Tiga Tangkai Bunga Mawar

Tiga Tangkai Bunga Mawar

Cerpen Audhina Novia Silfi

Sukabumi,03 Oktober 2013

            Pagi yang sunyi di suatu ruko yang menjual peralatan olah raga, sebelum jam weker membangunkan Tio, dia hari ini sudah bangun lebih awal karena ingin memastikan tokonya akan baik-baik saja. Ini dikarenakan  ada kejadian yang membuat Tio paranoid sampai bela-belain pasang CCTV yang notabene lumayan mahal untuk mengawasi tokonya, Orang tua Tio telah lama menyerahkan toko itu untuk Tio, Karena orang tuanya sudah mempunyai toko lainnya yang menjual peralatan memancing. Yap!keluarga Tio adalah keluarga pedagang yang sudah malang melintang dan terkenal sebagai pemilik toko yang laris banyak pengunjung di kawasan Sukabumi. Tio sekarang sudah tinggal sendiri di ruko itu, walau sebenarnya Tio ini tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Tio masih terbilang ABG yang masih bersekolah di SMA, tetapi sekarang sudah harus mandiri karena orang tuanya mengajarkan seperti itu. Alhasil Tio makin ancur-ancuran aja, kamarnya makin ancur, lemarinya makin ancur, Cuma satu yang nggak ancur, Apa itu? Tokonya dan hatinya. Untung saja sifatnya yang nggak mencintai kebersihan ini tidak mampu menghancurkan toko milik keluarganya itu. Tio baru seminggu berada di ruko itu dan baru proses penyesuaian menjadi pemilik toko itu. Sebenarnya Tio cuma tugas jaga malam tokonya soalnya kalau siang dia harus sekolah dan sudah ada petugas yang menjaga tokonya. Tio mulai sekarang harus nyuci baju sendiri untung pakai mesin cuci, harus masak nasi sendiri untung pakai risecocker, dan harus masak mie sendiri walau mie instan cup yang tinggal ditambah air panas langsung ngembang, kadang dia juga beli makanan dari restoran padang sebelah tokonya jadi nggak perlu khawatir tentang perut. Sebenarnya Tio sangat mengkhawatirkan tentang kisah cintanya, Iya. Dia sampai sekarang belum juga dapat pacar lagi setelah putus dari pacarnya dua tahun yang lalu. Tio mulai khawatir dan berusaha mencari perempuan pelengkap hatinya.

“Loe dimana?” SMS singkat dari Andre merusak paginya, beruntung Tio sudah selesai dengan urusan kamar mandi, dan dapur maksudnya mandi dan makan.

Tio malas mengetik, akhirnya dia menelphone Andre

“Gue dirumah, kenapa?”

“Jangan lupa bawa makanan ya?”suruh Andre

“Ah loe, kayak nggak tau aja, gue kerepotan idup sendiri tau!”

“woles bro. Gue kan Cuma mesen aja siapa tau loe mau bawain soalnya gue hari ini bakal latihan total buat lomba futsal minggu depan.”

“Ah loe, memangnya gue ini apa loe, gue bukan koki tau. Udah ah bro gue mau berangkat ni.!

“Tapi bro!

“Tut…tut..tut!”Tio langsung menghentikan percakapan itu dan memang juga karena faktor pulsa yang mulai menipis.

Dia berangkat sekolah pukul setengah 7, karena harus menunggu penjaga toko yang selalu datang pada jam tersebut. Setelah penjaga toko itu datang Tio bisa lega meninggalkan tokonya. Dia dengan santainya mengendarai motor matic nya menyusuri jalan raya menuju SMA Dharma Wangsa.

***

            Siang hari menjelang sore, Tio sudah nampang di meja kasir menunggu pelanggan datang. Toko milik Tio ini memang toko peralatan olah raga paling laris di jajaran toko disana, jadi tiap beberapa menit pengunjung banyak yang keluar masuk dari sana. Sampai di beberapa menit kemudian ada cewek berpenampilan tomboy mengenakan kaus tim sepak bola sekolahnya sambil menggendong tas yang penuh dengan buku pelajaran masuk kedalam tokonya.

“Ada yang bisa saya bantu mbak?”Tio reflek melakukan hal ini setiap pelanggan memasuki tokonya.

“Ini mas..!”Cewek itu memotong kalimatnya karena kagum melihat wajah Tio yang ganteng, eh enggak ding.

“eh elo kan! Tio ya?”Cewek itu kenal dengannya

“eh Melsya, Baru selesai latihan ya?”Tio tahu betul cewek itu baru selesai berlatih sepak bola bersama Andre dan anggota tim sepak bola SMA Dharma Wangsa.

“oh jadi ini toko punya loe?”Melsya senang dalam hatinya bisa mendapatkan diskonan dari tokonya.

Tio agak salah tingkah menghadapi Melsya, usut punya usut Tio sudah lama memendam rasa kepada Melsya cewek tomboy kapten kesebelasan putri SMA Dharma Wangsa. Melsya memutari luasnya toko Tio itu, dan Tio hanya bisa senyum-senyum menatap Melsya yang kebingungan memilih-milih barang disana. Sampai pada akhirnya pilihan jatuh pada sepatu bola berwarna hitam dengan garis putih. Melsya senang akhirnya bisa menemukan barang yang sangat dia inginkan.

“Wah..keren banget ni toko. Ini sepatu dari kemarin gue nyari baru gue temuin disini.”

“siapa dulu yang punya toko. Gue gitu lho!”Tio merasa bangga

“Jadi berapa yo?”Melsya menanyakan harga kepada Tio, dan Melsya sudah mengambil dompet dari dalam tasnya.

“Cuma tiga ratus ribu Mel, eits tapi karena loe temen gue jadi loe dapet diskon 10%!”Tio langsung begitu saja nyeletuk mengeluarkan penyataan itu tanpa pikir panjang, apa yang akan terjadi bila orang tuanya tahu dia mempermainkan harga tanpa persetujuan mereka.

“Serius loe? Wah thanks banget ya?”Sambil menyerahkan uang tunai untuk membayar sepatu bola itu Melsya tersenyum kegirangan mendapat diskon dari Tio. Walau sebenarnya nantinya Tio yang membayar hasil rekayasa diskonnya dengan uang jajannya. Cinta itu pengorbanan. Pelan-pelan tapi pasti.

“Makasih banget ya yo, gue pulang dulu”Sambil mententeng kantung bermerek toko milik Tio itu Melsya pulang dengan sangat gembira.

***

            Sebenarnya sudah lama ini Tio sering SMS bahkan Telphonin Melsya, Cuma hanya satu yang menghalangi, Tio belum menguasai teknik yang jitu bermain sepak bola, begini ceritanya, awal pertama saat Tio jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Melsya di lapangan futsal, saat itu Tio sedang menonton Andre bermain dan ternyata ada satu di timnya seorang cewek berparas cantik yang piawai bermain bola, dari situlah Tio mulai menelisik semua tentang Melsya. Andre pernah bilang bahwa Melsya hanya menyukai cowok yang jago olah raga. Nah ini dia kelemahan Tio, dia punya penyakit asma yang menjadikan alasan sampai sekarang Tio nggak bisa olah raga apapun, tapi demi cinta lima bulan itu Tio berlatih sekuat tenaga diajari Andre. Ya walaupun harus berkali-kali balik ke tepi lapangan mengambil alat hisap obat asmanya yang sering kambuh disela latihan. Namun hal itu tak menghalangi niatnya. Akhirnya hari itu datang Tio siap menunjukkan kepada Melsya bahwa dirinya bisa menguasai satu olah raga yaitu sepak bola. Hanya saja yang tidak di ketahui Tio sejak awal adalah Melsya membuktikan seorang cowok yang jago olah raga dengan cara cowok itu harus bisa melawan Melsya. Melsya sudah tahu betul bahwa Tio tertarik padanya. Siang itu dilapangan sepak bola sekolah, Melsya telah siap dan kakinya mengenakan sepatu baru yang baru kemarin dia beli di toko milik Tio. Penampilan Tio juga tidak kalah, karena mengenakan segalanya yang baru, modal gratisan ngambil di tokonya.

“Udah siap loe?”Ucap Melsya menantang

“Udah dong.”Ucap Tio sambil tersenyum manis

“Loe harus lawan gue sampai loe menang.”tantang Melsya

“HAH?lawan elo?kok gue lawan elo?”Tio kaget bukan kepalang..

“loe yakin bisa olah raga ini kan?”Ucap Melsya menantang lagi

“I..iya sih tapi nggak lawan loe juga kali.”

“Alah..loe nggak perlu takut!”Melsya sangat siap

Tapi Tio  mengernyitkan dahinya dan sangat khawatir kalah, Andre yang sekarang di posisi sebagai wasit tersenyum sadis kepada Tio.

“Priiittt!”Peluit di bunyikan dan permainan dimulai, Tio hanya terpesona melihat wajah Melsya yang sangat cantik itu.

Alhasil Melsya sudah mampu membobol gawang Tio. Aduh payah sekali dia baru sebentar sudah dibobol. Tapi demi cinta Tio melawan Melsya, beberapa kali Tio kualahan dan takut melawan Melsya tapi akhirnya Tio bisa mengalir dalam permainan sepak bola antara Tio dan Melsya. Andre yang mengetahui keadaan Tio yang harus menghisap obat asmanya, Selalu memberikan waktu kepada Tio untuk menghisap obat itu ya walau harusnya tidak ada pertandingan sepak bola yang pemainnya mondar-mandir balik ke tepi lapangan buat urusin suatu hal. Tetapi baru terhitung dua kali Tio kembali ketepi lapangan, karena kekuatan cinta Tio bisa bertahan, Melsya juga mengetahui penyakit Tio, itu sebabnya Melsya tidak marah ketika Tio selalu harus menghisap obat itu. Pertandingan berlangsung semakin memanas sempat seri tetapi akhirnya Tio unggul dan menang, Melsya kesal karena kalah. Akhirnya skenario yang sudah disusun Tio gagal total, Seharusnya setelah Tio mengalahkan Melsya, Dia mengutarakan perasaannya, tapi malah jadi seperti ini, Melsya kesal. Dia langsung mengemasi tasnya dan pergi secepat angin.

“Loe mau kemana Mel?”Tio khawatir

“gue mau pulang, ngapain coba loe ketawain gue kayak gitu sama si Andre?”

“ya gue seneng akhirnya bisa buktikan ke loe gue bisa jago olah raga.”

Tangan Tio yang memegangi tas Melsya langsung dia lepas setelah Melsya menatapnya nanar dengan penuh kebencian. Tio kesal tidak kalah dengan Melsya.

Andre yang hanya bisa bengong melihat kejadian itu langsung menghampiri Tio yang uring-uringan.

“Tenang bro, cewek secantik dia pasti luluh sama yang romantis bro.”

“Bener juga ya bro..masih ada jalan lain lagi.”

“Thaks banget bro.”

“Yo’a bro.”

***

            Siang itu Tio memberanikan diri mendahului Melsya sebelum dia sampai di rumahnya, Tio sepulang sekolah sudah merencanakan untuk menaruh tiga bunga mawar merah di depan rumahnya tepatnya di gerbang. Tio mengawasi bunga yang dia taruh di depan rumah Melsya, Setelah setengah jam Tio bersembunyi akhirnya Melsya pulang. Melsya dengan bingungnya mengambil tiga tangkai bunga mawar itu, Setelah lama Melsya bengong di depan rumahnya dia dikagetkan dengan munculnya Tio.

“Melsya?”Panggilnya

“Elo?”Melsya tercengang

Tanpa pikir panjang Tio mengutarakan persaannya.

“Mel sebelumnya maafin gue ya? Um..tau nggak mel tiga tangkai bunga mawar itu tanda bahwa gue nggak hanya mencintai loe, tetapi juga mempercayai loe, bahwa loe ada dalam tiga masa hidup gue yaitu, masa lalu, saat ini, dan masa depan. Dengan kata lain”

Hening sejenak sambil sesaat Tio menata hatinya

“Aku berharap bisa memiliki masa depan denganmu. Mau nggak loe jadi pacar gue?”

Melsya hanya tercengang mendengar penyataan cinta dari Tio. Mulut Melsya menganga. Dan akhirnya setelah beberapa detik Melsya bisa sadar dan bilang

“Gue mau jadi pacar loe.”

Tio yang tadinya cemas menunggu jawaban Melsya, langsung loncat dan memeluk Melsya dengan eratnya.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s