AKU LUPA

Iya aku lupa dimana menaruh semangat menulis ku, dimana catatan indah 2015 ini akan berjalan indah. Setengah jalan tahun ini sudah banyak target yang dapat aku laju, dan bahagia, sedih, lalu terpuruk aku alami di tahun ini, Hey Audhina come on wake up. Jangan jangan karena kau dendam dengan Ramadhan ke 20, dimana Ayahmu pergi untuk selamanya? Aku akan mengangguk keras.

Memang benar, aku masih susah bangkit dari kesedihan, dari beberapa mimpi yang memang tak akan tergapai tanpa Ayah.

Aku lupa kapan terakhir kali aku melihat senyum Ayahku sendiri, ah apa mungkin ketika aku telat gajian, dan dia mengejekku. Mungkin itu terakhir kalinya canda tawaku dengan Ayah.

Sejenak kacau kemudian waras, ataupun sebaliknya. Hidupku tak normal lagi sepertinya. Hidup itu simple sebenarnya kan?, Cuma mungkin aku yang buatnya ribet dan membuatkan suatu alasan tiap kejadian itu terjadi, padahal mengalir saja seperti air, seperti kata orang. Kadang aku memang selalu takut menerjang arus, tapi perlahan saja akan aku cicil, biar aku sampai hulu dengan selamat dan sampai puncak dengan bangga, menulis terus Audhina!!!, bekerjalah untuk keabadian.

Iklan

Gunung Sunda #ExploreSukabumi

hallo readerss. semangat..semangat..

yang pacaran, dan yang jomblo mana suaranya :D, yang jomblo jangan suka baper dan gampang jatuh cinta yah…:*..lah ini sebenernya memberi wejangan terhadap diri sendiri. Oke guys, ini gue mau share tempat yang baru saja gue kunjungi kemarin. Minggu, 22 Agustus 2015.

Gunung Sunda.

Sebenar-benarnya adalah bukit dengan ketinggian 650 mdpl. Terletak di Desa Pada Asih Kecamatan Cisaat.

Gue udah tau Gunung Sunda ini sejak Februari tahun ini, semenjak boomingnya #savegunungsunda karena terancam penggerukan atas keperluan pembangunan perusahaan semen.

Gue tetarik banget untuk segera mengunjungi tempat ini, Mumpung teman semasa kecil sedang libur kuliah. Jadi ini itu semacam mbolang yang tanpa awang-awang (dua-duanya belom tau tempatnya), walhasil dengan modal nekad, jam 08.00 capcus berboncengan.

Harusnya cuma 20 menit dari Kota Sukabumi, sayangnya sempat nyasar, karena salah belok #plakkkk gue ketakutan, kedinginan, dan kelaparan  eh enggak ding. Karena merasa memang salah jalan, akhirnya minta tolong Google Maps. Daaaann nyasarnya ternyata jauh juga, #Plakkk. Kenapa nggak dari awal aja pakai google maps? Nah itu dia, kenapa ya?:D.

Oke akhirnya kita sampai gerbang masuk Gunung Sunda, dan tadaaaaa di parkiran sama sekali nggak ada kendaraan, ternyata salah waktu. Berdasarkan percakapan dengan petugas disana, waktu favorit pengunjung adalah saat sunset dan sunrise. Dan pas lihat jam jam 09.00, benar-benar salah waktu, tapi nggak papa, yowes. berasa gunung sendiri pas mendakinya. Ada warung juga di pertengahan jalan. Oya guys, penarikan biaya cuma Rp 2000/per orang buat Kebersihan dan Pelerstarian, dan Parkirnya juga cuma Rp 2000. Karena gue pernah nanjak Gunung Gede, dan sobat gue yang berbaik hati nemenin gue ini pernah nanjak Gunung Andong, dan Gunung Lawu, lah pas tiba-tiba udah nyampai puncak ini Gunung Sunda, (Keduanya melongo) bingung, Ohh udah nyampek ya :D. Jalanannya sudah teratur, sudah di buatkan jalur, dan pegangannya dari bambu. Dari awal harusnya judulnya Salah Waktu Naik Gunung :D, iya cuacanya lagi panas total, ini sekarang gue lagi demam :D. tapi walau begitu, mari lihat-lihat hasil foto-foto dari atas sini.

Selamat Datang di Gunung Sunda Sukabumi

Selamat Datang di Gunung Sunda Sukabumi

DSC01306

DSC01442

ceritanya pohon tunggal 😀

DSC01359

Wanita adalah makhluk kepastian. :). Bila waktu mengizinkan aku tuk memeluk mu, satu hal yang aku ingin peluk, kesetiaan yang kelak kau berikan untukku sampai akhir hayat nanti,(nahhh jadi mendadak galau begini) :D.

DSC01331DSC01231DSC01444DSC01397DSC01365DSC01478

Masih banyak sebenernya foto-fotonya.

Guys coba kesini yaaaa, asik juga kok tempatnya :). See You Soon Gunung Sunda, eh Bukit Sunda. #savegunungsunda

I LOVE YOU “D”

“D”

Jari-jariku mengulik gudang folder dalam “D”, entah apa yang aku temukan. Sama saja yang aku tuju “Untitled Folder”. Kemudian membenahi mereka yang tak kunjung mau rapih bila aku tidak datang, bahkan mungkin sampai mesin laptop ini hancur lebur mereka perlu tanganku untuk membenahi.

Setiap file aku amati, ya siapa tau ada ide nyelip disana. Walau kebanyakan aku sering lupa menulis ideku yang emas itu, dan enyah menghilang sia-sia di makan waktu. Mereka melambai-lambai kepadaku seolah bilang dan percaya akulah dewa mereka, dewa alfabet yang memijit keseluruhan dari mereka, mungkin mereka akan sulit lupa aku bila aku pingsankan impian aku. Kan memang begini kelihatannya, orang selalu kurang impian. Padahal dalam hati dan pikiran menggunduk tak terduga. Yang bahkan D tak mungkin menampungnya, meski perlu men-delete beberapa kenangan saja, rasa-rasanya tangan jahil akan selalu mengorek dalam tong sampah itu, kemudian menumpahkan kembali kedalam D. Entah apa sebenarnya mau hati.

Kāu tahu D? aku menduakanmu, menduakan dengan hal fantastis lainnnya. Kāu dan pepohonan belakang rumah yang kunjung tumbuh lalu menunggu di gergaji, Pohon Jati Belanda yang kini tumbuh ramping dan feminim mengikuti jari tumbuh namun masih saja di tempat yang sama. Bahwa aku tersadar duduk di jendela sambil menatapmu dan dia, sama-sama jalan di tempat. Karena semua memilih diam dan menunggu jariku.

Bersyukurlah karena aku mengurusimu D, walau aku masih gagu untuk menulis judul folder ini, masih aku biarkan “Untitled Folder”, sungguh berjibun impian ada di sana. D dan Pohon Jati Belanda, bersyukurlah karena aku mencintai kalian. Para makhluk berukuran mikro saja akan cemburu terhadap kalian.

Audhina Novia Silfi (Sukabumi-01 Agustus 2015)

Ada Radio Tua yang Buat Aku Kangen

Ada Radio Tua yang Buat Aku Kangen

Audhinadaw- Agustus 2015

Ku temukan benda ini, dan aku cemburu padanya

Ku temukan benda ini, dan aku cemburu padanya

Kalau ada yang bertanya, suara apa yang kau rindukan?, untuk sesaat aku akan bilang Radio, dan di susul bunyi bunyi lain yang mengasyikan bila di bahas.

Ini kisah seorang yang tak patah arang. Bayangkan betapa rindunya dia terhadap ayahnya yang baru saja meninggal di bulan Juli, di saat hujan sedang bersemi malu-malu. Bayangkan dia yang saat ini meringkuk pura-pura mati sambil memeluk radio itu dengan perasaan kosong karena terlalu sakit dengan segala kenyataan bahwa ayahnya meninggal.

Gadis itu tak mau bilang bahwa dia sedih, dia selalu tersenyum walau sejenak kemudian muram dan menyebarkan aura yang bahkan negatif.

Yang bahkan kau bisa menyelami lamunannya, yang mungkin memikirkan hal kecil yang tak dapat di jawab, seperti mengapa mie rebus buatan sendiri tak se enak yang ada di warteg, sudahlah berhenti berlari-lari menghindari kenyataan, BAHWA, SESUNGGUHNYA, lalu KEMUDIAN.

Suara-suara radio itu selalu menemani gadis itu tidur, walau sebenarnya tak tertidur sedangkan si pemiliknya malah tertidur pulas. Gadis itu sempat mengomel ketika pagi menjelang, sambil mengungkit dan mengingat jam berapa dia baru bisa tertidur karena suara bising radio yang sesungguhnya hanya berbunyi dalam volume 1 saja.

Ah aku yakin dia menyesal, setidaknya dia sempat membiarkan ayahnya senang mendengarkan radio, walau dirinya sulit tertidur.

Yang mungkin radio itu hanya akan di pajang di atas meja kayu ukuran 0,5 mx 0,5 m. di diamkan begitu saja, hingga benar-benar lupa, atau mungkin hanya pura-pura di lupakan.

Dear Bapak di Syurga, Gadismu rindu padamu. Datanglah sejenak kedalam mimpiku