The Pending Coffee (Cerpen)

THE PENDING COFFEE

Oleh: Audhina Novia Silfi

Mereka tak saling tahu bahwa dinding bukan pemisahnya, tapi hati merekalah yang tak saling paham. Waktu dalam jam dinding itu terus saja bergerak, namun cicak tak menanggapi. Seharusnya cicak mengerti bahwa menunggu bukan hal sepele. Dinding kafe ini seolah bisu dari lahir, aku bekerja di balik mesin-mesin kopi dan kini sambil mengamati lelaki tua itu duduk diam dan tak bergerak,

“Mengapa kau tak kunjung beranjak dari sana pak?”

Laki-laki tua di arah jam 12 itu terus saja diam, tidak ada tanda-tanda untuk segera pergi apalagi masuk dan memesan kopi. Dia menghiraukanku.

“Masuklah pak, di sini ada kopi yang tertunda untukmu.”

Aku tahu persis di luar sedang salju lebat, pintu kafe pun di biarkan terbuka dan aku memakai sweter tebal seragam kafe ini. Kalau saja aku ada nyali, mungkin aku akan protes pada Bos. Membiarkan pintu terbuka begitu, tak ada sangkut pautnya dengan mendatangkan pelanggan, malah pegawai kurus kering seperti aku inilah yang selalu menggigil bila musim dingin atau salju seperti sekarang ini menyelimuti Kota.

Pelanggan akan membeli kopi atau tidaknya menurutku berdasarkan kemampuan dan ketertarikan , aku tak merasakan perkembangan signifikan setelah pintu itu terbuka penuh-penuh sejak musim salju tahun lalu.

Laki-laki itu belum juga menanggapi nurani baik ku yang menawari kopi untuknya. Cicak dan jam dinding terus saja saling lirik tapi tak saling tahu.

“Pak di sini ada banyak The Pending Coffee.”

“5 cangkir bila kau mau.”

Dia masih menghiraukan, Pelanggan beberapa mendengar pekikanku tadi, termasuk cicak dan jam dinding. Dia tidak hanya malam ini saja menunggu di sana, Lelaki itu sangat menggangguku. Sudah sebulan dia pada pakaian yang sama, dan air muka yang sama pula.

Orang sekitar bilang, dia adalah lelaki patah hati sejak 10 tahun silam. Dia memang sering berkeliaran di jalanan ini, kini giliran kafe ini sebagai tempat bersemayamnya, aku bukan jeri layaknya mereka yang menatapnya, aku iba padanya.

Udara semakin dingin saja, tak di sangka bos datang mengunjungi kafe, sebelum tiba di mulut pintu dia sudah melotot kearah lelaki tua itu.

“Mengapa kau tak masuk dan mengambil kopi yang tertunda di dalam ?, Kau membuat pemandangan di kafe ini menjadi kumuh.”

Dia yang di tatap malah berdeham dan kukuh duduk di sana. Seolah tak ada ruang gerak untuknya, dia adalah sampah masyarakat. Dan aku adalah sampah bagi diriku sendiri, aku iba karena merasa sama dengannya.

“Bukankah kopi yang tertunda itu memang menunggu aku untuk menyesapnya?”

Dia akhirnya berbicara, bos terus melayani dan enggan kalah. Seolah kafe ini anti gelandangan, padahal memang sudah jelas kafe-kafe di daerah ini ikut beramal dengan suspended coffee, atau kini bos telah berubah pikir? Karena terlalu jeri melihat lelaki yang tak kunjung minum kopi dan pergi menjauh dari kafe?.

Pelanggan di kafe ini masih sama setelah satu jam berlalu, belum ada yang beranjak pergi. Sudah terkumpul lima cangkir kopi yang tertunda dari dua orang. Seingatku dua dari lelaki yang tadi sibuk menulis sendirian, dan tiga dari sepasang kekasih yang perkiraanku adalah asal asia, wajah mereka manis.

Bos ku akhirnya memilih berlalu, membiarkan Lelaki itu di depan sana, dia terus saja merutuk sambil melangkah memasuki ruangan kantornya.

Tinggal dua jam lagi sebelum Bianca menggantikan posisi membosankan ini. Terus terang saja sekarang aku sedang muak menciumi bau kopi dan kue, kemudian setelah puas muak, aku tersadar dari lahir aku di jejali harum-haruman kopi, dan seolah kopi memaksaku hidup untuknya.

Atau aku muak melihat cicak dan jam dinding?. Bila jam dinding bosan menunggu maka akan ku dapati dia menyumbangkan kopi. Bila Cicak malas di tunggu, maka kudapati dia menyesal dan menunggu jam dinding kemudian pergi dan meninggalkan secangkir kopi tertunda. Cicak dan jam dinding memang saling meningkahi namun saling acuh, aku terlalu sering melihatnya.

“Bonjour Andrea!”

Perempuan berambut pendek berbadan gempal itu masuk kafe dengan wajah ceria.

“Mengapa cemberut Andrea?”

Dia menatapku, aku menatap jam dinding, mengapa Bianca datang lebih awal?. Dia masih menatapku, aku mengibaskan tangan.

“Sudahlah abaikan aku.”

“Omong-omong mengapa datang lebih awal Bi?”

“Apa salahnya?” Kemudian mengangkat kedua bahunya. Benar juga, apa salahnya bila datang lebih awal? Yang salah adalah datang terlambat tanpa kepastian.

Udara semakin dingin saja, Aku dan Bianca merapatkan syal yang terasa selalu kurang tebal. Lelaki itu terlihat menggerapai dinding, ingin berdiri. Kemudian sedikit membetulkan posisi topinya dia masuk kedalam kafe. Bianca berbalik menengok apa yang ku tatap.

Aku tahu bau apa ini. Ini bau badannya yang terakumulasi menjadi bau khas sampah masyarakat.

“Permisi gadis manis.” Ucapnya lembut di ikuti tatapan bijaknya. Membuat betah memandangi matanya. Tak kusangka matanya berwarna abu-abu teduh.

“Apa kau mau The Pending Coffee pak?”

Dia menggeleng kemudian tersenyum. “Bolehkah aku tinggalkan secangkir kopi untuk anakku? Bila kau melihatnya di sini?”

Aku masih menatap mata itu, kemudian tersadar. Berdeham.

“Boleh pak, tentu saja.”

“Large Cappucinno.”

Aku berdiam saja, dia sudah mengetahui harga yang harus dia bayar. $3.45

“Anakku lelaki, seumuran denganmu. Dia selalu mampir kemari bila sore tiba. Kau akan langsung mengenali anakku. Matanya sama denganku. “

Dia tersenyum, kemudian pergi.

Aku dan Bianca saling tatap. Pasti Bianca yang selalu bertemu dengan anak itu. Betapa banyak jam dinding yang putus asa di sini.

-Selesai-

Iklan

7 comments on “The Pending Coffee (Cerpen)

  1. Mbak audhina, saya gak ngerti nih sama mbak audhina… Kata mbak waktu komen di postingan saya, katanya temen-temen mbak banyak yang gak ngerti sama tulisan mbak? Pertanyaan saya gak ngerti dimananya yak? Perasaan saya mah ngerti-ngerti aja.

    • Jadi gini mas badru…pembaca setia saya yaitu temen saya yg gak doyan baca, saya cekoki tulisan melankolis begini mas. Dan dia gak ngerti (kurang suka), tapi justru dari pembaca setia saya (temen-temen) , saya sadar. Cerita gak harus ber-ide mewah, cukup sederhana dan gak bosenin alias diolah dengan apik. #opothooo😂. Ya pokoknya saya seneng temen saya bilang nggak ngerti sama tulisan saya, biar saya terus berkembang.buahahah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s