Batas (Puisi)

Mungkin saja saat ini tuan sedang terlempar ke tepian paling aman,

Sedangkan semesta memilih masygul kepada saya, lalu batas menjadi buih di akhir minggu

Tanpa Batas, empasan paling kaku menjemput tuan kepada saya

Pada Senin pagi, saya sedekat ini dengan tuan

Lalu batas mengada-ada menjadi kaku

Dan saya percaya, bahwa tuan tidak sedang berbahagia

Tetapi tidak juga meminta saya untuk memiliki Tuan

Sehingga kini musim memilih batas untuk memiliki saya

Dan tuan terlempar lagi ke tepian paling aman, dan selamanya.

Audhinadaw

7.11.18

Iklan

Kamu!

Aku mengabaikanmu, jika kita terus bersinggungan, aku rasa aku cuma semakin terluka, semakin menyalahkan kehendak semesta, semakin menginginkan kamu ada, kamu tahu semua jawaban itu, kamu tidak pernah berubah, selalu menginginkan jawaban dariku tanpa kamu menjelaskan dari bagianmu, aku yang terus terluka, kamu tidak tahu!.

Jadi boleh saja kan aku menutup semua jalan percakapan bagi kita, supaya hatiku lega, agar juga tidak lagi menangisi keadaan kita. Kamu pantas bahagia, tidakkah kamu mulai mengabaikanku juga?

Aku sekarang sakit lagi, kembali pada paragraf pertama.

Aku tidak mau lagi menyalahkan Tuhan, aku cuma mau kita tidak lagi saling sapa. itu saja, supaya kamu dan aku sama-sama lega. kita tidak pernah menjadi BERSAMA, tidak juga untuk BAHAGIA.

Sedang Ingin Diperjuangkan

Lingkungan gue kayak tiap hari terjangkit virus yang memungkinkan seorang gue berpikir ke arah,
mana ada orang yang mau memperjuangkan gue yang masih berantakan ini? di sisi mana berharganya gue?

iya itu karena setelah sahabat seperkuliahan nikah sama dosen muda bahasa inggris yang naksir dia pas semester 1 dan yang lainnya setelah yang satu itu nikah, yang lainnya udah punya pacar, ada yang udah mau 6 tahun pacaran, 3 tahun, dan 1 tahun pacaran dan mereka sudah merancang keindahan setahun ke depan sambil nyelesain skripsi, udah ada yang jaga gawang pas wisuda nanti, dan mereka dan pacarnya nanya kapan gue punya pacar. lalu tetangga gue, yang baru aja dilamar pacarnya jauh-jauh dari bajarnegara itu, lalu teman sejawat yang sama pacarnya makin sweet banget dan berencana tunangan dan nikah tahun depan, lalu tetangga gue yang lebih muda dari gue udah punya pacar dan ibunye nanya ke ibu gue “itu kapan dilamar? ” segera aja deh buuu. biar cepet selesei obrolannya. lalu temen yang udah punya anak umur setahun nanyain gue kapan nikah, dan dia bilang abis nikah enaaa lho. hmmmmmmmm.
gue yang selama ini merasa enjoy dengan kemandirian gue, dengan kenorakan gue, dengan kealayan gue, dengan apa adanya gue, merasa terusik vrooh!

habis terusik langsung biasa lagi sih, tapi ya ini frekuensi terusiknya keseringan, lha gue kudu piye? uwislah aku mangan tisu ae lah.

sejauh ini gue sih masih seriweuh biasanya kok, jadi yha audhina masih normal, cuma lagi pengin curhat aja biar semua tahu kalau audhina lelah ditanyain kapan nikah.

-.- gue masih muda, masih bisa kemana-mana tanpa perlu dijemput pacar, masih rutin sholat, makan, minum, BAK, BAB dan numpukkin barang di keranjang belanjaan online dan gak dicheckout juga sampai sekarang tanpa bantuan pacar. iya gue semisqueen itu, tapi ya masih Alhamdulillah dikasih hidup sama Allah. hehe udah ah mau mikirin judul skripsi gue.

Gue lagi pengin diperjuangin sih intinya, soalnya gue lagi merjuangan diri gue sendiri.

Jadi wahai para readers yang suka nanya ke orang kapan nikah, segeralah berhenti dari hobi itu yha. thx

see you next post ūüôā

Masa Muda yang Dramatis

pocket-watch-3156771_640.jpg

picture by : pixabay.com

Ketakutan akan tidak bahagia saat muda terus membayangi, padahal setiap hari bisa dibikin bahagia asal mindset nya benar aja. Ya nyatanya tolok ukur kebahagiaan anak muda itu berbeda-beda, aku anak muda yang seringnya melihat kebahagiaan itu dari ada tidaknya uang di dompet. Ketika di dompet sudah tipis tinggal uang untuk beli bensin motor aja udah hilang aja senyuman di bibir ini.heu~

Aku di tahap ketakutan bahwa masa mudaku tidak akan bahagia bila tidak ada uang di dompet. Rezeki orang juga berbeda-beda dan sudah ada yang ngatur. Banyak yang bilang bahwa aku kurang bersyukur, tapi ya memang benar kok, enggak bisa ditapi-tapian. Aku seharusnya berhenti nyamain kehidupanku dengan kehidupan orang lain, biar hati jadi lega.

Ketakutan kedua yaitu belum juga membahagiakan ibuk dari segi materi, mengingat aku masih fokus membiayai kuliahku. Ketakutan semacam ini berulang kali melingkupi pikiran. Aku juga bukan enggak berbuat apa-apa, aku sudah berbuat sebisaku, semampu otak dan tenagaku, tapi aku masih khawatir. Tapi Ibuk mungkin tidak berpikir demikian, meski aku terus berputar di sana.

Seberat ini ternyata di usia 20-an ini. Aku juga enggak setiap hari kok berpikir negatif begini, ada masanya aja seperti saat ini.  Aku masih percaya bahwa Allah sudah menyiapkan kebahagiaan maupun duka bagi hambanya, nunggu giliran aja enggak ada susahnya, kan?.

Enggak usah deh yang suka bilang, ‚Äúkamu itu enggak percaya Tuhanmu apa gimana?‚ÄĚ

Jadi kalau ternyata berkeluh pada Tuhan belum juga buat hati melega aku harus gimana?. Apa mungkin saat itu otak sedang berpikir sempit, padahal dunia ini luas sekali?.

Tahapan lain dari kekesalan akan kehidupan ini adalah mencari penghiburan berupa, membaca jurnal yang didapat dari kata kunci ‚Äútidak bahagia‚ÄĚ.

Aku memang harus baca ini, judulnya Peran Stress Management Terhadap Kesejahteraan Subjektif

Menurut     teori     bottom-up, kesejahteraan  subjektif  hanya  sebagai akumulasi  kegembiraan  yang  kecil-kecil. Pendekatan  ini  menjelaskan,  bahwa tatkala   seseorang   menilai   apakah kehidupannya   bahagia   atau   tidak, beberapa  kalkulasi  mental  digunakan untuk     menjumlah     kegembiraan- kegembiraan dan penderitaan-penderitaan yang pernah dialami (Diener, et al. 2001)

See?

Kenyataannya otak aku mengkalkulasikan bahwa kebahagiaanku ini kurang dari cukup, jadi gimana biar enggak seperti itu, ya?. Maka dari itu ada yang namanya stress management. Masih mengutip dari jurnal itu.

Dalam kajian psikologi positif, stress dikendalikan dengan cara menumbuhkan potensi positif yang ada pada diri manusia. Misalnya dengan menawarkan perilaku positif, seperti memaafkan, bersyukur, sadar secara total terhadap keadaan yang ada di sekitarnya. Tujuannya adalah meningkatkan kesejahteraan subjektif individu. Stres akan lebih mudah dikendalikan saat seseorang nyadari datangnya stres di awal

Semoga saja aku masih dan terus bisa mempertahankan kewarasanku ini. Sudahlah itu saja post kali ini, see you next post.

By audhina Posted in Curhat

6 Tahun Biru Pupus

DSC08960

Holla Readers, Apa kabar semoga kalian dalam keadaan baik ya, jangan lupa bersyukur setiap harinya. Aku mau mengucapkan terima kasih kepada kalian para readers yang mungkin memang sengaja nyari blog ini, atau mungkin karena kesasar atau karena ngelindur dan malah ke blog ini, penulis seneng banget kalau lihat Stat yang melonjak, rasa-rasanya seperti diberi barang kesukaan.

Biru Pupus sudah berusia 6 Tahun, beruntung karena setiap Bulan ada postingan blog, meski hanya satu tulisan yang pendeknya minta ampun tetap saja bisa disebut postingan blog.

Doakan saja semoga tidak patah semangat dalam menulis. Mohon maaf kepada kalian semua yang mungkin tidak sengaja merasa tersakiti oleh tulisan-tulisan di blog ini. Mohon maaf juga karena sudah jarang blogwalking ToT, sedih guys beneran.

Kalian tahu bahwa tulisan lahir melalui kegelisahan penulisnya, bahagia juga ada bagian kegelisahannya. Oke aku mau mengaku bahwa aku kangen sama kalian semua.

Aku merasa selama 6 tahun ini belum menghasilkan tulisan yang bagus, janji terhadap diri sendiri agar dapat menerbitkan satu buku di tahun ini pun tidak terlaksana. Kesibukkan memang mampu merubah banyak hal. Doakan tidak berubah terlalu jauh dari Audhina yang sesungguhnya. Doakan Audhina berubah lebih banyak kepada banyak hal yang baik.

Semangat menulis kawan! Kelak tulisan kita akan bisa menyembuhkan banyak hal. Aku menyayangi kalian, kalian bagian dari penyembuhan-penyembuhan yang ada dalam Audhina.

Selamat Ulang Tahun Biru Pupus ūüôā

ulang tahun blog yang ke-6 yeay

Minggu Pertama KKN : Perkenalan adalah Gerbang Percakapan

IMG_20180726_073920

Holla readers, apa kabar? Baik duoong?

Kalau enggak lagi baik, napas dulu ya jangan lupa. Uhuk~

Langsung saja, aku mau nyeritain tentang kegiatan KKN di Desa Sukamanah yang lebih dikenal orang awam desa yang berada di Jalan Cikiray, Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Sebelumnya kalian kenalan dulu deh ya sama anggota KKN Cisaat 2018 ini. Tentu aku tidak sendiri, karena jika sendiri itu akan dinamakan uji nyali. halah~

Alhamdulillah berkali-kali, karena lokasi KKN ini tidak terlalu pelosok, dan masih bisa pesan makanan via go-food. Dan bagi aku mahasiswa kelas karyawan ini, bisa bolak-balik (tempat kerja ‚Äď lokasi KKN).

Kelompok ini terdiri dari 15 orang. Empat cowok dan 11 cewek (2 mahasiswa kelas karyawan). Tentu cerita ini mungkin akan berbeda dari KKN yang kebanyakan diceritakan oleh mahasiwa kelas reguler, tapi semoga aja cerita ini bisa menggugah sanubari. Eheeeem~

Cowok yang cuma 4 orang ini wajib kalian ketahui, di antaranya

IMG-20180725-WA0007

Ketua kami Riana Afriansyah yang lebih baik dipanggil Rian, awalnya kukira dia berjenis kelamin perempuan, dan beruntungnya aku lihat kolom Jenis Kelamin dulu.Uhuk~. Rian merupakan ketua yang bisa diandalkan, bisa menggerakkan seluruh anggota kelompok dengan baik.

Pak Jordy Atmadja, berumur mungkin satu tahun lebih tua dari kami semua yang sudah menikah, dan sangat berjiwa kebapakan, menyukai Danila dan suka pakai kaos hitam yang ada tulisan¬† Quote-nya Chairil Anwar¬† ‚ÄúAda yang berubah, ada yang bertahan. Karena zaman tak bisa dilawan. Yang pasti kepercayaan harus diperjuangka.‚ÄĚ

IMG-20180725-WA0014.jpg

Deni Septian Komara, mahasiswa agribisnis yang bantuin emak-bapaknya jualan ayam potong di pasar ciwangi ini punya badan paling besar, emmm gimana ya, cowok paling cuek di kelompok ini. Mungkin kalau enggak dimintai tolong dia akan terus teronggok membisu. Dan pada hari pertama mengikuti kegiatan pengajian rutin bapak-bapak di Desa Sukamanah, dia malah tertidur pulas di antara gulungan sajadah masjid. greget banget, kan? Hadeeeuuuhh.

Rafa Athariq, mahasiswa PJKR yang kelihatannya cuek padahal enggak, dia bisa jadi paling gesit bantuin para cewek-cewek riweuh. Ntap!, dan satu lagi, dia wangi. Uhuk~

Lanjut kenalan sama anak ceweknya. Ada : Aku, Dessy, Dista, Lavia, Lusi, Muna, Rima, Rizka, Selvy, Shilvi, Vicky. Kalau ditulis kayak anak cowok, otakku bisa kram (enggak ding).

Yang jelasnya, anak-anak cewek di kelompok ini seru, dan enggak jaim, Hamdallah lagi tidak ada yang berjiwa sosialita yang mungkin tidak untuk diberdayakan mengupas bawang merah maupun putih, bahkan dibayangkanpun tidaaa~, karena jika ada mungkin akan kupanggil Ibu Susi Pudjiastuti untuk memarahinya.

Cerita lebih lengkap dari mereka akan aku uraikan insya’allah pas udah selesai KKN. Karena sekarang belum kelihatan dramanya.

KKN ini akan berlangsung selama 40 hari. Dari tanggal 24 Juli 2018 sd 31 Agustus 2018. Hari pemberangkatan untuk formalitas itu berlangsung pukul 08.00 WIB. Banyak kelompok yang sudah nyicil ngangkutin barang ke lokasi KKN sebelum hari H, namun ada juga yang belum, sehingga penampakan dispenser, galon, kasur, kompor, tabung gas, koper besar-besar, dan lainnya masih nampak saat hari pemberangkatan itu.

Setelah selesai pengarahan dan harapan-harapan baik dari Bapak Rektor beserta jajarannya, kelompok kami berangkat dengan beban yang mungkin paling simple, menuju desa Sukamanah.

Posko KKN kami ini lumayan jauh dari lokasi yang seharusnya kami tangani, kenapa?, karena jauh-jauh hari kami survei lokasi dan tidak menemukan rumah yang bisa ditempati selama 40 hari, tapi ada plusnya, posko KKN kami dekat dengan kepala desa, sehingga mudah berkoordinasi dengan perangkat desa lainnya melalui Pak Kades Sukamanah.

Perlu kalian tahu, jalanan menuju kontrakan kami ini jalanan berlubang, yang cukup bikin was-was ban motor. Dan dari kontrakan ke lokasi inti kegiatan KKN harus melalui jalanan indah itu, semoga kami quwat~. Aamin

Ibuku bilang selama KKN ini, harus tambah suplemen makanan ataupun vitamin, aku aminkan, karena aku tidak mau, badanku jadi ringkih.

Ohiya hampir lupa, kemarin aku ikut membantu mengajar pelajaran PKn anak kelas satu SMP 2 Muhammadiyah Cisaat, dan aku kaget, muridnya hanya 4 orang di antaranya ada Najwa, Winda, Abi, dan Adit. Mereka seru, aku cuma menyampaikan mengenai cerita pembentukan BPUPKI selanjutnya kami ngobrol. Karena sekolah memang belum efektif dalam KBM, mereka belum belajar.

IMG_20180726_093002

Adit merupakan murid paling tua (18 tahun seharusnya sudah kelas 3 SMA) katanya dia sempat putus sekolah karena membantu orang tuanya berdagang ayam, kenapa dia mau masuk sekolah lagi di usianya sekarang ini?, keinginannya sendirilah yang mendorongnya, lalu orang tua Adit sangat senang mendengar anaknya mau sekolah lagi.(ya ampun aku terharoe…ToT9).

Sudah segitu aja dulu, biar kalian penasaran.

Jangan lupa senyum hari ini, see you next post ūüôā

Belantara Pemahaman

DSC07955

Pemahaman baik itu datang bila kamu telah mempersilakannya, otakmu tidak akan menerima bila kamu mengaturnya untuk tidak menerima pemahaman dari siapapun, kamu akan bebal dalam waktu lama meski berpuluh-puluh orang menasehatimu. Ini mengapa pelajaran PKn waktu Sekolah Dasar dulu itu berkali-kali mengingatkan tentang berlapang dada, karena kuncinya itu. Kamu tidak akan bisa menerima apapun bila dirimu sendiri penuh dengan penyangkalan dan khayalan saja, sedangkan realita merengek-rengek datang dari orang-orang yang menasehatimu itu.

Tidak ada yang tahu cara kerja pemahaman baik itu, kalau sudah waktunya kamu akan menerima semuanya. Banyak fase yang mengajarkan tentang itu, kamu cuma sering menyangkalnya saja, lain kali coba untuk secepatnya paham.:)

Rugi banyak berlama-lama tidak menerima keadaan itu, kamu cuma akan keabisan waktu saja. Saat kamu sudah sadar, kamu harus berlari untuk mengejar ketertinggalanmu. Semangat!

Dirimu adalah Ketiadaan yang Salah (Puisi)

Dirimu adalah Ketiadaan yang Salah

Oleh : Audhinadaw

Dirimu adalah ketiadaan yang salah

Dimamah luka yang menjadi aku

Kamu itu lukaku

Ketiadanmu adalah bunuh diriku

Kerinduanku adalah kebodohanku

Sejajar dengan menginginkan neraka sepanjang kehidupanku

 

Kering di hujan Juni ini mengolok

Dengan kerapatan dingin, dan aku butuh tidur

Jalanan terpijak landai berusaha menjelaskan

Tentang kasihannya keadaanku

Yang meraba-raba banyak warna merah muda yang bermacam-macam

Yang memastikan bahwa dunia ini bukan tempat bermain.

 

Hati yang patah tidak lekas sembuh

Aku bilang sudah tidak ada lagi Dia hari ini

Aku berbohong

Belum ada dia sebelum kamu

By audhina Posted in Puisi

Aku Sedang Berantakan

 

Aku lupa bahwa kamu berantakan di permukaan

Dan aku berantakan di kedalaman yang tidak terlihat

Apa mungkin aku terlalu berpikir terlalu acak, sehingga hadirmu yang sebenarnya sistematis itu akhirnya terkubur paksa

Dan bagai mayat hidup yang meronta keluar

Jadi apa fungsi pergiku ini jika aku memintamu kembali

Maka dari itu aku diam saja, menganggap semua ini cuma sementara penyesalan

Dan tidak ada di antara kita untuk mendatangi satu sama lain lagi (Sudah)

Tidak ada jilid kedua untuk berakhir pada ketiadaamu lagi!

By audhina Posted in Puisi

Ramadhan 21 : Sebenar-benarnya Perempuan?

Holla readers, ini sudah memasuki 10 hari terahir Ramadhan. Perbanyak amalan yang baik, dan minta ampunan Allah lebih keras dari sebelum-sebelumnya.

Yak mari kita mulai postingan ini.

Menjadi manusia itu kalau kata gue harus bisa mikirin perasaan orang lain, bukannya jadi manusia yang egois, yang berpikir bahwa ‚Äúterserahlah kalau dia enggak suka sama gue, gue emang begini!‚ÄĚ. Menjaga perasaan sesama merupakan hal yang teramat penting. Lantas menjadi manusia yang disukai semua orang itu memang mustahil, tapi setidaknya bersikap baik kepada sesama, dengan cara menanggapi mereka seperti kita ingin ditanggapi oleh mereka dengan cara baik. Menjadi manusia itu seharusnya yang membuat orang-orang¬† nyaman berada di dekat kita, tidak harus selalu mengalah untuk menjadi mereka nyaman, setidaknya kalian bisa menjadi diri sendiri dengan cara yang sebaik-baiknya.

Lantas tibalah ke persoaalan tentang perempuan. Gue yang kiranya sedang mengalami sedikit masalah mengenai ‚Äúbersyukur‚ÄĚ ini, merasa belum menjadi perempuan yang sebaik-baiknya perempuan. Gue bisa mengalah tapi tidak selalu mengalah, kadang membuat orang-orang merasa sungkan mendapatkan persetujuan gue akan suatu hal, rasa-rasanya jauh dari seorang perempuan yang ke-ibu-an.

Perempuan itu seharusnya yang ketika diperhatikan, mereka akan memahami bahwa engkaulah seorang perempuan itu.

Sulit ternyata jadi perempuan yang sesungguhnya itu. :’)

Sudah begitu saja postingan kali ini. See you next post.