Seorang Laki-laki Sebaiknya Menemukan Dirinya Dulu, Sebelum Menemukan Wanitanya

bouquet-1463562_1280

by congerdesign on pixabay.com

Seorang Laki-laki yang belum menemukan dirinya sendiri akan menghancurkan setiap wanita yang dia datangi. Mengapa harus minta bantuan orang lain jika diri sendiri bisa?. Mengapa terus mencari bila diri sendiripun belum ketemu?.

Ada benarnya juga bila wanita bisa membantu laki-laki yang belum menemukan dirinya sendiri ini, tapi kenapa harus tega begitu bila sendiripun sebenarnya bisa?.

Mengapa harus dengan jalan menyakiti, kalau tanpa jalan itupun bisa?

Tahukan tentang waktu?, rahasia semesta dan sang penciptanya, waktu akan membantu menemukan diri sendiri. Sabar, ikhlas, tawakal 🙂

Iklan

Perjalanan Mendaki Merbabu 3142 mdpl (26 – 27 Agustus 2017)

Holla readers (o.o)9

Seperti yang sudah kalian tahu (yang tahu aja sih), aku selama Juli-Agustus 2017 bertapa di Jogja, dalam rangka menemukan seorang guru dalam hal menulis #enggakding.

Nah ketika guru yang aku inginkan sudah didapatkan aku dapat bonus diajak nanjak Gunung Merbabu yang ada di Magelang itu lho, guys. Hu um, aku awalnya galau gitu, mau ikut apa enggak. Tapi cuy, kesempatan enggak datang dua kali. Berbekal keril, sepatu, sleeping bag, matras yang dipinjamin sama yang ngajak, aku berangkat menjemput matahari pagi dari puncak Merbabu. Hoho \(o.o)/

Jadi siapa yang ngajak aku nanjak. Dia adalah Abu Bakar Arozi Prionggo, salah satu temen waktu sekolah SD. Komunitasnya PALAGAN (Pecinta Alam Seyegan) yang waktu itu mengagendakan mendaki gunung. Kemudian terbentuklah tim Newbie PALAGAN di WA yang bakal mendaki Merbabu, di dalamnya ada delapan orang : Aku, Mbak Tarita, Ade (cewek), Taufik, Jafar, Vandi, Sokip, Abu.

Kita mendaki Merbabu via Selo.

Pas malam mereka ribut di WA, katanya mau kumpul jam 07.00 WIB di rumah mbak Tarita di daerah Turi. Meh! Sudah dapat diduga saudara-saudara, ngaret!. Abu pengin banget sampai tempat camp nanti bisa lihat sunset, ya apa boleh buat, kenyataannya kita baru kumpul jam 09.00 WIB. Kita pakai motor berkendara ke Pos Awal Merbabu.

Patut diketahui guys, aku diboncengin Abu dalam keadaan cemas sebab owe bawa kerilnya Abu yang beratnya mayaallah ToT. Jadi kalau si Abu nge gas mendadak, badan owe kebanting keril. Kita sempat break dulu, ada yang belum sarapan, jadi makan dulu. Kalau nggak salah (ya tapi pasti salah sih ini) pukul 12.30 WIB kita sampai basecamp Merbabu.

IMG_20170826_132335[1]

mas okip, vandi, mbak tarita, mbak ade, aku, taufik, jafar, abu

Di jalan sekitar 2 Km lagi dari pos daftar kita semua dimintai uang Rp 5000 per motor, kemudian di Posnya ditarik uang Rp 5.000, terus diminta nunjukin KTP, terus sambil pegang KTP, muka kita difoto sama si penjaganya. Enggak paham owe. Lalu pas banget di pintu masuk utama kita ditarikin uang Rp 1000 untuk asuransi jiwa, jadi totalnya per orang bayar Rp 11.000.

DSC07594

Kita mulai start mendaki pukul 13.42 WIB, medannya awalnya ramah tapi kemudian berpasir ToT, yang aku ketahui dari perjalanan via Selo ini, jalannya emang santai tapi muter-muter.

DSC07036

Pos Satu

Kemudian kita sampailah di pos satu pukul 15.08 WIB, dan dipertemukan dengan sekumpulan moyet yang mintain cemilan, yang paling mereka suka madusari.

DSC07033

Kita nggak lama istirahat, Medannya mulai sulit karena kering berpasir, yang justru lebih gampang bikin jatuh. Aku sama Vandi sampai pos 2 duluan pukul 16.06 WIB Di pos 2 kita bisa lihat puncak yang merupakan pos 3 (watu tulis).

Perjalanan menuju pos 3 ini kita udah bisa nemuin bunga edelweis. Angin makin terasa memeluk dingin, aku sama vandi udah sampai duluan di watu tulis pukul 16.44 WIB, yang lainnya baru sampai pos 2, aku enggak tahu kenapa, rasanya lebih melelahkan mendaki Merbabu daripada Gunung Gede. Hhhhhh. Iya pengalaman mendakiku enggak banyak, tapi aku seterooong kok.

DSC07045

Pos Tiga : Watu Tulis/ Batu Tulis

Di watu tulis aku sama vandi nyari spot yang enggak terlalu banyak anginnya, tapi ya piye, anginnya dari semua penjuru, asli dingin banget, si vandi kelaperan, dia makan keroket, aku makan wafer coklat.

Di Watu Tulis/Batu Tulis sudah banyak pendaki yang memilih mendirikan tenda di sana, di Watu Tulis ada bukit teletubies, kalau ambil foto di sana juga oke, guys.

Guys… perjalanan sesungguhnya dimulai dari watu tulis menuju sabana 1, medannya naudzubillah susah. Berpasir, pijakan minim ToT. kalau angin datang harus siap tutup mata, meski begitu debu tetep aja berhasil menyelinap. Aku pulang-pulang belekan XD.

Entah kenapa, anginnya dingin banget. Guys sunset sekitar jam 17.57 WIB. Pokoknya akhirnya itu aku malah barengan sama si Abu, soalnya pas aku sama Vandi udah lumayan jalan menuju sabana 1, yang lainnya baru sampai watu tulis, dan dia milih buat turun lagi. Hhhhhh

Dan aku nungguin nangkring di sebuah batu besar sambil kedinginan, aslinya aku takut banget kena hipotermia ToT.

Pas beberapa saat sebelum akhirnya sampai sabana 1, matahari tenggelam, dan Masya’allah indah, di sana aku disuruh Abu pakai dua lapis jaket, aku enggak tau kenapa badanku menggigil banget, kemudian kita mulai jalan lagi, dan itu pengalaman pertamaku tracking pas udah gelap.

DSC07050

Sampai di sabana 1 kita kerjasama pasang tenda. Anginnya di sisi manapun tetap kencang. Di sela-sela pasang tenda aku selalu lihat langit. Kalau kabut lagi nggak lewat, langitnya bersih banget, bintangnya buanyaaak banget. Milky way di depan mata, Terharu banget. Beberapa kali juga lihat bintang jatuh.

Kemudian pas ditengah perjalanan pasang tenda, anak-anak yang lain sampai juga. Setelah kemudian 3 tenda berhasil didirikan, semuanya tepar.

Aku seneng banget mbak Tarita sama mbak Ade bisa sampai sabana 1, kita tidur di satu tenda, karena kelaperan langsung makan roti tawar sama meses.

Oya guys.

Aku, Abu, sama Mbak Tarita bertekad melihat sunrise di puncak Triagulasi. Abu bilang kita harus mulai nanjak jam 03.30 WIB. Dan guys bukannya si Abu yang bangunin kita, tapi justru aku yang bangunin Abu. Tahu nggak guys, aku enggak bisa tidur, padahal sleeping bag ku tebal, aku kedinginan, menggigil, kagak bisa tidur sama sekali, tapi rapopo, aku tetap sehat walafiat.

Dan inilah tracking malam-malam yang ssssangat enggak bisa dilupain, Kita bertiga mulai meninggalkan tenda pukul 02.50 WIB. Masing-masing bawa senter sendiri, dan berkali-kali takjub kalau lihat pemandangan di bawah, bertaburan lampu-lampu, bagus banget. Sampai sabana 2 pukul 15.33 WIB, ada beberapa tenda yang rusak karena diterpa angin, kayaknya mereka langsung ngungsi ke tetangganya, ya habisnya mereka malah mendirikan tenda di lapang luas sabana 2, bagusnya cari space yang dikelilingi pohon-pohon ataupun edelweiss, biar anginnya bisa sedikit terhalau.

DSC07058

entah tangan aku yang gemetar apa anginnya yang nampar-nampar badanku?. Heh sama aja. Sabana 2

Ok kita masih jalan bareng-bareng sampai di watu lumpang pukul 03.56 WIB. Dan asal kalian tahu, medannya enggak kelihatan sama sekali pas malam begini, kita mendaki barengan, bisa dibilang, watu lumpang ini pos terakhir sebelum puncak, dan tanjakannya mantap, aku sampai mau nangis, soalnya mau berhenti juga bingung.

DSC07060

ini plang sampai jatuh karena anginnya asli kenceng banget.

Mbak Tarita sama Abu barengan tertinggal, aku duluan karena aku menjejak jalan yang benar, jadi itu jalanannya pasir dan susah pijakan dan pegangan apalagi. Aku sebenernya mau nungguin Abu sama mbak Tarita tapi bingung, kalau aku diam lama sendi-sendi ku bisa beku, jadi aku beranikan diri buat naik terus. Pada akhirnya nemu rombongan pendaki solo yang bersedia bareng sama aku. Aku mengingat ibu sepanjang jalan menuju puncak, Allah juga. \(ToT)/

Entahlah, mungkin karena pengalaman mendaki pertamaku pakai jasa, jadi pas bareng sama temen-temen yang kebanyakan seumuran begini jadi agak was-was, aku juga sadar sih kayaknya aku terlalu egois jalan lebih dulu di depan, padahal kalaupun nungguin juga mungkin enggak akan jadi soal. ToT

Ok balik ke topik. Singkat cerita pukul 05.00 WIB sampai puncak 3142 mdpl (Puncak Triagulasi) dan menunggu sunrise sambil kedinginan.

sunrise

sunrise dari puncak merbabu :’)

Abu sama mbak tarita belum sampai, aku yakin mereka baik-baik aja, Abu udah 2 kali ke Merbabu.

Aku di puncak ini bareng pendaki dari solo. mas-masnya pada baik, mereka nawarin minum sama makanan, terus salah satu dari mereka ngasih syal biar aku lebih hangat, dan aku enggak sedikitpun tahu wajah, nama, atau apapun dari mereka. Gelaaaaaaap banget.

Pukul 05.04 WIB, cahaya matahari sudah muncul, sungguh indah banget, Abu sama mbak tarita sampai dan seketika ceria, oya di otakku udah kepikiran langsung balikin syal, tapi kok bingung, masnya yang mana, yaudah akhirnya aku bawa aja itu syal. Jadi bila mungkin masnya yang ngasih pinjem syal ke aku, maafkan saya mas saya enggak balikin syalnya, btw syalnya udah kucuci, buat kenang-kenangan.wahahaha.

IMG_20170827_054044

Sekita pukul 06.30 WIB, Abu ngajak aku sama mbak tarita ke puncak yang satunya lagi dengan ketinggian 3139 mdpl (puncak kenteng songo). Mana yang paling indah sudut pandangnya?. Semuanya indah, dua-duanya bagus.

Di kedua puncak ini, aku paling senang menatap Merapi :). Padang luas membentang, angin bertiup kencang, langit biru bersih, edelweis mekar di mana-mana dan ah indah sekali, luhur sekali.

DSC07157

menatap Merapi dari Merbabu

Kita enggak lama di Kenteng Songo, kemudian mulai turun, sepanjang jalan turun kita ber HAH?, ternyata emang medannya susah banget, ber OH ini tho yang dilewati tadi tu, PANTESAN!

Bagi kalian yang mau mendaki Merbabu, sebaiknya bukan saat musim kemarau, entah musim apa yang bagus buat naik gunung, aku enggak tahu.

Lalu, kalau bisa bawa jaket dua, kalau emang satu jaketpun sudah tebal juga enggak papa, dan yang utama jangan memaksakan diri, juga sebaiknya kompak dengan teman seperjalanan kalian, saling peduli juga. Jangan sepelekan mendaki gunung, bawa barang yang memang seharusnya di bawa. Gitu aja guys.

Aku, Mbak Tarita sama Abu menuju Sabana 2 bebarengan. Padang luas yang tadi malam dilewati sekarang begiru jelas, luas dan ah susah dijelaskan.

Akhirnya aku, Abu, sama mbak Tarita balik lagi ke camp di sabana 1.

Dan langsung bikin indomie goreng. Mbak Ade jadi kuncen di tenda, dia udah berubah segar dari kemarin. Mas Jafar sama Mas Sokip ternyata naik puncak juga, mungkin sekitar pukul 06.00 WIB pas kita masih di puncak.

 

IMG_20170827_110706[1]

Setelah semuanya sudah kumpul (Mas Jafar sama Mas Sokip udah sampai camp lagi) dan kenyang, kita bongkarin tenda. Dan kita memang menyangka, perjalanan turun ke watu tulis akan sangat sulit. Ahh sensai luar biasa. Tapi akhirnya kita semua sampai basecamp dengan selamat semua sekitar pukul 16.30 WIB

Terimakasih untuk Abu, Vandi, Jafar, Mas Sokip, Taufik, Mbak Ade, Mbak Tarita yang sudah menjadi teman perjalanan mengagumkan ini. Semoga kita bisa ketemu lagi, melakukan perjalanan bersama lagi 🙂

Mengakui Gadis itu Sebagai Pacarku (Cerpen)

Hallo Novemberku 🙂

Aku belum pernah baca buku dengan judul “Pacarku Memintaku Jadi Matahari” buku dengan judul nyentrik banget, aku terinspirasi dari judul buku itu. Isi dari cerpen ini jauh berbeda dari buku yang keren itu, ini cuma cerpen amatiran. Silakan yang mau-maunya baca 🙂

Mengakui Gadis itu Sebagai Pacarku

girl-2150484_1280

Kelopak terakhir bunga matahari itu mengering, menyusul yang lainnya, dia kelopak ke 20 dari bagian bunga itu. Gadis itu merasa terlambat membuatnya hidup kembali, dari awal dia sudah terlambat datang, Cuma lalat-lalat yang patah hati menemaninya dalam sekaratnya. Kemudian gadis itu datang seolah menjadi seorang dermawan yang memungut bunga itu dari sekaratnya.

Menyakitkan sekali mungkin perasaan bunga itu, seharusnya gadis itu tidak perlu datang, bukan? Awalnya bunga itu sudah sangat pasrah akan kesekaratannya itu. Jadi mengapa gadis itu datang?

Setelah aku bertanya padanya, dia masih saja tidak menyurutkan senyuman dermawan itu.

“Aku merasa aku tidak boleh diam saat dia sekarat.” Jawabnya masih melihat bangkai bunga itu

“Kamu tidak tahu, kan?” Gadis berambut sebahu itu menatapku dengan tatapan begitu polos, membuatku tidak jadi mempertahankan argumenku. Matanya masih begitu bening.

“Bunga itu mendadak mempunyai sebuah harapan. Tapi tidak mungkin lagi untuk hidup!”

Dia masih menatapku, tidak merubah ekspresinya, meski tadi aku membentaknya. Dia menjauhiku satu langkah, lalu berjongkok kemudian memainkan tanah. Dari arah barat angin bertiup kencang, hawa yang dibawanya begitu menyedihkan. Apa mungkin para kakek dan para nenek serta para buyut bunga itu begitu sangat menderitanya, hingga menghantuiku melalui angin dari tenggelamnya matahari?

“Apa salahnya menghibur?” gadis itu mendapatkan jawaban atas kemarahanku

“Kamu salah, seharusnya diamkan saja, dia mungkin sudah mencapai titik kepasrahannya.”

“Jadi aku sepenuhnya, salah?”

Aku merasa sebenarnya salah, tidak ada yang salah atas kehadiran gadis ini. Tapi aku tidak mau kalah dari gadis ini, sebab dia tidak seharusnya di sini.

“Iya kamu salah, kamu salah sejak kehadiranmu di dunia ini!”

Aku merasa salah mengucapkan kalimat tadi. Sebenci itukah aku kepadanya. Jangan-jangan aku malah sebaliknya.

“Kalau begitu, bagaimana dengan kamu? Kamu sepenuhnya benar dengan kehadiranmu di dunia ini?”

“I-iya … tentu saja!” aku berkacak pinggang.

Gadis itu semakin terpuruk dengan posisi jongkoknya, dan terciptalah lukisan-lukisan di tanah. Dia menggambar sekelompok bunga matahari yang memiliki wajah tersenyum. Gadis itu kemudian menjauh pergi, dan meninggalkan aku dengan segala kesalahanku.

***

Pagi itu angin bertiup-tiup lembut, tapi rasa bersalahku sangat kasar, bunga itu sudah mati dan kering sekali. Tidak sama sekali aku memiliki niat untuk menguburkan bunga itu. Sebab pagi ini aku punya ide gila, aku ingin mengakui gadis itu sebagai pacarku. Tapi sudah sampai tengah hari ini, gadis itu belum juga datang, lelah sekali menatap halaman luas itu dari tempat duduk kayu ini, mataku juga jengah sebab aku melihat hanya dari celah tirai. Aku memutuskan untuk membuat air jahe, padahal cuaca sangat panas. Aku tidak sanggup minum air dingin, nanti rasa bersalahku muncul tiba-tiba. Aku meminum air jahe itu sambil berjalan menuju tempat mengintip. Tak kusangka, bunga itu sedang dikuburkan oleh gadis itu. Aku mau menemuinya, tapi aku pengecut. Namun kakiku berjalan jauh dari rumah, sambil masih membawa cangkir berisi air hangat jahe. Aku tegap berdiri, tersenyum memandangi gadis itu, yang kutatap menangis tersedu, tangan dan bajunya kotor oleh tanah, dan perasaanku tetap sama biasanya.

“Kamu sedih?” Aku berjongkok, dan menatap wajah gadis itu

“Tentu saja aku kan manusia!” ucapnya terbata-bata karena tersendat air mata yang keluar. Dia mengusap pipinya dengan punggung tangan.

“Kalau lancar, kamu akan menemui bunga matahari itu lagi tiga bulan lagi.” Aku menumpahkan air jahe itu ke atas pusara si bunga matahari. Gadis itu menatapku bingung

“Kamu mau tidak jadi pacarku?”

Dia menatapku dengan mata kuyunya

“Tentu saja tidak mau.”

Ternyata ideku memang menyebalkan sekali, kemudian aku memilih kembali ke rumah saja.

“Kalau berubah pikiran nanti kasih tahu aku, ya?” Aku tersenyum

Dia kemudian pergi lagi.

***

Aku memang plin-plan, jadi bila besoknya lagi aku membenci gadis itu, tolong maklumi saja. Tapi kini aku sudah mengakuinya sebagai pacarku seutuhnya. Sore itu pada bulan ke tiga setelah gadis itu pergi sambil menangis, anak-anak dandelion beterbangan mengusik kenyamananku duduk di teras rumah, mereka nyasar ke wajahku, mereka pikir bisa hidup di atas wajahku.

Seperti kataku tiga bulan lalu, bunga matahari tumbuh dari bibit-bibit dari bunga matahari mati yang ditangisi gadis itu. Aku harap pacarku itu datang lagi, biar aku bisa lihat wajahnya tersenyum sambil membelai-belai segerombolan bunga matahari kecil itu. Aku sudah mencoba mengobrol dengan segerombol bunga matahari itu, mereka bilang masih ingat dengan gadis itu. Mereka kangen.

Tak lama kemudian gadis itu akhirnya datang, tapi tidak sendiri, dia bersama dengan seorang laki-laki, dan mereka berjalan bersama sesekali tersenyum karena sebuah obrolan lucu. Mereka membawa botol berisi minuman, dan mereka sudah tepat berada di depanku.

“Kamu siapa?” aku bertanya pada laki-laki itu

“Aku pacarnya.” Dia tidak ragu menunjuk gadis itu

“Tapi, aku juga pacarnya, sudah tiga bulan kita jadian.”

“Heh?”gadis itu heran, tapi tidak panik

Kita bertiga saling tatap menatap. Segerombol bunga matahari itu berteriak kesenangan karena gadis itu datang, dia langsung menciumi mereka satu persatu, kemudian dia menyirami mereka dengan air yang dia bawa itu. Kemudian mereka segera pergi setelah berjanji kepada segerombolan bunga itu bahwa mereka akan datang lagi.

“Kamu tidak menyirami aku, juga?”

Mereka berdua berbalik lagi

“Kamu harus segera sadar dan sembuh, aku bukan pacarmu.” Gadis itu kemudian lekas berlalu bersama lelakinya

Aku tidak merasa sedih, aku tersenyum dan mengikhlaskannya, dengan begitu aku akan tenang.

-Selesai-

Jauh (Puisi)

 

Dia mungkin saja terluka di mana-mana
Tapi aku tidak bisa apa-apa
Aku jauh
Aku jauh
Aku ingin berada di dekatnya
Tapi Dia jauh
Dia jauh
Jauh
Jauh

Sukabumi, 27.09.17

By audhina Posted in Puisi

Rindu (Puisi)

.

Mendung bersapa rindu

Riuh mengguman dekat telinga

Ibu menasihatinya

Mi instan tak baik untuk dimakan

Seminggu awan tidak ada

Ternyata tertinggal di pasar malam

Dimakan gadis kecil berambut merah muda

.

Salah bila aku mendengus kesal

Padahal malam ini begitu sakral

Ada rindu yang malah menjadikan ini amarah panjang

Bodoh sekali

 

Daw|Jogja, 31 Agustus 2017

Berhenti Peduli

DSC06755

Seharusnya menyayangi tidak boleh begitu egois. Mengapa mulai menyayangi tetapi tidak sanggup untuk berhenti?.
Memang rasa sayang yang telah dimulai akan sangat sulit untuk dihentikan.
Sayang berarti peduli. Jadi sudah cukupkah berhenti peduli, untuk berhenti sayang?
Jawabannya, TIDAK semudah itu!
Perlu diingat bahwa keraguan tidak akan membawa orang baru memasuki kehidupanmu.
Berkali-kali menatap, juga berkali-kali merasa, dan sakit berkelanjutan. tidakkah itu sangat melelahkan?
Jadi mulailah untuk berhenti, perasaanmu itu milikmu, cobalah untuk memegang kendalinya.

Melepaskan

melepaskan

Daw                       : “Aku sayang kamu”

Blackcloud           : “Sayang apa?”

Daw                       : “Sayang sama kamu.”

Blackcloud           : “Ohiya paham, iya deh aku juga sayang.”

 

***

Orang-orang sekitarku merasa sangat frustasi, menyuruhku melepaskanmu saja. Kata mereka aku tidak waras.

-Selesai-

Terimakasih Semesta, Biru Pupus 5 Tahun :)

DSC06393

Holllaaaaa readers 🙂

Bagaimana tadi harinya? Semoga bagus ya :), soalnya hari ini Biru Pupus ulang tahun

\(0.0)/

Wuhuuuuuuu! sebenarnya audhina-nya lagi sedih, tapi karena barusan dapat notif dari wordpress, ngasih tahu kalau Biru Pupus ulang tahun, galaunya sedikit hilang.hehe

selamat ulang tahun biru pupus

Aku bersyukur ternyata keputusan membuat blog hari ini pada 5 tahun yang lalu membuatku begitu bahagia hari ini dan hari-hari sebelumnya, dan hari-hari yang akan datang. 🙂

Aku bersyukur menemukan begitu banyak teman dari kegiatan menulis di blog ini, seberapapun aku bersyukur, kebersyukuranku tidak akan mempu cukup untuk berterimakasih kepada semesta. Dan tentu saja kepada pencipta semesta. Allah 🙂

Aku ingin menangis hari ini, tapi aku tidak yakin tangisan ini karena senang atau sedih?

Karena hari ini sangat membahagiakan sekaligus menyedihkan. Senang karena ternyata sudah begitu lama aku mencintai “menulis” sedih karena belum juga bisa menghasilkan karya yang diakui banyak orang.

.

Aku mengucapkan kepada teman-teman semua yang dengan susah payahnya melakukan blogwalking ke Biru Pupus, betapa aku selalu senang bila kalian datang.

Semoga untuk ke depan, Biru Pupus bisa lebih baik lagi dari saat ini. Aamin

.

Untuk kalian semua, jangan lelah dan menyerah untuk menulis ya :). Karena kalian tidak akan tahu manfaat apa yang bisa diberikan dari tulisan-tulisan di blog kalian kepada pembacanya.

 

Daw| Jogja, 01 Agustus 2017

Blackcloud

air-2241560_1920

Engin_Akyurt

Sudah beberapa lama ini aku butuh kamu menjadi penerjemah sulur-sulur menyedihkan di dalam kepalaku.

Kamu tidak boleh pergi, meski kamu mau.

Tapi kamu boleh pergi ketika tidak lagi pedulimu padaku.

Hingga saat itu seberapa mungkin aku memahami, tidak ada yang bisa aku lakukan

Karena sesuatu hal tidak mungkin berubah hanya karena aku menginginkannya, bukan?

Aku cuma mau kamu tegap di atas sana, terserah mau jadi apa kamu, kamu sudah baik menjadi kamu, karena cuaca menjadi lumayan teduh.

Kamu boleh jatuh, asal menjadi hujan

Tapi jangan sering-sering jatuh, orang-orang akan kesulitan bila mereka lupa membawa payung.

Bagaimana harimu berjalan tadi? Jika buruk, kamu boleh menceritakannya padaku, jika baik terserah padamu.

.

Kalau kamu sudah baca ini, kamu boleh menyakiti aku secara tiba-tiba, karena rasa sakit yang tiba-tiba itu menjadi sekaligus merubah, bukan?

Biar aku tidak kewalahan karena dibunuh pelan-pelan.

Lagi pula aku sudah terbiasa.

.

Tidak ada yang bisa kamu katakan kepadaku, karena keterangan-keterangan padamu itu abu-abu—tidak jelas sama sekali.

.

Ya betapapun aku capek dengan semua itu, suatu hari nanti aku bisa bahagia betulan tanpa keraguan. Meski mungkin bukan karena dirimu lagi.

Daw | Jogja, 01 Agustus 2017

Bertemu di Jogja

IMG-20170727-WA0010

by Bang Ical

Holla readers 🙂

Kali ini aku mau nyerita tentang kopdaran perdanaku sama salah satu teman di dunia per-wordpress-an ini. Awalnya aku ngira bakal kopdar perdana sama Bunda Ida (blogger fenomenal yang postingannya super bikin baper.hhhh) yang kadang pulang ke Cianjur. Dan ternyata kopdaran pertamaku sama Bang Afrizal, yang akrab disapa Bang Ical.

Aku lagi di Jogja, dan masih di Jogja sampai aku dapat jodoh. Hehehe sampai akhir agustus ding.

Bang Ical ini rumahnya dari Lombok, dan dia tanggal 28 Juli 2017 itu tiba di Jogja karena ada keperluan yang sangat luar biasa penting. :O

Oke langsung aja ke poin postingan ini. Jadi mumpung Bang Ical di Jogja, kita merencanakan ketemu, dan akhirnya ketemu di Km 0. Aku datangnya telat, soalnya naik Trans Jogja, lumayan ngirit gitu maksudnya. Selagi nunggu aku, Bang Ical berdua sama temannya jalan-jalan ke Keraton dan entah ke mana lagi. Nah pas aku udah sampai, aku nunggu 12 menit karena mereka lagi jalan kaki. Aku sempat lihat dua orang ngedorong gerobak, nyeberang jalanan luas Km 0, seorang bawa dua gerobak, betapa strongnya. #oke ini gak penting. Aku juga sempat ditanyai tukang becak. “Mbak lagi nunggu siapa?” , owe kagetlah, aku jawablah “lagi nunggu temen, pak. Hehe” lalu si bapaknya ber-oh. Mungkin si bapaknya mau nawarin naik becak. #inijugagakpenting. Km 0 sebenarnya sedang dalam perbaikan,tapi tetap ramai, Jogja juga masih hangat malam itu.

Akhirnyaa Bang Ical datang langsung menyapa “Bhang…Bhang..Bhang…Kak Au!” Aku sedetik menerka. “Bang Icaaal.” Lalu aku salim 😀 Bang Ical mengenalkan temannya, namanya Bang Alung, ternyata sehari sebelumnya Bang Alung sudah sempat menyapa ke blogku. Jadi bisa dibilang aku kopdaran sama dua blogger. Horeeee!

Bang Ical ini berperawakan gemuk, dan lebih tinggi dariku, wajahnya ramah sekali, mungkin dengan wajah itu Bang Ical kesulitan menghakimi orang. Tapi aku belum lihat sih gimana ekspresi Bang Ical kalau marah, apa mengerikan. Yhaa pokoknya Bang Ical ini super ramah.

Kita jalan kaki sedikit untuk mencari tempat duduk, dipilihlah wedang ronde, di sana ada tempat duduk lesehan, dan ini asik menurutku. Kita mulai ngobrol, dari sana aku tahu Bang Ical dan Bang Alung ini dulu satu tempat pesantren. Kemudian tiga mangkok kecil wedang ronde datang, ternyata wedang ronde ini kayak sekoteng, bedanya cuman di bulatan-bulatan candilnya itu.

Kemudian Bang Ical ngasih hadiah buatku. Novel dengan judul “Kereta” karyanya, aku seneng banget.

Tapi juga sedih, kenapa malah dikasih bukannya beli sendiri. Huhu. Kemudian aku langsung minta tanda tangan di buku itu.hehe terimakasih banyak Bang Ical. Bukunya sekarang lagi kubaca, dan aku suka sama Kim karena bikin baper. XD

Dia bawa dua buku, satunya buku dengan judul Teman Imaji karya Mutia Prawitasari, buku itu menurut cerita Bang Ical, buku pemberian Kak Ikha, salah satu blogger juga. Yuhu kak Ikha, semoga kita nanti bisa kopdaran ya 🙂

Oya Bang Alung juga orangnya ramah, dan dia sudah 7 tahun di Jogja tapi belum pernah ke Menara Pantai Pandasari, dan justru baru tahu dari postingan di blogku ini. Hoalaaah.

Sebenarnya Bang Ical sudah posting tentang yang dia ceritakan malam itu, kalian bisa baca di sini—Tentang Jogja, dan pas kopdaran itu aku malah belum baca postingan itu, ya tapi aku bisa langsung dengar dari orangnya langsung. Ntapp!

Banyak cerita kocak yang mereka ceritakan, mulai dari Bang Ical yang ngomongin tentang ngupil, lalu Bang Alung yang nyeritain awal mula suka sama wedang ronde itu karena pas waktu siang hari terik dari kejauhan minuman ini kayak cendol, pesenlah dia tapi kok yang datang malah panas, siang-siang minum yang panas. Ntapps! Tapi katanya dari sana dia suka wedang ronde. Bang Ical juga sudah menceritakan pengalaman kopdaran ini di blognya, dari sana kalian juga bisa tahu cerita lainnya.

Di sela obrolan Bang Ical menyarankan untuk aku menerbitkan buku secara indie, ginilah Audhina, keinginannya pengin punya buku tapi nulis enggak dilanjutin. Doakan saja supaya secepatnya punya buku, syukur-syukur terbit mayor. Ngoahaha mimpinya ketinggian.

Setelah ketiga mangkok wedang ronde itu habis. Kita langsung berfoto-foto, karena pengin juga untuk foto bertiga, Bang Ical nyari-nyari orang yang bisa bantu fotoin kita. Dan akhirnya ada seorang mas-mas pakai kacamata yang lagi menyusuri jalan sendirian, dia bersedia ngebantu kita. Hehehe

Bang Ical, Aku, Bang Alung

Lalu kami pulang. Jadi awalnya aku mau pulang naik Trans Jogja, eh ternyata haltenya sudah tutup pukul setengah delapan tadi, akhirnya aku naik gojek.hhhhhh

Aku beruntung akhirnya bisa bertemu Bang Ical dan Bang Alung di Kota Jogja pula seperti menemukan Paman baru :D, terimakasih waktu yang sangat berharganya semoga bisa berjumpa lagiiiiii.

 🙂 Cerita ini enggak runut sama sekali, see you next post readers 🙂

kalau yang lain mah, bila kepalanya diusap berantakanlah hatinya, kalau ini berantaknlah kerudungku. XD…Sampai Jumpa lagi Paman 🙂