Titip Ini Untuk Dia

Hallo readers :D, ini cerpen absurd yang mainstream nya minta ampun, namanya juga blog “pembuangan” yak :D. Nikmati guys 🙂

Titip ini untuk Dia

Oleh : Audhina Novia Silfi

 

6a00d8341bf6d653ef0148c8773179970c-450wi.jpg

Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi.

***

“Kan memang seharusnya begitu kan? Kau yang di beri amanah untuk melaksanakan permintaan terakhirnya, jangan pernah terlintas berpikir pergi dari sini kalau kau tak mau dia bangkit dari kubur atau malah menggetayangi tiap malammu. Sekarang pergi cepat ke belakang, banyak patung yang harus kau selesaikan, ayoh yang semangat. Apa susahnya semangat.”dia terduduk lagi, sementara aku membongkok jalan sambil masih begitu sangat mengkal. Keinginan yang sederhana dalam otakku terlampau tinggi dalam otaknya. Kalau malam ini juga aku selesaikan pesanan patung-patung cupid ini mungkin aku bisa merajuknya lagi, kan orang rajin patut di beri imbal. Berharapnya begitu, tapi apa iya bisa?.

Kalau saja surat wasiat sialan itu tak memilihku untuk tetap disini mungkin aku sudah di Prancis sekarang. Ibu bilang aku harus membantu Jo memajukan bisnis pahat memahat ini, Kakak yang sialannya juga dengan senang hati menindasku secara halus begini. Tapi alasanku bertahan bukan wasiat itu, aku bisa saja kabur seusai pemakaman ibu. Dia pemilik tatapan sendulah yang membuatku tak goyahnya diam di studio seni ini. Dia yang berkulit putih langsat dan gigi kelinci serta lesung pipitnya yang sangat manis terdiam duduk di tubir jendela kamar atas rumah kuno jaman belanda itu. Kau Rinai, alasanku yang sederhana untuk betah memahat dan mencuri pandang ke arahmu yang selalu membaca buku di sana. Dua bulan lalu dia memangku Bumi Manusia. Sebulan berlalu kemudian kulihat dia kusyuk membaca Anak Semua Bangsa. Dan detik ini pukul 13.00, buku ketiga dalam tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer tengah asik dia baca, aku tebak pasti dia tidak akan mampu menghabiskan buku tebal berjudul Jejak Langkah itu dalam sebulan. Sungguh aku ingin mendekatinya dan menyapanya, “hey manis apa kabar?” Begitulah akan aku sapa dia. Pasti dia akan tersenyum sangat manis. Ah aku seorang pemimpi ulung yang tak tau diri.

***

Jo selalu mengajakku jalan jalan mengitari kompleks perumahan ini pagi hari, ibu masih terbaring nyenyak setelah di bius oleh dokter. Jo bilang Ibu terguncang jiwanya setelah ditinggal ayah yang lebih dahulu pergi.

“Kau tak usah semakin muram begitu, bukankah kau akan ke Prancis?

Aku menghela nafas berat, langkah Jo kuimbangi.

“Aku mendukungmu kuliah disana?”

Ku jawab dengan anggukan saja. Malas menanggapi celotehnya. Rinai yang dahulu kecil mungil dan sering kali memintaku menggendongnya sekarang tengah duduk anggun di teras bersama ibunya, Mevrouw Fey. Keduanya semacam lukisan bergerak, indah untuk di nikmati.

“Hush jangan melihat mereka seperti melihat lukisan, mereka benda hidup. Lihatlah Mevrow tengah melotot ke arahmu.

Aku terhenyak, benar saja ucapan Jo. Aku di pelototi ibunya sampai matanya mungkin akan keluar dari rongganya. Kami meepercepat langkah menjauh dari rumah itu, padahal Rinai sama sekali tidak terganggu akan adanya pribumi yang memerhatikannya. Dia kusyuk membaca Bumi Manusia.

***

Patung cupid pesanan dokter yang merawat ibu sudah aku selesaikan. Masih banyak lagi, kali ini aku mau istirahat sejenak, duduk menekur menghadap jendela yang mengarahkan pandanganku ke sebuah berlian yang tengah duduk membaca itu.

“Ini ada kue dari Mevrow Fey. Kau belum makan bukan?”Jo masuk membawa piring bening dengan kue di atasnya.

“Dari tadi seharusnya kau bawakan ini untukku, aku sangat amat kelaparan.”

Jo terbahak melihatku bersungut-sungut.

Dia taruh klapertart itu di atas meja kecil dari kayu jati itu. Aku beranjak mencuci tanganku dulu.

“Kau bilang dari Mevrow?kau serius? Yang rumahnya memantati rumah kita ini bukan?”

Aku berjalan mendekati Jo yang tengah asik memerhatikan patung hasil pahatanku. Dia tidak ada tanda tanda untuk menjawab, maka aku pukul bahunya.

“Iya…memang Mevrow yang mana lagi?”

“Siapa yang mengantarkan kue itu?”

“Pembantunya, mana mungkin tuannya sendiri, sudahlah pertanyaanmu aneh sekali. Cepat makan lalu selesaikan tugasmu. Kau kalah gesit denganku, lihatlah kedalam studioku, lebih banyak tinimbang yang sudah kau selesaikan.”

Lagi-lagi di suruh gesit, harusnya aku bertukar studio dengannya, aku banyak melamun menatap Rinai, aku pegang tengkukku, mengaku bersalah. Jo menepuk nepuk bahuku selayak mengibaskan kotoran dari sana, kemudian berjalan pergi keluar dari studio ini.

Kemana Rinai? Dia sudah tidak duduk di sana. Jam berapa ini? Oh pantas saja, pukul 14.00 dia tak mungkin betah membaca lebih dari satu jam di sana.

Aku segera lahap kue itu, ukurannya setengah loyang. Sebelum aku berhenti mengunyah suapan pertama, Jo datang lagi, kali ini tergesa gesa air mukanya terlihat tegang.

“Ada apa Jo?”aku berdiri dan menunggu jawaban.

“Kau ada hubungan apalagi dengan Rinai? Kenapa bodyguard keluarganya datang kemari dan menanyakan keberadaanmu, kau buat masalah apa?”Jo masih tegang

Tenggorokanku kering sekali rasanya, aku telan ludah masih belum licin rasanya. Jo menarikku kedepan rumah untuk segera menemui orang dengan kumis bapang itu. Aku gemetar ketakutan, terakhir berurusan dengan orang tinggi besar berkulit hitam dan mata senantiasa melotot itu saat aku ketahuan memandangi Rinai di depan teras. Beruntung sekali saat ini aku bisa melihatnya puas puas di jam 13.00 .

Aku sampai di ancam akan di pecut bila terus memandangi Rinai. Nah sekarang ini aku sangat kebingungan, kali ini apa ulahku?

Jo menempel padaku menemui orang itu.

“Menjauh Jo, kau ini kenapa?”

Dia tak menggubris.

Lelaki itu duduk takzim, kami mendekatinya sangat pelan berjalan, takut mengganggu singa tertidur.

“Tuan!” Serunya cepat berdiri dan tersenyum padaku, kami dibuat bingung, teramat bingung

“Ada keperluan apa kau kemari? Kan aku tak buat kesalahan?”

Kemudian aku menelan ludah yang seadanya dalam rongga mulut, tenggorokanku kering sekali, kaki gemetaran. Jo masih berdiri di sampingku, mengamati situasi.

“Tidak tuan, tak ada kesalahan yang tuan buat.”

“Lalu ada apa kau kemari?”aku tengok di pinggangnya ada sarung bedil yang mungkin saja siap meletupkan peluru ke badanku ini.

“Tidak tuan, saya kemari ingin memberikan surat dari Noni.”

Patah patah aku ambil surat beramplop putih itu. Jo masih was was siap tau pistol itu di tarik laki laki bertubuh tinggi besar itu dan menembak mati kami berdua.

“Noni juga bilang sama saya, bukunya masih belum selesai di baca. Beberapa bulan lagi baru bisa di kembalikan”

Ketakutanku pada lelaki ini perlahan menghilang.

“Tugas saya sudah selesai, mari tuan.”dia membongkok bongkok, suatu kejadian yang langka sekali, baru kulihat dia begitu sopannya.

Jo masih mengamati orang itu ssmpai benar-benar menghilang, aku sibuk dalam pikiranku sendiri. Aku bringsut masuk ke studioku, Jo tak mencegahku. Aku ingin cepat membaca surat darinya.

Begini bunyi surat itu

Untuk Ghofar,

Terimakasih atas pinjaman 4 buku ini, aku sengaja duduk di tubir jendela kamar atas itu demi agar kau melihatku yang memang benar benar mrmbaca, kan banyak orang butuh bukti?, mungkin kau juga menginginkannya. Ku dengar kau akan melanjutkan kuliah di Perancis? Kau akan belajar seni lukis disana?.

Ghofar…

Aku baru pertama kali mengirim surat begini. Aku ingin memberitahumu, bulan depan aku harus segera ke Amsterdam, kuliah disana. Ayahku bilang aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran. Ghofar, izinkan aku membawa empat buku ini, setelah semua selesai aku janji akan mengembalikannya, mungkin bersamaan saat aku pulang liburan. Ghofar aku tau kau kehilangan semangat ketika ibumu meninggal. Maaf Ghofar..tapi aku rasa kau tak selemah itu. Aku harap kau bisa segera berangkat ke Perancis.

Sejak kecil kau memang selalu menjadi pelindungku, kau jangan takut pada mata galak Mama ku. Kalau semua pada takut dan menjauhiku bagaimana bisa aku berkembang. Beruntung kau punya jiwa tak gentar, kau berani memberiku pinjam bacaan ini melalui pembantuku.

Sekali lagi terimakasih, padahal aku tak pernah meminta, tapi kau memang mengerti kebutuhanku, semenjak Mama melarangku dekat dekat dengan pribumi, aku berhenti meminjam buku padamu. Beruntung aku punya kau Ghofar. Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi dari hidupku Ghofar. Kalau waktu bisa mempertemukan kau dan ku suatu saat nanti aku akan sangat bersyukur. Ghofar semoga kau bisa melanjutkan kuliah ke Perancis. Oya apakah kau menikmati kue klapertart buatanku itu?

Sekian saja surat ini.

Nb: aku kesulitan menuntaskan Jejak Langkah yang tebal ini, bagaimana bisa aku segera menyentuh Rumah Kaca, ya Tuhan.

 

Aku tak henti hentinya tersenyum membaca surat itu, dia memang selalu bisa membuatku begini bahagianya. Terimakasih Rinai.

Aku sebentar lagi akan kehilangan dia mulai bulan depan, dan tiap hari yang membosankan tidak ada obatnya, biasanya aku dapat melihatmu di tubir itu. Ya mungkin aku dan kau harus berjalan berjauhan. Aku harap aku bisa berjalan beriringan denganmu kelak, lihat saja aku 10 tahun nanti. Biar sekarang ini aku yang yatim piatu dan sedang berjuang mengumpulkan uang untuk pergi ke Perancis. Mungkin nanti aku bisa beriringan dengan kau Rinai.

 

-Selesai-

Iklan

4 comments on “Titip Ini Untuk Dia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s