PUISI DALAM SEMINGGU

PUISI DALAM SEMINGGU

OLEH : AUDHINA NOVIA SILFI

16.03.15 (11:34) Gundah

Aku hilang melayang di pusaran gelombang laut,

Dimakan waktu lalu menjauh,

Merajuk pada angin Oktober agar mendekat

Kemudian membawaku ketepian pantai November

Gundah tanpa koma Ku timang rindu di otakku berlari-lari tak tau arah

Hingga mungkin?

Kau menjauh hilang wahai angin Oktober

17.03.15 (21.20) Bu

Bu Kalau bisa, lebih baik aku korbankan apa untukmu bu?

Aku berubah semanak belakangan

Bukan nada daya Aku masih belum menerima

Hilang dari belantara kasihmu bu 12 musim kemarau bu

Kalau bisa apa mungkin bu?

Walau aku ini anakmu bu

Apa bisa bu?

Aku mati duluan saja..

18.03.15 (06:26) Berhenti Berharap

Tata surya tetap tak berubah

Kiamat belum meletup

Entah mungkin aku malah memikirkanmu melebihi siapapun

Salah…Ini pasti salah

Harusnya aku berhenti berharap saja

Edelweis masih indah bersama gemintang dan udara dingin pucak gunung

Semanak pun sifat yang tak dapat meluluhkanmu

Aku berhenti berharap..

Aku berhenti berharap (titik)

Moga kau menghilang saja

Kumulonimbus pun berpihak padaku

Celaka bila aku menyuruhnya menghujanimu dengan sapaan hangat

Lebih baik kau menghilang

Sungguh kau tak mengerti Dandelion pergi untuk hidup dan kau pergi untuk untuk mematikanku Pergi..pergi saja Kau tau?

Kau lebih buruk dari awan cyrus

Dia ada untuk keindahan dan kau ada untuk kehancuran

Maka pergi kau pergi sungguh pergi..

Dan tanpamu hidup ini mungkin akan indah

Setidaknya hidupku

Ke egoisan memenuhi ruang ini yang hampa

Kau sudah membumbuinya tanpa ketepatan

Maka rancu dan tak sempurna sudah hatiku ini

Aku memilih berhenti berharap untuk melupakanmu

19.03.15 (16:51) ?

Aku terdiam sesaat di persimpangan

Memandang kemasygulannya di sudut kota

Mengunyah benda hitam yang merenggut seluruh selorohnya

Hey kau menjauh jangan halangi aku

Jangan Ayoh mari tak seganlah dengan persimpangan bersama

Denganku melewati buntu ini

Hay Kau apa kabar?

20.03.15 (15:16) ?

Ruang ini terlampau sempit untuk kau dan ku

Pojok angkutan umumlah yang mau kau tetap disini saja

Namun pojok hatiku tak memintanya

Bagaimana bisa dan mungkin jika kau malah mendesak begitu

Maka pergi saja kumohon..

Pada akhirnya aku menemukan teman lain untuk membantuku

Menata dalam ruang sempit ini Wasalam

21.03.15 (17:32) ?

Jalan jalan ini mencegahku untuk menginjaknya

Sama seperti hujan ini yang enggan membasai tubuhku

Aku jatuh cinta pada sosokmu Oh ya ampun

22.03.15 (17:10) ?

Kau tak tau bahwa aku yang menunggumu paling lama

Sejak aku lahir bahkan Kau bahkan malah mencampakkan aku Jadi bagaimana?

Bisa kah kau tak seharusnya datang

Bodohnya aku yang malah menerimamu mengisi sejenak

Ah apadaya…

Iklan
By audhina Posted in Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s