Ramadhan 09 : Ulang Tahunnya Daay

Aku belum pernah menemukan wanita sengeyel, Daay. Tapi dari ngeyelnya dia itu, kita enggak akan kehabisan bahan debat, kadang juga sepemikiran. Tapi presentasenya dikit sekali, tapi enggak papa aku suka debat sama dia.wahahaha xD

Ini hari ulang tahunnya menurut penanggalan Masehi. Dia bilang doa orang berpuasa tidak akan tertolak, dalil siapa ya itu, bisa bantu aku? :’).

Sukabumi sama Yogyakarta masih aja jauh, ya. Tapi kita selalu dekat (hilih apasih).

Tahun ini mungkin jadi termasuk siklus krisis hidupnya, aku menyemangatinya sebisanya aku. Pas nanti siklus ini berakhir, Daay bakal bahagia sampai heran gimana mau sedih.

Semoga semesta mendukung penuh jalan yang ingin Daay tempuh. :’)

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 07 : Keadaan Belum Membaik

IMG-20200418-WA0003.jpg

Tiap hari berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan buruk itu lumayan bikin frustrasi ya ternyata, toxic positivity juga enggak baik, yang sedang-sedang aja emang yang paling baik, enggak terlalu panik tapi juga enggak meremehkan. Aku termasuk orang yang bersyukur karena masih punya pekerjaan di masa pandemi ini. Tapi juga kadang suka khawatir berlebihan (manusiawi :’) ).

Jadi mungkin kalau pasien-pasien pada jujur dan pasrah (dalam artian untuk kebaikan semua orang), mungkin banyak rantai yang dapat diputus dan tidak lebih banyak orang terpapar juga.

Setiap baca berita soal pandemi dan perkembangan jumlah pasien positif, sembuh dan meninggal, pada mulanya aku langsung ikut menyebarkan itu di sosial mediaku, tapi itu lekas berhenti karena aku ditegur oleh seorang perawat (temanku), dia bilang jangan sebarin berita buruk karena akan berpengaruh imunitas (maksudnya malah nambah stres yang baca gitu lho), aku awalnya kesal tapi enggak lama mikir juga sih. ngahahaha, dan semenjak itulah aku enggak lagi sebarin berita buruk. Karena ya sekarang rutinitas sudah menemukan ritmenya, semua orang berharap semua bisa lekas membaik keadaannya, jadi yasudahlah, enggak ada yang salah dari memahami orang lain.

Jaga kesehatan.

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 05 : Memaafkan

“Sebab aku merasa bisa memaafkan banyak hal dari orang yang sudah mati.”(Haruki Murakami-Dengarlah Nyanyian Angin Hlmn 14)    



Terkadang aku lupa mengenai, apakah orang-orang yang sudah mati telah memaafkan orang yang masih hidup atau belum, ya?. Aku rasa ketimbang memikirkan itu, urusan di alam baka lebih mengerikan dari pada memikirkan orang lain. Maksudku, apa ada orang mati yang masih memikirkan orang hidup dan menuntut permohonan maaf, mungkin di film ada ya seperti arwah gentayangan. Tapi dibanding memikirkan hal ini, mengirimkan doa untuk yang telah tiada mungkin bisa jadi meringankan semua pundak :’).

Belajar memaafkan diri sendiri juga sulit. Mengadili diri sendiri, menuntut banyak hal pada tubuh yang masih bernyawa. Ikhlaslah meski sulit.

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 03 : Tidak Boleh Cengeng

Doa-doa yang mengambang di langit-langit malam tidak lagi sesunyi dulu, Tuhan benar-benar telah kasihan kepadaku.

Dia beraroma stroberi dengan kombinasi angin di pagi hari. Datang menuju Kota Es dengan segala kepasrahannya.

Kala matahari pukul 12 siang, aku yakin aku sudah mencintainya.

Aku bilang kepadaku : “Boleh jadi ketika bertubi-tubi kesakitan merupakan pintu masuk bahagia. Tidak boleh cengeng dan menghakimi nasib orang lain yang kelihatannya baik-baik saja”.

Mungkin mendoakannya jadi bagian paling membuatku cengeng saat ini.

Selamat malam. Maaf karena terlalu cengeng karena kangen. Dan kata “nanti” menjadi semakin menyebalkan saja.

nan·ti1 1 n waktu yang tidak lama dari sekarang; waktu kemudian; kelak: hal itu akan kita bicarakan –; — saya akan menelepon Anda lagi; sampai bertemu lagi –; 2 adv kalau tidak begitu; kalau tidak: dengarkan nasihatku baik-baik, — engkau menyesal; jangan kauganggu, — ia marah; 3 adv akan: tidak — menurut perintahmu;

 

Seharusnya tidak lama lagi.

Semoga semua lekas berlalu, lekas pulih Bumi.🌏

By audhina Posted in Curhat

Ramadhan 01 : Ucapan Selamat Pagi Bukan Sekadar Ucapan Saja.

20200411_112733.jpg

Holla Readers :). Jadi ceritanya aku gagal nih melewati Ramadhan hari pertama, karena oh karena tamu bulanan datang tepat 2 jam sebelum berbuka puasa :’) (enggak papa aku kuwaat.(ノ°Д°)ノ︵ ┻━┻)

Jadi guys, apakah kalian pernah berpikir bahwa ucapan selamat pagi bukan sekadar ucapan. Jadi “selamat pagi” itu seperti ungkapan bahwa seseorang itu memikirkan kamu ketika dia baru bangun tidur lalu berdoa pada Tuhannya dan selanjutnya mengingat kamu.

“Hey, aku ingat kamu begitu aku bangun.”

Jadi selagi kamu bisa, kenapa enggak menghargai dan apresiasi ucapan itu dengan cara membalas pesannya mengucapkan selamat pagi kembali. wahahahaha XD udah gitu aja tulisan ini dibuat, kalau ingat nanti mau disunting dulu biar paragrafnya Justify (aku nulis di android, tidak mengerti caranya).

Marhaban ya Ramadhan. Berkah Ramadhan bagi kita semua 🙂

 

Pelaku “Ghosting” Hanya Tidak Berani Memberi Alasan Saja

Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.”-Aan Mansyur

Saya pelaku “ghosting” yang bukan cuma menghilang dari kehidupan satu orang, tapi beberapa orang. Beberapa alasan cuma tersimpan di otak saja tidak berani menyampaikan kepada orang itu sebelum pergi begitu saja. Tidak pandai berpamitan tanpa melukai, juga tidak pandai menghilang tanpa melukai, dan pada akhirnya saya memilih menghilang dan melukai daripada berpamitan dan melukai.

Beberapa orang bilang, sebelum menghilang begitu saja tolong tanyakan pada diri sendiri “apa yang sedang coba kamu hindari dan memilih berlari?”, mungkin jawaban dari semua hal adalah komunikasi (tetapi jawaban ada di paragraf 1), tapi menghilang bagi saya merupakan jalan yang semestinya. Memang salah, saya juga sakit kok ketika menghilang 🙂 (apa-apaan ini? playing victim).

Jadi, semua orang adalah satu orang. Kata Mas Alri, makanya setiap kamu melukai orang, kamu melukai diri sendiri juga. –Di Tanah Lada, hlm. 141

Seperti tugas revisian skripsi dan jurnal yang bertumpuk-tumpuk, dan merasa tidak sanggup membenahinya lalu memilih untuk membuka media sosial berkali-kali dan kemudian menyesal, dan menulis artikel di blog ini kemudian menyesal, Januari 2020 segera berakhir. (iya saya tahu, tulisan saya selalu ambigu, yang penting saya suka, urusan yang baca suka atau tidak, biarlah)

Kejenuhan Pekerja di Titik 5 Tahun

LRM_EXPORT_9232080399934_20191103_105421214

Hallo Readers apa kabar? 🙂

Jadi apa ada yang memerhartikan isi blog ini? Tinggal 2 postingan? Yak, betul sekali. Semua postingan saya arsipkan, saya sisakan dua yang berkesan selama 7 Tahun menulis di Blog ini. Dan sekarang akan tambah jadi 3 postingan. Postingan ini saya tulis karena saya sedang jenuh, sejenuh-jenuhnya. Kalau dalam kimia, itu misalnya ada larutan tidak bisa lagi melarutkan suatu benda terlarut yang ditambahkan selama terus menerus ke dalamnya. Karena saya tiba-tiba saja ingin menuliskan apa sih kejenuhan saya selama bekerja di tempat kerja saya selama 5 tahun ini, mungkin lebih ke curahan hati saya yang meronta-ronta kali ya. #uhuk. Berikut hal-hal yang saya merasa bosan bekerja dalam jangka 5 tahun.

  1. Partner Kerja Bergonta-ganti

Saya sudah bekerja selama 5 tahun sejak saya lulus sekolah.  Sudah berganti partner sejumlah 5 kali pula. heu~.  Mereka resign kemudian digantikan dengan orang baru, kemudian saya dapat partner baru, begitu seterusnya. Apa yang saya rasakan?. Sedih sekali tentunya. Pertama kali ganti partner saya merasa dikhianati, karena saya merasa tidak siap kehilangan. Hmmmm coba bayangkan, saya harus beradaptasi lagi dengan partner baru, membagi tugas dan memahami karakternya. Saya benci sekali beradaptasi dengan orang baru di tempat yang sama, susah sekali rasanya. Pada saat berganti partner ke 4 kalinya, ketika itu saya sudah mulai mumpuni dan mulai bisa dengan cepat membangun kesatuan dengan partner baru, akhirnya saya mulai pasrah dan menikmati proses berganti partner ini. Mulai mensyukuri karena saya jadi punya banyak mantan partner tetapi tetap berteman akrab. #hilih. Tapi sebersyukur apapun saya, saya sudah di titik tidak mau ditinggalkan lagi, tidak mau beradaptasi lagi. 🙂

  1. Masalah yang Dibebankan

Ketika permasalahan datang, dari kecil sampai berat kenapa ya kok saya melulu yang merasa terbebani, sangat terbebani malah. Ketika saya dianggap paling lama bekerja dan “paling tahu”, saya dipaksa menghadapi masalah itu, jadi kalau kata mereka “siapa lagi?, ya kamu lah!”.

Tidak ada pekerjaan yang tanpa masalah, tergantung individunya menganggapnya bagaimana, hhhhhh. Iya, tapi tolong dibagi dong masalahnya, saya enggak kuwat. Makasih.

  1. Paling Tahu

Mengulang poin dua tetapi melihat ke sisi manajemen. Ketika sudah tahu bagaimana cara kerja mereka, dan beberapa hal yang alot untuk dihadapi dan tidak berubah selama 5 tahun. Bagaimana tidak jenuh?

Sudah tiga poin saja, tetapi sudah cukup mewakili begitu banyak hal yang terjadi selama 5 tahun bekerja. Di sisi lain saya mendapatkan saya yang sesungguhnya di titik 5 tahun bekerja ini, saya bersyukur karena pekerjaan ini menopang saya untuk berkuliah selama 4 tahun lho ya, karena satu tahun saya mengumpulkan uang dulu buat biaya masuk kuliah. Apa saya akan berlanjut di pekerjaan ini atau tidak? Saya belum tahu, maunya punya pekerjaan pakai ijazah S1 di tahun depan, tetapi tahu diri karena persaingan begitu ketat, saya harus berjuang terus buat mendapatkan apa yang saya inginkan.

Kalau kata Nelson Mandela “It always seems impossible until it’s done.”

See you next post Readers 🙂

febris.

sore ini saya demam

barangkali karena panas menyengat siang tadi

atau karena patah hati?

mungkin karena keduanya

angka di  termometer air raksa menyentuh 37 °C 

saya ambil paracetamol

dan air putih satu gelas

saya menelannya lantas berbaring lagi

saya merasa otak saya agak heng tapi ternyata tidak, soalnya saya nulis ini. he he he

dan saya harus mengaku, bahwa saya tiga hari ini makan pedas berturut-turut, padahal pilek masih bersemayam di tubuh, dan hari minggu saya kira dengan berlari pilek saya akan sembuh, saya lari 3 Km tanpa berhenti. eh ternyata badan saya pegal semua jadinya.he he he

dan bahwa patah hati itu tidak melulu karena cinta.

NB : ini fiksi

Jika Semua Wanita Mati Pada Hari yang Sama (Cerpen)

Jika Semua Wanita Mati Pada Hari yang Sama

Oleh : Audhinadaw

https://www.behance.net/gallery/26593377/Watercolor-Portrait-Drawing

Amazing Watercolor Drawing by : Kazel Lim

Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal pada seseorang, karena cara kerja waktu dan semesta tidak sebagus susunan rapi di dalam kepala. Ada Ayah terbang ke langit malam tadi, lalu anak gadisnya mengendap—mengintip ke dalam lapisan langit ke tujuh, menangisinya sebanyak mungkin karena siluet Ayah semakin menjauh menjadi titik hitam yang ditelan kabut. Adiknya tidak menangis ketika itu, mungkin tidak secengeng kakaknya, dan Ibu menjadi makhluk paling kasihan malam tadi. Dan hari-hari semakin jauh ditelan buih-buih waktu, dan waktu membawa bunga-bunga ingatan. Untuk seterusnya tidak pernah layu meski semakin abu.

***

Sekarang Kamu sedang ingin sibuk berlari dan memenangkan kompetisi marathon 50 kilometer. Tidak ada yang mau Kamu dengarkan, kecuali target lari dan suasana ketika Kamu berlari. Jantungmu semakin kuat dari waktu ke waktu. Kamu sedang melakukan kesibukkan yang Kamu doakan setiap hari, setelah begini Kamu ingin berhenti sibuk untuk beberapa hari saja, lalu ketika itu seorang laki-laki yang juga manusia menyelinap di jeda waktumu. Aroma tubuhnya gandum dan apel yang bercampur menjadi manis.

Dia semakin hari menjadi intensitas paling hujan di hari-harimu. Mengolok urusan larimu yang paling egois, sedangkan dia cuma makan bakso di pinggir taman sambil menghitung putaran larimu.

“Tidak usah terlalu keras kepala, kamu perlu makan dulu!” Tiba-tiba saja dia menghadangmu dengan rentangan tangannya, dan aroma gandum dan apel yang menguar mencoba menghentikanmu. Kamu mengernyitkan dahi, masih lari di tempat karena jalanmu dihadang sosok laki-laki dengan dada lebar itu.

“Kamu siapa?” Kamu melepas headset dari telinga tapi masih lari di tempat

“Berhenti dulu, nanti aku beri tahu siapa aku!”

Karena tidak mau tahu, Kamu mencoba menerobos tapi tidak bisa, laki-laki itu menghadang terus.

“Oke…oke aku berhenti!” dengusmu sambil beringsut duduk.

Kamu beraroma angin, dandelion, dan keringat. Ketika Dia mendekat ikut duduk di sampingmu, daun-daun gemerisik dan gerimis turun. Dia memesan bubur tanpa kacang dan seledri untukmu dan bubur tanpa bawang untuk dirinya sendiri. Jadi apa yang salah dengan hari itu, padahal dengan penuh kewarasan hari itu berjalan tersusun rapi sebelum larimu dihadang.

“Siapa kamu?” Kamu menatapnya penasaran, yang ditatap malah mengulurkan air mineral yang sudah dia buka tutupnya.

“Minum dulu…”

Kamu kemudian menyambutnya dan minum sampai setengah habis. Rupanya Kamu tidak ingat apa-apa kecuali anggapan orang asing aneh yang mungkin berminat ingin dekat denganmu.  Sebelum pertanyaan yang sama terucap lagi dari bibir merah muda tipismu itu, dua mangkok bubur datang.

“Makan dulu!”

Menyerah lagi untuk kedua kalinya, Kamu mendengus sambil mengambil mangkok penuh bubur itu darinya, dan Dia tersenyum tiga detik lalu memakan bubur itu, Kamu menatapnya keheranan—bubur di mangkokmu merupakan komposisi yang benar yang Kamu sukai, gerak tubuhmu yang ingin mengajukan pertanyaan sudah terbaca olehnya.

“Sudahlah, habiskan dulu, nanti aku akan jawab semuanya.”

Mengalah lagi sampai bubur dihabiskan dan tanpa disuruh lagi Kamu minum dari air mineral yang tersisa setengah botol tadi. Kemudian lekas berdeham dan menagih penjelasan. Dia menatapmu lama, Kamu tidak sedang membacanya, hanya saja ada keheranan penuh di antara semua keadaan.

“Aku suamimu dari masa depan.”

“He?”

Kalimatnya merupakan serangan mendadak untukmu. Dan tubuhmu ikut keheranan apalagi otakmu yang pertama kali memikirkannya. Dan semua waktu jadi berseliweran di atas kepalamu karena ini menjadi sulit untuk diterima. Lalu lalang orang masih ramai, kamu ingin marah karena hal itu tidak mungkin terjadi di tahun ini, karena nyatanya ilmuwan masih berkutat dengan rumus-rumus fisika kuantum yang masih belum direalisasikan menjadi sebuah formula atau mungkin sebuah alat penjelajah waktu. Sebelum Kamu meledak, Dia berkata

“Tidak usah percaya jika tidak mau percaya.”

Kamu menjadi jengah luar biasa, ingin bergegas pergi saja, tapi Dia meneruskan kalimat

“Tiga tahun dari sekarang kita menikah dan punya dua anak laki-laki yang kembar. Tapi Kamu kemudian mati bersamaan dengan semua wanita di Bumi ini.”

“He?” Jantungmu berderak-derak, suatu pernyataan paling ajaib sepagi itu.

Seketika matanya meleleh, bersama dengan lendir-lendir hangat jatuh ke langit-langit udara. Kamu jadi  sempurna menganggap seseorang di hadapanmu adalah orang gila yang menggunakan cara aneh untuk dekat denganmu.

“Omong kosong!”

“Kamu tidak perlu takut, karena ketika Kamu mati, Aku memelukmu bersama dengan anak-anak kita.”

Kemudian bibit-bibit dandelion bergerombol lepas melewatimu dibawa angin dan kamu merapatkan tangan kedinginan. Semua kalimatnya menjadi sulit untuk bisa dipercaya, menjelajah waktu untuk menemuimu dan mungkin akan menjadi kesempatan kedua baginya untuk hidup bukan sampai empat atau lima tahun lagi bersamamu. Kamu tidak tahu karena terlalu marah atau entah—ikut menangis. Dia mendekap bahumu dari samping, memberikan landasan pundaknya untuk bersandar dan air membanjirinya dari matamu. Orang-orang kini mengira Kamu gila karena menangis sepagi itu di pundak laki-laki asing berpakaian rapi yang datang memperkenalkan sebagai suamimu.

“Aku mungkin akan jadi Ayah yang juga terbang ke langit setelah Kamu mati, dan lekas kemudian kita semua bertemu di lapisan langit ketujuh.”

Kemudian penjelasan datang seperti kepulan asap dari pabrik permen jahe, tidak dingin dan tidak bau. Menjadi masuk akal lagi karena dia tahu semua tentang Kamu. Padahal di tahun ini Kamu bisa saja menganggapnya stalker gila, tapi kamu tidak— jadi kenapa begitu?. Tangisanmu selesai ketika gerimis sudah berhenti, dan dekapannya lepas.

“Lari saja seperti yang kamu lakukan, karena bulan depan memang kemenanganmu di lari marathon yang kamu targetkan sekarang ini.”

Kalian berjalan perlahan menuju apartemenmu, dan semua itu jadi aneh ketika burung-burung kapinis berkerumun minum dari bulir gerimis yang bergerombol di kabel-kabel listrik. Suasana itu tidak Kamu ketahui, terlalu asing untuk dirasakan, apalagi bersama dengan suami dari masa depanmu. Kamu memandanginya tak henti-henti sepanjang jalan.

“Jadi sekarang kamu di mana?”

Dia tersenyum, dan merangkul untuk menjagamu dari angin yang tampak aneh berkeliaran hanya di sekitar kalian.

“Aku sekarang tinggal tidak jauh dari sini, dan anehnya kita dipertemukan jauh bukan di sini, kamu bisa menebaknya?”

Kamu menggeleng, tapi juga berusaha menebak, ya mungkin saja Kota impianmu atau Negara impianmu. Kamu berdeham.

“Islandia?”

Dia membawamu berhenti sejenak, menatapmu lalu mengangguk. Kamu tidak akan lagi menanyakan hal-hal bahagia lainnya, takutnya ketika semua terlewati rasanya menjadi hambar, dan hambar adalah rasa paling bahaya di dunia ini.

“Jika semua wanita mati pada waktu yang sama?” Kamu begitu penasaran, Dia membawamu berjalan lagi memasuki gedung apartemenmu, tanpa kamu tunjukkan jalannya sama sekali.

“Iya, termasuk kamu juga mati pada hari itu, dan aku mencoba kembali ke dalam waktu ini karena ingin memberitahumu beberapa hal yang mungkin saja Kamu bisa hidup lebih lama begitu juga dengan semua wanita lainnya, tapi aku tidak diperbolehkan oleh Mereka.”

Mungkin saja aturan main dari perjalanan waktu yang Dia lakukan adalah tidak diperbolehkan memberikan petunjuk yang begitu jelas supaya masa depan tidak terlalu berubah begitu drastis dengan jalan yang terlalu spontan. Kalian sudah berada di depan pintu lift , sebentar kemudian berdenting terbuka dan kosong, cuma kalian berdua di sana.

“Sampai apartemenmu nanti aku harus segera kembali lagi ke masa depan, aku cuma mau kamu tidak mengucapkan selamat tinggal ketika kita bertemu di Islandia nanti, dan waktu kita akan menjadi lebih panjang daripada sekarang ini. Mereka bilang aku tidak boleh memberitahu penyebabnya, Mereka hanya mengizinkan aku memberitahumu mengenai kebahagiaan yang ada baiknya kamu ketahui di masa depan.”

Kamu tahu diri, tidak menyela sama sekali ketika dia berbicara, karena nyatanya apartemenmu ada di lantai 20, waktu yang tidak lama. Kamu menatapnya kemudian memeluknya.

“Sampaikan salam pada si kembar, bilang pada mereka. Ibunya tidak akan ikut mati bersama yang lainnya.”

Pintu lift berdenting terbuka, dan kamu dapati dirimu memeluk udara kosong dan tersadar ketika dua orang mencoba melangkah memasuki lift itu. Kamu tertegun, dia sudah kembali ke masa depan, dan Kamu segala kesunyian, buru-buru Kamu keluar dari lift, memasuki apartemenmu dan menangis sejadi-jadinya.

Selesai