Kutukan

Kutukan

Cerpen Audhina Novia Silfi

Senin, 01 November 2013

            Hari kamis yang sangat indah, beginilah anak SMA tiap tidak ada guru di kelas pasti saja ribut kalang kabut, Para perempuan cuat-cuit sana sini, dan Para Lelaki selalu heboh sendiri, tapi ada juga yang jaim, Like a Satria, OMG! Dia itu satu-satunya cowok yang dianggap cool oleh sebagian perempuan di kelas ini. Aku termasuk yang sebagian lagi, yang sama sekali nggak punya rasa sama dia, nah apalagi kagum, tidak..tidak. Oya Aku masih ingat saat dia memperkenalkan diri di depan kelas saat pelajaran B.Indonesia yang kebetulan guru barunya yang ingin mengenali kami satu persatu. Tutur bahasanya seperti ustad saat berdakwah, membuat sebagian perempuan di kelasku itu mesem-mesem. Pembawaannya yang seperti itu akhirnya dia di sebut Pak Ustad oleh seisi kelas. Nah dimana ada Pak Ustad pasti pula ada Bu Ustadzah. Selanjutnya Nurani yang maju kedepan, pembawaannya layaknya Ustadzah, ini juga mengapa dia di sebut Bu Ustadzah. Tiap kali ada hal dalam pembelajaran yang menyangkut tentang Ustad dan Ustadzah, Nurani dan Satria selalu saja kena imbas oleh anak-anak di kelas ini. Dia malu selalu di sorak sorai begini “Cieee Pak Ustad sama Bu Ustadzah…cieee!”. Dan taukah siapa yang meprovokasi aksi itu?. Yaitu Aku dan Ayunda, dua sekawan yang selalu cari masalah, bukan bandel tapi untuk iseng-iseng saja. Letak tempat duduk Ayunda tepat sangat dekat di samping Pak Ustad, Aku adalah teman sebangku Ayunda dan di sampingku ada Bu Ustadzah. Ya itu mengapa provokasi kami selalu berhasil letak tempat duduk yang dekat mudah di jadikan sebuah bahan lelucon. Namun lelucon tak selamanya mulus, hingga pada suatu hari Nurani sangat geram dengan bercandaan kami.

“Lihat saja orang yang selalu iseng itu adalah yang akan suka beneran.”Nurani memang geram tetapi dia tidak sungguh-sungguh murka, dia hanya kesal karena sudah seminggu lebih kami selalu mengisenginya. Nurani masih bisa tertawa setelah mendeklarasikan kutukan itu. Aku dan Ayunda yang memang senang sekali menjahili Nurani juga tertawa mendengar kutukan itu. Tapi akhirnya kami lelah juga menjahili mereka. Yang aku herankan mengapa juga, Satria tidak marah seperti Nurani, dia malah tersenyum-senyum jika kami jahili. Mungkin dia legowo kami jahili, ya mungkin sajakan begitu.

Suasana kelas akhirnya kondusif kembali setelah Pak Afrizal guru Matematika masuk mengisi jam pelajaran, kalau soal belajar Aku dan Ayunda selalu semangat juga. Matahari terik membuat suhu kelas semakin panas saja, kami mulai lelah tapi harus semangat sampai Bel pulang sekolah di bunyikan. Tiap kali ada hal yang sulit bukannya saling berdiskusi, Aku selalu meminta bantuan Nurani dan Ayunda meminta bantuan Satria. Untung saja mereka adalah orang yang teramat baik, Dan leganya kami berhasil menyelesaikan seluruh soal matematika yang di berikan Pak Afrizal yang menjadi syarat agar bisa keluar kelas, kejam oh kejam. Beruntung kami semua berhasil keluar. Dan senangnya menjalani hari-hari di putih abu-abu dengan suka cita. Bel berbunyi tepat setelah kami keluar kelas, aku berjalan berdampingan dengan Ayunda.

Ayunda adalah sahabatku yang cantik jelita, dan itu sangat bersebrangan denganku, aku hanya cewek tomboy tapi pandai membuat orang lain tertawa. Di kelas Ayunda adalah primadona kelas, bagaimana tidak, 40% cowok di kelas suka sama dia, ini sih hampir sama kisahnya seperti Satria sang cowok cool itu.

Kami berjalan menuju keluar sekolah, Aku menunggu angkot dan Ayunda menunggu jemputan. Sudah ku bilang aku ini bersebrangan dengannya, Ayunda adalah putri istanah dan aku putri um..am entahlah, mungkin putri es cair.

“Yun..besok jangan lupa bawa raket Ok, kata Pak Dodi kan besok kita bermain badminton.” Ucapku seraya berjalan berdampingan dengannya

“Woke,Oya  kamu punya kan Vla?”Tanya Ayunda sepertinya khawatir

“Ya tentu punyalah.”Aku bangga karena menyukai olah raga

“Ah sayang aku tidak punya, aku harus membelinya dulu.”Sesalnya sambil sesekali melihat layar handphonenya

“Yasudah mending jangan beli, bagaimana jika aku pinjamkan raketku yang satu lagi, akukan  punya dua raket.”aku menawarkannya karena peduli, aku tahu dia orang kaya tapi apa salahnya peduli, orang kaya juga pasti butuh peduli.

“Wah ide bagus Vla..kalau begitu aku pinjam punyamu saja.”Wajahnya kembali sumringah.

Setelah 10 menit kami di depan gerbang menunggu mobil jemputan Ayunda, akhirnya datang juga. Sesaat Ayunda pergi, kini giliran aku yang juga segera pulang menggunakan angkot yang mana sedari tadi banyak angkot berhenti di depanku, tetapi aku tolak karena menunggu Ayunda terlebih dahulu. Aku riang gembira menuju rumah.

***

            Siang hari yang terik di tengah lapangan, kami sangat bersemangat melaksanakan olah raga. Terik memang sangat terik tapi aku ini wanita kuat tak seperti yang lain, di saat sahabatku Ayunda, sudah di bawa keruang UKS karena sesak nafas. Aku malah masih bersemangat olah raga di tengah lapangan bersama yang lainnya, sampai-sampai baru sempat menjaga Ayunda di UKS setelah menyelesaikan olah raga, Sudah ku bilang aku ini berbeda. Latas saja Aku yang bermandikan peluh segera menuju ruang UKS

“Yun, maaf ya baru jenguk ke UKS.”

“nggak papa kali, udah biasa.hehe.”Ayunda masih saja bisa tersenyum, namun baiknya begitu, wanita harus kuat.

“Yun, pinjam handphone mu lah, aku bosan.”Aku memang suka sekali mengutak-atik handphonenya, ya dengan dalih ingin membaca apa saja yang ada di kotak masuk Ayunda.

Ayunda juga mengutak-atik handphoneku, soal pacarku dia juga pasti tahu, Palingan juga dia membaca pesan singkat antara Aku dan Putra. Sambil sesekali dia tersenyum melihat obrolanku dengan pacarku itu, padahal badannya masih lemah terbaring di kasur UKS. Baguslah kalau dia ceria kembali. Namun aku keheranan, ada nama “Satria” di kotak masuk Ayunda. Aku semakin penasaran. Ku buka percakapan antara keduanya, dan hasilnya. Hmm..tak lazim sekali isi percakapannya, sangat perhatian, dan sangat lembut. Wah jangan-jangan nih. Aku langsung betanya padanya, aku sangat penasaran.

“Yun..kamu lagi PDKT ya sama Satria?”Aku langsung to the point, dengan ekspresiku yang setengah kegirangan meminta pengakuan Ayunda

“Hehe.”Dia hanya meringis saja

“Lho kok gitu sih? Kok bisa sih?”Aku membredelinya pertanyaan

“Aku juga bingung Vla, kayaknya aku benar-benar terkena kutukan Nurani deh.”

Aku tercengang mendengar pernyataan Ayunda, lho kok kutukan? Aku perlu meloading nalarku dulu.

“Owalah, yang waktu itu Nurani bilang ya?.wahahahaah.”Aku tertawa begitu kerasnya

“Aduh plis deh Vla jangan berlebihan.”Ayunda memenggal tawaku. Dan aku sangat antusias mendengarkan curhatan Ayunda.

Aku manggut-manggut dan tersenyum lebar mendengar tiap jengkal pernyataannya, Begini awalnya, Setelah hari saat kutukan itu di lontarkan Nurani, Ayunda langsung mendapat pukulan keras. Kutukan itu membuat Ayunda selalu memperhatikan tindak tanduk Satria di sisa perjalanan waktu di kelas saat itu. Aku adalah salah satu orang yang kurang peka, ternyata Ayunda bertingkah beda saat itu. Ceritanya terus berlanjut, sampai akhirnya di malam harinya Ayunda mendapatkan pesan singkat dari nomor tak dikenal, setelah tahu nomor itu milik Satria, Ayunda semakin gugup karena isi pesan singkat Satria menjurus ke arah PDKT, Ya akhirnya cukup 720 detik, perasaannya berubah jadi cinta betulan. Awalnya Ayunda adalah perempuan yang masuk pada bagian yang tidak punya rasa pada Satria, dan kini di hari jum’at itu, Ayunda sudah menyatakan bahwa dia mempunyai perasaan cinta untuk Satria, berawal dari kagum lalu jatuh ke hati.

“Lalu, apa kamu berencana pacaran dengannya?”Tanyaku penuh antusias

“gimana ya Vla. Aku juga nggak tahu. Kamu lihat nanti saja.”Ayunda masih ragu tapi kalau begini caranya dia lama-lama mati gaya tiap kali di kelas, karena bangkunya dekat dengan Satria.

Setelah Ayunda keluar dari UKS, kami bergegas mengganti baju lalu mengikuti pelajaran selanjutnya. Kini aku lebih sering menengok ke arah Ayunda dan Satria. Ayunda nampaknya sangat kwalahan dengan perasaan sukanya itu.

“Vla, sepertinya aku benar-benar terkena kutukan Nurani itu deh.”Bisik Ayunda

Aku hanya tersenyum saja, karena kegiatan belajar mengajar sedang berlanjut. Lalu Ayunda berbisik kepadaku lagi.

“Vla, jantungku berdetak lebih cepat nih. Aduh grogi dekat dia.”Sepanjang pelajaran Bahasa Indonesia itu Aku terus saja di buatnya tersenyum karena tingkahnya yang polos.

Setelah pelajaran Bahasa Indonesia selesai, Aku menyarankan Ayunda tukar tempat duduk denganku. Dan sepertinya Satria kecewa mendapati Ayunda pindah tempat duduk. Tetapi  Aku malah asyik mengisengi Satria.

“Kamu suka ya sama Ayunda?”Bisikku kepada Satria

Satria langsung menatapku tajam. Ku rasa dia kaget dan bingung mau jawab apa. Aku semakin senang mengisenginya. Semakin seru saja kisah kutukan itu.

***

Di bibir ruang itu dia menyapa penuh antusias. Hmm sepertinya Ayunda bisa menikmati setiap senyuman yang dia suguhkan di setiap paginya. Kebetulan? apa takdir yang menyengaja?, dia selalu tersenyum ke arahnya,  tiap kali Ayunda bertatap, dia yakin lelaki itu tersenyum untuknya. Burung pipit ikut berkicau di atas pohon cemara yang di tanam di lingkungan sekolah, pagi itu Ayunda sudah berada di ruang kelasnya. Lagi-lagi dia bertemu Satria di ruang kelas yang masih sepi, hanya mereka berdua yang berada di kelas. Namun tak ada kesempatan bagi keduanya untuk memulai bicara, Ayunda hanya bisa memainkan handphonenya dan akhirnya Satria bosan di kelas lalu keluar menuju lapangan basket dan bermain disana.

Sudah seminggu ini, aku memantau handphone Ayunda, Dan akhirnya ku temui sebuah pernyataan cinta dari Satria. Ayunda akhirnya pacaran dengan Satria. Tapi entah mengapa aku tak berani mengungkapkan kabar bahagia ini ke seantero kelas ini. Biar mereka tahu dengan sendirinya. Tapi aku khawatir, Saat di sekolah Satria cuek-cuek saja dengan Ayunda, Aku mulai tak nyaman dengan hal itu, takut-takut jika Ayunda nanti di sakiti oleh Satria. Ayunda bukan perempuan yang baru sekali itu pacaran, maka dia merasa sangat aneh dengan sikap Satria.

“Vla..baru kali ini aku pacaran rasanya seperti nggak pacaran.”Curhatnya saat jam istirahat tiba dan kelas kosong

“Mungkin dia malu Yun, biar aku yang bicara sama dia OK?”

Ayunda tampak senang dengan ideku itu. Setelah semua siswa pulang kerumah kecuali siswa yang mengikuti ekskul Pramuka yang termasuk aku, harus menunggu sampai selesai sholat jum’at untuk memulai ekskul,dan aku memilih diam di sekolah, Ayunda sudah pulang terlebih dahulu karena ekskulnya adalah PMR.

***

Beruntung atau malah petaka? Satria juga ikut eksul pramuka. Kebetulan ruang tempat berkumpul belum begitu ramai. Aku beranikan diri menegur Satria yang saat itu sudah sampai lebih dulu dari masjid setelah melaksanakan sholat jum’at. Aku membuka obrolan satu arah membicarakan tentang Ayunda, Aku ungkapkan bahwa Ayunda sangat tidak suka dengan sikap cuek dan dinginnya. Satria tetap saja kelihatan santai menanggapi setiap ocehanku dengan menyeringis.”Ah, kamu malah meringis saja, ngerti nggak?” Baru setelah setengah jam aku berkicau, dia baru merespon dengan baik.

“Vla..sebenarnya aku itu sukanya sama kamu.”

Separuh diriku seolah terbang entah kemana karena saking kagetnya. Aku hanya berseri

“Kamu jangan bercanda deh Sat, nggak lucu tau?”Aku meyakinkan ucapanya yang baru sajaku dengar.

“Dengerin ya Vla, awalnya, aku mau cari-cari tahu tentang kamu lewat Ayunda, tapi aku jadi suka sama dia, tapi entah kenapa tiap kali aku lihat kamu, aku rasa aku sebenarnya suka sama kamu.”jelas Satria panjang lebar dan gamblang. Aku hanya melongo saja, lalu segera pergi keluar ruangan, menuju taman sekolah.

Aku tak habis pikir, dan kini aku yang harus usaha keras menghindari Satria, aduh bagaimana jika Ayunda tahu. Aku harap dia tidak mengetahuinya. Amin. Aku melamun di sana, lalu kusadari Satria menghampiriku dan berkata.

“Aku tidak akan mengecewakan Ayunda Vla, tenang saja. Biar ini semua akan nyata pada waktunya.”Ucapnya yang sedikit membuatku lega

“Aku mau kamu baik-baik dengan Ayunda, dan jauhi aku OK?”Aku dengan tegas memintanya begitu.

Hal itu membuatku ketakutan dan selalu berharap Putra ada di sampingku saat itu, Aku takut jatuh cinta pada Satria. Namun untungnya adalah sampai kini hubungan Ayunda dan Satria masih langgeng. Tapi semakin lama sugesti itu semakin menancap di ubun-ubun. Tapi akhirnya aku bisa bersikap biasa lagi dengan Satria menganggap seolah dia tak pernah menyatakan isi hati sebenarnya.

-Selesai-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s