AKU

Pagi yang selalu dingin ini ku pilih untuk beranjak merenung. Untukmu yang telah memperlihatkan cahaya bulan, untuk mu yang memperlihatkanku cahaya bintang, untukmu yang memperlihatkan aku deburan ombak.
Kini aku pilih duduk di pojok ini, pojok ruang hampa yang semakin hampa ketikaku sedetik lalu mencoba menyentuh dunia yang orang bilang itu cinta. Cinta kanak kanak yang bahkan aku tak pahami.
Ketika aku berumur 18. Seolah semua terbuka begitu saja, namun kurasa itu tak pantas. Yakinlah aku menyesal, seharusnya aku tetap AKU yang setahun dahulu.
Untukmu yang memperlihatkan betapa berharganya AKU. Untukmu yang selalu tergesa-gesa, maaf aku memilih menghindarimu dan kembali ke realita bahwa aku TAHU DIRI.
Aku lebih baik setahun lalu, apa aku menyesal? IYA, benar-benar menyesal. Bahkan rasanya seperti mimpi. Aku berharap bangun dan sadar.
Bahwa AKU yang di anggap sangat dingin ini belum pantas. Good Bye. Rasanya aku telah menyakiti hati seseorang, MAAF, MAAF dan MAAF.
Aku akan kembali ke kehidupanku saja. Dan memasang wajah yang sedemikian tak pernah terjadi apapun, aku bersyukur selama umurku 18 tahun. Dan 4 bulan kemudian 18+1, aku bukan anak kecil lagi. November aku datang….

Iklan