Radio In Love

Radio In Love

Penulis Audhina Novia Silfi

Sukabumi, 11 Juni 2014

Ini Sudah yang ke tujuh kalinya Lola meradang kepada Piko, agar Piko menemaninya mendengarkan radio kesayangannya. Dan sudah Piko bilang kepadanya bahwa Piko juga tak menyukai radio bahkan televisi.

“Piko..loe itu kurang updet atau apa sih? Loe nggak pernah dengerin radio bahkan nggak pernah nonton televisi, ini zaman modern plis deh.”Gerutu Lola di belakang punggung Piko

Sedangkan Piko sibuk menggerakkan mulutnya mengikuti setiap perkataan Lola yang keluar dari mulutnya. Sampai detik ini Piko yang terkenal kutu buku namun gaul abis itu bisa dihitung sejak dia lahir berapa kali menonton televisi atau mendengarkan radio. Aneh memang, tapi Piko ini adalah seorang cewek yang sangat mencintai buku, tepatnya novel.

Siang itu mereka bertemu di sebuah foodcourt untuk saling berkangen-kangen setelah satu tahun mereka berpisah menggeluti dunia perkuliahan di luar kota. Lola yang memang sudah mengerti betapa anehnya sifat sahabatnya itu, akhirnya mengalah.

“Piko…jadi kita marahan nih?kita kan baru ketemu lagi?”rajuk Lola

“Ampun deh kamu ini nggak pernah berubah ya.”ucap Piko akhirnya tersenyum

Karena sudah setahun tak bertemu akhirnya mereka kesana kemari menjelajahi ingatan mereka tentang masa SMA dulu.

“Inget nggak dulu loe pernah naksir seseorang?”sambung Lola sambil menggodai Piko yang berubah pink di wajahnya.

“Apa-an sih loe, loe juga pernah naksir sama dia kan?”serang Piko seketika

“Dan akhirnya kita memilih ngelupain dia, supaya kita tetap bersahabat.”Kenang Lola

Piko hanya berdehem ria, Sambil terus membaca buku yang baru saja dia beli.

Dahulu saat mereka duduk di bangku SMA, pernah suatu ketika naksir sama cowok idaman satu SMA, bernama Jo, kepanjangannya iJo, eh bukan tapi Joni.

Matahari semakin kentara di atas sana, sampai debu jalanan menguap bersama angin kota. Mereka masih bersiteru dengan saling mengede rasakan kedua belah pihak tentang Jo di koridor kelas XII IPA 1. Padahal saat itu Jo sudah mempunyai tambatan hati, sudah resmi pacaran sehari yang lalu. Tetap saja bencana bagi ceweknya Jo, karena memiliki pacar seantero sekolah mengidaminya, hanya para ceweknya saja lho nggak termasuk para cowok. Piko dan Lola juga tahu diri lah, hanya sebatas naksir tanpa lebih lagi, karena kalau terlalu tinggi kadar naksirnya bisa-bisa sesak dada saat melihat Jo bersama pacarnya.

Piko yang tak terlalu antusias tiap Jo liwat didepannya lebih mementingkan buku…buku dan buku. Lola yang kadar naksirnya tinggi hanya bisa memble tiap kali Jo liwat depannya. Tahu tidak! Piko sebenarnya cewek tipenya Jo lho, kebetulan Jo suka cewek pendiam tapi gaul. Suatu hari Jo menegur Piko di perpustakaan. Piko yang nggak ada keahlian menyembunyikan kesukaannya pada cowok idola seantero SMA itu hanya bisa tersenyum, rasanya susah sekali bertanya kepadanya.

Di lain waktu, inilah yang membuat Lola keranjingan menjadi hobi mendengarkan radio. Ehemm Jo salah satu penyiar di Radio sekolah.

Pernah suatu hari dia memberanikan diri merequest lagu dengan pesan singkat dan dibumbui rasa kagumnya terhadap Jo. Piko yang kutu buku ternyata diam-diam juga memasang telinga bila Lola sangat antusias mendengarkan radio. Bukan lumrah bila Piko mendengarkan radio, dia hanya diam-diam memasang telinga saja.

Siang semakin meradang, mereka berdua masih asik masing-masing di foodcourt.

Bukan juga hal yang menarik bila kisah ini di ceritakan. Piko masih membaca buku miliknya sedangkan Lola mendengarkan Radio yang ternyata Jo sekarang jadi penyiar di salah satu radio kota yang terkenal. Maka semakin antusiaslah Lola.

“Piko, buset ya. Ini cowok suaranya makin kece badai.”

“Loe, biasa aja kali, suaranya tetep sama aja.”

Lola manyun semakin manyun sudah bibir tipisnya itu.

“La..gue ada keperluan lain nih, loe mau ikut nggak?”

“Kemana gitu?kayak orang sibuk aja, paling ke komunitas buku? Atau komunitas penulis? atau mau ke kantor redaksi?gue tau lah.”

“Sok tau loe, mau ikut nggak?”tawar Piko terdengar misterius.

Lola akhirnya nurut mengikut saja. Di perjalanan menuju tempat tujuan Piko, yang mengikuti malah manyun manyun, sambil menebak pasti ketempat yang nggak asik.

“Lola, loe mau ikut masuk nggak?”Tanya Piko

Sedangkan yang ditanya hanya bisa melongo, melihat Piko masuk ketempat tujuannya. Piko Oh My God. Lola terkejut setengah mati melihat tempat apa yang ternyata di tuju Piko sedari tadi.

“Lola..loe sehatkan?”

Karena tak kunjung mingkem akhirnya Piko menarik tangan Lola untuk ikut masuk.

Di ruangan kaca itu Lola bisa melihat sesuatu yang tak pernah dia lihat setahun silam, sedangkan Piko sibuk menemui seseorang memberikan suatu naskah cerita.

“Piko…”lirih Lola memanggil

“itu…”lanjut Lola

“Apa? Iya itu Jo.”ucap Piko sepele.

Lola bukan main terkejut, ternyata sahabatnya itu selama ini sudah semakin akrab saja dengan Jo.

“jangan salah sangka dulu, gue nggak terlalu akrab sama dia.”

“gue cuma nulis naskah cerita buat satu program gitu deh di sini, udah sejak setahun lalu, barengan sama Jo yang masuk sini sebagai penyiar. Gue suka ngirim cerita lewat e-mail.”

“gimana?loe senengkan ketemu dia?”

Yang diajak ngobrol hanya bisa melongo melihat di dalam ruang kaca itu. Jo yang saat itu menyadari ada seseorang memperhatikannya, lantas melirik dan menyadari itu Lola. Lalu melambaikan tangan sambil tersenyum. Lola melayang ke udara, penampilan Jo semakin kece saja.

“Pikooooo…bantu gue..”sibuk Lola mencari pegangan

Sedangkan Piko hanya menggeleng-geleng.

“Piko..tau nggak? si Jo, dari bulan lalu nanyain loe tuh, kayaknya kangen.”sindir Kak Malik salah satu penyiar juga yang sedang nongkrong disana.

“Ah elo, liat tuh temen gue bisa-bisa bunuh gue.”

Kak Malik, Piko, dan Lola saling bersitatap kemudian tertawa.

***

Rencananya Piko dan Lola akan menghabiskan waktu liburan semester ini di Kota kelahiran mereka ini, jadi semakin antusiaslah Lola mencari info tentang Jo.

“Piko..loe jahat banget, kok nggak ngasih kabar kalau jadi penulis naskah lepas radio itu?”

“enggak perlu deh kayaknya, bisa-bisa loe semakin negative pikirannya.”

Lola hanya mengangguk-angguk.

Sore ini mereka berencana mengunjungi SMA, berdua saja. Memutari seluruh ruangan SMA, semua masih sama seperti tahun lalu. Piko yang sedang antusias mengenang SMA terganggu dengan Lola yang malah antusias dengan segala tentang Jo.

“Piko…loe tau nggak? Jo udah ada cewek belum?”Sambil tersenyum, eh bukan tapi lebih mirip menyeringai tajam.

Piko menghindarkan wajah. “dia udah ada pacar kayaknya, baru aja kemarin gue sempat liat dia jalan sama cewek.”

Lemas sudah Lola seketika.

“Janganlah terlalu sedih La, memangnya kamu mau hidup dalam masa lalu terus, kamu ini harusnya sudah bisa melupakan Jo.”ucap Piko menasehati.

“OK! Lagi pula aku hanya sekedar kagum kok.”ucap Lola lemas

“gue tau banget loe. Makannya jangan mikirin cinta melulu. Ini nih korban dari TV sama Radio.”ucap Piko tertawa

Angin sore menjemput daun di lapangan basket. Mereka berdua sedang melamun di tepinya, yang satu terlihat gelisah, dan yang satu masih berharap Jo untuknya.

Ini sudah satu tahun, Piko masih tak mau memberi tahu Lola suatu hal yang penting ini.

Piko selalu mengurungkan niatnya, namun mungkin ini adalah waktu yang tepat. Semakin lama jika di rahasiakan semakin besar pula resikonya.

“La..gue mau kasih tau loe.”Piko menelan ludah

“kasih tau aja kali, kayak orang awam aja loe?”santai Lola membenahi duduknya

“loe tau nggak, gue paling nggak suka kalau loe sedih?”Tanya Piko sungkan

“iya itu udah tentu tau.”Lola semakin penasaran saja dengan tatapan Piko yang berbeda dari biasanya.

“gue nggak mau loe sedih, ini cuma masa lalu La.”ucap Piko masih takut memberi tahu

“terus apa?”

“gue pernah di jodohin sama Jo!eh tapi jangan marah dulu, gue tolak kok, lagian ortu gue kolot banget masih main jodoh-jodohan segala.”Jelas Piko lalu tertawa

Lola hanya bisa mengangguk, dan melongo tanpa ada perkataan lagi. Semakin dalam sudah dia menenggelamkan kepalanya dalam tundukan. Lola merenungi suatu hal yang sangat penting, ini sangat menyangkut Piko. Ternyata apa yang selama ini Lola takuti kenyataan sudah, Lola sudah mengira bahwa Jo lama sayang sama Piko. Dulu Lola pernah di titipi surat cinta dari Jo, intinya Lola disuruh memberikannya kepada Piko. Dan sampai sekarang Piko tak tahu Jo pernah memberi surat, itu karena Lola menyembunyikannya, Lola saat itu dimakan api cemburu pada sahabatnya itu. Piko yang semakin tak mengerti dengan diamnya Lola, lantas bertanya.

“loe marah?”Tanya Piko khawatir.

Lola menggeleng lemas. Ternyata sahabatnya itu melebihi apa yang dia kira selama ini, selalu menjaga perasaannya bila Jo diam-diam malah melirik Piko. Selalu mengalihkan perhatian Lola bila Jo sedang memperhatikan Piko. Itu semua demi Lola.

Piko saat malam perjodohannya sebelum keberangkatan esok paginya untuk berkuliah di luar kota. Hanya bisa menarik nafas panjang lalu menghembuskannya, Piko mentah-mentah menolak perjodohan itu, Jo yang saat itu tersenyum melihat Piko, berubah muram tak karuan, Piko benar-benar tak mau bersama Jo. Maka tuntas sudah Piko melindungi perasaan sahabatnya itu. Walau semakin pupus sudah Piko menggapi Jo, yang diam-diam sangat dia kagumi.

Lola yang sore itu semakin bingung saja, kalut oleh rasa bersalah.

“gue juga nggak mau kalau loe sedih.”Dengus Lola

Lola menyambar tubuh Piko untuk di peluk, banjirlah air mata Lola.

“hey..ada apa sih La?gue jadi bingung.”Tanya Piko semakin takut

“makasih Piko.”ucap Lola tersedu

Mungkin ini garis-garis takdir itu. Lola tak mungkin berani mengungkapkan hal tersebut sore itu juga. Maka langit sore indah itu di habiskan oleh Lola menangis memeluk Piko.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s