Yang Menyembah Jimson Weed (Cerpen)

Sebelum kalian yang mungkin mau baca cerpen ini, gue kasih tahu, POV nya akan sangat membingungkan, kemudian EYD masih kacau, kenapa enggak di edit dulu? jawabannya adalah Males :D, gue pengin post ini di blog ini, siapa tahu bermanfaat XD.

Yang Menyembah Jimson Weed

Oleh : Audhina Novia Silfi

Jimson-weed

            Aku baru sadar bahwa kau ternyata tengah sibuk dengan benda itu. Kemarin aku ingat betul, kau dan ketiga temanmu merangkak melalui pagar dari ilalang yang meliuk-liuk, kemudian melewati semak-semak, tanahnya kering, dan baunya seperti tubuh Ben dari masa lalu, dedaunan berderak-derak di atas kepala, semak-semak bertengkar silih berganti menjamahi tubuh kalian. Kau takut dengan seseorang yang menjadi dalang ledakan kemarin malam, ledakan aneh yang malah menguarkan bau wangi—wangi Jimson Weed. Demikianlah kalian merangkak bila melewati rumah seseorang tersebut.

            Apa mungkin kau sedang meniru seseorang yang kaulihat kemarin. Dan aku tiba-tiba ingat, desa ini tak akan bertahan lama lagi, karena semua akan diambil alih oleh sang Ratu. Kau berusaha membuat senjata yang dapat menghancurkan Ratu, entah mengapa hati tak rela bila desa di pimpin seorang yang licik seperti Sang Ratu itu. Awalnya desa ini dipimpin oleh keturunan Ben, dan Sang Ratu bukanlah keturunan Ben, dia ingin menghancurkan semua Jimson Weed secara keseluruhan karena membenci Ben dari masa lalu, namun tidak ada yang bisa mencegah operasi sebulan lagi itu, karena Sang Ratu kini memiliki banyak perlindungan dari Dewa.

“Bagaimana jika kita pindahkan saja desa ini ke alam lain?”celetukmu di suatu pagi

“Maksudmu, alam makhluk halus?”Tanya kawanmu

“Tentu saja bukan. Maksudku alam bukan Bumi.”

Kau menerawang jauh ke atas langit, melihat awan yang tengah berarak-arak pulang ke rumah.

“Atau memusnahkan Sang Ratu !”

Kau melupakan suatu hal, mengenai cerita masa lalu tentang musnahnya Ben dari Bumi. Mungkin hanya dongeng saja tapi semua di desa ini menganggapnya cerita betulan. Bunga Jimson Weed kala itu diubah menjadi senjata mengerikan seperti kekuatan yang disembunyikan di balik telapak tangan—bunga itu diserapkan masuk ke dalam tangan. Lalu tangan itu nantinya dapat menyerap energi apapun dari serangan lawan, kemudian energi itu dapat dikeluarkan untuk menyerang balik lawan,

Saat itu Ben menyerap terlalu banyak energi dari lawan yang berasal dari Bulan, makhluk Bumi tidak sanggup menyimpan sebanyak energi makhluk Bulan, selain menghancurkan lawan, energi besar itu juga memusnahkan Ben dari Bumi, dan setelah itu Ben tidak ada di alam mana pun.

Kau sering menertawai semua hal yang gagal, tapi tidak bisa menertawai dirimu yang gagal. Waktunya tinggal sebulan lagi sebelum eksekusi berlangsung. Kau hanya fokus dengan penelitianmu, Arumugan dan Hans kau acuhkan. Mereka sebetulnya dapat membantumu, ide konyol Arumugan adalah Kau bisa bekerjasama dengan seseorang yang kau takuti di rumah itu, beberapa jenak kalian saling menyetujui ide tersebut, namun ketika kalian melewati ilalang itu, kalian berubah pikiran, terlalu dini untuk menyembah Jimson Weed, maka kalian urung minta bantuan dengan seseorang di rumah itu.

            Aku melihat pelupuk matamu sejenak tadi terangkat karena kaget dengan suara cicak di dinding  yang mengejekmu karena kau terlalu serius. Hans tiba-tiba datang kembali mengusikmu, baunya seperti ilalang pekarangan rumah itu, badannya memang gempal dan sedang berkeringat. Padahal kau sudah memberikan peringatan yang kautempel di pintu ruang eksperimenmu ini. Kau menyerah untuk mengusir Hans.

“Tak bisakah kau tambahkan suatu hal yang dapat menetralkan kekuatan yang di serap Jimson Weed?” ucapnya secara tiba-tiba dan mengusik barang yang kau letakkan di meja.

“Aku sedang mencari solusinya Hans.”Kau menunduk menatap tangan Hans yang menggeranyangi benda-benda di meja.

“Aku kira kau justru terlalu fokus pada pemusnahan, kau harus memikirkan dirimu sendiri, berhentilah menjadi orang baik, sejenak saja.”

“Tujuanku memang menjadi jahat Hans.” Kau sengaja, agar Hans segera tutup mulut.

            Ben dari masa lalu memang sudah seharusnya dijadikan sebuah panutan dalam  sebuah usaha menjadi pahlawanan, Kau bahkan melupakan dirimu sendiri karena ingin jadi pahlawan—yang menghilangkan keparat dan hancur bersamanya, hilang dari bagian mana pun di Bumi.

Tak cukup  Hans yang mengganggu. Arumugan kembali hadir di tempat eksperimenmu, dan keduanya lagi-lagi menyarankan untuk berguru pada manusia yang meninggali rumah dengan pekarangan berpagar ilalang itu. Kau berhenti sejenak dan berpikir, apakah semendesak itu harus menemui seseorang itu, padahal semua enggan mendekatinya, seolah seseorang itu melakukan dosa besar karena Jimson Weed.

            Kau, Arumugan dan Hans memang bersahabat dengan dasar tunduk pada khayalan. Hingga kau masih tetap ingin menjadi titisan Ben. Kau menatap Arumugan yang menyusul Hans memberantaki meja, melihat mereka seperti seolah melihat dua kucing yang terbiasa diberi makan si tuan rumah—acuh dan masa bodoh.

            “Sudahlah…ayo kita berguru pada orang itu saja.”ucap Arumugan tegas

“Kemarin kau bilang begitu, kau juga  yang paling depan mundur, dan aku muak dengan rencana itu.”

Kau mendengus dan menguncupkan kelopak matamu, fokus kembali setelah tangan-tangan jahil itu menyigkir dari meja. Hans dan Arumugan, keduanya saling menatap, memikirkan kalimatmu.

            “Baiklah aku mengaku salah.” ujarnya

***

            Pagi itu kalian bertekad untuk menemui seseorang itu, dan kini tidak dengan tangan kosong. Kau telah menyelesaikan secuil penelitianmu, kau membawanya di dalam kantong kecil, Hans dan Arumugan tidak membawa apapun kecuali tekad. Kali ini kalian menyusuri pekarangan rumah itu melalui ilalang-ilalang dengan tegak berdiri, kaki-kaki mantap berpijak dan mata menatap lurus rumah itu. Desiran jantung seolah semakin riuh dalam setiap langkah mendekati rumah itu. Wangi Jimson Weed menusuk hidung, berbeda sekali suasana rumah itu, baunya mengisyaratkan kelembutan,  seseorang yang berada di sana adalah seorang lelaki paruh baya yang menyembah Jimson Weed. Hans sedari tadi mencengkeram pinggiran bajumu dan diplintirnya sampai rasa cemasnya agak berkurang. Arumugan memegangi pundak Hans, sama cemasnya dengan Kau yang mungkin pertama kalinya menjejaki rumah itu.

            Logika kau menyeberangi jauh masuk ke dalam rumah, padahal kalian baru sampai depan pintu. Di sana ada kursi goyang dari rotan yang terjalin dalam anyaman khas kuno, Kau ingat betul siapa yang seharusnya mengetuk pintu sekarang, semua sudah dirundingkan.

            “Aru mengapa kau tak mengetuk pintu?”Tanya Hans

Entah apa yang menjadi perasaan dalam diri kalian, yang jelas takut bercampur tekad dan tak mau gagal. Kau hanya berkali-kali menelan ludah—gugup bukan main. Arumugan segera maju ke depan,  mengangkat tangannya menyentuh pintu itu, semuanya menarik nafas terengah oleh kejaran ketakutan

            “Ehem!” suara deham lelaki tua itu mengagetkan, Arumugan mundur dan bersembunyi di balik tubuhmu. Tubuh-tubuh bergetar, gigi-gigi bergemeletukan, nafas menderu, Kau saja yang berani melotot menunggu pintu dibuka, Hans dan Arumugan memilih untuk memejamkan mata. Langkah kaki lelaki itu terdengar berhenti. Pintu itu terbuka, nafas kalian tertahan. Dia sejenak menatapmu dan menyambut kalian dengan senyuman takzim.

            “Selamat datang kembali Ben.”

Dia memegangi bunga Jimson Weed di tangan kiri. Dia menatap kedalam matamu, seolah berusaha membaca pikiran. Arumugan membisikimu agar segera menyampaikan tujuanmu terhadapnya. Karena keadaan ini semakin janggal. Hans masih terus memlintir pinggiran bajumu.

“Aku tahu betul apa tujuan kalian, dan aku tahu betul imajinasi kalian tentang sosok

lelaki tua ini.”Dia menunjuk diri sendiri, kemudian melanjutkan kalimatnya

  “Imajinasi kalian sungguh luar biasa.”

 “Kalau kalian berani dan mau, aku tak keberatan, bila kalian ingin memasuki rumah

ini.”

“Aku senang, kau ingin sekali menjadi titisan Ben.”Kemudian dia berseri.

Kau sudah gatal ingin berbicara, tapi batu besar menghalangi. Hanya menatap mata lelaki itu saja kau sudah bersyukur. Arumugan mencubit purutmu, seolah mengisyaratkan, cepatlah berbicara. Kau kesakitan, dan melepaskan tangan Arumugan. Kau menarik napas, lelaki tua itu masih santai menatapmu.

            “Pak…..aku ingin bekerjasama dengamu, untuk menyelesaikan penelitianku ini.” Kau menyerahkan kantong segenggam tangan itu kepada lelaki itu. Dia mengambilnya dengan tangan kanannya, dia masih setia memegangi Jimson Weed di tangan kiri.

            “Aku tahu Ben.”Kemudian dia tersenyum

Kalian dipersilahkan masuk rumahnya untuk kedua kalinya, dan kalian akhirnya berani, Hans dan Arumugan membuka matanya, dan betapa terkejutnya kalian, ada dua peri yang mengitari meja makannya. Terkikik bahagia terbang mengitari biskuit gandum di piring putih, ketika kalian masuk, mereka bersembunyi di balik teko.

            “Tak usah takut, mereka temanku.” Kemudian ia tersenyum, dan dua peri itu terbang menyambut kalian, mengitari kalian dengan sapaan hangat. Sejenak tadi kalian berpikir, apa mungkin kini kalian tengah berada di bagian lain dari Bumi, tapi kenyataannya tidak. Kenyataannya baru saja kalian memasuki ruangan lain setelah ruangan tamu yang tiba-tiba ada meja makan tadi. Ketika lelaki itu memimpin masuk dan kalian melangkah mengikutinya, surga bunga di hadapan kalian, lebih banyak peri lagi di sana, Jimson Weed sembarang tumbuh tapi indah dan putihnya berkilauan, wanginya berbeda, lebih lembut ketimbang Jimson Weed di luar sana, ruangan itu tertutup, tapi seolah ada awan bewarna pelangi di atapnya, Dan kalian merasa sedang di luar ruangan. Tidak ada sama sekali perabotan yang kalian temui kecuali meja makan di ruangan tadi. Lelaki itu memimpin duduk di rerumputan yang tumbuh terawat. Kalian masih terkagum-kagum,

“Nah, sekarang kalian bisa berbicara dengan bebas di sini.” Dia meletakkan Jimson Weed di rumput, dan meletakkan kantong itu di tengah-tengah, dan kalian duduk melingkar. Rasa takut kalian sudah hilang sejak memasuki ruangan ajaib, Kalian terlalu salah menakuti lelaki ini.

“Aku hanya ingin agar serbuk ini bisa bekerja tanpa melukai penggunanya Pak.”

Kau menunjuk kantong itu, Hans masih terkagum dengan para peri kecil yang mengitari kuncup-kuncup Jimson Weed. Arumugan masih terheran-heran dengan langit di atap rumah itu, dan cahayanya indah ketimbang matahari.

Dia menatapmu dengan dan menjelasakan, bahwa dari kemarin kalian hanya fokus pada penghindaran, bukan penghadapan masalah. Dia mengingatkan, agar Kau tidak usah menggunakan serbuk Jimson Weed yang Kau ramu dengan ramuan Ben masa lalu. Kau tidak usah memusnahkan Sang Ratu.

“Tapi kami enggan bila terus-terusan diperintah Ratu tak tahu diri itu Pak.”

“Aku punya ide lain.”

Kalian memerhatikan penjelasannya. Mendapati jawaban dari apa yang terjadi pada ruangan ini. Mendapati bukan keajaiban tapi penciptaan yang luar biasa karena Jimson Weed, dan mendapati jawaban akan apa yang terjadi pada ledakan malam hari itu. Ledakan itu menciptakan bagian indah dari ruangan ini, yang kalian lihat sekarang.

 “Aku mencintai Jimson Weed, boleh bila kalian sebut aku menyembah Jimson Weed.”

Maka dia dengan senang hati membagikan hasil penelitiannya untuk seluruh desa, dan mengubah desa ini menjadi seperti ruangan ini. Kalian hanya perlu membuat Sang Ratu jatuh hati pada Jimson Weed dan kemudian membatalkan pemusnahan.

Kalian sejenak berpikir dan akhirnya setuju, Sekarang tujuan kalian adalah membuat Sang Ratu jatuh hati pada Jimson Weed. Kalian akan melakukan pengubahan desa, esok hari setelah malamnya bulan purnama.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s