November Rain And Anonim

Hmmm, Kemarin adalah hariku.:)Gambar

November Rain And Anonim

Cerpen Audhina Novia Silfi

Sukabumi, 10 November 2013

            Sebelum muncul di langit yang cerah, matahari terbit sudah ku dahului. Aku sudah menunggu di halte, selalu masih pagi-pagi buta, menunggu bus datang, sebagai alat transportasiku menuju sekolah. Ku tarik nafas untuk mengawali hari ini. Bismillah.

“Kin..belum juga berangkat?”Tanya pamanku yang juga selalu mendahului matahari. Pamanku membawakan suatu program di radio di Sukabumi, setiap pagi hari.  Aku juga pernah di ajari untuk siaran, namun sayang bakatku bukan disana.

“Ini, sedang nunggu bus Paman”Jawabku sambil mesem.

“Owalah yasudah paman duluan ya Kin?”Paman langsung menancap gas motornya, dan hilang dari pandanganku.

Aku menganggukkan kepalaku seraya mataku kembali mengawasi ujung jalan yang menukik. Siapa tahu bus pertama segera datang. Biasanya tak lama sepeninggalan Paman, bus langsung datang. Aku tegok layar handphoneku, tak ada sama sekali pesan masuk. Aku selalu menunggu pesan dari Ira, dia berada di halte berbeda sebelum halte ini. Aku cemas tidak karuan. Di halte itu aku heboh sendiri, ketakutanku akan kesiangan semakin menjadi saja. Lalu seorang pemuda datang dan duduk di halte tersebut. Lalu kulihat seragamnya, Oh berbeda denganku. Lalu kembali ku tatap langit, padahal masih pagi buta. Karena aku terbiasa berangkat pagi buta, maka saat tertinggal berapa menit saja seakan membuatku kesiangan. Ku lihat jam tangan, dan sudah pukul 05.15 seharusnya bus sudah datang, tetapi belum juga datang. Tiba-tiba handphoneku bergetar. Ira menelphoneku.

“Hallo?”

“Iya hallo Ir, ada apa Ir?”

“Kin.. sebaiknya kamu harus segera menuju halte berikutnya. Bus tidak akan melewati haltemu. Disini ada kecelakaan, antara motor dan mobil. Cepat Kin.”

“Jadi tidak akan ada bus yang akan lewat sini?”tanyaku sambil berteriak kesal

“Iya Kin. Sudah dulu ya Kin.”

“Ok!.”

Aku lemas mendengar kabar itu, itu berarti aku akan kesiangan. Halte berikutnya harus ku capai dengan jalan kaki. Ah tak apa itu tidak jauh, pikirku saat itu. Aku setengah berlari menuju halte itu. Bus itu mengambil jalan pintas dan akan muncul di halte yang Ira sarankan. Aku harus bergegas sebelum bus itu sampai halte tersebut.

“Hey.” Di tengah perjalanan, ku merasa seperti ada yang memanggilku. Lantas ku tengok sumber suara itu. Ya ampun pemuda yang tadi bersamaku di halte. Tapi anehnya dia mengendarai motor. Kalau bawa motor kenapa menunggu di halte ya?. Ah sudahlah aku tak ada waktu.

“Hey, kau ini keras kepala ya?”

Aku bukannya keras kepala. Memangnya siapa dia? Aku bertanya-tanya di tengah lariku ini.

“Mau tidak jika aku antar kamu sampai kesana?”tawarnya lagi. Laju motornya disamakan dengan laju lariku.

Aku berhenti. Ternyata halte itu jauh dari dugaanku, masih jauh sekali. Aku berfikir sejenak. Dia menatapku dengan wajah tampannya

“Aku takut dengan orang asing.”jawabku datar

“Aku bukan orang asing.”Ucapannya misterius

Aku harus cepat mengambil keputusan, Jika tidak aku akan telat hadir di upacara bendera sekolah. Dan sudah pasti aku akan di jemur dilapangan.

“cepatlah naik.”suruhnya. dan aku masih ragu “Ayolah Kina?” Panggilnya kepadaku. Kok dia bisa tahu namaku?

“kamu kenal aku?”tanyaku masih begitu ragu. Dia menyodorkan helm untuk kupakai.

“Ah kamu cerewet! seperti yang kuduga.”Dia orang asing yang tampan dan dia sudah berani mengejekku? Oh ya ampun, Sebenarnya siapa dia? Ah sudah aku beranikan diri menerima tawarannya. Aku langsung naik motornya dan melaju dengan kecepatan aman sesuai aturan. Aku was-was, aku berteriak kencang saat halte sudah terlihat.

“turunkan aku di halte itu oke?”suruhku dekat di telinganya.

Dia tak merespon, tapi perlahan memberhentikan motor tepat di depan halte itu. Dan kebetulan sekali bus datang. Aku langsung turun dari motor dan melepas helm lalu memberikan padanya. Tapi saking inisiatifnya menaiki bus aku lupa berterimaksih padanya. Lagi pula aku tak tahu namanya. Dia laki-laki misterius yang menyebalkan.

Akhirnya aku dapat bus juga, aku dapat tempat duduk tepat di sisi jendela, Ira juga berada di bus tersebut. Aku tersenyum padanya. Lalu tak seberapa lama pesan singkat datang dari Ira.

“Kin, tadi siapa yang memboncengmu?kulihat dia tersenyum ke arahmu, tapi kau tak melihatnya.”

Aku tertawa membacanya.

“Aku juga tidak tahu siapa dia Ir.hehe.”

Setelah itu tak ada pesan singkat masuk dari Ira lagi. Di sepanjang jalan melihati pinggiran jalan  sambil melamun, aku tak habis pikir, dia itu siapa sih?, kok kenal aku?

***

Baru setelah pulang sekolah aku bisa mengingat siapa orang yang tadi pagi memboncengku sampai halte selanjutnya. Dia itu adalah anak bapak pedagang bakso, kadang dia kalau ada waktu sering mangkal di pangkalan ojek, aku pernah jadi penumpangnya. Aku benar-benar baru ingat sekarang, Ya lumayan ganteng juga kok, pikirku begitu. Oya aku bersekolah di Cianjur sedangkan rumahku di Sukabumi itu kenapa aku harus menggunakan bus pulang pergi. Siang itu setelah turun dari bus aku langsung menyebrang, dan dia yang berada di lapak baksonya melihatku sambil tersenyum kecil ke arahku meski sambil kerepotan melayani pelanggan yang ramai datang, Waduh? Lho kok dia senyum gitu ya? Aku jadi ngeri.

Aku baru merasakan sesuatu debar berdentam cukup keras saat aku melihat seseorang, ini serius. Setelah cukup lama menunggu akhirnya ojek datang, aku harus segera pulang kerumah mengingat hujan sebentar lagi turun dan besok ada ulangan harian Kimia, Di sepanjang itu aku berpikir, ingin rasanya di antar oleh ojek ganteng itu lagi, namun khayalan semata.

***

Pagi itu aku sudah siap menghadapi ulangan Kimia. Kemarin aku sudah mati-matian menghapal, eh tapi kesal juga, gara-gara dia senyum, wajah dia menempel di otakku. Hey! Ayolah pergi jauh.

Beruntung sekali hari itu aku tak perlu menuju halte kedua itu lagi, Aku langsung mendapatkan bus tepat waktu,”Hay Ir?”Sapaku, Ira sudah duduk manis di kursi belakang , Aku langsung mengambil duduk bangku di depanya, sehingga kita bisa ngobrol. Ya ini sedikit aneh sih, soalnya Aku dan Ira sama-sama suka duduk dekat jendela, itu mengapa aku tak mengambil duduk di sampingnya.

“Kin, cowok yang kemarin itu, aku perhatikan, dia kok ngeliatin kamu ya?”Tanya Ira

“Perasaan tadi nggak ada siapa-siapa deh?”Tanyaku kembali saking herannya

“Cowok itu ada kok, dia di samping warung dekat halte, itulah kenapa kamu nggak lihat dia.”Jelasnya gamblang

“Lha terus kenapa Ir?”

“Ah, kamu ini peka dong plis deh.”

“Maksudmu?”

“Dia kayaknya berusaha mendekati kamu deh.”

“Wah, apa-apaan kamu ini.hahaha.”

“Bisa jadikan?”

“Ah sudahlah aku mau menghapal lagi nih.”

“Ok..Ok!”

Cukup panjang perbincangan tadi, lagi pula hanya sebatas suka saja kok nggak lebih. Dia sudah mengetahui namaku, tetapi namanya aku tidak tahu sama sekali. Aku jadi ingat dia itu pemuda pertama yang aku temui pada hari pertamaku di Sukabumi, saat kepindahanku dari Yogyakarta. Kejadian itu membuatku memikirkannya, Sampai kebawa mimpi tadi malam. Hal yang paling menyebalkannya adalah, aku jadi sulit menghapal Kimia, gara-gara muka dia nempel di otakku. Ampun deh.

Sesampainya di sekolah aku langsung ngacir ke kelas dan memilih menghapal kembali. Aku cemas, Kimia sebuah nama penuh arti, semoga aku mendapat nilai baik. Banyak yang harus kuhadapi hari ini, setelah Kimia, lalu Matematika terus terakhir Bahasa Indonesia. Lelahnya jadi kelas XII SMA. Ini mengingatkanku juga, ngomong-ngomong dia kelas berapa ya?.

Bel pulang sekolah selalu kunanti akhirnya terdengar, Aku kembali pulang dengan Ira, sambil menunggu bus Ira lagi-lagi membahas cowok itu.

“Sudahlah jika kau mau, untukmu saja Ir.”Gurauku begitu. Dan Ira malah mesem-mesem.

Cinta itu gila, belum pernah lebih dari 5 menit ngobrol, sudah berikrar suka sama dia. Aduh ampun ya Allah. Kali ini aku tak akan langsung turun di lapak  bakso itu, aku harus memfotocopy dokumen penting, tempatnya tak jauh dari gang, Aku turun di sana. Lalu setelah selesai memfotocopy, aku berjalan segera menuju gang. Sekarang saban hari aku terbayang wajah dia. Tiba-tiba hujan turun mengusik lamunanku. Aku harus berlari kencang, dan sesegera mungkin berteduh, aku memilih berteduh di um…..am pangkalan yang mana ya. Ok lah lebih nyaman lapak bakso, kebetulan sama sekali tidak ada pelanggan disana, hanya ada bapak pedagang bakso,”Pak bolehkan saya ikut neduh disini?”, dia mengangguk. Aku beranikan untuk mengajaknya mengobrol, ternyata nyambung juga, itu karena aku pindahan dari Yogyakarta dan bapak itu juga berasal dari suku jawa, dulu dia tinggal di Kebumen. Kami mengobrolkan banyak hal sambil berharap hujan segera reda. Sesekali ku tengok pangkalan ojek yang berada di seberang, terlihat sudah ada yang standby, dan kulihat dia yang memboncengku tempo hari.  Aku melirik terus menatap mata cowok itu, Pandangannya meneduhkan hatiku. Mungkin karena aku nengok ke arah pangkalan ojek terus menerus, bapak ini jadi salah paham,

“Dek apa mau di panggilkan ojeknya?”Kebetulan bapak ini sangat dekat dengan tukang ojek di sana.

“Tidak usah pak, saya mau menunggu hujan reda, ada suatu hal di tas saya yang bahaya jika basah.”Alasanku panjang lebar.

“O begitu ya, yasudah.” Aku tersenyum senang bisa berbincang hangat dengan bapak itu. Selang lama kami saling membisu, lalu bapak ini kembali bersuara.

”Itu yang menatap adek sedari tadi adalah anak bapak.”Ucapnya sambil menunjuk seseorang yang sudah kutahu dia menatapku. Batinku berbicara, aku sudah tahu pak, itu anak bapak yang tampan. Tapi itu nggak mungkin ku ucapkan. Lantas saja aku hanya bisa tersenyum.

“Dia itu memang ngeyel, sudah bapak larang narik ojek, tapi tetap saja ngotot.”Bapak ini sepertinya sangat semangat menceritakan tentang anaknya. Kini saatnya kesempatan untuk mengetahui jati diri orang misterius itu.

“Namanya juga anak muda pak, pengen punya uang jajan lebih mungkin pak.”Sanggahku sok tahu.

“Bapak bingung, padahal uang jajan yang saya beri, menurut bapak sih besar seukuran anak kelas XII SMA seperti dia dek.”Ocehnya. Aku mengetahui suatu hal lagi, dia kelas XII SMA, sepantar denganku. Aku harus bilang apa ya, aku bingung. Untungnya bapak ini sangat senang mengobrol. Jadi tak perlulah aku menimpal lagi, cukup jadi pendengar yang baik.

“Dek sepertinya hujan sudah sedikit reda, itu anak bapak sudah siap nganter adek.”.

Lho kok aku di suruh naik ojek anaknya ya?.

“Woy..ojek.”Teriaknya memanggil sekelompok tukang ojek di pangkalan seberang itu.

Lagi-lagi debaran itu kembali ku rasakan, motornya mendekat ke arahku, Aku segera bangkit dari dudukku.

“Pak, terimakasih ya pak?” lalu aku segera naik di boncengnya. Bapaknya tersenyum kepadaku. Owalah apa ini rasanya cinta, aku benar-benar merasa aneh dan kikuk. Selayaknya penumpang, aku tak mungkin memeluknya dari belakang, nggak mungkin sekali. Setelah sampai tempat tujuan yaitu rumahku, Aku tak perlu berteriak “Kiri….” Karena diapun sudah tahu rumahku ini. Aku langsung membayarnya dan

“Terimakasih.”Ucapku,

“Sama-sama Kinan.”Timbalnya.

Aku yang tadinya sudah berpaling, Sontak langsung membalikkan badanku kembali. Dan menatapnya lagi.

“Kenapa?”Herannya.

“Kan aku sudah bilang aku sudah tahu namamu.”Ucapnya datar lalu di susul senyuman manisnya. Aku kebingungan harus ku panggil siapa dia. Aduh aku lupa bertanya kepada bapaknya, siapa sih nama anaknya itu. Lalu saat aku masih terbengong, dia sudah menancap gas pergi kembali ke pangkalan ojek. Benar-benar membuat gila.

***

Pagi yang sangat mendung dan angin menusuk tulang-tulangku, Aku bertemu dengan hujan di bulan November lagi, dan kini kembali lagi ku temui dia di halte. Aku sudah tidak canggung dengannya,

“Hey Kin, nanti pulang sekolah mau ku antar lagi tidak?”Tanyanya langsung to the point.

“Oh, boleh..boleh.”Jawabku sangat senang. Aku ingin tanya siapa namanya tapi aku tak berani. Dia masih bersama motor kesayangannya itu, lalu tak beberapa lama dia terlihat sumringah.

”Kin, aku duluan ya, pacarku sudah datang.”Ucapnya sambil menunjuk ke arah gadis cantik berseragam SMA yang sama dengannya muncul dari dalam gang. “Oh.”Aku tersentak kaget.

”Iy-ya iya, silahkan.hehe.”Aku kaget bukan main. Ini apa ya, nyata atau mimpi? Jleb. Seperti ada pisau yang menusuk berkali-kali, disini di titik ini, yang ku sebut perasaanku rasanya sakit banget. Aku telan ludah lalu duduk lemas di bangku halte. Tahu begitu, aku harusnya tak memiliki persaan aneh ini untuk orang misterius itu dan entah siapa itu namanya. Ternyata dia sudah punya pacar ya?.Hmm pupus alias mati sudah harapanku ini. Aku melihat ceweknya, dan keduanya tersenyum kepadaku dan pergi meninggalkanku di sana. Ternyata benar ya, orang baik belum tentu menaruh hati. Mampus langsung seketika.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s