SELEMBAR DAUN

Readers :), ini cerpen kedua di 2015..cerpen ini dan KOTA ES DAN EROPA sama-sama draft lama yang saya selesaikan..yah walau agak ribet ya..tapi moga aja dapat di nikmati.haha lets go.

SELEMBAR DAUN
Oleh : Audhina Novia Silfi

Gito berjalan gontai di lorong gelap itu. Di tepian Kota Yogyakarta, Bulan bulat di singgahnya, ranum jambu sudah tak kentara. Kelambu dari mata menatap kedepan. Memanglah rambut sudah beruban namun wine itu masih kuasa menggelincir dari mulut sampai usus kemudian lambung. Kendaraan sedan para turis asing sudah tiba. Tadi majikannya bilang, Wine tahun 1996. Betapalah liurnya menetes deras ketika melihat deretan wine mahal di gudang bawah tanah itu. Satu botol wine tahun 1999 di raihnya. Baru tiga tegukan, langkahnya sudah amat gontai. Hampir saja, botol tahun 1996 itu jatuh saat batu seukuran biji nangka itu mencoba menggelincirkan tubuhnya. Beruntung telunjuknya dapat menopangnya.

##

“1996?”
“Ya 1996!”
“Bergegaslah, turis-turis dari negeri kincir angin itu akan segera merapat.”
Biar Partinem tak bersungut, dia cepat berjalan. Sedari tadi baju ala koki yang sudah lusuh akibat semprotan apapun yang ada di dapur itu melekat di tubuhnya, otaknya sudah jengah dengan asap dapur, walau ada penyerap asap, tetap saja sesaklah dada Gito.
Bulan bundar, kelam begitu kentara sekarang. Di dalam terenyuh ramai, di luar seolah telapak tangan yang terbalik, terlalu sepi. Mungkin karena sudah pukul delapan malam.
Kata majikannya, kunci suksesnya adalah melapangkan dada. Gito mendengus ketika dibukanya gudang wine itu.”Omong kosong.”
Omong kosong pula jika dia tiba tiba kaya raya begitu.
Otaknya seolah di penuhi gelayut angka 1996 . “Rindu rasanya…”
Wajah 40 tahunnya tegas tergaris urat pohon palem.
Gito masih begitu sadar, segera melangkah masuk ke dapur, botol tahun 1999 dia taruh di pot bonsay belakang dapur. Riuh lagi yang menempel di otaknya. Gito bergegas memberikan wine itu kepada pelayan untuk di sajikan. Tuan kaya rayanya sedang rapat dengan pengusaha kincir angin. Mobil mewah berjejer mentereng di halaman rumah gedong itu.
Gito sudah selesai dengan tugasnya dari 12 jam bekerja. Dia enyah dari dapur. Di iringi beberapa orang lainnya. Pekerja yang baru datang telah mengambil alih kerja segera.
“1996.”batinnya
Dia menyilahkan yang lain berjalan, Gito ingin memanjakan lidahnya dengan wine itu. Dia buja kemudian di teguknya banyak banyak. Berjalanlah dia dengan semakin gontai, mata merah semakin kentara. Benteng Vedeberg sudah gelap menyisa selembar daun jatuh di atas benteng.
“Selembar daun?”
Apalah arti hidup ini tanpa wanita itu. Batinnya mendengus sumpah serapah.
Keraton kemudian Malioboro. Di pilihnya pinggiran jalan tanpa sorot lampu penerang untuk segera menghabiskan wine itu. “Mati atau hidup?”
Kacau seperti gabah tumpah dari lumbung padi. Wanitanya selalu bersorot kilap tetes dari mata, itu saja yang bisa dia ingat. “SELEMBAR untuk hidup?” Tanyanya sendiri. “Yang benar saja?” Dengusnya sebal pada majikannya, sang interprener sejati konon.
Baju koki masih betah menempel di badannya. Wine tinggal setetes. Bodohnya Gito melupakan tas lusuhnya yang menggantung di dapur. Dompetnya disana, terpaksalah dia kembali lagi. Otaknya sulit berputar, Wajah wanitanya terus saja paksa mengurai dalam kenangan, wajah 1996 yang saat itu hanya bisa menangis terlintas jelas, membikin hatinya dingin dan kepala semakin pusing seperti heroin yang paksa masuk kedalam paru paru.
Malioboro, Keraton, kemudian Benteng Vedeberg. Selembar daun itu di timpa daun lainnya. Melewati sedikit lorong lalu sampailah dia di rumah gedongan itu. Badannya semakin gontai karena kantuk mencampuri mabuknya. Pukul 12.
Kakinya kepanasan, sebaiknya duduk dulu di dekat pot bonsai belakang dapur. Gito sejenak melepas kaki palsunya. Gerah pikirnya.
Derap langkah terdengar, bukan alas kaki biasa, itu suara alas kaki wanita mahal. Kemudian terdengar suara teriakan.
“Apa yang terjadi Embun?”tanya terdengar suara majikannya
Semua berkumpul melihat seorang yang duduk santai. Wanita itu kaget bukan main.
“Itu kaki palsunya, dia kegerahan.”
Jelas majikan yang konon bijaksana
Gito segera memakai kakinya lagi. Apa apaan?.dengusnya sebal.
Wanita itu ber oh dengan penjelasan itu.

##

Bahunya di rengkuh majikannya itu. Matanya meminta penjelasan. Gito berusaha bangkit lalu mengambil tasnya. Majikannya lebih muda dari Gito.
Dia benar benar mabuk, rasanya ingin sekali cepat sampai ruang kontrakan yang penuh kesederhanaan itu. Rasanya tadi wanita itu masih mengamatinya, semua sulit untuk di pikirkan sekarang, Perasaannya lebih peka saat ini di banding pikirannya.

##

19 tahun lalu sebenarnya apa yang telah Gito lakukan, hingga senja begini apapun dilakukan sendiri penuh sepi. Bodoh, memanglah sangat bodoh. Andai saat itu dia menolak tawaran menjadi kurir narkoba di Bali, Kakinya kena korban saat Bom Bali II meletup.
Sungguh sebenarnya dia menyesal. Ketika semata wayangnya lahir dengan segala kemiripan campuran antara dirinya dan wanitanya. Wanita muda yang masih berkepala satu itu dia nikahi saat Gito berumur 23 tahun. Ketika kembali ke daerah penuh segala keistimewaan itu dia tak dapat menemui keduanya. Hanya nyinyir yang selalu dia dapat bila bertanya. Kurir juga pekerjaan berguna dan menghasilkan, di pikirnya yang penting kaya raya. Kini dia jadi babu tanpa sedikitpun senyuman dari wanitanya dan semata wayangnya.
“Gito, dapatkah kau bantu kedepan, tuan kerepotan membenahi koper untuk dimuat ke mobil.”ujar Partinem
Seperti biasa tanpa basa basi langsung ambil kerja. Ya walau selalu juga di iringi dengusan sebal. Sebab harusnya Pak Temu yang harus mengangkut.
Sampai di depan pelataran luas itu 3 koper siap di angkut Gito kedalam bagasi, Pak Temu mengurusi mobil kawan majikan kaya itu. Konon mobil baru tapi sudah ngadat. Selesai pula pekerjaan dadakan itu. Kemudian Gito pergi kembali kebelakang untuk mengotori baju dengan asap dan sebagainya.
“Gito!”seru majikannya itu mencegah Gito bersegera kembali ke dapur. Dia lantas berbalik arah.
“Ya tuan?” Dalam hatinya bersungut-sungut.
“Tidakkah kau ingin bersapa dengan mantan istrimu?”
Wanita itu tetap menggelayut manja di tubuh tuannya
“Mohon diri untuk kembali ke dapur tuan. Sedang sangat sibuk di belakang”
Tuannya itu mengelakar puas. Gito bersegera menjauh tanpa menatap siapapun. Wanita itu bukan lagi Darti yang melahirkan Embun 17 tahun silam.
Miris perih menghujam segala penjuru nalarnya. Wanita semalam itu kini bertengger di antara kalangan sukses semalam.

##

Terlepas siapa wanitanya seorang siapa sekarang. Gito akan tetap hidup.Dingin angin ikut prihatin menyelimuti Gito melamun di bawah jembatan.
Gito teringat dengan ucapan Tuan tak tau perasaan orang itu. SELEMBAR untuk hidup. Konon saat dahulu Tuan kaya raya itu seorang pedagang buah di Pasar Krangean, uang lusuh seribu rupiah itu adalah keramat, saat dia selesai berdagang, seluruh uang di masukan kedalam dompet beserta uang lusuh itu. Dan ketika pagi menjelang. Uang di dompetnya bertambah banyak. Awal mula tuan itu bercerita Gito tak pernah percaya. Namun kini dia berotak bengis ingin juga cepat kaya. Bulan setengah di langit miris menatapnya.
“Kowe bakal modyar Gus!”

SELESAI

“Aku akan kembali Jogja”- Audhinadaw

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s