KOTA ES DAN EROPA

2015, aku ingin banyak menulis di sini sekiranya bermanfaat atau tidak sama sekali, setidaknya aku menulis.
Berikut cerpen pertama di Biru Pupus ini. Aku masih mengagumi kota es-Sukabumi, yang nampak selalu dingin di pagi hari.

KOTA ES DAN EROPA
Oleh : Audhina Novia Silfi

Dia tergolek lemas semacam kapas berpilin berukuran micro (µ) ,semalam Rin tidur di kamarnya. Dia bilang sedang ingin bertapa. Angin menelusup masuk lewat kisi-kisi jendela kamar berukuran 4×5 meter itu. Pagi ini Rin terbangun melihat wajah gadis itu yang terantuk sendu. Matanya berkantung hebat.

***

Tiga tahun berlalu, wajahnya semakin lusuh tersolek debu. Rin berjalan di koridor ini seminggu sekali.
Memangnya angin bisa bicara?, lantas apa yang musti di jawab?. Luka tertoreh jelas di sana, di batu besar bukit kecil itu. Biarlah dia meminum wine itu sampai puas. Sampai tak bisa mengamuk lagi. Mengingatnya membuat Rin semakin menohokkan luka kepada batu itu. Menusuki batu dengan paku besi sampai puas tiada ampun membuatnya lega. Memangnya Batu bisa bicara? Lalu Rin harus menjawab nestapa?. Kalau memang ketika paku tertancap di batu keras itu. Rin bersumpah akan memanggil namanya.
Dia seharusnya menemani Rin di bukit itu. Mengamuk bersama pada tanah liat terpijak. Tania, gadis itu terus saja melolong jika wine sudah setetes dari botol. Membuat Rin bising lalu menangis. Hujan Desember ini semakin menjadi saja, tanah terpijak itu licin karenanya. Kalau saja Tania disana, dia bisa meluncur bersama.
Rin bermata sipit itu semakin menyipit. Rinai menetes mengalir di wajahnya.
“Jangan disipit-sipit begitu, kau ini si sipit.”
Suara itu mengubun lagi seketika saat dia tergelincir karena kantuk dari batu itu.
Matahari ikut tergelincir dari singgahnya. Rin bergegas pergi dari bukit itu. Membawa kecewa karena Tania tak bersamanya.

***

“Kalau tahu begini mending aku masuk siang!”Sungut-sungut wanita berpakaian serba putih itu kepada kawannya.
“Sudahlah, lagi pula tak semerah lipstick kan.”Ucap yang satunya menghibur.
Rin tertunduk, mengira pasti Tania menumpahkan wine lagi ke badan wanita itu.

***

Tubuh semampai indah itu terkulai lemah. Di ruangan itu sendiri cukup luas bak ruang penjara. Bedanya Tania di ikat rantai. Dia tak segan menumpahkan isi lambungnya bila kenyang karena wine. Rin meratapi betapa salahnya hari ini, hanyakah karena itu dia harus mengorbankan Tania yang sekarang gila wine itu. Selalu tertunduk semakin dalam ketika memasuki ruang sekap Tania.
Lihat, gadis berkulit putih pemilik mata kejora itu masih saja berantakan, lantai merah dimana-mana. Terus saja begitu, melolongkan namanya yang tak asing lagi. Mata sipit itu mengalirkan rinai lagi, kemudian dia memilih segera meraih rambut Tania untuk di jamahinya, di sibak-sibak sampai wajah manisnya itu tertampak.
Usanglah sudah harapan untuk sama-sama mengarungi indahnya kehidupan kelak. Tania oh Tania, batin Rin masih mengkal. Akhirnya tak tahan juga, Dia berteriak.
“Tan, tunggulah disini. Akan ku bawa bocah biadab itu kemari.” Dia mengelus pipi merona itu kemudian berlari keluar dari ruangan terkutuk itu sambil menepis rinai yang membasahi pipinya.

***

Januari jelas menempel di tembok tiga tahun lalu
“Kini giliranmu Rin.”ucap Tania, kemudian menutup mulut menahan tawa.
“Tidak mau, jikalau kau mau meminum ini sampai habis dalam seteguk, aku baru mengindahkan apa maumu itu.”
Tania agak terperangah mendengar kalimat itu meluncur dengan lancarnya dari Rin. Apa boleh buat, Tania merangsek mengambil botol itu. Matanya tajam melirik, ingin membuktikan bahwa dia mampu mengambil tantangan demi agar Rin melaksanakan gilirannya.
Giliran bodoh, mengencani lelaki bernama Robert, pria keturunan Belanda-Inggris yang telah lama diam di kota es ini. Hanya untuk mendapatkan gombalan yang kata Tania sangat manis mendayu-dayu.
Rin melongo, di fikirnya sedang ada anjing laut yang tak lebih sedang meneguk habis bir itu. Rin menggeleng lemas. Ternyata Tania tak main-main, ingin memperkenalkan aku pada si Belanda-Inggris itu. Ya sudahlah, dengan hati mengkal Rin masih kikuk melihat Tania sejenak condong ke kanan lalu ke kiri kemudian jatuh lalu berdiri lagi.
“Pergilah sana menemui James, dia telah menunggu sejak lama kedatanganmu.”ucapnya patah-patah. Nama lelaki itupun salah ucap benar-benar melenceng.
Rin mengkal dan lesu. Baiklah dia berganti pakaian dan sedikitpun tak bersolek namun gayanya ini natural tetap manis, dia acuhkan Tania yang sedang mabuk berat di ranjang Rin.
“Cih..kalau bukan karena Tania, aku malas menemuinya.”Rin sepanjang jalan tak habis-habisnya mengumpat diri sendiri, apa gunanya jika harus pada akhirnya malah dia yang menemui lelaki itu.
Dan inilah awal kebobrokan itu. Rin datang ke tempat yang pelatarannya penuh dengan mobil bergaya dan beberapa motor besar terpakir necis. Mobilnya terpakir diantara yang lainnya. Penuh sesal merambati seluruh tubuhnya, Ia berjalan dengan malasnya ke dalam Les Trois, Coffeshop bergaya Eropa.
Benar saja inilah awal kebobrokan itu. Robert mantan suami Tania itu sedang menungguinya. Tania sudah benar-benar gila. Ia hendaki Rin berkencan paksa dengan segumpal daging besar yang sedang menatap kagum kearah Rin. Ini sudah benar-benar tak sebanding dengan tantangan Rin yang dahulu, saat Januari tahun lalu, dia hanya menginginkan Tania memanjat tebing terjal gunung belakang rumah untuk mendapatkan bunga berwarna ungu yang mudah layu yang entah apa namanya, sekarang Rin benar-benar menyesal telah melangkahkan kaki di ruangan yang sejatinya hangat oleh hembusan kopi segala rupa dan beberapa bau backing powder kue menusuki hidung. Tapi entahlah gadis bermata sipit ini memilih tak mengindahkan bau yang mengenyangkan itu, matanya tertutup pelupuk setengah, memilih memandangi lantai berternit gaya eropa di bawah kaki semampainya.
“Rin!”panggil gagah lelaki itu menyilahkan segala ruang dan waktu hanya untuk Rin bermata sipit dan pipi meronanya.
Ramai ruangan itu tak membuatnya malu berteriak memanggil Rin, suaranya berat gagah terkulum. Rin malas melangkah lagi. Robert menarik tangan Rin. Demi apa?, “Aku harus mengencani raksasa ini? Yang benar saja Tan, Lihat kau menjadikan aku tumbal.”
Kakinya terus melangkah. “Baiklah kalau maumu begini Tan, aku akan laksanakan apa maumu, untuk segera melenyapkan Robert dari Kota Es ini.” Hatinya terus saja berbicara fasih kesal.
Di persilahkannya Rin duduk di kursi yang begitu indahnya berplitur khas Eropa itu. Tania, entah apa yang sedang dia pikirkan, bukankah ini malah menjadi jalan jembatan rapuh untuk persahabatan lamanya dengan Rin.
“Betapa terkejutnya aku Rin.”Ucapnya semangat dalam Belanda
Mata abunya menatapi Rin si sipit yang sendu. Pasrah dengan tantangan Tania, terang saja semua ruang dan waktu coffeshop ini di peruntukkan Robert seluruhnya. Dia pemiliknya.
Di hantarkanlah dua cangkir berisi kopi robusta dan red velvet menyusul.
“Aku sangat bingung, apakah kau bersedia aku ajak ke Belanda bulan depan?, dan selamanya di Belanda?”Ucapnya patah patah dalam bahasa Indonesia
Rin masih mengkal, namun terperenjat juga. Apa-apaan pula daging besar ini langsung terus terang begitu, sama sekali tak mengindahkan kacaunya pikiran Rin saat ini. Dia menatap tajam mata abu-abu itu. Namun sekejap kemudian dia tembuskan pandangan entah kemana pikirannya mengembang.
“Baiklah.”Ucapnya lembut penuh arti lain dari artinya
“Benarkah kau bersedia?”Robert mengulum senyuman
Tangan Rin yang semula tertaruh di meja di jamahi Robert.

***

Kenangan itu mengelayuti pikirannya, langkahnya cepat beradu pada jalan setapak itu menuju panti asuhan. Sebulan kemudian tetang cerita itu. Akhirnya Robert pergi ke Belanda tanpa Rin. Dia sengaja meninggalkan Robert, dengan segala daya upaya memohon pada petugas penjaga pintu masuk yang melarang untuk Rin meninggalkan pesawat. Lalu melarikan diri pulang ke kota es. Tania terbahak saat itu, puas atas hasil kerja Rin.
“Aku bahkan tak lebih dari se ekor putri duyung! Menghilang seperti buih”serunya galak
“Tan mengapa kau inginkan Robert kembali ke Eropa?”
Mereka bersitegang ketika itu di ruang tengah rumah Tania.
“Biar kenangan ikut kembali ke Eropa, aku lebih suka Kota Es.

***

Setengah tahun berlalu Tania seolah telapak tangan yang mudah di bolak balik. Mentalnya memang tidak beres setelah menikah dengan Robert si lelaki berbadan tegap besar itu. Dan di tambah dia stress dalam pekerjaan kemudian hobinya yang amat nista itu. Apadaya dia menginginkan Robert kembali ke Kota Es ini.
Jiwanya terguncang, jauh kedalam dalamnya.
Hanya tempat serba cat putih luas inilah Rin dapat mengadu sepuasnya. Pada para pengasuhnya ketika belum di adopsi.
Rin tak akan pernah bisa mengembalikan Robert kembali. Mungkin bila lelaki itu sendiri yang nanti rindu Kota Es dan tiba-tiba kembali.

***

Aku pasrah apa yang akan terjadi pada Tania, kakak pemilik senyum manis itu. Dan segala daya upaya telah ku pikirkan namun tak ada terlaksana, mungkin bila Robert kembali dia obat yang akan menyembuhkan Tania. Walau sikapnya benar-benar berubah setiap saat, namun Nampak semian dari Robert masih mengakar kedalam jiwanya, Aku patah arang.
Rin diam dan terus diam, mengamati perawat membersihkan tubuh semampai Tania, dan beberapa lainnya membersihkan “kandang” itu.
Ditatapinya wajah Tania lamat-lamat oleh Rin, entah apa yang terpikir keluar dari mereka berdua.
“Kau jangan terus muram Rin, aku sedih.”
Kalimat pertama sepanjang tiga tahun dia di rawat di “kandang” itu.
Lalu bibirnya tertarik, tersenyum begitu manisnya.
Tubuh telanjangnya itu masih di urusi perawat
Betapalah rinai bahagia mengalir di wajah Rin, disambarnya tubuh Tania dan mereka sama-sama tersenyum.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s