MATA KEMARAU

Hallo readers apa kabar, kali ini aku bakal posting cerpen. Kalau bukan karena untuk tantangan Kampus Fiksi #FragmenKemarau, mungkin aku masih pingsankan seluruh ide-ideku. Ya dari pada banyak omong. Mari membaca o(^^o)
Mata Kemarau
Oleh : Audhina Novia Silfi

Ranting pohon jati di pinggiran jalan itu seolah bicara kepadaku, apa yang tengah kau tunggu? Katanya, dan mungkin akan ku jawab, seseorang yang mampu melihatku. Kini ranting terlalu jauh dari daun yang telah jatuh. Aku sekarang bukan aku yang dulu, jangan bahas mengenai hal itu dahulu, tentang kehilangan dan tak pernah di temukan. Terlalu asikan melamun di atas sini, jangan-jangan mandor sudah siap memarahiku. Aku bergegas turun dari atap bangunan yang sudah 40% selesai ini.
“Ini siapa yang Welder disini?”benar saja dia mencari-cari Weldernya.
“Anu bos..saya tidak tahu.”
Aku menghampiri pria yang paling gemuk dan perutnya buncit itu tengah bersidekap dan menatap tajam.
“Saya bos, ini tinggal sedikit lagi. Akan segera saya buat laporannya.”
“Kau ini bisa gesit tidak kerjanya? Katanya welder berpengalaman. Selesaikan sebelum sore ini berakhir.”
Matanya semakin melotot, wajahnya seperti hendak meledak, mengingat betapa banyak anak buahnya yang juga malas-malasan akibat keterlambatan gaji.
Embusan angin di atas sini seolah membekukan keseluruhan milikku, termasuk hatiku, maupun simpatiku. Ya ampun aku benar-benar lapar.
***
Malam semakin larut, aku sudah berada di tempat yang lebih mirip dengan tempat pengungsian. Ruangan 7 x 7 ini di isi oleh 5 pekerja bangunan. Tadi sore karena tidak sama sekali di antara kita membawa uang, solusi utamanya adalah gopreng habah, entah mengapa tindakan mencari tumpangan di bak truk di sebut begitu. Kini kita sibuk masing-masing, sudah lelah dengan segala hal tentang bangunan 40% jadi itu.
Seperempat sore sebelum kami pulang, aku dan kawanku memilih sejenak merokok dan melamun. Tiap sekitar pukul 17.00 aku selalu memperhatikan gadis itu. Walau terlihat kecil dari jarak ini, namun seolah aku tak asing dengannya. Sampai-sampai aku mengetahui jadwal pakaian yang dia kenakan. Seolah memang aku ini kurang kerjaan, sangat kurang kerjaan.
Dengkuran teman seperjuanganku mengusik lamunanku. Di tempat ini, hanya ada kipas angin dan manusia. Dan bila di jelaskan lebih jauh maka menjadi, kipas, angin, manusia, dan seseorang yang tengah kesepian. Aku mendelik ke arah tubuh-tubuh kekar yang sudah tidur nyenyak. Saatnya aku mencari udara segar, sudah menjadi kebiasaan tak bisa tidur sebelum jam 11 malam. Rokok, kopi, dan pikiran linglungku.
“Hey, sejak kapan Mas Yon di sini sendirian?”Teman yang aku ikut bawa dalam perjalanan mencari uang ini akhirnya menghampiri.
“Memangnya penting?”
Aku berhenti menghisap rokok, aku lirik ke arahnya namun urung.
“Sedang apa di sini? Masih bingung cara agar bisa berkenalan dengannya?”
“Ah sudahlah, kali ini aku malas membahas yang itu, ini lebih penting dari kelihatannya.”
Dia sudah duduk di sampingku, seolah dia memang di takdirkan bersahabat denganku sejak dari kandung, sehati dan sejiwa.
“Memangnya apa?”
“Kalau terus di proyek ini mungkin uang kita akan habis saat gajian nanti. Aku tadi siang sempat bertanya pada mbak-mbak penjaga warteg itu, utangku sampai 600 ribu, belum kopi dan rokok tiap hari begini.” Aku mengusap-usap keningku. Pikiran malas memikirkan uang, namun selalu terlintas begitu saja.
“Ini bukan Mas Yon yang saya kenal, tumben sekali memikirkan uang?”Dia menepuk punggungku
Benar katanya, kali ini aku sangat berubah, tak lebih dari sekedar orang putus asa yang pikirannya tentang uang terus menerus. Kelihatannya memang aku harus segera pindah proyek setelah menerima gaji nanti. Yang kalau di hitung mungkin hanya sisa 500 ribu, ah sudahlah malas sekali berhitung.
“Jadi bagaimana dengan gadis yang selalu Mas Yon tatapi tiap sore itu?”
Ini perkara yang bersisihan, kali ini aku juga tengah malas membahas hal itu. Aku diamkan saja si Rae, dan akhirnya ikut ngopi dan merokok.
***
Tak hanya sekali ini aku menemukan mandor pelit seperti mandor di tempat ini, daripada mengeluh tak kunjung ada hasil, baiknya aku bergegas memulai pekerjaanku.  Orang bilang ketika jatuh cinta, seseorang akan menjadi semangat. Dan ku pikir aku tidak sedang jatuh cinta. Mungkin sekedar kagum dengan gadis itu. Atau jatuh cinta yang tertunda. Istirahat nanti aku akan mencoba mencari keberadaan gadis itu, aku yakin dia bekerja di rumah sakit tepat depan bangunan yang sedang aku kerjakan ini. Rae belum tahu hal ini, dia Welder di bagian lain dari bangunan, sepertinya aku akan mengajak anak itu untuk menemaniku, betapa ciutnya nyaliku.
Aku bekerja di bawah pengawasan pengganti mandor, entah hari ini mandor gendut itu tak muncul dan bersidekap sok tangguh.
“Mas Yon mari makan.”teriak Rae mengusik tugasku yang belum juga kelar.
“Duluan saja Rae, nanti aku menyusul.”Aku mengibas mengusirnya
“Yasudah saya duluan.”
***
Tadinya aku ingin mengajak Rae, namun sepertinya jiwaku benar-benar tangguh, aku mendatangi tempat itu. Rumah sakit ini sangat luas, aku saja yang bodoh dan nekat, mengapa tidak menunggu saja dia lewat seperti tiap sore di lakukan, namun saat sore hari aku masih terjebak dengan proyek yang harus aku kerjakan, aku duduk sejenak di bangku taman bawah pohon beringin, pasti orang-orang yang melihatku bingung. Mengingat betapa kumal dan pakaianku benar-benar kotor.
Benar saja satpam menegurku, dia kira aku pekerja bangunan rumah sakit.
“Kau seharusnya tengah bekerja di gedung baru ruang VIP itu bukan?”
Aku menggeleng, “Saya bukan pekerja bangunan Pak.”Menggeleng penuh tenaga
Satpam itu akhirnya pergi, memilih tak peduli lagi.
Beberapa detik setelah Satpam itu pergi, aku jadi ingat pekerjaanku, aku lantas berlari menyusuri jalanan rumah sakit yang tengah padat ini. Di tengah ke terburuanku ini, aku menabrak kursi roda kemudian benar-benar terjatuh karena lantai licin. Ya ampun, aku segera bangun, kemudian melihat yang ada di kursi roda. Kemudian bergegas minta maaf kepada pasien yang ada di kursi roda
“Pak maafkan saya pak, saya terlalu terburu-buru.” Aku tak memandang siapa yang berada di depanku
“Yon? Kau Lion Welder anak buahku bukan?”Nada suaranya sedikit menyentak
Aku semakin kaget saja dengan kejadian siang bolong ini
“Pak Mandor? Pak maafkan saya pak.”
Dia menatapku semakin sarkas saja, aku tidak tahu dia sedang sakit, kepalanya di bebat perban. Aku tengah menunggu jawabanya.
“Yon kembalilah ke proyek, kau welder berbakat. Dan sementara itu aku juga minta maaf pabila aku terlalu galak, dan aku minta do’a dari kalian semua anak buahku.”
Aku melemaskan otot dan jantungku, ternyata tidak seseram yang aku bayangkan. Aku mengangguk takzim, bingung sekali harus mengatakan apa. Suasana agak mengeras begini rasanya, aku sejenak tadi menjauhkan fokus dari mandorku itu, beralih kepada suster yang mendorong kursi roda mandorku itu.
“Yon kau mau apa lagi? Cepatlah bekerja kembali.”
“Baik Pak.”
Aku sekarang enggan menjauh, lihatlah perempuan yang tengah berada di belakang mandorku ini. Yang sedari tadi aku cari-cari.
“Awas kau berani lirik anak ku Yon!”
Aku terperenjat, hal bodoh macam apa ini?, ada banyak hal yang bisa di kaitkan, mengapa perempuan ini ber bapak seperti mandorku ini. Perempuan itu tersenyum menatapku, wajahnya semakin teduh bila dia tersenyum begitu. Aku tak tahu sama sekali yang aku rasakan saat ini.
“Yon jangan coba-coba kataku.”
Aku mengangguk, kemudian pamit dan berjanji akan mendo’akannya cepat sembuh. Aku berjalan seperti terhuyung kesana kemari, rasanya seolah khayalanku musnah begitu saja.
***
“Mas Yon kenapa, di perhatikan dari tadi seperti kebanyakan pikiran saja.”
Dia menghampiriku, seperti biasa sebelum benar-benar akan pulang kami duduk di atap gedung. Aku terus saja menghisap rokokku.
“Rae, aku lupa menceritakan hal ini, kau tahu apa yang aku lakukan tadi siang?”Aku meliriknya
“Tak mengerti sama sekali.”
“Aku menemui perempuan itu di rumah sakit, hanya saja satpamnya terlalu galak.”
“Maksudnya Mas?”
“Sepertinya kita harus mendo’akan Bos Mandor segera sembuh.”
“Mas Yon semakin meracau saja, kurang kopi sepertinya ya Mas?”
Aku memilih bungkam saja, malas menjelaskan kepada Rae. Benar kata mata kemarau, lupakan kemudian menangislah bersama hujan. Benar pula pabila aku terlalu cepat menyerah.
Rae menyerahkan sebungkus rokok kepadaku,
“Sepertinya Mas Yon kurang rokok juga, silahkan ambil punya saya.”
Aku nyengir lalu menepuk punggungnya.
Selesai

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s