BREATHAKING

Nah kalau tadi cerpennya bertema rindu kepada ayah, kalau yang ini temanya #BagunCinta, gue kasih tau guys, cerpen ini sempet ikut lomba di grup titik temu, bekerja sama dengan penerbit super kecenya pak Edi Mulyono (Diva Press), gue lupa gue masuk berapa besar. Ahiya gue masuk 50 besar, pesertanya 250-an, ah gue lupa. jadi akhirnya cuman di pilih 20 besar (nantinya di bukukan menjadi kumcer), dan cerpen ini tumbang kalah. :D. nggak papa gue udah bangga kok. kalian yang mau baca silahkan 😀

 

BREATHTAKING

Oleh : Audhina Novia Silfi

mengintip-kemegahan-pohon-wisteria-berusia-144-tahun-di-jepang

            Dia lagi-lagi jatuh cinta pada pohon itu, Tiap musim semi hari ke tujuh. Aku selalu menemukanya duduk diam di bangku itu sendiri. Selalu saja terlihat muram memikirkan seseorang. Aku hanya menyelami lamunannya , seolah akulah yang di pikirkannya. Breathtaking wisteria Jepang selalu menggodaku untuk melamun. Aku sesekali melayani pelanggan yang memesan aneka kopi dengan atau tanpa kue-kue dengan resep asal Perancis itu.

***

            Merah muda lautan di daratan Jepang. Pun aku ini sama dengannya, penggemar musim semi. Kalau saja aku tidak bekerja mungkin aku sudah mangkir melesat mengganggunya yang duduk diam itu. Tiap pukul empat sore ketika angin bertiup menggoyangkan dahan Breathtaking itu.

Suatu ketika tak ku jumpai dia di bangku itu. Pikiranku ini membuatku selalu ingin mengetahui yang sedang di pikirkan laki-laki itu, salah memang, namun penasaran iya. Dan ku jumpai dia duduk di bangku lain sekitar pohon lainnya. Dapat ku duga, dia pasti memikirkan kekasihnya. Aku malah berharap dia tak pernah memiliki kekasih. Dan apa daya dia harus rela jadi milikku. Ku hela pelan nafasku, pelanggan sudah berangsur surut, Selalu tak lebih dari 13 menit dia terdiam mengagumi lalu sisanya merenung menatap kertas putih dan pensil. Sudah ku duga sejak awal pasti dia pelukis, namun entah mengapa aku ragu dengan tebakanku sendiri ini. Matanya hitam, rambut selalu pendek rapih tak ku lihat sedetikpun dia berpakaian ala anak muda Jepang kebanyakan. Layaknya secreat admire, selalu pula di menit ke 3 saat aku mengagumi betapalah gagahnya dia, pelanggan mengagetkanku memesan Mochacino dan Robusta. Kemudian di menit ke 5 Manager pasti menegurku agar fokus. Lalu Pada menit Ke 10 masih tetap ku curi detik untuk melihatnya yang masih kukuh di bangku itu. Betapalah malang nasibnya bila dia harus jadi milikku. Aku hela nafasku lagi dan terus lagi.

Hari ini, banyak pelanggan datang bersama pasangan, mungkin mereka memahami arti merah muda Breathaking, akibatnya agak membludak juga kedai ini.

“Mo, dapatkah kau tidak diam terus begitu?”

Aku terperenjat, lagi-lagi ada yang mengeluh karena aku tak segesit hari biasa, ini akibat memerhatikannya. Lagi pula mengapa aku memikirkan dia, bukan suatu yang manfaat. Lihatlah Manager melotot begitu sampai bola matanya hampir-hampir meloncat dari rongga.

***

Semalam aku pulang lebih telat dari biasanya. Manager memanggilku menghadapnya. Aku memijat-mijat keningku. Pening sekali di ceramahi begitu panjang lebarnya. Dan pagi ini aku memilih memakai lebih banyak bedak di bawah kelopak mata yang terlalu kembung kantungnya. Upaya ku untuk memperpantas diri berlanjut, mengharapkan si pemilik mata berbinar itu menyapaku dengan tatapan tajamnya.

Kedai belum di buka, Haruka yang membawa kuncinya. Terpaksa aku harus menunggu lama di bangku depan Kedai. Setidaknya ada waktu untuk sedikit memejamkan mata, lalu lalang orang dengan kesibukan masing-masing aku acuhkan saja. Jepang selalu begini, dingin.

“Ayoh masuk!”Seru Haruka mengagetkanku sambil menyentuh bahuku.

Mataku mengerjap-ngerjap, lalu menguap. Aku betulkan posisi syal ku, baru ku sadari Lelaki itu tengah asik duduk di bangku seberang, masih sibuk mengguratkan pensil di atas kertas. Sejenak aku menatapnya

“Ayoh masuk..”

“Baik..”

“Betapa lelahya aku tadi malam, Manager memarahiku.”ujarnya dengan suara tertahan, Aku tengok wajah Haruka lalu urung, wajahnya terlihat kusut.

“Aku pikir hanya aku saja yang di ceramahinya..”

“Kau tak tahu saja Mo, Dia memanggilku setelah kau pergi.”

Aku Baru sadar, ternyata kemarin malam masih ada Haruka di dapur bersama Dua orang kokinya sedang membereskan peralatan, dan mempersiapkan adonan untuk esok hari. Aku menghembuskan nafas, mengepul-mengepul putih di udara. Kami tiba di ruang ganti baju. Baru kami saja yang datang.

“Andai dia tahu, betapa sulitnya mati-matian membuat kue sempurna yang dia mau.”

“Andai dia tahu, bahwa melayani pelanggan itu tak semudah bicara pada kucing.”Aku tertawa singkat

Haruka, gadis itu Chef di Kedai kue ini, Chef lainnya Tochiotome dia pekerja part time. Setelah kami berpakaian kerja kami bergegas menuju tempat masing-masing. Aku harus mempersiapkan etalase agar bersih dan uang kembalian di mesin kasir. Selanjutya harus bersih-bersih sambil tak lepaskan pandanganku pada lelaki pemilik mata sendu yang tiap pagi ada di bangku itu.

Para pelanggan tahu betul Kedai ini memang sudah buka tapi kue yang hangat masih dalam oven, maka mereka selalu datang tepat waktu saat kue-kue itu di angkat dari oven. Satu jam kemudian,

“Kue datang Mo.”Wajah Haruka berseri-seri di ikuti para pelanggan yang mulai berdatangan.

Tochiotome datang langsung menuju dapur membantu Haruka dan Koki yang tadi beriringan datang 10 menit setelah aku dan Haruka tiba.

“Butuh bantuanku Mo?”Aku mengerjap kaget, Haruka ada di sampingku.

Tanpa perlu aku jawab, Haruka sudah melayani pesanan pelanggan. Kedai kecil ini memang kekurangan pekerja namun pemiliknya enggan menambah lagi. Ya sudah jadinya kami saling bantu saja.

Saat aku selesai melayani Ibu dengan anak satu itu, rasanya ingin sekali berteriak dan loncat, dia pria yang ku pikir memang bukan orang Jepang itu masuk, dia yang selalu membawa peralatan untuk menggambar mengambil duduk di salah satu bangku dalam ruangan kedai ini yang sudah sesak oleh pelanggan. Sesekali menengok kiri kanannya yang tengah makan dengan lahapnya kue buatan Haruka. Kemudian aku baru melihatnya tersenyum begitu.

“Hey, Mo!”Aku kaget bukan main, Haruka memukul bahuku

Ada pelanggan yang menunggu untuk di layani

“Maaf..”Aku membungkuk

Aku berusaha segesit angin untuk melayani pelanggan, beberapa detik tadi langkahku terhenti sebab orang itu. Lengah sekali aku ini. Setengah jam berlalu orang itu tak kunjung memesan, kedai masih ramai. Angin begitu dingin menyusup kedalam kedai, padahal penghangat ruangan masih optimal bekerja.

“Monica San, cobalah untuk fokus teliti dan gesit.”

“Baik.”Aku membungkuk malu.

Di saat seperti ini perutku tak mau kompromi. Lapar rasanya, jam istirahat masih sejam lagi. Dia menghampiri etalase, setelah aku melayani pelanggan yang lebih awal di etalase, dia tersenyum menatapku.

“Aku ingin kopi Mochacino.”

“Kue nya tuan?”

“Apa saja, yang penting enak.”

“Baik kalau begitu aku sarankan kue ini tuan.”Dia mengangguk kemudian membayar totalnya.

Kemudian kembali ketempat duduknya. Badanku yang amat gempal ini, memang sudah ku maksimalkan untuk bergerak gesit. Setengah jam berlalu Manager datang, Pria berumur sekitar 60 tahun itu tak pernah sekalipun tersenyum. Meleos begitu saja masuk ke ruangan yang kami sebut neraka. Haruka masih membantuku melayani pelanggan. Tochiotome dan kedua koki itu masih sibuk di dapur. Harum kopi bercampur wangi tepung dan backing powder memenuhi ruangan. Tunggu sebentar, Manager mengerikan itu berbelok arah, menghampiri seseorang di salah satu meja. Menghampiri laki-laki yang memiliki mata berbinar itu. Aku masih agak ketimpang, melayani pelanggan sambil curi-curi pandang ke arah mereka.

Wajah Manager terlihat semakin tak enak rasa, dia menarik paksa orang itu yang tadinya sedang asik menyesap kopi, namun anehnya orang itu tidak berontak, keadaan tetap terkendali para pelanggan masih sibuk berbincang sambil menikmati kopi dan kue. Mereka keluar dari Kedai sederhana ini. Selanjutnya aku tak tahu lagi apa yang tengah terjadi. Pikiranku macam-macam.

“Monica-San, kelihatannya kau harus diet sedikit saja. Aku perhatikan gerakmu melambat dari waktu ke waktu.”Ucap Haruka kemudian tertawa ramah, maksudnya menasehati

“Baiklah.”Aku jawab singkat saja, dia juga salah satu atasan di Kedai ini

Lagi pula keinginanku untuk diet sampai kurus sudah aku tancapkan di ubun-ubun sejak melihat laki-laki pemilik mata berbinar itu musim semi tahun lalu. Betapalah tak beruntungnya dia bila dia jadi milikku. Setelah percakapan singkat itu Manager dengan langkah cepat menuju ruangannya. Aku bertanya pada Haruka, dia hanya menganggkat kedua bahu.

***

            Tiga jam penuh pelanggan akhirnya mulai lenggang, Haruka kembali ke dapur. Sebenarnya dari tadi Haruka mondar-mandir dapur-etalase. Tochiotome hanya bekerja untuk 5 jam saja, selanjutnya dia ke tempat kedai miliknya sendiri, kata Haruka dia anak dari teman dekat Manager, di peruntukkan untuk membantu saja.

“Monica-San, ini satu untukmu.”Satu kue hangat yang harum di berikan untukku, Akhirnya makan juga

“Terimakasih Haruka.”Aku tersenyum, langsung lahap menghabiskan kue itu.

Pelanggan sama sekali tidak ada setelah 10 menit berangsur. Aku desak Haruka agar mau bercerita, aku tahu dia tahu segalanya. Aku tahu betul Haruka menyimpan banyak rahasia.

“Aku bisa mati berdiri bila kau tak menceritakan hal itu Haruka, tolonglah aku yang penasaran ini.” Aku merajuk terus, Haruka terdiam sesaat seolah menimbang, baiknya dia ceritakan padaku atau tidak,

“Mungkin nanti malam ketika kedai tutup. Tapi jangan sampai kau menyesal mendengarnya, dan jangan sampai kau umbar ceritaku nanti.”bisiknya dekat telingaku

“Benarkah? Tentu saja Haruka, aku dapat di percaya.”Senyumku mengembang sampai mau meledak

***

Statistika pelanggan turun naik sejak siang sampai malam, aku harus rela mabuk kelelahan melayani berbagai macam sifat pelanggan, Setelah aku serahkan penghasilan seluruhnya hari ini kepada Manager, aku cepat-cepat meminta Haruka segera bercerita, dia juga telah selesai membuat adonan, Dua koki itu sudah pulang.

Aku sudah siap mendengarkan, kami berhadapan. Haruka pelan memulai, ini baru mulai namun sudah membuat sesak dada, lama-lama benar-benar sesak. Haruka menepuk bahuku.

“Kau suka padanya Mo?”

Aku mengangguk. Ya ampun bagaimana bisa? Baru saja aku bertekad mengecilkan badanku ini demi laki-laki itu, ternyata begini jadinya. Harapanku terlampau tinggi. Aku masih sesak, Haruka pergi ke ruang ganti, aku masih merutuki nasib.

Ucapan Haruka tentang laki-laki itu masih terngiang-ngiang

“Namanya Hasby, dia Islam. Bukan orang biasa kebanyakan di Jepang, Ibunya Indonesia, Manager galak itu ayahnya. Kabar bilang, dia berkali-kali menolak anaknya setelah mempunyai agama, entahlah Mo, nah Mo Apa kau menyukainya?”

-Selesai-

Iklan

Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Halo readers :D, ini cerpen pertama malam ini, ini cerpen sebenarnya sengaja di buat untuk mengenang seorang Ayah, kalau kalian mengikuti kisah blog ini, berarti kalian tahu si penulis udah yatim, pas lagi benar-benar kangen beliau, gue bikin cerpen ini, dan berakhir di blog pembuangan ini, karena kalah saing :D. Tapi, tulisan tetap tulisan, biar blog ini tau perkembangan menulisku.hahaha. Selamat membaca 🙂

Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel

Oleh : Audhina Novia Silfi

 DSC02210.JPG

Untuk membujuk diri agar bahagia sendiri, dan jatuh cinta sendiri, lalu rindu sendiri

Aku memaknai jatuhnya menjadi suatu sensasi yang luar biasa, memaknai betapa indahnya kala setiap malam dia menjemputku dari tempat kerja. Memaknai rinai pertama, hujan pertama, desiran angin usik pertama di bulan Juli. Setiap kenangan itu hanya aku pingsankan biar hilang begitu saja. Namun itu setahun lalu, kini aku korek kembali dengan repotnya kenangan yang membuat sesak dada itu.

Andai saja aku kenal dengan pemilik rumah itu, yang di depannya ada taman dan tumbuh pohon dengan banyak bunga kamboja merah, di bawah pohon itu dia selalu menungguku hingga terkantukpun hirau. Andai aku tak pernah bilang bahwa aku ingin kabur dari rumah dan mengekost saja sebab ada suatu padang bulu yang saat itu tak dapat aku pahami, karena pikiran sudah terkontaminasi dengan dendam masa kecil karena kurang urus.

“Vay, tinggallah saja di sini toh hotel ini memang sedang butuh tamu, kau lihat kamar seluruhnya kosong.”Jo selalu begitu, padahal kamar hotel tinggal sisa dua, dan selalu di kosongkan hanya buatku. Ah dia sahabat yang aneh, mengorbankan pelanggan yang tadinya ingin menyewa kamar, lalu urung setelah Jo dengan wajah garangnya bilang, hotel sudah penuh, padahal hampir keluar dari mulut resepsionis gemuk namun cantik itu, bahwa kamar masih tersedia.

Demi agar tak menyia-nyiakan ajakan Jo, aku pilih saja ajakan dia, ketimbang ajakan hatiku yang bilang Pergi kemudian datang ke Gang itu. Kalau hati gundah yang dapat aku lakukan hanya curhat kepada Jo, ya walau seringnya aku tetap dianggap adik perempuannya, bukan sebagai sahabat masa kecilnya.

Tadi aku sempat berandai, bisa kenal dengan pemilik rumah itu. Ya supaya aku dapat bicara banyak tentang orang yang setiap malam menjemputku itu, dan aku akan berusaha memodalinya uang untuk memasang CCTV, agar dia menaruhnya tepat di depan gerbang dan CCTV itu merekamnya yang tengah duduk di bawah pohon kamboja itu. Biar logika selalu menang. Aku membiarkan kenangan yang aku buat-buat supaya hatiku lega. Namun sebenarnya sama saja.

“Memangnya kalau pemilik rumah itu benar-benar memasang CCTV, kau tidak akan menangis bila melihat kenangan tiap malam itu?”Jo mengkerutkan keningnya, bingung sendiri.

Kami duduk di Cafe Bar, salah satu tempat favoritku di dalam hotel milik keluarga Jo ini. Aku menyesap terus kopi ku, Jo masih menunggu.

“Sepertinya aku tidak akan menangis aku akan tertawa dan tersenyum, karena bersyukur. Sempat mempunyai seseorang yang begitu kuatnya menunggu setengah jam atau bahkan satu jam demi menjemputku dengan payung merah hati bila hujan sedang mengolok karena aku tidak memiliki kendaraan.”

Bahkan aku rindu betapa gagahnya dia berjalan di belakangku, membesarkan hatiku agar kuat jalan terus kedepan, walau jarak anatara gang dan rumah setengah kilometer. Tiap hujan yang ku maknai sangat amat indah. Sungai di bawah jembatan itu bahkan malu malu mendahuluiku. Aku menontoni sungai dari atas. Dan bilang banyak cita masa depanku. Aku terlalu gelisah untuk dapat memahami, terlalu gagu untuk percaya bahwa banyak hal yang sebenarnya tak mungkin dapat aku gapai walau sekuat apapun berlari mengejarnya. Namun sosok yang selalu berjalan di belakangku itu selalu menerangi jalanku dan bicara dalam bahasa lain, memotivasiku dengan berjalan terlebih dahulu. Ketikaku sedang terenyuh dengan lenggokan para air yang sedang Permisi sambil tersenyum menatapku. Aku rindu sungai itu dan berhenti sejenak untuk merenung. Walau hanya setahun, namun aku rasa itu setahun di kali dengan hari-hari yang telah terlewat tanpanya.

“Kāu tahu Vey, hidup ini sebenarnya mudah, Cuma kitanya sendiri yang bikin ribet. Pastikan saja jika kau diam di tempat, mungkin kau akan hidup stagnan, ya tapi hidup penuh kesyukuran. Tapi ya kodratnya manusia memang terus memenuhi nafsu dunianya to.”

Aku tadinya ingin mengangguk namun aku urungkan saja niat muliaku itu, toh yang hidup pahit bukan Jo. Dia sudah terbiasa menyesap manis diantara pahit kopi. Tangan tangan luwes pianis itu memainkan nada-nada yang membuatku mengantuk, Tadinya Jo akan memesankan minuman kesukaannya, minuman yang konon bisa membuat hidup indah dalam sekejap. Dari pada di burui kegelisahan karena memang pasti aku dengan halus akan menolaknya, Jo dengan senang hati menyediakan kopi se teko peuh.

Aku membujuk diri agar menumpahkan segala isi hatiku kehadapan Jo malam ini, walau membuat jarak diantara kita akan becek-becek, Masalahnya memang sudah sangat klasik, uang, masa depan, dan bahagia. Di susul 9 huruf BAGAIMANA?.

“Jadi bagaimana?”

Ku lirik sosok Jo yang gagah kebapak-bapakan di usia dini kembali meletakkan cangkir kopinya. Mengelus pipinya dengan ibu-jari, mungkin menimbang. Sesaat tadi aku berpikir ingin menjadi ibu dari jari-jariku saja, Jo membenahi posisi duduknya. Cafe Bar ini sangat amat membuatku ngantuk, nah memang lebih baik tertidur di meja Café ketimbang tidur di kamar gratis pemberian Jo itu.

“Kāu tahu Vey, aku bukan jago dalam urusan macam ini, setidaknya Dira bersedia mencintaiku, entahkah karena dia sejenak juga sempat menimbang, wajahku pas-pasan sih, tapi setidaknya aku cukup materi untuk bermasa depan dengannya, entah walau mungkin cerai.”Dia ngeri membayangkan kata-katanya sendiri, bergidik sendiri. Lalu kembali keposisi awal duduknya tadi.

“Vey, sudah waktunya kamu menjauh dari kenangan.”

Aku mengangguk saja, apakah dia mabuk kopi. Tidak. Dia Jo memang selalu begitu anehnya menasehatiku, Kebapakan di usia dini. Gayanya memang semacam bos perlente, Cuma aku masih bingung, mengapa kumisnya selalu begitu berantakannya, mengacaukan wajah manisnya saja, baiknya di cukur habis saja. Oh Dira adalah wanita paling bahagia sekarang, Siapapun akan kagum pada pasangan sederhana kelihatannya, dan emas di dalamnya, lihat siapa yang begitu kokoh hebat, siapa lagi kalau bukan Jo si sok tahu, yang anehnya selalu aku mintai pendapat. Sudahlah dia satu-satunya sahabatku.

Aku ini semacam jelaga di dalam dapur, mengusik kecerahan aura Jo. Namun aku sudah biasa di pandang begitu. Sudah sangat terbiasa.

“gelombang laut saja jatuh cinta pada pantai, dia selalu mencuri agar terus dekat dengan sang pantai.”

“Memanglah harusnya begitu. Mencari dan menemukan. Begitu makasudmu Jo?”

“Tidak, aku hanya ingin dia datang, aku ini pemakna sejati Jo. Tidak akan membuat susunan indah yang sudah aku tanda tangani sebelum aku di lahirkan menjadi serumit urusan yang aku paksakan akhir-akhir ini.”

Aku kehabisan air kopi, ku sambar kue yang centil kelihatan dari penampilannya itu. Aku habisi kecentilannya dalam sekali lahap. Jo mendesis.

“Vey, kue mahal. Maknai tiap kunyahanmu. Ini mengapa Tuhan menyuruh seseorang menciptakan sendok kecil ini.”

Jo menyosorkan sendok yang tadi telah dia isi sepotong kecil kue miliknya. Aku sudah menelan habis kueku. Giliran menyambar saja apa yang di sodorkan kepadaku, Jo menyuapiku.

Aku menggeleng

“Sudahlah Jo, aku ini pemakna sejati. Bunga Kamboja, Sungai, dan Hotel.”

“Apa lagi kombinasi yang mengalahkan kombinasi tragis pembujukan diriku untuk tidak merutuki begitu tragisnya nasibku.”Sejenak menghilanglah beban bersama dentingan piano.

Sedetik tadi, café ini tinggal aku dan Jo. Pianis sudah pamit undur diri. Tinggal aku, Jo, lampu temaram, dan wangi kopi, serta dingin.

Teko diantara cangkir kami di isi penuh, Kami bertekad begadang.

Berlarut malam semakin lama semakin terasa lama saja, terlalu banyak hening ketimbang mengoceh. Jo sedari tadi mengisi selalu penuh cangkir kopiku, entah kopi apa yang sejak tadi aku minum, apa mungkin pagi nanti aku tak dapat memejamkan mata, karena over dosis caffein, hey memang over dosis caffein begitu ya? Sudah jangan di buat rumit, ini hidup nikmati saja. Seperti aku menikmati betapa kosongnya aku ketika malam pertama tanpanya berjalan di belakangku, menerangi tiap langkah jalanku, tak membiarkan aku jatuh tersungkur.

Kini aku biarkan Jo giliran curhat. Bulan depan dia akan menikah dengan Dira. Aku mengangguk-angguk sangat amat setuju, Jo sudah aku anggap kakak laki-laki ku sendiri. Langit malam mungkin cemburu kepadaku yang memiliki Jo yang perhatian. Aku siap mandiri sebulan lagi.

Aku sudah mandiri sejak orang itu tak ada lagi di belakangku, namun belum sepenuhnya sebab Jo menawarkan begitu banyaknya kebijaksanaan dewasa usia dininya itu kepadaku.

“Uah Vay, kau ini. Aku tidak menawarkan semua kue ku, mengapa malah kau habiskan.”Jo menunduk sedih lalu urung, kemudian meringis, kami tertawa. Seolah memang ini hair terakhir bersama Jo.

Jo merengkuh bahuku, kemudian menepuk pelan berkali-kali di punggungku.

“Kāu memang gadis kuat yang ku kenal, terus begini saja, aku senang melihatnya.”

Sejenak aku melihatnya tersenyum, lalu menlanjutkan “Malam ini keluarkan saja, buka saja bendungan itu, lepaskan dan isakkan saja, toh hanya aku yang melihat, biar sampai becekpun meja ini.”

Aku tersenyum getir kemudian perlahan menangis. Betapa hati masih sulit menerima. Aku rindu Ayah. Dapatkah kau datang sejenak kedalam mimpiku Ayah!, aku ingin pamit untuk mencari laki-laki yang setidaknya sama sepertimu.

Malem Minggu?

Sukabumi lagi hujan lumayan deras, dan tiba-tiba terjadi percakapan absurd antara gue dan temen gue.

Temen : gue ini gimana pulang?

Gue       : pulang mah pulang aja kali a’.

Temen  : Ya kan ujan?

Gue        : Yaelah tinggal pakai jas hujan.

Temen  : Malem ini kan beda, ini malem minggu.

Gue       : -_- apa bedanya cobak? ujan mah ya ujan, nggak mandang ini malem apa.

Haaaah  sudahlah.

Reader   : -_- mbak? loe nulis apa sih

Hahahah maap-maap, sejak kehilangan semangat menulis gue jadi jarang banget update ini blog, sampai benar-benar usang. Sejak awal ini blog memang di peruntukkan untuk “pembuangan” (halus) naskah-naskah kena depak penerbit.huahahaha. iya ini blog sebenernya sampah-sampah gue, orang lain mah bikin blog nampilin karya-karya terbaik mereka, nah gue..ya seperti apa yang kalian lihat ini. Cerpen membosankan. dan banyak hal lainnya. Readers, gue yakin sih gak ada pembaca setia blog ini. ya paling kak charles (yang gue paksa baca post-an baru gue di blog ini), terus dia komen. #Sungkem#makasih kak. huahahah, mau maunya baca sambil muntah-muntah. hahaha.

Tenang gue udah janji sama diri gue sendiri, gue bakal produktif lagi.(tapi gak seproduktif dulu),

Readers :-_- terserah kamu mbak, kita kesini cuman nyasar doang.

Hehehe  -_-||

ini judul sama isi nggak pernah sinkron, readers malam ini gue bakal post 2 cerpen :D, bodo amat mau ada yang baca atau enggak, bahkan ada yang copy paste sembarangan, huehehe, gue bukan penulis betulan, gue amatir. tapi suatu saat nanti gue bakal jadi penulis, lihat nanti ya readers.

Nah kalau kalian udah liat ada halaman baru di blog ini AUDHINADAW CERPEN’S, itu artinya kalian baru saja melihat gagalnya Audhina, iya gue nggak tau caranya masukin post ke halaman itu, rencananya bakal gue isi cerpen-cerpen disana, eh gue stuck gak paham ngelanjutinnya. maklum bloger amatir.hahaha :D. Selamat malam minggu readers.

Wasalam 🙂

Definisi Cantik Menurut BAYU SKAK

Jadi berawal dari jalan-jalan di youtube, gue nemu chanel salah satu youtubers https://www.youtube.com/user/bayuekomoektito1 gue secara pribadi. 😀 sukaaaa banget sama video-video bayu SKAK. Awalnya video video dia full bahasa jawa, tapi sekarang-sekarang nyisip-nyisipin bahasa Indonesia, atau ya nyediain translate . hahahha y ague kan orang Yogyakarta aslinya, tapi netap di Sukabumi, mau dia nggak pakai translate pun gue tetep ngerti, gue baru aja ngepoin, telatnya kebangetan kan, haha. Bayu SKAK ini cerdas tapi sering berlaga dongo. Nah ke-dongoan ini yang gue suka. Bahasa Inggris dia lebih bagus dari gue (yakaleeeee gue tofl aja Cuman 300 skornya) T.T.

Udahlah ya jangan bahas gue 😀

Bayu SKAK yang pembawaannya semangat dan unik banget bisa bikin kamu betah mantengin chanel youtube dia, percaya sama gue deh. Hahaha.

Jadi gini, gue tertarik banget sama video yang judulnya Definisi Cantik Menurut Semua Orang, Di dalam video ini gue jadi merenung sih,

Kata Bayu SKAK cantik itu intinya itu “membuat lawan jenis kalian itu nyaman.” Udah Cuma itu, iya sih! Iya nggak?, iya bener.

Jadi buat para cewek yang bisa bikin cowok kalian nyaman, udah bisa bikin kamu sebagai wanita paling cantik dimata mereka. Sebenernya simple kan.

Nah berawal dari BIKIN NYAMAN —>YOURE GONNA BE MOST BEAUTIFUL IN HIS WORLD

Nah bayu SKAK di video ini, berbagi 10 hal yang bisa bikin cowok nyaman, ini dia:

  1. Jangan takut jadi beda karena beda itu unik, bahkan bisa jadi kreatif
  2. Cewek yang modis dengan selera fashion yang bagus
  3. Jadi jujur dan ngutarain apa saja di benak kalian, itu bakal bikin cowok tertarik
  4. Jangan mengada-ada apalagi bohong, karena semua orang juga gak suka kan? Sama orang yang pembohong?
  5. Percaya atau tidak, cowok itu lebih suka kalau kalian tidak merokok
  6. Cewek dengan wangi yang sangat menyejukkan, wow ngangenin sekali.
  7. Jika lelucon kita tidak lucu dan kalian tertawa, OMG we will love you
  8. Cowok suka cewek yang sangatlah aneh, jika kalian aneh kita aneh…klop!
  9. Kurangilah murung, gembiralah! Karena diakhirnya kita hanya ingin melihat senyum diwajah kalian.

LEPASKANLAH TAWA KALIAN WAHAI KAUM HAWA AGAR TAK MURUNG DUNIA

 

Iya sebenar-benarnya, definisi cantik itu menurut umum, Cantik itu harus begini, begitu..wah itu sih nggak ada abis-abisnya kan, intinya bikin mereka yang di sekitar loe nyaman itu udah bikin loe cantik dimata mereka. THINK LESS FEEL MORE.

Thankyou Bayu SKAK

Thankyou readers :* kiss

Melanggar Janji Diri Sendiri

Ini udah akhir Januari, bukan lagi Awal, lagi-lagi pelanggaran terang-terang aku lakukan, mulai dari komitmen menulis blog secara rutin ini NIHIL sampai membaca buku baru tiap bulan NIHIL semenjak OKTOBER, dan awal mula kuliah dengan segudang kesibukan memuakkan itu, di tambah muaknya lelahnya kerja. Hahaha Audhina yang sedang lelah ini kurang liburan. Kata Ibukku kemarin lusa, katanya jalan pikirku sudah kacau balau, dan perlu di ruqyah.Hahaha.

Januari ini sahabat terbaik ada yang ulang tahun dan aku sama sekali nggak ngasih hal special buat dia, padahal waktu gue ulang tahun dia ngasih kejutan yang WARBIASYAAA. Gue ini sok sibuk banget serius. Sebenenernya sibuk itu kan nggak ada, waktu itu luangnya banyak. Coba kalian yang lagi pengen di sadarin mengenai betapa banyaknya kesia-siaan kita. Cari e-book Adjie Silarus , judulnya Sadar Penuh Hadir utuh, disana bisa aja kalian tersadar betapa sebenernya hidup ini simple tanpa distraksi teknologi, dan banyak hal lainnya.

Siapa sih yang mau baca blog ini? Siapa sih?.

Hey Gue baik-baik aja kok, perjalannan masih panjang nih, jangan sok melankolis meratapi nasib, eh gue ngomong sendiri lagi, sejak awal ini blog harusnya penuh dengan cerpen, puisi dan hal menarik lainnya, kok gue mulai goyah, iya liat aja postingan akhir-akhir ini, makin nggak penting kan. Hahaha. Ada yang mau tau kabar gue saat ini nggak?

Gue lagi setengah waras karena kurang baca, kurang bersyukur. Kehidupan nyata gue begitu-begitu aja, belum banyak hal signifikan terjadi di hidup gue. Ya Gue nggak akan mengaitkan ke cerita Radio Tua itu, tentang bapak. Nggak akan lagi. Itu sudah takdir, dan ini….saat ini juga takdir. Hidup ini harus terus berlanjut. Gue telat banget bikin postingan perenungan tahun lalu, It utu nggak penting. Perenungan tu harusnya dilakukan setiap saat. Hahaha. Janganlah banyak-banyak target, nanti kecapekan karena Datelinenya di anggep bulan Desember 2016.

Ada seseorang pernah bilang ke gue, hidup gue banyak negatifnya, eitsss bukan gitu. Salah nulis. Maksudnya begini. “pikiran loe banyak negatifnya, coba loe pikirannya banyakin positifnya”

Terus dia bilang lagi “hidup ini prinsipnya sama aja, mau dalam hal kerja atau apa aja, JANGAN KEBANYAKAN MIKIR”

“Coba loe jalan aja dulu sambil mikir, kerjaan loe bakalan cepet kelar.”

“Setelah gue pikir waktu gue banyak kebuang gara-gara kebanyakan mikir.”

Gue nggak mentah-mentah denger semua hal itu, Prinsip gue ini kebanyakan mikir di depan, dan pas udah di jalani bakal lancer, gitu.

Bersebrangan kan ya? Kalian termasuk yang mana?

Ya gue ini tipe golongan darah A. yang selalu aja hal apa saja di pikirin, padahal jangan gitu kan?.

SIAPA SIH GUE?

Iya ya siapa sih gue?

Emang semua golongan darah A begitu?, ya gue nggak tau.hahah

Bukan Cuma orang itu yang ngingetin kalau gue kebanyakan mikir, orang terdekat gue. Keluarga, Temen kuliah, temen kerja, dan entah temen atau bukan sih, temen yang nemu di social media sampai sekarang komunikasi kayak keluarga sendiri, kayak udah temenan lama dan udah pernah ketemu dan kepisah gitu, ya padahal belum sama sekali ketemu. Kalian ada nggak temen yang awalnya nemu di media social dan komunikasi sampai bertahun tahun, tapi belum pernah ketemu dan pengen banget ketemu?

SIAPA SIH GUE?

Gue sekarang bukan siapa-siapa, cuman manusia yang kerja di bawah pimpinan dan kuliah. Ya sejauh ini hidup gue nggak seseru pikiran gue waktu SMP, KELILING DUNIA :D, hahahah

Guys tulisan gue makin ngelantur udah dulu ah nulisnya.

yang mau tau kabar gue?, gue baik-baik aja, cuman lagi setengah waras, udah itu aja. SIAPA SIH GUE? Gue Audhina, masih Audhina yang sama.

Wasalam 🙂

By audhina Posted in Curhat