu bersusah payah bekerja sambil kuliah. Apa itu karena Ibumu?, yang jelas saat ini kamu sedang marah, karena melupakan kamu di dua tahun yang lalu. Kamu lupa tujuanmu.

Biarkan yang membencimu itu terus membencimu. Sebab apapun yang kamu lakukan, merekalah yang selalu membencimu, kamu manusia, mereka manusia, kamu tidak boleh menyuruh mereka baik kepadamu, kamu hanya perlu menyuruh dirimu sendiri baik kepada mereka.

Memanusiakan yang manusia.

Sabarlah, sebab orang-orang yang menyayangimu selalu berharap yang baik untukmu.

Kamu selalu ngobrol dengan Ibumu dan Nenekmu bukan, ingat tidak?, ketika kamu harus menghadapi UTS,UAS, dan bahkan saat harus Interview Kerja.

“Bu doain aku ya, semoga aku bisa……”

Ibumu dan Nenekmu selalu bilang “Nggak usah diminta, Ibu selalu doain yang terbaik buat kamu.”

Tangguhlah, Sabarlah, Ikhlaslah.

 Mungkin kamu muak dengan kompetisi, namun inilah hidup. Kamu hidup dengan banyak ketidakpuasan setiap harinya, hiduplah sebisamu.

Kalau kau gagal, berusahalah terus. Toh usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Tangguhlah 🙂

Kangen Rumah

Kangen Rumah

portrait-317041_960_720

Suatu saat kau akan sadar bahwa berlari itu membuatmu lega hingga sekarang
Kekacaubalauan akan rindu yang kau tinggalkan perlahan memudar
Hanya ada bau tembakau yang kau hirup selepas menyesap kopi
Kemudian menyadari telah lama kau hilang dan melupakan bau sirih nenekmu
Lantas kau kembali pulang untuk kesekian kali
Namun bau sirih itu telah menghilang
Bersamaan dengan kapal yang tiba-tiba berlabuh di otakmu
Dan kau melamun sampai tertidur
Berangan-angan masih lekat tercium bau sirih di dekapan hidungmu
Sehingga akhirnya kau bertemu dengan bau sirih itu di dalam mimpi
Lega rasanya
Ternyata kerinduanmu terbalaskan di alam mimpi
Meski sedikit berputar, namun akhirnya berhenti pada gelap gulita
Dan hanya hidungmu yang bermimpi
mengisap seluruh bau dari gelap itu
Dan kaupun tersenyum
Gagasanmu untuk terbangun
Kau urungkan
Hanya ingin berlama dengan bau sirih itu sampai terbitnya bau selimutmu itu
Sampai akhirnya nanti pagi kau menyadari bahwa
Kau akan berlari pergi lagi untuk kemudian pulang karena kangen rumah

Sukabumi, 10.08.16
Kangen Almarhum Nenek yang ada di Bantul, Yogyakarta

Mengganti Selimut

Mengganti Selimut

cat-98359_960_720

Kau lupa bahwa ada selimut yang sudah lama tidak kau gantikan
barangkali seperti itulah kau lupa pada bau tubuhmu
Kau telah lelah menerka akan kapan kau akan mencuci selimut itu
Dan membenarkan bahwa tidak mengapa memakai selimut bau itu untuk beberapa bulan lagi
Kemudian memilih untuk meneruskan novel 600 halaman yang belum juga selesai kau baca
Barangkalai esok hari Ibumu berbaik hati menggantikan bukan hanya selimutmu, namun juga seprainya
Lantas kau jadi senyum-senyum sendiri karena ternyata gagasanmu salah
selimut dan seprai yang bau tidak mendukungmu untuk berubah

Daw

Sukabumi, 10 Agustus 2016

Kamu yang Lain

Kamu yang Lain

hand-316639_960_720

Di lain waktu kau akan kalah pada rindumu sendiri
Pertemuanpun malah menambahnya semakin rindu
Solusi terakhirnya adalah mengungkapkannya
“Aku kalah” katamu begitu
Di alam berbeda ternyata masih ada kau yang lain
Katanya kepadaku
Kau tak boleh terus memenjarakan isi kepalamu itu
Dia khawatir kau tidak akan menjadi kau di alam lain itu
Dan dia bilang kepadaku
Rindumu itu tidak hilang bila kau tak melupakannya
Sengaja atau
Tidak Sengaja
Rindu itu akan memudar sebab yang memegang rindu itu keberatan
Lalu jatuh dan hilang
Dia bilang aku ini sok tahu
Persis seperti apa katamu kepadaku
Meski di tempat berbeda tapi kalian sama
Dia bilang padaku
Aku ini harus selamanya pergi bila ingin Kau jadi Dia
Maka aku hanya bisa minum susu coklat dari cangkirmu
Dan aku pamit

Daw | Sukabumi, 10 Agustus 2016

Empat Gigi Geraham Kakek (Cerpen)

elderly-114328_960_720

Empat Gigi Geraham Kakek

Oleh : Audhinadaw

Siang itu aku tak dapat menemui sosok Kakek yang gagah dan tampan itu, dia telah tiada sehari yang lalu. Aku adalah salah satu yang sangat berduka, sore ini aku  mengunjungi pusaranya, ilalang di sekitar sini berisik ingin aku segera menyudahi kemuramanku, ilalang-ilalang itu punya kaki, mereka menggesek-gesekkan kaki-kaki mereka sehingga aku yang tadinya sedih menjadi agak kesal sebab merasa di usir. Baiklah, sore telah tiba, angin sudah mulai memuakkan, menggodai tubuhku, kemudian memasuki aku, menggigilah aku.

Angin pesan kemarau. Angin sore yang dingin ketimbang biasanya, aku baru saja selesai dari berkeliling menyampaikan suatu hal mengenai kenduri atas meninggalnya Kakek ba’da maghrib. Aku masih berdiri di sana, pusaranya masih ada di samping kakiku, tanahnya masih gembur daripada pusara di sampinya, Aku tiba-tiba tercekat ingat lagi ketika ia marah padaku sebab aku asal omong.

“Aku ingin sakit parah sekali saja, lelah betul bekerja terus setiap hari, apalagi gajihanpun selalu telat.”Aku bersungut-sungut kepada gelas kopi yang isinya sudah tandas lima menit sebelum aku ngoceh sendiri. Kemudian tiba-tiba ada pukulan keras dari belakang ke kepalaku,

“Heh!”

Aku berteriak tertahan, tahu betul bahwa itu Kakek.

“Jangan asal omong!”

Kemudian matanya mendelik, selanjutnya aku cuma bisa menunduk, memandangi kakinya. Dia menepuk keras mulutku

“Ini di ciptain bukan buat asal omong, ini di ciptain memang buat ngomong, tapi bukan omongan pengharapan buruk seperti itu.”

“bodoh kamu.”

Aku ingin sekali membahas kata bodoh yang baru saja keluar dari mulutnya, namun urung. Dia kemudian duduk di bangku berhadapan denganku, Nenek segera membawakan kopi untuknya, aku masih mengusap-usap bibirku, sambil mendongkol dalam hati. Dia di sana langsung sibuk dengan gigi palsunya, sudah dia rendam semalaman, pantas saja tadi cadel saat memarahiku.

“Mbah, emangnya nggak bisa beli lagi gigi palsunya?”

Dia tersenyum sinis, kemudian meletakkan empat gigi geraham itu di atas kotak dengan kain berwarna putih, kemudian beralih melinting tembakau dengan kertas yang bila diisap rasanya manis, aku sering mengisapnya bila iseng. Kemudian menyulutnya, dan sekarang setiap kali asap rokoknya agak tebal lagi dia isap kemudian sibuk dengan giginya lagi.

“Mbah, nanti kalau aku punya duit, aku belikan sepuluh gigi palsu buat njenengan Mbah, biar gonta-ganti tiap hari.” Aku sudah mendinginkan hatiku, dia masih tersenyum sinis

“Gigi ini masih punya peran, selagi masih mampu berperan, ngapain beli?, toh perannya sama saja tho?”

Aku bergelut dengan pikiran sendiri, betul kata Kakek memang, tapi kalau ada yang lebih baik kenapa masih pakai yang lama

“Hidupmu keseringan denger kata orang Le.”

Aku terdiam, memilih mencomot pisang goreng yang baru saja dihantar Nenek. Di meja sudah berantakan benang-benang, senar layangan yang dapat dari nemu di sawah karena layangan putus, lalu jarum ukuran sedang, dan gunting yang tajam tapi gagangnya satu dari kawat, satu lagi dari bingkai kacamata rusak, dua gagang itu dilumuri bakaran plastik hitam, dan gunting itu kuat dipakai sampai sekarang, gunting barupun kalah tajam dan kokoh dari itu.

“Yang ompong berapa sih, Mbah?”

“Lha yo semua, yang kamu lihat di depan ini, ya tinggal ini aja Le.”dia menunjukkan empat gigi serinya.

Aku tertawa terbahak, Nenek segera bergabung dengan kami di ruang depan ini, duduk agak jauh dari kami.

Rumah di salah satu dusun di Yogyakarta memang dianugrahi tanah yang luas, yang lainnya mungkin berbanding lurus dengan barang di dalamnya. Mafhum betul dengan jembarnya rumah ini, tapi barang-barang di dalamnya hanya sedikit, sekedar saja, sebab penghuninya adalah seorang tani yang menggarap sawah orang lain, di rumah Kakek bercat warna putih serta jendela dan pintunya bercat biru tua itu sangat jembar, di ruang depan ada kursi tamu dari rotan yang sangat amat kuat, sampai meninggalnya Kakek, kursi itu akhirnya beralih tangan ke sahabatnya Kakek.

Di sana cuma ada beberapa bingkai besar di dalanya ada miniatur masjid biru yang disusun mendatar, ada jam dinding coklat yang kutahu baterainya baru diganti beberapa minggu lalu sebelum Kakek meninggal.

“Gimana?”Tanya Nenek serius memandang Kakek yang masih sibuk dengan gigi palsunya

“Yasudah biarkan saja, tanpa uang pensiunan itu juga masih bisa hidup berkecukupan, tho?”

Nenek hanya bisa pasrah saja, keinginan Kakek sudah berakhir, sudah lelah untuk mengurusi uang pensiunan itu, padahal tinggal diurus ke Jakarta, tetapi melihat tubuhnya, sudah renta. Meski kutahu dia pasti kuat ke Jakarta, tapi tidak ada jaminan langsung selesai.

Kakekku ini pensiunan tentara, ya beginilah sekarang, memilih bertani sebab uang pensiunan tidak dapat. Terlalu lelah untuk mengurus kesana kemari dan tak ada hasilnya.

Sore itu aku sudah harus kembali ke Semarang, hanya dua minggu sekali saja aku mengunjungi Kakek-Nenek dari pihak ibuku ini. Kata Bapakku, aku harus lebih sering lagi ke Jogja, akupun tidak keberatan.

Setelah agak lama diam, Kakek menyuruhku memegangi gigi itu, tapi aku jeri, lalu tertawa.

Sebenarnya gigi gerahamnya masih lumayan utuh, empat diantaranya sudah ompong, empat gigi geraham palsu itu agak goyang, Sekarang sudah kuat lagi. Gigi itu langsung dia pasang, kemudian langsung memakan pisang goreng.

***

Bau kuburan memang sangat dingin menusuk hidung, melumerkan keangkuhanku, baunya memetik air dari mataku, jatuh ke atas pusara Kakek, orang bilang jangan sampai air mata jatuh ke atas pusara, kasihan katanya.

Bau kamboja tak tercium olehku, hanya mawar yang masih segar di sana mampu menembus anganku, gemerisik bambu menyadarkanku, sudah saatnya pergi dan bersiap untuk kendurian Kakek.

Sedikit membisikkan doa untuk Kakek kemudian aku bergegas menjauh pergi, esok mungkin aku kembali lagi.

***

Di rumah yang jembar itu sudah tergelar tikar-tikar di antaranya dapat pinjam dari tetangga, beberapa orang sudah pulang dari masjid langsung ke rumah ini. Yang aku khawatirkan sekarang hanya Nenek, meski di rajuk terus-terusan oleh ibuku agar diam saja di kamar, dia malah sengaja melibatkan diri dalam kesibukan di dapur, katanya biar cepet lupa sedihnya. Ibuku bisa apa, maka hanya mengawasi Nenek saja, takutnya tumbang karena kelelahan fisik dan pikiran.

Perbincangan tentang gigi palsu kakek itu berlanjut ketika kunjunganku minggu berikutnya, kata Kakek, bila dia mati, giginya juga tolong di kuburkan tapi di belakang rumah. Aku mengangguk paham.

Le!”

“Ya, Bu?”

“Udah mau mulai, sana ke depan.”

Aku mengangguk, lekas bergabung. Ruangan itu penuh sebab hampir seluruh kepala keluarga sedesa di undang. Aku mengambil duduk di samping bapakku.

Tubuhku ini merasakan masih hadirnya Kakek di ruangan ini, mengamati kami. Jangan sampai aku menangis lagi, kasihan Kakek, air mataku hanya akan memberatkan langkahnya di alam sana.

***

“Mbah?, gigi palsu Kakek ditaruh di mana ya?”

“Di kamarnya, Le.”

“Kata Mbah Kakung, gigi palsunya tolong dikuburkan di belakang rumah, biar sama saya ya, Mbah?”

Nenekku mengangguk, masih menyibukkan diri dan pikirannya dengan perabotan dapur. Aku ditemani Bapak mengambil gigi palsu itu di kamar, kemudian bergegas ke belakang rumah.

Bapak menggalikan lubang sedalam setengah meter, gigi itu kami kuburkan dengan baik. Bapakku bilang, gigi geraham yang ompong pertama milik Kakek itu ketika aku dilahirkan. Tiga gigi gerahamnya menyusul silih berganti seiring aku tumbuh. Kakek menolak dibelikan gigi palsu, dia membeli sendiri gigi palsunya, dan sampai dia meninggal dia tak pernah membeli yang baru meski gigi palsu itu telah rusak. Kata Kakek, aku terlalu mendengarkan kata orang lain, aku tertawa. Segera ingat ketika giginya selesai dia perbaiki, dan lekas mencomot pisang goreng di meja.

-Selesai-

Sesungguhnya (Puisi)

Sesungguhnya

flower-1487138_960_720

Sesungguhnya kuatku telah hilang
Sebab dia masih hadir, berdiri bersama kaki ilalang
Buihnya belum kunjung hilang
Aku bingung

Dia datang sebab apa?
Sebagai apa?
Realita dan harapan seolah bercekauan mengusikku
Membuatnya kesenangan, sebab anggapnya aku masih kuat untuk terluka

Bagaimana bisa aku mengabaikannya bila dia justru berlari-lari berputar di sana seolah mengejekku, di sana dia diam dan malah memperpanjang harapan
Bagaimana bisa aku membujuk kaki ilalang agar sepakat menghakiminya
Kuingin hanya mengenyahkannya

Aku bingung
Sesungguhnya bukan lagi waktu yang tepat untuk bahagia tanpa rasa
Setidaknya ketika dia tak sedang membahas luka, aku terobati
Aku di sini sudah berkecukupan lukanya, sakit memang

Tapi bagaimana lagi?
Kamu ada solusi?
Sesungguhnya aku hanya ingin kau pergi tapi bohong.

Sukabumi, 07 Agustus 2016 | 5.22