Cerita Terlambat Perpanjangan SIM C dan Mencoba Membuat SIM C Lagi :)

Hallo 🙂

Saat itu di hari Rabu,18 November 2020 saya dengan santainya mencari tahu keberadaan SIM keliling untuk memperpanjang SIM yang masa berlakunya sampai dengan 13 November 2020, dan tibalah saat pemotretan ulang, Pak Polisi nya kaget dan petugas yang kurang telitipun juga kaget, dia pikir angka 19 pada SIM lama tersebut. Lalu mereka bilang “Ini udah telat atuh, neng. Sekarangmah telat sehari juga harus ngulang lagi”. JEDAAAAAARRRRR, SIM pertama saya yang 5 tahun lalu dibuat dengan jalan khothooor itu tidak dapat diperpanjang lagi. :’)

whatsapp-image-2021-01-14-at-19.14.21

Tanpa buang waktu saya menuju SAMSAT, sambil memarahi diri sendiri yang seminggu lalu begitu percaya diri bilang pada ibuk “Aku perpanjang SIM nanti aja deh, enggak papa kayaknya cuman telat beberapa hari”. :’) Ibuk yang biasanya paling cepat membayar suatu hal sebelum jatuh tempo itu malah mengiyakan saya, betapa sudah ditakdirkan begitu barangkali.

WhatsApp Image 2021-01-14 at 19.22.22

Saya menuju loket pembuatan SIM Baru :’) dengan sabarnya, persyaratannya FC KTP, surat sehat dengan surat tidak buta warna, dan formulir isian dari SAMSAT. Tidak menunggu lama saya dipersilakan menuju ruang foto, kemudian diarahkan ke ruang ujian teori, di ruangan tersebut ada banyak computer lengkap dengan keyboard dan headphonenya #hiliiiihhh. Beberapa saat menunggu saya sempat cari tahu ujian teori seperti apa, ternyata di Youtube pun ada bocorannya :’), mana sempat keburu dipersilakan masuk, kata Pak Polisinya saya harus dapat minimal 80 poin untuk lolos, dan karena tidak focus antara audio dan soal yang ditampilkan di layar hasilnya dapat 77 poin.hhhhhh :’) berat sekali cobaan ini Tuhaaan. Saya diberi kertas barcode yang tadi dipakai ujian, lalu diarahkan untuk kembali lagi minggu depan. Sampai di rumah perasaan sebal sekali, terpikir untuk jalan khothor lagi, tapi ternyata harganya melejiiitt. Dan akhirnya saya mencari cerita orang lain yang berhasil lolos ujian SIM ini dengan jalan jujur, lewat blog, twitter mereka bercerita susahnya ujian praktek tapi berhasil juga kok, maka dengan itu sayapun bertekad untuk mencoba sampai dapat meski jalannya panjang, di sisi lain karena memang sedang bokek :’)

Selasa, 24 November 2020 datang dengan semangat melaksanakan ujian teori dan mendapatkan 87 poin :”) agak lama menunggu kami 4 orang yang lolos ujian teori diarahkan ke belakang gedung tempat ujian praktek. Kami menyerahkan berkas ke petugas ujian praktek, ternyata di sana ada sekitar kurang lebih 10 orang melakukan ujian praktek juga, rasanya berdebar karena 5 tahun lalu tidak melalukan hal ini. Ngahahahaha

WhatsApp Image 2021-01-14 at 19.22.22 (1)

Kami diberi simulasi jalur lurus, zig-zag, angka 8, reaksi menghindar dan letter U, di jalur angka 8 sebanyak 3 kali, di letter U belok kanan dan belok kiri. :’) Pak polisinya dengan percaya diri meliuk-liukkan motor, melakukannya dengan tenang dan tiba-tiba selesai tanpa menjatuhkan patokan maupun menurunkana kaki. Saya menjadi urutan akhir, belum juga mulai sudah grogi. Di hari pertama tersebut saya berhasil melewati jalur lurus dan jalur zig-zag. Saat di angka 8 jantung saya tidak terkendali dan takut jatuh dan menjadi gugup, gas dan rem pun tidak terkendali, baru juga memasukki arena langsung turun kakinya. Saya dipersilakan untuk mengikuti ujian praktek lagi minggu depannya. Saya tidak menanyakan mengenai apakah diperbolehkan latihan, ternyata diperbolehkan latihan di atas jam 10 setelah jadwal ujian praktek selesai, saya tidak pernah mencobanya. Bermodal ingatan minggu lalunya dan begitu terus pada tanggal 1 Desember 2020, 8 Desember 2020, 15 Desember 2020, 22 Desember 2020, 29 Desember 2020 paling susah adalah angka 8 dan letter U. Minggu ke minggu dari hanya 1 putaran di angka 8 menjadi 2 putaran dan akhirnya 3 putaran, dan berhasil mengendalikan emosi saya supaya jantung tidak terlalu berdebar keras, jadi sebetulnya kuncinya tenang dan sabar.

Dan pada akhirnya, pada 5 Januari 2021 :’) pada percobaan yang ke tujuh kalinya saya LULUS ujian SIM, aaaaaaaakkkk ToT. Saya diarahkan ke loket mengambilan SIM, menyerahkan berkas dan membayar Rp.100.000, beberapa saat nama saya dipanggil dan dapatlah saya SIM baru dengan tampilan baru.J Sudah begitu saja cerita ini ditulis, dan saya ingatkan supaya kalian jangan sampai lupa tanggal perpanjangan SIM, STNK, ganti kaleng, dan lain sebagainya. See you next post 🙂

Selamat Ulang Tahun Pacarku

Kamu tersenyum dengan kikuk tiap kali menanggapi suatu hal yang menyebalkan, kenapa justru hal itu yang saya ingat di hari ulang tahunmu ini, mungkin karena seberapapun kamu tersenyum aneh, pipimu membentuk kawah yang menurut semua orang itu hal manis termasuk aku sendiri juga manis (tidak mau kalah). Kamu bilang ingin dibuatkan puisi, tapi aku sekarang kesulitan membuatnya, barangkali karena perasaan sedih yang mendorong puisi itu lahir sedikit ada sejak kamu menghadiri kehidupan saya. Tapi seharusnya puisi juga bisa lahir saat bahagia, sayangnya belum juga saya buatkan. Jadi sebagai gantinya saya bilang ke Tuhan supaya kamu bahagia, sehat dan lain-lainnya.

Kamu bilang lumayan sedih karena usia semakin berkurang, tapi kamu juga yang sering bilang supaya menikmati hidup saat ini. Selamat menjalani langkah-langkah selanjutnya. Tulisan ini memang pendek, dan sengaja dibuat supaya blog ini tahu kamu berulang tahun :). Selamat Ulang Tahun.

By audhina Posted in Curhat

Sehat Selalu.

Tiba-tiba otak saya dipenuhi macam-macam tapi teringat bahwa tahun ini saya cuma menyelesaikan 1 buku saja, itupun kumpulan cerpen, berhari-hari saya menyesali itu, kasihan sendiri sama otak saya. -.-

/1/ Pernah enggak? Ketika berharap tapi sudah tahu hal yang diharapkan tidak mungkin terjadi, dan akhirnya memilih menyelesaikannya sendiri saja?. Nyatanya daripada repot menunggu lebih baik menjamin diri sendiri.

/1.5/ Empat bulan lagi dan tahun ini berakhir, dan semua orang memilih membenci tahun ini. Tapi tidak ada jaminan tahun depan akan seperti apa, tapi semua orang berdoa semua hal lekas pulih, dan semoga doa-doa itu terkabulkan.

/2/ Nyatanya kurang membaca bagi saya seolah sepanjang tahun ini begitu kurang berguna. Yaah tentu di sini-sini saja, berharap sehat selalu di samping kegiatan bekerja masih normal dan sebetulnya penuh risiko. Mungkin mulai besok saya kembali membaca lagi.

/3/ Sudah merasa dicintai dan tidak kosong oleh seseorang selain keluarga. Sebagai hadiahnya saya selalu mandi dan cuci baju tiap pulang bekerja. Tingkat ketakutan masih sama saja.

Siapa lagi coba yang melindungi diri? Ya tentu diri sendiri. Rasanya ingin lekas menemukan tempat yang tepat, dan berkembang di sana. Wish me luck. Semoga kalian sehat selalu.

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 09 : Ulang Tahunnya Daay

Aku belum pernah menemukan wanita sengeyel, Daay. Tapi dari ngeyelnya dia itu, kita enggak akan kehabisan bahan debat, kadang juga sepemikiran. Tapi presentasenya dikit sekali, tapi enggak papa aku suka debat sama dia.wahahaha xD

Ini hari ulang tahunnya menurut penanggalan Masehi. Dia bilang doa orang berpuasa tidak akan tertolak, dalil siapa ya itu, bisa bantu aku? :’).

Sukabumi sama Yogyakarta masih aja jauh, ya. Tapi kita selalu dekat (hilih apasih).

Tahun ini mungkin jadi termasuk siklus krisis hidupnya, aku menyemangatinya sebisanya aku. Pas nanti siklus ini berakhir, Daay bakal bahagia sampai heran gimana mau sedih.

Semoga semesta mendukung penuh jalan yang ingin Daay tempuh. :’)

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 07 : Keadaan Belum Membaik

IMG-20200418-WA0003.jpg

Tiap hari berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan buruk itu lumayan bikin frustrasi ya ternyata, toxic positivity juga enggak baik, yang sedang-sedang aja emang yang paling baik, enggak terlalu panik tapi juga enggak meremehkan. Aku termasuk orang yang bersyukur karena masih punya pekerjaan di masa pandemi ini. Tapi juga kadang suka khawatir berlebihan (manusiawi :’) ).

Jadi mungkin kalau pasien-pasien pada jujur dan pasrah (dalam artian untuk kebaikan semua orang), mungkin banyak rantai yang dapat diputus dan tidak lebih banyak orang terpapar juga.

Setiap baca berita soal pandemi dan perkembangan jumlah pasien positif, sembuh dan meninggal, pada mulanya aku langsung ikut menyebarkan itu di sosial mediaku, tapi itu lekas berhenti karena aku ditegur oleh seorang perawat (temanku), dia bilang jangan sebarin berita buruk karena akan berpengaruh imunitas (maksudnya malah nambah stres yang baca gitu lho), aku awalnya kesal tapi enggak lama mikir juga sih. ngahahaha, dan semenjak itulah aku enggak lagi sebarin berita buruk. Karena ya sekarang rutinitas sudah menemukan ritmenya, semua orang berharap semua bisa lekas membaik keadaannya, jadi yasudahlah, enggak ada yang salah dari memahami orang lain.

Jaga kesehatan.

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 05 : Memaafkan

“Sebab aku merasa bisa memaafkan banyak hal dari orang yang sudah mati.”(Haruki Murakami-Dengarlah Nyanyian Angin Hlmn 14)    



Terkadang aku lupa mengenai, apakah orang-orang yang sudah mati telah memaafkan orang yang masih hidup atau belum, ya?. Aku rasa ketimbang memikirkan itu, urusan di alam baka lebih mengerikan dari pada memikirkan orang lain. Maksudku, apa ada orang mati yang masih memikirkan orang hidup dan menuntut permohonan maaf, mungkin di film ada ya seperti arwah gentayangan. Tapi dibanding memikirkan hal ini, mengirimkan doa untuk yang telah tiada mungkin bisa jadi meringankan semua pundak :’).

Belajar memaafkan diri sendiri juga sulit. Mengadili diri sendiri, menuntut banyak hal pada tubuh yang masih bernyawa. Ikhlaslah meski sulit.

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 03 : Tidak Boleh Cengeng

Doa-doa yang mengambang di langit-langit malam tidak lagi sesunyi dulu, Tuhan benar-benar telah kasihan kepadaku.

Dia beraroma stroberi dengan kombinasi angin di pagi hari. Datang menuju Kota Es dengan segala kepasrahannya.

Kala matahari pukul 12 siang, aku yakin aku sudah mencintainya.

Aku bilang kepadaku : “Boleh jadi ketika bertubi-tubi kesakitan merupakan pintu masuk bahagia. Tidak boleh cengeng dan menghakimi nasib orang lain yang kelihatannya baik-baik saja”.

Mungkin mendoakannya jadi bagian paling membuatku cengeng saat ini.

Selamat malam. Maaf karena terlalu cengeng karena kangen. Dan kata “nanti” menjadi semakin menyebalkan saja.

nan·ti1 1 n waktu yang tidak lama dari sekarang; waktu kemudian; kelak: hal itu akan kita bicarakan –; — saya akan menelepon Anda lagi; sampai bertemu lagi –; 2 adv kalau tidak begitu; kalau tidak: dengarkan nasihatku baik-baik, — engkau menyesal; jangan kauganggu, — ia marah; 3 adv akan: tidak — menurut perintahmu;

 

Seharusnya tidak lama lagi.

Semoga semua lekas berlalu, lekas pulih Bumi.🌏

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 01 : Ucapan Selamat Pagi Bukan Sekadar Ucapan Saja.

20200411_112733.jpg

Holla Readers :). Jadi ceritanya aku gagal nih melewati Ramadhan hari pertama, karena oh karena tamu bulanan datang tepat 2 jam sebelum berbuka puasa :’) (enggak papa aku kuwaat.(ノ°Д°)ノ︵ ┻━┻)

Jadi guys, apakah kalian pernah berpikir bahwa ucapan selamat pagi bukan sekadar ucapan. Jadi “selamat pagi” itu seperti ungkapan bahwa seseorang itu memikirkan kamu ketika dia baru bangun tidur lalu berdoa pada Tuhannya dan selanjutnya mengingat kamu.

“Hey, aku ingat kamu begitu aku bangun.”

Jadi selagi kamu bisa, kenapa enggak menghargai dan apresiasi ucapan itu dengan cara membalas pesannya mengucapkan selamat pagi kembali. wahahahaha XD udah gitu aja tulisan ini dibuat, kalau ingat nanti mau disunting dulu biar paragrafnya Justify (aku nulis di android, tidak mengerti caranya).

Marhaban ya Ramadhan. Berkah Ramadhan bagi kita semua 🙂

 

Kejenuhan Pekerja di Titik 5 Tahun

LRM_EXPORT_9232080399934_20191103_105421214

Hallo Readers apa kabar? 🙂

Jadi apa ada yang memerhartikan isi blog ini? Tinggal 2 postingan? Yak, betul sekali. Semua postingan saya arsipkan, saya sisakan dua yang berkesan selama 7 Tahun menulis di Blog ini. Dan sekarang akan tambah jadi 3 postingan. Postingan ini saya tulis karena saya sedang jenuh, sejenuh-jenuhnya. Kalau dalam kimia, itu misalnya ada larutan tidak bisa lagi melarutkan suatu benda terlarut yang ditambahkan selama terus menerus ke dalamnya. Karena saya tiba-tiba saja ingin menuliskan apa sih kejenuhan saya selama bekerja di tempat kerja saya selama 5 tahun ini, mungkin lebih ke curahan hati saya yang meronta-ronta kali ya. #uhuk. Berikut hal-hal yang saya merasa bosan bekerja dalam jangka 5 tahun.

  1. Partner Kerja Bergonta-ganti

Saya sudah bekerja selama 5 tahun sejak saya lulus sekolah.  Sudah berganti partner sejumlah 5 kali pula. heu~.  Mereka resign kemudian digantikan dengan orang baru, kemudian saya dapat partner baru, begitu seterusnya. Apa yang saya rasakan?. Sedih sekali tentunya. Pertama kali ganti partner saya merasa dikhianati, karena saya merasa tidak siap kehilangan. Hmmmm coba bayangkan, saya harus beradaptasi lagi dengan partner baru, membagi tugas dan memahami karakternya. Saya benci sekali beradaptasi dengan orang baru di tempat yang sama, susah sekali rasanya. Pada saat berganti partner ke 4 kalinya, ketika itu saya sudah mulai mumpuni dan mulai bisa dengan cepat membangun kesatuan dengan partner baru, akhirnya saya mulai pasrah dan menikmati proses berganti partner ini. Mulai mensyukuri karena saya jadi punya banyak mantan partner tetapi tetap berteman akrab. #hilih. Tapi sebersyukur apapun saya, saya sudah di titik tidak mau ditinggalkan lagi, tidak mau beradaptasi lagi. 🙂

  1. Masalah yang Dibebankan

Ketika permasalahan datang, dari kecil sampai berat kenapa ya kok saya melulu yang merasa terbebani, sangat terbebani malah. Ketika saya dianggap paling lama bekerja dan “paling tahu”, saya dipaksa menghadapi masalah itu, jadi kalau kata mereka “siapa lagi?, ya kamu lah!”.

Tidak ada pekerjaan yang tanpa masalah, tergantung individunya menganggapnya bagaimana, hhhhhh. Iya, tapi tolong dibagi dong masalahnya, saya enggak kuwat. Makasih.

  1. Paling Tahu

Mengulang poin dua tetapi melihat ke sisi manajemen. Ketika sudah tahu bagaimana cara kerja mereka, dan beberapa hal yang alot untuk dihadapi dan tidak berubah selama 5 tahun. Bagaimana tidak jenuh?

Sudah tiga poin saja, tetapi sudah cukup mewakili begitu banyak hal yang terjadi selama 5 tahun bekerja. Di sisi lain saya mendapatkan saya yang sesungguhnya di titik 5 tahun bekerja ini, saya bersyukur karena pekerjaan ini menopang saya untuk berkuliah selama 4 tahun lho ya, karena satu tahun saya mengumpulkan uang dulu buat biaya masuk kuliah. Apa saya akan berlanjut di pekerjaan ini atau tidak? Saya belum tahu, maunya punya pekerjaan pakai ijazah S1 di tahun depan, tetapi tahu diri karena persaingan begitu ketat, saya harus berjuang terus buat mendapatkan apa yang saya inginkan.

Kalau kata Nelson Mandela “It always seems impossible until it’s done.”

See you next post Readers 🙂