Sodium Chlorida dan Bulan Purnama

Gambar-Bulan-Purnama-Dan-Perahu

Sodium Chlorida dan Bulan Purnama

Oleh : Audhina Novia Silfi

            Setangkup payung melindungi tiga gadis itu, Mereka tak saling tahu bahwa ini tiga hari sebelum bulan purnama tiba. Nyinyir mereka sampai terdengar ke telingaku, padahal jaraknya 10 meter. Toko ATK milik Koh Ahong ini tempat ideal untuk berteduh, para pengendara motor akhirnya satu persatu mengalah dan menepi di depan toko ini, begitu pula dengan tiga gadis itu. Kini mereka saling diam. Nampaknya gadis kecil di tengah itu malas mendengar pertengkaran dua orang yang mengapitnya itu. Hujan deras begini pasti di iringi dengan mati lampu, mana mungkin mesin foto copy ini bekerja, yasudah aku memilih melamun saja, beruntung Koh Ahong tak di sini, hanya ada aku dan laki-laki flamboyan sebagai pegawai baru di toko ini.

“Teteh nggak lapar?”Tanyanya dengan nada kemayu

Aku meliriknya kemudian kembali melamun kedepan,

“Enggak, tadi aku udah makan kok.”Jawabku seadanya malas ngobrol dengannya

“Teteh mau makan lagi nggak?, mau nitip?”

“Enggak masih kenyang mat.”

“Yasudah Rahmat pamit beli bakso dulu ya teh?”

Aku mengangguk

***

Hujan sudah reda, ketiga gadis itu akhirnya main air dengan sisa gerimis, mungkin ini saatnya aku tersenyum atau nanti?, Lupakan saja aku memang tak akan pernah bisa tersenyum ketika Bulan akan naik ke singgahsanahnya. Kalau hujan berdo’alah, do’amu akan terkabul. Aku selalu mengingat semua hal yang dia bicarakan kepadaku, termasuk ketika bulan purnama ke enam tahun lalu, aku dan dia duduk di atap rumah nenek Saminah.

“Ini tiga hari sebelum bulan purnama, kalau tiba-tiba kamu marah atau selalu saja ingin marah kepadaku maka akan aku maklumi.”

Aku menatap bulan yang menggelayut manja itu, terang, namun tak seterang bulan purnama nanti.

“Maksudmu?”

Dia menatapku lalu menyeringai,

“Iya, aku tahu ketika bulan purnama, gravitasinya sedang kuat. Kau tahu Sodium Chlorida yang ada di lautan juga akan pasang.”

“Sodium Chlorida?”Aku tersenyum kecut, dia mulai meracau

“Air laut pasang Key maksudku.”

Aku mengantongi jawabannya, lalu kubiarkan dia mengoceh lagi

“Kalau air laut saja pasang, apalagi manusia Key.”

Aku menengok lagi, minta penjelasan,

“Iya manusia Key, Tubuh manusia terdiri dari cairan kan Key, iya cairan-cairan di Bumi ini akan terpengaruh gravitasi Bulan Key, Maka mungkin kepalamu akan bebal dan sama-sama keras kepala saat Bulan purnama tiba.”

Dia tertawa terbahak, dan aku yang bodoh ini hanya tersenyum kecut saja. Apa sajalah yang dia bicarakan malam itu yang penting aku menghabiskan waktu bersamanya.

“Maka bila saat para pelanggan di toko Koh Ahong datang dengan wajah bersungut-sungut atau menyebalkan, Ingatlah Key lihat kalender, Apakah itu tiga hari sebelum Bulan Purnama.”Dia menepuk bahuku

“Kalau iya kamu harus sabar ya?”

Aku mengangguk.

Bumi ini terlalu tua, dan banyak penjelasan yang perlu di telannya mentah-mentah, atau bahkan di proses sekalipun, bahwa ”kebetulan” sebenarnya tak pernah ada di Bumi ini

***

“Kamu terlalu pintar untuk tinggal di tempat kumuh ini.”Ucapku menggantung, bingung mau melanjutkan apa lagi

“Maksudmu?”

“Iya maksudku, mengapa tak kau coba mencari beasiswa?”

Dia menyeringai.

“Aku tidak pandai atau bahkan cerdas seperti yang kau pikirkan, aku hanya kebetulan kelihatan pandai saja Key.”

“Kau jangan merendah untuk meninggi, kau memang pandai, benar-benar pandai!.”

“Merendah untuk meninggi?”Kemudian tertawa.

“Siang bolong begini baiknya kau tidur sana Key, Dari pada mengangguku begini.”Dia menyeringai

Mungkin otakku terlalu banyak menyimpan yang ingin di simpan, bahkan kelanjutan dari cerita barusan aku lupa.

***

Setiap momentum yang terjadi antara aku dan dia, adalah hal yang tak akan pernah terjadi bersama orang lain, karena setiap manusia punya masing-masing cerita dan rasa ego berbeda, Mati lampu ini membuatku benar-benar bosan. Para peneduh itu sudah semua melanjutkan perjalanannya.

“Teh Keyla, ini Rahmat bawain bakso buat teh Key, Rahmat tadi sudah makan di sana. Ini buat teh Key, habiskan ya?.”

“Termakasih Rahmat cantik.”

Dia tersenyum khas flamboyan. Membuatku lupa untuk menyampaikan pesan Koh Ahong. Aku harus menegur kelakuan anak itu

“Rahmat cantik sini sayang.”

“Ada apa ya teh?”

“Gini mat, ada banyak orang di dunia ini, yang mungkin saja saling benci tapi berteman, ada banyak orang di dunia ini yang saling menganggap saingan atau menganggap dia yang paling angkuh dan pandai atau bahkan kaya, padahal di atas langit ada langit kan mat?”

Aku berhenti bicara, kemudian melahap tiga kali suapan bakso. Rahmat masih melongokku dan menunggu kelanjutannya, Dia memilin bajunya, menggertakan giginya, seolah membujuk diri siap menerima pendapat Koh Ahong yang di sampaikan kepadaku.

“Kamu jangan suka nulis hal-hal yang enggak-enggak di facebook mu itu, atau di twitter atau mana sajalah mat, bukanlah itu tempat pamer penghasilan toko ATK Koh Ahong ini, kulihat kau selalu saja update foto uang hasil kerjamu, ya ampun mat itu lebay sekali! Sumpah!.”

Dia menelan ludah, tenggorokannya pasti mendadak kering,

“Nih minum mat.”Ku berikan dia segelas air minum milikku.

“Jadi mat, kau mengerti kan?”

Dia mengangguk. Urung sekali untuk menanyakan, memangnya Koh Ahong berteman facebook denganku?

Mungkin pertanyaan itu yang ingin dia sampaikan. Dia mengalahkan segala keangkuhannya,

“Mat…mat, makasih ya baksonya, lain kali jangan ke asinan ya, ini tiga hari sebelum bulan purnama, otakku bisa pecah pabila darah tinggi dan di tambah gravitasi bulan yang menarik seluruh darahku. Aku maklumi kamu jika nanti terlihat kau menulis tentang teteh Keyla yang galak ini, karena kita punya otak dan semua darah di tarik ke atas oleh bulan.”

Dia mengangguk-angguk saja, pura-pura setuju. Ketika ku teguk air putih, lampu menyala.

“Alhamdulillah, yok kerja lagi mat.”

“Senyum ya jangan cemberut, nanti pas bulan purnama, aku traktir kamu ice cream, lebih baik ketimbang Sodium Chlorida di kuah bakso kan mat.”

“Teteh maafin Rahmat ya?”

Aku tersenyum lalu menjabat tangannya, “Iya Mat.”

Kemudian banyak orang berbondong-bondong menuju kami dan silih ingin di dahulukan, oke aku harus ingat semua orang sedang bebal semua.

-Selesai-

Iklan
By audhina Posted in Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s