Amoy (Cerpen)

Ini cerpen yang baru banget kubikin, dari pukul 20.24 WIB- 21.47 WIB

Ini cerpen dadakan, sebab merasa ada yang ngeganjel karena diri ini sudah lama enggak nulis cerpen. Spontan setelah seseorang di grub WA, nyeletuk “Mau nulis sejam satu cerpen ah.” dan akhirnya tersadar untuk menulis, dan cuma tahan sampai 7388 word with spasi. Tetap saja ini bisa dibilang cerpen.

IMG_20150413_142221

Amoy

Oleh : Audhinadaw

Baru saja Amoy keluar dari kamar mandi, usai membasuh kedua tangan dan kakinya, dia menemui seekor kecoa yang dia belum pernah temui, seingatnya baru kemarin dia membasmi seluruh kecoa yang nampak pada pandangannya. Amoy sedang banyak memikirkan hal yang seharusnya tidak dia pikirkan, lamunannya menjauh, menusukkan pandangan kedalam badan kecoa itu, kecoa itu merayap-rayap, enggan peduli dengan sosok aduhai yang tengah memandanginya dengan tatapan aneh sebab sedang hanyut dalam andai-andai.

“Anak siapa ini pak?”tanya tetangganya

“Anak saya-lah, Bu.” Jawabnya kemudian tertawa, dia tengah menggendong Amoy kecil, wajah Amoy berlumur bedak yang seperti satu botol bedak tabur itu mendarat dengan sengaja mencemongi wajah mungil Amoy.

“Mirip siapa ini ya, Pak?”tanyanya lagi sambil menggodai Amoy agar tertawa

“Mirip buyutnya sepertinya, Bu.” Kemudian tertawa

Dulu Amoy kecil seperti kue mochi yang berlumur tepung, bulat dan kelihatan seperti bangsawan cina, kebanyakan temannya enggan mendekatinya ketika umur 5 tahun, entah karena terlalu berbeda atau apa, dia tidak pernah tahu itu. Tapi sekarang wajahnya sudah benar-benar mirip dengan Ibunya, cantik dengan segala hal yang ada di wajahnya itu, matanya seperti baru di petik dari langit ketujuh, bibirnya seperti merah delima, dan ketawanya, semua orang mungkin enggan melewatkan itu. Jadi berbeda dari dulu itu sudah bawaannya, jadi istimewa dari dulu sudah anugrah buatnya. Maka heranlah aku, dia bisa semudah itu dihitbah oleh pemuda sederhana dari desa seberang itu.

Katanya kepadaku, bahwa dia menerima pemuda itu karena kegigihannya, dan keinginan dari hati terdalam Amoy agar secepatnya dilindungi sosok Suami, tak terhitung lagi sejak dia menginjak usia 13 tahun, ancaman culik baginya adalah hal biasa tapi mengerikan. Dua kali sudah, dia diculik namun kemudian lolos juga.

Amoy usia 13 tahun, tidak pernah sekalipun sekolah. Ibunyalah yang mengajarinya beberapa wawasan sederhana, seperti Bumi ini bulat dan berputar pun lain hal lainnya, dan ilmu agamanya dia dapat dari Bapaknya, seorang junjungan agama yang tinggi di desa itu, sewaktu itu keluarganya belum mendirikan pesantren. Amoy saat itu hendak mengambil air di sumur, biasanya ditemani oleh adik laki-lakinya, namun saat itu waktu sedang menghendaki Amoy diculik oleh pemuda yang berasal dari desa seberang, dia dibantu oleh seorang temannya, membekap Amoy sampai pingsan dan membawanya kedalam sebuah lumbung padi, Amoy hanya sempat di ikatkan kesebuah pegangan kayu dengan selendang, dan beruntungnya dia baru sempat diciumi dua pemuda itu, entah apakah hal itu masih disebut beruntung atau tidak, kemudian saat Amoy sudah menangis tanpa suara, sebab mulutnya tertutup, Bapaknya dan beberapa murid mengajinya langsung merangsek masuk dan Amoy didekap kedalam jubah Bapaknya, lima muridnya menggebuki dua pemuda itu, kemudian mengikat tangan mereka dan menyerahkan pada kepala desa. Melalui musyawarah tertutup supaya berita buruk tidak menyebar dan sebenarnya tetap menyebar, dua pemuda itu diadili di kantor polisi.

Jangan coba-coba menzalimi anak gadis pak kyai, nanti bisa kualat, Aku tidak habis pikir, memangnya selain anak kyai berarti sah-sah saja dizalimi sampai kehormatan tak bersisa. Itu hal lain lagi sebenarnya, Aku hanya takzim mendengarkan kisah Amoy ini ketika kami bertemu di pesantren milik keluarganya itu, aku belajr setahun di sana. Selalu timbul kesal karena cemburu sebab wajahku tak secantik dia, pun perangainya yang jauh dari sentuhan luar, sangat jauh antara jarak anggun dariku kepadanya.

“Kau bisa buat apa selain mengaji dengan suara merdumu itu?”tanyanya kepadaku

“Eh?”aku kaget karena dia tadi tengah mengomeli adik paling kecilnya karena membuat baju yang baru ganti itu kotor.

“Iya kamu bisa apa selain mengaji?”dia mengulangi, sekarang tatapannya ramah

Kalau aku laki-laki mungkin aku sudah jatuh cinta dan betapa beruntungnya laki-laki ini.

“Keterampilan tidak harus terlalu ditekuni, aku hanya selalu belajar supaya sekedar bisa saja.”

Kami duduk di salah satu joglo di komplek pesantren ini, sedang sepi karena murid-muridnya masih sibuk di dalam bangunan. Angin sore itu terlalu kemayu dan mematahkan sanggaan kelopak mataku, aku mengantuk.

“Kau bisa apa?”

“Aku bisa masak air dan air itu mendidih, aku bisa menjahit dan kain bolong itu bisa kupakai lagi.”

Dia menatapku lama, seperti tatapan matanya ke kecoa yang dia lihat saat ini, tatapan lama yang mengiba atau apalah. Aku mengamatinya lama, dia belum juga beranjak dari sana, masih takzim melihat kecoa mengorek-ngorek sampah, dan plastik sampah itu berkresek-kresek, mungkinkah dia tengah mencoba mendengarkan kecoa merutuk karena yang dia temukan di tempat sampah kami hanya bekas pembalut Amoy dan beberapa bungkus mie instan serta cangkang telur, aku tidak tahu.

Aku sedang menemani Amoy dikamarnya, beberapa hari lagi dia akan menikah. Harusnya dia sudah tidak perlu payah mesantren bersamaku, tapi aku heran dengan jawabannya.

“Aku akan melewati sebisa ini sebelum aku tidak akan bisa memasuki pesantren ini lagi, ke kamar ini lagi.”

Aku tertawa, dan dia mendelik galak

“Hey, kau ini keluarga yang punya pesantren ini, untuk apa pula sungkan mengunjungi bangunan ini, mengunjungi aku pula.”

Dia melamun lagi, kali ini aku biarkan saja, dan aku ngemil dengan rakusnya, baru saja dapat makanan dari Ibunya Amoy. Amoy ini seperti danbaan sema orang, segala hal dalam ekspektasimu akan terealisasikan. Aku tidak mengada-ada, ini memang betulan ada, dan itu adalah Amoy. Kasihan juga bila kudapati dia bilang kesal dipanggil Amoy sepanjang hidupnya, padahal sekarang jauh beda dari bangsawan cina, parasnya betulan jatmika khas sunda. Pernah dia bilang padaku, bahwa aku tidak boleh memanggilnya dengan sebutan Amoy. Aku hanya mengiyakan saja, sebab bisa apa aku?, dia anak ajengan, meski sebenarnya bisa saja aku membantah, sebab di kamar, aku dan dia setara.

“Lantas aku harus panggil kau apa, Amoy?

“Kau bisa panggil namaku saja.”

“Mana berani aku, di hadapan yang menghormatimu?.”

“Ketahuilah, aku ini tidak semengagumkan itu.”dia tertawa, mungkin tertawa getir

Aku setuju dengan hal yang baru saja dia sampaikan itu, sebab, kami berdua pernah memetik buah mangga muda dengan cara memanjatnya. Dan kau bisa tebak siapa yang paling lihai, Amoy yang paling terampil. Aku sempat heran, namun akhirnya berpikir cepat untuk pembenaran bahwa Amoy bukan malaikat dari langit ke tujuh.

“Kamu ini malaikat dari langit ketujuh, Amoy.”Aku tertawa geli

“Ah sudahlah, aku ngantuk.” Dia langsung bersiap tidur

“Ini kue aku habiskan ya, boleh?”

“Iya bolehlah, itukan memang buat kamu.”

“Terimakasih Cahaya.”

Aku yakin dia tersenyum ketika aku memanggilnya dengan nama aslinya, aku tertidur juga setelah sekaleng kue aku habiskan.

Dua hari setelah itu, Amoy harus diam di rumahnya, menunggu waktu sampai hari pernikahannya. Mungkinkah bukan aku saja yang benar-benar jatuh cinta padanya, aku yakin hanya segelintir saja yang sayang padanya, kebanyakan hanya sebatas kagum dan tidak andil dalam menjaganya. Semoga saja kerendahan hatimu menerima pinangan laki-laki sederhana yang kata Amoy sendiri, dia sudah lama menyukainya sejak pertama bertemu ketika memergoki kami memetik mangga muda, dan dengan baik hatinya laki-laki itu malah membantu Amoy turun dari pohon mangga itu.

Benar katanya saat malam itu, mungkin yang dia maksud, sebisa mungkin memanfaatkan waktu adalah menghabiskan waktu tanpa batasan dari Suami.

Hari itu aku yang paling awal melihat si calon pengantin, Amoy memang tak pernah bersolek, sehingga ketika kuas make up pengantin itu mendarat di wajahnya, paripurna sudah kecantikannya. Hari itu baru kulihat dia begitu terharunya setelah sah menjadi istri laki-laki itu.

-Selesai-

ini cerpen memang enggak jelas, aku udah lama banget enggak nulis, sedih rasanya tulisan malah mundur begini.:D

Iklan

19 comments on “Amoy (Cerpen)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s