Melepaskan

melepaskan

Daw                       : “Aku sayang kamu”

Blackcloud           : “Sayang apa?”

Daw                       : “Sayang sama kamu.”

Blackcloud           : “Ohiya paham, iya deh aku juga sayang.”

 

***

Orang-orang sekitarku merasa sangat frustasi, menyuruhku melepaskanmu saja. Kata mereka aku tidak waras.

-Selesai-

Terimakasih Semesta, Biru Pupus 5 Tahun :)

DSC06393

Holllaaaaa readers 🙂

Bagaimana tadi harinya? Semoga bagus ya :), soalnya hari ini Biru Pupus ulang tahun

\(0.0)/

Wuhuuuuuuu! sebenarnya audhina-nya lagi sedih, tapi karena barusan dapat notif dari wordpress, ngasih tahu kalau Biru Pupus ulang tahun, galaunya sedikit hilang.hehe

selamat ulang tahun biru pupus

Aku bersyukur ternyata keputusan membuat blog hari ini pada 5 tahun yang lalu membuatku begitu bahagia hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. 🙂

Aku bersyukur menemukan begitu banyak teman dari kegiatan menulis di blog ini, seberapapun aku bersyukur, kebersyukuranku tidak akan mempu cukup untuk berterimakasih kepada semesta. Dan tentu saja kepada pencipta semesta. Allah 🙂

Aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak yakin tangisan ini karena senang atau sedih?

Karena hari ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Senang karena ternyata sudah begitu lama aku mencintai “menulis” sedih karena belum juga bisa menghasilkan karya yang diakui banyak orang.

.

Aku mengucapkan kepada teman-teman semua yang dengan susah payahnya melakukan blogwalking ke Biru Pupus, betapa aku selalu senang bila kalian datang.

Semoga untuk ke depan, Biru Pupus bisa lebih baik lagi dari saat ini. Aamin

.

Untuk kalian semua, jangan lelah dan menyerah untuk menulis ya :). Karena kalian tidak akan tahu manfaat apa yang bisa diberikan dari tulisan-tulisan di blog kalian kepada pembacanya.

 

Daw| Jogja, 01 Agustus 2017

Blackcloud

air-2241560_1920

Engin_Akyurt

Sudah beberapa lama ini aku butuh kamu menjadi penerjemah sulur-sulur menyedihkan di dalam kepalaku.

Kamu tidak boleh pergi, meski kamu mau.

Tapi kamu boleh pergi ketika tidak lagi pedulimu padaku.

Hingga saat itu seberapa mungkin aku memahami, tidak ada yang bisa aku lakukan

Karena sesuatu hal tidak mungkin berubah hanya karena aku menginginkannya, bukan?

Aku cuma mau kamu tegap di atas sana, terserah mau jadi apa kamu, kamu sudah baik menjadi kamu, karena cuaca menjadi lumayan teduh.

Kamu boleh jatuh, asal menjadi hujan

Tapi jangan sering-sering jatuh, orang-orang akan kesulitan bila mereka lupa membawa payung.

Bagaimana harimu berjalan tadi? Jika buruk, kamu boleh menceritakannya padaku, jika baik terserah padamu.

.

Kalau kamu sudah baca ini, kamu boleh menyakiti aku secara tiba-tiba, karena rasa sakit yang tiba-tiba itu menjadi sekaligus merubah, bukan?

Biar aku tidak kewalahan karena dibunuh pelan-pelan.

Lagi pula aku sudah terbiasa.

.

Tidak ada yang bisa kamu katakan kepadaku, karena keterangan-keterangan padamu itu abu-abu—tidak jelas sama sekali.

.

Ya betapapun aku capek dengan semua itu, suatu hari nanti aku bisa bahagia betulan tanpa keraguan. Meski mungkin bukan karena dirimu lagi.

Daw | Jogja, 01 Agustus 2017

Bertemu di Jogja

IMG-20170727-WA0010

by Bang Ical

Holla readers 🙂

Kali ini aku mau nyerita tentang kopdaran perdanaku sama salah satu teman di dunia per-wordpress-an ini. Awalnya aku ngira bakal kopdar perdana sama Bunda Ida (blogger fenomenal yang postingannya super bikin baper.hhhh) yang kadang pulang ke Cianjur. Dan ternyata kopdaran pertamaku sama Bang Afrizal, yang akrab disapa Bang Ical.

Aku lagi di Jogja, dan masih di Jogja sampai aku dapat jodoh. Hehehe sampai akhir agustus ding.

Bang Ical ini rumahnya dari Lombok, dan dia tanggal 28 Juli 2017 itu tiba di Jogja karena ada keperluan yang sangat luar biasa penting. :O

Oke langsung aja ke poin postingan ini. Jadi mumpung Bang Ical di Jogja, kita merencanakan ketemu, dan akhirnya ketemu di Km 0. Aku datangnya telat, soalnya naik Trans Jogja, lumayan ngirit gitu maksudnya. Selagi nunggu aku, Bang Ical berdua sama temannya jalan-jalan ke Keraton dan entah ke mana lagi. Nah pas aku udah sampai, aku nunggu 12 menit karena mereka lagi jalan kaki. Aku sempat lihat dua orang ngedorong gerobak, nyeberang jalanan luas Km 0, seorang bawa dua gerobak, betapa strongnya. #oke ini gak penting. Aku juga sempat ditanyai tukang becak. “Mbak lagi nunggu siapa?” , owe kagetlah, aku jawablah “lagi nunggu temen, pak. Hehe” lalu si bapaknya ber-oh. Mungkin si bapaknya mau nawarin naik becak. #inijugagakpenting. Km 0 sebenarnya sedang dalam perbaikan,tapi tetap ramai, Jogja juga masih hangat malam itu.

Akhirnyaa Bang Ical datang langsung menyapa “Bhang…Bhang..Bhang…Kak Au!” Aku sedetik menerka. “Bang Icaaal.” Lalu aku salim 😀 Bang Ical mengenalkan temannya, namanya Bang Alung, ternyata sehari sebelumnya Bang Alung sudah sempat menyapa ke blogku. Jadi bisa dibilang aku kopdaran sama dua blogger. Horeeee!

Bang Ical ini berperawakan gemuk, dan lebih tinggi dariku, wajahnya ramah sekali, mungkin dengan wajah itu Bang Ical kesulitan menghakimi orang. Tapi aku belum lihat sih gimana ekspresi Bang Ical kalau marah, apa mengerikan. Yhaa pokoknya Bang Ical ini super ramah.

Kita jalan kaki sedikit untuk mencari tempat duduk, dipilihlah wedang ronde, di sana ada tempat duduk lesehan, dan ini asik menurutku. Kita mulai ngobrol, dari sana aku tahu Bang Ical dan Bang Alung ini dulu satu tempat pesantren. Kemudian tiga mangkok kecil wedang ronde datang, ternyata wedang ronde ini kayak sekoteng, bedanya cuman di bulatan-bulatan candilnya itu.

Kemudian Bang Ical ngasih hadiah buatku. Novel dengan judul “Kereta” karyanya, aku seneng banget.

Tapi juga sedih, kenapa malah dikasih bukannya beli sendiri. Huhu. Kemudian aku langsung minta tanda tangan di buku itu.hehe terimakasih banyak Bang Ical. Bukunya sekarang lagi kubaca, dan aku suka sama Kim karena bikin baper. XD

Dia bawa dua buku, satunya buku dengan judul Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, buku itu menurut cerita Bang Ical, buku pemberian Kak Ikha, salah satu blogger juga. Yuhu kak Ikha, semoga kita nanti bisa kopdaran ya 🙂

Oya Bang Alung juga orangnya ramah, dan dia sudah 7 tahun di Jogja tapi belum pernah ke Menara Pantai Pandasari, dan justru baru tahu dari postingan di blogku ini. Hoalaaah.

Sebenarnya Bang Ical sudah posting tentang yang dia ceritakan malam itu, kalian bisa baca di sini—Tentang Jogja, dan pas kopdaran itu aku malah belum baca postingan itu, ya tapi aku bisa langsung dengar dari orangnya langsung. Ntapp!

Banyak cerita kocak yang mereka ceritakan, mulai dari Bang Ical yang ngomongin tentang ngupil, lalu Bang Alung yang nyeritain awal mula suka sama wedang ronde itu karena pas waktu siang hari terik dari kejauhan minuman ini kayak cendol, pesenlah dia tapi kok yang datang malah panas, siang-siang minum yang panas. Ntapps! Tapi katanya dari sana dia suka wedang ronde. Bang Ical juga sudah menceritakan pengalaman kopdaran ini di blognya, dari sana kalian juga bisa tahu cerita lainnya.

Di sela obrolan Bang Ical menyarankan untuk aku menerbitkan buku secara indie, ginilah Audhina, keinginannya pengin punya buku tapi nulis enggak dilanjutin. Doakan saja supaya secepatnya punya buku, syukur-syukur terbit mayor. Ngoahaha mimpinya ketinggian.

Setelah ketiga mangkok wedang ronde itu habis. Kita langsung berfoto-foto, karena pengin juga untuk foto bertiga, Bang Ical nyari-nyari orang yang bisa bantu fotoin kita. Dan akhirnya ada seorang mas-mas pakai kacamata yang lagi menyusuri jalan sendirian, dia bersedia ngebantu kita. Hehehe

Bang Ical, Aku, Bang Alung

Lalu kami pulang. Jadi awalnya aku mau pulang naik Trans Jogja, eh ternyata haltenya sudah tutup pukul setengah delapan tadi, akhirnya aku naik gojek.hhhhhh

Aku beruntung akhirnya bisa bertemu Bang Ical dan Bang Alung di Kota Jogja pula seperti menemukan Paman baru :D, terimakasih waktu yang sangat berharganya semoga bisa berjumpa lagiiiiii.

 🙂 Cerita ini enggak runut sama sekali, see you next post readers 🙂

kalau yang lain mah, bila kepalanya diusap berantakanlah hatinya, kalau ini berantaknlah kerudungku. XD…Sampai Jumpa lagi Paman 🙂

 

Menara Pantai Pandasari

DSC05895

Holla readers 🙂

Jadi dua minggu yang lalu aku ke tempatnya mbah kakung di Bantul, tepatnya di Sanden. Sebenarnya hampir setiap ke mbah kakung, bulek atau paklek di sana selalu ngajak ke pantai yang memang jaraknya enggak jauh sama sekali.

Berhubung kelihatannya pantai selatan itu sama aja, kali ini ada Pantai Pandasari yang letaknya di Bantul, di sana ada sebuah Menara. Dan di tulisan waktu itu, aku cuma bahas sedikit tentang menaranya, ya soalnya waktu itu terlalu pagi ke sana, belum buka. Huhu kalian bisa baca di sini.

DSC05898

Nah kali ini, takdir, waktu, dan senyum-senyum jalang merestui aku buat naik ke Menara itu. Tiket masuk seharga Rp 5000/orang dewasa, anak kecil enggak perlu bayar, tapi kriteria anak kecilnya itu enggak tahu patokannya sampai umur berapa.

DSC05901.JPG

pemandangan dari tangga ke (lupa), bikin semakin semangat naik ke atas

Menurutku penarikan tiket di depan pintu masuk Menara itu seharusnya dikasih tiket fisik dan dengan tiket fisik itu dapat menjamin keselamatan (asuansi) si pengunjung bila terjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Waktu itu aku sama bulek dan tiga sepupu laki-laki, Uang masuk sudah dibayar ke bapak-bapak berkacamata berbadan besar itu. Kita semua mulanya pede untuk naik ke sana, tapi pas tangga pertama si Novan ketakutan buat naik, akhirnya bulek juga nggak mungkin ikut naik. Jadi Cuma aku, mas wahyu, dan Zezen saja yang naik.

DSC05947.JPG

Pada akhirnya cuma aku yang benar-benar sampai puncak Menara itu, berhubung sore, angin kencang banget bertiup dari arah laut ke daratan, tubuhku didorong-dorong angin, sampai gemetar aku di sana. Tentu saja sudah jelas, pemandangan di sana luar biasa bagus.

DSC05906.JPG

Bagi kalian yang mau ke sini, pastikan bahwa kalian tidak takut ketinggian, dan kuat untuk naik tangga. Juga tidak boleh sembrono, pelan-pelan aja naiknya, nanti juga sampai, jangan terburu-buru.

Oya Pemilihan waktu, dan juga pakaian kalian untuk naik ke atas Menara juga perlu diperhatikan. Anginnya kenceng banget guys.

Segitu aja tulisannya, siapa tahu ada yang nyasar ke sini, tapi ini masih suasana liburan enggak sih?

See you next post 🙂

DSC05928.JPG

ini pakai self timer ToT, kasihan enggak ada yang fotoin audhina.huhuhu

 

Sebuah Rumah Pohon Impian

tree-house-google-old-lyme-11

Kelak nanti kita menikah.

Aku ingin punya rumah dengan halaman yang meski kecil, di sana ada pohon yang cukup besar dan kuat, yang bisa mendirikan rumah pohon di sana.

Biar kamu yang membangunnya, dan aku yang mengecatnya.

Mungkin ini sangat curang, tapi aku tidak pandai dalam urusan membentuk sebuah bangunan, bisa-bisa tidak kokoh nantinya.

Kita tidak akan mengganggu sarang burung pipit yang sedang bahagia itu, kita cuma akan memindahkan ke ranting yang ada di atap rumah pohon kita.

Aku akan di sana bila aku sedang sedih, kemudian menangis. Kemudian kamu datang dan aku menangis di pelukanmu, setelah semuanya mereda, kita akan sebentar diam dan minum teh di sana, lalu turun setelah semuanya terlihat sudah membaik.

Aku akan menghampirimu saat kamu juga di sana, kecuali mungkin ketika kita sedang bertengkar, dan kamu yang memenangkan tempat itu terlebih dahulu.

Dan ketika mungkin kita sudah tak lagi mampu bersikap kekanakan lagi. Rumah itu akan menjadi ramai oleh anak kita beserta teman-temannya.

Mungkin beberapa kali kita akan kerepotan memperbaiki kerusakan di sana sini, tapi semoga pohon itu kuat untuk menopangnya.

Begitu saja juga aku bahagia.

 

Catatan saat menulis di atap kamar kos dan melihat pohon dan burung pipit di atasnya.

Daw|Jogja, 22.7.17

Explore Kota Jogja dengan Trans Jogja

Holla readers. Kabar baik kan?, jangan lupa bersyukur ya. 🙂

Kali ini aku akan cerita tentang Jogja.

Jogja tidak pernah membosankan kalau kalian tidak sendirian, karena kalau sendirian agak menyedihkan.

Akses wisata di area Jogja Kota sangat mudah karena ada Trans Jogja, dan lebih mudah lagi kalau kalian pakai kendaraan pribadi. #yaiyalah, selalu andalkan Google Maps :D, karena walau pakai Trans Jogja dengan tarif yang super murah Rp 3.500 itu, kemungkinan suka salah transit atau lupa transit dulu. Yak itu berulang kali aku alami. Dan kalau kalian nanya orang, kalian bakal ditunjukkan arah menggunakan arah mata angin, Lor..Kidul..Wetan..Kulon. Dan sampai sekarang meski dulu kecilnya aku di Jogja, aku lupa mana Timur…Barat…Selatan..Utara.

Aroooh!!

Oke gampangnya gini, kalian tanya aja deh ke petugas yang jaga di halte. :D, dan perhatikan dengan baik petunjuk dan opsinya. Banyak tempat yang kalian bisa akses dengan Trans Jogja. 🙂

 .

#1 Taman Pintar

Halte di depan Universitas Atma Jaya adalah halte terdekat dari lokasiku. Petugas di sana bilang, bus nomor 1B yang harus aku naiki untuk bisa sampai Taman Pintar, Aku tidak begitu lama menunggu karena katanya jumlah Bus nomor 1B itu banyak, sekitar 10 menit saja, busnya datang, busnya nyaman, waktu itu tidak begitu banyak yang ada di dalamnya. Jalanan awalnya lancar, lalu tidak begitu lancar, dan Aku merasa Jogja berubah … uhukk macet dan banyak hotel di mana-mana.

Aku turun di Halte seberang Taman Pintar. Seusai turun kemudian menyeberang, sampailah aku di Taman Pintar. Hohoho (‘ o ‘)

Aku mengunjungi sahabatku di Taman Pintar, karena dia merupakan seorang Pemandu di sana, aku bisa gratis masuk ke dalam. Hehehe. Walau kalian enggak masuk ke dalam, di area halaman Taman Pintar ada taman dan wahana bermain air untuk anak-anak yang secara gratis bisa kalian kunjungi. Taman Pintar itu bukanya pukul (lupa) dan tutup pukul 16.00 WIB. Tarif masuknya juga enggak tahu, karena setiap kali ke sini aku di bawa sama sahabatku .XD.hehe

Aku bisa nonton di Planetarium tanpa beli tiket. Hohoho dan kalau mau tahu pertunjukan di sana indahnya bukan main.

#2 Titik 0 Km Jogja

DSC05860

Kalau mau ke Titik 0 Km, dari Taman Pintar, cuma butuh jalan kaki aja buat ke sana, ini serius, enggak jauh sama sekali. Aku sampai sana sudah sore. Dan menurutku lokasi ini lebih romantik dan ciamik jika saat malam.

Di sana ramai, juga banyak bule-bule yang lagi backpackeran, dan putih-putih gitu kulitnya (helloooww audhina apaa sih bahas kulit). Nah kalau kalian pengin ke Jl.Malioboro, dari sini juga bisa jalan kaki mungkin sekitar 12 menit. Aku berpendapat bahwa Jogja lebih enak kalau dinikmati sambil jalan pelan-pelan. Hu um gitu…

#3 Benteng Vredeburg

DSC05864

Ini juga tinggal jalan kaki aja deh dari Km 0, jalan terus ajalah pokoknya, haduh ini tulisan enggak berfaedah banget, iya soalnya yang nulis enggak paham arah mata angin. Ehehe . Berhubung udah tutup bentengnya, ya cuma bisa foto depannya aja.

Nah sehabis itu aku pulang. Aku naik Trans Jogja di halte  tepat depan Taman Pintar, lalu tanya ke petugas di sana, kalau mau balik ke Babarsari, Sleman naik yang mana. Aku harus naik 1A, kemudian transit dulu di Halte Janti Selatan. Nah….saudara-saudara, Aku lupa transit dan ke bawa sampai Halte Airport Adi Sutjipto. Hhhhh malang sekali, mana sepanjang dari Halte Janti Selatan ke Halte Airport Adi Sutjipto itu macetnya bikin haus banget. Huhuh

Lantas aku turun di sana, baru deh aku naik 1B. Andai saja aku enggak lengah, aku bisa lebih cepat sampai kosan.hhhhh jangan sampai kalian mengalaminya, pokoknya.

Oya Trans Jogja  jurusan 1A itu kalian bisa ke Candi Prambanan guys. Ya aku belum ke sana, mungkin lain waktu.

Oke gitu aja postingan kali ini, semoga kalian bisa bijak merencanakan liburan ke Jogja. #halah.

Irit-iritlah di Jogja, cari tahu dulu, apakah lokasi tujuan kalian itu masih bisa dijangkau pakai Trans Jogja dulu, dibanding dengan ojek online atau taxi online, dll

Segitu aja yah. See you next post. 🙂

Kamu Di mana?

DSC05800

“Audhina kamu di mana?”

“Aku di Jogja.”

“Ngapain jauh-jauh amat ke sana?”

“Mau kabur, aja.”

“Kenapa?”

“Mmmm, ya kabur gitu aja.”

***

Holla readers? Kangen nggak sama aku? he he he he #ketawagaring.

Yak seperti yang kalian sudah baca, aku lagi kabur nih ke Jogja. Dan ternyata kabur bukan alasan yang tepat buat meninggalkan masalah.

Aku bagai mayat yang berjalan-jalan di sini, meski begitu aku akan coba menuliskan perjalananku selama di Jogja ini. Kota yang katanya penuh rindu dan pulang.

Tentu saja banyak yang kangen aku, kan?

Maksudku, gini….

Sudah sepuluh tahun lebih aku enggak pulang ke Jogja, eh….enggak ding, lebih tepatnya ke Desa Kandangan. Ternyata banyak yang kangen sama Audhina Novia SIlfi. Kalau kalian kangen sama aku enggak?

Ya pokoknya aku yang kangen kalian, aku sudah susah sekali bisa nimbrung ngobrol sama kalian terutama di grup WA (Obrolin Santai maupun Serius).

Audhina lagi kehilangan arah. 🙂

See you next post.

Ramadhan 20 : Hari Peringatan Kematian Seorang Ayah yang Selama ini Ternyata Sangat Amat Dicintai Anak Perempuannya yang Lumayan Tangguh Untuk Tidak Menangis, Sesaat

DSC00202

 

/1/

Ada.

Ayah Terbang.

Ke Langit.

Malam tadi.

/2/

Tidak pernah ada wajah Ayah di mana-mana.

Mungkin bunga tidur itu belum tiba.

Mungkin saat sudah kangen-kangennya.

/3/

Dua tahun, hari-hari mengeras di dinding-dinding rumah.

Jarang ada tangisan di dalam ruang-ruang itu.

Mereka menyimpannya bukan di otak, tapi di hati.

 

Daw|Sukabumi,15.06.17

Dia Cuma Lelah

boy-2205733_1920

pixabay.com|coyot |Juraj Varga

 

Aku mengenal seorang sebatang kara
Seperti bunga tulip di antara ketiadaan makna
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit menjadi buronan rasa bersalah dunia
Apa betul “bahasa alam,bahasa ibu, mereka sama?”

Dia berjalan jauh dan terus berjalan, juga tidak peduli sesak di dadanya
Aku rasa dia bukan sebatang kara yang tidak kukenal
Dia punya banyak kawan yang jadi adiknya
Orang-orang tidak akan tahu seberapa sakit merindukan ibu sepanjang hidup

Suatu ketika dia berhenti berjalan, dan bergumam-gumam

“Aku bukan orang salah, cuma kalian yang begitu merasa bersalah, di ketiadaan ini
siapa yang mengalah?, bukan aku dan bukan juga adik-adikku, tidak masalah begitu lama aku hidup tanpa ibu
asal kalian tahu aku mengenal ibu lain yaitu iba, Segenggam iba yang begitu menguliti ketiadaanku ini.
Cuma kalian yang sering salah mengerti, aku cuma mau hidup biasa, kalian anggap saja aku punya ibu
dan juga seorang ayah yang masih hidup. Aku cuma begitu lelah, itu saja.”

Anggap saja dia begitu bahagia
Anggap saja dia begitu damai
Biarkan saja dia terus berjalan
Biarkan saja dia tetap berjalan

Sukabumi|Daw|25.05.17