Rattus rattus (Cerpen)

Rattus rattus

Oleh : Audhina Novia Silfi

 angel-1210970_640

Kamu ditemani selembar kertas HVS, pensil dan asbak, niat awalmu adalah menulis beberapa kata namun akhirnya membentuk sebuah kalimat. Sembari mengisap rokok yang tinggal setengah batang lagi. Sepanjang siang Kamu merutuki nasibmu sendiri. Teman yang Kamu sukai sejak SMA tiba-tiba memberikan ucapan selamat pagi melalui pesan singkat.

“Pagi Rinai, Semoga harimu menyenangkan.” Dia adalah pemberitahuan favoritmu hari ini, yang selalu sukses membuatmu tersenyum senang sekaligus kecut. Kamu agak rindu berlaku judes terhadap lawan jenis, maka tanpa pikir panjang Kamu pun hanya membalasnya dengan beberapa kata saja.

“Pagi juga”. Kemudian harapanmu lantas kandas.

Pesannya datang lagi, kali ini mungkin pesan siaran. Panjang dan menjemukan, matamu dan senyummu padam.

“Oh MLM!” ucapmu kesal.

Meski dienyahkan, suka tetap suka.

Kertas HVS itu akhirnya penuh akan keluh kesahmu sepanjang hari. Benda memuakkan yang disebut jam dinding itu terus saja mengejekmu, seolah Kamu harus bergegas tidur dan segera mengunci kembali lemari perasaan yang Kamu buka lagi itu. Kamu pun melihat keadaan sekitar, hanya ada dua kursi, satu meja, kasur dan selimut biru kucel, yang lainnya anggap saja tidak ada. Kamu menghela napas, bosan dengan kegiatan sepanjang hari tadi, dan akan terus terulang sepanjang Kamu masih hidup.

Puntung-puntung rokok berceceran di lantai, Kamu peminum alkohol, syukurlah bukan pemabuk. otakmu kurang waras, hidupmu juga kurang waras. Kamu ingat bahwa besok hari libur, berjalan ke dapur membawa gelas kosong, lantas berharap di dapur Kamu temukan air dan juga pikiran warasmu. Kamu berpikir bahwa tadi saat di kamar, galon masih terisi penuh di dapur. Sialnya kosong, tenggorokanmu kering, Kamu ingat betul kali ini harus minum air putih setidaknya tiga gelas untuk menetralisir alkohol, supaya ginjalmu tak meringis.

Namun harapanmu kandas kemudian menyerah dan berbalik ke kamar lagi. Di antara sekat kamar dan dapur, ruangan itu tempat membaca favoritmu. Rattus rattus sedikit menghambat jalanmu menuju kasur apek itu, terhenyak dan merutuk

“Dasar curut !”  kedua kakimu refleks loncat, beruntung lantai tidak licin.

Rencanamu masih sama seperti pagi tadi, bersikap masa bodoh terhadap segala hal, Kamu terus mengucapkan kata itu “Masa Bodoh” nyatanya bukan itu yang Kamu lakukan, masa bodoh adalah hal yang Kamu dambakan, sebab Kamu bukan makhluk apatis. Kamu berjalan begitu gontai sambil menggaruk-garuk pantat, matamu masih kuat sadar, namun otakmu sudah malas sadar. Kamu duduk di meja kerjamu, menyentuh kertas HVS penuh coretan tadi. Mengenang kembali pagi saat tetangga baru tersenyum menatapmu ketika Kamu membuang sekantong sampah ke depan rumah.

“Sudah bangun Kak ?” Kamu mengangguk heran, karena sadar. Penampakanmu tak ubahnya seperti tikus rumah yang lima kali mondar-mandir di depanmu sedari tadi.

“Kita baru pindah Kak.” lelaki kebapakkan itu nyengir diiringi tatapan heran

dua anak laki-laki manis yang  tengah bermain air dari selang cuci mobil.

“Semoga lingkungan kompleks perumahan ini cocok buat keluarga bapak , ya” lantas Kamu ingin segera pergi, malas ditanya lain hal lagi.

“Tante Rinai, besok malam datang kerumah Drey ya, kak ? kita makan bersama.” ucap anak laki-laki ompong itu sambil iseng kepada adiknya.

Kamu tidak punya pilihan untuk menggeleng, Kamu iyakan saja ajakan tersebut dan bergegas ke kamar mandi. Perutmu tidak kompromi dengan pizza busuk yang mungkin sudah berkali-kali diinjak Rattus rattus. Kemudian kehidupanmu stagnan lagi, bekerja dan makan, bekerja dan minum, bekerja dan berbicara. Kamu memutuskan untuk minta maaf besok pagi, karena malam ini tidak menyanggupi datang ke rumah keluarga bahagia itu.

***

Pagi ini Kamu merasa sebagai reinkarnasi puntung rokok yang Kamu isap tadi malam, Kamu tidur karena lelah dan bangun karena bosan. Perutmu tidak meronta, dan Kamu bersyukur karena tidak harus sarapan pagi. Kamu malas mandi.

Rutinitasmu di hari libur ini hanya akan membuang sampah berisi botol alkohol, bungkus pizza, bungkus rokok, dan puntung-puntung rokok, serta abunya. Penampilanmu tak akan melebihi Rattus rattus si tikus rumahan, Meski Kamu masih merasa cantik saat bangun tidur, namun gigimu dan baumu enggan menyetujui pendapat otakmu itu.

Usiamu sudah cocok untuk membangun sebuah keluarga bahagia, namun sayang Kamu enggan, Kamu terpaku di depan rumahmu, mengamati keluarga kecil bahagia itu tengah membenahi taman.

“Kak Rinai sudah bangun.” ucap perempuan itu kemudian tersenyum dan Kamu menyeringai, karena bingung.

“Nanti makan malam di rumah kami ya, kak?” ajaknya ramah

“Maaf ya tadi malam nggak sempat datang, semoga nanti malam bisa

datang.”

Keluarga itu menatap ramah dan tersenyum, mengisyaratkan bahwa rumah keduamu adalah mereka. Kamu jeri pada dirimu sendiri, mungkin usiamu setara dengan perempuan itu, namun melihat begitu jauhnya perbedaan penampilan dan keadaanmu, Kamu memang sangat menyedihkan. Mereka saling mengamini doa, sedangkan Kamu hanya tikus yang mengamini doamu.

Meski aku memang tikus rumahan, namun aku tak mau disebut tikus. Aku memang tidak penting, tapi aku adalah saksi seluruh hidupmu. Sejak aku masih di susui ibu yang kini telah kabur dari rumah ini, aku harap dia tidak digondol anjing kompleks, lebih baik hamil lagi di tempat lain. Maka sampai saat ini mungkin hanya nyamuk yang mengamini doa-doa ku.

Kamu terus saja hidup menunggu untuk lelaki yang dulu tinggal bersamamu di rumah ini, semenjak tak Kamu temui lelaki itu di kamar, atau di berbagai tempat manapun, Kamu masih belum sadar bahwa lelaki itu tidak akan pernah kembali, karena memang sudah mati. Kalau saja ibumu dan tiga adikmu di sini, mungkin mengemis pada harapan tidak akan Kamu lakukan seperti sekarang. Iya….aku paham betul Kamu kehilangan semangatmu, dan aku tak sanggup membangkitkanmu

Lihatlah saja bajuku, bulu putih yang lumayan bersih tetapi tetap berbau khas tikus ini yang menyelimuti tubuhku, Kamu saja melotot begitu melihatku mondar-mandir sebanyak lima kali tadi malam. Hobiku adalah makan pizza yang walau Kamu sisakan namun akan Kamu makan nanti setelah beberapa hari, itu mengapa Kamu sempat kena dysentri.

Sebenarnya lelaki yang Kamu dapati dia menawarkan MLM itu tidak Kamu cinta, Kamu selalu saja ingin kelihatan menjadi wanita bila berhadapan dengan lelaki itu, maka aku tak akan setuju bila Kamu masih memikirkannya. Kamu lebih pantas menjadi Rinai yang selalu sanggup menghujam bumi secara lembut.

***

            Kamu tak mau kelihatan main-main di hadapan keluarga bahagia itu, Kamu kenakan baju sopan, yang cocok untuk sebuah makan malam keluarga. Drey sudah menunggumu sambil meringis, menampakkan ompongnya. Perasaanmu mungkin sangat bahagia, aku putuskan untuk mengikutimu sampai rumah tetanggamu itu, sekalian aku akan mengunjungi sepupuku di rumah itu.

“Tante Rinai cantik ya Mah.”ucap Drey sembari menggelendoti mamahnya “Iya cantik sekali.” wanita itu menjawab tulus sembari mengusap wajah

belepotan Drey karena coklat yang dia makan.

“Mari masuk kak, Mas Teguh dan Alex sudah nggak sabar mau makan, yuk Kak.”

Kamu memang tampak menjadi seorang wanita sekarang, namun batinmu buas. Otakmu terlanjur sesak oleh sesuatu yang tidak pernah Kamu ketahui, Kamu terlalu bosan dengan hidup menyendirimu ini, Kamu masih pada pendirianmu, menjadi Rinai yang aneh walau memasuki lingkungan keluarga kecil bahagia ini. Semakin lama Kamu malah semakin muak memimpikan sebuah kelurga kecil bahagia, batinmu selalu saja berontak. Memangnya salah bila seorang perempuan mapan memilih hidup sendiri sampai mati.

Keluarga ini tiba-tiba saja mengingatkanmu untuk pulang ke rumah orang tuamu, terakhir kali bertemu dengan mereka ketika ulang tahun ibumu tahun lalu dan bukannya Kamu yang memberi hadiah, malah ibumu yang menghadiahimu selimut biru yang sekarang berwarna biru kucel di kamarmu itu.

Kamu kagum dengan keadaan rumah itu, bersih walau ada dua anak bandel di dalamnya, perempuan dan laki-laki itu pandai merawat rumah ini. Kamu diperlakukan apa adanya, senyummu akhirnya tampak ikhlas, untuk pertama kalinya, mungkin Kamu melupakan segala hal tentang laki-laki yang sudah Kamu hapal baunya itu. Alex dan Drey terus saja saling iseng, Kamu senang melihat dua anak itu.

Sepupuku bilang semenjak keluarga itu pindah ke rumah ini, kenyamanan bangsa Rittus rittus sangat terancam, meski begitu mereka tidak terlalu kejam, tidak sengaja memburu, tetapi menunggu sampai terperangkap. Bukankah memang seharusnya tikus diburu, karena tingkat perkembangbiakkan mereka sangat cepat sekali. Maka memang aku dilahirkan berani, karena aku sudah tahu, mati itu tak terduga.

Kamu beralih ke ruang keluarga, Sambil menonton televisi dan makan cemilan, Kamu sudah tidak canggung lagi, Kamu sepenuhnya lupa akan kesedihanmu, Kamu sepenuhnya kembali menemukan motivasimu. Ketika malam semakin larut dan bahan obrolan sudah sangat membosankan dan kedua anak itu sudah mengucek-ngucek mata, Kamu memilih untuk segera pamit. Namun tiba-tiba perempuan itu mengucapkan hal yang tidak terduga.

“Kak.” panggilnya sebelum Kamu beranjak pergi, dia memegangi kedua bahumu sorot matanya menembus ke dalam pikiranmu.

“Kita ada buat Kamu, jangan segan datang kalau perlu bahagia ya, kak.” Kemudian tersenyum, Kamu masih terdiam bingung dan ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja hadir kembali.

Kemudian dia melanjutkan “Kak Rinai mau ikut ziarah ke makam Ragat

esok hari tidak?”

Kamu tiba-tiba dengan cepat memutar segala sesuatu yang berhubungan dengan nama itu, Ragat, lelaki yang dulu tinggal bersamamu. Kamu menitihkan air mata, tidak paham, mengapa tiba-tiba saja mengingat secara cepat semua kenangan itu.

“Iya Kak, aku adiknya Kak Ragat.” Dia menjawab tanpa Kamu minta kemudian memelukmu dengan erat, Kamu menangis tertahan di bahunya sampai basah, dan Ia menceritakan semuanya kepadamu, mengenai persepsi negatifmu terhadap lelaki yang tiba-tiba saja mati itu.

Aku ingin melihatmu lebih dekat karena khawatir, maka aku putuskan untuk berlari dari bawah sofa menuju bawah lemari di ruang tamu tak jauh dari Kamu yang sedang duduk bersama perempuan itu. Tapi sial ada perangkap di bawah meja yang aku lewati sebelum sampai ke lemari itu, papan kayu tipis yang di lapisi lem super kuat, napasku terengah-engah berusaha melepaskan diri, sialan buluku menempel, bila aku semakin meronta, maka semakin kuat perangkap itu membuatku kesakitan, lem itu sangat berbau menyengat, Sepupuku panik melihat aku semakin tidak berdaya, dia mencarikan bantuan, semua keluarganya, tapi mungkin aku memang sudah waktunya mati, maka aku mati dengan keadaan lega, karena Rinai telah memiliki orang-orang yang mampu membahagiakannya kembali. Bukan seperti aku yang memimpikan ingin membahagiakanmu tapi tidak bisa, aku hanya mampu mengamini doa-doa mu saja. Selamat tinggal Rinai.

 

-Selesai-

Terinspirasi dari cerpen Rico De Coro-Filosopi Kopi (Dewi Dee Lestari)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s