Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Halo readers :D, ini cerpen pertama malam ini, ini cerpen sebenarnya sengaja di buat untuk mengenang seorang Ayah, kalau kalian mengikuti kisah blog ini, berarti kalian tahu si penulis udah yatim, pas lagi benar-benar kangen beliau, gue bikin cerpen ini, dan berakhir di blog pembuangan ini, karena kalah saing :D. Tapi, tulisan tetap tulisan, biar blog ini tau perkembangan menulisku.hahaha. Selamat membaca 🙂

Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Oleh : Audhina Novia Silfi

 DSC02210.JPG

Untuk membujuk diri agar bahagia sendiri, dan jatuh cinta sendiri, lalu rindu sendiri

Aku memaknai jatuhnya menjadi suatu sensasi yang luar biasa, memaknai betapa indahnya kala setiap malam dia menjemputku dari tempat kerja. Memaknai rinai pertama, hujan pertama, desiran angin usik pertama di bulan Juli. Setiap kenangan itu hanya aku pingsankan biar hilang begitu saja. Namun itu setahun lalu, kini aku korek kembali dengan repotnya kenangan yang membuat sesak dada itu.

Andai saja aku kenal dengan pemilik rumah itu, yang di depannya ada taman dan tumbuh pohon dengan banyak bunga kamboja merah, di bawah pohon itu dia selalu menungguku hingga terkantukpun hirau. Andai aku tak pernah bilang bahwa aku ingin kabur dari rumah dan mengekost saja sebab ada suatu padang bulu yang saat itu tak dapat aku pahami, karena pikiran sudah terkontaminasi dengan dendam masa kecil karena kurang urus.

“Vay, tinggallah saja di sini toh hotel ini memang sedang butuh tamu, kau lihat kamar seluruhnya kosong.”Jo selalu begitu, padahal kamar hotel tinggal sisa dua, dan selalu di kosongkan hanya buatku. Ah dia sahabat yang aneh, mengorbankan pelanggan yang tadinya ingin menyewa kamar, lalu urung setelah Jo dengan wajah garangnya bilang, hotel sudah penuh, padahal hampir keluar dari mulut resepsionis gemuk namun cantik itu, bahwa kamar masih tersedia.

Demi agar tak menyia-nyiakan ajakan Jo, aku pilih saja ajakan dia, ketimbang ajakan hatiku yang bilang Pergi kemudian datang ke Gang itu. Kalau hati gundah yang dapat aku lakukan hanya curhat kepada Jo, ya walau seringnya aku tetap dianggap adik perempuannya, bukan sebagai sahabat masa kecilnya.

Tadi aku sempat berandai, bisa kenal dengan pemilik rumah itu. Ya supaya aku dapat bicara banyak tentang orang yang setiap malam menjemputku itu, dan aku akan berusaha memodalinya uang untuk memasang CCTV, agar dia menaruhnya tepat di depan gerbang dan CCTV itu merekamnya yang tengah duduk di bawah pohon kamboja itu. Biar logika selalu menang. Aku membiarkan kenangan yang aku buat-buat supaya hatiku lega. Namun sebenarnya sama saja.

“Memangnya kalau pemilik rumah itu benar-benar memasang CCTV, kau tidak akan menangis bila melihat kenangan tiap malam itu?”Jo mengkerutkan keningnya, bingung sendiri.

Kami duduk di Cafe Bar, salah satu tempat favoritku di dalam hotel milik keluarga Jo ini. Aku menyesap terus kopi ku, Jo masih menunggu.

“Sepertinya aku tidak akan menangis aku akan tertawa dan tersenyum, karena bersyukur. Sempat mempunyai seseorang yang begitu kuatnya menunggu setengah jam atau bahkan satu jam demi menjemputku dengan payung merah hati bila hujan sedang mengolok karena aku tidak memiliki kendaraan.”

Bahkan aku rindu betapa gagahnya dia berjalan di belakangku, membesarkan hatiku agar kuat jalan terus kedepan, walau jarak anatara gang dan rumah setengah kilometer. Tiap hujan yang ku maknai sangat amat indah. Sungai di bawah jembatan itu bahkan malu malu mendahuluiku. Aku menontoni sungai dari atas. Dan bilang banyak cita masa depanku. Aku terlalu gelisah untuk dapat memahami, terlalu gagu untuk percaya bahwa banyak hal yang sebenarnya tak mungkin dapat aku gapai walau sekuat apapun berlari mengejarnya. Namun sosok yang selalu berjalan di belakangku itu selalu menerangi jalanku dan bicara dalam bahasa lain, memotivasiku dengan berjalan terlebih dahulu. Ketikaku sedang terenyuh dengan lenggokan para air yang sedang Permisi sambil tersenyum menatapku. Aku rindu sungai itu dan berhenti sejenak untuk merenung. Walau hanya setahun, namun aku rasa itu setahun di kali dengan hari-hari yang telah terlewat tanpanya.

“Kāu tahu Vey, hidup ini sebenarnya mudah, Cuma kitanya sendiri yang bikin ribet. Pastikan saja jika kau diam di tempat, mungkin kau akan hidup stagnan, ya tapi hidup penuh kesyukuran. Tapi ya kodratnya manusia memang terus memenuhi nafsu dunianya to.”

Aku tadinya ingin mengangguk namun aku urungkan saja niat muliaku itu, toh yang hidup pahit bukan Jo. Dia sudah terbiasa menyesap manis diantara pahit kopi. Tangan tangan luwes pianis itu memainkan nada-nada yang membuatku mengantuk, Tadinya Jo akan memesankan minuman kesukaannya, minuman yang konon bisa membuat hidup indah dalam sekejap. Dari pada di burui kegelisahan karena memang pasti aku dengan halus akan menolaknya, Jo dengan senang hati menyediakan kopi se teko peuh.

Aku membujuk diri agar menumpahkan segala isi hatiku kehadapan Jo malam ini, walau membuat jarak diantara kita akan becek-becek, Masalahnya memang sudah sangat klasik, uang, masa depan, dan bahagia. Di susul 9 huruf BAGAIMANA?.

“Jadi bagaimana?”

Ku lirik sosok Jo yang gagah kebapak-bapakan di usia dini kembali meletakkan cangkir kopinya. Mengelus pipinya dengan ibu-jari, mungkin menimbang. Sesaat tadi aku berpikir ingin menjadi ibu dari jari-jariku saja, Jo membenahi posisi duduknya. Cafe Bar ini sangat amat membuatku ngantuk, nah memang lebih baik tertidur di meja Café ketimbang tidur di kamar gratis pemberian Jo itu.

“Kāu tahu Vey, aku bukan jago dalam urusan macam ini, setidaknya Dira bersedia mencintaiku, entahkah karena dia sejenak juga sempat menimbang, wajahku pas-pasan sih, tapi setidaknya aku cukup materi untuk bermasa depan dengannya, entah walau mungkin cerai.”Dia ngeri membayangkan kata-katanya sendiri, bergidik sendiri. Lalu kembali keposisi awal duduknya tadi.

“Vey, sudah waktunya kamu menjauh dari kenangan.”

Aku mengangguk saja, apakah dia mabuk kopi. Tidak. Dia Jo memang selalu begitu anehnya menasehatiku, Kebapakan di usia dini. Gayanya memang semacam bos perlente, Cuma aku masih bingung, mengapa kumisnya selalu begitu berantakannya, mengacaukan wajah manisnya saja, baiknya di cukur habis saja. Oh Dira adalah wanita paling bahagia sekarang, Siapapun akan kagum pada pasangan sederhana kelihatannya, dan emas di dalamnya, lihat siapa yang begitu kokoh hebat, siapa lagi kalau bukan Jo si sok tahu, yang anehnya selalu aku mintai pendapat. Sudahlah dia satu-satunya sahabatku.

Aku ini semacam jelaga di dalam dapur, mengusik kecerahan aura Jo. Namun aku sudah biasa di pandang begitu. Sudah sangat terbiasa.

“gelombang laut saja jatuh cinta pada pantai, dia selalu mencuri agar terus dekat dengan sang pantai.”

“Memanglah harusnya begitu. Mencari dan menemukan. Begitu makasudmu Jo?”

“Tidak, aku hanya ingin dia datang, aku ini pemakna sejati Jo. Tidak akan membuat susunan indah yang sudah aku tanda tangani sebelum aku di lahirkan menjadi serumit urusan yang aku paksakan akhir-akhir ini.”

Aku kehabisan air kopi, ku sambar kue yang centil kelihatan dari penampilannya itu. Aku habisi kecentilannya dalam sekali lahap. Jo mendesis.

“Vey, kue mahal. Maknai tiap kunyahanmu. Ini mengapa Tuhan menyuruh seseorang menciptakan sendok kecil ini.”

Jo menyosorkan sendok yang tadi telah dia isi sepotong kecil kue miliknya. Aku sudah menelan habis kueku. Giliran menyambar saja apa yang di sodorkan kepadaku, Jo menyuapiku.

Aku menggeleng

“Sudahlah Jo, aku ini pemakna sejati. Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel.”

“Apa lagi kombinasi yang mengalahkan kombinasi tragis pembujukan diriku untuk tidak merutuki begitu tragisnya nasibku.”Sejenak menghilanglah beban bersama dentingan piano.

Sedetik tadi, café ini tinggal aku dan Jo. Pianis sudah pamit undur diri. Tinggal aku, Jo, lampu temaram, dan wangi kopi, serta dingin.

Teko diantara cangkir kami di isi penuh, Kami bertekad begadang.

Berlarut malam semakin lama semakin terasa lama saja, terlalu banyak hening ketimbang mengoceh. Jo sedari tadi mengisi selalu penuh cangkir kopiku, entah kopi apa yang sejak tadi aku minum, apa mungkin pagi nanti aku tak dapat memejamkan mata, karena over dosis caffein, hey memang over dosis caffein begitu ya? Sudah jangan di buat rumit, ini hidup nikmati saja. Seperti aku menikmati betapa kosongnya aku ketika malam pertama tanpanya berjalan di belakangku, menerangi tiap langkah jalanku, tak membiarkan aku jatuh tersungkur.

Kini aku biarkan Jo giliran curhat. Bulan depan dia akan menikah dengan Dira. Aku mengangguk-angguk sangat amat setuju, Jo sudah aku anggap kakak laki-laki ku sendiri. Langit malam mungkin cemburu kepadaku yang memiliki Jo yang perhatian. Aku siap mandiri sebulan lagi.

Aku sudah mandiri sejak orang itu tak ada lagi di belakangku, namun belum sepenuhnya sebab Jo menawarkan begitu banyaknya kebijaksanaan dewasa usia dininya itu kepadaku.

“Uah Vay, kau ini. Aku tidak menawarkan semua kue ku, mengapa malah kau habiskan.”Jo menunduk sedih lalu urung, kemudian meringis, kami tertawa. Seolah memang ini hair terakhir bersama Jo.

Jo merengkuh bahuku, kemudian menepuk pelan berkali-kali di punggungku.

“Kāu memang gadis kuat yang ku kenal, terus begini saja, aku senang melihatnya.”

Sejenak aku melihatnya tersenyum, lalu menlanjutkan “Malam ini keluarkan saja, buka saja bendungan itu, lepaskan dan isakkan saja, toh hanya aku yang melihat, biar sampai becekpun meja ini.”

Aku tersenyum getir kemudian perlahan menangis. Betapa hati masih sulit menerima. Aku rindu Ayah. Dapatkah kau datang sejenak kedalam mimpiku Ayah!, aku ingin pamit untuk mencari laki-laki yang setidaknya sama sepertimu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s