Pembatas yang Kokoh

Pembatas yang Kokoh

            Aku melirik kesegala arah di luar rumah dari jendela,menghasut matahari untuk segera bersinar,Tuhan aku tak dapat mengetahui waktu,Langit sangat gelap dan hujan sedang menunaikan tugasnya,lalu bagaimana aku bisa segera mengirimkan surat ini kepada Dena,Padahal aku sudah berjanji untuk mengirimkannya hari ini.

Tak peduli bagaimana caranya untuk sampai ke kantor  pos,mengambil sesuatu agar terhindar dari tetesan hujan yang datang beramai-ramai dan ku ambil jaket hitam milik ibu yang sudah usang,tanpa berfikir panjang yang penting dapat berfungsi seperti payung.Menggenggam uang kertas yang akhirnya terkumpul ,sesampainya di seberang kantor pos,aku tercengang bukan main.sudah bersusah payah kemari dan ternyata kantor pos tutup.aku memang orang miskin tapi bagaimana bisa aku tak mengetahui waktu dan hari?aku benci keluargaku.Dengan rasa sesal yang semakin membuncah ,Pandanganku semakin kabur,langkahku terseok-seok,menempuh jalan setapak kembali menuju rumah yang berada di atas bukit dengan rasa dendam atas penyesalan melawan hujan dengan keras.

“Tok…tok..tok..!”Menguatkan diri

Badan ku mulai menggigil,bibirku membiru,aku tak sanggup menahan dinginnya air hujan yang membasahi sekujur tubuhku,entah apa yang terjadi saat itu,aku akhirnya pingsan di depan pintu rumahku.Badan ku tetap saja merasakan dinginnya udara,tapi raga ku melayang entah kemana.

“Nak,bangun nak…”Suara Ibu memanggil.

Berusaha membuka mata,melihat sekeliling.ternyata aku masih hidup.salahkah bila aku ingin mati,aku tak kuat menangung susah,sampai-sampai tak memiliki jam dinding.Hidup macam apa ini.

“Bu kenapa aku masih hidup?”

“Mira…Mira…kamu sudah sadar…?”

“Pak…Bapak Mira sudah sadar…”

Bapak dan Ibu menghampiri tubuhku yang masih kaku.

“Alhamdulillah..do’a kita cepat terkabulkan Bu…”

Sampai sebegitunyakah mereka menyayangiku?sampai takut kehilanganku?,aku mencoba tersenyum melihat wajah mereka.

***

            Embun yang mengadu nasib di kaca jendela kamarku perlahan mulai menghilang,mengajakku untuk segera enyah dari rumah,untuk pergi ke Sekolah,jangan karena sakit jadi malas sekolah.Lagi pula pagi itu aku merasa sangat sehat.Aku sangat merindukan tempat yang reot,banyak lubang di atap,saat hujan kita harus bersiap-siap mengungsi,ya itulah Sekolahku

Ku raih tas dan sepatu butut ku, lagi-lagi miris sekali melihat kaki ku memakai sepatu itu.

Kaki terasa berat melangkah,harusnya tak perlu marah kepada keluarga,lagi pula Sekolah ku ini kan memang sekolah tempat orang-orang seperti ku.jadi tak perlu mempermasalahkan hal hal kecil seperti sepatu butut atau yang lainnya,karena teman-teman ku di sekolah ku ini saling mengerti.

Kentongan  sudah di pukul,menandakan aku harus berlari,kentongan tersebut sebagai ganti bel yang berbunyi kriiiiiiiing…!!,maklumi saja sekolahku serba berkecukupan seperti para penghuninya.Untung saja guru yang mengajar belum datang,jadi aku bisa sedikit lega saat itu.mengatur nafas sebentar karena lelah berlari lalu bertanya kepada Hani.

“Han,kelas belum di mulai kan?”sambil ngos-ngosan

“Belum,tenang aja,kamu kenapa bisa telat?”tanya Hani

“Biasa nyatai dulu,hehehe.”jawabku begitu tanpa beban.

Saat itu di Kelas sudah banyak teman-teman ku,mereka saling berbincang-bincang saja,menunggu kedatangan guru.Tak lama setelah itu guru pun datang,tak lain dia adalah Pak Suratman,dia salah satu guru yang sangat berbakti pada profesinya,walau dia sudah berkecukupan dan bisa di bilang dia kaya,namun dia tetap mau mengabdi di Sekolah yang terpelosok seperti ini.Hebat sekali beliau.

Kami dengan senang belajar dengannya,dia mulai menggoreskan kapur putih ke papan tulis hitam, yang sangat usang,walaupun Sekolahku ini milik Negara namun kurang perhatian sehingga SMA ku ini seolah di biarkan begitu saja.Aku tetap bersyukur masih bisa bersekolah walau begini keadaannya.

Setelah lama menuntut ilmu akhirnya kentongan berbunyi,saatnya kita pulang.Bahagia rasanya bisa bersama dengan teman-teman di sini.Tuhan aku tidak ingin kekayaan,aku hanya menginginkan hidup bahagia saja.

***

            Aku mengambil pena di kamarku.Bagaimana jika hal itu terjadi,aku ingin sekali bertemu dengan Dena,dia sahabatku sejak lama,aku mulai menulis surat lagi,karena surat ku kemarin basah terkena hujan.

Dear Dena,

Apa kabar Dena?Aku harap kamu selalu sehat dalam perlindungan Allah,Amin.Aku di sini baik-baik saja.

Dena,aku sangat merindukanmu bagaimana caranya agar aku bisa menggapaimu,aku rindu padamu.kamu ingatkan janji kamu.kita nggak boleh ingkar janji,janji kita jangan saling melupakan.Hal yang paling aku ingat adalah,saat kamu bilang bahwa aku adalah gadis yang kuat,mengapa kamu bilang seperti itu.padahal kamu menangis tersedu saat itu.Dena ajari aku untuk bisa kesana bersama mu.aku rindu Jakarta.

Sapa Rindu

Mira

Tak banyak kata yang dapat ku ucapkan,aku hanya banyak menangis saat menulis surat itu.lagi-lagi aku harus berjuang menuju kantor pos,tak apa itu demi Dena.setelah mengirimkan surat perasaan ku jadi lega.Saatnya segera pulang membantu Bapak dan Ibu berkebun.mengambil semua peralatan yang di butuh kan aku segera membantu Bapak dan Ibu.Keadaan ini memang sulit namun harus di jalani.harus legowo.

“Bu..kalau suatu saat aku pergi ke Jakarta gimana?”Aku masih memikirkan Dena,walau aku juga mengiira Dena belum tentu memikirkan aku.

“Aneh-aneh saja kami Nak..boleh saja nanti ketika kamu sudah lulus SMA,dan Bapak mu akan menemanimu kesana,Jakarta kan semuanya serba keras,jadi kamu jangan sembarangan pergi kesana sendirian.”Ibu ku memberi pengertian

“Iya Bu,tapi lama juga Bu?aku maunya saat libur sekolah nanti Bu,aku kangen Dena.”Aku ngotot sekali.

“Lihat nanti saja.”Ibu menggantung jawaban,sambil mengusap peluh yang mengalir di dahinya.

Tak tega melihat Ibu kelelahan,aku mengambilkan air minum untuknya.Bapak masih sibuk membajak sawah dengan traktor sewaan.

***

Ke esokan paginya seperti biasa aku harus menuju ke Sekolah dengan jalan kaki,lama kelamaan langkahku mulai melambat karena kelelahan.Aku tidak boleh telat lagi.Tiba-tiba aku mendengar suara “Ngik….ngik…ngik…” seperti suara sepeda ontel milik Dimas,dan ternyata benar dia mengikutiku dari belakang.

“Heh…Dimas ngapain kamu ngikutin aku?”Tatapan nanar ku lempar padanya.

Dia seketika mempercepat laju sepedanya mengikuti langkah kaki ku yang ku percepat kembali.

“Jangan gitu dong Mir.”Dimas memohon dengan muka memelas

Dia adalah murid satu kelas dengan ku,namun dia jarang sekali masuk sekolah,beralasan banyak hal,padahal dia membolos hanya untuk bermain-main dengan temannya.Dimas memang laki-laki yang lumayan tampan tapi bila kelakuannya seperti itu bagaimana aku bisa menerima permintaan untuk menjadi pacarnya.

Dimas begitu ngotot ingin jadi pacar ku,kadang-kadang seperti ini lah,dia mengikuti ku dengan sepeda ontel.

“Ayo lah Mir,mau kan jadi pacar ku?”Dimas mengotot sekali

“Kamu nggak pernah sekolah mau jadi apa nanti?kalau mau jadi pacarku Sekolah yang rajin.”sedikit menekan dan menaikkan suara aku mengucapkan hal itu,apa aku tidak terlalu kejam,semoga saja tidak.

Dia akhirnya menyerah mengikuti ku.memberhentikan sepeda,dan aku mulai jauh darinya.leganya bisa lepas dari Dimas.Aku bukan tipe wanita yang dengan mudahnya menerima Cinta,apa lagi yang meminta adalah Dimas,dia itu sulit untuk masuk kedalam daftar laki-laki yang berkriteria pas di Hati ku.Dimas hampir tidak nampak lagi dari pandangan ku,aku mulai memelankan langkah kaki ku.Tak berapa lama kemudian suara “Ngik…ngik…ngik…”Dengan irama yang cepat mendekat,apalagi ini ,Dimas berusaha berkata suatu hal.

“Mira…aku mulai besok akan rajin Sekolah,demi kamu Mir.”Dimas sudah mulai dekat dengan ku,dan teriakkannya sampai duluan ditelingaku

Dengan kakinya ,Dimas berusaha menghentikan sepeda ontel butut miliknya.Aku tercengang dengan kedatangan Dimas itu.kali ini aku berusaha baik-baik menghadapi Dimas lagi.Sepedanya sudah berhenti di depan ku.

“Mira kalau aku rajin Sekolah,kamu mau kan jadi pacar ku?”Tanya Dimas dengan sangat bersemangat.

Aku memang sejak lama suka dengan paras tampan Dimas,hanya saja dia perlu di permak kelakuannya,lantas saja aku menganggukkan kepala.

Dimas senang melihatku menganggukkan kepala

“Serius?”Dimas tidak percaya lalu mengepalkan tangan keatas dan berkata “Hore…wuhuuuu!”

Aku harus segera ke sekolah,langsung tanpa memberitahu Dimas,aku sudah hilang dari hadapannya.

“Pokoknya mulai besok aku mau sekolah.”Teriakkan Dimas membuatku tertawa cekikikan.

Begitu sadar aku tidak ada di depannya,Dimas di tatap banyak orang,mengira dia gila.akhirnya dia pergi kembali ke rumah dengan sepeda ontelnya itu.

Aku lega sekali.tak disangka aku sudah sampai di depan gerbang sekolah.kentongan belum di pukul,aku dengan santai memasuki ruang kelasku.

Dengan wajah berseri aku mendekati Hani.

“Haniiii…aku hari ini seneng banget..”

Dia kaget melihatku tiba-tiba girang.

“eh…eh…kenapa kamu?”Hani sedikit ketakutan melihat kelakuan ku hari itu.

“Tau nggak,Dimas mulai besok bakal sekolah lagi.”

“Kamu serius Mir?”Tanya Hani penasaran

“ya serius dong.”

“Cieee…bisa beneran pacaran nih?”

Mendengar Hani menggoda aku hanya bisa tersipu malu.melupakan segala kesedihan tentang Dena,aku sangat bersemangat dengan adanya Dimas.

Hari itu ku lewati dengan gembira,tak seperti biasa aku pulang sekolah bersama dengan Hani.maklum dia sering di jemput oleh ayahnya menggunakan sepeda motot,walau hanya sepeda motor,di desa ini sepeda motor adalah barang yang sangat mewah.Hani adalah sahabat baruku,orangnya sangat kalem dan tidak banyak menuntut.beda jauh dengan sifatku.Kami berjalan sambil membicarakan Dimas,aku sangat suka padanya dan semoga saja dia benar-benar menepati janjinya.Akhirnya aku yang terlebih dahulu sampai ke rumah,aku berpisah dengan Hani sebelum menaiki bukit.Hari ini seperti keajaiban saja.

Sorenya,aku hanya diam,menatapi hijaunya sawah di bawah bukit.aku masih saja sempat memikirkan Dena dan Jakarta.Dulu di Jakarta aku dan keluargaku sangat kaya raya hingga keluargaku bisa membiayaiku sekolah di SMA yang sangat elit,disana Aku bersama Dena bertemu,aku bersahabat dengannya,dia selalu ada untukku,selalu membuatku tersenyum.hingga pada suatu hari Perusahaan Bapak ku bangkrut,karena banyak instansi yang memanfaatkan posisi nya,korupsi memporak porandakan perusahaan Bapak ku,sampai sampai harus menutupi kerugian dengan biaya pribadi.lama-lama Keluarga lah yang menjadi imbasnya,harta benda semuanya di sita oleh Bank,maka akhirnya tanpa berputus asa,Bapak ku memilih untuk tinggal di desa ini,Desa Sukamaju.Aku masih bersyukur keluarga ku masih utuh,karena jarang sekali ada wanita yang sekuat Ibu ku masih menerima Bapak ku dengan keadaan seperti saat bangkrut.Aku harus melupakan kemewahan di Jakarta,Dena adalah hal yang berat untuk ku tinggalkan.Dia telah mengetahui keadaan ku,namun dia berjanji untuk selalu saling mengirim surat denganku.

***

            Aku memang bukan perempuan yang kuat tetapi aku selalu menguatkan diriku.Dimas hadir sebagai pelipur lara sudah seminggu ini dia bersekolah,dan aku masih memerenkan karakter jutekku di hadapannya.Aku menunggunya sebulan untuk rajin bersekolah hingga pada suatu hari Dimas datang dengan sepeda ontelnya mengajakku pergi ke Sekolah bersama.

Aku tercengang melihat Dimas turun dari sepeda ontelnya tepat dihadapanku.

“Mir…aku mau ngomong sama kamu..”Dimas mengatur kata-katanya

Dan aku hanya diam mematung disana,untung jalan masih sepi belum banyak orang disana.

“Aku…aku…aku cinta sama kamu..mau kan jadi pacarku?”Dimas mengucapkan kata-kata tersebut dengan gugup.

Aku salah tingkah.aku sudah melihat perkembangannya,dia sudah rajin bersekolah.maka saatnya aku berkata

“Iya aku mau..”Aku tersenyum lega

“Beneran..beneran?”Dimas memelukku dengan eratnya

Akhirnya dia melepas pelukannya setelah aku menggertak kesal.Akhirya kami jadian.Dimas memberikan bunga ilalang kepadaku,maklum saja di desa jarang sekali ada mawar.bunga yang sangat tulus di berikan oleh Dimas,akan selalu ku simpan.dengan begitu aku akan selalu ingat kepadanya.

Kami masih canggung,dia memboncengku dengan sepeda ontelnya.Aku sangat sayang Dimas.

Hani yang saat itu sudah tau kami jadian,bergembira sekali menyambutku.Maka dengan ini aku berdo’a Tuhan aku mohon semoga keadaanya biar tetap bahagia seperti ini.

Aku sekarang tidak perlu repot jalan pulang kerumah,ada Dimas yang memboncengku.walau dengan sepeda ontel,namun cukup romantis untukku.

Sampai di kaki bukit.Kita berpisah setiap harinya dan bertemu saat pagi berangkat sekolah,kecuali hari Minggu.dengan adanya Dimas,aku akan selalu bisa mengingat hari.

Dengan berseri-seri pulang kerumah tak seperti dulu,cemberut setiap saat.mungkin hari itu adalah keberuntunganku.Di rumah masih kosong,aku hanya sendirian.tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.”Tokk…tok..tok!”

“Permisi….permisi…!”

Aku membukakan pintu “Ada perlu apa ya pak?”Melihat seorang bapak memakai baju orange.

“Bisa saya bertemu dengan Mira Silfiani?”

“Dengan saya sendiri pak.”

“Ouh adek ini ya…begini dek…ada surat untuk adek dari Dena di Jakarta.”

Tanpa pikir panjang aku langsung merebut surat itu dari tangan pak pos.

“Sebelumnya…adek harus tanda tangan di tanda terima ini dulu ya dek?”ucap pak pos itu memenggal rasa senangku mendapat surat balasan dari Dena.

“Terimakasih banyak pak?”

“Sama-sama dek.”

Aku dengan cepat merobek amplop lalu mengambil sepucuk surat,mempersiapkan mata untuk membaca.

Dear Mira.

Assalamu’alaikum Mira,Tante kangen sekali dengan Mira Kapan kamu datang  berkunjung ke Jakarta?.Sepertinya Dena juga kangen denganmu.

Maaf Mira..kamu pasti bingung ya?mengapa jadi Tante yang membalas surat ini.Beribu maaf tante sampaikan untuk Mira.

Sudah Dua bulan yang lalu Mira,Mira tahu kan sudah lama Dena mengidap penyakit kanker lambung?Tante sedih bila harus mengatakan ini kepadamu.Dena sudah pergi Mir.Maaf kan tante yang tidak mengabari mu.Tante juga tidak menyangka akan kehilangan dia.Tante hanya bisa mengirimkan surat terakhir yang dia tulis untuk yang terakhir kalinya sebelum Dena meninggal.

Maaf

Agustin

Aku hanya terpaku bisu,tak kusadari airmata ku mengalir dengan derasnya,tak sanggup membaca kabar duka itu.Aku berusaha meraih surat yang kedua.Surat terakhir dari Dena.

Dear Mira

Hallo Mira,Syukurlah kamu baik-baik saja,aku juga sehat kok.Walaupun di Jakarta panas aku tetap bisa bernafas,karena aku mensyukuri aku masih bisa hidup.

Aku sangat rindu padamu,aku harap di saat aku tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini,kamu berada di sisi ku.Mira aku sudah tidak kuat lagi,berhari-hari ku lewati di tempat tidur seharian penuh,aku hanya bisa berbaring saja,namun syukur lah aku masih bisa menulis surat ini.Aku harap kamu ada di sisiku saat ini.

Mira..aku tidak minta banyak hal…aku hanya minta Jangan Lupakan Aku.walau nanti aku harus pergi untuk selama lamanya.Jaga kesehatanmu Aku Rindu kamu.

Peluk sayang

Dena

Air mata ku,semakin deras mengalir,bagaimana ini?aku hanya bisa tertegun,aku mencari-cari ibuku.

“Ibu…Ibu…”Sambil menangis keras.ternyata Ibuku ada di belakang rumah.

Ku berlari kepelukan Ibuku sembari memegang kedua surat itu.

“Ibu…antarkan aku ke Jakarta sekarang juga..”

“ada apa kamu ini?”Ibu ku bingung dengan kelakuanku

Aku hanya bisa memberikan surat dari Tante Agustin agar Ibu ku membacanya.

Aku menangis tanpa peduli berapa umurku,aku menangis seperti anak kecil,hari itu aku sangat menyesal mengapa aku harus telat mengirim surat.

Ibu ku,hanya bisa menenangkanku.

“Jangan sekarang ya Mir…mungkin besok..Bapak akan mengantarmu ke Jakarta..”

Mungkin hari itu sudah tidak ada kendaraan di desa,sehingga sulit untuk menuju ke terminal.Aku tidak sabar menunggu besok.

Di liputi rasa bersalah yang sangat amat dalam.Untuk sekedar tidur saja tidak Bisa.

“Maaf kan aku Dena..”Hanya mengucap maaf tanpa habisnya.

***

Ke esokan harinya,aku dan Bapak ku,sudah bersiap ,meninggalkan rumah,

Saat itu sama sekali tidak bisa memikirkan Dimas,ataupun Hani…yang ada di dalam pikirku hanya Dena.

Jarak Jakarta dari desa ku memang dekat namun sulit di jangkau,Bapakku dengan sabar mengantarkanku kesana.Sesampainya di rumah Dena.Aku di persilahkan masuk oleh Tante Agustin.sejenak bersantai namun aku tetap saja meneteskan air mata mendengar cerita dari Tante Agustin.

Akhirnya Tante Agustin mengantarkanku ke tempat di mana Dena berada,Bapak ku begitu sabar mendampingiku.

Menginjakkan kaki di tempat sepi dan berbau bunga kamboja di mana-mana.aku mulai mendekati pusara Dena.memeluk tanah yang mengubur Dena.Aku tak sanggup lagi menahan air mata ku,aku menangis dengan kerasnya disana.

“Ingat nak…Ingat Allah.”Bisik Bapak ku

“Dia sudah tenang di sana.kita harus mendo’akan Dena supaya dia diberi rahmat.”Tante Agustin juga menangis.

Sebuah penyesalan yang tiada habisnya,Batasan diantara Dena dan Aku,semakin kokoh saja.aku sangat merindukan Dena.

Banyak kenangan bersama nya,Aku harus mengingat bahwa hidup ku masih terus berlanjut,aku harus melanjutkan hidupku sambil memegang janji untuk tidak melupakan sahabat terhebatku Dena.aku harus kuat melepas kepergiannya.Hidup bukan penyesalan tetapi perjuangan.

-Selesai-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s