BREATHAKING

Nah kalau tadi cerpennya bertema rindu kepada ayah, kalau yang ini temanya #BagunCinta, gue kasih tau guys, cerpen ini sempet ikut lomba di grup titik temu, bekerja sama dengan penerbit super kecenya pak Edi Mulyono (Diva Press), gue lupa gue masuk berapa besar. Ahiya gue masuk 50 besar, pesertanya 250-an, ah gue lupa. jadi akhirnya cuman di pilih 20 besar (nantinya di bukukan menjadi kumcer), dan cerpen ini tumbang kalah. :D. nggak papa gue udah bangga kok. kalian yang mau baca silahkan 😀

 

BREATHTAKING

Oleh : Audhina Novia Silfi

mengintip-kemegahan-pohon-wisteria-berusia-144-tahun-di-jepang

            Dia lagi-lagi jatuh cinta pada pohon itu, Tiap musim semi hari ke tujuh. Aku selalu menemukanya duduk diam di bangku itu sendiri. Selalu saja terlihat muram memikirkan seseorang. Aku hanya menyelami lamunannya , seolah akulah yang di pikirkannya. Breathtaking wisteria Jepang selalu menggodaku untuk melamun. Aku sesekali melayani pelanggan yang memesan aneka kopi dengan atau tanpa kue-kue dengan resep asal Perancis itu.

***

            Merah muda lautan di daratan Jepang. Pun aku ini sama dengannya, penggemar musim semi. Kalau saja aku tidak bekerja mungkin aku sudah mangkir melesat mengganggunya yang duduk diam itu. Tiap pukul empat sore ketika angin bertiup menggoyangkan dahan Breathtaking itu.

Suatu ketika tak ku jumpai dia di bangku itu. Pikiranku ini membuatku selalu ingin mengetahui yang sedang di pikirkan laki-laki itu, salah memang, namun penasaran iya. Dan ku jumpai dia duduk di bangku lain sekitar pohon lainnya. Dapat ku duga, dia pasti memikirkan kekasihnya. Aku malah berharap dia tak pernah memiliki kekasih. Dan apa daya dia harus rela jadi milikku. Ku hela pelan nafasku, pelanggan sudah berangsur surut, Selalu tak lebih dari 13 menit dia terdiam mengagumi lalu sisanya merenung menatap kertas putih dan pensil. Sudah ku duga sejak awal pasti dia pelukis, namun entah mengapa aku ragu dengan tebakanku sendiri ini. Matanya hitam, rambut selalu pendek rapih tak ku lihat sedetikpun dia berpakaian ala anak muda Jepang kebanyakan. Layaknya secreat admire, selalu pula di menit ke 3 saat aku mengagumi betapalah gagahnya dia, pelanggan mengagetkanku memesan Mochacino dan Robusta. Kemudian di menit ke 5 Manager pasti menegurku agar fokus. Lalu Pada menit Ke 10 masih tetap ku curi detik untuk melihatnya yang masih kukuh di bangku itu. Betapalah malang nasibnya bila dia harus jadi milikku. Aku hela nafasku lagi dan terus lagi.

Hari ini, banyak pelanggan datang bersama pasangan, mungkin mereka memahami arti merah muda Breathaking, akibatnya agak membludak juga kedai ini.

“Mo, dapatkah kau tidak diam terus begitu?”

Aku terperenjat, lagi-lagi ada yang mengeluh karena aku tak segesit hari biasa, ini akibat memerhatikannya. Lagi pula mengapa aku memikirkan dia, bukan suatu yang manfaat. Lihatlah Manager melotot begitu sampai bola matanya hampir-hampir meloncat dari rongga.

***

Semalam aku pulang lebih telat dari biasanya. Manager memanggilku menghadapnya. Aku memijat-mijat keningku. Pening sekali di ceramahi begitu panjang lebarnya. Dan pagi ini aku memilih memakai lebih banyak bedak di bawah kelopak mata yang terlalu kembung kantungnya. Upaya ku untuk memperpantas diri berlanjut, mengharapkan si pemilik mata berbinar itu menyapaku dengan tatapan tajamnya.

Kedai belum di buka, Haruka yang membawa kuncinya. Terpaksa aku harus menunggu lama di bangku depan Kedai. Setidaknya ada waktu untuk sedikit memejamkan mata, lalu lalang orang dengan kesibukan masing-masing aku acuhkan saja. Jepang selalu begini, dingin.

“Ayoh masuk!”Seru Haruka mengagetkanku sambil menyentuh bahuku.

Mataku mengerjap-ngerjap, lalu menguap. Aku betulkan posisi syal ku, baru ku sadari Lelaki itu tengah asik duduk di bangku seberang, masih sibuk mengguratkan pensil di atas kertas. Sejenak aku menatapnya

“Ayoh masuk..”

“Baik..”

“Betapa lelahya aku tadi malam, Manager memarahiku.”ujarnya dengan suara tertahan, Aku tengok wajah Haruka lalu urung, wajahnya terlihat kusut.

“Aku pikir hanya aku saja yang di ceramahinya..”

“Kau tak tahu saja Mo, Dia memanggilku setelah kau pergi.”

Aku Baru sadar, ternyata kemarin malam masih ada Haruka di dapur bersama Dua orang kokinya sedang membereskan peralatan, dan mempersiapkan adonan untuk esok hari. Aku menghembuskan nafas, mengepul-mengepul putih di udara. Kami tiba di ruang ganti baju. Baru kami saja yang datang.

“Andai dia tahu, betapa sulitnya mati-matian membuat kue sempurna yang dia mau.”

“Andai dia tahu, bahwa melayani pelanggan itu tak semudah bicara pada kucing.”Aku tertawa singkat

Haruka, gadis itu Chef di Kedai kue ini, Chef lainnya Tochiotome dia pekerja part time. Setelah kami berpakaian kerja kami bergegas menuju tempat masing-masing. Aku harus mempersiapkan etalase agar bersih dan uang kembalian di mesin kasir. Selanjutya harus bersih-bersih sambil tak lepaskan pandanganku pada lelaki pemilik mata sendu yang tiap pagi ada di bangku itu.

Para pelanggan tahu betul Kedai ini memang sudah buka tapi kue yang hangat masih dalam oven, maka mereka selalu datang tepat waktu saat kue-kue itu di angkat dari oven. Satu jam kemudian,

“Kue datang Mo.”Wajah Haruka berseri-seri di ikuti para pelanggan yang mulai berdatangan.

Tochiotome datang langsung menuju dapur membantu Haruka dan Koki yang tadi beriringan datang 10 menit setelah aku dan Haruka tiba.

“Butuh bantuanku Mo?”Aku mengerjap kaget, Haruka ada di sampingku.

Tanpa perlu aku jawab, Haruka sudah melayani pesanan pelanggan. Kedai kecil ini memang kekurangan pekerja namun pemiliknya enggan menambah lagi. Ya sudah jadinya kami saling bantu saja.

Saat aku selesai melayani Ibu dengan anak satu itu, rasanya ingin sekali berteriak dan loncat, dia pria yang ku pikir memang bukan orang Jepang itu masuk, dia yang selalu membawa peralatan untuk menggambar mengambil duduk di salah satu bangku dalam ruangan kedai ini yang sudah sesak oleh pelanggan. Sesekali menengok kiri kanannya yang tengah makan dengan lahapnya kue buatan Haruka. Kemudian aku baru melihatnya tersenyum begitu.

“Hey, Mo!”Aku kaget bukan main, Haruka memukul bahuku

Ada pelanggan yang menunggu untuk di layani

“Maaf..”Aku membungkuk

Aku berusaha segesit angin untuk melayani pelanggan, beberapa detik tadi langkahku terhenti sebab orang itu. Lengah sekali aku ini. Setengah jam berlalu orang itu tak kunjung memesan, kedai masih ramai. Angin begitu dingin menyusup kedalam kedai, padahal penghangat ruangan masih optimal bekerja.

“Monica San, cobalah untuk fokus teliti dan gesit.”

“Baik.”Aku membungkuk malu.

Di saat seperti ini perutku tak mau kompromi. Lapar rasanya, jam istirahat masih sejam lagi. Dia menghampiri etalase, setelah aku melayani pelanggan yang lebih awal di etalase, dia tersenyum menatapku.

“Aku ingin kopi Mochacino.”

“Kue nya tuan?”

“Apa saja, yang penting enak.”

“Baik kalau begitu aku sarankan kue ini tuan.”Dia mengangguk kemudian membayar totalnya.

Kemudian kembali ketempat duduknya. Badanku yang amat gempal ini, memang sudah ku maksimalkan untuk bergerak gesit. Setengah jam berlalu Manager datang, Pria berumur sekitar 60 tahun itu tak pernah sekalipun tersenyum. Meleos begitu saja masuk ke ruangan yang kami sebut neraka. Haruka masih membantuku melayani pelanggan. Tochiotome dan kedua koki itu masih sibuk di dapur. Harum kopi bercampur wangi tepung dan backing powder memenuhi ruangan. Tunggu sebentar, Manager mengerikan itu berbelok arah, menghampiri seseorang di salah satu meja. Menghampiri laki-laki yang memiliki mata berbinar itu. Aku masih agak ketimpang, melayani pelanggan sambil curi-curi pandang ke arah mereka.

Wajah Manager terlihat semakin tak enak rasa, dia menarik paksa orang itu yang tadinya sedang asik menyesap kopi, namun anehnya orang itu tidak berontak, keadaan tetap terkendali para pelanggan masih sibuk berbincang sambil menikmati kopi dan kue. Mereka keluar dari Kedai sederhana ini. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang tengah terjadi. Pikiranku macam-macam.

“Monica-San, kelihatannya kau harus diet sedikit saja. Aku perhatikan gerakmu melambat dari waktu ke waktu.”Ucap Haruka kemudian tertawa ramah, maksudnya menasehati

“Baiklah.”Aku jawab singkat saja, dia juga salah satu atasan di Kedai ini

Lagi pula keinginanku untuk diet sampai kurus sudah aku tancapkan di ubun-ubun sejak melihat laki-laki pemilik mata berbinar itu musim semi tahun lalu. Betapalah tak beruntungnya dia bila dia jadi milikku. Setelah percakapan singkat itu Manager dengan langkah cepat menuju ruangannya. Aku bertanya pada Haruka, dia hanya menganggkat kedua bahu.

***

            Tiga jam penuh pelanggan akhirnya mulai lenggang, Haruka kembali ke dapur. Sebenarnya dari tadi Haruka mondar-mandir dapur-etalase. Tochiotome hanya bekerja untuk 5 jam saja, selanjutnya dia ke tempat kedai miliknya sendiri, kata Haruka dia anak dari teman dekat Manager, di peruntukkan untuk membantu saja.

“Monica-San, ini satu untukmu.”Satu kue hangat yang harum di berikan untukku, Akhirnya makan juga

“Terimakasih Haruka.”Aku tersenyum, langsung lahap menghabiskan kue itu.

Pelanggan sama sekali tidak ada setelah 10 menit berangsur. Aku desak Haruka agar mau bercerita, aku tahu dia tahu segalanya. Aku tahu betul Haruka menyimpan banyak rahasia.

“Aku bisa mati berdiri bila kau tak menceritakan hal itu Haruka, tolonglah aku yang penasaran ini.” Aku merajuk terus, Haruka terdiam sesaat seolah menimbang, baiknya dia ceritakan padaku atau tidak,

“Mungkin nanti malam ketika kedai tutup. Tapi jangan sampai kau menyesal mendengarnya, dan jangan sampai kau umbar ceritaku nanti.”bisiknya dekat telingaku

“Benarkah? Tentu saja Haruka, aku dapat di percaya.”Senyumku mengembang sampai mau meledak

***

Statistika pelanggan turun naik sejak siang sampai malam, aku harus rela mabuk kelelahan melayani berbagai macam sifat pelanggan, Setelah aku serahkan penghasilan seluruhnya hari ini kepada Manager, aku cepat-cepat meminta Haruka segera bercerita, dia juga telah selesai membuat adonan, Dua koki itu sudah pulang.

Aku sudah siap mendengarkan, kami berhadapan. Haruka pelan memulai, ini baru mulai namun sudah membuat sesak dada, lama-lama benar-benar sesak. Haruka menepuk bahuku.

“Kau suka padanya Mo?”

Aku mengangguk. Ya ampun bagaimana bisa? Baru saja aku bertekad mengecilkan badanku ini demi laki-laki itu, ternyata begini jadinya. Harapanku terlampau tinggi. Aku masih sesak, Haruka pergi ke ruang ganti, aku masih merutuki nasib.

Ucapan Haruka tentang laki-laki itu masih terngiang-ngiang

“Namanya Hasby, dia Islam. Bukan orang biasa kebanyakan di Jepang, Ibunya Indonesia, Manager galak itu ayahnya. Kabar bilang, dia berkali-kali menolak anaknya setelah mempunyai agama, entahlah Mo, nah Mo Apa kau menyukainya?”

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s