Titip Ini Untuk Dia

Hallo readers :D, ini cerpen absurd yang mainstream nya minta ampun, namanya juga blog “pembuangan” yak :D. Nikmati guys 🙂

Titip ini untuk Dia

Oleh : Audhina Novia Silfi

 

6a00d8341bf6d653ef0148c8773179970c-450wi.jpg

Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi.

***

“Kan memang seharusnya begitu kan? Kau yang di beri amanah untuk melaksanakan permintaan terakhirnya, jangan pernah terlintas berpikir pergi dari sini kalau kau tak mau dia bangkit dari kubur atau malah menggetayangi tiap malammu. Sekarang pergi cepat ke belakang, banyak patung yang harus kau selesaikan, ayoh yang semangat. Apa susahnya semangat.”dia terduduk lagi, sementara aku membongkok jalan sambil masih begitu sangat mengkal. Keinginan yang sederhana dalam otakku terlampau tinggi dalam otaknya. Kalau malam ini juga aku selesaikan pesanan patung-patung cupid ini mungkin aku bisa merajuknya lagi, kan orang rajin patut di beri imbal. Berharapnya begitu, tapi apa iya bisa?.

Kalau saja surat wasiat sialan itu tak memilihku untuk tetap disini mungkin aku sudah di Prancis sekarang. Ibu bilang aku harus membantu Jo memajukan bisnis pahat memahat ini, Kakak yang sialannya juga dengan senang hati menindasku secara halus begini. Tapi alasanku bertahan bukan wasiat itu, aku bisa saja kabur seusai pemakaman ibu. Dia pemilik tatapan sendulah yang membuatku tak goyahnya diam di studio seni ini. Dia yang berkulit putih langsat dan gigi kelinci serta lesung pipitnya yang sangat manis terdiam duduk di tubir jendela kamar atas rumah kuno jaman belanda itu. Kau Rinai, alasanku yang sederhana untuk betah memahat dan mencuri pandang ke arahmu yang selalu membaca buku di sana. Dua bulan lalu dia memangku Bumi Manusia. Sebulan berlalu kemudian kulihat dia kusyuk membaca Anak Semua Bangsa. Dan detik ini pukul 13.00, buku ketiga dalam tetralogi pulau buru Pramoedya Ananta Toer tengah asik dia baca, aku tebak pasti dia tidak akan mampu menghabiskan buku tebal berjudul Jejak Langkah itu dalam sebulan. Sungguh aku ingin mendekatinya dan menyapanya, “hey manis apa kabar?” Begitulah akan aku sapa dia. Pasti dia akan tersenyum sangat manis. Ah aku seorang pemimpi ulung yang tak tau diri.

***

Jo selalu mengajakku jalan jalan mengitari kompleks perumahan ini pagi hari, ibu masih terbaring nyenyak setelah di bius oleh dokter. Jo bilang Ibu terguncang jiwanya setelah ditinggal ayah yang lebih dahulu pergi.

“Kau tak usah semakin muram begitu, bukankah kau akan ke Prancis?

Aku menghela nafas berat, langkah Jo kuimbangi.

“Aku mendukungmu kuliah disana?”

Ku jawab dengan anggukan saja. Malas menanggapi celotehnya. Rinai yang dahulu kecil mungil dan sering kali memintaku menggendongnya sekarang tengah duduk anggun di teras bersama ibunya, Mevrouw Fey. Keduanya semacam lukisan bergerak, indah untuk di nikmati.

“Hush jangan melihat mereka seperti melihat lukisan, mereka benda hidup. Lihatlah Mevrow tengah melotot ke arahmu.

Aku terhenyak, benar saja ucapan Jo. Aku di pelototi ibunya sampai matanya mungkin akan keluar dari rongganya. Kami meepercepat langkah menjauh dari rumah itu, padahal Rinai sama sekali tidak terganggu akan adanya pribumi yang memerhatikannya. Dia kusyuk membaca Bumi Manusia.

***

Patung cupid pesanan dokter yang merawat ibu sudah aku selesaikan. Masih banyak lagi, kali ini aku mau istirahat sejenak, duduk menekur menghadap jendela yang mengarahkan pandanganku ke sebuah berlian yang tengah duduk membaca itu.

“Ini ada kue dari Mevrow Fey. Kau belum makan bukan?”Jo masuk membawa piring bening dengan kue di atasnya.

“Dari tadi seharusnya kau bawakan ini untukku, aku sangat amat kelaparan.”

Jo terbahak melihatku bersungut-sungut.

Dia taruh klapertart itu di atas meja kecil dari kayu jati itu. Aku beranjak mencuci tanganku dulu.

“Kau bilang dari Mevrow?kau serius? Yang rumahnya memantati rumah kita ini bukan?”

Aku berjalan mendekati Jo yang tengah asik memerhatikan patung hasil pahatanku. Dia tidak ada tanda tanda untuk menjawab, maka aku pukul bahunya.

“Iya…memang Mevrow yang mana lagi?”

“Siapa yang mengantarkan kue itu?”

“Pembantunya, mana mungkin tuannya sendiri, sudahlah pertanyaanmu aneh sekali. Cepat makan lalu selesaikan tugasmu. Kau kalah gesit denganku, lihatlah kedalam studioku, lebih banyak tinimbang yang sudah kau selesaikan.”

Lagi-lagi di suruh gesit, harusnya aku bertukar studio dengannya, aku banyak melamun menatap Rinai, aku pegang tengkukku, mengaku bersalah. Jo menepuk nepuk bahuku selayak mengibaskan kotoran dari sana, kemudian berjalan pergi keluar dari studio ini.

Kemana Rinai? Dia sudah tidak duduk di sana. Jam berapa ini? Oh pantas saja, pukul 14.00 dia tak mungkin betah membaca lebih dari satu jam di sana.

Aku segera lahap kue itu, ukurannya setengah loyang. Sebelum aku berhenti mengunyah suapan pertama, Jo datang lagi, kali ini tergesa gesa air mukanya terlihat tegang.

“Ada apa Jo?”aku berdiri dan menunggu jawaban.

“Kau ada hubungan apalagi dengan Rinai? Kenapa bodyguard keluarganya datang kemari dan menanyakan keberadaanmu, kau buat masalah apa?”Jo masih tegang

Tenggorokanku kering sekali rasanya, aku telan ludah masih belum licin rasanya. Jo menarikku kedepan rumah untuk segera menemui orang dengan kumis bapang itu. Aku gemetar ketakutan, terakhir berurusan dengan orang tinggi besar berkulit hitam dan mata senantiasa melotot itu saat aku ketahuan memandangi Rinai di depan teras. Beruntung sekali saat ini aku bisa melihatnya puas puas di jam 13.00 .

Aku sampai di ancam akan di pecut bila terus memandangi Rinai. Nah sekarang ini aku sangat kebingungan, kali ini apa ulahku?

Jo menempel padaku menemui orang itu.

“Menjauh Jo, kau ini kenapa?”

Dia tak menggubris.

Lelaki itu duduk takzim, kami mendekatinya sangat pelan berjalan, takut mengganggu singa tertidur.

“Tuan!” Serunya cepat berdiri dan tersenyum padaku, kami dibuat bingung, teramat bingung

“Ada keperluan apa kau kemari? Kan aku tak buat kesalahan?”

Kemudian aku menelan ludah yang seadanya dalam rongga mulut, tenggorokanku kering sekali, kaki gemetaran. Jo masih berdiri di sampingku, mengamati situasi.

“Tidak tuan, tak ada kesalahan yang tuan buat.”

“Lalu ada apa kau kemari?”aku tengok di pinggangnya ada sarung bedil yang mungkin saja siap meletupkan peluru ke badanku ini.

“Tidak tuan, saya kemari ingin memberikan surat dari Noni.”

Patah patah aku ambil surat beramplop putih itu. Jo masih was was siap tau pistol itu di tarik laki laki bertubuh tinggi besar itu dan menembak mati kami berdua.

“Noni juga bilang sama saya, bukunya masih belum selesai di baca. Beberapa bulan lagi baru bisa di kembalikan”

Ketakutanku pada lelaki ini perlahan menghilang.

“Tugas saya sudah selesai, mari tuan.”dia membongkok bongkok, suatu kejadian yang langka sekali, baru kulihat dia begitu sopannya.

Jo masih mengamati orang itu ssmpai benar-benar menghilang, aku sibuk dalam pikiranku sendiri. Aku bringsut masuk ke studioku, Jo tak mencegahku. Aku ingin cepat membaca surat darinya.

Begini bunyi surat itu

Untuk Ghofar,

Terimakasih atas pinjaman 4 buku ini, aku sengaja duduk di tubir jendela kamar atas itu demi agar kau melihatku yang memang benar benar mrmbaca, kan banyak orang butuh bukti?, mungkin kau juga menginginkannya. Ku dengar kau akan melanjutkan kuliah di Perancis? Kau akan belajar seni lukis disana?.

Ghofar…

Aku baru pertama kali mengirim surat begini. Aku ingin memberitahumu, bulan depan aku harus segera ke Amsterdam, kuliah disana. Ayahku bilang aku sudah terdaftar sebagai mahasiswa kedokteran. Ghofar, izinkan aku membawa empat buku ini, setelah semua selesai aku janji akan mengembalikannya, mungkin bersamaan saat aku pulang liburan. Ghofar aku tau kau kehilangan semangat ketika ibumu meninggal. Maaf Ghofar..tapi aku rasa kau tak selemah itu. Aku harap kau bisa segera berangkat ke Perancis.

Sejak kecil kau memang selalu menjadi pelindungku, kau jangan takut pada mata galak Mama ku. Kalau semua pada takut dan menjauhiku bagaimana bisa aku berkembang. Beruntung kau punya jiwa tak gentar, kau berani memberiku pinjam bacaan ini melalui pembantuku.

Sekali lagi terimakasih, padahal aku tak pernah meminta, tapi kau memang mengerti kebutuhanku, semenjak Mama melarangku dekat dekat dengan pribumi, aku berhenti meminjam buku padamu. Beruntung aku punya kau Ghofar. Sepanjang debu masih berbentuk abstrak, sepanjang hujan masih begitu berharganya bagi sebagian orang, dan sepanjang anekdot anekdot yang kau lontarkan itu selalu berhasil buat aku terkagum-kagum, maka kau tak layak pergi dari hidupku Ghofar. Kalau waktu bisa mempertemukan kau dan ku suatu saat nanti aku akan sangat bersyukur. Ghofar semoga kau bisa melanjutkan kuliah ke Perancis. Oya apakah kau menikmati kue klapertart buatanku itu?

Sekian saja surat ini.

Nb: aku kesulitan menuntaskan Jejak Langkah yang tebal ini, bagaimana bisa aku segera menyentuh Rumah Kaca, ya Tuhan.

 

Aku tak henti hentinya tersenyum membaca surat itu, dia memang selalu bisa membuatku begini bahagianya. Terimakasih Rinai.

Aku sebentar lagi akan kehilangan dia mulai bulan depan, dan tiap hari yang membosankan tidak ada obatnya, biasanya aku dapat melihatmu di tubir itu. Ya mungkin aku dan kau harus berjalan berjauhan. Aku harap aku bisa berjalan beriringan denganmu kelak, lihat saja aku 10 tahun nanti. Biar sekarang ini aku yang yatim piatu dan sedang berjuang mengumpulkan uang untuk pergi ke Perancis. Mungkin nanti aku bisa beriringan dengan kau Rinai.

 

-Selesai-

Iklan

Explore Sukabumi Situ Gunung, Curug Sawer, Karang Numpang :)

Petualangan Satu Hari Tiga Tempat

4

Holla readerssss. Udah lama gue nggak posting tentang tempat wisata ya, kebanyakan cerita galau gue.

Jadi gini , trip yang nggak di sangka-sangka ini datang begitu saja. Awalnya rencananya cuman mau ke Situ Gunung. Dan ternyata malah ngerembet jalan-jalan sampai dua tempat berikutnya.

Gue jelasin dulu. Ini trip terjadi saat orang lain malah merayakan hari kasih sayang, Minggu,14 Februari 2016. Hahaha. Gue dan temen gue (si Widya), memilih buat tidak meratapi betapa kejamnya menjadi jomblo. Halahhhh!.:D

Readers. Sttt gue kasih tau satu rahasia. Hahaha

Widya ini baru aja putus dari pacarnya, dan gue harus ngehibur dia sepanjaaaaaaaang perjalanan, dan nahan diri gue buat nanya kenapa mereka putus (gue kepo) :D.

Okelah lupakan saja masalah begituan. Gue sama Widya memang berencana bersenang-senang hari itu. Pukul 08.00 WIB, gue udah jemput Widya ke rumah dia, gue yang bawa motor matic dan dia yang ngasih bensin (enggak ding). Hahaha masalah budget nggak usah di bahas lah ya, orang tempatnya deket.

  1. Danau Situ Gunung

5

Situ Gunung adalah danau alami yang berada di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango, Setelah gue ndaki puncak Gede tahun lalu, sekarang saatnya menjelajah kaki gunungnya kan ya. Hahaha, kebalik ya? Bodo amat, nggak ada kata terlambat untuk memulai sebuah perjalanan hidup #eaaaa.

Kalau kalian cari di google, di jamin pasti jatuh cinta sama hasil foto yang ciamik abis. Dan itu gue, iya gue jatuh cinta sama foto Danau Situ Gunung. Hahah, dan itu alasan gue buat kesana.

Perjalanan dimulai, total pakai motor dari Kota Sukabumi ke pintu masuk kawasan itu sekitar 50 menit-an, lumayan lama karena gue nggak mau ngebut. Hahaha (bilang aja nggak bisa ngebut), bahaya kalau ngebut, alon-alon asal kelakon pokoke.

Di pintu masuk, kita beli tiket harganya Rp 16.500 (weekend), gue nggak detail liat harga tiket lain, seperti untuk turis dan untuk hari biasa.

1

Inget gue sama Widya nge-trip Minggu, 14 Februari 2016 dan kita jomblooo :D.hahaha

Oke balik ke topic 😀

Setelah parkir motor, kita memutuskan untuk ke Situ Gunung dulu. Ya Kaleee kita ke Curug Sawer dulu. JAOOOOHHHH! (nanti kita ceritain)

2.JPG

Dari Parkiran motor ke Situ Gunung, kita trekking sebentar sekitar 10 menitan, iya deket kok, dan jalanannya enak, tanjakan minim banget bahkan bisa di bilang nggak ada tanjakan. Tapi jangan di sepelein, perjalanan ini kita lakuin Cuma berdua, masuk ke hutan guys, hahaha nekat, tapi jalanan terpampang nyata kok (halah opo tho), jangan takut tersesat, jalanan lebar, dan batu-batu tersusun lumayan apik.

Setelah sampai sana, kita langsung ilih buat foto, hahaha, apa lagi?

3.JPG

Di sana sepi, gue bingung kenapa di hari minggu dan hari valentine, danau sepi?,hahaha ya kaleee ada yang mau nge date di tempat begitu.hahah. haaah sudahlah. 😀

6

Di sana sebenernya ada sewa perahu gitu, tapi kita milih buat enggak naik perahu, cukup menikmati pemandangan aja :D.hahaha (bilang aja nggak ada duit)

Situ Gunung, keren 😀

9

10

Iya Danau luas dan asri, di kelilingi pohon cemara yang tinggi-tinggi. Itu keren. Kita sampai Situ Gunung Sekitar jam 09.00 WIB, matahari udah lumayan panas, hahah kita cuman sebentar di sana.

7

11

 

 

  1. Air Terjun Curug Sawer

 

12.JPG

Tujuan Kedua yaitu Curug Sawer, Karena udah puas ngeliatin Danau dan ngerasain sejuknya udara disana, kita langsung cabut dari sana sekitar jam 09.30 WIB, jam ngasal :D, gue nggak terlalu detail sih, sorry guys :D.

Gue kasih tau point penting. Kalau kalian capek buat melanjutkan ke tujuan kedua yaitu Curug Sawer, kalian bisa ngojek (iya ngojek, seorang 30 rb sampai Curug Sawer), kita milih buat menikmati perjalanan ini dengan alami (jalan kaki). Iya kita jalan lagi ke depan (parkiran motor), lalu masuk ke jalan menuju Curug Sawer, jauhnya berkali-kali lipat, 1,7 km, SEMANGATTTTT.

Kelemahan nge trip cuman berdua, dan cewek semua dua-duanya adalah hampir di tipu. Belum semenit, kita nemuin dua orang, satu cowok umur sekitar 25 tahun dan ibu-ibu umur 50 tahunan lah. Mereka hampir aja ngacauin mainset kita. Mereka bilang gini

Cowok      :“neng mau kemana?”

Gue           : “ke curug sawer…”

“Lewat sini kan?” Gue bingung.

Ibu-ibu       : “ Bukan neng, lewat sini mah ke jurang.”

Si cowok di samping ibu-ibu itu terkikik, gue sama Widya udah mulai parno.

Cowok       : “lewat sini mah bakal ketemu ular besar neng, nyasar ketemu jurang.”

Duh gue bener-bener nggak tau yang ada di pikiran mereka, maksudnya apa. Berhubung gue pernah naik gunung gede, dan gue yakin ini perjalanan nggak mungkin separah ke gunung gede, gue milih buat pede, karena gue punya pengalaman. Tapi Widya mulai kepengaruh.

Gue           : “loh kan mang, itu petunjuk panahnya jelas lewat sini .”Gue mulai meninggikan suara

Cowok     : “ Sekolah dimana neng?”

Gue          : “………..”

Widya       : “ kuliah.” Sambil judes

Cowok     : “ yuk amang anterin aja yuk, naik motor mendingan, lebih aman, masa geulis-geulis pada

sendirian ke hutan, entar tersesat.”

Gue         :”………”

Oke gue udah tau kemana arah maksud ini orang, gue berusaha meyakinkan Widya.

“Wid ayo, nggak papa ini jalan bener kok, itu petunjuk arah kan emang nunjuk ke sini, udah ayo wid ada aku.”

Gue menawarkan perlindungan, padahal sedikit takut.

“Udahlah wid, ayohhh.”

Widya masih menanya-nanya, harga buat ngojek ke curug sawer. Gue bener-bener nepok jidat dahhh.

“Ayoo wid.” Gue jalan kaki duluan, dan Widya akhirnya ngikutin gue.

Jadi hati-hati untuk kalian, jangan sampai ke pengaruh omongan orang yang melumpuhkan perjalanan kalian ya (Bagi kalian yang niat trekking). Juga jangan takut walau kalian serombagan cuman cewek, nggak papa gue sama widya, cewek. Dan kita berhasil sampai.hahaha.

Emang sepanjang perjalanan AWAL, kita sama sekali nggak nemuin siapa-siapa, sepi guys. Sepanjang awal perjalanan setelah meninggalkan kedua orang aneh itu, Widya masih pesimis, tapi gue menguatkan dia (ceilaaahhhh).hahaha ya pokoknya berusaha yakinin dia, bahwa ini perjalanan nggak bakal kenapa-napa. Akhirnya setelah sekitar 5 menit trekking, kita ketemu sama sebuah keluarga yang keliatannya baru aja pulang dari curug sawer, gue nanya ke bapaknya dan dia bilang iya dan perjalanan masih jauh, dan Widya akhirnya mulai semangat trekking, semangat pede dan berkeyakinan kuat kayak gue. BUAHAHAHAHA.

Jalanan kali ini sebenernya sama aja kayak ke Situ Gunung, cuman ukurannya sempit, kadang batu, kadang lumpur, kadang akar, kadang nanjak, kadang turun, cuman jarang sih turunannya :D, mirip kayak ke gunung gede, serius. Sepanjang perjalanan kita berhenti dua kali, lumayan capek guys, buat orang yang jarang olah raga (nggak pernah ding).

13

Sekitar Satu Jam Kita akhirnya sampai, itu yang namanya capek ngilang gitu aja, setelah liat air terjun CURUG SAWER yang cantiknya luar biasa, uuuhh kalian kalau ke sukabumi, wajib kesini :D.

14

 

15

 

16

 

17

 

20

 

21

18

 

 

Gue kasih tau guys, gue sama widya cuman

bekel duit sama air aqua dua botol, dan kita akhirnya memutusnkan untuk makan bakso di sana, ya walau rasanya absurd banget, dan harganya yaaa begitulah :D. Tapi di nikmati, lumayan ngisi perut.

DSC02428.JPG

 

Kita lumayan lama disana, hampir sejaman lah, hahaha kebanyakan ya foto dan duduk ngeliatin orang pacaran :D, Setelah agak puas foto dan istirahat, kita memutuskan untuk pulaaaaaaang :D.

Rencana awal padahal ya cuman ke Situ Gunung, tapi akhirnya ke Curug Sawer, dan gue kena janji sama Widya, Dia yang belum pernah ke Karang Numpang (gue pernah), mendesak gue buat nganter dia ke sana.

“Yakin nih mau langsung lanjut kesana?, baterai kamera udah nipis wid.”

“Iya, nggak papa, ayo capcus.”

Kita keluar dari kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan lumayan pengalaman :D. Hampir jam 13.00 WIB, gue mendesak Widya buat singgah ke POM Bensin, selain ngisi bensin. Kita Sholat Dzuhur dulu di mushola POM.

 

 

  1. Bukit Karang Numpang

 

22 (2)

Karang Numpang Sukabumi, kawasan bekas pertambangan, kenapa dinamakan karang numpang, karena banyak batu besar di sana. Hahaha entahlah gue nggak tau detail sejarah tempat ini nge hits tahun lalu, kalian bisa lihat Sukabumi dari ketinggian, dan anginnya gede disana :D, seger lah pokoknya. Sebenernya gue pernah ke sini. Berhubung Widya udah mau nemenin gue ke Situ Gunung (dia pernah ke sana), gue juga harus mau nemenin dia ke tempat itu.Hahahaha.

Dari Kawasan TNGGP ke Karang Numpang cuman 20 menitan. Kita harus trekking tapi cuman sebentar banget nggak sampai 5 menit, dan jalanan nggak berbatu, tapi tanah dan Alhamdulillah dalam keadaan kering.

Baterai kamera udah merengek, dan disana kita sebenernya agak lama, cuman nggak dapet banyak foto. Karena baterai kamera abis :D.

25

 

29

Jadi kelemahan di Karang Numpang ini adalah walau di Tarik uang kebersihan dan uang masuk, loe nggak bakal dapat jaminan asuransi kayak di TNGGP, tiket mahal itu udah termasuk jaminan asuransi bro, padahal tempat ini bahaya.

27

Bayangin aja kalau jatuh ke atas batu-batu, modaaarrrr. Ya Semoga tempat ini bisa lebih di kelola sama pemerintah sekitar, AMIN, soalnya Indah banget pemandangan dari Bukit ini.

22

Gue sama Widya puas banget sama perjalanan seharian ini, dan penutup perjalanan kita adalah minum es kelapa dan makan nasi padang. YUMMY :D.

 

Bye Guys, tetap semangat dan jaga kesehatan 😀

Sodium Chlorida dan Bulan Purnama

Gambar-Bulan-Purnama-Dan-Perahu

Sodium Chlorida dan Bulan Purnama

Oleh : Audhina Novia Silfi

            Setangkup payung melindungi tiga gadis itu, Mereka tak saling tahu bahwa ini tiga hari sebelum bulan purnama tiba. Nyinyir mereka sampai terdengar ke telingaku, padahal jaraknya 10 meter. Toko ATK milik Koh Ahong ini tempat ideal untuk berteduh, para pengendara motor akhirnya satu persatu mengalah dan menepi di depan toko ini, begitu pula dengan tiga gadis itu. Kini mereka saling diam. Nampaknya gadis kecil di tengah itu malas mendengar pertengkaran dua orang yang mengapitnya itu. Hujan deras begini pasti di iringi dengan mati lampu, mana mungkin mesin foto copy ini bekerja, yasudah aku memilih melamun saja, beruntung Koh Ahong tak di sini, hanya ada aku dan laki-laki flamboyan sebagai pegawai baru di toko ini.

“Teteh nggak lapar?”Tanyanya dengan nada kemayu

Aku meliriknya kemudian kembali melamun kedepan,

“Enggak, tadi aku udah makan kok.”Jawabku seadanya malas ngobrol dengannya

“Teteh mau makan lagi nggak?, mau nitip?”

“Enggak masih kenyang mat.”

“Yasudah Rahmat pamit beli bakso dulu ya teh?”

Aku mengangguk

***

Hujan sudah reda, ketiga gadis itu akhirnya main air dengan sisa gerimis, mungkin ini saatnya aku tersenyum atau nanti?, Lupakan saja aku memang tak akan pernah bisa tersenyum ketika Bulan akan naik ke singgahsanahnya. Kalau hujan berdo’alah, do’amu akan terkabul. Aku selalu mengingat semua hal yang dia bicarakan kepadaku, termasuk ketika bulan purnama ke enam tahun lalu, aku dan dia duduk di atap rumah nenek Saminah.

“Ini tiga hari sebelum bulan purnama, kalau tiba-tiba kamu marah atau selalu saja ingin marah kepadaku maka akan aku maklumi.”

Aku menatap bulan yang menggelayut manja itu, terang, namun tak seterang bulan purnama nanti.

“Maksudmu?”

Dia menatapku lalu menyeringai,

“Iya, aku tahu ketika bulan purnama, gravitasinya sedang kuat. Kau tahu Sodium Chlorida yang ada di lautan juga akan pasang.”

“Sodium Chlorida?”Aku tersenyum kecut, dia mulai meracau

“Air laut pasang Key maksudku.”

Aku mengantongi jawabannya, lalu kubiarkan dia mengoceh lagi

“Kalau air laut saja pasang, apalagi manusia Key.”

Aku menengok lagi, minta penjelasan,

“Iya manusia Key, Tubuh manusia terdiri dari cairan kan Key, iya cairan-cairan di Bumi ini akan terpengaruh gravitasi Bulan Key, Maka mungkin kepalamu akan bebal dan sama-sama keras kepala saat Bulan purnama tiba.”

Dia tertawa terbahak, dan aku yang bodoh ini hanya tersenyum kecut saja. Apa sajalah yang dia bicarakan malam itu yang penting aku menghabiskan waktu bersamanya.

“Maka bila saat para pelanggan di toko Koh Ahong datang dengan wajah bersungut-sungut atau menyebalkan, Ingatlah Key lihat kalender, Apakah itu tiga hari sebelum Bulan Purnama.”Dia menepuk bahuku

“Kalau iya kamu harus sabar ya?”

Aku mengangguk.

Bumi ini terlalu tua, dan banyak penjelasan yang perlu di telannya mentah-mentah, atau bahkan di proses sekalipun, bahwa ”kebetulan” sebenarnya tak pernah ada di Bumi ini

***

“Kamu terlalu pintar untuk tinggal di tempat kumuh ini.”Ucapku menggantung, bingung mau melanjutkan apa lagi

“Maksudmu?”

“Iya maksudku, mengapa tak kau coba mencari beasiswa?”

Dia menyeringai.

“Aku tidak pandai atau bahkan cerdas seperti yang kau pikirkan, aku hanya kebetulan kelihatan pandai saja Key.”

“Kau jangan merendah untuk meninggi, kau memang pandai, benar-benar pandai!.”

“Merendah untuk meninggi?”Kemudian tertawa.

“Siang bolong begini baiknya kau tidur sana Key, Dari pada mengangguku begini.”Dia menyeringai

Mungkin otakku terlalu banyak menyimpan yang ingin di simpan, bahkan kelanjutan dari cerita barusan aku lupa.

***

Setiap momentum yang terjadi antara aku dan dia, adalah hal yang tak akan pernah terjadi bersama orang lain, karena setiap manusia punya masing-masing cerita dan rasa ego berbeda, Mati lampu ini membuatku benar-benar bosan. Para peneduh itu sudah semua melanjutkan perjalanannya.

“Teh Keyla, ini Rahmat bawain bakso buat teh Key, Rahmat tadi sudah makan di sana. Ini buat teh Key, habiskan ya?.”

“Termakasih Rahmat cantik.”

Dia tersenyum khas flamboyan. Membuatku lupa untuk menyampaikan pesan Koh Ahong. Aku harus menegur kelakuan anak itu

“Rahmat cantik sini sayang.”

“Ada apa ya teh?”

“Gini mat, ada banyak orang di dunia ini, yang mungkin saja saling benci tapi berteman, ada banyak orang di dunia ini yang saling menganggap saingan atau menganggap dia yang paling angkuh dan pandai atau bahkan kaya, padahal di atas langit ada langit kan mat?”

Aku berhenti bicara, kemudian melahap tiga kali suapan bakso. Rahmat masih melongokku dan menunggu kelanjutannya, Dia memilin bajunya, menggertakan giginya, seolah membujuk diri siap menerima pendapat Koh Ahong yang di sampaikan kepadaku.

“Kamu jangan suka nulis hal-hal yang enggak-enggak di facebook mu itu, atau di twitter atau mana sajalah mat, bukanlah itu tempat pamer penghasilan toko ATK Koh Ahong ini, kulihat kau selalu saja update foto uang hasil kerjamu, ya ampun mat itu lebay sekali! Sumpah!.”

Dia menelan ludah, tenggorokannya pasti mendadak kering,

“Nih minum mat.”Ku berikan dia segelas air minum milikku.

“Jadi mat, kau mengerti kan?”

Dia mengangguk. Urung sekali untuk menanyakan, memangnya Koh Ahong berteman facebook denganku?

Mungkin pertanyaan itu yang ingin dia sampaikan. Dia mengalahkan segala keangkuhannya,

“Mat…mat, makasih ya baksonya, lain kali jangan ke asinan ya, ini tiga hari sebelum bulan purnama, otakku bisa pecah pabila darah tinggi dan di tambah gravitasi bulan yang menarik seluruh darahku. Aku maklumi kamu jika nanti terlihat kau menulis tentang teteh Keyla yang galak ini, karena kita punya otak dan semua darah di tarik ke atas oleh bulan.”

Dia mengangguk-angguk saja, pura-pura setuju. Ketika ku teguk air putih, lampu menyala.

“Alhamdulillah, yok kerja lagi mat.”

“Senyum ya jangan cemberut, nanti pas bulan purnama, aku traktir kamu ice cream, lebih baik ketimbang Sodium Chlorida di kuah bakso kan mat.”

“Teteh maafin Rahmat ya?”

Aku tersenyum lalu menjabat tangannya, “Iya Mat.”

Kemudian banyak orang berbondong-bondong menuju kami dan silih ingin di dahulukan, oke aku harus ingat semua orang sedang bebal semua.

-Selesai-

By audhina Posted in Cerpen