MBAH KAKUNG

MBAH KAKUNG
Oleh : Audhina Novia Silfi

Bejana di ruang mandi itu nampak penuh, mulut keran rusak tak kunjung di sumpal. Dia meneriaki supaya aku menyumpalnya. Derap langkahku menuju keran itu, sekiranya waktu itu aku belum melaksanakan sholat subuh. Di dapur penuh jelaga itu Mamak mengaroni nasi. Dinginnya udara menusuk-nusuk tulang. Sebelum Mbah Kakung meneriaki lagi. Baiknya aku segera mengambil wudhu kemudian sholat.
Gemericik air teh terdengar dari teko, Mbah Kung mencuci muka dengan air sisa teh kemarin. Kini segera ku timba air dari sumur. Sayup-sayup sholawat dari masjid masih terdengar. Angin terus saja menusuki tulang. Minggu pagi semua harus gerak membersihkan rumah. Sebaiknya harus sadar diri, Aku ambil bekatul, di campur rajangan daun papaya, kemudian di campur rata dengan air−guna makanan para itik dan ayam. Sekiranya saat mentari muncul, ember penuh makanan itu segera kutuangi ke masing-masing dari kandang mereka. Selesai sudah tugasku. Nasi yang dimasak Mamak sudah matang.
Aku ambil duduk di ambến depan Mamak yang sedang mengupasi bawang. Aku ambil pisau lain membantunya “Semalam mimpiku aneh sekali Mak…” Dia sama sekali tak menggubris.
“Mimpi apa memangnya?”Mbah Kakung menengahi kesunyian
Mataku tajam menengoknya yang tengah membuat teh tubruk, “Mimpi Mbah Partinem memberikan bunga papaya pada Mamak.”
“Apa kiranya arti dari mimpi itu Mbah?”
Teh dalam teko di tuangnya ke gelas kemudian ditambah sisiran gula aren, Mamak kini menatapku dan terus saja diam. Nampaknya malas menimpali.
“Mimpi tu hanya bunga tidur Nduk, jangan pula di pikir macam-macam, Yang perlu kamu pikir itu. Kenapa Pisang berwarna Jene?” Suara sendok berbentur berkali-kali dengan kaca gelas, kemudian Dia duduk dan menyeruputi gelas penuh teh hangat.
“Apa pentingnya Mbah?”Kemudian aku terkikik
Mamak akhirnya mengeluarkan suara terkikik bersamaku. Mbah Kakung berlanjut mengurusi bangkai burung elang yang dia temukan saat merapihkan galengan sawah.
***
Bersyukurnya aku dua orang hebat pengganti Ibu dan Bapak selalu ada sejak aku berumur 12 bulan dan 5 purnama, Wajah mereka keriput namun tetap sehat semoga. Minggu ini nampaknya akan sangat panjang. Aku memilih ikut Mbah Kakung ke sawah, meninggalkan Mamak bekerja mengurusi rumah.
Mbah Kakung berseru sepanjang pematang-pematang sawah yang kami lewati, aku memerhatikan cangkul yang di panggulnya. Mbah Kung bercerita kesana kemari masalah sawah dan hama. Aku yang masih kecil ini bisa apa, hanya tertarik pada bermain dengan kawan-kawan saja. Kalau saja dulu Mbah Buyut tak buru-buru menjual berpuluh hektar sawah ini kepada Mandor itu. Mungkin sekarang Mbah Kakung dan Mamak dengan senang hati merawat sawah ini, tidak sebagai buruh. Saat jaman kolonial masih berkuasa di bumi Indonesia. Mbah Buyut memiliki sawah luas yang bisa memberinya hidup. Namun yang tak bisa aku telan sampai sekarang adalah. Mengapa Mbah Buyut merelakan sawah bertukar dengan geplak, ironis memang. Mungkin saat itu Mbah Buyut belum berpikir panjang, atau bahkan sama sekali tak berpikir. Ya Apalah daya, anak cucunya sekarang hidup menjadi buruh mengurusi sawah yang bukan miliknya.
Aku merutuki nasib dalam hati, “Mengapa kamu melamun terus?”Tanya Mbah Kung sudah berhenti berjalan.
“Ah tidak Mbah, hanya terpikir lagi mendiang Mbah Buyut.”
Air mukanya berubah seketika, Aku menyesal berucap lagi tentang Mbah Buyut. Kami sudah sampai di sawah yang hendak di bersihkan dari rumput hama.
“Biar begini, yang penting cucuku masih bisa bersekolah.”ujarnya mantap sambil menceburkan kaki kepada lumpur sawah.
Aku mengangguk tersenyum. “Masih Alhamdulillah ya Mbah.”
Kebanyakan bermain di sawah membuat rupaku tak karuan, hitam tanpa cela sama sekali. Rambut masih hitam namun bau metari. Ibu dan Bapak ku merantau ke Jawa Barat. Aku sejak umur 1,5 tahun sudah di titipkan kepada Mbah Kung dan Mamak. Saat kemudian aku duduk di bangku kelas 6 SD lalu tamat, kemudian selesailah kewajiban mereka merawatku. Aku semakin berat saja meninggalkan mereka. Ini adalah hari-hari terakhirku di kampung ini. Kampung penuh sejuta cerita dari aku yang seorang kecil tanpa cita-cita mantap layaknya air.
Aku ikut-ikutan mencebur kedalam sawah. Ya tujuannya untuk membantu tapi entah apa benar tindak tandukku ini membantu Mbah Kung. Apa malah mengganggu sama sekali. Bau rumput bercampur lumpur menusuk-nusuk hidungku namun tak membuatku segera menjauh dari sawah. Aku sering bingung mengapa wanita-wanita di daerah Kota sering Ku lihat di televisi tetangga sangat jijik pada sawah, berteriak-teriak ngeri seolah melihat kotoran manusia berceceran.
“Nduk, pulanglah kerumah. Bantu Mamak menjemur padi!.”Serunya kepadaku yang sedang asik mencabuti semanggi dari antara pokok padi yang sedang tumbuh ideal.
“Sebentar lagi Mbah.”Aku mengelak pulang. Dari pada bosan menunggui padi di jemur kemudian mengusir ayam-ayam agar tak memakan padi itu, lebih bermanfaat tenagaku di sawah.
***
Tiga hari lagi Bapak akan menjemputku ikut ke Jawa Barat. Disana rupanya aku sudah terdaftar sebagai murid suatu SMP negeri. Tinggal tiga hari lagi, namun sangat cukup berat. Berat melepas semua yang telah terukir nyata di sini.
“Ucapmu sejam yang lalu akan pulang, bagaimana kamu ini Nduk.”ucapnya dari petak sawah yang lain. Aku meringis, dari pada di bentak lebih baik segera pulang membantu Mamak menunggu padi di jemur. Aku segera mentas dari sawah. Kakiku kotor sekali, ku basuh sampai bersih di sungai.
“Mbah Aku pulang dulu!”.Aku berlari-lari sepanjang pematang sawah. Tanpa takut jatuh sama sekali.
Sampai rumah, benar saja padi sudah di jemur. Dan Mamak malah tertidur di kursi bambu panjang. Ayam-ayam itu sarkas memakan padi. Aku bergegas mengusirnya. Membiarkan Mamak tetap tertidur. Ku lihat jemuran sudah kering, segera ku angkati. Kembali lagi mengawasi padi jemuran. Suasana ini, melihat Mamak tertidur begitu nyenyaknya−guratan kerja keras jelas di wajahnya itu membuat enggan pergi dari sini.
Derap langkah terburu-buru terdengar dari barat daya, rupanya Mbah Partinem−adik ipar Mamak menggebu ingin menyampaikan kabar. Dari air mukanya aku lihat pasti akan ku dapat kabar yang tak mengenakkan.
“Mbak? Mbak yu!”Teriaknya membanggunkan Mamak dari tidur. Menyambut berdiri dengan air muka tegang.
“Ada apa Yu?”
Aku pun ikut berdiri ingin sekali mengetahui kabar apa dari Mbah Partinem.
Nafasnya masih terengah. “Yu, Mbah Kakung pingsan di sawah.”Biji keringat besar-besar meluncur dari wajahnya.
Aku entah apa yang harus dilakukan tubuhku ini, kebas tak hendak bergerak. Mamak segera melempari pertanyaan kepada Mbah Partinem.
“Sekarang dimana Mbah Kungnya?”
“Di bawa ke Rumah Sakit Yu!”.
Mamak menarik aku dan Mbah Partinem, segera menuju Rumah Sakit dengan mengunakan kendaraan pick up milik Pak Broto−mandor sawah, beruntung Pak Broto bersedia mengantar kami. Di perjalanan itu, ku perhatikan air muka Mamak pucat tak karuan. Mbah Partinem menyertai kami. Aku membayangkan mimpiku semalam dan baru ku ketahui dari ucapan Mbah Partinem yang bergetar itu bahwa Mbah Kakung terkena bisa ular kobra.
-Selesai-
Buat Mbah Samadi, Aku akan ke Yogyakarta Mbah -Audhinadaw

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s