UNFRIEND YOU

Hallo Readers. Ketemu lagi ni sama tulisanku. Pada kangen nggak hayoo?enggak ya? :(..hehe:D

Readers hari ini aku mau nge post CERPEN tentang persahabatan. Semoga kalian suka ya.Yuk capcus baca cerpen ini ya. MAKSA , hehehe:D

 

UNFRIEND YOU

Cerpen Audhina Novia Silfi

Sukabumi, 21 September 2013

Lagi dan lagi. Aku hadir di tengah mereka menjadi seperti kambing yang tak diperdulikan pemiliknya. Setiap malam minggu selalu saja Dini memintaku untuk menemaninya jalan-jalan bersama Tio, dia beralasan takut pulang sendiri malam hari. Kalau takut malam-malam pulang seharusnya bukankah bisa jalan-jalan saat siang hari saja. Sebagai sahabat aku hanya bisa mengiyakan permintaannya, itu terjadi hampir disetiap minggunya dalam satu tahun ini. Sampai pada suatu malam di bulan Oktober  aku melihat Dini tak memintaku menemaninya. Ternyata Dini dan Tio putus, angin segar untukku, bersyukur akhirnya tak perlu menemani Dini di malam minggu bersama pacarnya. Namun malam itu juga Dini datang kepadaku dan menceritakan mengapa dan bagaimana bisa terjadi. Dia tak terlihat begitu sedih, Dia bilang sudah bosan pada Tio. Aku sebenarnya tak terlalu peduli mengapa dan bagaimananya, tapi aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dini tak pernah peduli tentang ku, aku juga akan segera berubah tidak mempedulikannya secara perlahan.

Pagi itu aku sudah memutuskan, aku ingin serius fokus belajar mengingat banyak ujian mulai mendekat.

“Siska…Siska…!”Aku dengar suara Dini berteriak memanggilku, Namun aku terus saja berjalan tanpa menengok.

Dini berlari mengejarku lalu menepuk punggungku.

“kok kamu nggak nengok sih?”

“Aduh!”bentakku sambil mencoba melepaskan tangan Dini dari pundakku.

“udah deh Din, aku udah lelah dengerin curhatan kamu. aku mau jujur sama kamu, tapi nggak sekarang.”

Dini yang biasanya terlihat selalu ceria, kini dia hanya bisa menurunkan senyumannya melihatku tiba-tiba membentaknya. Aku mempercepat langkahku. Dia hanya diam disana.

“SIS! aku salah apa sama kamu?MAAFIN AKU!”teriaknya sambil menghentakkan kaki.

Selama ini aku harus bersabar menjadi sahabatnya. Mungkin Dini menganggapku hanya seperti tulisan pensil yang dapat dihapus olehnya. Sebenarnya aku menjauh bukan tanpa alasan, aku menjauh karena aku tahu apa saja yang dia bicarakan bersama teman-teman populernya. Sempat kudengar dia membicarakan tentang penampilanku yang tidak up to date alias ketinggalan jaman. Aku masih bisa bersabar dan mulai mengubah gayaku, mulai dari ku ikat rambut yang biasa ku urai dan memakai tas berbeda setiap harinya, agar Dini berhenti mengolok-olok dibelakangku. Semakin lama aku tak tahan dengan sikap Dini yang dibuat-buat saat dekat denganku. Dia hanya baik padaku saat dia membutuhkanku. Tiga hari setelah aku memutuskan menjauh dari Dini saat itu adalah hari ulang tahunku, aku sama sekali tak mendengar ucapan selamat darinya. Sahabat macam apa itu. Padahal banyak yang mengucapkan selamat padaku lewat media social. Saat itu aku tahu pasti dia selalu membuka akun facebook atau twitternya dan mengetahui aku berulang tahun hari itu, Namun sama sekali aku tak mendengar ucapan selamat darinya. Ya Tuhan bolehkah aku membenci sahabatku itu?

***

Seminggu sudah aku berusaha menjauhi Dini, itu adalah hal yang sangat mudah karena Dini bukanlah orang yang menyayangiku. Aku jadi teringat aku harus memberi tahu padanya alasan ku tentang mengapa aku ingin menjauh darinya, tapi bagaimana bisa menatap wajahnya saja rasanya aku tak kuat ingin meluapkan emosi.

Tapi takdir membantuku. Sore hari di taman dekat rumah aku sedang membaca novel. Dini datang perlahan mendekatiku yang sedang duduk di ayunan. Dia mengambil duduk di ayunan yang ada di sebelahku.

“Siska?”Dini memanggilku dengan lembut. Tapi aku hanya bisa memutarkan bola mataku dan aku membuang muka darinya, Lalu aku berdiri dan berjalan menjauh darinya.

“Siska?”panggilnya lebih keras sambil berjalan cepat menghampiriku

“Kamu kenapa sih?”Bentak Dini yang memaksaku berhadapan muka dengannya

“kamu yakin mau tau alasan aku?”ucapku membentak

“iyalah, aku bingung sama sikap kamu saat ini.”Dini meninggikan suara

“OK! Tau nggak Din, rasanya di jelek-jelekin dibelakang?”

“nggak tau kan?”

“kamu tau nggak rasanya orang yang aku sayang yaitu kamu ternyata nggak sama sekali sayang sama aku, kamu nggak tau kan?. Dan kamu LUPA hari ulang tahunku.” air mataku sukses mengalir deras. lega mengatakan hal tersebut,

Dini mengaga mendengar pernyataanku. Perlahan tapi pasti air matanya banjir keluar.

“aku bisa jelasin tentang ini Sis.”Dini berbicara sambil menangis.

“kamu nggak perlu jelasin kok Din, karena aku tau semuanya. Aku udah terlalu sakit hati.”Aku berlari langsung menuju rumahku.

“SISKA, aku pengen jelasin ke kamu, maafin aku sis?”.

***

Malam itu mataku bengkak gara-gara menangis, namun sekarang aku merasa tidak lega karena aku seharusnya memaafkan Dini, namun sulit sekali rasanya. Aku sudah tahu pasti, setiap kali Dini ada masalah, pasti saja dia membuka facebook atau twitternya dan membuat status yang justru mempermalukan dirinya sendiri. Dia juga berkali-kali mengirim pesan singkat padaku.

“Aku bingung harus gimana Sis, aku emang salah, tapi Sis! tolong dengar penjelasan aku.”pesan pertama

“Aku benar-benar minta maaf Sis. Tentang ulang tahun kamu dan tentang ucapan aku saat dibelakang kamu. Aku menyesal Sis, aku pengen jelasin ke kamu tentang ini sejelas mungkin.”pesan kedua

“Aku harus gimana dong Sis, supaya kamu mau maafin aku?”pesan ketiga

“Kamu sahabat terbaik aku Sis .”itu pesan terakhir sebelum 10 pesan berisikan “Maaf Siska!”

Pesan singkat itu berturut-turut masuk ke handphoneku dan Itu sangat amat mengganggu. Aku sama sekali tidak berminat membalas pesan singkat itu.

***

“Siska!”Panggilnya

Pagi hari , Dini berusaha menghampiriku yang sedang berjalan santai namun entah kenapa hari itu aku malas bertatap muka dengannya, maka aku langsung berlari menjauh sebelum Dini berhasil menghampiriku.

Tak lama setelah aku berlari kencang, ada pesan singkat masuk dari Dini.

“Sis aku mohon kamu datang ke tempat yang pasti kamu tahu itu, disana banyak dandelion bertebangan dan tanah lapang berumput hijau. hari ini jam empat sore.”

Aku abaikan pesan singkat itu aku terus berjalan menuju sekolah, semenjak aku menjauh dari Dini tak ada yang berbeda di sekolah, karena memang saat di sekolah Dini tak terlalu sering bersamaku jadi sudah biasa, tapi ada sedikit penyesalan yang tertinggal, kini tak ada lagi yang membuatku repot, ternyata selama ini aku sudah terbiasa di repotkan olehnya seperti ada yang kurang, Aku dan Dini dikelas berbeda dia di XI IPA 2 dan aku di XI IPA 1. Aku tak perlu khawatir tidak memiliki teman, Karena aku punya sahabat selain Dia. Beberapa hari ini aku selalu melihat Dini murung dan menjauh dari teman-teman populernya, Aku merasa kasihan padanya. Aku jadi teringat pesan singkat terakhirnya. Saat jam istirahat aku mencoba membuka pesan singkat yang Dini kirimkan tadi pagi. Ada perasaan yang sulit di ungkapkan benci bercampur iba. Aku agak kebingungan dengan isi pesan singkat itu, jadi tempat apa itu, dia bilang banyak Dandelion? Kenapa dia bisa tahu tentang Dandelion. Akhirnya aku putuskan akan menemuinya. Aku akan mengalami Déjá Vécu bersamanya di tempat itu. Aku belum pernah datang ketempat itu bersamanya. Ternyata tempat favoritnya sama seperti tempat favorit ku. Tempat itu berada tak jauh dari perumahan. Tempat itu memang lapangan luas dengan rumput hijau tapi ada sudut di sana yang tak banyak orang tahu dan mengunjunginya. Di bawah lembah yang melekuk disana banyak Dandelion dan disanalah aku sering menenangkan pikiran. Tak kusangka Dini juga mengetahui tempat itu.

***

Sepulang sekolah ini aku menyempatkan diri untuk mengerjakan tugas sekolah lalu setelah itu sambil berbaring  aku membaca novel yang belum juga aku selesaikan. Mungkin aku kelelahan sehingga akhirnya aku tertidur lelap. Setelah beberapa jam kemudiaan aku terbangun perlahan, rasanya sudah tidur 24 jam, badan terasa segar. Setelah ku melirik jam dinding di kamar ku. Jam dinding itu menunjukkan pukul 16.10.

“OMG!aku telat, aduh gimana nih!”Aku langsung meninggalkan tempat tidurku itu, tanpa pikir panjang aku langsung menuju tempat itu.

Mataku masih sangat ingin menguncup, tapi aku usahakan agar tetap terbuka, aku berlari sekencang mungkin. Aku menaiki bukit kecil itu dan perlahan menuruninya menuju lembah itu. Sudah kulihat disana ada Dini yang sedang melamun. Aku coba mendekatinya.

“Din! Sorry aku telat datang.”

“Siska? aku kira kamu nggak akan datang.”Dini tersenyum kepadaku dan aku balas sedikit senyuman kepadanya.

Aku duduk mendekatinya. Kami menikmati dandelion yang bertebangan selama beberapa lama.

“Sis, kamu tau nggak?sebenarnya aku udah siapkan hadiah special untuk ulang tahunmu?, Cuma aku takut ngasih ke kamu. aku bingung kamu tiba-tiba jauhin aku. Aku sedih kehilangan sahabat sebaik kamu Sis.”Suara Dini bisa kuterima dengan baik dan suasana tempat itu membantuku berfikir jernih. Hening beberapa saat lalu

“Sis, aku minta maaf soal ejekan itu ya?. Aku sadar seharusnya aku nggak usah ikut-ikutan komentari gaya berpakaian kamu. Aku nyesel banget Sis.”

Aku masih saja bisa menahan emosiku yang ingin meluap saat mendengar pernyataannya.

“Sis, Kamu mau kan tetap jadi sahabatku?, aku ngerasa kehilangan kamu Sis.”

Kini aku harus mengeluarkan sebuah kalimat dari mulutku. Ya atau tidak, kata orang kata hati yang pertama adalah kebenaran, Aku sudah mengikuti kata hati sejak awal, semoga saja kata hatiku benar.

“Din, kamu tau sendiri gimana sakitnya kalau di khianati seseorang kan?”

Hening seketika lalu ku lirik Dini dan ia mengangguk.

“aku nggak akan bisa lagi menjadi sahabat kamu, aku sadar diri aku nggak pantas masuk di kehidupan populer kamu. Maafin aku Din aku nggak bisa.”

Aku menunduk takut Dini meluapkan emosinya seketika. Angin sore semakin kencang, dan matahari mulai terbenam. Kami hanya bisa saling terdiam. Dini menangis tersedu.

         “aku udah maafin kamu Din dan kamu masih bisa jadi teman aku Din.”

“ok! Sis mungkin inilah yang harus aku petik dari hasil ulahku, aku terima kok Sis, yang penting please berhenti membenci aku ya Sis?”

Aku menatapnya dalam-dalam, air matanya perlahan mengalir. Lalu aku mengangguk pasti mengiyakan bahwa aku bisa berhenti membencinya.

-Selesai-

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s